Anda di halaman 1dari 66

cara membuat pakan cacing.

pdf
Tahap memberi pakan cacing tanah
Sebelum mempersiapkan pakan cacing sebaiknya kita mengetahui tentang fungsi dari pakan
untuk cacing itu, yaitu:

Pakan berhubungan langsung pada proses pertumbuhan dan perkembangbiakan


cacing.

Pakan yang baik bagi cacing adalah berasal dari limbah organik, kondisinya lunak,
tidak teralalu berbau dan tidak terlalu berminyak

Pemberian pakan sebaiknya sesuai kebutuhan cacing dan tidak banyak berlebih,
pemberiannya menyebar di beberapa tempat dan tutup media supaya terhindar dari
hama dan makanan tidak cepat kering.

Dihindari penggunaan makanan dari limbah organik yang mengandung belatung dan
hama-hama lainnya.

Pakan cacing tanah dari limbah organik rumah tangga misalnya : sisa nasi, sisa sayur, air leri,
ampas kelapa, sisa roti, sisa buah-buahan, sisa lauk pauk, dll.
Pakan dari limbah organik home industri misalnya : ampas tahu, ampas kedelai, ampas tebu,
ampas singkong, limbah dari kulit buah/perasan buah, limbah log jamur, tetes.
Pakan dari limbah organik kotoran hewan misalnya : kotoran sapi, kotoran ayam, kotoran
kambing, kotoran bebek, kotoran kelinci, kotoran ulat hongkong, dll.
Pakan dari limbah organik lingkungan pasar misal : limbah sayur, limbah buah, kulit buah,
debog pisang, dll.
CARA PEMBERIAN PAKAN :

CARA LANGSUNG : cara ini cocok untuk jenis pakan yang sudah lunak dan siap
pakai misal sisa nasi, ampas tahu, ampas kelapa, dll. Cara langsung artinya makanan
diberikan secara langsung tanpa proses pembusukan maupun fermentasi. Sebaiknya
sebelum diberikan makan ditambahkan air agar lebih lunak dan sangat baik kalau
ditambahkan tetes secukupnya. Tetes berfungsi sebagai penambah nafsu makan
sekaligus sebagai suplemen bagi cacing.

CARA PEMBUSUKAN : cara ini dilakukan mengkondisikan agar pakan lebih


lunak. Pembusukan makanan tidak boleh terlalu lama karena bisa menimbulkan
belatung dan bau busuk yang menyengat. Makanan yang perlu dibusukan adalah
makanan yang tergolong kasar misalnya limbah sayur pasar dan limbah kulit buah.

CARA FERMENTASI : cara ini adalah cara terbaik dalam teknik pemberian pakan.

Tujuan dari pemberian pakan dengan teknik fermentasi antara lain :

Membuat makanan agar lebih lunak

Meningkatkan daya serap usus terhadap makanan

Meningkatkan nutrisi makanan

Proses fermentasi dalam istilah umum adalah proses pembuatan tape, namun dalam hal ini
bahan yang ditapekan adalah limbah organik.
Dalam proses fermentasi, bahan-bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut :

Limbah organik : 10 kg

Probiotik : 1 tutup botol

Gula jawa/tetes : 1 tutup yakult

Proses fermentasi :

Siapkan limbah organik yang akan difermentasikan

Campurkan tetes dan bakteri lalu ditambahkan air gula secukupnya

Percikkan dampuran tetes dan bakteri tersebut pada limbah organik secara merata lalu
aduk

Masukan adukan makanan tersebut ke kresek lalu lipat rapat

Proses fermentasi dilakukan selama 1-3 hari kemudian siap diberikan ke cacing.

Demikian tahap penyedian dan cara memberikan pakan pada budidaya cacing tanah. Silahkan
pilih yang paling mudah diperoleh bahan bakunya.
Tahap panen cacing untuk hasil maksimal
Panen cacing dilakukan dalam 2 fase atau tahapan, yaitu :
1. Panen pengembangan
2. Panen penjualan
Panen pengembangan dilakukan sebagai berikut :

Dilakukan pada awal budidaya untuk memperbanyak jumlah cacing

Dilakukan setiap bulan, dimana mengambil sebagian bibit cacing pada kotak lama
untuk dikembangkan di kota baru

Prosesnya membutuhkan waktu sekitar 4 5 bulan

Pada fase pengembangan ini bisa diterapkan :

1. Sistem perkembangbiakan : untuk mempercepat perkembang-biakan


2. Sistem pembesaran : untuk mempercepat pertumbuhan fisik cacing
Panen penjualan cacing dilakukan sebagai berikut :

Dilakukan dalam rangka menjual cacing ke central/pelanggan

Jadwal panen dikirim bisa dilakukan mingguan/bulanan

Beberapahal yang perlu diperhatikan saat pengiriman antara lain :

Cacing tidak boleh dibersihkan, dicuci atau diayak

Tidak perlu dilakukan pemilahan cacing berdasar ukuran

Pengiriman cacing tidak boleh lebih dari separuh kotak

Saat pengiriman selalu disertai dengan media

Pembersihan media dilakukan saat penimbangan, selanjutnya media dikembalikan


lagi

Wadah pengiriman yang baik adalah kantung kain/glangsi karena udara bisa bebas
sehingga cacing tidak terlalu stres

KEMASAN CACING YANG BAIK


Standar kemasan panen umumnya adalah sebagai berikut :

Menggunakan keranjang buah dari plastik ukuran 40 x 50 cm

Jumlah maksimal cacing yang dikemas adalah 5 kg/keranjang

Komposisi antara cacing dengan media adalah 1:1 atau 1:0,5 jadi untuk 5 kg cacing
haris ditambahkan media antara 2,5-5 kg

Cacing dimasukkan dalam kantong kain dan harus diikat agar tidak keluar semua di
perjalanan

Tutup keranjang perlu diikat ke empat sisinya dengan menggunakan tali rafia atau
benang untuk mencegah terjadinya selip/geser apabila kranjang ditumpuk

Salah satu media kirim yang aman adalah cocopit/serbuk sabut kelapa

Dengan kondisi optimal, pengiriman cacing bisa bertahan 1 3 hari

Demikian cara atau teknik yang bisa dilakukan pada tahap panen cacing agar hasilnya
maksimal

Tahap pencegahan dan penanganan hama pada budidaya cacing


Secara umum hama cacing tanah dikelompokkan dalam 2 jenis :

Kelompok hama yang competitor : Yaitu kelompok hama yang ikut-ikutan


memakan makanan cacing. Misal : semut, kutu tanah, orong-orong, belatung, dll

Kelompok hama yang predator : Yaitu kelompok hama yang makan/membunuh


cacing. Misal : tikus, kadal, kodok, ayam, bebek, dll

CARA MENGANTISIPASI HAMA BUDIDAYA CACING


Secara teknis, perlindungan hama dilakukan pada awal proses pembudidayaan karena
jumlah cacing yang masih sedikit. Cara yang paling efektif adalah dengan menjaga
kebersihan lingkungan.
Beberapa cara umum yang dilakukan untuk penanggulangan hama sebagai berikut:
Penanggulangan semut :

Menggunakan kapur semut

Mengoleskan stempet/oli pada dinding media

Menyiram media dengan air

Mem-fermentasi makanan

Mengganti media baru jika semut banyak terdapat di media

Penanggulangan tikus :

Menggunakan kawa ram untuk mencegah tikus masuk

Menebarkan racun tikus

Membersihkan/mengepel jalur/jejak yang dilalui tikus.

Penanggulangan kutu tanah :

Mengambil kutu tanah secara manual untuk mengurangi populasi

Penanggulangan belatung :

Tidak memberikan makanan secara berlebih

Proses pembusukan makanan cukup 1 3 hari

Menghindari makanan yang sedang mengandung belatung

Demikian berbagai macam masalah hama pada budidaya cacing tanah dan cara pencegahan
maupun menanggulanginya.
Tahap mempersiapkan media atau lingkungan cacing
Bahan-bahan organik yang dijadikan media budidaya cacing tanah bisa terdiri dari 1 jenis
bahan media saja, misalkan log jamur saja atau jauh lebih bagus kalau dicampurkan dengan
bahan lain dengan komposisi bebas, misalkan log jamur dicampur cocopit dengan
perbandingan

1:2.

Untuk peternak pemula, sangat penting untuk menjaga agar ketebalan media dipertahankan
pada ketebalan 5 cm 10 cm, yaitu dengan cara mengambil bagian atas atau permukaan
media yang sudah menjadi kascing secara teratur setidaknya seminggu sekali setebal 0,5 1
cm di permukaan media. Tujuan pengambilan kascing secara rutin tersebut, selain untuk
menjaga

ketebalan

media

sekaligus

menjaga

kesehatan

Kondisi media yang menyebabkan cacing stress atau mati antara lain :

Media terlalu basah

Media terlalu kering

Media memadat

Media yang tercampur dengan makanan dalam jumlah berlebih

Contoh-contoh media yang baik bagi cacing:

Log jamur afkir

Grajen dari kayu sengon

Jerami

Kotoran sapi kering

Humus/kompos

media

cacing.

Cocopit, sekam, dll

Dan ini penjelasan singkat teknik atau cara untuk menyiapkan media cacing diatas
Media cacing tanah log jamur afkir

Bila langsung dipakai

Cukup dihancurkan tanpa perlu fermentasi

Diayak lebih baik

Bisa disimpan untuk jangka waktu lama

Sangat baik digunakan sebagai media karena gembur, ringan dan porositas tinggi.

Media cacing tanah dan grajen kayu

Yang baik adalah dari kayu sengon dan abasia

Sebaiknya direndam dulu kemudian dijemur untuk mengurangi kadar getah atau
kontaminasi oli

Diayak lebih baik

Bisa disimpan untuk jangka waktu lama

Bagus kalau dikombinasikan dengan kotoran sapi/debog pisang

Media cacing tanah dan kotoran sapi

Kotoran sapi yang sudah kering/lama

Bisa langsung dipakai

Diayak lebih baik

Bisa disimpan dalam jangka waktu lama

Bagus kalau dikombinasikan dengan log jamur afkir agar kegemburan tetap terjaga.

Media cacing tanah dan humus/kompos

Humus/kompos yang lebih baik dipakai adalah yang dalam keadaan serasah atau
kering

Bisa dari hasil fermentasian bakteri tapi yang lebih baik dalam humus/kompos alami

Bisa disimpan dalam jangka waktu lama

Media cacing tanah dan debog pisang

Bisa menggunakan debog pisang dalam kondisi basah maupun yang sudah busuk

Debog pisang perlu dicacah kasar saja (umumnya ukuran cacahan 5 10 cm).

Fungsi debog pisang : makanan cacing dan penyimpan air serta menjaga kestabilan
suhu dan kelembaban

Demikian contoh-contoh media untuk budidaya cacing tanah. Silahkan pilih yang mudah
untuk di peroleh di daerah anda
Tahap membuat model rumah cacing tanah
Pada tahap ini bisa dilakukan dengan berbagai metode. Dan ini bisa dibagi menjadi beberapa
model untuk rumah cacing, yaitu Model Jedingan, Model Rak Bertingkat, Sistem Kotak Telor,
Model Bak Plastik, Model Batako dan model lainnya. Masing-masing model nanti akan saya
jelaskan pada bab lainnya atau anda bisa berexperimen sendiri, jangan takut untuk mencoba.
Berikut

saya

jelaskan

secara

singkat

beberapa

model

Model Jedingan

Bahan : Bata di semen

Ukuran : PxLxT = 3x1x0,3m

Alas : Rabat kasar

Buat lubang dibawahnya untuk sirkulasi atau pembuangan air

Untuk luas model ini bibit awalnya : 6 kg per kotak

rumah

cacing:

Model Rak Bertingkat

Bahan : Kayu

Ukuran : PxLxT = 3x0,8x0,2m

Jumlah susunan : 5 tingkat

jarak antara susunan : 20-25cm

Alas : Plastik/glangsi

Buat lubang dibawahnya untuk sirkulasi atau pembuangan air

Sistem tumpukan bersilang agar mudah sirkulasi udaranya

Sistem Kotak Telur

Bahan : Bekas Kotak Telur

Ukuran : PxLxT = 50x40x20cm

Alas : Plastik/glangsi

Buat lubang dibawahnya untuk sirkulasi atau pembuangan air

Untuk luas model ini bibit awalnya : 0,25 kg per kotak

Sistem tumpukan bersilang agar mudah sirkulasi udaranya

Model Bak Plastik

Bahan : Bak Plastik

Ukuran : bulat dengan diameter 40-50cm, kotak ukuran: PxLxT = 50x40x20cm

Sistem bertingkat secukupnya

Buat lubang dibawahnya untuk sirkulasi atau pembuangan air

Untuk luas model ini bibit awalnya : 0,25 kg per kotak

Model Batako

Bahan : batako

Ukuran : p x l x t = 3 x 0,5 x 0,5m

Alas : rabat kasar

Buat lubang dibawahnya untuk sirkulasi atau pembuangan air

Untuk luas model ini bibit awalnya : 4 kg per kotak

Model Lainnya:

Model terpal/glangsi diikat

Model langsung di lasa/tebar di tanah

Model bekas kolam lele

Model base beton

Model rak kranjang buah

dll

Demikian beberapa contoh model rumah cacing yang dapat kita siapkan atau buat. Selain
model-model diatas anda juga masih sangat bisa membuat model lainnya. Dan inilah salah
satu kemudahan membudidaya cacing tanah. Model rumah cacing dapat kita buat sesuka hati
kita, tanpa ada aturan baku tentang model rumah cacing tanah ini.
Silahkan ber experimen sendiri, jangan takut untuk mencoba.

TAHAP - TAHAP BUDIDAYA CACING TANAH


Secara garis besar atau secara umum tahap-tahap membudidayakan cacing dapat di urutkan
sebagai berikut:
1.

Buat rumah tanah yang aman

Pada tahap ini bisa dilakukan dengan berbagai metode. Dan ini bisa dibagi menjadi beberapa
model untuk rumah cacing, yaitu Model Jedingan, Model Rak Bertingkat, Sistem Kotak Telor,

Model Bak Plastik, Model Batako dan model lainnya. Masing-masing model nanti akan saya
jelaskan pada bab lainnya atau anda bisa berexperimen sendiri, jangan takut untuk mencoba.
2.Persiapan media/lingkungan cacing
Bahan-bahan organik yang dapat dijadikan media budidaya cacing tanah bisa terdiri dari 1
jenis bahan media saja, misalkan seperti saya yang memanfaatkan bekas log jamur atau jauh
lebih bagus kalau dicampurkan dengan bahan lain dengan komposisi bebas, misalkan log
jamur dicampur cocopit dengan perbandingan 1:2.
3.

Persiapkan

makanan

yang

dibutuhkan

Sebelum mempersiapkan pakan cacing sebaiknya kita mengetahui tentang fungsi dari pakan
untuk cacing itu, yaitu:

Pakan berhubungan langsung pada proses pertumbuhan dan perkembangbiakan


cacing.

Pakan yang baik bagi cacing adalah berasal dari limbah organik, kondisinya lunak,
tidak teralalu berbau dan tidak terlalu berminyak

Pemberian pakan sebaiknya sesuai kebutuhan cacing dan tidak banyak berlebih,
pemberiannya menyebar di beberapa tempat dan tutup media supaya terhindar dari
hama dan makanan tidak cepat kering.

Dihindari penggunaan makanan dari limbah organik yang mengandung belatung dan
hama-hama lainnya.

Apa saja bahan untuk pakan cacing yang sesuai atau bisa memenuhi kebutuhan diatas?
tunggu
4.

bab
Mulai

selanjutnya

pengadaan

indukan

cacing

Pada tahap ini sebaiknya anda membeli saja cacing untuk indukan. Tidak mungkin atau
terlalu repot jika anda ingin mengadakan atau membiakan sendiri cacing indukan dari tahap
awal. Jika nanti sudah dapat memproduksi sendiri anda bisa menyisakan atau
mengembangkan

cacing

produksi

anda

sendiri

untuk

indukan.

Untuk membeli indukan cacing tanah silahkan cari yang dekat dengan rumah anda. Atau jika
terpaksa membeli dari lokasi yang jauh sebaiknya anda perlu memperhatikan beberapa hal
yang sangat penting untuk diketahui agar proses pengiriman cacing aman dan selamat sampai

rumah

kita.

