Anda di halaman 1dari 22

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1

Produk Pertasol
Pertasol merupakan campuran hidrokarbon cair yang mempunyai
trayek didih 45-150 0C. Pertasol merupakan produk yang terpenting karena
digunakan sebagai solvent/ pelarut, pembersih dan lain-lain. Produk Pertasol
dibedakan atas 3 yaitu :
1; Pertasol CA (Pertasol 2)

Digunakan untuk bahan dasar :


a;

Pada industri cat, Lacquers, varnish

b;

Untuk tinta cetak sebagai pelarut dan diluen

c;

Industri clearing dan degreasing

d;

Sebagai komponen dalam proses :

Pembuatan bahan karet pada pabrik ban, vulkanisir, dan lain-lain

Adhesive (lem)

Industri farmasi

Tabel 5.1 Spesifikasi Bahan Bakar Jenis Pertasol CA

No

Unit

Typical Test
Figure

15,6/15,6 oC

0,72

ASTM D1298

45

ASTM D-86

Property

Specific gravity

Distilation :
- IBP
(Initial
Point)
- EP (End Point)

Boiling

Doctor Test

Saybolt

Copper strip corrosion

Aromatic Content

Methods

150
Negative
+25
2 hrs/37,8 OC

Max No. 1

% vol

20

ASTM D484
ASTM D156
ASTM D130
ASTM D1319

2; Pertasol CB

Pertasol CB digunakan sebagai :


a;

Pada industri cat (alkyl resine), thiner dan lacquers

b;

Tinta cetak

c;

Dry cleaning service

d;

Industri tekstil (printing)

Tabel 5.2 Spesifikasi Bahan Bakar Jenis Pertasol CB


No
1
2

Property
Specific gravity
Distillation :
- IBP
- EP

Doctor Test

Saybolt

Unit
15,6/15,6 oC
O

Typical Test
Methods
Figure
0,765
ASTM D-1298
ASTM D-86
100
200
Negtive

ASTM D- 484

+18

ASTM D-156

Copper strip corrosion

Aromatic Content

2 hrs/37,8OC

Max No. 1

ASTM D-130

%vol

25

ASTM D-1319

3; Pertasol CC

Tabel 5.3 Spesifikasi Bahan Bakar Jenis Pertasol CC

No

Unit

Typical Test
Figure

Methods

15,6/15,6 oC

0,782

ASTM D-1298

Property

Specific gravity

Distillation :
- IBP
- EP

Doct Or Test

Saybolt

5
6

Copper strip corrosion


Aromatic Content

ASTM D-86
O

124
250
Negative

ASTM D 4952

+16
2 hrs/37,8 OC
% vol

Max No. 1
25

ASTM D 130
ASTM D 1319

Gambar 5.1
Produk Pertasol CA, CB, CC
5.2

Spesifikasi Caustic Soda (NaOH)

Tabel 5.4 Spesifikasi Kaustik Soda

5.3

Spesifikasi

Caustic Soda (NaOH)

Caustic Soda

48%

Kapasitas

250 kg/drum

Produk

Tjiwi Kimia

Panduan Prosedur Kerja


1;

Tujuannya
Untuk mengurangi kadar sulfur

2;

3;

Tindakan Keselamatan

SOP sebagai bahan acuan

Alat pelindung diri yang dibutuhkan

Peralatan yang dibutuhkan

Alat keselamatan kerja antara lain apar, safety helm, masker,


sarung tangan

4;

5;

Pompa Centrifugal

Vessel Soda Api

Perlengkapan Penunjang

Pekerja yang terlibat

1 Orang sebagai pengawas

2 Orang sebagai operator

Langkah-langkah Pekerjaan
Persiapan
a;

Persiapan Larutan Soda


i;

Pembuatan Larutan Soda (Baru)

ii;

iii;

