Anda di halaman 1dari 38

STAPHYLOCOCCUS

Staphylo

: anggur

Coccus

: bulat

Familia

: Micrococcaceae

Kuman ini sering ditemukan sebagai flora normal kulit dan selaput lendir
manusia.
Tahun 1884 Rosenbach pertama kali mempelajari staphylococcus secara detail,
sehingga mengenal jenis aureus, albus dan micrococcus pyogenes.

MORFOLOGI

Bentuk bulat Gram (+), diameter 0,5 1,5 um


Spora (-), flagella(-), tidak bergerak
Letak sel satu dengan yang lain bergerombol seperti anggur (terlihat baik pada
pengamatan dalam medium padat) Staphylococcus.
BIAKAN / KULTUR

Dapat tumbuh dalam lingkungan aerob / fakultatif anaerob. Produksi pigmen


terlihat baik pada situasi AEROB DAN SUHU RENDAH.
Koloni : Halus

l
Basah

l> tepi bulat dan berwarna

Menonjol

l
Albus

Citreus

Aureus

Putih

Kuning jernih

Kuning emas

Strain aureus lebih aktif metabolismenya daripada strain albus. Dalam media
kaldu yang berisi (dextrose, sucrose, maltosa, manitol) akan terjadi pemecahan
menjadi asam tanpa GAS. Menghasilkan katalase

PATOGENITAS :
Staphylococcus merupakan penyebab infeksi yang bersifat PYOGENES
(pembentuk pus/nanah), seperti : jerawat, Periapikal abces, Infeksi saluran kemih
(primer), Infeksi ginjal (sekunder), Infeksi kulit.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Sampel untuk kultur bisa diambil dari :
-

luka dengan nanah

bisul kecil / besar

abcess dibagian tubuh

STAPHYLOCOCCUS PATOGEN mempunyai sifat :


-

Menghemolisa sel darah merah

Menghasilkan koagulasi

Membentuk pigmen (kuning emas)

Memecah manitol ASAM


Staphylococcus aureus

Yang non pathogen bersifat :


-

Non hemolitik

Tidak menghasilkan koagulasi

Berwarna putih

Tidak memecah manitol

Infeksi yang ditimbulkan oleh staphylococcus dapat meluas kejaringan


sekitarnya. Sehingga penanahan tersebut bersifat menahun dan dapat sampai
pada sumsum tulang dan timbul radang yang disebut OSTEOMYELITIS
Pemeriksaan Laboratories
1. Pewarnaan smear/olesan
Bersifat GRAM (+)
2. Kultur
Spesimen ditanam pada media agar darah dan tampak kolini yang khas
setelah 18 jam pada 37C
Untuk melihat ada tidaknya hemolisin atau terbentuknya pigmen
pengeraman harus lebih lama
3. Tes koagulase
Plasma sitrat yang diencerkan 1 : 5 dicampur dengan kultur
Staphylococcus pada media cair dalam jumlah yang sama. Kemudian
ditunggu selama 3 jam, apabila terjadi penjendalan, ini berarti
Staphylococcus menghasilkan koagulase.
Semua Staphylococcus yang menghasilkan koagulase bersifat pathogen.
4. Tes manitol
Staphylococcus ditanam dalam media cair (air peptone) + 5 % manitol +
fenol merah (indicator). Setelah dieramkan 18 24 jam terjadi perubahan
warna dari merah Kuning, karena terbentuk produk asam.

STREPTOCOCCUS
MORFOLOGI DAN PERTUMBUHAN
Bentuk bulat, gram (+) dengan pengelompokan karakteristik membentuk rantai
tidak berspora, tidak bergerak. Beberapa species membentuk kapsul. Bersifat
aerob dan anaerob fakultatif. Meragi karbohidrat dengan hasil asam.
Streptococcus tidak tahan asam.
Pembentukan kelompok(rantai) lebih tampak pada kelompok hemolitik dan
pathogen daripada kelompok yang kurang virulen.

KOLONI
-

pada media padat, cenderung menjadi kecil dengan diameter <= 2 um

konvek

semi transulent

halus, ada sebagian yang kasar dan granuler tidak membentuk pigmen

peptostreptococcus tumbuh pada suasana anaerob

Suhu pertumbuhan 37 C pH 7,4 7,6

TOXIN & ENZIM


Produk extracelhiler yang bersifat Ag dihasilkan oleh streptococcus
1. Streptokinase (fibrinolysin) dihasilkan oleh beberapa strain B Hemolitik
2. Streptodornase (streptococcal onase)
Enzim yang menyebabkan dipolimerisasi DNA
3. Hyaluronidase (spreading factor)
Dapat memecah asam Hyaluronat yang merupakan penyusun /
komponen pada substansi dasar jaringan ikat
4. Erythrogenic Toxin
Larut dan rusak pada pemanasan 100C, 1 jam. Menyebabkan kelainan
kulit pada Scarlet Fever
5. diphosphopyridine nucleotidase

