Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Partus postmatur merupakan salah satu bentuk kegawatdaruratan medis
yang terjadi pada ibu hamil dan ibu yang akan bersalin. Partus postmatur
adalah kehamilan lebih dari 43 minggu, dihitung berdasarkan rumus naegle,
dengan siklus haid rata-rata 28 hari. Sedangkan menurut Greenhill yaitu
persalinan yang timbul 2 minggu atau lebih, sejak taksiran tanggal persalinan.
Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara
langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin.
Hingga kini belum diketahui secara pasti yang menyebabkan ibu hamil
mengalami postterm, namun faktor resiko ibu yang kemungkinan mengalami
kehamilan seperti ini diantaranya adalah ibu yang mengandung calon anak
pertama, pernah mengalami kehamilan postterm, janin yang dikandung
berjenis kelamin laki-laki, factor genetic terutama ibu (30%), kelainan
kongenital serta informasi terkini dikarenakan ibu mengalami obesitas.
Insiden gestasi pascamatur diperkirakan antara 3,5 % dan 15% dan hanya
sekitar 4% kehamilan berakhir setelah 42 minggu (Bobak, 2004).
Banyak dampak yang terjadi pada ibu dan bayi pada proses persalinan
postterm. Pada persalinan posterm kemungkinan besar akan mengakibatkan
bayi besar atau makrosomia, dan pada ibu kemungkinan dapat terjadi
perobekan perinium, risiko tinggi kelahiran dengan operasi dan kecemasan
pada ibu.
Pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dari pelayanan dasar
yang terjangkau oleh seluruh masyarakat. Salah satunya berupa pelayanan
kesehatan ibu yang berupaya agar setiap ibu hamil dapat melalui kehamilan
dan persalinannya dengan selamat. Seorang perawat dituntut agar mampu
memberikan pelayanan yang tepat dan akurat.
Masalah ini yang menjadikan bahasan dalam asuhan keperawatan klien
pada persalinan dengan komplikasi partus postmature menjadi sangat menarik
untuk diangkat dan dipelajari kelompok kami, semoga apa yang kami tulis
dalam karya kami dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi kami mahasiswa
keperawatan khususnya dan khalayak ramai pada umunya.
1

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

1.2 Tujuan Penulisan


1. Mahasiswa dapat menjelaskan definisi Partus Postmature
2. Mahasiswa dapat menjeleskan klasifikasi Partus Postmature
3. Mahasiswa dapat menjelaskan etiologi Partus Postmature
4. Mahasiswa dapat menjelaskan patofisiologi Partus Postmature
5. Mahasiswa dapat menjelaskan manifestasi klinis Partus Postmature
6. Mahasiswa dapat menjelaskan pemeriksaan diagnostik Partus Postmature
7. Mahasiswa dapat menjelaskan penatalaksanaan Partus Postmature
8. Mahasiswa dapat menjelaskan komplikasi Partus Postmature
9. Mahasiswa dapat menjelaskan prognosis Partus Postmature
10. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Web of Cause Partus Postmature
11. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada
persalinan dengan komplikasi Partus Postmature
1.3 Manfaat Penulisan
Dapat mengetahui konsep-konsep yang mendasari profesi keperawatan
mengenai persalinan dengan komplikasi Partus Postmature sehingga penulis
makalah mempunyai dasar keilmuan yang kuat dalam memberikan asuhan
keperawatan pada persalinan dengan komplikasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tahap Perkembangan Janin Dari Minggu ke Minggu
MINGGU KE-1 :
Minggu ini sebenarnya masih periode menstruasi, bahkan pembuahan pun
belum terjadi. Sebab tanggal perkiraan kelahiran si kecil dihitung berdasarkan
hari pertama haid terakhir. Proses pembentukan antara sperma dan telur yang
memberikan informasi kepada tubuh bahwa telah ada calon bayi dalam rahim.
Saat ini janin sudah memiliki segala bekal genetik, sebuah kombinasi unik
2

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

berupa 46 jenis kromosom manusia. Selama masa ini, yang dibutuhkan


hanyalah nutrisi (melalui ibu) dan oksigen. Sel-sel telur yang berada didalam
rahim, berbentuk seperti lingkaran sinar yg mengelilingi matahari. Sel ini
akan bertemu dengan sel-sel sperma dan memulai proses pembuahan. 5 juta
sel sperma sekaligus berenang menuju tujuan akhir mereka yaitu menuju sel
telur yang bersembunyi pada saluran sel telur. Walaupun pasukan sel sperma
ini sangat banyak, tetapi pada akhirnya hanya 1 sel saja yang bisa menembus
indung telur. Pada saat ini kepala sel sperma telah hampir masuk. Kita dapat
melihat bagian tengah dan belakang sel sperma yang tidak henti-hentinya
berusaha secara tekun menerobos dinding indung telur.
MINGGU KE-2 :
Pembuahan terjadi pada akhir minggu kedua. Sel telur yang telah dibuahi
membelah dua 30 jam setelah dibuahi. Sambil terus membelah, sel telur
bergerak di dalam lubang falopi menuju rahim. Setelah membelah menjadi
32, sel telur disebut morula. Sel-sel mulai berkembang dan terbagi kira-kira
dua kali sehari sehingga pada hari yang ke-12 jumlahnya telah bertambah dan
membantu blastosit terpaut pada endometrium.
MINGGU KE-3 :
Sampai usia kehamilan 3 minggu, seseorang mungkin belum sadar jika
sedang mengandung. Sel telur yang telah membelah menjadi ratusan akan
menempel pada dinding rahim disebut blastosit. Ukurannya sangat kecil,
berdiameter 0,1-0,2 mm.
MINGGU KE-4 :
Kini, bayi berbentuk embrio. Embrio memproduksi hormon kehamilan
(Chorionic Gonadotropin - HCG), sehingga apabila seseorang melakukan tes
kehamilan, hasilnya positif. Janin mulai membentuk struktur manusia. Saat
ini telah terjadi pembentukan otak dan tulang belakang serta jantung dan aorta
(urat besar yang membawa darah ke jantung).
MINGGU KE-5 :
Terbentuk 3 lapisan yaitu ectoderm, mesoderm dan endoderm. Ectoderm
adalah lapisan yang paling atas yang akan membentuk system saraf pada
janin tersebut yang seterusnya membentuk otak, tulang belakang, kulit serta
rambut. Lapisan Mesoderm berada pada lapisan tengah yang akan
3

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

membentuk organ jantung, buah pinggang, tulang dan organ reproduktif.