Pembersihan vessel dengan air

Pengisian vessel dengan air

Pengenceran kristal soda dengan injeksi steam

Memindahkan larutan soda ke vessel pencampuran

Pencampuran dengan cara sirkulasi pompa

Pengecekan konsentrasi soda di laboratorium

Pengecekan/ Pengawasan konsentrasi soda

Pengambilan contoh larutan soda

Pengamatan konsentrasi soda sesuai kebutuhan proses

Pembuangan/ Perbaikan Larutan

Pengambilan contoh dan pengamatan konsentrasi

Perbaikan larutan soda dengan injeksi soda baru atau


dengan pengencerandengan air

Pembuangan larutan konsentrasi soda bila sudah tidak


mungkin diperbaiki

b;

Persiapan Bahan Baku


i;

Persiapan Kualitas

Pengambilan contoh tangki

Pengamatan analisa bahan baku dan spesifikasi standart


dan kebutuhan proses

ii;

c;

Pembersihan air di tangki

Persiapan Kuantitas

Pengukuran tangki

Perhitungan kapasitas

Persiapan Tangki
i;

Pengukuran Tangki Penerima

ii;
d;

Perhitungan ullage tangki

Persiapan Peralatan Utama


i;

Pengecekan kondisi peralatan proses seperti tangki, pompa,


jaringan pipa, instrumentasi, mixer settler, dsb. Harus dalam
keadaan baik

ii;

Pengecekan operasi masing-masing peralatan termasuk


pelumasan, flushing, dsb

Langkah Operasi
a;

b;

Persiapan Jaringan
i;

Membuka jaringan suction dan discharge Pertasol

ii;

Membuka jaringan sirkulasi larutan soda

Operasi pompa
i;

ii;

iii;

Persiapan Pompa Soda dan Pertasol

Pengecekan kondisi pompa transmisi dan motor

Pengecekan pelumas

Menjalankan pompa ke posisi (ON)

Menjalankan pompa soda

Menjalankan pompa pertasol

Mengatur flowrate Pertasol dan Soda

Mengatur ratio Pertasol dan soda sesuai kebutuhan

Menjaga kapasitas operasi sesuai batas yang diijinkan

Pengawasan Operasi
a;

Pengawasan kondisi peralatan sebagai berikut :

Tangki : tidak bocor dan kapasitas aman

Jaringan Proses : Tidak buntu/ bocor

Pompa : Tidak terjadi kavitasi, getaran atau suara normal,


panas pada bearing normal.

b;

Mixer : tidak buntu

Settler : tidak buntu/ kotor

Instrumentasi : operasi dengan baik

Pengawasan kondisi operasi

Flow rate/ ratio : Flowrate Pertasol/ soda sesuai kebutuhan


proses dan kemampuan peralatan

c;

Konsentrasi soda : sesuai batasan

Pengawasan kualitas dan kuantitas


Pengecekan Kualitas produk Pertasol

i;

Pengambilan contoh

Pengamatan analisa produksi seperti doctor test dan


copper strip
Pengecekan kuantitas produksi

ii;

Pengukuran tangki pengirim dan tangki penerima

Perhitungan volume yang masih dapat di treating

Perhitungan kapasitas tangki penerima yang masih dapat


menerima produksi treating

Stop Operasi Treating

5.4

a;

Mematikan pompa

b;

Tutup jaringan proses

c;

Pembersihan jaringan / peralatan treating, bocoran soda

Process Flow Diagram Treating

Proses Flow Diagram dari Treating menggunakan kaustik soda (terlampir).

5.5

Reaksi Kimia yang Berlangsung


Berikut merupakan reaksi yang terjadi pada saat treating dengan
menggunakan caustic soda. Caustic akan mengoksidasi RSH (merkaptan)
dan senyawa sulfur lainnya. Reaksi ini berlangsung secara irrreversibel
(searah), karena kaustik soda yang telah jenuh tidak dapat di regenerasi
kembali. Dan pola aliran dalam mixer terjadi dalam satu arah