5.

Tunggu

Lakukan

bab

selanjutnya.

perawatan

rutin

Pada tahap inilah sangat menentukan hasil dari budidaya cacing kita. Ada beberapa
perawatan atau bahkan penanganan hama yang harus kita lakukan agar hasil dari budidaya
cacing

tanah

ini

berhasil

dengan

baik.

Ada beberapa jenis hama cacing tanah yang harus kita ketahui selaku peternak cacing. Dan
bagaimana

penanganannya

6.

Tahap

pun

juga

harus

panen

tepat.
cacing

Tahap ini lah yang kita tunggu-tunggu selaku peternak cacing. Untuk memperoleh hasil yang
maksimal perlu beberpa teknik atau cara memanen atau mengemas cacing hasil panen agar
bisa behasil maksimal.

Demikian tahap-tahap budidaya cacing tanah. Masing-masing tahap akan saya jelaskan pada
postingan-postingan tersendiri..
.

Sekilas Tentang Budidaya Cacing Tanah (Lumbricus Rubellus)

Budidaya cacing tanah tidaklah sulit dan tidak perlu modal yang sangat tinggi bagi yang
pintar mencari peluang. Hal ini bisa jadi suatu peluang yang sangat bagus bukannya rayuan
lho... he he he.
Kami melakukannya bahkan sampai sekarang masih menjalani budidaya jamur tiram dan
kuping, khususnya pada pembuatan bibit F0 sampai F3 dan baglog. Tapi apa salahnya ada
peluang yang lain yang baru saya ketahui, eh... ternyata bisa dibuktikan berprospek bagus
yaitu beternak cacing tanah yang jenisnya Lumbricus Rubellus.
Cacing tanah jenis Lumbricus Rubellus bisa dibudidayakan berbagai cara yang dari sangat
sederhana sampai yang intensif... .
Cacing tanah jenis Lumbricus Rubellus ini punya nilai gizi tinggi termasuk protein 60-70,
lemak 7-10%, energi 900-4100 kal, mineral dan air, maka sangatlah bagus untuk pakan ternak
unggas dan perikanan.
KELEBIHAN BUDIDAYA CACING TANAH
1. Teknik budidaya mudah dan murah
2. Makanan adalah hampir semua limbah organik
3. Perkembangan relatif cepat
4. Penyakit cacing relatif sedikit
5. Harga jual cacing di pasar tinggi
6. Peluang pasar terbuka
7. Cacing memiliki banyak manfaat
Tertarik untuk budidaya cacing tanah? lihat kontak kami di halaman Kontak Kami..

Jual produk cacing tanah hasil budidaya


JUAL

PRODUK

CACING

TANAH

HASIL

BUDIDAYA

Dari hasil budidaya cacing tanah ini saya dapat menghasilkan beberapa produk yang di beli
atau di pesan baik secara datang langsung ke rumah saya atau di pesan secara online atau
melalui

telp.

Beberapa produk yang saya jual adalah:


1. Cacing Lumbricus dewasa siap konsumsi
2. Bibit atau indukan cacing Lumbricus
Catatan:

Pemesanan dapat dilakukan secara langsung dan pesan melalui kontak telp.

Untuk informasi harga dan ketersedian stok dapat di peroleh melalui telp.

Packing atau kemasan untuk keperluan pembelian atau pengiriman sudah kami
siapkan.

Packing atau kemasan sudah memenuhi standart kebutuhan, teruji dan di jamin aman.

Pengirimian akan menggunakan jasa expedisi paket barang langganan saya atau bisa
dengan kesepakatan kedua belah pihak.

Pemberian Pakan Cacing Tanah


OM TANI Cacing tanah tidak memiliki gigi, sistim pencernaanya sangat sedehana. Oleh
karena itu, pakan yang diberikan harus lunak agar mudah dicerna dan dalam bentuk bubur
yang mengandung sekitar 20 % bahan padat dan 80% air. Cacing tanah merupakan binatang
pemakan sampah yang kaya akan kalsium
Jenis Bahan Pakan

Cacing tanah menyukai bahan organik yang sedang membusuk, baik yang berasal dari hewan
maupun dari tumbuhan. Jenis dan banyaknya pakan sangat mempengaruhi populasi, laju
pertumbuhan dan laju perkembangbiakan cacing tanah
Bahan pakan berasal dari tumbuhan

Hampir semua jenis tumbuhan yang kadar airnya tinggi sangat disukai oleh cacing tanah,
kecuali bahan yang mengandung tannin yang berbau tajam seperti daun akasia, daun jeruk,
daun kemangi, daun pinus, daun kayu putih dan daun suren.. Beberapa jenis bahan pakan
yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunaksn antara lalin sebagai berikut :
1. Sayur -sayuran, bahan sayuran seperti selada dan kol merupakan bahanpakan yang
sangat disukai cacing tanah. Sayuran ini banyak mengandung vitamindan mineral
yang bermanfaat untuk pertumbuhan cacing tanah.
2. Daun lamtoro, daun ini sering digunakan sebagai campuran pakan ternak, daun ini
banyak protein sehingga sangat cocok dijadikan pakan.
3. Dedak padi, dedak ini yang merupakan sisa dari penggilingan padi sampai popular
dan sering digunakan dlam bebagai macam campuran pakan ternak. Dedak padi ini
sangat baik digunakan sebagai pakan cacing tanah karena banyak mengandung
mineral, protein dan vitamin. Sifatnya pun porius.
4. Dedak Jagung, sebagaimana dedak padi , dedak jagung pun merupakan hasil
sampingan dari penggilingan jagung . Sebagai pakan cacing tanah dedak jagung ini
meruoakan sumbaer energy yang baik karena banyak mengandung protein. Lemak,
dan zat lain yang dibutuhkan untul peertumbuhan cacing tanah.
5. Ampas singkong, ampas ini diperoleh dasri sisa pembuatan tepung tapioca. Ampas ini
sering digunakan untuk campuran makanan ternak. Sebagai bahan pakan cacing
tanah, bahan ini sangat disukai.
6. Ampas tahu, ampas ini sering digunakan untuk campuran pakan ternak dan
bahanpakan caacing tanah. Ampas ini banyak mengandung protein yang sangat
dibuthkan.
7. Batang pisang, batang ini disukai cacing tanah karena banyak mengandung air, selain
itu bahan pakan ini dapat mempertahankan kelembaban media . Pemberiannya harus
dipotong-potong terlebih dahulu , lalu digiling hingga halus dan diabentuk menjadi
bubur.
Bahan Pakan berasal dari hewan
Hampir semua jenis cacing tanah sangat menyukai kotoran ternak dibandingkan bahanpakan
lainnya. Hal ini disebabkan kandungan proteinnya tinggi sehingga akan lebih cepat dicerna
oleh cacing tanah. Selain kotoran ternak, bahanpakan yang berasal dari daging atau lemak
yang membusuk pun sangat disukai..
1. Kotoran ternak, semua kotoran ternak dapat dikonsumsi oleh cacing tanah. Namun
kotoran ternak yang digunakan harus yang sudah matang. Kotoran yang masih baru

masih mengalami proses dekomposisi atau penguraian sehingga masih mengeluarkan


panas.
2. Daging dan ikan, daging ternak dan ikan yang mati dapat dijadikan bahan pakan
cacing tanah. Biasanya hewan yang mati akan membusuk. Cacing tanah sangat
menyukai daging atau ikan yang sedang membusuk.
Bahan Pakan dari sumber lain.
1. Limbah rumah , limbah rumah tangga merupakan campouan dari bahan-bahan yang
dapat terdekomposisi menjadi bahan organik
2. Bubur karton atau kertas. Bubur ini merupakan hasil indsutri yang terbuat dari bubur
kayu (pulp) sehingga bahan ini pun dapat dijadikan pakan.
3. Pakan komersial, pakan ini adalah pakan yang biasanya digunakan sebagai pakan
ayam dan itik. Pakan ini dapat diberikan pada media cacing tanah.
Pakan Untuk Reproduksi
Pemberian pakan untuk reproduksi bertujuan untuk merangsang produksi kokon agar
populasi cacing menjadi lebih banyak. Berikut adalah formulasi pakan untuk reproduksi.
1. Kotoran ternak, untuk reproduksi maksimal, pemberian pakan berupoa kotoran ternak
dapat 100 % dari satu jenis kotoran atau dapat dicampur dengan kotoran ternal
lainnya.
2. Kotoran ternak dengan kompos, komposisinya kotoran ternak 30 % dan kompos 70
%. Kotoran mensuplai protein dan mineral sedangkan kompos mensuplai vitamin dan
selulose
3. Kompos, dapat juga diberikan 100 %
4. Kompos batang pisang dengan ampas tahu.
Pakan Untuk Penggemukan
1. Kotoran ternak dan kompos daun lamtoro, perbandingan dapat 1 : 1
2. Kompos dengan bubur karton atau kertas, perbandingan satu dengan Satu
3. Pakan komersial , jumlahnya sama dengan berat tubuh cacing tanah yang akan
dibudidayakan.
Sumber bacaan : Sukses Beternak Cacing Tanah. Rony Palungkun, Agribisis 2007
MEMBUAT PAKAN TAMBAHAN UNTUK BUDIDAYA CACING LEBIH KAYA
PROTEIN DAN MINERAL DENGAN CARA FERMENTASI
Dalam pembuatan fermentasi kita akan menggunakan Suplemen Organik Biocond karena
mengandung mineral dan asam amino organik yang sangat tinggi sehingga sangat coccok

untuk menambah nutrisi pada media maupun pembuatan pakan fermentasi. Waktu pembuatan
fermentasi juga singkat karena tujuan fermentasi kali ini hanya membuat fermentasi
setengah jadi sehingga cacing masih bisa menikmati makanan kesukaanya namun dalam
bentuk yang lebih mudah dicerna dan kandungan nutrisinya sudah bertambah.
Keunggulan fermentasi dengan Suplemen Organik Biocond :
1.

Mampu mendetoks media maupun bahan pakan sehingga zat-zat beracun yang terkandung
di dapat dihilangkan.

2.

Menambah nutrisi pakan khususnya kandungan mineral yang lebih banyak dan asam amino
organik yang lebih tinggi sehingga pakan mudah dicerna dan pertumbuhan cacing semakin
optimal karena ada keseimbangan sistem pencernaan di dalam tubuhnya.

3.

Selain cepat besar secara seragam juga lebih cepat berkembang biak karena telur lebih
banyak menetas.

4.

Terbuat dari bahan bahan alami/herbal yang aman digunakan baik untuk ternak,
lingkungan maupun konsumen akhir.

5.

Dibuat dengan nano teknologi sehingga lebih hemat dan praktis karena dengan volume
pemakaian yang lebih sedikit namun mampu untuk kapasitas yang lebih besar.

6.

Mudah dipakai.
Pembuatan pakan fermentasi untuk cacing :

1.

Bahan dan alat yang perlu disiapkan untuk 10 kg pakan :

a.

5 kg protein dari daun yang banyak mengandung protein seperti cleresidae, lamtoro, turi,
kulit kedelai, kulit kacang hijau, ampas tahu.

b.

4 kg bahan serat dari gedebog(batang pisang) yang sudah layu/sudah lama ditebang

c.

1 kg karbohidrat dari dedak halus

d.

1- 2 sendok makan Biocond Unggas

e.

Molase 10 ml ( 1 sendok makan) atau 2 ons gula jawa

f.

1 liter air atau secukupnya

g.

Karung plastik bekas pakan

h.

Tali raffia

i.

Alat pencacah daun

j.

Alat pengaduk/cangkul

k.

Gembor/alat semprot

l.

Ember

2.

Cara membuat :

a.

Campur bahan Biocond unggas, air, molase menjadi satu. Aduk sampai merata.

b.

Cacah kecil-kecil daun sampai lembut, lalu buat hamparan setebal 15 cm.
siram/semprot/siram merata dengan larutan yang sudah jadi. Buat lapisan diatasnya sampai
habis kemudian aduk-aduk supaya rata.

c.

Masukkan dalam karung dan padatkan sehingga minim udara, kemudian ikat dengan tali
dan simpan di tempat sejuk dan kering selama 3 hari.

d.

Buka ikatan dan hamparkan di tempat kering untuk diangin-anginkan supaya dingin.

e.

Setelah dingin sudah bisa diberikan sebagai pakan tambahan untuk cacing dengan takaran
1 kg pakan untuk 3-5 kg cacing, sediakan sampai habis baru diberi lagi.

f.

Sebaiknya dalam membuat pakan fermentasi sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan agar
pakan yang diberikan tetap segar dan tidak menumpuk terlalu lama. Jika terlalu lama
kandungan nutrisi akan berkurang.
Tambahan :

Jika menggunakan ampas tahu sebaiknya bahan tidak terlalu basah dan masih segar.

Jika murni menggunakan ampas tahu waktu fermentasi cukup 1-2 hari saja, dengan
perlakuan sama seperti diatas. Namun tempat fermentasi bisa dengan tong atau ember yang
tertutup.

Peluang Usaha Budidaya Ternak Cacing Tanah


Peluang Usaha Budidaya Ternak Cacing Tanah Sebagian dari Anda mungkin tidak
terpikirkan untuk budidaya cacing, memang cacing tanah merupakan salah satu hewan yang
cukup dicari oleh beberapa kalangan seperti untuk bahan obat atau pakan burung. Namun
sayangnya, walapun jumlah permintaan akan cacing tanah tinggi, para pelaku usaha
umumnya kurang tertarik untuk berkecimpung di dunia usaha cacing tanah.

Langkah-langkah Budidaya Cacing Tanah Untuk Hasil Panen Berlimpah


1. Persiapan Fasilitas serta Peralatan

Kandang dapat di buat dari beberapa bahan murah serta gampang didapat semacam papan
sisa, bambu, ijuk, rumbia dan genteng tanah liat. Untuk kandang permanen peternakan taraf
besar misalnya memiliki ukuran 1. 5 x 18 m serta tinggi 0.45 m. Didalamnya dibuat wadahwadah tempat pemeliharaan semacam rak-rak bertingkat, serta kandang bisa terbuka tanpa
ada

dinding

Jenis-model system budidaya yang dapat diaplikasikan diantaranya : kotak bertumpuk, rack
berbaki, pancing berjajar serta pancing bertingkat.
2. Pembibitan
Persiapan untuk budidaya cacing tanah adalah:
Meramu

media

Menyediakan

tumbuh

bibit

unggul

mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung


Pemilihan Bibit:
a. Pemilihan Bibit Calon Induk
Untuk sekala komersial sebaiknya menggunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan
jumlah yang besar, tapi untuk skala kecil bisa mencari bibit cacing tanah dari alam, misalnya
dari lingkungan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.
b. Pemeliharaan Bibit Calon Induk
Dalam pola pemeliharaan terbagi menjadi beberapa cara:
Cacing tanah dipelihara dalam jumlah banyak sesuai dengan tempat yang ada, dengan
pemilihan Cacing tanah yang muda atau dewasa. Jika wadah berukuran panjang 2.5 m, lebar
kurang lebih 1 m, dan tinggi sekitar 0.3 m, maka dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing
tanah

dewasa.

Pemeliharaan dimulai dari jumlah kecil, dan jika jumlahnya bertambah, sebagian dipindahkan
ke
Pemeliharaan

wadah
dengan

mengkombinasi

lain.
cara

dan

b.

Pemeliharaan khusus kokon sampai menjadi anak, setelah dewasa pindahkan ke tempat lain.
Pemeliharaan khusus cacing dewasa untuk bibit.
3. Model Perkembangbiakan
Jika media pemeliharaan sudah siap dan bibit cacing tanah sudah tersedia, maka penanaman
siap dilakukan. Bibit cacing tanah jangan langsung sekaligus dimasukkan ke dalam media,
melainkan sedikit-sedikit. Beberapa bibit coba disimpan di atas media, jika bibit masuk ke
dalam media hal itu menunjukkan bahwa cacing betah di media tersebut. Tambahkan lagi dan
cek tiap 3 jam sekali apakah masih ada cacing yang berkeliaran ke luar, kalau cacing malah
meninggalkan media atau wadah berarti media yang digunakan harus diganti. Cara mengganti
media yaitu dengan cara disiram air, kemudian diperas atau dibuang airnya sampai airnya
berwarna

bening.