Lapisan Endoderm yaitu lapisan paling dalam yang akan membentuk usus,
hati, pankreas dan pundi kencing.
MINGGU KE-6 :
Ukuran embrio rata-rata 2-4 mm yang diukur dari puncak kepala hingga
bokong. Tuba saraf sepanjang punggung bayi telah menutup. Meski
seseorang belum bisa mendengar, jantung bayi mulai berdetak pada minggu
ini. Sistem pencernaan dan pernafasan mulai dibentuk, pucuk-pucuk kecil
yang akan berkembang menjadi lengan kaki pun mulai tampak
MINGGU KE-7 :
Akhir minggu ketujuh, panjangnya sekitar 5-13 mm dan beratnya 0,8
gram, kira-kira sebesar biji kacang hijau. Pucuk lengan mulai membelah
menjadi bagian bahu dan tangan yang mungil. Jantung telah dibagi menjadi
bilik kanan dan bilik kiri, begitu pula dengan saluran udara yang terdapat di
dalam paru-paru.
MINGGU KE-8 :
Panjang kira-kira 14-20 mm. Banyak perubahan yang terjadi pada bayi
Anda. Jika Anda bisa melihat , ujung hidung dan kelopak mata mulai
berkembang, begitu pula telinga. Brochi, saluran yang menghubungkan paruparu dengan tenggorokan, mulai bercabang. Lengan semakin membesar dan
ia memiliki siku. Semua ini terjadi hanya dalam 6 minggu setelah
pembuahan. Bayi sudah mulai terbentuk diantaranya pembentukan lubang
hidung, bibir, mulut serta lidah. Matanya juga sudah kelihatan berada
dibawah membran kulit yang tipis. Anggota tangan serta kaki juga terbentuk
walaupun belum sempurna
MINGGU KE-9 :
Telinga bagian luar mulai terbentuk, kaki dan tangan terus berkembang
berikut jari kaki dan tangan mulai tampak. Ia mulai bergerak walaupun Anda
tak merasakannya. Dengan Doppler, Anda bisa mendengar detak jantungnya.
Minggu ini, panjangnya sekitar 22-30 mm dan beratnya sekitar 4 gram.
MINGGU KE-10 :
Semua organ penting yang telah terbentuk mulai bekerjasama.
Pertumbuhan otak meningkat dengan cepat, hampir 250.000 sel saraf baru
diproduksi setiap menit. Ia mulai tampak seperti manusia kecil dengan
panjang 32-43 mm dan berat 7 gram.
MINGGU KE-11 :
4

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

Panjang tubuhnya mencapai sekitar 6,5 cm. Baik rambut, kuku jari tangan
dan kakinya mulai tumbuh. Sesekali di usia ini janin sudah menguap.
Gerakan demi gerakan kaki dan tangan, termasuk gerakan menggeliat,
meluruskan tubuh dan menundukkan kepala, sudah bisa dirasakan ibu.
Bahkan, janin kini sudah bisa mengubah posisinya dengan berputar,
memanjang, bergelung, atau malah jumpalitan yang kerap terasa menyakitkan
sekaligus memberi sensasi kebahagiaan tersendiri.
MINGGU KE-12 :
Bentuk wajah bayi lengkap, ada dagu dan hidung kecil. Jari-jari tangan
dan kaki yang mungil terpisah penuh. Usus bayi telah berada di dalam rongga
perut. Akibat meningkatnya volume darah ibu, detak jantung janin bisa jadi
meningkat. Panjangnya sekitar 63 mm dan beratnya 14 gram. Mulai proses
penyempurnaan seluruh organ tubuh. Bayi membesar beberapa millimeter
setiap hari. Jari kaki dan tangan mulai terbentuk termasuk telinga dan kelopak
mata.
MINGGU KE-13 :
Pada akhir trimester pertama, plasenta berkembang untuk menyediakan
oksigen , nutrisi dan pembuangan sampah bayi. Kelopak mata bayi merapat
untuk melindungi mata yang sedang berkembang. Janin mencapai panjang 76
mm dan beratnya 19 gram. Kepala bayi membesar dengan lebih cepat
daripada yang lain. Badannya juga semakin membesar untuk mengejar
pembesaran kepala.
MINGGU KE-14 :
Tiga bulan setelah pembuahan, panjangnya 80-110 mm dan beratnya 25
gram. Lehernya semakin panjang dan kuat. Lanugo, rambut halus yang
tumbuh di seluruh tubuh dan melindungi kulit mulai tumbuh pada minggu ini.
Kelenjar prostat bayi laki-laki berkembang dan ovarium turun dari rongga
perut menuju panggul. Detak jantung bayi mulai menguat tetapi kulit bayi
belum tebal karena belum ada lapisan lemak
MINGGU KE-15 :
Tulang dan sumsum tulang di dalam sistem kerangka terus berkembang.
Jika bayi Anda perempuan, ovarium mulai menghasilkan jutaan sel telur pada
minggu ini. Kulit bayi masih sangat tipis sehingga pembuluh darahnya
kelihatan. Akhir minggu ini, beratnya 49 gram dan panjang 113 mm. Bayi
5

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

sudah mampu menggenggam tangannya dan mengisap ibu jari. Kelopak


matanya masih tertutup.
MINGGU KE-16 :
Bayi telah terbentuk sepenuhnya dan membutuhkan nutrisi melalui
plasenta. Bayi telah mempunyai tulang yang kuat dan mulai bisa mendengar
suara. Dalam proses pembentukan ini system peredaran darah adalah yang
pertama terbentuk dan berfungsi. Janin mulai bergerak, tetapi tak perlu kuatir
jika seseorang tak merasakannya. Semakin banyak kalsium yang disimpan
dalam tulang bayi seiring dengan perkembangan kerangka. Bayi berukuran
116 mm dan beratnya 80 gram
MINGGU KE-17 :
Dengan panjang 12 cm dan berat 100 gram, bayi masih sangat kecil.
Lapisan lemak coklat mulai berkembang, untuk menjada suhu tubuh bayi
setelah lahir. Tahukah, saat dilahirkan, berat lemak mencapai tiga perempat
dari total berat badannya. Rambut, kening, bulu mata bayi mulai tumbuh dan
garis kulit pada ujung jari mulai terbentuk. Sidik jari sudah mulai terbentuk
MINGGU KE-18 :
Mulailah bersenandung sebab janin sudah bisa mendengar pada minggu
ini. Ia pun bisa terkejut bila mendengar suara keras. Mata bayi pun
berkembang. Ia akan mengetahui adanya cahaya jika Anda menempelkan
senter yang menyala di perut. Panjangnya sudah 14 cm dan beratnya 140
gram. Bayi sudah bisa melihat cahaya yang masuk melalui dinding rahim ibu.
Hormon estrogen dan progesteron semakin meningkat.
MINGGU KE-19 :
Tubuh bayi diselimuti vernix caseosa, semacam lapisan lilin yang
melindungi kulit dari luka. Otak bayi telah mencapai jutaan saraf motorik
karenanya ia mampu membuat gerakan sadar seperti menghisap jempol.
Beratnya 226 gram dengan panjang hampir 16 cm.
MINGGU KE-20 :
Setengah perjalanan telah dilalui. Kini, beratnya mencapai 260 gram dan
panjangnya 14-16 cm. Dibawah lapisan vernix, kulit bayi mulai membuat
lapisan dermis, epidermis dan subcutaneous. kuku tumbuh pada minggu ini.
Proses penyempurnaan paru-paru dan system pernafasan. Pigmen kulit mulai
terlihat.
MINGGU KE-21 :
6