Enzim ini dapat membunuh Leucocyte


6. Hemolysin
Dapat menyebabkan hemolisa sel darah merah
7. Streptolisin O
Termasuk hemolysin, berupa senyawa protein
8. Streptolysin S
Hemolysin yang bertanggung jawab membentuk zona hemolytic pada
Blood Agar Plat
9. Proteinase
10. Amylase
Klasifikasi Streptococcus
1. Streptococcus viridian (Alfa Streptococcus)
Hemolisa tidak sempurna, perubahan warna kehijauan
2. Streptococcus hemolyticus (B Streptococcus)
Hemolisa darah sempurna, zona jernih dan pathogen untuk manusia.
3. Streptococcus Indifferent (Gamma Streptococcus)
Pada media agar tidak mengadakan perubahan apa-apa. Tidak terjadi
hemolisa pada sel darah merah
4. Streptococcus Faecalis
Flora normal pada usus hewan atau manusia. Dapat menghemolisa darah
akan menjadi pathogen kalau masuk jaringan tubuh, pembekuan darah,
saluran kencing dan selaput otak.
5. Streptococcus Lactis
Jarang menyebabkan penyakit dan biasanya terdapat didalam susu dan
yang bertanggung jawab koagulasi susu secara normal.

BACILUS ANTHRACIS

Penyebab penyakit yang dinamakan anthrax


hewan memamah biak (sapi,domba,kuda,babi dan anjing) sangat peka terhadap
infeksi B. Anthracis
Sporulasi B. Anthracis dihambat oleh tekanan CO2 tinggi yang terdapat pada
karkas, dengan demikian spora jarang ditemukan didalam darah ataupun organ
lain.

MORFOLOGI
-

Batang lurus Gram (+)

Ukuran 1,6 um

Bersifat pathogen

Tidak bergerak

Berkapsul dan tahan asam

SIFAT BIAKAN
Pada biakan agar koloni terlihat mempunyai permukaan seperti serpihan kaca,
pinggiran dari koloni terlihat seperti Medussa, oleh karena pembentukan
filamenyang panjang sehingga seakan akan terlihat panjang seperti rambut
panjang dan ikal dari dewi yunani Medussa.
Bila ditumbuhkan dalam 50 % serum agar dengan tekanan CO2 65% maka B.
Anthracis terlihat sebagai kolini dengan mukosa halus (Smooth) dan mukoid,
sedangkan mikroorganismenya berkapsul. Dalam agar darah terlihat zona
hemolisis yang sangat tipis, berbeda dengan bacillus lainya yang
memperlihatkan zona hemolisis yang jelas dan lebar.
PATOGENESIS

Penyakit ini diperkirakan disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah


kapileroleh B. anthracis. Pada hewan penderita tidak dapat ditemukan adanya
endo maupun eksotoksin. Meskipun demikian gejala kematian menunjukkan
bahwa hewan mati dikarenakan toksameia. Eksotoksin ditemukan dalam plasma
hewan yang mati. Toksin anthtax merupakan suatu kompleks yang terdiri dari 3
macam protein yaitu I,II dan III. Komponen I adalah factor endema, komponen II
merupakan antigen pelindung dan komponen III merupakan factor letal.
B. anthracis yang bersifat virulen hanya galur yang mempunyai kapsul dan
bersifat toksigenik. Kapsul B. anthracis terdiri dari polipeptida yang tahan
terhadap proses fagositosis, tetapi tidak menggertak pembentukan antibodi
pelindung
Spora B.anthracis masuk melalui kulit atau membran mukosa dan mengalami
germinasi pada port dentre. Dalam septicemia bentuk vegetatif akan menyebar
melalui saluran limpa kedalam peredaran darah seperti terlihat pada babi, infeksi
ini meliputi limfoglandula dari kepala dan leher.
Organisme ini merupakan pathogen obligat. Infeksi akut terlihat pada ternak
domba,kuda dan keledai. Pada babi terlihat pharyningitis akut disertai
pembengkakan dan pendarahan pada daerah leher, anjing dan kucing
memperlihatkan gejala penyakit serupa babi.
PENULARAN
-

Kontak dengan kulit manusia yang lesi, lecet dan abrasi

Mengkonsumsi daging yang terkontaminasi kuman vegatatifatau spora


melalui tangan

Mengisap spora di tempat kerja yang berkaitan dengan produk hewan

PENCEGAHAN
-

Penyambelihan hewan dilakukan hanya dirumah potong hewan

Hewan yang dicurigai sakit antraks tidak boleh disembelih

Daging hewan yang dicurigai sakit antraks tidak boleh dikonsumsi

Tidak boleh sembarangan memandikan orang yang meninggal karena


sakit antraks

CHLOSTRIDIUM TETANI

MORFOLOGI
Kultur muda = batang / filamentous gram (+)
Sferis dengan spora terminal ( seperti korek api)
Terdapat ditanah yang tercemar tinja manusia / hewan
Pertumbuhan khusus :
An aerob :
koloni swarming, 2 4 mm setelah 48 jam, bulat, tepi tidak rata, jernih,
permukaan granulair.
Hemolisa tipe alfa (kadang-kadang beta), tidak menghasilkan lipase maupun
lesitinase.
Tes biokimia khusus :
Non proteolitik, non sakarolitik, gelatinase (+), indol (+), glucose(-), H2S(-)
PATOGENESIS
Ada 2 macam toxin :
1. tetanolisin
Merupakan hemolisin, tidak tahan panas dan oksigen
2. Tetanospasmin (neurotoxin)
Menyebabkan kelainan spesifik pada manusia dan hewani, terbentuk
setelah fase pertumbuhan aktif, tidak tahan panas pada 65C selama 5
menit, stabil terhadap oksigen.
Isolasi dan identifikasi
1. Material