Untuk mengetahui apakah cacing tanah yang ditanam betah terhadap media yang digunakan,
Anda bisa memastikannya setelah 12 jam.
4. Reproduksi Atau Sistem Perkawinan
Cacing tanah merupakan golongan hewan hermaprodit yang memiliki alat kelamin ganda
jantan dan betina dalam satu tubuh. Tapi untuk pembuahan tidak bisa dilakukan sendiri.
Sepasang cacing tanah akan menghasilkan satu kokon berbentuk lonjong dan berukuran
sekitar 1/3 besar kepala korek api yang berisi telur-telur. Setiap kokon berisi 2-20 ekor, dan
rata-rata

ekor.

Kokon diletakkan di tempat yang lembab, dan dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas.
100 ekor cacing tanah dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun.
Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan dengan ditandai adanya gelang
(klitelum) pada tubuh bagian depan, setelah 7-10 hari perkawinan cacing dewasa akan
menghasilkan 1 kokon.
5. Pemeliharaan
Pemberian Pakan
Dalam satu hari satu malam Cacing tanah diberi pakan sekali sesuai berat cacing tanah yang
ditanam. Apabila ditanam 1 Kg Cacing tanah, maka pakan diberikan harus 1 Kg.

Pakan cacing tanah secara umum berupa kotoran hewan.


Hal yang harus diperhatikan dalam pemberian pakan Cacing tanah adalah sebagai
berikut:
Pakan

diberikan

harus

berupa

bubuk

atau

bubur.

Taburkan pakan rata di atas media, tapi tidak menutupi semua permukaan media, kira-kira
sekitar

2/3

dari

wadah

tidak

ditaburi

pakan.

Tutup pakan dengan karung, plastik atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.
Apabila masih tersisa pakan sebelumnya pemberian pakan berikutnya harus diaduk dengan
jumlah

pakan

yang

diberikan

dikurangi.

Perbandingan bubur pakan dengan air diberikan 1:1.


Penggantian Media
Media yang sudah jadi tanah atau kascing yang sudah dipenuhi banyak telur (kokon) harus
segera diganti. Agar cacing cepat berkembang, maka antara telur, anak dan induk harus
dipisahkan pada media berbeda. Penggantian media rata-rata dilakukan dalam waktu 2
Minggu sekali.
Proses Kelahiran
Media untuk sarang terbuat dari: kotoran hewan, batang pisang, dedaunan atau buah-buahan,
limbah pasar, limbah rumah tangga, kertas, Koran, kardus, kayu lapuk atau bubur kayu.
Semua bahan dipotong sepanjang + 2.5 cm. semua bahan diaduk dan ditambah air kecuali
kotoran ternak, kemudian diaduk lagi. Selanjutnya bahan campuran dan kotaran ternak
dicampurkan menjadi satu dengan perbandingan 70:30 dengan ditambah air secukupnya agar
tetap basah.
6. Hama Dan Penyakit
Pengendalian terhadap hama perlu dilakukan, karena hal itu akan menentukan keberhasilan
beternak Cacing tanah. Hama yang merupakan musuh cacing tanah antara lain: ayam, itik,
ular, angsa, burung, kelabang, lipan, semut, kumbang, lalat, tikus, katak, tupai, lintah, kutu
dan banyak lagi. Musuh lain yang tidak kalah mengganggu yaitu semut merah yang memakan
karbohidrat dan lemak yang terdapat pada pakan, kedua zat tersebut sangat diperlukan untuk

penggemukan Cacing tanah. Untuk mencegah serangan semut merah dengan cara wadah
pemeliharaan dirambang oleh air.
7. Panen Cacing
Dua hal yang bisa diharapkan dari panen Cacing tanah, yaitu;
Biomas

atau

cacing

tanah

itu

sendiri

Kascing atau bekas cacing


Dalam tekniknya panen bisa dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan mengunakan
alat penerangan lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah akan berkumpul di
bagian atas media karena sangat sensitif dengan cahaya. Anda tinggal memisahkan antara
cacing dan media. Cara kedua dengan membalikan sarang, cacing biasanya berkumpul maka
mudah

memisahkan

antara

Cacing

tanah

dengan

media.

Jika terdapat kokon atau kumpulan terlur pada saat panen, maka kembalikan sarang pada
wadah semula dan diberi pakan selama 30 hari. Telur akan menetas dan cacing tanah bisa
dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang baru dan kascingnya siap di panen.
Begitulah Peluang Usaha Budidaya Ternak Cacing Tanah, Semoga artikel yang kami
sampaikan di atas dapat bermanfaat. Salam sukses

Cara

pembuatan

pakan

fermentasi

kambing:

1. Jerami/Pohon Pisang (debog, sebagai alternatif jerami) dipotong-potong/dicacah kecilkecil. Lalu siapkan larutan dari gula dan

parutan nanas dicampur dengan air untuk

fermentasi basah (gedebog) 1 liter dan jumlah air untuk fermentasi kering (jerami) sebayak
10

liter.

2. Di sisi lain, campurkan bahan utama yaitu jerami/pohon pisang, Ampas tahu dan Katul ke
dalam

wadah

yang

besar.

3. Larutan yang berisi air, gula pasir dan parutan nanas 1 buah tadi aduk rata dan diamkan
sejenak selama kurang lebih 15 menit.

Kemudian masukan lagi larutan itu kedalam air

10 liter lalu siramkan secara merata ke dalam campuran pakan dalam wadah besar,
kemudian sebagai tambahan taburkan garam dan aduk lagi terus menerus hingga semuanya

tercampur

rata.

4. Masukan Pakan kedalam ember/drum plastik lalu tutup dengan terpal/plastik tujuannya
agar kedap udara selama kurang lebih 1 hari jika menggunakan bahan jerami (Kering) dan
jika menggunakan bahan batang pohon pisang/debog (Basah) cukup 1-3 jam.
5. Pakan fermentasi siap untuk diberikan pada ternak kambing atau sapi setiap pagi dan sore.
Demikian cara pembuatan pakan fermentasi jerami untuk ternak, bisa diterapkan untuk
kambing, sapi, atau mamalia sejenis. Semoga bermanfaat..

CARA MEMBUAT MEDIA BUDI DAYA CACING


1. Sediakan kotoran ternak dan salah satu bahan pencampurnya, yakni kompos, jerami
padi, serbuk gergaji, batang pisang, atau ampas tebu. Jika bahan yang digunakan
adalah jerami padi, sebelum digunakan, jerami harus dipotong-potong terlebih dahulu
sehingga berukuran 1-2 cm. tujuannya untuk mempermudah pelapukan.
2. Aduk rata kedua bahan tersebut, lalu tambahkan air secukupnya sehingga bahan
menjadi lembab.
3. Masukan bahan tersebut kedalam wadah khusus untuk proses fermentasi. Wadah
yang digunakan bisa berupa karung goni atau bak tembok yang ditutupi plastik jika
menggunakan karung goni,buatlah lubang kecil dibagian atasnya agar udara bisa
masuk. Proses fermentasi biasanya membutuhkan waktu 5-7 hari. Untuk
mempercepat proses fermentasi, sebelum dimasukan kedalam wadah khusus berikan
bioaktivator pengurai pada campuran pada media budidaya
4. seminggu kemudian, buka plastik penutup bak tembok atau keluarkan media dari
karung goni, kemudian aduk rata agar pelapukan menjadi sempurna
5. campur media dengan pakan cacing lalu masukan keduanya kedalam wadah budidaya
sehingga ketebalan 20-25 cm, selanjutnya bibit cacing dapat ditebar

CARA MENGETAHUI MEDIA BUDI DAYA


SUDAH NYAMAN BAGI CACING
Perhatikan perilaku cacing, jika cacing langsung masuk ke media kemungkinan cacing

merasa nyaman dengan media pemeliharaan, sebaliknya jika cacing-cacing tersebut naik
ke permukanaan, tandanya media pemeliharaan kurang nyaman untuk cacing.
Ketidaknymanan cacing pada wadah atau media pemeliharaan biasanya disebabkan
kurangnya kelembabapn dan sirkulasi udara, bisa juga di dalam media terdapat zat kimia
tertentu yang tidak disukai oleh cacing, solusinya lakukan pergantian media dan gunakan
bahan yang sesuai, baik jenis maupun persyaratan lingkungannya.

BENDA-BENDA YANG HARUS DIHINDARI


Selama pembuatan media dan pemeliharaan berlangsung, ada beberapa benda atau bahan
yang tidak boleh atau tercampur ke dalam media budi daya cacing. Sebab sedikit saja
tercampur dapat membuat cacing tanah mati, beberapa benda tersebut antara lain:
1. Ampas kopi atau teh 2. Minyak atau bahan berminyak
3. Sabun atau bahan kimia 4. bahan yang mengeluarkan bau keras
5. tulang atau daging 6. buah yang masam
7. garam atau gula 8. cabai

PENANGANAN MEDIA SELAMA PEMELIHARAAN


A. Penyiraman
Penyiraman bertujuan untuk menjaga media budidaya agar tetap lembab, jika media
terlihat kering, segera lakukan penyiraman secukupnya namun jangan berlebihan,
sehingga membuat media menjadi becek, jika hal itu terjadi biasanya cacing akan
keluar dari media. Idealnya, tingkat kelembabpan media budidaya yang diinginkan
cacing adalah 15%-30%.
B. Pengadukan
Pengadukan bertujuan untuk menyegarkan dan menggemburkan media, sehingga
suplai oksigen dalam tanah tercukupi, selain itu pengadukan juga berfungsi untuk
mencampurkan bahan makanan yang tersisa, pengadukannsebaiknya dilakukan

rutin 3-4 hari sekali atau tergantung kebutuhan


C. Pengukuran PH dan Suhu
Cacing tanah membutuhkan tingkat keasaman dan suhu tertentu untuk dapat hidup
dan berkembang biak, karena itu pengukuran secara berkala terhadap media budi
daya mutlak diperlukan, tingkat keasaman tanah yang diinginkan oleh cacing tanah
adalah 6-7,5 dan suhu berkisar 15-250
C
D. Penggantian Media
Penggantian media dilakukan jika kondisi media dirasa sudah tidak layak lagi untuk
kehidupan cacing, ciri media tidak layak adalah terlihat mulai memadat dan lengket,
solusinya segera ganti dengan media yang baru
E. Pencegahan Hama
Dari beberapa hama yan suka menyerang cacing tanah, musuh utamanya ternyata
semut merah. Pada mulanya hama ini hanya mengincar cacing yang banyak
mengandung karbohidrat dan lemak namun akhirnya semut-semut tersebut juga
menyerang cacing tanah yang lemah, untuk pencegahan letakan wadah yang berisi
air di setiap kaki-kaki rak budi daya, dengan begitu semut merah tidak bisa naik ke
atas media.

PADAT PENEBARAN
Berdasarkan pengalaman dari beberapa pembudidaya, padat penebaran benih tergantung
tujuan budi daya, jika budi daya cacing hanya penggemukan, padat penebarannya 1kg per
m2.
sementara untuk pembibitan padat penebarannya 2 kg per m2
.
POLA PENEBARAN BENIH
Agar diperoleh hasil panen yang seragam, pola penebaran benih harus diatur dengan baik,
misalnya, setiap 2 -3 minggu sekali, benih yang telah ditebar dikeluarkan dan
dipindahkan ke wadah yang baru, kemudian benih tersebut dipelihara lagi selama 2 -3
minggu, begitu seterusnya sehingga cacing

dapat dipanen setiap 2-3 minggu sekali,

umumnya selama 45-60 hari populasi cacing tanah sudah menjadi 2 kali lipat, dalam arti
cacing sudah bereproduksi dan telurnya sudah menetas. Jika dihitung dari penetasan telur

ini, pembesaran cacing membutuhkan waktu 2 bulan


JENIS PAKAN DAN CARA PEMBERIANNYA
A. Pakan dari Hewan
Pakan dari hewan yang dimaksud adalah pakan untuk cacing yang berasal dari
kotoran hewan, seperti kerbau, sapi, kelinci dan beberapa jenis unggas. Sementara itu
bangkai hewan yang sering digunakan untuk pakan cacing adalah bangkai ikan
B. Pakan dari tumbuhan
Hampir semua tumbuhan dapat dijadikan pakan cacing tanah, namun tumbuhan yang
banyak mengandung air umumnya paling disukai cacing, selain itu dedak jagung,
dedak padi, ampas tahu, ampas singkong dan batang pisang juga dapat digunakan
sebagai pakan cacing. Hanya saja, sebelum diberikan bahan-bahan tertentu seperti
batang pisang harus dipotong-potong dan digiling sampai halus agar mudah
dikonsumsi cacing.

CARA PEMBERIAN PAKAN


Cara pemberian pakan untuk cacing tanah sebetulnya tidak terlalu sulit.
1. Siapkan bahan pakan, baik pakan dari hewan maupun pakan dari tumbuhan, sebanyak
berat cacing yang dipelihara, misalnya jika berat cacing yang dipelihara sekitar 1kg
maka jumlah pakan yang diberikan juga 1 kg.
2. Campur bahan pakan tersebut dengan air secukupnya hingga terbentuk seperti bubur,
lalu tebarkan pakan tersebut dipermukaan media. Sebaiknya 3 cm dari tepi media
sebab cacing tanah merupakan binatang yang dominan berada tengah media.
3. Pakan diberikan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari, namun ketika sore hari
pakan yang diberikan jumlahnya diperbanyak, pasalnya cacing tanah termasuk salah
satu hewan yang aktif makan pada malam hari. Proses penggembukan cacing tanah
biasanya membutuhkan waktu empat minggu.

Cara Praktis Beternak Cacing Tanah / Lumbricus sp.

Salah satu kunci sukses dalam memelihara ikan sidat adalah dengan cara beternak cacing
sendiri, baik itu cacing sutra untuk pembesaran glass eel maupun beternak cacing tanah.
Khusus untuk cacing tanah ini yang paling mudah dan sekaligus mempunyai harga jual yang
cukup tinggi jika dijadikan tepung cacing maupun dijual hidup adalah jenis cacing Lumbricus
sp. Seperti kita ketahui bahwa bibit ikan sidat tangkapan alam seringkali kondisinya tidak
bagus, dikarenakan banyak sebab. Tentu saja setelah tiba pada pembudidaya dan masuk ke
kolam budidaya maka masalah berikutnya adalah tingkat kematian yang cukup tinggi dan
sidat tidak mau makan. Nah salah satu solusinya setelah hal-hal lainnya dilakukan adalah
melatih ikan sidat mau makan dengan cacing tanah atau dengan cacing lumbricus. Karena itu
sangatlah membantu jika kita sudah memelihara cacing sendiri. Dengan memakan cacing
maka kondisi ikan sidat akan cepat pulih dan berikutnya mudah untuk dilatih memakan
makanan lainnya. Berikut cara praktis memeliharanya.
Media Budidaya Cacing Lumbricus
Persiapan pertama dalam budidaya cacing lumbricus adalah media atau tempat dimana
cacing ini hidup dan berkembang biak. Media untuk perkembangbiakan cacing ini haruslah
mempunyai syarat-syarat sbb :
Syarat Media Cacing.
Bahan organik yang remah, artinya media haruslah longgar dan tidak mudah menjadi padat
karena dalam masa pemeliharaannya akan ditambahkan pakan cair dan juga media baru
secara periodik. Disamping selama hidupnya cacing akan mengeluarkan kotoran berupa
butiran kecil-kecil seperti tanah. Kotoran cacing dan pakan cair ini setelah beberapa waktu
akan membuat media jadi basah, becek dan menggumpal, sehingga dapat menghambat
pertumbuhan cacing dan jumlah telur yang menetas. Oleh karena itulah diperlukan media
yang remah, longgar, tidak mudah menggumpal, hangat, meskipun akhirnya media tersebut
akan dimakan cacing dan terurai tetapi prosesnya berjalan sangat lama, sekitar 2-3bulan.
Disamping itu kelonggaran media ini sebagai sirkulasi udara dan agar cacing bisa bebas
bergerak kemana saja. Satu hal lagi keuntungan jika media cacing yang longgar adalah,
anakan cacing yang nantinya menetas masih bisa mendapatkan asupan pakan karena pakan
yang akan diberikan berupa cair, cairan pakan ini akan meresap turun sehingga bisa dimakan
anakan cacing, tanpa harus naik ke permukaan. Maka nantinya setelah ditambahkan media
baru secara periodik, anakan cacing tetap bisa berkembang dan besar di lapisan bawah,
sehingga cacing tidak berkumpul dipermukaan edia saja, tetapi juga bisa hidup dan

berkembang dilapisan bawah media.