5.6

RSH + NaOH

RSNa + H2O

H2S + 2NaOH

Na2S + H2O

Proses Berlangsungnya Treating


Proses treating menggunakan caustic soda ini merupakan salah satu
metode treating yang digunakan di kilang pusdiklat migas Cepu. Dengan
menggunakan metode ini dapat menghilangkan atau mengurangi H 2S dan
RSH dengan menggunakan cautic soda (NaOH) dalam bentuk larutan.
NaOH yang digunakan sebagai bahan baku memiliki konsentrasi + 48% wt,
namun jika NaOH dalam bentuk padatan bahan baku yang digunakan
memiliki konsentrasi + 80% wt, maka harus dikontakkan dengan steam
terlebih dahulu agar dapat di gunakan dalam proses treating ini. Kemudian
pada penggunaaan operasionalnya, NaOH yang digunakan memiliki
konsentrasi + 20 - 25 % wt. Oleh karena itu dilakukan pengenceran NaOH

dengan air dengan perbandingan 1:1 sehingga didapatkan konsentrasi NaOH


yang memenuhi spesifikasi untuk siap dioperasikan
1; Proses Treating Pertasol CB dan CC

Feed berupa Pertasol CB merupakan hasil fraksinasi C-2 dan


Pertasol CC merupakan hasil fraksinasi dari C-1 side stream No. 8 dan
ditampung kedalam tangki produk pada Pertasol CB (T-110 dan T-113)
dan untuk Pertasol CC (T-112), kemudian di drain agar kotoran-kotoran
yang tidak diinginkan tidak terikut ke dalam proses. Pertasol CB dan
CC diadsorpsikan dengan adsorben berupa arang aktif secukupnya, hal
ini dilakukan untuk memperbaiki kualitas warna agar sesuai dengan
spesifikasi. Pertasol CB dan CC dipompakan bersamaan dengan NaOH
(yang terdapat dalam Bak Soda) dengan pressure masingmasing untuk
Pertasol CB dan Pertasol CC 3 kg/cm2 dan untuk Caustic Soda (NaOH)
2 kg/cm2, kedalam mixing - device (Mixer) sehingga terjadi aliran yang
turbulen dalam mixer. Di dalam Mixer terjadi reaksi kimia pengikatan
caustic soda dengan senyawa sulfur yang terdapat dalam Pertasol.
Kemudian menuju ke Settler vessel Pertasol CB dan Pertasol CC.
Sehingga di dalam settler vessel terjadi pemisahan antara produk
pertasol (yang sudah berkurang kadar RSH dan H2S) dan Caustic Soda
yang mengandung RSH dan H2S. Dimana, Pertasol CB dan CC berada
di atas vessel dan Caustic Soda berada di bawah vessel, hal ini terjadi
akibat adanya perbedaan densitas (massa jenis), yaitu massa jenis
Caustic yang lebih besar dari pada Pertasol. Treated Pertasol (yang
sudah di treating) selanjutnya menuju ke Tank loading untuk produk
Pertasol CB menuju ke T-128, T-129, T-131 dan T-132 kemudian untuk
Pertasol CC menuju ke T-134 sebagai tank penampung dan dilakukan

10

drain kembali guna meyakinkan produk sudah tidak mengandung


kotoran-kotoran yang mampu mempengaruhi kualitas produk yang siap
untuk di pasarkan ke konsumen.
2; Proses Treating Pertasol CA

Feed berupa Pertasol CA hasil dari fraksinasi C-2 ditampung


kedalam tangki produk Pertasol CA T-114, T-116 dan T-117, kemudian
di drain agar kotoran-kotoran yang tidak diinginkan tidak terikut ke
dalam proses. Pertasol CC dipompakan bersamaan dengan