: insisi luka

2. Media

: - CMM inkubasi 2 4 hari anaerob


- Agar coklat inkubasi 24 jam anaerob, terlihat koloni swarming

Ciri ciri :

1. Koloni swarming : dihambat oleh serum anti tetanus (ATS)

2. Mikroskopik
(pada

: bentuk filamentous (pada kultur muda) ; seperti korek api

kultur lebih tua )

3. Tidak memecah saccharose maupun protein


4. Indol (+)

CLOSTRIDIUM WELCHII (Cl. PERFRINGEN)


Terdapat

: tanah,air, saluran pencernaan manusia / hewan

Morfologi

: bentuk batang lurus, ukuran 4 x 1,5 mm ; gram (-), spora (jarang

terlihat) ; oval, letak sentral


PERTUMBUHAN KHUSUS :
Mampu tumbuh walau ada O2 (rendah), tumbuh sangat cepat pada anaerob( 4
6 jam pada media padat, 2 jam pada media cair). Koloni bulat diameter 2 4
mm, konvek, keruh, permukaan halus, tepi bergerigi.
Hemolisa

: sempurna

Pada Egg yolk Agar

: lesitinase (+), proteolitic (-)

Pada CMB

: gas (+)

Fermentasi

: Glukosa,maltosa,lactose, sucrose, gelatin(+), H2S(+), Indol(-)

Struktur antigen

: sangat heterogen

PATOGENITAS
Berdasarkan eksotoksin yang dihasilkn dibagi 5 type:
Type A : penyebab gas gangrene, keracunan makanan pada manusia
Type B : diare dan enterotoxaemia (domba)
Type C : enterotoxaemia (ternak), enteritis necroticans (manusia)
Type D : enterotoxaemia (ternak)
Type E : pathogen pada binatang
TOXICOLOGI
1. Alfatoxin
Efek

: diproduksi semua tipe; lethal, tahan panas


: nekrotik, hemolitik, leccitinase

2. Betatoxin

: diproduksi tipe B dan C, lethal, nekrotik non hemolitik, tak tahan

panas
3. Deltatoksin : diproduksi tipe B dan C, lethal, hemolitik
4. Omegatoksin : diproduksi tipe C, non spesifik, hemolisin, labil terhadap
oksigen
5. Etha dan tetha toksin : neurotoksin, efek lethal dan necrotic
6. Enterotoksin : Endotoksin, penyebab keracunan makanan; labil terhadap suhu
60C dan ensim protolitik; diproduksioleh tipe A dan C

CORYNEBACTERIUM DIPHTHERIA

MORFOLOGI
-

Batang ramping Gram (+)

Tidak membentuk Spora

Tidak bergerak

Sangat pleiomorfik, ukuran 1,5 5 um x 0,5 1 um

Banyak butir metachromatine terutama pada ujung-ujungnya yang


disebut Babes Ernst Bedies

Penyebaran pada sediaan memberi gambaran yang khas membentuk


sudut menyerupai huruf 2 mandarin

Pertumbuhan umunya aerob

Pertumbuhan terbaik terdapat pada Loeffler Slant

Koloni pada media tellurite khas berwarna hitam abu-abu

SIFAT BIOKIMIA
Glukosa (+), maltose (+), Acrose (-), Citrate (+), Urease (-), Katalase (+)
SPECIMEN
Untuk mendapatkan specimen dipakai swab Pharynx / tenggorok.
Sebaiknya swab ditanam pada loeffler media sebelum dikirim untuk pemeriksaan.
Cara pengambilan Swab : harus mengenai selaput yang ada , yaitu Pseudo
membrane atau daerah Inflasi lainya.
Kuman diphteri menyerang epitel selaput lendir (mukosa) dan menyebabkan
nekrosis, yaitu destruksi dari jaringan epitel. Jaringan yang rusak bertumpuk
dalam exudat fibrin ditambah lagi dengan sel darah merah dan sel darah putih
sehingga menyebabkan terbentuknya lapisan berwarna abu-abu. Selaput ini
berlokasi pada kedua belah tonsil atau sampai ke pharynx bahkan turun ke laring
sehingga menimbulkan penyumbatan. Apabila selaput ini diangkat akan
mengakibatkan perdarahan, karena pembuluh kapiler dibawahnya akan robek.