Hangat. Salah satu persyaratan agar telur bisa menetas adalah suhu yang hangat dan stabil.
Suhu yang hangat dan stabil inilah yang nantinya akan membantu telur cacing yang berada di
dalam media bisa matang dan menetas pada waktunya. Jika media dingin maka percuma saja
meskipun banyak telurnya karena tidak akan menetas. Kehangatan media terjadi akibat
proses fermentasi dan penguraian bahan organik yang berlangsung terus menerus di dalam
tumpukan media. Inilah salah satu fungsi pemberian probiotik pada pakan.
Lembab. Persyaratan lain bagi media hidup cacing lumbricus adalah kelembaban media yang
terjaga, artinya media dapat menyimpan air dan menjadikannya lembab tetapi karena longgar
dan berpori-pori maka kelembabannya bisa berkurang. Kelembaban ini terjadi karena secara
rutin diberikan pakan cair, dan kalaupun pakan cair ini berlebihan maka akan cepat meresap
ke bawah dan bisa mengalir keluar melalui paralon di bagian dasar yang berfungsi sebagai
sirkulasi udara sekaligus sebagai peresapan air. Bahkan sewaktu-waktu media cacing harus
juga disiram, untuk mempertahankan kelembabannya.
Bahan organik. Tentu saja syarat utama dari media cacing harus terdiri dari bahan organik,
inipun dipilih dari bahan yang mudah lapuk dan terurai, karena nantinya media ini setelah
dipanen akan berfungsi sebagai media tanam atau kompos.
Agar media yang dipergunakan untuk memelihara cacing bisa maksimal fungsinya,
disamping sebagai media tetapi nantinya juga akan hancur setelah lunak dan bisa dimakan
cacing, maka kita harus mempersiapkan terlebih dahulu media yang cocok untuk itu. Adapun
bahan-bahan yang sebaiknya disiapkan sebagi media cacing adalah, sbb :
Bahan Media Cacing.
Tai gergaji atau bekas baglog jamur yang sudah dibuang. Yang paling bagus adalah baglog
bekas jamur karena teksturnya sudah lunak dan tidak mengalami pembusukan lagi,
sedangkan jika memakai tai gergaji maka pilihlah yang sudah agak lapuk karena jika masih
baru teksturnya kasar dan tidak disukai cacing, bisa melukai kulitnya.
Pupuk kandang. Pupuk yang dipakai bisa berasal dari sapi, kambing/domba, ayam dll.
Pilihlah yang sudah matang agar nantinya media tidak terlalu panas karena proses
pembusukan dan kandungan gas amoniaknya yang cukup tinggi, sangat tidak disukai cacing.
Cacing akan keluar meninggalkan media jika masih panas dan mengandung amoniak yang
tinggi.
Batang pisang. Pilihlah batang pisang yang sudah membusuk karena akan menjadi tempat

bersarang yang bagus bagi cacing, tetapi jika memang tidak tersedia maka bisa menggunakan
batang pisang yang baru. Potong- potonglah batang pisang dan kemudian dijemur 3hari agar
layu.
Bahan organik lainnya. Disamping ketiga bahan tadi yang wajib ada, maka bisa
ditambahkan bahan-bahan organik lain yang ada di sekitar kita yang sifatnya agak keras atau
lama terurai, yakni : berbagai macam daun-daunan; limbah sampah dari pasar; eceng gondok;
limbah dari lahan pertanian seperti jerami, rerumputan, tongkol dan batang jagung, bekas
tanaman kedelai, kacang hijau, dll. Semua bahan ini hendaknya dirajang dulu untuk
memudahkan proses pengomposan dan agar mudah tercampur merata dengan bahan-bahan
yang lain.
Itulah beberapa bahan untuk media cacing yang sudah terbukti bagus dipergunakan dan
mendukung perkembangbiakan cacing. Untuk komposisinya, bahan-bahan tersebut bisa
dicampur bebas. Khusus untuk kotoran sapi dan kotoran ternak lainnya atau bahan lain yang
masih dalam proses fermentasi/pembusukan sebaiknya dalam jumlah tidak lebih dari 25%.
Misalnya saja ampas tebu; limbah kelapa sawit; onggok ubi kayu, ampas tahu, ampas pabrik
kecap, sisa tempe dll (ke-empat bahan terakhir ini lebih bagus untuk pakan cacing). Hindari
pemakaian bahan-bahan yang mengandung zat kimia. Setelah semua bahan tersebut
terkumpul dan telah dihancurkan atau dirajang dulu, selanjutnya diaduk sampai merata dan
kemudian siap difermentasi, dijadikan kompos setengah matang/tidak terlalu lapuk.
Cara Fermentasi Media Cacing :
Siapkanlah semua bahan yang bisa dikumpulkan sesuai dengan yang terdapat di sekitar lokasi
masing-masing. Setelah dihancurkan, dicampur merata dan kemudian difermentasi. Caranya
adalah sbb :
Siapkan terlebih dahulu bahan-bahan untuk dekomposternya, yakni :
- bakteri pengurai... 1liter , sebaiknya memakai hasil ternak sendiri
- molase/tetes.......... 2liter , bisa diganti gula merah/air tebu
- air kelapa.............. 5liter
- air cucian beras..... 2liter
Semua bahan diaduk dan siap dipergunakan. Campuran ini bisa dipergunakan untuk sekitar
1ton bahan organik. Usahakan bahan-bahan tersebut tersedia lengkap agar proses
fermentasinya berjalan cepat dan hasilnya bagus. Jika sulit, setidaknya ada biang bakteri dan
air cucian beras sebagai pengencer dan makanan bakterinya.

Hamparkan campuran bahan-bahan organik tersebut diatas tanah yang teduh, setinggi 2025cm (tidak termasuk batang pisang yang sudah lapuk). Siramkan campuran dekomposter
tadi ke atas tumpukan media sambil diaduk. Setelah itu tutuplah media dengan terpal atau
karung beras dan biarkan selama 3-4hari.
Pada hari ke-empat tumpukan media dibongkar, diaduk dan dibalik. Biarkan kurang lebih
30menit agar gas-gas yang ada bisa keluar, setelah itu ditutup dan dibiarkan 3hari lagi.
Tujuan pembongkaran ini agar suhu di dalam media tidak terlalu panas karena malah bisa
menghambat/membunuh bakterinya.
Setelah proses fermentasi selesai pada hari ke 7, aduklah kembali dan biarkan diangin
anginkan selama 2-3hari, agar sisa gas amoniak yang ada bisa menguap.
Setelah media fermentasi ini jadi dan telah dingin bisa dimasukkan ke dalam kolam untuk
budidaya cacing. Masukkan setebal 20cm saja bersamaan dengan batang pisang yang sudah
lapuk tetapi telah dipotong-potong dulu.
Bibit/indukan cacing sudah bisa disebar ke atas media, minimal diperlukan 1kg cacing per m
lahan. Setelah bibit cacing dimasukkan tunggulah beberapa saat, apabila semuanya mau
masuk ke dalam media maka berarti media tersebut telah sesuai dengan kondisi yang
dikehendaki oleh cacingnya. Apabila cacing tidak mau masuk ke dalam media, berarti ada
sesuatu yang tidak beres di dalamnya, bisa karena media terasa kasar bagi kulit cacing atau
karena media masih terasa panas dan masih mengandung amoniak hasil pembusukan/proses
fermentasi blm sempurna. Bisa juga karena ternyata di dalam media telah dipakai bersarang
bagi semut merah. Satu hari kemudian barulah kita beri pakan, karena jika tidak diberi makan
maka media ini akan habis dimakan cacing, padahal tujuannya adalah sebagai media saja
sedangkan pakan telah disiapkan tersendiri yang mengandung gisi lebih baik.
moga bermanfaat.. salam sukses !!!

Pakan Cacing Tanah (Lumbricus) Berprotein Tinggi


Dalam budidaya cacing, tentunya faktor pakan berpengaruh besar pada pertumbuhan cacing
budidaya.
Pada dasarnya cacing tanah dapat diberikan pakan dari bahan organik apapun yang
mudah lunak. Bahkan kotoran hewanpun bisa dijadikan pakan cacing tanah (cacing
lumbricus).

Namun jika kita lebih cermat lagi, cacing tanah tentunya membutuhkan protein untuk
pembentukan daging. Kalau kotoran hewan saja bisa digunakan untuk pakan, dan bisa
menjadi daging bagi tubuh cacing, apalagi jika kita menggunakan bahan pakan yang
berprotein tinggi.
Tentunya dalam hal ini kita harus dapat menghitung biaya pakan, jangan sampai dengan
pemberian pakan berprotein tinggi malah membuat kita rugi. Karena cacing tanah (cacing
lumbricus) dapat menghabiskan pakan seberat bobot tubuhnya dalam waktu paling cepat 24
jam.
Nah ini dia yang pasti anda tunggu-tunggu.
Saya akan berbagi informasi pakan berprotein tinggi untuk cacing dengan harga murah,
bahkan bisa gratis, diantaranya :
1. Ampas Tahu
Harga umumnya di pasaran 1 sak 25 kg harga Rp. 20.000. Kandungan protein 24,5%.
2. Azolla
Harga bibit Rp.30.000/kg. Cukup beli bibit sekali untuk dikembangkan, selanjutnya GRATIS
tinggal panen 3 hari sekali. Kandungan protein mencapai 24%.
3. Gamblong / Ampas singkong
Harga umumnya Rp.1000/kg. Kandungan protein rendah hanya 3%. Namun dengan
fermentasi bisa meningkat hingga Protein 18%.
Untuk meningkatkan kandungan protein dari bahan-bahan baku tersebut, cara yang paling
cepat dan mudah dilakukan adalah dengan fermentasi.
Cara Fermentasi Pakan Untuk Cacing Tanah (Cacing Lumbricus) :
1. Campurkan probiotik 1 tutup botol untuk 10 liter air.
2. Tambahkan air cucian beras (1 liter) atau air kelapa (1 liter) atau molase/tetes tebu (100
ml). Pilih salah satu atau semuanya juga bagus.

3. Jika ada, tambahkan ragi tape 1 butir atau ragi tempe 1 sendok makan.
4. Aduk rata hingga homogen.
3. Campuran tersebut bisa digunakan untuk fermentasi pakan cacing tanah sebanyak 10 kg
4. Tutup rapat minimal 24 jam, makin lama makin bagus.
5. Pakan siap diberikan berbentuk bubur dengan disiramkan.
Selamat mencoba dan semoga sukses budidaya cacing tanah (cacing lumbricus).
Hubungi Saya :087831467967 (SMS)

APA SAJA MAKANAN CACING?


Siapa bilang cacing hanya hewan penggembira di bumi? Banyak dari kita beranggapan
binatang ini tak memiliki guna dan hanya sebagai parasit semata. Faktanya, cacing yang
menempati urutan paling bawah dalam piramida makanan ini berperan sebagai pengurai
sampah organik, menyuburkan tanah, dimanfaatkan sebagai sumber kesehatan manusia dan
pakan ternak yang baik. Jadi, siapa bilang cacing tak berguna? Bahkan saking bergunanya, ia
banyak dibudidayakan masyarakat. Salah satu jenis cacing yang paling banyak
dikembangkan adalah cacing tanah. Dalam teknik budidaya tersebut, satu hal yang paling
banyak ditanyakan: Apa saja makanan cacing tanah tersebut?
Fungsi, Bakteri dan Algae
Sebagai makhluk hidup, tentu saja cacing tanah juga makan. Mereka mengkonsumsi
fungi, bakteri juga algae yang ada di tanah atau yang tumbuh pada medium tempat
mereka hidup. Apa saja medium yang sering dianggap sebagai makanan cacing
tersebut? Jawabannya sebagai berikut:
1.Kulit telur yang telah dihancurkan.
2.Kardus ataupun Koran yang telah
3.Sabut kelapa.
4.Dedaunan yang telah mati.

disemprot air agar lembab.

5.Potongan sayur-sayuran.
6.Limbah dapur seperti kulit kentang, pisang, apel dan buah-buah lainnya.
Sebelum makanan cacing tanah tersebut di atas diberikan, jauh lebih baik jika Anda
memotong, memarut atau dihaluskan sekalian. Kenapa? Sebab makin halus bentuk
makanan tersebut maka semakin mudah bagi si cacing tanah untuk mengurainya lebih
lanjut. Pemberian makanan idealnya dilakkan minimal 3 kali dalam seharinya. Namun
pastikan Anda tidak memberi makanan berlebihan sebab jika kenyang cacing akan
membiarkan makanan tersebut dan tidak mengurainya. Akibatnya, wadah akan
berbau busuk sebab makanan tersebut menumpuk.
Kotoran cacing tanah
Dalam kondisi paling ideal, cacing tanah yang diternakkan bisa mengkonsumsi
makanan sebanyak berat tubuh mereka sendiri per harinya. Misalkan Anda punya 1
kilogram cacing, maka per harinya berilah ia 1 kilogram makanan. Teknik ini baiknya
digunakan di awal pemeliharaan. Selanjutnya, sesuaikan takaran makanan cacing
tanah tersebut sesuai dengan kemampuan konsumsi si cacing.
Jangan lakukan...!!!!
Ada beberapa hal yang wajib Anda perhatikan terkait pemberian makanan cacing tanah,
sebagai berikut:
Meskipun cacing tanah memang kompositor yang akan mengurai limbah, tapi ia hanya bisa
menangani limbah organik. Sampah semacam plastik, karet, tulang, kaca dan juga bahan
kimia haru steril dari makanan cacing yang Anda berikan.
Cacing tanah tidak suka makanan seperti jeruk, tomat juga lemon.
Cacing tanah juga harus dihindarkan dari makanan dengan bau takam, misalnya bawang
merah, bawang putih dan juga kulit jeruk. Jenis makanan ini akan membuat cacing menjauh.
Makanan lain seperti sisa daging, makanan berminyak, dan juga segala macam produk susu
tidak bisa diberikan pada cacing karena jenis makanan ini cepat sekali berbau dan juga bisa
mengundang hewan pengganggu cacing lainnya seperti semut, lalat, juga tikus.

Cara Ternak Budidaya Cacing Tanah Lumbricus Rubellus


Tahap awal untuk melakukan ternak atau budidaya cacing tanah lumbricus rubellus kita
harus menyediakan media atau sarang untuk bibit cacing, media perlu diukur PH tanah
dengan kertas lakmus dan suhu dengan thermometer, untuk mengetahui ukuran PH dan
suhu.apabila alat pengukur tidak ada kita dapat melakukan pengetesan media dengan cara
yang sangat sederhana, yaitu, masukkan bibit sedikit demi sedikit, antara 5-10 ekor bibit.

Bila media atau sarang tersebut memenuhi syarat, tidak mengandung bahan beracun, zat-zat
kimia yang tidak disukai cacing atau PH-nya terlalu tinggi atau terlalu rendah
maka cacing tidak akan mau bersarang dan akan tetap berada dipermukaan media. Untuk
mengetahui media yang memenuhi syarat untuk hidup cacing silahkan baca di sini media
untuk cacing.
Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya media yang demikian diproses lagi (disiram air dan
disaring, sampai tidak ada air yang berwarna cokelat menetas). Ingat media harus selalu
dalam keadaan basah tetapi tidak tergenang air. Bila tidak, harus dibuatkan kembali media
yang baru.
Untuk mengetahui apakah media sudah memenuhi syarat atau belum bila dalam waktu 12
jam cacing tetap tenang di dalam media, itu menandakan bahwa cacing tetap betah dan
cocok hidup di media tersebut. Kemudian hamparkan bibit cacing yang lain secara merata di
atas media. Setelah itu tutup bak-bak tersebut dengan menggunakandaun pisang, kertas
Koran atau plastik, yang bertujuan untuk mengurangi penguapan dan sinar matahari.
Setiap bak berupa ember plastik atau besek berukuran 50 x 40 x 30 cm dapat menampung
kurang lebih 1 ons bibit cacing atau sekitar 100-130 ekor bibit. Sebagai perbandingan, dari
referensi sebuah media (Koran) seorang peternak menebarkan bibit cacing tanahsebanyak
0,50 kg untuk bak ukuran 1 meter persegi.

