Anda di halaman 1dari 9

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi
Ileus yaitu gangguan pasase usus yang disertai gejala mual, muntah, perut
kembung, tidak flatus dan tidak BAB. Bila gejala ringan dinamakan sub ileus.
Ileus dibagi menjadi:
2.2 Pembagian/Klasifikasi
2.2.1 Ileus obstruksi/mekanik
Menurut letak sumbatanya maka ileus obstruktif dibagi menjadi dua :
1) ileus letak tinggi, bila mengenai usus halus
2) ileus letal rendah, bila mengenai usus besar
Obstruksi usus halus dapat disebabkan oleh perlekatan usus, henia,
neoplasma, intususepsi, volvulus, benda asing, batu empedu yang masuk ke usus
melalui fistula, penyakit radang usus ( inflammatory bowel disease ), striktur,
fibrokistik dan hematoma. Ileus obstruksi letak tinggi sering terjadi pada
appendicitis infiltrate pada invaginasi. Invaginasi, dilatasi usus proksimal (usus
proksimal membesar) dapat disebabkan oleh polip dan divertikel usus
Invaginasi sering terjadi pada anak-anak. Volvulus (usus memuntir) sering
terjadi pada orang tua. Strength ileus (termasuk ileus mekanik) akibat dari
perdarahan pasca operasi/infeksi sehingga terjadi Band (jaringan seperti benang
keras) menjerat usus maka bagian proksimal mengalami dilatasi
(mengembang).
Penyebab lain dapat berupa tumor colon atau rectum. Tumor biasanya pada
mukosa, bila berlanjut sampai tunika adventisia atau serosa, bila lebih berat lagi
dapat sampai hepar lewat vena mesenterika.
Gejala ileus obstruksi yaitu perut kembung (distended), mual dan muntah,
tidak flatus dan tidak BAB.
Etiologi :
Dari luar usus :

Volvulus (usus melintir) pada orang tua

Strange ileus, karena jeratan akibat omentum yag melekat pada suatu
tempat akibat perdarahan atau infeksi yang berubah menjadi jaringan
yang kuat menjerat usus pada penderita post SC atau laparotomi

Dari dalam lumen :

Karsinoma pada orang tua

Invaginasi pada bayi

Gejala :

Perut kembung (distended)

Mual dan muntah

Tidak flatus

Tidak BAB

Fisik diagnostik
Inspeksi: - Dinding perut distended
-

Ada dam countour (gambaran usus yang mengembang dan karena


masih kontraksi tampak dari luar)
- Dam steifung

Auskultasi: - Hiperperistaltik suara usus meningkat (++)


-

Borboritmik suara beruntun (seperti suara meriam)

Metalic sound bunyi seperti metal, suara melenting jika diperkusi,


seperti suara besi
Rectal toucher:
Ampula recti kolaps (usus bergerak terus, sementara ada sumbatan, sehingga
kolaps).
Pemeriksaan rontgen
Rontgen abdomen 3 posisi:

Step leader pattern (gambaran anak tangga)

Ada gambaran air dan udara dalam usus (air terlihat putih/opaque,
sedang udara lusen/hitam) air fluid level

Tidak semua step leader pattern harus dioperasi, dilihat dulu gejala
lainnya.

Hearing bone appearance

Tidak ada udara bebas

Distensi usus di proksimal sumbatan

Komplikasi :

Obstruksi disertai proses strangulasi gejala lebih nyata disertai


denagn nyeri yang hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya
skar bekas operasi atau hernia. Bila dijumpai tanda tanda strangulasi
2

maka diperlukan tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya


nekrosis usus.

Ileus letak tinggi alkalosis karena muntah-muntah (asam lambung


banyak yang hilang)

Ileus letak rendah asidosis karena sumbatan terletak di distal


saluran empedu sehingga tidak mendapat empedu alkalis

Uremia

Toxemia

Syok hipovolemik dan sepsis

Diagnosis banding :

Obstruksi usus haluss nyeri pada obstruksi usus halus


biasanya timbul perlahan dan lebih ringan, serta tidak terjadi muntah
bila distensi abdomen masih ringan. Obstruksi pada pasien dewasa
tanpa riwayat operasi atau riwayat obstruksi sebelumnya biasanya
disebabkan karsinoma.