METODE PEWARNAAN
-

Pewarnaan sederhana METHYLEN BLUE

Pewarnaan GRAM

Pewarnaan NEISSER
Tubuh bakteri berwarna kuning atau coklat muda sedangkan granulanya
berwarna biru violet

Pewarnaan ALBERT

MEDIA UNTUK C. DIPHTHERIAE


-

LOEFFLER SERUM

TELLURITE AGAR

CLAUBERG

NEILLS BROTH

MEDIA ELEK

KLASIFIKASI
Pembagian berdasarkan berat ringanya penyakit :
1. Infeksi ringan
Pseudomembran terbatas pada mukosa hidung atau fausial dengan
gejala nyeri menelan
2. Infeksi sedang
Pseudomembran menyebar lebih luassampai ke dinding posterior faring
dengan edema ringan laring yang dapat diatasi dengan pengobatan
conservative
3. Infeksi berat
Di sertai sumbatan jalan nafas yang berat, gejala komplikasi miokarditis,
paralysis ataupun nefritis dapat menyertainya
PENCEGAHAN
1. Isolasi

Penderita harus di isolasi dan bisa dipulangkan setelah sediaan langsung


menunjukkan tidak terdapat C. diphtheria
2. Imunisasi

NEISSERIA GONORRHOE

MORFOLOGI
-

Diplococcus Gram(-) seperti biji kopi / ginjal

Bentuk bulat lonjong dengan satu sisi cekung berhadapan

Tersusun berpasangan dengan sumbu panjang sejajar uk 0,8 x 0,6 u

Tidak berspora

Tidak berselubung dan tidak bergerak

Memiliki pili untuk melekatkan diri pada sel epitel

Ditemukan dalam PUS

SIFAT BIAKAN
-

Tumbuh secara aerob obligat dan fakultatif anaerob

Memfermentasi Karbohidrat, menghasilkan asam tanpa gas

Tumbuh baik pada media yang mengandung serum,ascites dan darah


dalam suasana CO2 10 % suhu optimum 35 - 36 C pH 7,2 7,6

Media yang digunakan :


- BAP (Blood Agar Plate)
- Liventhal Agar
- Thrayer Martin Media selektif yang diperkaya

Bentuk koloni kecil (1-2 mm) konvek, mukoid dan warna putih kelabu.

Cepat terbunuh oleh kekeringan, sinar matahari, pemanasan basah serta


desinfektan

PATOGENITAS
Kencing nanah disebabkan oleh kuman. Kuman ini suka sekali hidup diselaput
lendir tubuh manusia. Biasanya selaput lendir kemaluan , baik pria maupun
wanita, terutama selaput lendir saluran kemih bagian bawah ( urethra ). Kuman
bersarang dan berkembang biak sehingga menjadi peradangan yang akan
menimbulkan keluhan nyeri panas. Ini merupakan gejala awal setelah kontak
dengan penderita kencing nanah lewat hubungan intim. Ibu pengidap N.
gonorehoe ke bayi yang dilahirkan akan mengalami peradangan mata bila tidak
diobati akan menyebabkan kebutaan.
Pemeriksaan Laboratorium
-

Pewarnaan GRAM ( sediaan langsung)


Tampak bentukan diplococcus

Kultur :
PUS ditanam pada media THAYER MARTIN

Reaksi Fermentasi
Memfermentasi Glukose / Dextrose

Oxidase test
Gonococcus(+), memberi perubahan warna merah muda sampai ungu

Pewarnaan Fluoresensi

NEISSERIA MENINGITIDIS
( Meningococcus)
MORFOLOGI
-

Diplococcus Gram(-)

Bentuk seperti kue donat

Tidak bergerak

Tidak berspora dan tidak berselubung

SIFAT BIAKAN
-

Tumbuh secara aerob obligat dan fakultatif anaerob

Memfermentasi karbohidrat, menghasilkan asam tanpa gas

Tumbuh baik pada media yang mengandung serum,ascites dan darah


dalam suasana CO2 5 %, suhu optimum 35 - 36 C pH 7,2 7,6

Media yang digunakan :


- BAP (Blood Agar Plate)
- Liventhal Agar
- Thrayer Martin Media selektif yang diperkaya

Bentuk koloni kecil (1-2 mm) konvek, mengkilat,menonjol mukoid dan


transparan tidak berwarna

Cepat terbunuh oleh kekeringan, sinar matahari, pemanasan basah serta


desinfektan

PATOGENITAS
Meningococcus menyebabkan meningitis bakteri yang akut pada orang dewasa.
Penyebaranya dari satu orang ke yang lain melalui pernafasan. Infeksi
Meningococcus dapat dikategorikan 3 tahap :
1. Infeksi Nasopharinx peradangan ringan yang berlangsung berharihari / berbulan-bulan

2. Infeksi memasuki peredaran darah Meningococemia


Berawal dari tidak enak badan, demam, gatal-gatal di kulit, kemungkinan
juga langsung fatal dan menyebabkan kematian dalam 6 - 8 jam
3. Infeksi melintas sawar otak dan menginfeksi Meningen Meningitis
- Sakit kepala
- Kaku kuduk
- Muntah muntah hebat
- Koma setelah beberapa jam
Pemeriksaan Laboratorium
-

Pewarnaan GRAM ( sediaan langsung)


Tampak bentukan diplococcus

Kultur :
PUS ditanam pada media THAYER MARTIN

Reaksi Fermentasi
Memfermentasi Glukose / Dextrose dan Maltose

Oxidase test
Meningococcus(+), memberi perubahan warna merah muda sampai ungu

Pewarnaan Fluoresensi

. SALMONELLA TYPHI
MORFOLOGI
-

Batang Gram(-)

Bergerak / motil dengan flagella

Peritrikus

Tidak berspora dan tidak berselubung

SIFAT BIAKAN
-

Tumbuh secara aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15 41 C

Reaksi terhadap manitol dan sarbitol (+) Indol (-)