PAKAN CACING
Walaupun media atau sarang juga berfungsi sebagai sumber makanan akan tetapi dengan
berkembangnya cacing perlu juga diberi makan tambahan dan perlu diperhatiakn
bahwa cacing tanah adalah binatang yang senang makanan yang ada dipermukaan
sarangnya. Cacing tanah menghabiskan

makanan sama dengan berat badannya dalam 24

jam.
Porsi makanan yang diberikan menggunakan pola makanan sama dengan berat
badancacing dalam 24 jam, jika dalam satu bak terdapat 1 ons cacing, maka porsi makanan
adalah 1 ons dalam 24 jam. pemberian pakan diusahakan dalam bentuk larutan/bubur, dengan
perbandingan air: makanan = 1 : 1.
Selama sarang atau media tersebut masih memenuhi syrata sebagai sumber makanan,
makanan tambahan tidak perlu diberikan. Tetapi biasanya setelah 1 (satu) bulan, diberikan
pakan tambahan.
Pemberian makanan, yang paling ekonomis adalah pemberian makanan yang berupa sampah
organic atau sampah dapur, kotoran ternak (ayam, sapi, kerbau, kelinci). Kotoran yang
dipakai untuk pakan sebaiknya yang sudah matang, karena kotoran yang masih segar masih
mengalami proses penguraian sehingga masih panas. Perlu didiamkan beberapa hari dulu
supaya menjadi matang. Dianjurkan memberikan makanan secara bertahap, jangan sekaligus.
Karena bila terlalu banyak bisa menyebabkan temperature menjadi naik dan cacing
tanah bisa mati.
Untuk produksi kokon (telur), pakan yang diberikan dapat berupa satu macam kotoran hewan
yang sudah matang tanpa campuran apapun atau kotoran hewan dengan kompos hijau (dari
tanaman atau daun-daunan) denagn perbandingan 30:70.
Untuk menghasilkan cacing tanah yang gemuk, maka pakan harus terdiri atas kotoran hewan
dicampur kompos hijauan dengan perbandinagn 2:1 atau dapat juga diberikan kompos
hijauan dengan bubur kertas bekas, denagn perbandingan 1 : 1.
Untuk meningkatkan kualitas cacing, bahan makanan bisa ditambahkan dari campuran dedak
atau konsentrat yang juga dihancurkan. Makanan ini perlu dihancurkan agar bercampur
dengan media (lapisan) yang menjadi tempat berkembangnya cacing.

Yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah adalah sebagai
berikut:

Pakan yang berupa kotoran ternak dimasukkan ke dalam wadah kemudian dicampur
dengan air dan diaduk sehingga hancur berupa bubur.

Bubur pakan ditaburkan merata tipis-tipis diatas media, tetapi tidak menutupi seluruh
permukaan media, sekitar 2-3 cm dari tepi wadah/bak tidak ditaburi pakan.

Seluas yang ditaburi pakan ditutupi dengan plastik atau pelepah pisang yang tidak
tembus cahaya.

Lakukan pemeriksaan besoknya, apakah pakan itu habis dimakan atau tidak. Untuk
pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa terlebih dahulu harus diaduk dan jumlah
pakan yang diberikan dikurangi.

Pekerjaan pemberian pakan, dilakuakn tiap hari sampai cacing tanah itu dipanen.
PERKEMBANGBIAKAN CACING
Cacing tanah adalah hewan yang memiliki dua kelamin dalam satu tubuh, jantan dan betina
(hermaphrodite), akan tetapi tak dapat membuahi dirinya sendiri. Pembuahan tidak akan
terjadi tanpa adanya bantuan cacing lain. Perkawinan dilakukan dengan cara meletakkan
bagian belakang denagn posisi yang saling berlawanan dan diperkuat dengan seta.
Pada saat itu klitelium (alat kelamin) masing-masing mengeluarkan lendir untuk melindungi
spermatozoa yang dihasilkan oleh alat kelamin jantan masing- masing spermatozoa lalu
masuk kedalam kantung penampung sperma dari pasangannya, selanjutnya membentuk
selubung cocon (telur cacing) yang bergerak ke arah mulut.
Pada waktu melalui lubang penampungan sperma masuklah spermatozoa ke dalam cocon dan
terjadilah pembuahan, selubung cocon harus bergerak ke arah mulut hingga terlepas dari
cacing tanah dan membentuk cocon. Cocon kemudian dilatakkan di tempat yang lembab dan
akan menetas dalam waktu 14-21 hari kemudian.
Setiap cocon menghasilkan antara 4-7 ekor cacing. Cacing tanah menjadi dewasa setelah
berumur 2-3 bulan dan siap berkembang biak. Setiap 7-10 hari cacing tanah akan

menghasilkan 1-2 cocon. Diperkirakan seekor cacing tanah akan menghasilkan 1000 ekor
anak dalam setahun. Dari beberapa referensi menyebutkan perkembangbiakkan cacing
tanah yang diternakkan relative lebih produktif, berbeda dengan di alam bebas, yang banyak
mengalami gangguan binatang lain.
CARA PEMELIHARAAN CACING
Cacing tanah merupakan binatang yang takut akan sinar, karena itu wadah berupa bak harus
ditempatkan pada tempat yang teduh dan jika perlu ditutup, terutama pada siang hari. Apabila
menggunakan bak permanen sebaiknya pembuatan bak ditempat teduh, misalnya dibawah
pohon dan diberi pelindung atap genteng, supaya tidak kena hujan dan sinar matahari
langsung.
Di dalam pemeliharaan, sarang atau mediacacing tanah harus dijaga kelembapannya, dengan
cara diperciki air setiap hari. Penyiraman diupayakan agar air tidak tergenang dan setelah itu
bak-bak selelu ditutup dengan daun pisang., plastik kertas Koran atau karung goni yang telah
dibasahi.

Disamping

itu,

pemeliharaan

yang

perlu

dilakukan

adalah

menghindarkan cacing dari gangguan binatang seperti semut, cecak, tikus, lintah, kecoa, dll.
Dengan penyiraman dan penggemburan dapat menghindarkan cacing dari gangguan tersebut,
atau bak-bak dapat ditutup denagn kasa yang halus. Bila menggunakan bak dari ember
plastic, besek yang berada di rak tersusun, untuk menghindari semut, kaki rak diberi tatakan
(mangkok, yang diisi olie, air atau serbuk kapur anti semut).
Setelah dua minggu dari masa peletakkan pertama, induk-induk cacing dipindahkan ke media
lain sambil menanti kokon-kokokn itu menetas. Begitu juga setiap 2 minggu berikutnya,
induk-induk cacing yang sudah bertelur dipindahkan ke media lain. Perlakuan ini juga untuk
anak-anak cacing yang telah berusia 3,5 bulan dan mulai bertelur. Cara memindahkan
induk cacing bisa denagn cara langsung mengaduk-ngaduk media dalam kandang, bisa
juga dengan meletakkan makanan di salah satu sudut kandang hingga induk cacing akan
mudah berkumpul dan mudah dipindahkan.
Selama masa pemeliharaan, cacing-cacing itu dibagi dalam beberapa fase.
Fase pertama : perkembangan , dimulai sejak kokon (telur) menetas menjadi anak cacing
hingga usia 2,5 bulan atau 3,5 bulan. Pada usia ini cacing bisa dijual untuk indukan atau bibit.

Fase kedua: usia 4 sampai 7 bulan, yang merupakan masa produktif cacing menghasilkan
kokon.
Fase ketiga : usia 7 bulan ke atas, yang sudah tidak produktif lagi.
Cacing-cacing dalam ketiga fase itu semuanya laku dijual dan tentu saja harganya berbedabeda. Cacing pada fase pertama, biasanya dikonsumsi oleh para peternak cacing untuk
dijadikan indukan. Sedangkan cacing usia fase kedua, lebih banyak dikonsumsi untuk pabrik
obat. Dan cacing usia fase ketiga dipakai untuk makanan (pellet) ikan lele. Kalau untuk
campuran bahan kosmetik, biasanya dimabil dari usia 4 bulan ke atas, karena kadar crude oilnya cukup baik.
HAMA CACING
Selain pemeliharaan yang telah diuraikan diatas, ada satu hal yang tidak kalah penting adalah
pemeliharaan untuk menghindari cacing dari hewan pengganggu, seperti kodok, ayam, tikus,
semut, kelabang, lintah dan lain-lain. Hama hama tersebut dapat menghabiskan cacingcacing atau kokon yang ada denagn berbagai cara, sehingga dapat menggagalkan usaha
budidaya ini.
Kodok/katak
Salah satu makanan yang disukai katak adalah cacing, yang perlu diwaspadai apabila
ruangan yang digunakan untuk beternak dihalaman yang menggunakan landing dari bak
tembok, untuk mencegah agar katak tidak dapat meloncat masuk kandang, sebaiknya
kandang diberi tutup kawat kassa dengan lubang yang agak lebar, supaya sirkulasi udara
kandang tetap terjaga, tetapi katak tidak dapat masuk ke dalam bak. Berbeda hal nya, bila
menggunakan ruangan ( iin door), hal ini kemungkinan katak masuk rumah/ruangan sangat
kecil.
Ayam
Demikian pula perlakuan untuk menghindari agar ayam tidak dapat masuk kandang cacing,
untuk bak permanen yang tentu saja mudah bagi ayam untuk memangsa cukup aman bagi
ayam untuk bisa mengganggu.
Tikus
Baik lokasi ternak diluar maupun didalam ruangan, kedua-duanya sangat memungkinkan
bagi tikus, yang merupakan salah satu musuh cacing tanah ini, untuk lokasi yang ada didalam

ruangan, denagn system rak susun, paling tidak akan terhindar dari seranagn tikus, namun
perlu juga dipuyakan dipinggir-pinggir lantai ruangan bisa ditaburkan kamper/kapur barus,
dengan bau kamper dapat menghindari adanya tikus. Usaha lain dapat memasang perangkap
tikus dari bahan lem atau jepitan tikus, atau bisa juga menggunakan serbuk racun tikus.
Semut
Predator yang satu ini, memiliki kelebihan pada penciuman, sehingga apabila ada bau cukup
merangsang bagi penciuman semut, dalam waktu yang singkat, semut-semut akan
berdatangan. Namun usaha pencegahan terhadap semut ini, relative gampang, yakni dengan
cara setiap kaki rak susun diberi tatakan plastic kenudian di isi olie atau bisa menggunakan
solar, minyak goring.
Kelabang atau lintah
Untuk menghindari hewan pengganggu seprti kelabang dan lintah, dapat diusahakan dengan
cara sering menyirami media, dan bila perlu diatas media diberi daun tembakau.
Sumber Buku : Budidaya CACING TANAH LUMBRICUS RUBELLUS, Penerbit CV.
ANEKA Solo
Sumber Gambar : http://www.celagrid.org
Pemindahan bibit

Hello peternak pebisnis dan pe apa lainnya. Hehehe,.........kali


ini saya ingin membagi yaitu pemindahan bibit dari kotak pertama dan ke kotak kedua.
Kita langsung saja ke Tkp.
Pertama : :ambil cacing yang mau di pindahkan.
Kedua : siapkan tempat untuk pemindahan yang kosong.
Ketiga :bagi setengah cacing yang sebelumnya di tempat wadah.

Keempat :ambil setengah yang di wadah ada cacing nya pindah ke yang kosong.
Kelima:setelah setiap wadah masing masing setengah dari wadah tempat untuk ternak
cacing.
Terakhir setiap masing masing wadah atau tempat di kasih media yang baru. Cara ini
agar mempermudah proses pemercepat perkembang biakan cacing tanpa mengambil satu
persatu dari media.
Yang penting sabar dan semangat.
Permudah pikiran kita maka pekerjaan kita akan semakin mudah. Aminn

Peralatan dan lokasi budidaya cacing

PERALATAN YANG DIBUTUHKAN


Dalam membudidayakan cacing tanah, peralatan yang digunakan juga tidak terlalu rumit.
Bahkan alat dan bahan yang dibutuhkan ada di sekitar kita yang merupakan perlengkapan
sehari-hari. Beberapa peralatan tersebut antara lain:
1.Kotak untuk memelihara cacing, dapat memakai papan kayu atau bahan dari plastik
maupun dari kaca. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawah kotak sehingga dapat
menampung pupuk cair yang keluar.
2.Kompos sebagai media hidup cacing yang akan dibudidayakan.
3.Sampah sisa makanan atau sampah organik lainnya.
4.Ember dengan penutup.
5.Penutup kotak cacing yang dapat dibuat dari kayu dan kawat jaring.
6.Minyak atau oli untuk menghalau serangga yang tidak diinginkan, misalnya: semut, kecoa,
dll.
7.Sarung tangan karet.
8.Bibit cacing tanah.
9.Lokasi yang terlindung dari hujan dan sinar matahari yang berlebihan.
Setelah semua peralatan dan perlengkapan tersebut sudah siap, maka proses pembudidayaan
cacing bisa segera dilakukan. Adapun langkah-langkah pembudidayaan yang bisa dilakukan
yaitu:
Masukkan kompos setinggi 15 cm ke dalam kotak pemeliharaan secara merata.
Potong kecil-kecil sisa-sisa makanan atau sampah organik untuk kemudian dimasukkan ke
dalam kotak pemeliharaan.

Tambahkan sedikit air ke dalam media hingga cukup basah dan gembur.
Aduk semuanya hingga tercampur merata. Anda dapat menggunakan sarung tangan yang
telah disiapkan jika merasa jijik.
Perlahan masukkan bibit cacing tanah ke dalam kotak pemeliharaan.
PERSYARATAN LOKASI YANG DIBUTUHKAN DALAM BUDIDAYA CACING:
1. Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah
yang besar.
2. Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak
atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah
membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya.
3.Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai
netral atau ph sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat
bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
4.Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah
antara 15-30 %.
Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon adalah sekitar
1525 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat C masih baik
asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
5Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya
serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi
rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak
meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.
Diolah dari berbagai sumber

Budidaya Cacing Lumbricus Dengan Cara Paling Efektif & Berhasil


Cara budidaya cacing Lumbricus Rubellus itu sebenarnya sangatlah mudah,
cara perawatannya juga tidak jauh berbeda dengan jenis cacing tanah lainnya,
yang paling penting adalah sarang/media tumbuh yang harus cocok dengan
kehidupan cacing tanah. Selain media tumbuh yang harus kita siapkan adalah
tentunya bibit cacing Lumbricus Rubellus, dan bibit yang unggul sebaiknya yang
akan kita gunakan. Untuk membuat media tumbuh yang akan kita gunakan
sebagai budidaya cacing Lumbricus Rubellus haruslah sesuai dengan tempat
hidup cacing dan pH tanah harus di ukur dengan kertas lakmus dan suhu dengan
thermometer.

Budidaya Cacing Lumbricus Dan Hasil Panen


Cara seperti itu memang sangat simpel dan mudah, namun saya sarankan tidak
perlu menggunakan 2 alat tersebut agar lebih menghemat pengeluaran biaya
awal usaha cacing tanah yang akan kita bangun. Cara pengetesan apakah pH
tanah sudah cocok dengan lingkungan hidup si cacing maka, saat menebarkan
bibit jangan kesemuanya di masukkan, namun ambil beberapa saja sekitar 15
ekor, masukkan kedalam media hidup di permukaan dan jika pH tanah sudah
sesuai dengan keinginannya maka cacing yang sudah kita masukkan kedalam
media tumbuh tadi akan bersarang dan tidak ada yang keluyuran. Jika terdapati
cacing tidak betah untuk bersarang di media yang telah kita buat maka, cacing
akan kelayapan tidak berarah dan kebingungan.

Dan jika hal tersebut terjadi, para bibit cacing yang telah kita masukkan kedalam
media tumbuh berkeliaran dan tidak masuk bersarang, maka yang harus kita
lakukan adalah menyaring kembali media tumbuh dengan menyiram air, sampai
air yang keluar tidak ada air yang berwarna cokelat menetas. Patokannya adalah
media tumbuh harus selalu basah, namun jangan sampai tergenang air, jika
tergenang air cacing akan mati.