Ileus paralitik

pseudoobstruksi

Terapi :
Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami
obstruksi untuk mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan.
Menghilangkan penyebab obstruksi adalah tujuan kedua.
2. Ileus paralitik
Gejala:
o Kembung
o Mual dan muntah
o Kadang-kadang disertai panas badan
Penyebab:

Karena infeksi pada rongga abdomen, dapat berupa pankreatitis,


colesistitis, pankreatitis.

Uremia, yaitu meningkatnya kadar ureum darah karena ginjal tidak


mampu mencuci darah. Sehingga ureum harus diturunkan.

Fisik Diagnostik
Inspeksi:

Dinding perut distended

Defans muskular (+), yaitu dinding perut ditekan/disentuh sakit,


sehingga dinding perut menahan karena kesakitan.

Auskultasi:
Peristaltik (-)
Pemeriksaan rontgen:
-

Gambaran usus melebar

Dinding usus dan peritoneum menebal (berwarna opaque)

Rectal toucher:
Ampula recti melompong (karena tidak ada peristaltik)
Ileus paralitik jangan terburu-buru dioperasi. Ileus paralitik dapat terjadi pada
thypoid perforasi, biasanya perforasi pada ileum terminale. Karena perforasi udara
dari usus keluar, pada foto abdomen posisi duduk tampak ada udara (lusen/hitam)
dibawah diafragma (subdiafragma/antara diafragma dan hepar).
Volvulus usus melingkar pada bagian proksimal (muntir), sehingga terjadi
sumbatan.
Thypoid perforasi:
- Udara pada subdiafragma
- Panas meninggi 3 minggu, lidah kotor.
Ileus obstruksi memiliki tanda peristaltik menurun (karena letak tinggi, bagian
distal terdapat metalic sound).
Sedang pada ileus paralitik terdapat gambaran borboritmik.
Yang dinilai pada waktu RT:
1. Tonus m.spingter ani
2. Ampula recti
3. Mukosa licin/tidak
4. Massa/benjolan, meliputi ukuran, konsistensi, permukaan, nyeri/tidak.
5. Nyeri tekan (pada arah jam berapa)
6. Kalau sarung tangan dikeluarkan pada sarung tangan ada lendir, darah atau
feces STLD dan feces
7. Pada kasus BPH dinilai seberapa besar prostatnya, pulsasi atas teraba atau
tidak (jika teraba, berarti yang membesar adalah lobus medialnya).
Terapi :

Tergantung penyebab

Peritonitis laparotomi

BAB II
LAPORAN KASUS

I.1.

I.2.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Rahib Amin

Umur

: 52 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pegawai Negeri

Alamat

:Desa Peurlak Kab. Aceh Timur

Tanggal masuk

: 3- 3- 2016

ANAMNESIS
a. Keluhan utama

: Nyeri Perut

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke RSHM dengan keluhan perut terasa nyeri dibagian
kanan bawah dirasakan 1 bulan yang lalu, nyeri dirasakan semakin lama
semakin memberat, kembung serta mual jika makan maka pasien muntah,
pasien juga mengeluh tidak bisa buang air besar dan tidak bisa kentut.
Nafsu makan pasien menurun dan berat badan juga menurun.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
-

Riwayat sakit seperti sekarang sebelumnya disangkal

Riwayat trauma di perut di sangkal

Riwayat operasi tidak ada

d. Riwayat Penyakit Keluarga


I.3

Tidak ada penyakit yang diturunkan

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
1. Keadaan Umum

: lemah

2. Kesadaran

: Compos mentis

3. Vital Sign

: T : 110/80 mmHg

N : 80 x/menit
R : 20 x/menit
S : 37,3C
4. Pemeriksaan Kepala
Kepala

: Normochepali, tidak ada bekas luka.

Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,


pupil isokor, refleks pupil baik, tidak ada
eksoftalmus.