NaOH

(yang terdapat dalam Tangki Soda) dengan pressure masingmasing


untuk Pertasol (CA, CB, CC) 3 kg/cm2 dan untuk Caustic Soda (NaOH)
2 kg/cm2, kedalam mixing- device (Mixer) sehingga terjadi aliran yang
turbulen dalam mixer. Di dalam Mixer terjadi reaksi kimia pengikatan
caustic soda dengan senyawa sulfur yang terdapat dalam Pertasol.
Kemudian menuju ke Settler vessel untuk Pertasol CA. Sehingga di
dalam settling vessel terjadi pemisahan antara produk Pertasol CA
(yang sudah berkurang kadar RSH dan H2S) dan Caustic Soda yang
mengandung RSH dan H2S. Dimana, Pertasol CA berada di atas vessel
dan Caustic Soda berada di bawah vessel, hal ini terjadi akibat adanya
perbedaan densitas (massa jenis). yaitu massa jenis Caustic yang lebih
besar dari pada Pertasol. Kemudian Pertasol menuju ke Separator di
drain kembali guna menghilangkan caustic soda yang masih terikut
kedalamnya untuk dipisahkan kembali. Treated Pertasol CA (yang telah
di treating) selanjutnya menuju ke Tank loading T-130, T-133, T-143
dan T-144 sebagai tank penampung dan dilakukan drain kembali guna
meyakinkan produk sudah tidak mengandung kotoran-kotoran yang

11

mampu mempengaruhi kualitas produk yang siap untuk di pasarkan ke


konsumen.
Perbandingan pencampuran antara produk pertasol yang akan
di treating dengan Cautic soda (NaOH) yang akan digunakan sebagai
media treating yang digunakan di Kilang Pusdiklat Migas Cepu yaitu 2:
1. Dengan perbandingan Pertasol 2 dan Caustic Soda 1. Selain itu yang
perlu diperhatikan adalah kebersihan feed (Pertasol) melalui proses
drain, dan memastikan tidak ada air yang terikut kedalam proses,
karena akan menyebabkan konsentrasi soda menurun ketika proses
treating sehingga caustic mudah jenuh dan kemampuan dalam
mengikat senyawa sulfur berkurang.
5.7

Peralatan dalam Proses Treating


Peralatan yang digunakan dalam treating Caustic Soda sangat
sederhana yaitu
1;

Tangki Produk

Gambar 5.2 Tangki Produk Pertasol CA


Tangki produk berjumlah 6 (enam) buah, untuk produk
Pertasol CA (T-114, T-116 dan T-117), Pertasol CB (T-110 dan T-113)
dan Pertasol CC (T-112). Tangki produk ini digunakan untuk
menampung pertasol (CA, CB, CC) dari hasil fraksinasi (sebelum
dilakukan treating).
2;

Adsorber

Gambar 5.3 Adsorber Pertasol CB dan CC

12

Kolom adsorber ini terdapat 2 buah yang digunakan sebagai


tempat terjadinya adsorpsi Pertasol CB dan Pertasol CC dengan
adsorben berupa arang aktif secukupnya. Hal ini berguna memperbaiki
kualitas warna dari pertasol CC sehingga memenuhi spesifikasi untuk
proses selanjutnya.

3;

Mixer

Line Pertasol

Gambar 5.4 Mixer

Line Pertasol

Gambar 5.5 Line Pertasol

Line Pertasol

Terdapat 3 Mixer
( masing-masing line untuk
pertasol CA, CB, CC) yang
digunakan sebagai tempat
treating

dengan

caustic

soda

ini

berlangsung. Yaitu

dengan

memompakan pertasol dan caustic soda secara kontinyu sehingga


terjadi aliran yang turbulen.
4;

Settler Vessel

13

Gambar 5.6 Settler vessel Pertasol CA

Gambar 5.7 Settler vessel Pertasol CB

Gambar 5.8 Settler vessel Pertasol CC

Terdapat 3 Settler vessel untuk masing-masing pertasol (CA,


CB, CC). Vessel ini dipergunakan untuk menampung hasil produk
(pertasol) yang telah di treating untuk memisahkan antara caustic yang
telah digunakan dan produk pertasol yang telah di treating.