Reaksi fermentasi terhadap sucrose, lactose, adonitol (-)

Suhu optimum 37,5 C pH 6 8

Menghasilkan H2S

Bentuk koloni pada agar SS,Endo,EMB dab Mac Conkey berbentu


bulat,kecil dan tidak berwarna. Pada Wilson Blair koloni kuman
berwarna hitam

Kuman mati pada suhu 56C dalam kekeringan, hidup subur pada
medium yang mengandung garam empedu

STRUKTUR ANTIGEN
1. ANTIGEN O (Antigen Somatik)
Antigen ini merupakan bagian dari dinding sel bakteri. Tahan terhadap
pemanasan 100C, alcohol dan asam. Dapat merangsang pembentukan

Antibodi Ig M bila antigen O yang terdiri dari Lipopolisakarida ini


disuntikan pada hewan percobaan.
2. ANTIGEN H ( Antigen Flagellar)
Bersifat termolabil dan rusak pada pemanasan 60C oleh alcohol dan
asam. Antigen H bila direaksikan dengan anti H Ab terjadi aglutinasi dan
endapanya seperti kapas, Ab yang dibentuk berupa Ig G
3. ANTIGEN VI (Antigen kapsular/ Envelope)
Berupa polimer dari polisakarida yang bersifat asam, terdapat pada
bagian luar kuman, rusak pada pemanasan 60C selama 1 jam pada
penambahan fenol dan asam

PATOGENITAS
Faktor factor patogenitas :
-

Daya invasi

Antigen permukaan

Endotoxin

Enterotoxin

DEMAM TIFOID adalah demam akut yang disebabkan oleh S. typhi. Lama
inkubasi 1 2 minggu ( paling pendek 3 hari, paling panjang 2 bulan )
Klinis terdisi dari 3 tahap
1. Tahap I
Penderita pusing, lemas dan demam
2. Tahap II
Demam maksimum, Bintik perdarahan (+), hitung lekosit turun
(Leukopeni)
dan titer antibodi naik, reaksi widal (+/-)
Akhir minggu II kuman masuk kandung empedu menuju usus, kuman
keluar bersama faeses, pada ginjal keluar bersama urin.
3. Tahap III
Tahap penyembuhan, demam turun, kuman (+) dikeluarkan sedikit demi
sedikit melalui faeses dan urin Convalescent Caries berlangsung 3
12 bulan
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. DIAGNOSA MIKROBIOLOGI

Kultur darah (+) pada minggu I, kultur faeses (+) pada minggu III dan IV,
mikroorganisme dalam tinja masih dapat ditemukan selama 3 bulan
bahkan penderita tetap mengeluarkan kuman untuk jangka waktu yang
lama. Dapat juga menjadi karier kronis yang mengeluarkan S. typhi
seumur hidup
2. DIAGNOSA SEROLOGI
Antibodi yang timbul terhadap antigen O dan H dapat dideteksi dengan
reaksi aglutinasi ( Tes Widal ). Antibodi terhadap antigen O dan H dari
grup D timbul dalam minggu I sakit dan mencapai puncaknya pada
minggu III dan IV yang akan menurun setelah 9 12 bulan

SHIGELLA
Terdapat 4 spesies :
1. Shigella dysenteriae ( Shigella shigae )
2. Shigella flexneri
3. Shigella boydii
4. Shigella sonnei
MORFOLOGI
-

Bersifat Gram(-)

Bentuk batang ukuran 0,5 0,7 u x 2 3 u

Tidak bergerak dan tidak berflagella

Tidak berspora dan tidak berselubung

SIFAT BIAKAN DAN REAKSI BIOKIMIA


-

Sifat pertumbuhan aerob dan fakultatif anaerob

Suhu pertumbuhan 37C dengan pH 6,4 7,8

Koloni kecil, halus, tidak berwarna, konvex, tepid an permukaanya rata


bila ditanam pada agar SS, EMB, Endo MC

Shigella dysentriae dapat tumbuh pada media sederhana ( agar bouillon )

Memfermentasi Glukosa tanpa membentuk gas, H2S(-)

Tidak meragi laktosa kecuali S. sonnei dengan inkubasi 3 hari

Indol (+),VP(-), MR (+), tidak tumbuh di Simons citrate, pada media


KIA/TSIA
Lereng : alkalis

PATOGENITAS

Dasar : asam

Gas

: (-)

H2S

: (-)

Disentri basiler atau Shigelosis adalah infeksi usus akut yang dapat sembuh
sendiri yang disebabkan oleh shigella
Masa inkubasi 2 4 hari ( dapat sampai 1 minggu )
DIAGNOSA LABORATORIUM
SWAB DUBUR ( RECTAL SWAB ) atau bisa diambil dari tinja segar dan yang
perlu diperhatikan kuman shigella hidupnya singkat dan peka terhadap asam
asam yang ada di tinja, jarak pengambilan dan penanaman harus sesingkat
mungkin.