Telinga

: Simetris, discharge tidak ada.

Hidung

: Deviasi septum tidak ada, discharge tidak ada.

Mulut

: Bibir kering, tidak anemis, lidah tidak kotor,


tidak hiperemis, tidak tremor, faring tidak
hiperemis.

5. Pemeriksaan Leher
Inspeksi

: Trachea di tengah

Palpasi

: Kelenjar tyroid tidak membesar

6. Pemeriksaan Thorak
Paru-paru
Inspeksi

: Simetris,

inspirasi

>

ekspirasi,

retraksi

intercostal (-), ketinggalan gerak saat bernafas


(-), tremor (-), bekas luka (-).
Palpasi

: Vokal fremitus kanan kiri sama.

Perkusi

: Sonor seluruh lapangan paru, suara tambahan


tidak ada.

Auskultasi

: Vesikuler

seluruh

lapangan

paru,

suara

tambahan tidak ada.


Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat.

Palpasi

: Tidak ada thrill.

Perkusi

: Batas atas SIC II


Batas kiri SIC V LMC sinistra
Batas kanan SIC IV RSB

Auskultasi

: Suara tambahan bising (-), gallop (-).

7. Abdomen
Status lokalis
8. Ekstremitas
Superior

: Reflek

fisiologis

baik,

tidak

ada

refleks

patologis, tidak ada atrofi, tidak ada tumor,


tonus otot cukup.
Inferior

: Reflek

fisiologis

baik,

tidak

ada

refleks

patologis, tidak ada atrofi, tidak ada tumor, tidak


ada udem, tonus otot cukup.
9. Costovertebra

Tidak ada kifosis, tidak

ada lordosis, tidak ada skoliosis, tidak ada nyeri


ketok.
B. Status Lokalis
Inspeksi

: R. Abdomen
: Distensi, abdomen ( + ), tidak ada darm
steifung.

Palpasi

: Soepel, Nyeri tekan (+)


Hepar/lien tak teraba

Perkusi

: Hipertimpani

Auskultasi

: peristaltik meningkat, borboritmik (+), metalic


sound ( - )

I.4 RESUME
A. Anamnesis
Pasien laki-laki umur 52 tahun pekerjaan Pegawai Negeri, datang ke
RSHM dengan keluhan perut terasa nyeri, kembung serta mual jika makan
maka pasien muntah, pasien juga mengeluh tidak bisa buang air besar dan
tidak bisa kentut.
B. Pemeriksaan Fisik
1. Status generalis

: Dalam batas normal

2. Status lokalis

R. abdomen

: Tampak Distensi, abdomen ( + ), tidak ada darm


steifung,

supel,

nyeri

tekan

(-)

perkusi

hipertimpani, peristaltik meningkat, borboritmik


(+), metalic sound ( - )
I.
-

DIAGNOSIS KERJA

Ileus Obstrukstif ec Tumor Kolon Ascendens


II.

DIAGNOSIS BANDING

Ileus paralitik

Apendisitis akut
III. PEMERIKSAAN PENUNJANG

IV.

Darah lengkap
Foto polos abdomen
Foto thorax

TERAPI
Konservatif :
- IVFD RL 20 gtt/i
- pasang kateter ( balance cairan )

Pasang NGT
- Obat

Inj. Ceftriaxone 1 amp/12 jam

Inj. Ranitidine 1 amp/12 jam

Paracetamol tab 2x1

Operatif :
- laparotomi Explorasi
V.

PROGNOSIS
Umumnya baik, tergantung dari penyakit yang mendasari.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hamami, AH., Pieter, J., Riwanto, I., Tjambolang, T., dan Ahmadsyah, I.
Usus Halus, apendiks, kolon, dan anorektum. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah.
Edisi 2. Editor: Sjamsuhidajat, R. dan De Jong, Wim. Jakarta: EGC, 2003.
Hal: 615-681.
2. Price, S.A. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. Editor: Price,
S.A., McCarty, L., Wilson. Editor terjemahan: Wijaya, Caroline. Jakarta:
EGC, 1994.