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

Usus bayi telah cukup berkembang sehingga ia sudah mampu menyerap


atau menelan gula dari cairan lalu dilanjutkan melalui sistem pencernaan
manuju usus besar. Gerakan bayi semakin pelan karena beratnya sudah 340
gram dan panjangnya 20 cm.
MINGGU KE-22 :
Indera yang akan digunakan bayi untuk belajar berkembang setiap hari.
Setiap minggu, wajahnya semakin mirip seperti saat dilahirkan. Perbandingan
kepala dan tubuh semakin proporsional
MINGGU KE-23 :
Meski lemak semakin bertumpuk di dalam tubuh bayi, kulitnya masih
kendur sehingga tampak keriput. Ini karena produksi sel kulit lebih banyak
dibandingkan lemak. Ia memiliki kebiasaaan "berolahraga", menggerakkan
otot jari-jari tangan dan kaki, lengan dan kaki secara teratur. Beratnya hampir
450 gram. Tangan dan kaki bayi telah terbentuk dengan sempurna, jari juga
terbentuk sempurna.
MINGGU KE-24 :
Paru-paru mulai mengambil oksigen meski bayi masih menerima oksigen
dari plasenta. Untuk persiapan hidup di luar rahim, paru-paru bayi mulai
menghasilkan surfaktan yang menjaga kantung udara tetap mengembang.
Kulit bayi mulai menebal
MINGGU KE-25 :
Bayi cegukan, apakah seseorang merasakannya, ini tandanya ia sedang
latihan bernafas. Ia menghirup dan mengeluarkan air ketuban. Jika air
ketuban yang tertelan terlalu banyak, ia akan cegukan. Tulang bayi semakin
mengeras dan bayi menjadi bayi yang semakin kuat. Saluran darah di paruparu bayi sudah semakin berkembang. Garis disekitar mulut bayi sudah mulai
membentuk dan fungsi menelan sudah semakin membaik. Indera penciuman
bayi sudah semakin membaik karena di minggu ini bagian hidung bayi
(nostrils) sudah mulai berfungsi. Berat bayi sudah mencapai 650-670 gram
dengan tinggi badan 34-37 cm.
MINGGU KE-26 :
Bayi sudah bisa mengedipkan matanya selain itu retina matanya telah
mulai terbentuk. Aktifitas otaknya yang berkaitan dengan pendengarannya
dan

pengelihatannya

sudah

berfungsi,

bunda

dapat

memulai

memperdengarkan lagu yang ringan dan mencoba untuk memberi cahaya


7

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

lebih disekitar perut, mungkin bunda akan merasakan anggukan kepala si


kecil. Berat badan bayi sudah mencapai 750-780gram, sedangkan tingginya
35-38 cm.
MINGGU KE-27 :
Minggu pertama trimester ketiga, paru-paru, hati dan sistem kekebalan
tubuh masih harus dimatangkan. Namun jika ia dilahirkan, memiliki peluang
85% untuk bertahan. Indera perasa mulai terbentuk. Bayi juga sudah pandai
mengisap ibu jari dan menelan air ketuban yang mengelilinginya. Berat
umum bayi seusia si kecil 870-890 gram dengan tinggi badan 36-38 cm.
MINGGU KE-28 :
Minggu ini beratnya 1100 gram dan panjangnya 25 cm. Otak bayi semakin
berkembang dan meluas. Lapisan lemak pun semakin berkembang dan
rambutnya terus tumbuh. Lemak dalam badan mulai bertambah. Walaupun
gerakan bayi sudah mulai terbatas karena beratnya yang semakin bertambah,
namun matanya sudah mulai bisa berkedip bila melihat cahaya melalui
dinding perut ibunya. Kepalanya sudah mengarah ke bawah. Paru-parunya
belum sempurna, namun jika saat ini ia terlahir ke dunia, si kecil
kemungkinan besar telah dapat bertahan hidup.
MINGGU KE-29 :
Kelenjar adrenalin bayi mulai menghasilkan hormon seperti androgen dan
estrogen. Hormon ini akan menyetimulasi hormon prolaktin di dalam tubuh
ibu sehingga membuat kolostrum (air susu yang pertama kali keluar saat
menyusui).

Sensitifitas

dari

bayi

semakin

jelas, bayi

sudah bisa

mengidentifikasi perubahan suara, cahaya, rasa dan bau. Selain itu otak bayi
sudah bisa mengendalikan nafas dan mengatur suhu badan dari bayi. Postur
dari bayi sudah semakin sempurna sebagai seorang manusia, berat badannya
1100-1200 gram, dengan tinggi badan 37-39 cm.
MINGGU KE-30 :
Lemak dan berat badan bayi terus bertambah sehingga bobot bayi
sekarang sekitar 1400 gram dan panjangnya 27 cm. Karena ia semakin besar,
gerakannya semakin terasa Mata indah bayi sudah mulai bergerak dari satu
sisi ke sisi yang lain dan dia sudah mulai belajar untuk membuka dan
menutup matanya. Saat ini waktu yang terbaik bagi bunda untuk menyenteri
perut dan menggerak-gerakan senter tersebut maka mata bayi sudah bisa
mengikuti ke arah mana senter tersebut bersinar.cairan ketuban (amniotic
8
Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)
Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur
2