Kandang Betingkat Untuk Budidaya Cacing Lumbricus


Tahap selanjutnya untuk mengetahui apakah cacing sudah betah atau belum
betah dengan media tadi, tunggu selama 12 jam, dan jika cacing tetap nyaman
dengan rumah barunya maka segera masukkan bibit-bibit cacing yang lainnya
dengan secara yang merata. Setelah bibit selesai di masukkan kedalam media
tumbuh, maka tutup media tumbuh dengan pelepah pisang,plastik,atau benda
lain yang dapat membuat media tumbuh rindang dan tidak terkena sinar
matahari secara langsung.

Setiap tempat untuk budidaya cacing Lumbricus Rubellus sebaiknya terbuat


secara terpisah, bisa menggunakan ember atau bahan lainnya dengan ukuran
kira-kira 50 x 40 x 30 cm, dengan ukuran wadah tersebut akan mampu
menampung sekitar 100-130 ekor bibit. Referensi lainnya saya pernah membaca
ulasan tentang ukuran wadah cacing tanah di internet menyatakan bahwa
sebaiknya dengan ukuran 1 meter persegi dapat di isi dengan 0,50 kg bibit
cacing.

Cara Pemberian Pakan Cacing Lumbricus


Untuk tata cara pemberian pakan cacing Lumbricus Rubellus juga sama seperti
cacing lainnya, memang pembuatan media tumbuh untuk budidaya cacing
Lumbricus Rubellus adalah sebagai makanan dan sekaligus sarang. Tetapi cacing
juga sama seperti binatang lainnya yang suka makan, dengan makanan yang
terbaru adalah hal yang paling di sukai cacing. Cacing menyantap makanan yang

berasal dari bahan-bahan organik seperti sampah organik dapur, kotoran


binatang ternak, bangkai ternak dan bahan organik lainnya yang mudah di
cerna oleh cacing.

Setiap harinya cacing membutuhkan makanan dengan perbandingan 1:1 dengan


tubuhnya, jika berat bibit yang di tebar 1kg, maka satu harinya akan
memerlukan makanan sebanyak 1kg pula. Pemberian sangat mudah yaitu
memberikan makanan yang sudah di tumbuk halus di atas permukaan media
tumbuh, berikan secara merata dan selanjutnya tutup wadah tempat budidaya
cacing agar cacing cepat naik ke permukaan dan memakan pakan yang telah
kita berikan. Pemberian tidak boleh asal, harus dengan takaran 1:1, namun jika
pakan masih tersisa banyak berilah pakan tambahan sekiranya sama dengan
makanan yang di butuhkan oleh Cacing Lumbricus setiap harinya yaitu dengan
perbandingan 1:1 dengan tubuhnya.

Ingat pemberian pakan yang paling bagus adalah bahan organik seperti ;
sampah organik atau sampah dapur, kotoran ternak. Kotoran ternak yang akan
kita gunakan sebagai pakan cacing sebaiknya dalam keadaan yang matang,
bukan kotoran yang baru. Karena kotoran yang baru di keluarkan dari tubuh
binatang ternak masih dalam proses penguraian dan tentunya kotoran itu akan
menghasilkan hawa panas yang dapat membunuh cacing. Untuk mengatasi hal
ini, kotoran yang baru tersebut harus di diamkan beberapa hari baru bisa di
berikan sebagai pakan cacing, dan pemberian sebaiknya di lakukan dengan
secara bertahap jangan memberinya sekaligus, jika pemberian di lakukan
sekaligus di khawatirkan akan membuat temperatur menjadi naik dan dapat
mematikan cacing Lumbricus Rubellus yang telah kita budidayakan.

Beberapa ini adalah rahasia pemberian pakan Cacing Lumbricus Rubellus


yang tepat dan paling efektif :

1. Agar cacing Lumbricus Rubellus cepat memproduksi Kokon (telur cacing)


maka pakan yang di berikan sebaiknya adalah kotoran binatang ternak
yang sudah matang (sudah di diamkan beberapa hari) dengan campuran
kompos hijau (dedaunan dan tanaman). Pemberian pakan ini di lakukan
dengan perbandingan kotoran binatang ternak dan kompos hijau yaitu
30:70.

2. Agar cacing Lumbricus Rubellus menjadi gemuk pakan yang di berikan


sebaiknya adalah kotoran hewan ternak yang sudah matang yang sudah
di campur dengan kompos hijau dengan ukuran perbandingan 2:1.
Alternatif lain yaitu dengan memberi kompos hijau dengan campuran
bubur kertas bekas dengan ukuran perbandingan 1:1
3. Agar cacing menjadi berkualitas bisa di beri pakan dengan campuran
dedak dan konsentrat, namun sebelumnya kedua bahan ini sudah di
hancurkan agar cacing dapat dengan mudah mengonsumsinya.
Hal-Hal penting yang harus di lakukan untuk pemberian pakan cacing
Lumbricus Rubellus
:
1. Pakan yang berasal dari kotoran hewan ternak, caranya di masukkan di
dalam wadah, di beri air dan di aduk sehingga hancur seperti bubur
2. Bubur pakan di berikan dengan cara meratakan bubur pakan di atas
permukaan media tumbuh, namun jangan sampai menutupi seluruh
bagian media tumbuh (sisakanlah).
3. Pakan tersebut di tutup dengan debog (pelepah pisang jawa) atau bisa
menggunakan plastik agar cacing cepat menyantapnya.
4. Jika pakan tersebut tidak habis dan tersisa, maka ambil pakan tersebut
kemudian aduk dengan pakan yang baru, dan pemberian hendaknya di
kurangi agar sesuai dengan kebutuhan cacing.
5. Pemberian pakan untuk cacing Lumbricus Rubellus ini harus di lakukan
setiap hari dan berkelanjutan.

Perkembangbiakan Cacing Lumbricus Rubellus


Pada dasarnya dalam budidaya Cacing Lumbricus untuk sama seperti jenis
cacing lainnya adalah yang termasuk hewan jenis rendah dan di kenal dengan
hermaphrodite, yaitu binatang yang mempunyai 2 alat reproduksi dengan jantan
dan betina. Untuk proses berkembang biak cacing ini tidak dapat melakukan
pembuahan dengan sendiri, cacing memerlukan pasangan untuk proses
pembuahan. Perkawinan terjadi dengan metode meletakkan bagian belakang
dengan posisi yang saling berlawanan dan diperkuat dengan seta.

Jika proses pembuahan telah terjadi maka cacing akan mengeluarkan Kokon
(telur) yang nantinya akan menetas menjadi anak cacing. 1 Kokon jika menetas
biasanya akan menghasilkan anak cacing sekitar 4-7 ekor, dan cacing tanah
akan tumbuh dewasa (dengan pertumbuhan normal) antara sekitar 2-3 bulan
lamanya. Cacing Lumbricus Rubellus dapat menghasilkan 1000 anak selama
satu

tahun

karena

jika

di

budidayakan

cacing

ini

akan

lebih

bagus

perkembangbiakannya, sangat berbeda dengan di alam bebas yang kesusahan


menemukan pasangan, makanan, dan serangan berbagai hama.

Cara Pemeliharaan Cacing Lumbricus Rubellus


Mengenai Cara Pemeliharaan Cacing Lumbricus Rubellus memanglah tidak
sesulit seperti yang ada di bayangan kita, terutama untuk pemula tentunya ragu
tentang bagaimana cara perawatan agar cacing dapat berkembangbiak dan
tumbuh

dengan

sinar/cahaya,

jadi

baik.

Cacing

untuk

merupakan

pemeliharaan

binatang

yang

yang

pertama

takut

dengan

adalah

dengan

kandang/tempat yang aman dari sinar matahari, selain sinar yang perlu di
hindari adalah dari air hujan, jadi cacing tidak boleh terkena air hujan hal ini
dapat membuat cacing terendam dan akhirnya mati.

Pembuatan wadah/kandang untuk cacing harus di tempat yang teduh yang aman
dari kehujanan dan sinar matahari. Jika kandang sudah mencapai tingkat aman,
selanjutnya adalah menjaga kelembapan media, media harus sedikit di siram
dengan percikan air, dan jangan sampai kebanyakan dan akhirnya cacing akan
terendam dan mati. Kandang cacing harus selalu tertutup/terlindungi dengan
penutup agar cacing merasa aman, dapat menggunakan pelepah pisang,daun
pisang, kertas/koran, dan benda lain yang dapat menutup permukaan media.
Untuk media selain daun pisang dan pelepah pisang harus selalu di basahi, agar
kelembapan tetap terjaga.

Selain tentang peletakan kandang yang teduh dan aman dari air hujan dan sinar
matahari juga kelembapan media selanjutnya adalah menjaga cacing dari
binatang pemangsa seperti; semut, cecak, angsa, ayam, burung, tikus, lintah,
kecoa, dll. Tentunya hal ini sangat penting karena hama adalah musuh nomor
satu yang harus di hindari oleh pembudidaya cacing. Dalam pemeliharaan cacing
di bedakan menjadi 3 tingkatan yaitu :
1. Tingkat pertama, tahapan ini adalah perkembangan yang di mulai dari
menetasnya anak cacing dari Kokon sampai dengan umur 2,5 sampai 3,5
bulan. Dan pada tahap ini cacing sudah dapat di pasarkan untuk bakalan
induk/bibit.

2. Tingkat kedua, pada tahapan ini cacing yang di maksud adalah berumur 4
sampai dengan 7 bulan, dan saat umur tersebut cacing sedang produktif
untuk menghasilkan Kokon (telur cacing).
3. Tingkat ketiga, dimana pada tahapan ini cacing sudah menua dan sudah
tidak produktif lagi, cacing yang di masksud adalah berumur 7 bulan
keatas, dan sebaiknya di jual, bukan untuk indukan.

Pemeliharaan yang tepat tentunya harus di imbangi dengan penanganan hama


yang tepat pula, karena cacing mempunyai banyak hama yang sangat
merugikan. Cacing merupakan binatang tidak bertulang belakang dan kaya akan
protein dan sumber makanan lain yang di butuhkan hampir semua binatang.
Hama bisa berasal dari hewan peliharaan seperti binatang dalam kategori
unggas yaitu; ayam, angsa, bebek, burung. Hama juga dapat berasal dari
binatang liar seperti; musang, linsang, garangan, kodok, dan masih banyak
binatang lainnya yang akan mengusik keberadaan cacing kita untuk dijadikan
sebagai makanannya.

Tugas kita adalah menghindarkan cacing dari itu semua, menyimpan cacing di
tempat yang aman dengan memberikan perlindungan jaring atau pagar yang
mampu mencegah pemangsa masuk kedalam area kandang. Bahaya lain adalah
semut, semut juga merupakan hama yang harus kita hindari, caranya cukup
mudah tempatkan cacing diatas meja atau tempat lain yang memiliki kaki, dan
kaki-kaki tersebut di masukkan kedalam magkuk atau ember lalu ember atau
mangkuk di isi dengan air, makan cacing akan aman dari serangan semut.
Cukup mudah ulasan tentang budidaya cacing Lumbricus Rubellus, dan dari
semua coretan saya diatas semoga Anda faham dan mampu mengaplikasikan
untuk memulai bisnis cacing tanah Anda.

Cara Budidaya Cacing Dengan Praktis Dan Mudah

Cara Budidaya Cacing


Baiklah kali ini saya akan memberikan ulasan tentang cara budidaya cacing,
namun sebelumnya perlu kita harus mengetahui tentang seluk beluk mengapa
harus budidaya cacing tanah. Jadi, apa yang sih pekerjaan yang tidak akan di
lakukan olah manusia agar supaya mendapatkan penghasilan!! Di jaman saat ini

memang sangat susah untuk mencari pekerjaan, baik dari tamatan tingkat SMK
sampai Sarjana memang susah untuk mendapatkannya, namun jika orientasinya hanya mencari penghasilan sangatlah mudah untuk kita lakukan. Bagaimana
agar kita dapat mendapatkan penghasilan itu?

Cara Budidaya Cacing Dengan Praktis Dan Mudah


Tentunya jawaban dari pertanyaan itu adalah dengan bekerja, jika kita sulit
bekerja apa yang harus kita lakukan? Selanjutnya adalah dengan usaha sendiri,
dan kali ini saya akan memberikan cara usaha yang sangat mudah untuk
mendapatkan penghasilan, yaitu tentang bagaimana Cara Budidaya Cacing
Dengan Praktis DanMudah. Mungkin setelah melihat judul dari postingan kali ini
sebagian dari Anda akan bertanya-tanya, apa sih untungnya budidaya cacing?
Untuk apa cacing di budidayakan?

Baiklah untuk mendapatkan jawaban itu semua, saya akan memberikan


penjelasan mulai dari awal hingga proses bagaimana cara budidaya cacing yang
baik dan benar. Cacing adalah binatang tanah yang sangat menjijikkan untuk
sebagian orang, namun di antara kita tentunya juga ada yang merasa bahwa
cacing tidaklah menjijikkan. Seperti saya pribadi menganggap cacing tidak
terlalu menjijikkan, dan hal ini sering sekali saya melakukan kontak langsung
dengan cacing tanah saat menggunakan cacing sebagai umpan memancing ikan
di empang.

Cacing memang secara umum menjijikkan, binatang yang hidup di tanah subur
atau bahkan di tanah yang kotor seperti : tempat sampah, lumpur got, pupuk
kandang, dan beberapa tempat lainnya yang di sukai cacing adalah binatang
yang mempunyai banyak kegunaan. Saat ini permintaan cacing di pasaran

semakin tinggi, cacing ini bisa di manfaatkan sebagai obat, pakan burung,
umpan memancing, pakan ikan, dan lain-lain.

Cacing berkhasiat bagus untuk burung jika di konsumsi, burung akan lebih segar
dan juga fit, selain burung sangat bagus juga untuk ayam aduan agar untuk
memberikan performa yang bagus saat di adu. Cacing juga bisa di jadikan
obat Penyakit Typus, dengan cacing tanah yang sudah di bersihkan dan di
peras airnya kemudian air cacing ini bisa di minum sebagai obatnya. Selain itu
juga tentunya dapat di gunakan untuk umpan memancing, banyak yang
melakukan hal ini karena cacing sangat di senangi oleh ikan. Banyak juga yang
menjadikan cacing sebagai pakan ikan budidaya, lele, belut, ikan hias dan lain
sebagainya, karena semua ikan sangat menyukai untuk menyantap cacing.

Baiklah jika semua hal diatas (manfaat cacing) sudah Anda ketahui apakah jika
melihat peluang ini Anda hanya diam saja? Tentunya tidak, mari selanjutnya saya
akan mengulas tentang cara budidaya cacing yang baik dan benar agar
mendapatkan hasil panen yang maksimal.

Langkah-Langkah Cara Budidaya Cacing


1. Persiapan Tempat/kandang

Untuk langkah awal adalah persiapan untuk membuat media sebagai tempat/
kandang untuk budidaya cacing. Tempat/kandang bisa di buat dengan sisa-sisa
bahan yang tidak terpakai seperti ; genteng tanah, ijuk, bambu, dan rumbia.
Yang sudah saya ketahui untuk peternak skala besar telah membuat kandang
yang lumayan panjang yaitu sekitar 1.5 x 18 dengan ketinggian 0.45 m.
Pembuatan kandang harus di buatkan semacam rak-rak atau tingkatan agar
memudahkan untuk memisahkan cacing yang di budidayakan. Serta kandang ini
dapat di buka dan tanpa adanya dinding, jadi lebih praktis dan mudah untuk di
gunakan. Para peternak cacing pada umumnya adalah dengan menggunakan
kandang/tempat budidaya cacing dengan model seperti : pancing berjajar atau
pancing bertingkat, kotak bertumpu, dan rack berbaki

Wadah Untuk Budidaya Cacing Dengan Praktis Dan Mudah


2. Persiapan Pembibitan Dan Cara Penebarannya

Pada langkah kedua ini kita di haruskan untuk mempersiapkan pembibitan, dari
persiapan pemilihan bibit hingga tempat yang akan di gunakan harus sudah
tersedia. Persiapan untuk pembibitan budidaya cacing adalah sebagai berikut :

Persiapan Awal Indukan Untuk Budidaya Cacing Tanah

Mempersiapkan media tumbuh

Memilih bibit unggul yang akan di budidayakan

Mempersiapkan kandang/tempat yang akan di gunakan serta pelindung


kandang agar cacing terhindar oleh beberapa pemangsa

Pemilihan Calon Induk Yang Akan Di Masukkan Kedalam Kandang


Budidaya
A. Memilih Bakal Induk Yang Berkualitas

Jika cara budidaya cacing yang akan kita lakukan telah memasuki skala besar
maka sebaiknya indukan bisa kita beli dari para penangkar cacing terdekat di
kota Anda, namun jika dengan skala yang kecil indukan bisa kita cari dari alam
bebas seperti tempat pembuangan kotoran ternak atau tempat lumpur lainnya
yang banyak di huni cacing. Indukan cacing yang bagus adalah yang sudah

matang usianya dengan tanda tubuh yang besar dan panjang. Tentunya induk
seperti ini sangat bagus untuk di budidayakan.

