Anda di halaman 1dari 4

A.

Etiologi dan Predisposisi


1. Etiologi
Leptospirosis disebabkan
treponemataceae,

suatu

oleh

mikroorganisme

genus

leptospira,

spirochaeta.

Ciri

famili
khas

organisme ini yakni berbelit, tipis, fleksibel, panjangnya 5-15 um, dengan
spiral yang sangat halus, lebarnya 0,1-0,2 um. Salah satu ujung
organisme sering membengkak, membentuk suatu kait. Terdapat gerak
rotasi aktif, tetapi tidak ditemukan adanya flagella. Spirochaeta ini
demikian halus sehingga dalam mikroskop lapangan gelap hanya dapat
terlihat sebagai rantai kokus kecil-kecil. Dengan pemeriksaan lapangan
redup pada mikroskop biasa morfologi leptospira secara umum dapat
dilihat. Untuk mengamati lebih jelas gerakan leptospira digunakan
mikroskop lapangan gelap. Leptospira membutuhkan membutuhkan
media dan kondisi yang khusus untuk tumbuh dan mungkin
membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk membuatkultur yang
positif. Dengan medium Fletchers dapat tumbuh dengan baik sebagai
obligat aerob (Zein, 2006).

Gambar 1 : Bakteri leptospira menggunakan mikroskop elektron tipe


scanning
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Leptospirosis
Secara sederhana, genus leptospira terdiri atas dua spesies;
L. Interrogans yang patogen dan L. Biflexa yang non paogen/saprofit.
L. interrogans dibagi menjadi beberapa serogrup dan serogrup ini dibagi
menjadi banyak serovar menurut komposisi antigennya. Beberapa
serovar L. interrogans yang dapat menginfeksi manusia diantaranya
adalah L. icterohaemorrhagiae, L. canicola, L. pomona, L. javanica, dan
lain-lain. Menurut bebrapa peneliti, yang tersering menginfeksi manusia
adalah L. icterohaemorrhagica dengan reservoar tikus, L. canicola

dengan reservoar anjing, dan L. pomona dengan reservoar sapi dan babi
(Zein, 2006).
2. Predisposisi
Predisposisi terjadinya leptospirosis adalah pada kelompok
pekerjaan yang beresiko tinggi seperti pekerja-pekerj di sawah, pertanian,
perkebunan, peternakan, pekerja tambang, tentara, pembersih selokan,
parit/saluran air, pekerja di perindustrian perikanan, atau mereka yang
selalu kontak dengan air seni binatang seperti dokter hewan, mantri
hewan, penjagal hewan atau para pekerja laboratorium. Selain itu anakanak yang sering bermain di taman, genangan air hujan atau
kubangan.dan tempat rekreasi di air tawar juga merupakan fator
pendukung terjadinya leptospirosis (Departemen Kesehatan, 2003).
B. Patofisiologi
Dalam perjalanan pada fase leptospiremia, leptospira melepaskan
toksin yang bertanggung jawab atas terjadinya keadaan patologi bagi
beberapa organ. Lesi yang munculterjadi karena kerusakan pada lapisan
endotel kapiler. Pada leptospirosis terdapat perbadaan antaraderajat gangguan
fungsi organ dengan kerusakan secara histologik. Pada leptospirosis lesi
histologi yang ringan ditemukan pada ginjal dan hati pasien dengan kelainan
fungsional yang nyata dari organ tersebut. Perbedaan ini menunjukan bahwa
kerusakan bukan berasal dari struktur organ (Zein, 2006).
Lesi inflamasi menunjukan edema dan infiltrasi dari sel monosit,
limfosit dan sel plasma. Pada kasus yang berat terjadi kerusakan kapiler
dengan perdarahan yang luas dan disfungsi hepatoseluler dengan retensi
bilier. Selain di ginjal, leptospira juga dapat bertahan pada otak dan mata.
Leptospira dapat masuk ke dalam cairan cerebrospinalis dalam fase spiremia.
Hal ini menyebabkan meningitis yang merupakan gangguan neurologi
terbanyak yang terjadi sebagai komplikasi leptospirosis. Organ-organ yang
sering dikenai leptospira adalah ginjal, hati, otot dan pembuluh darah
(Speelman, 2005).
Leptospira masuk melalui luka di kulit,
konjungtiva dan Selaput mukosa utuh
Multiplikasi kuman dan menyebar melalui aliran darah