ESCHERESIA COLI
MORFOLOGI
-

Batang Gram(-) sering membentuk rantai

Ukuran 2,0 6,0 um dan lebar 1,1 1,5 um

Bergerak dengan pili

Flagella peritrikus

Tidak berspora dan tidak berselubung

SIFAT BIAKAN DAN REAKSI BIOKIMIA


-

Sifat pertumbuhan aerob dan fakultatif anaerob

Suhu pertumbuhan 37C dengan pH 6,4 7,8

Koloni bulat, konvex, smooth, hemolysa

Memecah karbohidrat dengan membentuk gas dan asam

Meragi laktosa

Indol (+),VP(+), MR (+), Citrate test ( ++-- )

Pada agar EMB ( Eosin Methylen Blue ) Memberi gambaran koloni


Metalic Sheen ( logam kilauan )

Pada Mac Conkey koloni sedang, merah bata/merah tua, smooth,


metallic, sedikit cembung

PATOGENITAS

Penyakit yang disebabkan E. coli


a. Infeksi saluran kemih
b. Diare
E. coli menghasilkan exotoxin yang thermolable yang dapat menyebabkan
diare pada anak anak / bayi.
c. Ada 5 kelompok galur E. coli yang pathogen
1. E. coli Enteropatogenik ( EPEC )
EPEC melekat pada sel mukosa usus kecil
2. E. colii Enterotoksik genik ( ETEC )
Menimbulkan pelekatan ETEC pada sel epitel usus kecil
3.E. coli Enterohemoragik ( EHEK)
EHEK menghasilkan verotoksin
4.E. coli Enteroinfasiv ( EIEC )
EIEC menimbulkan penyakit melalui invasinya ke sel epitel mukosa usus
5.E. coli enteroagregatif ( EAEC )
EAEC menyebabkan diare akut dan kronik
d. Sepsis
e. Meningitis
TEST LABORATORIUM
Spesimen

: urine, darah, pus, cairan otak, sputum

PSEUDOMONAS AERUGINOSA
MORFOLOGI
-

Batang Gram(-)

Ukuran 0,5 1 u x 3,0 4,0 u

Bergerak aktif dengan flagella polar

Tidak berspora dan tidak berselubung

Mempunyai pili

SIFAT BIAKAN DAN REAKSI BIOKIMIA


-

Sifat pertumbuhan aerob dan anaerob

Suhu pertumbuhan +/- 35 C 42 C

Koloni besar tidak teratur, abu abu gelap terdapat untaian pada tepinya

Mencairkan GELATIN dan tidak membentuk H2S

Pada agar darah menunjukka b hemolisa, pada koloni tercium bau khas

Tidak memecah urea, indol (-)

Satu satunya spesies yang menghasilkan :


a. PYOCIANINE

: Pigmen berwarna hijau kebiruan yang dapat


larut dalam air dan kloroform

b. FLUORESCINE

: Pigmen berwarna kehijau hijauan,


berfluoresensi, larut dalam air dan tidak larut
dalam kloroform

PATOGENITAS
P. aeruginosa menginfeksi jaringan / bagian tubuh, dari infeksi local kuman
menyebar melalui darah menyebabkan SEPTICEMIA.

PSEUDOMONAS COCOVENENANS
MORFOLOGI
-

Batang dan pleomorph Gram(-) bipolar

Ukuran 0,5 1 u x 3,0 4,0 u

Bergerak aktif dengan 4 flagella

Tidak berspora dan tidak berselubung

Mempunyai pili

SIFAT BIAKAN DAN REAKSI BIOKIMIA


-

Sifat pertumbuhan aerob dan suhu optimal 37 C

Di media bouillon tumbuh keruh dan membentuk langit - langit

Pada agar Endo tumbuh jelek dan tidak berwarna

Pada agar ampas, agar gliserin dan agar bongkrek membentuk


pigmenkuning sampai kuning tua dan coklat

Pada agar darah tumbuh baik, hemolitik (-)

Meragi glukosa, laktosa, arabinosa, rhamnosa, levulosa, galaktosa,


askulin menjadi asam

Maltosa, sakarosa, selulosa dan indol (-)

PATOGENITAS
Toxin yang dibentuk P. cocovenenans :
1. Toxoflavin

: Toxin ini menyerang jantung

2. Asam bongkrek

: Toxin menyebabkan kejang

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Inokuloasi pada bermacam macam media padat untuk membedakan
koloni
2. Sifat biokimia
3. Pengamatan ada tidaknta pembentukan toxin

VIBRIO CHOLERAE
MORFOLOGI
-

Batang bengkok seperti koma, Gram(-)

Ukuran 2 - 4 u

Bergerak sangat aktif dengan flagel peritrik

Tidak berspora dan tidak berselubung

SIFAT BIAKAN DAN REAKSI BIOKIMIA


-

Koloni cembung (convex), bulat, smooth, opaque dan tampak granuler

Suhu pertumbuhan optimum 37 C ( 18 37 C )

pH optimum 8,5 9,5 , tidak tahan asam, tes oksidase (+)

Tumbuh baik pada media yang mengandung garam mineral seperti


( TCBS, GTT)

Meragi sucrose tanpa menghasilkan gas, meragi nitrat

Indol (+)

PATOGENITAS

Kuman tidak pernah masuk dalam sirkulasi darah, tetapi tetap menetap
diusus.