fluid) di rahim bunda semakin berkurang. Kini si kecil pun sudah mulai
memproduksi air mata. Berat badan bayi 1510-1550 gram, dengan tinggi 3940 cm.
MINGGU KE-31 :
Plasenta masih memberikan nutrisi yang dibutuhkan bayi. Aliran darah di
plasenta memungkinkan bayi menghasilkan air seni. Ia berkemih hampir
sebanyak 500 ml sehari di dalam air ketuban. Perkembangan fisik bayi sudah
mulai melambat pada fase ini, hanya berat badan bayilah yang akan
bertambah. Selain itu lapisan lemak akan semakin bertambah dibawah
jaringan kulitnya. Tulang pada tubuh bayi sudah mulai mengeras,
berkembang dan mulai memadat dengan zat-zat penting seperti kalsium, zat
besi, fosfor. Berkebalikan dengan perkembangan fisiknya, pada fase ini
perkembangan otaknyalah yang berkembang dengan sangat pesat dengan
menghasilkan bermilyar sel. Apabila diperdengarkan musik, bayi akan
bergerak. Berat badan bayi 1550-1560 gram dengan tinggi 41-43 cm.
MINGGU KE-32 :
Jari tangan dan kaki telah tumbuh sempurna, begitu pula dengan bulu
mata, alis dan rambut di kepala bayi yang semakin jelas. Lanugo yang
menutupi tubuh bayi mulai rontok tetapi sebagian masih ada di bahu dan
punggung saat dilahirkan. Dengan berat 1800 gram dan panjang 29 cm,
kemampuan untuk bertahan hidup di luar rahim sudah lebih baik apabila di
dilahirkan pada minggu ini. Kulit bayi semakin merah, kelopak matanya juga
telah terbuka dan system pendengaran telah terbentuk dengan sempurna.
Kuku dari jari mungil tangan dan kaki si kecil sudah lengkap dan sempurna.
Rambutnya pun semakin banyak dan semakin panjang. Bayi sudah mulai bisa
bermimpi.
MINGGU KE-33 :
Bayi telah memiliki bentuk wajah yang menyerupai ayah dan ibunya. Otak
bayi semakin pesat berkembang. Pada saat ini juga otak bayi sudah mulai bisa
berkoordinasi antara lain, bayi sudah menghisap jempolnya dan sudah bisa
menelan. Walaupun tulang-tulang bayi sudah semakin mengeras tetapi otototot bayi belum benar-benar bersatu. Bayi sudah bisa mengambil nafas
dalam-dalam walaupun nafasnya masih di dalam air. Apabila bayinya laki-

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

laki maka testis bayi sudah mulai turun dari perut menuju skrotum. Berat
badan bayi 1800-1900 gram, dengan tinggi badan sekitar 43-45 cm.
MINGGU KE-34 :
Bayi berada di pintu rahim. Bayi sudah dapat membuka dan menutup
mata apabila mengantuk dan tidur, bayi juga sudah mulai mengedipkan
matanya. Tubuh bunda sedang mengirimkan antibodi melalui darah bunda ke
dalam darah bayi yang berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuhnya dan
proses ini akan tetap terus berlangsung bahkan lebih rinci pada saat bunda
mulai menyusui. Berat Badan bayi 2000-2010 gram, dengan tinggi badan
sekitar 45-46 cm.
MINGGU KE-35 :
Pendengaran bayi sudah berfungsi secara sempurna. Lemak dari tubuh
bayi sudah mulai memadat pada bagian kaki dan tangannya, lapisan lemak ini
berfungsi untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya. Bayi sudah semakin
membesar dan sudah mulai memenuhi rahim bunda. Apabila bayi bunda lakilaki maka di bulan ini testisnya telah sempurna. Berat badan bayi 2300-2350
gram, dengan tinggi badan sekitar 45-47 cm.
MINGGU KE-36 :
Kulit bayi sudah semakin halus dan sudah menjadi kulit bayi. Lapisan
lemak sudah mulai mengisi bagian lengan dan betis dari bayi. Ginjal dari bayi
sudah bekerja dengan baik dan livernya pun telah memproduksi kotoran. Saat
ini paru-paru bayi sudah bekerja baik bahkan sudah siap bertemu dengan
mama dan papa. Berat badan bayi 2400-2450 gram, dengan tinggi badan 4748 cm.
MINGGU KE-37 :
Kepala bayi turun ke ruang pelvik. Bentuk bayi semakin membulat dan
kulitnya menjadi merah jambu. Rambutnya tumbuh dengan lebat dan
bertambah 5cm. Kuku terbentuk dengan sempurna. Bayi sudah bisa melihat
adanya cahaya diluar rahim. Bayi pada saat ini sedang belajar untuk
mengenal aktifitas harian, selain itu bayi juga sedang belajar untuk
melakukan pernafasan walaupun pernafasannya masih dilakukan di dalam air.
Berat badan bayi di minggu ini 2700-2800 gram, dengan tinggi 48-49 cm
MINGGU KE-38 HINGGA MINGGU KE-40 :
Proses pembentukan telah berakhir dan bayi siap dilahirkan.

10

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

2.2 Definisi Partus Postmature


Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari
pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan
(postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman
mengenai lama kehamilan dan maturitas janin. (Varney Helen, 2007)
Kehamilan postmatur menurut Prof. Dr. dr. Sarwono Prawirohardjo
adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap
di hitung dari HPHT.
Menurut Dr. Chrisdiono, ada beberapa definisi yang dikemukakan, yaitu;
Kehamilan Post Term ialah suatu kehamilan yang melewati 42 minggu (294
hari) dihitung sejak hari pertama haid terakhir (HPHT), sering pula disebut
kehamilan lewat waktu. Kehamilan Post Date ialah kehamilan yang telah
melewati hari perkiraan kelahiran (280 hari) atau EDC (expected day of
confinement). Kehamilan Post Mature lebih mengacu pada janinnya, dimana
dijumpai tanda-tanda seperti kuku panjang, kulit keriput, plantar creases yang
sangat jelas, tali pusat layu dan terwarnai oleh mekoneum.
2.3 Klasifikasi Partus Postmature
Berdasarkan derajat insufisiensi plasenta yang terjadi, tanda posmaturitas
dapat dibagi dalam 3 stadium:
1. Stadium I: kulit kehilangan verniks kaseosa dan terjadi maserasi sehingga
kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas.
2. Stadium II: seperti stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) di
kulit.
3. Stadium III: seperti stadium I disertai pewarnaan kekuningan pada kuku,
kulit, dan tali pusat.
2.4 Etiologi Partus Postmature
Etiologi dari partus postmatur belum diketahui dengan pasti. Faktor yang
dikemukakan adalah hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun
walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap
oksitosin berkurang (Mochtar, Rustam, 1999). Diduga adanya kadar kortisol
yang rendah pada darah janin. Selain itu, kurangnya air ketuban dan

11

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat


waktu.
Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu,
kemudian menurun setelah 42 minggu, terlihat dari menurunya kadar
estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta.
Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan
tumbuh kembang janin intrauterin. Etiologi postmatur yaitu tidak timbulnya
His karena kurangnya air ketuban, insufisiensi plasenta & kerentanan akan
stress (Kapita Selekta, 2000).
2.5 Patofisiologi Partus Postmature
Penyebab daripada terjadinya bayi lahir postmatur adalah faktor
hormonal, yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan
telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang
(Mochtar, Rustam, 1999). Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada
darah janin. Selain itu, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga
diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu. Fungsi plasenta
memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun setelah 42
minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta.
Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan
suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin.
Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. Sehingga janin dapat
mengalamo pengecilan ukuran janin dan kurang nutrisi. Volume air
ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi pada organ ginjal dan
usus dari janin. Mekonium yang diaspirasi kembali oleh janin mengakibatkan
sindrom aspirasi mekonium
Keadaan-keadaan

yang

dapat

mengakibatkan

atelektasis.

ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin.

Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30%


prepartum, 55% intrapartum, 15% postpartum.
2.6 Manifestasi Klinis Partus Postmature
1. Keadaan klinis yang dapat ditemukan ialah gerakan janin yang jarang,
yaitu secara subyektif kurang dari 7 kali/20 menit atau secara obyektif
12

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

dengan KTG kurang dari 10 kali/20 menit.


2. Air ketuban berkurang dengan atau tanpa pengapuran (kalsifikasi) plasenta
diketahui dengan pemeriksaan USG.
3. Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu.
2.7 Pemeriksaan Diagnostik Partus Postmature
Menurut Manuaba, dkk. (2007) diagnosis postmaturus tidak sukar,
asalkan mengetahui dengan baik tanggal menstruasi terakhir. Sebagian besar
pasien, terutama di negara berkembang, tanggal menstruasinya tidak diketahui
sehingga diagnosis hamil serotinus/postmatur dilakukan secara tidak langsung :
1. Mengetahui tanggal haid terakhir, maka perkiraan tanggal lahir dapat
ditentukan dengan rumus Naegle
2. Melalui perkiraan tahap aktivitass janin dalam rahim (yang sudah baku)
3. Membandingkan dengan kehamilan orang lain yang sudah bersalin
4. Menggunakan ultrasonografi untuk memperkirakan berat janin, waktu
persalinan, menentukan biofisik profil janin/kesejahteraan janin intrauteri
Dengan diagnosis kemungkinan hamil serotinus sehingga pertimbangan
persalinan sebaiknya segera.
2.8 Penatalaksanaan Partus Postmatur
Menurut Oxorn dan Forte (2010) bila kelahiran dilakukan per vaginam,
maka selama persalinan :
1. Monitoring DJA secara cerrmat amatlah penting
2. Infus glukosa harus sudah diberikan
3. Bila memungkinkan, pasien berbaring pada sisinya untuk menghindari
hipotensi supinasio (supine hypotension)
4. Sedasi yang berlebihan dapat membahayakan
5. Persalinan yang lama berbahaya; sectio caesarea perlu dipertimbangkan
setelah 12 hingga 18 jam
6. Gawat janin menuntut kelahiran dengan cara yang paling aman
Menurut Stright (2004) panatalaksanaan keperawatan pada partus
postmatur adalah :
1. Mengkaji janin secara cermat untuk mengidentifikasi risiko
a. Lakukan pengkajian risiko secara hati-hati pada waktu masuk rumah
sakit
b. Pantau status janin dengan ketat
2. Mencegah komplikaso persalinan
a. Bantu induksi persalinan
b. Siapkan untuk persalinan yang sulit
13

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

c. Beritahu petugas atau dokter terhadap kemungkinan kelahiran bayi yang


cedera
3. Memberi dukungan fisik dan emosional
4. Memberi penyuluhan klien dan keluarga
Menurut Manuaba, dkk. (2007) Metode pertolongan persalinan pada
hamil postdate/postmatur ialah sebagai berikut :
1. Expectative menegement (manajemen menunggu)
a. Prinsipnya : mengharapkan proses persalinan spontan tanpa rangsangan
dari luar
b. Sambil menunggu persalinan spontan, harus dilakukan evaluasi
kesejahteraan janin dalam uterus dengan berbagai teknik yang adekuat
sehingga dapat segera diketahui mulai terjadinya gangguan janin dalam
bentuk gawat janin
c.
Gawat janin merupakan indikasi mutlak untuk dilakukan terminasi
secara induksi atau langsung seksio caesarea
Gawat janin diperlihatkan :
1) Denyut jantung janin tidak teratur
2) Denyut jantung janin di bawah 100 atau di atas 160/menit pada
waktu tidak ada kontraksi uterus
3) Keluarnya meconium pada presentasi kepala
d. Metode yang dipilih tergantung dari keadaan janin dan keadaan maternal
saat itu
2. Melakukan induksi
a. Ini hanya merupakan batu loncatan yang akhirnya akan diselesaikan
dengan tindakan SC
b. Harus dilakukan observasi ketat terhadap kesejahteraan janin dalam
uterus dengan alat yang memadai
3. Langsung dengan SC (sectio caesarea)
a. Tindakan SC dapat dikaji melalui beberapa pertimbangan
b. Salah satu pertimbangan : AFI kurang dari 5 cm merupakan indikasi
mutlak untuk SC
c. Indikasi DC menjadi lebih tegas bila terdapat kombinasi antara AFI
kurang dari 5 cm dan janin yang makronomia atau serviks belum matang.

14

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

2.1 Komplikasi Partus Postmature


1. Oligohidramnion (400 cc normalnya pada kehamilan 34-37 minggu adalah
1.000 cc, aterm 800 cc)
2. Warna mekonium (aspirasi air ketuban yang disertai mekonium dapat
menimbulkan gangguan pernapasan bayi/janin, gangguan sirkulasi bayi
setelah lahir, dan hipoksia intrauterin sampai kematian janin)
3. Makrosomia (terjadinya tumbuh kembang janin dengan berat 4.500 gr)
4. Dismaturitas bayi (Dismaturitas ditandai dengan munculnya gejala
Clifford: kulit (subkutan berkurang dan diwarnai mekonium, otot makin
lemah, kuku tampak panjang, tampak keriput, tali pusat lembek, mudah
tertekan dan disertai oligohidramnion)
2.9 Progonosis Partus Postmature
Kematian janin pada kehamilan serotinus (postmaturus) meningkat bila
pada kehamilan normal (37-41 minggu) angka kematiannya 1,1%. Oleh
karena itu, pada 43 minggu angka kematian bayi menjadi 3,3% dan pada
kehamilan 44 minggu menjadi 6,6%. Pada beberapa kasus meskipun usia
kehamilan melebihi 42 minggu, fungsi plasenta tetap baik sehingga terjadi
anak besar (>4000 gram) yang dapat menyulitkan persalinan. Morbiditas ibu
meningkat karena kejadian partus buatan dan seksio sesarea meningkat.
(Sastrawinata, 2004)
15