B. Cara Perawatan Calon Induk Yang Akan Di Budidayakan Adalah


Dengan Beberapa Cara Seperti Di Bawah ini :

Cacing calon indukan bisa di pelihara sebanyak-banyaknya supaya


mendapatkan banyak induk yang nantinya bisa siap untuk di budidayakan.
Namun tidak boleh asal dalam pengisian jumlah indukan, dengan
perkiraan jika wadah berukuran dengan panjang 2.5 m dan lebar 1 m,
sedangkan tinggi sekitar 0.3 m, maka dapat isi sekitar 10.000 ekor bakal
indukan cacing tanah dewasa.

Jika jumlah cacing semakin bertambah, maka untuk menghindari sesaknya


wadah maka harus di pindahkan sebagian.

Kombinasikan pemeliharaan antara dua langkah di atas.

Membuat pemeliharaan kokon (telur cacing) dengan khusus, dan setelah


cacing menetas dan dewasa baru di pindahkan.

Melakukan pemeliharaan/perawatan khusus untuk bibit.

Cara Penebaran Indukan Kedalam Media Yang Telah Di Siapkan


Jika pada langkah sebelumnya yaitu menyiapkan tempat/kandang lengkap
dengan
media tumbuh sudah
selesai, selanjutnya adalah
dengan
menanam/menebarkan indukan yang sudah kita pilih kedalam media budidaya.
Untuk penebarannya di lakukan sedikit-demi sedikit, jangan langsung semua
cacing indukan di masukkan bersamaan. Namun dengan cara sebagian dengan
tujuan untuk mengetahui apakah cacing menyukai media yang telah kita buat
atau tidak, dan tanda jika cacing menyukainya maka cacing yang kita masukkan
akan langsung masuk ke tanah tanpa ada yang berkeliaran di permukaan media
atau bahkan cacing-cacing kabur dari media. Dan jika cacing-cacing masih
berada di permukaan media dan bahkan ada yang kabur maka media yang kita
buat tidak cocok untuknya.

Setelah penebaran indukan ke media ini harus selalu di pantau setiap 3 jam
sekali, pastikan bahwa cacing sudah nyaman dengan tempatnya yang baru. Jika
sudah 12 jam cacing tidak ada
yang keluar dan berkeliaran maka dapat di pastikan indukan cacing sudah betah
dan menyukai tempatnya. Untuk penggantian media adalah dengan cara
menyiramnya dengan air kemudian media di peras, sampai air yang keluar
berwarna bening.

3. Sistim Dan Cara Perkawinan cacing Tanah

Seperti yang kita ketahui bahwa cacing adalah jenis binatang hermaprodit yang
memiliki kelamin ganda dalam satu tubuhnya yaitu jantan dan betina, namun
dengan ini bukan berarti cacing bisa melakukan perkawinan dengan sendiri,
cacing juga memerlukan cacing lainnya untuk berkembang biak. Dari satu
pasang induk cacing akan menghasilkan satu kokon ( wadah telur) yang
berbentuk lonjong dengan berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api, dan
kokon ini berisi telur-telur yang nantinya menetas sesuai yang kita harapkan.

Setiap satu kokon akan berisi sekitar 2-20 ekor anak cacing, dan pada umumnya
akan menghasilkan 4 ekor anak cacing saja. Cara penetasan kokon sangat
mudah, yaitu dengan cara menaruh kokon-kokon pada tempat yang lembab,
kokon akan menetas sekitar 14-21 hari. Dan sesuai dengan penelitian para ahli
bahwa 100 ekor indukan cacing tanah dapat menghasilkan 100.000 anak cacing
dalam waktu 1 tahun.

Setelah anak cacing menetas, maka untuk dewasa anak cacing memerlukan
umur sekitar 2-3 bulan lamanya dengan adanya tanda gelang (klitelum) pada
tubuh bagian depan cacing. Dan waktu perkawinan induk cacing adalah sekitar
7-10
hari
untuk
menghasilkan
satu
kokonnya.
4. Cara Perawatan Cacing Tanah

Dibawah ini adalah cara pemeliharaan yang baik dan benar untuk budidaya
cacing tanah, dan cara ini sudah di lakukan oleh para pembudidaya cacing tanah
yang
telah
sukses
di
Negara
kita
:
Cara Pemberian Pakan Cacing Tanah

Pemberian pakan untuk cacing tanah sangatlah mudah, yaitu hanya dengan
memberikan 1 kali pakan selama satu hari satu malam, dengan ketentuan pakan
yang di berikan sama dengan berat cacing yang di tanam. Jika 1 kilo cacing yang
di tanam mama pakan yang di berikan adalah 1 kilo. Dan makanan cacing tanah
yang paling bagus adalah kotoran binatang ternak, dan di bawah ini adalah cara
untuk pemberian pakan cacing tanah :

Pakan sebaiknya di berikan dalam keadaan halus (bubur)

Pemberian di lakukan dengan menaburkan di atas media, namun jangan


kesemua media tertutup pakan

Tutuplah pakan dengan media yang tidak dapat di tembus cahaya, bisa
menggunakan terpal dan lainnya.

Jika pemberian sebelumnya masih menyisakan pakan, maka pemberian


selanjutnya hendaknya di kurangi

Perbandingan antara pakan (bubur) dengan air adalah 1:1

Cara Penggantian Media Cacing Tanah


Jika sudah lama, maka media juga perlu di ganti, yaitu dengan tanda media telah
menjadi tanah (kascing) yang sudah dipenuhi banyak telur (kokon). Jika hal itu
sudah terjadi maka segera ganti media dengan yang baru. Untuk memperbaiki
perkembangan dan pertumbuhan maka, telur dan anak cacing harus di pisahkan
dengan beda tempat dan hal ini bisa di lakukan setiap 2 minggu.
Proses Kelahiran (Penetasan Telur) Cacing tanah

Untuk menetaskan kokon (telur) cacing maka harus di buatkan media penetasan
dengan membuatnya dari bahan-bahan seperti kotoran hewan, batang pisang,
dedaunan atau buah-buahan, limbah pasar, limbah rumah tangga, kertas, Koran,
kardus, kayu lapuk atau bubur kayu. Cara pembuatannya adalah dengan
memotong bahan-bahan diatas menjadi ukuran kira-kira 1-2 cm, setelah itu di
campurkan dan di aduk semua bahan kecuali kotoran ternak. Langkah
selanjutnya adalah mencampurkannya dengan kotoran ternak dengan
perbandingan 70:30, selain itu juga harus di tambahkan air agar tetap dengan
kondisi
basah.
5. Cara Pengendalian Hama Dan Penyakit Pada Cacing Tanah

Dalam tahap ini memanglah sangat penting dan perlu di perhatikan karena hal
ini adalah paling memberi pengaruh terbesar berhasil tidaknya usaha cara
budidaya cacing tanah yang telah kita jalankan. Dan hama adalah musuh utama
yang harus kita antisipasi, hama pada cacing tanah bisa berasal dari hewanhewan di sekitar kita seperti : ayam, itik, ular, angsa, burung, kelabang, lipan,
semut, kumbang, lalat, tikus, katak, tupai, lintah, kutu dan banyak lagi yang
tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Selain binatang yang memangsa cacing
kali ini adalah hama yang tidak memakan cacing namun memakan karbohidrat
dan lemak yang terdapat pada pakan, binatang ini adalah semut merah. Maka
lindungi wadah tempat budidaya cacing kita dengan cara di rambang dengan air
dengan
keseluruhan.

6. Cara Panen Cacing Tanah

Hal ini adalah yang paling kita tunggu-tunggu, di sini adalah titik akhir dari usaha
kita yang nantinya akan menghasilkan pundi-pundi rupiah yang kita harapkan.
Dalam tahap pemanenan ini sangatlah mudah, dan 2 hal yang dapat di harapkan
dari hasil pemanenan cacing tanah ada 2 yaitu :

Biomas (cacing tanah itu sendiri

Kascing ( bekas cacing)

Dalam teknik untuk pemanenan cacing ini bisa di terapkan dengan pemberian
penerangan cahaya pada media, penerangan bisa di lakukan dengan alat
penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Jika media
sudah kita berikan penerangan maka cacing akan keluar dari dalam tanah ke
permukaan media, sehingga cacing dapat dengan mudah kita pisahkan dari
media. Mengapa cacing berkumpul di permukaan media, karena cacing sangat
sensitif jika terkena penerangan.
Jika saat pemanenan terdapat kokon (telur) maka, kembalikan media dan kokon
seperti semunya dan hanya mengambil cacing yang siap panen saja, lalu berikan
perawatan kokon-kokon itu dengan pemberian pakan selama 30 hari. Dan
setelah cacing menetas bisa di pisahkan dengan media tersebut sehingga
kascing dapat kita panen. Baiklah cukup sekian pertemuan kali ini yang
membahas tentang Cara Budidaya Cacing Dengan Praktis Dan Mudah, semoga
penjelasan saya sudah cukup jelas untuk mitra budidaya. .. sukses selalu mitra
budidaya !!

Cara Budidaya Cacing Tanah

Cara Budidaya Cacing Tanah Terbukti Berhasil

Pada pertemuan ini saya akan memberikan penjelasan yang lengkap tentang
cara budidaya cacing tanah, masalah ini merupakan peluang usaha yang
mungkin tidak terlintas di pikiran kita untuk di jadikan sebagai usaha sampingan
yang cukup menjanjikan. Baiklah tidak perlu panjang lebar mari kita langsung ke
pokok permasalahan, namun sebelumnya akan saya beberkan tentang ruang
lingkup cacing tanah kenapa sampai di budidayakan dan menghasilkan rupiah,
mulai dari manfaat cacing tanah, cara pewaratan, sampai dengan cara
pemanenan dan pemasaran.

Sekilas Tentang Cacing Tanah

Binatang yang satu merupakan masuk dalam pengelompokan binatang tingkat


rendah, mengapa demikian? Karena cacing tidak memiliki tulang belakang
(invertebrata) dan cacing ini merupakan termasuk kelas Oligochaeta. Di dalam
Oligochaeta yang termasuk famili penting adalah Megascilicidae dan
Lumbricidae, dan dalam permasalahan ini cacing tanah tentunya sudah sangat
tidak asing di telinga kita, terutama masyarakat yang bermukim di pedesaan.
Namun di balik jijiknya cacing tanah (untuk sebagian orang) namun cacing tanah
ini memiliki potensi yang luar biasa bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.

Di dalam sentra perikanan, cacing tanah berperan penting sebagai makanan


yang paling bagus untuk dunia perikanan, dan sentra perikanan terbesar di
Indonesia adalah terdapat pada Jawa bagian barat yaitu : Bandung-Sumedang
dan sekitarnya. Untuk ini tentunya cara budidaya cacing tanah yang baik dan
benar sangat penting untuk mengawali usaha ini.

Jenis Cacing Tanah

Jenis Cacing Tanah sangatlah banyak sekali tentunya jenis-jenis cacing tanah
yang ada di Dunia, namun yang banyak di budidayakan/di ternak oleh manusia
adalah jenis seperti; Megascolicidae, Lumbricidae, Genus Lumbricus, Eiseinia,
Pheretima, Perionyx, Diplocardi dan Lidrillus. Kesemua jenis famili cacing tanah
di atas tentunya memiliki kelebihan tertentu untuk di kembangbiakkan. Dan saat
ini jenis cacing tanah yang sangat populer di budidayakan adalah Pheretima,
Periony dan Lumbricu. Tiga jenis famili cacing tanah tersebut sangat mudah
untuk di budidayakan karena mereka sangat menyukai untuk hidup di tempat
seperti bahan-bahan organik yang berasal dari sampah dapur atau pupuk
kandang. Dengan media yang sangat di sukai ke tiga cacing tanah tersebut
maka sangat mudah dan tepat untuk di budidayakan, karena tentunya media
mudah di dapatkan.

Untuk cacing tanah berjenis famili Lumbricus sangat mudah di identifikasi


dengan bentuk tubuhnya yang pipih, dan memiliki segmen sekitar 90-195 dan
klitelum yang terletak pada segmen hanya sekitar 27-32 saja. Namun jenis ini
memiliki kelemahan dengan kalah bersaing dengan jenis cacing yang lain,
sehingga ukuran tubuhnya akan lebih kecil. Namun bukan berarti cacing ini tidak
dapat di budidayakan, bahkan jika jenis ini di budidayakan akan mampu
menyamai jenis cacing lainnya dan bahkan lebih besar jika cara budidaya cacing
tanah yang kita lakukan sudah tepat.
Dan untuk cacing tanah berjenis Pheretima bisa memiliki segmen antara 95-150,
dan dengan klitelumn yang terletak pada segmen sekitar 14-16. Untuk
mengidentifikasi jenis cacing tanah ini adalah dengan cara memperhatikan

bentuk dan warna tubuhnya, yaitu dengan ciri-ciri tubuh berbentuk gilik panjang
dengan silindris berwarna merah keunguan. Yang termasuk masuk kedalam jenis
ini adalah seperti ; cacing merah, cacing koot dan cacing kalung.

Sedangkan untuk cacing tanah berjenis Perionyx, lebih mudah untuk di


identifikasi dengan bentuk tubuhnya berbentuk gilik berwarna ungu tua sampai
merah kecokelatan dengan jumlah segmen yang dimiliki sekitar 75-165 dan
klitelumnya terletak pada segmen 13-17. Memang untuk jenis cacing ini
memerlukan penangan yang lebih di banding jenis cacing tanah lainnya, lebih
sensitif dan manja, sehingga memang penanganan khusus di perlukan jika
membudidayakan jenis cacing tanah yang satu ini.
Jika di pilih dari ke tiga jenis cacing tanah tersebut, maka jenis Lumbricus
Rubellus adalah yang paling unggul untuk di budidayakan karena cacing jenis ini
memiliki vitalitas yang bagus, namun tentunya juga dengan cara budidaya
cacing tanah yang baik dan benar. Penambahan berat badan (pertumbuhan
yang baik) dan juga tentunya dapat menghasilkan telur yang lebih banyak serta
kascing yang banyak pula, kelebihan lain pada jenis ini adalah sifatnya yang
relatif diam dan tidak banyak bergerak, dengan ini maka dia akan mudah untuk
menggemukkan tubuhnya.

Manfaat Cacing Tanah

Sangat banyak manfaat dari cacing tanah ini, di dalam dunia pertanian cacing
memiliki peran penting dalam menyuburkan tanah, cacing akan menguraikan
bahan organik yang akhirnya membuat aerasi dan struktur tanah menjadi lebih
baik, dan tentunya penyerapan nutrisi oleh tanaman akan menjadi lebih
sempurna sehingga tanaman akan memiliki pertumbuhan yang bagus. Pupulasi
mikroba yang baik untuk menyuburkan tanah juga akan semakin berkembang
lebih banyak karena keberadaan cacing tanah, semua ini jika kita melihat dari
aspek pertanian, dan manfaat lain cacing tanah sangatlah banyak, di antaranya
adalah sebagai berikut :
1. Sebagai Pakan ternak : cacing tanah memiliki kandungan protein yang
sangat tinggi, dan hal ini tentunya sangat bagus untuk menjadi pakan

tambahan binatang ternak seperti : unggas dan ikan atau mungkin bisa di
berikan ke jenis binatang ternak lainnya.
2. Di jadikan sebagai bahan baku pembuatan obat : cacing tanah banyak di
gunakan sebagai bahan obat atau bahkan langsung di jadikan obat untuk
menyembuhkan beberapa penyakit seperti; demam, menurunkan tekanan
darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus.
3. Untuk Bahan Baku Kosmetik : perlu di ketahui para wanita yang membeli
kosmetik dengan harga yang mahal-mahal, ketauhilah bahwa cacing
tanah juga berperan didalamnya, cacing tanah ini di jadikan bahan baku
untuk membuat kosmetik seperti ; pelembab kulit dan lipstik
4. Makanan Manusia : Jangan salah, cacing tanah juga sangat bagus untuk di
konsumsi manusia karena kandungan proteinnya yang sangat tinggi,
cacing ini juga memiliki kandungan protein yang tinggi seperti halnya
daging unggas dan mamalia lainnya, dan bahkan lebih tinggi. Tentunya
dengan ketentuan cara pengolahan yang baik dan benar !!