Menghasilkan enterotoxin (toksin kolera). Toksin kolera merangsang


hipersekresi air dan Cl dan menghambat resorpsi Na, dengan akibat
kehilangan banyak cairan dan elektrolit, terjadi dehidrasi, asidosis, shock
mati

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Bahan pemeriksaan :
1. Faeces
Pengambilan sampel dengan rectal swab steril pada penderita, kemudian
dimasukkan dalam tabung steril yang berisi 10 ml peptone alkali
2. Muntahan
1 ml muntahan dimasukkan dalam tabung steril yang berisi 10 ml peptone
alkali 1 %
3. Air
Air yang dicurigai mengandung V. cholerae

VIBRIO PARAHAEMOLYTICUS
MORFOLOGI
-

Batang bengkok seperti koma, Gram(-)

Ukuran 2 - 4 u

Bergerak sangat aktif dengan flagel peritrik

Tidak berspora dan tidak berselubung

SIFAT BIAKAN DAN REAKSI BIOKIMIA


-

Koloni cembung (convex), bulat, smooth, opaque dan tampak granuler

Suhu pertumbuhan optimum 37 C ( 18 37 C )

pH optimum 7,6 9,0 , tidak tahan asam, tes oksidase (+)

Pada agar TCBS membentuk koloni besar, smooth berwarna hijau

Meragi sucrose tanpa menghasilkan gas, meragi nitrat

Indol (+)

PATOGENITAS
-

Kuman tidak pernah masuk dalam sirkulasi darah, tetapi tetap menetap
diusus.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Bahan pemeriksaan tinja dan usap dubur

HAEMOPHILUS INFLUENZA
MORFOLOGI
-

Coccobacillus, Gram(-) dan berkapsul

Ukuran 2 - 4 u

Tidak bergerak

Tidak berspora

SIFAT BIAKAN DAN REAKSI BIOKIMIA


-

Bersifat aerob dan anaerob fakultatif

Diperlukan perbenihan yang diperkaya

Suhu pertumbuhan optimum 37 C pH 7,4 7,8

Koloni mengkilap dan mukoid

Hemofilus larut dalam empedu, indol (+)

Koloni S sering berubah menjadi R secara spontan

PATOGENITAS
Kuman tipe b merupakan penyebab penyakit penyakit invasive, maka dengan
ditemukanya antigen kapsul tipe b dalam cairan badan penderita dapat
ditentukan diagnosis secara khas dan cepat
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Bahan pemeriksaan dapat dipergunakan cairan serebro spinalis, sputum, cairan
telinga

TREPONEMA PALLIDUM
MORFOLOGI
-

Bentuk spiral ramping

Ukuran panjang 5 - 15 um dan tebal 0,2 um

Bergerak aktif

Tidak berspora

Kadang berbentuk bulat menyerupai kista yang disebut fase granulair

SIFAT PERTUMBUHAN
-

Merupakan bakteri mikroaerofilik

Hidup baik dalam lingkungan dengan kadar 1 4 %

Dapat tetap bergerak selama 3 6 hari pada suhu 25C

Dalam darah atau plasma dapat bertahan hidup selama 24 jam pada
suhu 4 C

PATOGENITAS
a. Sifilis primer (lues I)
Lokalisasi dari lesi primer didapatkan pada daerah genetalia, pada laki-laki
didapatkan disekitar corona glandis dan urethra, sedang pada wanita lesi
primer ini dadapatkan padalabia, perineum, dinding vagina atau pada serviks
uteri. Di sekitar lesi primer akan didapatkan pembesaran kelenjarlimfe
regional yang tidak nyeri
b. Sifilis sekunder (lues II)
Sifilis sekunder timbul dalam waktu 2 10 minggu setelah lesi primer
sembuh, rata rata sekitar 3 bulan
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Uji serologic dalam diagnosa dibagi 2 kelompok :


1. Uji nontreponemal
Mengukur kadar antibody Wassermann
2. Uji treponemal
Mengukur kadar antibody yang timbulsebagai respon terhadap komponen
antigenic T. pallidum
PENCEGAHAN
-

Berhenti melakukan kontak seksual dalam jangka waktu yang lama

Memiliki sat pasangan tetap untuk melakukan hubunganseksual

Menghindari alcohol dan obat obat terlarang

LEPTOSPIRA
MORFOLOGI
-

Bentuk spiral, panjang 6 20 um

Memiliki flagella

Dapat menembus kulit atau mukosa

Penularan melalui paparan urine hewan yang terinfeksi bakteri

PATOGENESIS
Leptospira adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menjangkiti
banyak jenis hewan, termasuk burung,reptile,amphibi dan mamalia.
PENULARAN
Leptospira bisa keluar lewat urine hewan yang jatuh ke tanah. Ini bisa
menginfeksi selama 6 48 jam. Kita bisa terinfeksi bila terjadi kontak dengan air,
tanah dan Lumpur yang terkena urine binatang tersebut. Leptospira akan masuk
ke kulit atau selaput lendir lewat luka pada kulit. Bakteri masuk kedalam tubuh
manusia melaluiselaput lendir (mukosa)mata, hidung, kulit yang lecet atau
makanan yang terkontaminasi oleh urin hewan terinfeksi leptospira.
PENCEGAHAN
-

Mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh lainya dengan sabun setelah
bekerja di sawah/ kebun/sampah/selokan

Menjaga kebersihan lingkungan

Memakai sepatu bot dan sarung tangan saat bekerja

Meningkatkan penangkapan tikus

MYCOBACTERIUM LEPRAE
MORFOLOGI
-

Batang pleomorf Gram(+)

Panjang 1 8 mikron, lebar 0,2 0,5 mikron

Bersifat tahan asam

Berkelompok dan ada yang satu satu

Kuman tumbuh lambat

PATOGENESIS
-

Gejala dari penyakit lepra atau kusta adalah bercak pucat atau bercak
besar seperti bercak jamur yang biasanya pada bagian tengahnya ini
mengalami kehilangan untuk merasa, bengkak saraf yang pada akhirnya
membentuk seperti benjolan atau juga tali yang tebal yang ada dibawah
kulit, serta luka yang melebar dan terjadi secara menahun, namun hal ini
tidak menimbulkan gatal atau juga sakit.

Biasanya menyerang daerah wajah, biasanya kulit wajah terasa tebal dan
juga berbenjol benjol, atau daun telinganya menjadi tebal, pendek dan
berbentuk persegi. Alis mata yang rontok dimulai dari luar dan kemudian
semuanya.

Lumpuhnya kaki atau tangan yang menyerupai dengan clawhand atau


cakar. Jari jari tangan dan kaki biasanya akan menjadi lebih pendek dan
akan terlihat seperti puntung

BENTUK BENTUK LEPRA

1. Lepra tuberkuloid (LTB)


Disebut juga dengan nama lepra paucibacillair. Pada tahap ini pasien
masih mudah disembuhkan. Gejala awal berupa noda putih pucat dikulit
yang hilang rasa dan penebalan saraf saraf yang nyeri diberbagai
tempat diseluruh tubuh, terutama telinga,muka, kaki, tangan. Dapat
merusak saraf jika tidak segera diobati.
2. Lepra lepromatosa atau lepra multibacillair (LLB)
Bentuk tersebar yang sangat menular dan banyak terdapat basil, dengan
cirri bentol merah(nodule), demam, dan anemia. Bila tidak diobati, pasien
akan mengalami kerusakan organ juga

3. Lepra borderline (LB)


Bentuk kombinasi dari kedua bentuk diatas
PENCEGAHAN
A. Penyuluhan kesehatan
B. Pemberian imunisasi
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Bahan pemeriksaan diambil dari goresan dengan scalpel pada lesi dikulit atau
mukosa hidung atau daun telinga. Dibuat sediaan apus pada gelas benda dan
dilakukan pengecatan menurut Ziehl-Neelsen. Adanya basil lepra tampak
berwarna merah dengan susunan bentuk globus, cerutu atau satu satu.

MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS
MORFOLOGI
-

Batang lurus atau agak bengkok

Ukuran 0,2 0,4 x 1 4 mikron

Berpasangan atau membentuk kelompok kecil

Bersifat aerob obligat

Sukar dilunturkan dengan asam dan alcohol

Bersifat tahan asam

PENANAMAN
-

Tumbuh lambat, waktu generasi invitro 14 15 jam

Koloni tampak setelah kurang 2 minggu bahkan 6 8 minggu

Suhu optimum 37 C, tidak tumbuh pada suhu < 25 C atau > 40 C

pH antara 6,4 7,0

Media yang digunakan Lowenstein Jensen

Koloni pada media padat : kering kasar, menonjol, tidak teratur dengan
permukaan keriput, koloni mula mula putih krem, kemudian menjadi
kekuning- kuningan yang akhirnya menjadi suram

Tidak tahan panas, biakan mati jika terkena sinar matahari

PATOGENESIS
Tanda dan gejala tuberculosis aktif
-

Batuk yang mengeluarkan darah selama 3 minggu atau lebih

Nyeri dada, atau sakit saat bernafas atau batuk

Berat badan yang menurun

Tubuh mudah lemah

Demam dan keringat dingin dimalam hari

Menggigil

Kehilangan nafsu makan

DIAGNOSA LABORAORIUM
-

Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik

Gambaran gejala TB paru berupa :


a. Tahap asimptomatis
b. Timbul gejala TB yang khas, kemudian stagnasi dan
regresi
c. Kekambuhan / feksaserbasi yang memburuk
d. Gejala berulang dan menjadi kronis

pemeriksaan Tuberkulosis
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan :
a. Terdapat secret di saluran nafas dan ronki
b. Tanda tanda infiltrasi suara nafas yang redup, ronki basah
c. Tanda ada penarikan paru, diafragma dan mediastenum dada
Pemeriksaan laboratorium :
a. Pemeriksaan darah rutin memperlihatkan bahwa LED normal atau
meningkat, serta terjadi limfositosis.
b. Pemeriksaan BTA
c. Test PAP (perosidase anti perosidase)

PENCEGAHAN
-

Mengurangi kontak langsung dengan penderita penyakit TBC aktif

Menjaga pola hidup yang baik, dengan mengkonsumsi makanan bergizi,


lingkungan sehat serta rutin berolah raga

Pemberian vaksin BCG

TUGAS
BAKTERIOLOGI
SEMESTER I

AAKMAL
MOJOKERTO