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

Menurut Oxorn dan Forte (2010) Mortalitas perinatal meningkat pada


kehamilan yang lama, tapi hal ini terjadi hampir sepenuhnya pada bai-bayi
dysmatur. Angka-angka yang tercatat bervariasi, namun kemungkinan angka
kematian pada minggu ke-43 adalah dua kali, pada minggu ke-44 tiga kali,
dan pada minggu ke-45 lima kali lebih besar daripada angka kematian bayibayi yang dilahirkan aterm. Peningkatan mortalitas janin terjadi sebelum
permulaan persalinan, selama persalinan serta kelahiran, dan dalam periode
neonatal.
2.10WOC Partus Postmatur (Terlampir Dibawah)

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERSALINAN
PARTUS POSTMATUR

3.1 Anamnesa
1. Identitas Klien
Nama, umur, ras, gravida, alamat, dan nomor telepon, agama, status
perkawinan, pekerjaan, dan tanggal anamnesis.
2. Keluhan Utama
Menurut Manuaba (1998) dalam bukunya Ilmu Kebidanan, keluhan ibu
pada kasus PARTUS POSTMATUR adalah :
1) Kehamilan belum lahir setelah melewati 42 minggu.
2) Gerak janin makin berkurang dan kadang-kadang berhenti sama
sekali.
16

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

3) Berat badan ibu mendatar atau menurun.


4) Air ketuban terasa berkurang.
5) Gerak janin menurun.
3. Riwayat Kehamilan Sekarang.
Mengkaji kronologis dari awal kehamilan hingga dirasakan keluhan dan
dibawa ke layanan kesehatan. Pada persalinan postterm kebanyakan ibu
akan dibawa ke layanan kesehatan setelah tidak merasakan tanda-tanda
bayi akan lahir setelah lewat dari taksiran persalinan seperti sakit perut
hilang timbul tidak dirasakan, lendir bercampur darah juga tidak ada,
keluar air ketuban tidak ada, dan gerakan janin tidak dirasakan.
4. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Penyakit kronis yang dapat mempengaruhi terjadinya Postterm
1) Kehamilan postmatur sebelumnya
2) Penyakit berat misal pneumonia, hepatitis, damam rematik, difteri,
dan polio.
3) Kebiasan mengonsumsi alkohol dan merokok
5. Riwayat Keluarga
1) Usia ayah dan ibu, juga statusnya.
2) Adakah anggota keluarga yang pernah mengalami gangguan persalinan
yang sama.
6. Riwayat Menstruasi
1) Umur menarche.
2) Frekuensi, jarak/siklus jika normal.
3) Lamanya.
4) HPHT, lama dan jumlah normalnya.
5) Disminore.
6) Perdarahan uterus disfungsional, misalnya spotting, menoragia, dan
lain-lain.
7. Riwayat Obstetri
1) Primi/multi. Primigravida berisiko lebih besar terjadinya postmatur
2) Tipe golongan darah (ABO dan Rh)
3) Kehamilan yang lalu
a. Tanggal terminasi
b. Usia genital
c. Tempat lahir
d. Masalah obstetrik, medis dan sosial yang lain, dalam kehamilan,
dalam persalinan.
e. Riwayat imunisasi TT sebelumnya
f. Obat-obatan yang dikonsumsi ibu selama hamil
8. Riwayat Ginekologi
1) Infeksi vagina.
2) Penyakit menular seksual
17

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

9. Riwayat Seksual
Pola hubungan seksual, rekuensi berhubungan, dan masalah seksual
lainya.
10. Riwayat Pernikahan
1) Menikah atau tidak
2) Berapa kali menikah
3) Berapa lama menikah.
11. Riwayat KB
Untuk mengetahui apakah klien pernah ikut KB dengan kontrasepsi
jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan
kontrasepsi dan apakah ada kegagalan dalam menjalankan program
berKB (Sutjiati, 2010).
12. Riwayat Antenatal Care (ANC), Persalinan Dan Nifas Yang Lalu
1) Antenatal Care (ANC)
a. Taksiran berat janin (TBJ)
Pada kehamilan serotinus pada umumnya ditemukan TBJ tidak
sesuai dengan umur kehamilan, ini dimungkinkan bayi menjadi besar
atau makin kecil.
b. Tinggi fundus uteri (TFU)
Dalam trimester pertama pemeriksaan tinggi fundus uteri serial
dalam sentimeter dapat bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan
secara berulang tiap bulan. Lebih dari 20 minggu, tinggi fundus uteri
dapat menentukan umur kehamilan secara kasar. Jika mengalami
penurunan dimungkinkan terjadi pertumbuhan janin yang terlambat
karena adannya insufisiensi plasenta.
c. Gerakan janin
Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan ibu pada
umur kehamilan 18-20 minggu. Pada primigravida dirasakan sekitar
umur kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16
minggu. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan adalah
quickening ditambah 22 minggu pada primigravida atau ditambah 24
minggu pada multigravida.
d. Denyut Jantung Janin (DJJ)
Dengan stetoskop Laenec DJJ dapat didengar mulai umur 18-20
minggu, sedangkan dengan Doppler dapat terdengar pada umur
kehamilan 10-12 minggu.
18

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

Kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila


didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut:
a) Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif.
b) Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan
Doppler.
c) Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerakan janin pertama
kali.
d) Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali
dengan stetoskop Laennec.
e. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak
trimester pertama, hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Pada
trimester pertamapemeriksaan panjang kepala-tungging (crownrump length/CRL) memberikan ketepatan kurang lebih 4 hari dari
taksiran persalinan.
2) Persalinan
Spontan atau buatan, lahir aterm atau prematur, ada atau tidak
perdarahan, waktu persalinan ditolong oleh siapa, dimana tempat
melahirkan, ada atau tidak riwayat persalinan prematur sebelumnya.
3) Nifas
Apakah ada luka episiotomi atau robekan jalan lahir yang telah dijahit.
13. Pola Kebiasaan Seharihari:
1) Pola nutrisi
Makan teratur 3 kali sehari, 1 piring nasi, lauk, sayur dan buah, minum
kurang lebih 8 gelas per hari, susu, teh dan air putih.
2) Pola Aktivitas
Apa aktivitas sehari-hari yang dilakukan ibu.
3) Pola Seksual
Untuk mengetahui apakah hubungan seksual berlangsung dengan
normal dan ada keluhan atau tidak.
4) Pola eliminasi
Untuk mengetahui frekuensi BAB dan BAK serta output cairan.
5) Perokok dan pemakai obat-obatan.
Untuk mengetahui apakah ada kebiasaan merokok dan mengkonsumsi
obat-obatan serta alkohol.
3.2 Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan umum.
Untuk mengetahui keadaan umum ibu apakah baik, sedang atau buruk.
19