Cara Budidaya Cacing Tanah Dan Persiapan Media

Rak Berbaki - Cara Budidaya Cacing Tanah Terbukti Berhasil


1. Untuk menampung kelangsungan hidup cacing tanah, maka tanah harus
mengandung kandungan organik yang lebih banyak.
2. Bahan organik bisa di dapatkan dengan mudah yaitu berasal dari daun
yang gugur, kotoran ternak, bangkai ternak, dan lain sebagainya. Cacing
ini sangat menyukai bahan yang mudah membusuk, begitu juga untuk
makanannya.
3. Dalam hal menunjang pertumbuhan cacing tanah membutuhkan tanah
dengan sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2, jika sudah di
kondisikan demikian maka cacing tanah akan dapat bertumbuh secara
baik karena bakteri dalam tubuhnya akan mudah untuk melakukan
pembusukan dan juga fermentasi makanan cacing.

4. Untuk menunjang perkembangbiakan dan juga pertumbuhan memerlukan


15-30 % kelembapan media.
5. Menetasnya Kokon dan juga bertumbuhnya bibit cacing tanah
membutuhkan suhu antara 1525 derajat C. Jika suhu melebihi 25 derajat
C maka masih bisa di gunakan untuk menunjang menetasnya Kokon dan
juga proses pertumbuhan asalkan ada naungan yang mencukupi untuk
kelembapan optimal.
6. Untuk lokasi budidaya cacing tanah harus di tempat yang terhindar dari
terik matahari langsung, dan bahan kandang tidak terbuat dari bahanbahan yang pada dasarnya bisa meneruskan cahaya (sorot matahari).
Sebaiknya peletakannya juga ditempat yang mudah untuk di awasi selalu
agar selalu terkondisikan, bisa di bawah pohon yang rindang, di pinggir
rumah, atau ditempat lain yang terhindar dari sinar matahari langsung.

Pedoman Teknis Cara Budidaya Cacing Tanah


1.

Persiapan Kandang Cacing Tanah


Cara budidaya cacing tanah sangat saya sarankan dalam pembuatan
kandang untuk menggunakan bahan-bahan yang harganya tidak mahal dan
mudah di dapatkan, hal ini berguna untuk meminimalisir pengeluaran. Untuk itu
bahan pembuatan kandang bisa dari bahan-bahan seperti; bambu, rumbia,
papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat. Sebaiknya kandang di buat dengan
ukuran antara 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m dengan ukuran seperti
ini juga di buatkan rak bertingkat agar dapat menampung dengan maksimal.
Kandang untuk budidaya cacing tanah yang populer di gunakan adalah seperti;
rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar.

1.

Pembibitan Cacing Tanah


Tahap kedua adalah yang terpenting, di sini sebelum menebar bibit cacing tanah
diperlukan terlebih dahulu untuk di siapkan kandang, media tumbuh,pelindung
kandang, dan bibit cacing tanah tentunya. Dibawah ini adalah teknik untuk

2.

menyiapkan pembibitan cacing tanah :


Pemilihan Bibit Bakal Induk
Dalam cara budidaya cacing tanah, memilih bakal indukan memang sangat
penting, cacing yang sehat dan memiliki potensi pertumbuhan yang baik adalah
kriteria dalam calon induk yang akan kita rawat agar berkembangbiak dengan
baik. Bibit ini bisa di ambil dari alam bebas, di tempat pembuangan kotoran
unggas dan tempat lainnya yang di sukai cacing tanah. Namun cara ini adalah
peternak dengan skala yang kecil, jika kita memulai budidaya cacing tanah
dengan skala yang besar maka sebaiknya bibit bakal indukan adalah hasil dari

beli dari penagkar cacing tanah. Karena bibit ini tentunya memang akan unggul
3.

dan memiliki potensi perkembangbiakan yang bagus.


Penebaran Bibit
Setelah Anda mengetahui cara perawatannya, maka selanjutnya jika kandang
dan media tumbuh sudah ada maka segera terbarkan bibit kedalam media.
Dalam penebaran ini harus di perhatikan, apakah bibit cacing menyukai media
yang telah kita buat atau tidak, caranya adalah dengan memasukkan beberapa
bibit cacing tanah kedalam media, lalu perhatikan apakah cacing yang tadinya di
permukaan media masuk kedalam media atau tidak. Jika masuk semuanya dan
tidak keluar setelah 30 menit, maka dapat di pastikan media yang sudah kita
ramu telah berhasil, sebaliknya jika cacing keluar ke permukaan media.
4.

Perawatan Bibit bakal Induk

Untuk menunjang perkembangbiakan induk yang telah kita pilih maka juga harus
dilakukan perawatan khusus, agar indukan ini dapat cepat untuk menghasilkan
Kokon yang nantinya akan menetas menjadi anak cacing. Cara pemeliharaanya
bisa di isi dengan sebanyak-banyaknya indukan cacing dalam suatu kendang
namun dengan perkiraan jumlah dan ukuran sebagai berikut. Jika Ukuran
kandang memiliki tinggi 0,3 m, panjang 2,5 m, dan lebar 1 m, maka kandang ini
dapat di isi dengan 10.000 ekor induk cacing tanah. Perawatannya juga
dilakukan dengan bertahap, yaitu merawat dengan jumlah yang kecil dan
selanjutnya jika cacing bertambah banyak maka yang tua dan yang muda
sebaiknya di pisahkan agar tidak terjadi kanibalisme.
Untuk pemberian makanan adalah bobot yang sama dengan jumlah bibit yang
telah di tanam, jika bobot bibit 1kg maka makanan perharinya membutuhkan 1
kg makanan. Pakan cacing ini sebaiknya di berikan dengan kondisi bubur, jadi
sebelum di berikan pakan sudah di tumbuk atau di blender agar menjadi bubur.
Pakan yang sudah halus di campur dengan air dengan perbandingan 1:1.
Pemberian pakan harus rutin dan terjadwal, apabila pakan masih tersisa maka
hanya di tambahkan kira-kira antara pakan lama dan baru juga berbobot sama
dengan jumlah bobot bibit cacing.
Dalam perawatan, media juga harus di ganti apabila media sudah berubah
menjadi tanah/kascing, penggantian harusnya dengan hati-hati agar kokon tidak
ikut terbuang. Penggantian media baiknya di lakukan dengan 2 minggu sekali.
3.

Pengendalian Dari Hama Dan Penyakit

Dalam cara budidaya cacing tanah, juga sangat penting karena akan berkaitan
dengan berhasil tidaknya sebuah usaha budidaya cacing tanah, kandang harus
selalu terkontrol dengan teratur, terhindar dari hama dan penyakit. Hama bisa
berasal dari binatang yang hidup di lingkungan kita seperti ;
unggas,katak,semut, dan binatang lainnya yang memang memangsa cacing
merupakan makanan terlezat. Untuk penyakit, sendiri biasa di atasi dengan
teratur mengganti media tumbuh setiap 2 minggu sekali.

4.

Pemanenan
Jika cara budidaya cacing tanah sudah di kerjakan dengan secara tepat, maka
tahap selanjutnya adalah yang sangat kita nantikan, saatnya mengais rupiah
dengan menjual hasil panen cacing tanah memang sangat menyenangkan,
binatang yang di anggap menjijikkan ternyata mempunyai manfaat dan peluang
pasar yang luar biasa. Dalam proses panen ini ada 2 macam yang dapat kita
hasilkan yaitu; cacing itu sendiri dan juga Kascing (tanah bekas cacing).
Cara pemanenan sangat mudah yaitu dengan memberikan lampu di bagian
permukaan media, dengan cara ini cacing akan naik kepermukaan dan
berkumpul sehingga memudahkan untuk cara pemanenan.
Jika pada saat panen terdapat Kokon (telur cacing) tugas kita adalah
mengembalikan seperti semua dan mengatur suhu media agar Kokon menetas,
seperti cara yang saya sebutkan diatas.

Semoga Anda dapat menjalankan cara budidaya cacing tanah yang bisa saya
berikan dengan baik dan benar agar usaha budidaya cacing tanah Anda sukses,
apabila ada pertanyaan saya siap untuk memberikan solusi terbaik, jangan
menunggu yang tidak jelas untuk memulai sebuah usaha, Sukses Terus Mitra
Budidaya!!

Home Budidaya Cacing Merah Mudah Dan Membuat Penghasilan Bertambah


Cacing Budidaya Cacing Merah Usaha Sampingan Sangat Mudah
Thursday, October 1, 2015 Budidaya Cacing Merah Mudah Dan Membuat
Penghasilan Bertambah Cacing
Budidaya Cacing Merah Usaha Sampingan Sangat Mudah

Budidaya Cacing Merah

Kali ini saya akan menjelaskan tentang bagaimana cara budidaya cacing merah
dengan tujuan sebagai usaha sampingan. Jika membicarakan tentang peluang
usaha memang tidak ada habisnya, sangat banyak!! Dari hal yang kecil sampai
dengan hal besar bersangkutan, dari modal sangat kecil sampai dengan modal
yang sangat besar. Pada kondisi apapun seorang yang berjiwa wirausaha serta
cerdas dan kreatif pastinya akan mampu menciptakan usaha/bisnis dari cara dia
merespon lingkungannya sendiri.

Budidaya Cacing Merah


Namun kali ini saya akan mengulas bagaimana tentang cara budidaya cacing
merah, untuk apa kegunaannya, dan bagaimana cara perawatan yang baik dan
benar hingga tahap pemanenan. Saat ini usaha cara budidaya cacing merah
sudah merambah-rambah dari perkotaan hingga perdesaan, banyak kabar
bahwa cacing merah sangat diminati di pasaran dan bahkan dari banyaknya
pengusaha cacing merah belum mampu mencukupi kebutuhan cacing merah
setiap harinya. Apakah Anda tahu mengapa cacing merah begitu diminati?
Padahal jika kita lihat secara kasat mata, cacing ini adalah jenis binatang yang
sangat menjijikkan, dan sebagian orang tidak akan mau menyentuhnya.

Disamping

sifatnya

yang

menjijikkan

(hidup

di

kotoran

ternak,

lumpur,

pembuangan sampah organik) cacing merah memiliki fungsi yang sangat


banyak.

Cacing merah memiliki kegunaan untuk menyembuhkan berbagai penyakit


secara herbal seperti ; sakit thypus, magh dan asam lambung. Selain bisa di
manfaatkan untuk pengobatan herbal, cacing merah juga di pakai sebagai bahan
baku obat untuk menyembuhkan penyakit seperti; Thypus, stroke, darah tinggi
dan rendah, dll. Hal ini jika kita bahas hanya tentang untuk pengobatan, di sisi
lain cacing merah juga di gunakan sebagai bahan pembuatan kosmetik,
diantaranya adalah pelembab kulit, dan lipstik yang di pakai istri Anda. Cacing ini
juga memiliki kegunaan untuk pakan ternak, dan juga untuk campuran gizi
makanan. Cacing merah dapat di gunakan sebagai pakan ikan hias, kura-kura,
lopster, unggas, dan binatang lainnya, karena memang kandungan gizi cacing
merah sangat bagus untuk makanan tambahan binatang.

Budidaya cacing merah adalah salah satu usaha samben/sampingan yang hanya
dengan modal sangat kecil namun memiliki omset yang lumayan, tentunya
dengan ketekunan dalam perawatannya. Saat ini kebutuhan cacing merah
semakin meningkat di pasaran, tentunya jika kita mau untuk berkreasi di dunia
percacingan maka segeralah untuk memulai usaha samben/sampingan ini.
Cacing sangat di butuhkan dalam menekan biaya pakan untuk ternak dan untuk
bahan baku pengolahan limbah super.
Untuk semua jenis cacing sangat bermanfaat untuk pengganti pakan ternak dan
juga di olah sebagai limbah super. Karena kandungan gizinya yang bagus,
bahkan di luar Negri cacing diolah menjadi campuran makanan seperti;
keripik,jus,campuran telur dadar, dan campuran makanan lainnya. Di dalam
tubuh cacing merah mengandung protein yang sangat tinggi, bahkan melebihi
kandungan yang di miliki oleh telur dan juga daging. Jika kegunaan cacing sudah
Anda ketahui, selanjutnya akan saya jelaskan bagaimana tentang cara budidaya
cacing merah,tentunya dengan cara yang baik dan benar!!

Persiapan Pembuatan Kandang Dan Media

Dalam budidaya cacing merah juga sama seperti budidaya cacing jenis lainnya,
yang memerlukan kandang sebagai wadah tempat pembudidayaan cacing
merah. Pembuatan kandang hendaknya di buat dengan bahan-bahan tidak
berharga dan yang bisa di dapatkan dengan mudah. Bahan untuk membuat
kandang ini bisa menggunakan bambu, papan bekas, ijuk, rumbia, terpal, dan
genteng tanah. Untuk ukuran budidaya cacing merah skala besar sebaiknya
berukuran 1,5 m x 18 m, dengan tinggi kandang 0,45 m, ukuran ini sangat
bagus, jangan lupa untuk membuat petakan/pembagian ruangan dengan ukuran
2ox20 cm. Model kandang untuk budidaya cacing merah bisa berbagai tipe,
seperti

kolam/kubangan,

rak

bertingkat,

kotak

bertumpuk,

pancing

bertingkat/sejajar. Dalam pembuatan model kandang tentunya menyesuaikan


lokasi dan selera.

Kandang Budidaya Cacing Merah


Setelah pembuatan kolam/kandang sudah selesai, selanjutnya adalah membuat
media tumbuh, media tumbuh ini adalah beberapa campuran bahan organik
yang nantinya akan di gunakan untuk rumah cacing. Pembuatan media tumbuh
bisa menggunakan kotoran ternak, pupuk kompos, bahan organik yang berasal
dari dedaunan, atau limbah dapur organik.

Persiapan Pembibitan Cacing Merah

Setelah kandang dan media tumbuh telah siap, selanjutnya adalah untuk
mempersiapkan bibit yang nantinya akan di tebarkan. Sebaiknya dalam

persiapan bibit ini di usahakan untuk memilih bibit unggul, dan mempersiapkan
penutup kandang cacing dari serangan hama dan juga untuk menghadang sinar
matahari langsung. Untuk budidaya cacing merah dengan tujuan komersial
(skala besar) sebaiknya untuk bibit ini didapat dengan membelinya dari
pembudidaya cacing, seperti di Bandung dan juga di Yogyakarta, Temanggung,
dan kota lainnya yang telah ramai membudidayakan cacing merah. Namun jika
untuk skala yang kecil, bibit ini bisa di dapatkan dari alam bebas, dari tempat
pembuangan kotoran ternak, atau tumpukan sampah dapur organik.

Dalam teknik budidaya cacing merah terbagi dalam 5 cara yaitu :

1. Dengan teknik menebarkan bibit sebanyak-banyaknya, bibit yang di


maksud cacing merah yang sudah dewasa atau yang masih muda. Untuk
perkiraan jumlah tebar yaitu apabila kandang berukuran tinggi 0,3 m dan
panjang 2,5 m dan lebar 1 m, maka dapat di tanam sekitar 10.000 ekor
cacing.
2. Penebaran di lakukan dengan jumlah yang sedikit, dan apabila jumlah
cacing sudah bertambah maka di pisahkan antara yang masih muda dan
dewasa.
3. Teknik budidaya yang menggabungkan antara teknik nomor 1 dan nomor
2 diatas.
4. Teknik dengan pemeliharaan Kokon (telur cacing) sampai dengan anak,
jika sudah mulai dewasa cacing di pindahkan ke kandang lain.
5. Teknik yang hanya memelihara cacing merah dewasa sebagai bakalan
bibit.
Yang perlu Anda tahu bahwa cacing merah termasuk hewan rendah yang tidak
bertulang belakang, cacing ini di kenal dengan