5;

Separator

Gambar 5.9 Separator Pertasol CA


Separator yang digunakan berjumlah 1 (satu) yaitu untuk
memisahkan caustic yang masih terikut ke dalam produk Pertasol CA.
6;

Tank Loading

Gambar 5.10 Tank Loading Pertasol CB


Tank loading ini berjumlah 9 (sembilan) yang mana digunakan
untuk hasil produk pertasol CA (T-130, T-133, T-143 dan T-144)
Pertasol CB (T-128, T-129, T-131 dan T-132) dan Pertasol CC (T-134)
yang telah di treating dan dipisahkan dari caustic soda.
7;

Pompa

14

Gambar 5.11 Pompa Centrifugal Unit Treating


Pompa yang digunakan merupakan pompa centrifugal yang
berjumlah 6 yaitu untuk produk pertasol (CA, CB, CC) 3 buah, dan
caustic soda (NaOH) 3 buah.
8;

Gudang Caustic Soda dan Pelumas serta Bak Pelarut Caustic Soda

Gambar 5.12 Gudang Caustic Soda dan Pelumas

Gambar 5.13 Bak Pencampur Soda dan Air

15

Bak Pencampur Soda digunakan untuk mencampurkan Caustic


Soda dan Air (Pelarutan) guna menurunkan konsentrasi bahan baku
menjadi + 20 - 25 % wt. Untuk dapat diopeasikan dalam proses
treating. Tentunya dengan perbandingan pencampuran 1:1.
9;

Rotameter

Gambar 5.14 Rotameter Caustic Soda dan Pertasol


Rotameter merupakan alat untuk mengukur tingkat aliran
Pertasol dan Caustic dalam tabung tertutup, sehingga diketahui
ketinggian aliran. Di kilang Pusdiklat Migas Cepu, alat ini digunakan
pada unit treating guna menentukan perbandingan pencampuran antara
Caustic dan Pertasol sehingga mencapai perbandingan 2:1, yaitu 2
bagian untuk Pertasol dan 1 bagian untuk Caustic Soda. Namun Alat ini
tidak lagi dioperasikan di Kilang Pusdiklat Migas Cepu karena sedang
dalam tahap pembenahan.
Prinsip kerja dari Rotameter ini mula mula float (di dalam
rotameter) berada pada posisi setimbang (angka nol pada scale line)
menunjukkan bahwa tidak adanya gaya yang bekerja pada float, dengan
demikian tidak ada fluida yang mengalir. Ketika terjadi aliran fluida
berakibat pada naiknya float ke atas akibat gaya angkat dari fluida.
Pembacaan tinggi float pada scale line sebanding dengan perubahan
besarnya aliran yang terjadi.

5.8

Variable Proses
Variable yang mempengaruhi proses treating menggunakan cautic
soda ini adalah :

16

1;

Konsentrasi Soda
Konsentrasi bahan baku NaOH yang digunakan di kilang
Pusdiklat Migas Cepu yaitu sesuai fase dari NaOH sendiri, yaitu + 48%
wt untuk fase larutan dan + 80% wt untuk padatan. Dan untuk kondisi
operasionalnya digunakan konsentrasi + 20- 25 % wt. Jika konsentrasi
NaOH yang digunakan terlalu berlebihan akan mempengaruhi stabilitas
warna dari produk Pertasol dan akan mengakibatkan troubleshooting
pada pipa. Apabila konsentrasi terlalu rendah akan berpengaruh pada
kejenuhan larutan NaOH (Caustic soda) itu sendiri yaitu semakin
mudah jenuh sehingga senyawa sulfur di dalam Pertasol tidak terikat
sempurna dan produk masih mengandung senyawa sulfur.

2;

Kualitas Feed
Kualitas feed juga berpengaruh terhadap proses treating ini,
jika kualitas feed kurang seperti pertasol CC yang kurang dari warna
sesuai spesifikasi, maka harus dilakukan adsorpsi dengan menggunakan
adsorben dari arang aktif, sehingga warna pertasol setelah di treating
sesuai dengan spesifikasi.

3;

Perbandingan Soda dengan Pertasol


Perbandingan untuk pencampuraan pertasol dan soda yang
digunakan di kilang pusdiklat migas cepu yaitu 2:1 dengan 2 bagian
Pertasol ( CA, CB, CC) dan 1 bagian untuk caustic soda ( NaOH ).