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

2) Kesadaran.
Untuk mengetahui tingkat kesadaran yaitu composmentis, apatis,
samnolen, atau koma. Normalnya kesadaran composmentis.
3) Tanda-tanda vital
4) Berat badan.
Untuk mengetahui adanya kenaikan berat badan selama hamil.
Penambahan berat badan rata-rata 0,3-0,5 kg/ minggu. Tetapi nilai
normal untuk penambahan berat badan selama kehamilan 9-12 kg.
5) Tinggi badan.
Untuk mengetahui tinggi badan ibu hamil, kurang dari 145 cm atau tidak,
termasuk resiko tinggi atau tidak.
6) LILA
Untuk mengetahui lingkar lengan atas ibu, normalnya 23,5 cm.
2. Pemeriksaan fisik
1) Rambut: Untuk menilai warna, ketebalan, distribusi merata atau tidak
2) Muka: Muka pucat atau tidak, ada kelainan atau tidak, ada oedema atau
tidak.
3) Mata: Konjungtiva pucat atau kemerahan, skelera putih atau tidak
4) Hidung: Untuk mengetahui ada tidaknya polip
5) Telinga: Bagaimana keadaan daun telinga, liang telinga, bentuk
telinga, dan posisinya
6) Mulut: Untuk mengetahui apakah mulut bersih dan kering, ada carries,
dan karang gigi atau tidak
7) Leher: Untuk mengetahui apakah ada pembesaran vena juguluris,
pembesaran kelenjar limfe dan tyroid
8) Mamae: Untuk mengetahui bentuk payudara dan pigmentasi puting,
puting susu menonjol, benjolan abnormal dan kolostrum
9) Axilla: Adakah tumor atau benjolan, adakah nyeri tekan atau tidak
10) Ekstremitas: Untuk mengetahui apakah ada oedema atau tidak,
terdapat varicess atau tidak, reflex patella + / 3. Pemeriksaan Khusus Obstetri
1) Inspeksi
Untuk mengetahui pembesaran perut sesuai usia kehamilan, bentuk
abdomen, linea alba / nigra, striae albkan / lividae, kelainan dan
pergerakan janin.
2) Palpasi
Untuk mengetahui TFU dengan cara menggunakan pita ukur, dilakukan
pengukuran dengan menempatkan ujung pita ukur pada tepi atas
sympisis pubis dan tetap menjaga pita ukur agar tetap menempel pada
dinding abdomen da diukur jaraknya kebagian atas fundus uteri.
20

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

3) HIS / Kontraksi
Pada ibu post matur tidak ada his walaupun kehamilan sudah mencapai
42 minggu
4) Tafsiran Berat Janin
Untuk memperkirakan berat badan janin. Pada ibu dengan PARTUS
PREMATUR iminens tafsiran berat janin adalah > 2500 gram
4. Pemeriksaan Dalam Anogenital
1) Vulva/vagina
Untuk mengetahui adakah edema, varises, luka, kemerahan atau tidak,
pembesaran kelenjar bartolini, ada pengeluarann pervaginam atau tidak,
ada pembukaan atau tidak, penipisan, presentasi, selaput ketuban masih
utuh atau tidak dan sudah sejauh mana penurunan kepala.
2) Perineum.
Untuk mengetahui ada bekas luka atau tidak, ada keluhan atau tidak
3) Anus.
Untuk mengetahui ada hemoroid atau tidak, ada kelainan atau tidak.
5. Penilaian Keperawatan Bayi Postterm Meliputi :
1)Mengamati cedera kelahiran atau trauma
2)Status pernapasan
3)Refleks
4)Pemantauan tanda-tanda vital
5)Pemantauan cairan intravena.
6. Pemeriksaan penunjang
Menurut Mansjoer (2001), pemeriksaan penunjang yang perlu
dilakukan adalah:
1) USG untuk menilai usia kehamilan, oligohidramnion, derajat maturitas
plasenta.
2) KTG untuk menilai ada tidaknya gawat janin
3) Penilaian warna air ketuban dengan amnioskopi atau amniotomi (tes
tanpa tekanan, dinilai apakah reaktif atau tidak dan tes tekanan
oksitosin). Salah satu tanda dari postmaturitas adalah air ketuban yang
berwarna kehijauan yang berasal dari mekonium, menunjukkan bahwa
terjadi gawat janin.
4) Pemeriksaan sitologi vagina dengan indeks kariopiknotik > 20%
5) Gas darah arteri (GDA) menunjukkan hipoksia kronis dalam rahim
karena insufisiensi plasenta

21

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

6) Hitung darah lengkap (CBC) menunjukkan polisitemia akibat


penurunan oksigenasi di utero
7) Hematokrit meningkat berhubungan dengan polisitemia dan dehidrasi
3.3 Analisa Data
No
1

Data
DS

:Pasien

mengatakan

pergerakan janin lemah


DO :
Palpasi janin sulit

Etiologi

Masalah
Keperawatan

Kehamilan lewat bulan Resiko gawat janin


Fungsi plasenta menurun
Plasenta mengental
Suplai nutrisi dan O2 ke
janin menurun
Resiko gawat janin

DJJ = 82 x /menit
Hasil USG didapatkan
gerakan janin lemah
DS : Pasien mengatakan Kehamilan lewat bulan
Ansietas
Tidak terdapat tandacemas karena tidak ada
tanda kelahiran
tanda-tanda
kelahiran,
Ibu cemas
pasien
mengungkapkan

ketidaktahuannya
mengenai apa yang dialami
DO : 3.4 Diagnosa Keperawatan
1. Resiko gawat janin berhubungan dengan penurunan fungsi plasenta
2. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan
3.5 Rencana Keperawatan
1. Resiko gawat janin berhubungan dengan penurunan fungsi plasenta
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi, diharapkan tidak terjadi kondisi
gawat janin
Kriteria hasil :
Gerakan janin aktif
DJJ 120-140 x/mnt
Kontraksi uterus/ his tidak ada
Kehamilan dapat dipertahankan sampai umur 37 minggu

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

22

a.
b.
c.
d.