Kerusakan endotel pembuluh darah kecil :


ekstravasasi Sel dan perdarahan
Perubahan patologi di organ/jaringan
Ginjala : nefritis interstitial sampai nekrosis tubulus, perdarahan.
Hati
: gambaran non spesifik sampai nekrosis sentrilobular
disertai hipertrofi dan hiperplasia sel Kupffer.
Paru
: inflamasi interstitial sampai perdarahan paru
Otot lurik : nekrosis fokal
Jantung : petekie, endokarditis akut, miokarditis toksik
2. Alur
Patofisiologi
(WHO, 2003)
Mata Gambar
: dilatasi
pembuluh
darah, Leptospirosis
uveitis, iritis, iridosiklitis.
Kelainan spesifik pada organ: (Zein, 2006)
1. Ginjal
Interstitial nefritis dengan infiltrasi sel mononuclear merupakan
bentuk lesi pada leptospirosis yang dapat terjadi tanpa gangguan fungsi
ginjal. Gagal ginjal terjadi akibat nekrosis tubular akut. Adanya peranan
nefrotoksisn, reaksi immunologis, iskemia, gagal ginjal, hemolisis dan
invasi langsung mikro organism juga berperan menimbulkan kerusakan
ginjal.
2. Hati
Hati menunjukan nekrosis sentrilobuler fokal dengan infiltrasi sel
limfosit fokal dan proliferasi sel kupfer dengan kolestasis. Pada kasuskasus yang diotopsi, sebagian ditemukan

leptospira dalam hepar.

Biasanya organisme ini terdapat diantara sel-sel parenkim.


3. Jantung
Epikardium, endokardium dan miokardium dapat terlibat.
Kelainan miokardium dapat fokal atau difus berupa interstitial edema
dengan infiltrasi sel mononuclear dan plasma. Nekrosis berhubungan
dengan infiltrasi neutrofil. Dapat terjadi perdarahan fokal pada
miokardium dan endikarditis.
4. Otot rangka
Pada otot rangka, terjadi perubahan-perubahan berupa fokal
nekrotis, vakuolisasi dan kehilangan striata. Nyari otot yang terjadi pada
leptospira disebabkan invasi langsung leptospira. Dapat juga ditemukan
antigen leptospira pada otot.
5. Pembuluh darah

Terjadi perubahan dalam pembuluh darah akibat terjadinya


vaskulitis yang akan menimbulkan perdarahan. Sering ditemukan
perdarahan atau petechie pada mukosa, permukaan serosa dan alat-alat
viscera dan perdarahan bawah kulit.
6. Susunan saraf pusat
Leptospira muda masuk ke dalam cairan cerebrospinal (CSS) dan
dikaitkan dengan terjdinya meningitis. Meningitis terjadi sewaktu
terbentuknya respon antibody, tidak pada saat masuk CSS. Diduga
terjadinya meningitis diperantarai oleh mekanisme immunologis. Terjadi
penebalan meningen dengan sedikit peningkatan sel mononuclear
arakhnoid. Meningitis yang terjadi adalah meningitis aseptic, biasanya
paling sering disebabkan oleh L. canicola.
7. Weil Desease
Weil disease adalah leptospirosis berat yang ditandai dengan
ikterus, biasanya disertai perdarahan, anemia, azotemia, gangguan
kesadaran dan demam tipe kontinua. Penyakit Weil ini biasanya terdapat
pada 1-6% kasus dengan leptospirosis. Penyebab Weil disease adalah
serotipe icterohaemorragica pernah juga dilaporkan oleh serotipe
copenhageni dan bataviae. Gambaran klinis bervariasi berupa gangguan
renal, hepatic atau disfungsi vascular.
DAPUS :
Departemen Kesehatan. 2003. Pedoman Tatalaksana Kasus dan Pemeriksaan
Laboratorium Leptospirosis di Rumah Sakit, Leptospira. Pemberantasan
Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta : Departemen
Kesehatan
Speelman, Peter. 2005. Leptospirosis, Harrisons Principles of Internal Medicine,
16th ed, vol I. McGraw Hill : USA
World Health Organization/ International Leptospirosis Society. 2003. Human
Leptospirosis Guidance For Diagnosis, Surveillance And Control.
Geneva : WHO
Zein, Umar. 2006. Leptospirosis. Dalam buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid III
edisi V. Jakarta : pusat penerbitan Departemen ilmu penyakit dalam FKUI.