4;

Mixing
Merupakan pencampuran antara pertasol dan caustic soda
sehingga terjadi aliran yang turbulen. Pada proses mixing diupayakan
agar aliran yang terjadi di dalam nya tidak terlalu cepat ( + 15 cm/jam)

17

agar pengikatan senyawa sulfur dalam Pertasol dapat terikat dengan


baik.
5;

Settling Time
Settling, dimana pertasol terpisah dengan caustic soda. Pada
saat settling diupayakan agar benar benar caustic dan Pertasol telah
terpisah dengan Caustic di bagian bawah dan Pertasol di bagian atas,
sesuai dengan densitas caustic yang lebih besar dibanding densitas
Pertasol. Dilakukan pengamatan mengenai level sebagai indikator
settling yaitu dengan kenaikan 15 cm setiap jam.

6;

Temperatur
Temperatur sangat mempengaruhi terjadinya loss Pertasol
yang akan di treating, oleh karena itu temperatur pada tangki dijaga
agar tidak melebihi + 30 0C. Jika terjadi Losses tentunya akan
berpengaruh pada kerugian produksi pertasol.

5.9

Kelebihan dan Kekurangan


Pemurnian Pertasol dengan Caustic Soda (NaOH) sangat efisien
karena :
1;

Material Caustic Soda mudah didapat di pasaran karena harganya


relative lebih murah

2;

Penggunaan NaOH (Caustic Soda) lebih mudah dan tidak rumit

3;

Pengaruh terhadap lingkungan juga kecil


Kerugian pemilihan NaOH sebagai media treating yaitu:

1;

Penggunaan media NaOH ini tidak dapat digunakan jika kadar


merkaptan yang terkandung di dalam produk dalam jumlah yang besar

18

2;

Jika Konsentrasi NaOH (Caustic Soda) yang digunakan terlalu tinggi


akan mempengaruhi stabilitas warna pada produk (Pertasol)

3;

Tidak bisa digunakan untuk mengikat senyawa Non-Sulfur seperti


Nitrogen, timbal, logam berat dll.

Adapun Akibat yang ditimbulkan apabila kandungan sulfur masih


terdapat dalam produk (tanpa di treating)
1;

Bersifat korosif terhadap peralatan kilang ataupun pemakaian pada


peralatan konsumen

2;

Pertasol adalah bahan baku cat sehingga dapat mempengaruhi iritasi


terhadap mata

3;

Menimbulkan bau tidak enak (bau busuk)


Sehingga treating sangat diperlukan untuk memurnikan produk dari

kandungan senyawa sulfur yang masih terkandung di dalam produk.

5.10 Permasalahan, Penyebab dan Troubleshooting

Tabel 5.5 Contoh masalah, penyebab dan troubleshooting Unit Caustic


NO
1;

Permasalahan

Penyebab

Masih Adanya
Senyawa Sulfur
setelah Treating

Konsentrasi NaOH
kurang
Terikutnya Air pada
proses treating
Kesalahan Operator

saat pengukuran
level Air dan Pertasol
Aliran pada mixer

terlalu cepat

Troubleshooting
Pencampuran antara
Caustic Soda dan Air saat
pelarutan harus 1:1
sehingga konsentrasi
mencapai 20 -25 % wt
Drain Tangki umpan untuk
mengurangi air yang masih
ada di bagian bawah tangki
Ketelitian operator dalam
pengukuran level Air dan
Pertasol

19

2;

Caustic Soda
Cepat Jenuh

Konsentrasi NaOH
kurang
Kesalahan Operator
saat pengukuran
level Air dan Pertasol

Pencampuran antara
Caustic Soda dan Air saat
pelarutan harus 1:1
sehingga konsentrasi
mencapai 20 -25 % wt
Ketelitian operator dalam
pengukuran level Air dan
Pertasol

3;

Caustic soda
Tekanan pada pompa
terikut ke dalam
terlalu besar
tangki loading

4;

Kavitasi pada
pompa

5;

Losses

6;

Aliran pada mixer dijaga/


diupayakan pada kondisi
normal (15 cm/jam)