e. BBL 2500 gr
Intervensi :
a. Kaji gerakan janin dan denyut jantung janin sebelum proses persalinan
hingga selesai persalinan.
Rasional : Terjadinya penurunan fungsi plasenta dapat mempengaruhi
gerakan janin dan denyut jantung janin.
b. Anjurkan pasien untuk segera melakukan persalinan dengan metode
sesuai kondisi pasien, lebih disarankan menggunakan metode SC
kecuali jika masih memungkinkan untuk dilakukan pervaginam.
Rasional : Penurunan fungsi plasenta dengan keadaan serviks belum
matang, dan pembukaan yang belum lengkap pada kondisi postterm
menyebabkan terjadinya gawat janin yang mengharuskan untuk segera
dilakukan persalinan.
c. Periksa pembukaan serviks dan penurunan kepala janin serta berikan
tindakan sesuai dengan kondisi pasien.
a. Pada pembukaan serviks masih kecil dapat segera dilakukan rujukan.
b. Pada pembukaan serviks sudah lengkap dapat periksa penurunan
kepala.
c. Pada penurunan kepala kurang dari Hodge III, segera lakukan
rujukan.
d. Pada penurunan kepala berada pada Hodge III-IV dapat dilakukan
persalinan pervaginam.
Rasional : Menentukan tingkat kegawatan janin dan jenis persalinan
yang dapat dilakukan pada pasien postterm.
d. Berikan oksigen pada ibu dan atur posisi ibu dalam posisi berbaring
miring.
Rasional : Bertujuan untuk membantu sirkulasi oksigen maternal ke
janin dan menstabilkan denyut jantung janin sehingga menurunkan
resiko gawat janin.
e. Kontrol DJJ janin secara rutin setiap 5 menit.
Rasional : Bertujuan untuk mengetahui

kondisi

janin

dan

mengidentifikasi adanya kedaruratan pada janin.


f. Periksa tanda vital ibu secara rutin setiap 10 menit.
Rasional : Bertujuan untuk memantau kondisi ibu selama proses
persalinan hingga setelah persalinan.

23

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

2. Ansietas berhubungan dengan tidak adanya tanda-tanda kelahiran


Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan klien
mampu

menunjukkan

berkurangnya

rasa

cemas

dan

mampu

mempertahankan koping yang positif.


Kriteria hasil :
a. Klien merasa tenang dan optimis dengan persalinannya.
b. Klien dapat menggunakan teknik relaksasi distraksi dengan efektif.
c. Menggungkapkan pemahaman situasi individu dan kemungkinan hasil
akhir.
d. Klien tampak rileks, tanda-tanda vital dalam batas normal
Intervensi :
a. Jelaskan prosedur intervensi keperawatan dan tindakan. Pertahankan
komunikasi terbuka, diskusikan dengan klien kemungkinan efek
samping dan hasil, pertahankan sikap optimis.
Rasional : Pengetahuan

tentang alasan untuk aktifitas ini dapat

menurunkan rasa takut dari ketidaktahuan.


b. Orientasikan klien dengan pasangan pada lingkungan persalinan.
Rasional : Membantu klien dan orang terdekat merasa mudah dan
lebih nyaman.
c. Anjurkan tehnik relaksasi seperti teknik distraksi atau napas dalam
Rasional : Memungkinkan klien untuk merileksasikan otot-otot
supaya tidak tegang
d. Anjurkan penggungkapan rasa takut atau masalah
Rasional : Dapat membantu menurunkan ansietas dan merangsang
identifikasi perilaku koping.
e. Pantau tanda-tanda vital pasien.
Rasional : TTV dapat berubah akibat ansietas

BAB IV
24

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

PENUTUP
4.1 Simpulan
Partus postmatur atau kehamilan lewat bulan adalah 294 hari setelah hari
pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan
(postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman
mengenai lama kehamilan dan maturitas janin. (Varney Helen, 2007)
Klasifikasi dilihat dari bayi yang dilahirkan secara postmatur. Terdapat
dua klasifikasi, yaitu berdasarkan berat badan bayi prematur dan berdasarkan
usia kehamilan serta berdasarkan penggolongan faktor penyebab.
Penyebabab dan manifestasi klinis beraneka macam tergantung
klasifikasi partus postmature.
Penatalaksanaan persalinan dengan komplikasi partus premature meliputi
modifikasi

lingkungan,

terapi

perilaku,

terapi

farmakologi,

terapi

pembedahan, dan alat bantu dan health education. Dengan tujuan utama
adalah keselamatan ibu dan bayi.
4.2 Saran
Sebagai seorang perawat sebaiknya kita mengetahui asuhan keperawatan
pada persalinan dengan komplikasi partus postmature secara jelas agar dapat
menunjang keahlian perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada
klien secara tepat, sehingga pelayanan yang diberikan sesuai dan dapat
mengurangi serta memperbaiki kondisi klien.

DAFTAR PUSTAKA
Achadiat, Chrisdiono M. 2004. Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta :
EGC
25

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

Arif, Mansjoer, dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI
Benson. 2008. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi Edisi 9. Jakarta : EGC
Carpenito & Moyet. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Ed10. Jakarta:
EGC
Hockenberry, Wilson. (2007). Wongs Nursing Care of Infant and children, 8th
edition. Mosby : Evolve
Leveno, Kenneth J. 2009. Obstetri Williams : Panduan Ringkas Edisi 21. Jakarta :
EGC
Luxner, Karla L., (2004). Delmars Maternal-Infant : Nursing Care Plans, 2th
edition. Thomson : Delmar Learning
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC
Nanda Internasional, (2012). Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi
2012-2014. Jakarta : EGC
Nugroho, taufam. 2010. Kasus Emergency Bidan. Yogyakarta: Nuna Medika
Oxorn Harry, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan
(Human Labor and birth). Yogyakarta : YEM
Prawirohardjo E.J. 2008, Ilmu Kebidanan, Penerbit Yayasan Bina Pustaka,
Jakarta.
Rukiyah, Ai Yeyeh & Lia Yulianti. 2010. Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita.
Jakarta : TIM
Sastrawinata, Sulaiman. 2004. Ilmu Kesehatan Reproduksi : Obstetri Patologi
Edisi 2. Jakarta : EGC
Sinclair, Constance. 2009. Buku Saku Kebidanan. Jakarta: EGC
Stright, Barbara R. 2004. Panduan Belajar : Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir
Ed.3. Jakarta : EGC
Varney, Helen dkk. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. ed.4 vol.1. Jakarta :
EGC
Wilkinson, Judith M., Ahern, Nancy R., (2009). Buku Saku Diagnosis
Keperawatan : Diagnosis Nanda, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC.
Jakarta : EGC
Yulaikhah, Lily. 200. Kehamilan: Seri Asuhan Kebidanan. Jakarta : Penerbit EGC
26

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

27

Keperawatan Reproduksi 2 (A-1/2012)


Asuhan Keperawatan pada Persalinan dengan Komplikasi Partus
Postmatur

Anda mungkin juga menyukai