Tekanan pada pompa


diupayakan 2 Kg/Cm2 G

Drain Tangki sesuai SOP


Menurunkan tekanan
pompa

Temperatur terlalu
tinggi
Air terikut sebelum
loading
Operator salah dalam

pengukuran level
tangki

Menurunkan temperatur
jika terlalu tinggi dan
mengupayakan agar +
30OC
Drain Tangki sesuai SOP
Ketelitian operator dalam
pengukuran level tangki

Terikutnya air
kedalam umpan
Tekanan pompa
terlalu besar

Penyumbatan pada Konsentrasi pada

Pipa
Caustic Soda terlalu
tinggi sehingga
kekentalannya tinggi
dan alirannya lambat

Melarutkan Caustic dengan


air dan menjaga supaya
kosentrasi caustic soda saat
operasional + 20 25 % wt

5.11 ANALISIS DATA SAMPEL PERTASOL CA, CB, CC

20

Hasil uji yang dilakukan pada sampel Pertasol CA, CB, dan pertasol CC.
Dalam bentuk sebgai tabel
A; Pertasol CA

No

2.
3.

Pengujian

Metode

Specific
ASTM DGravity
1298
o
15,6/15,6 C
Colour
saybolt

ASTMD156

Hasil
analisis

Batasan

Pertasol CA

min

Max

0.7350

0.7200

0.7350

+30

+25

Copper strip ASTM Dcorrosion


130

Nomor 1

B; Pertasol CB

No

2.
3.

Pengujian

Metode

Specific
ASTM DGravity
1298
15,6/15,6oC
Colour
saybolt

ASTMD156

Copper strip ASTM Dcorrosion


130

Hasil
analisis

Batasan

Pertasol CB

min

Max

0.7734

0.7650

0.7800

+20

+18

Nomor 1

21

C; Pertasol CC

No

Pengujian

Hasil
analisis

Colour
saybolt

Batasan

Pertasol CC

Min

Max

0.7881

0.7820

0.7960

+17

+16

Specific
ASTM DGravity
1298
o
15,6/15,6 C

2.
3.

Metode

ASTMD156

Copper strip ASTM Dcorrosion


130

Untuk pengujian Copper strip corrosion

Nomor 1

ini bertujuan untuk

pengenalan pengkaratan pada tembaga yang disebabkan oleh pertasol.


Sifat korosif ini disebabkan adanya sulfur bebas dan senyawa sulfur
reaktif. Berdasarkan hasil pengujian, sample pertasol CA, CB, CC sesuai
dengan ketentuan spesifikasi No. 1. Jika Pertasol yang dihasilkan setelah
diuji lebih dari itu, maka pertasol bersifat korosif terhadap logam,
mengandung sulfur dari H2S dan merkaptan.

5.12 LOSSES PERTASOL CA

Sampel CA (senin, 17 Agustus 2015) dari tangki 117 akan di treating


ke tangki 130

Tangki 117
Level awal : 185 cm
Akan di treating ke tangki 130 sehingga level tangki 117 menjadi 30 cm

22

Jadi yang dikirim untuk di treating :


(tabel volume tangki No 510.6/3295)
Untuk tangki setinggi 185 cm berarti volume nya sebanyak = 53.905
liter
Untuk tangki setinggi 30 cm berarti volume nya sebanyak = 8.739 liter
Sehingga jumlah yang akan dikirim sebanyak
= 53.905 8.739 (liter)
= 45166 liter

Tangki 130
Level awal : 32,2 cm
Setelah di treating level tangki menjadi 193 cm
Jadi yang diterima untuk di treating :
(tabel volume tangki No 510.6/3295)
Untuk tangki setinggi 32 cm berarti volume nya sebanyak = 8.984 liter
Untuk tangki setinggi 2 cm berarti volume nya sebanyak = 56,1 liter
Untuk tangki setinggi 193 cm berarti volume nya sebanyak = 54.148
liter
Sehingga jumlah yang diterima sebanyak
= 54.148 8.984 56,1 (liter)
= 45107,9 liter

Sehingga Losses sebanyak


= 45166 liter - 45107,9 liter
= 58,1 liter