Anda di halaman 1dari 14

TUGAS PRESENTASI KASUS 2

BLOK EARLY CLINICAL AND COMMUNITY EXPOSURE III


ASCARIASIS

Tutor Asli

: dr. Aditiyono, Sp. OG

Tutor Pengganti

: dr. Nendyah Roestijawati, M.KK

Disusun oleh Kelompok B1


Anggota :
1. Raditya Bagas Wicaksono
2. Isnila Fardhani Kelilauw
3. Lannida

(G1A011006)
(G1A011007)
(G1A011008)

JURUSANKEDOKTERAN
FAKULTASKEDOKTERANDANILMU-ILMUKESEHATAN
UNIVERSITASJENDERALSOEDIRMAN
PURWOKERTO
I.

2014
PENDAHULUAN

Ascariasismerupakan penyakit infeksi pada usus yang disebabkan oleh


infeksi cacing Ascaris lumbricoides. Seseorang dapat terinfeksi penyakit ini

setelah secara tidak sengaja atau tidak disadari menelan telur cacing.Anak-anak
lebih sering terinfeksi cacing ini daripada orang dewasa, kelompok usia yang
paling umum terjadi adalah 3-8 tahun. Infeksi ini cenderung terjadi lebih serius
jika anak mengalami gizi buruk. Anak sering terinfeksi akibat tidak mencuci
tangan setelah bermain di tanah yang terkontaminasi. Tanda pertama dari keadaan
ini mungkin dengan mendapatkan cacing hidup, biasanya di dalam tinja. Pada
infeksi yang berat, penyumbatan usus dapat menyebabkan sakit perut, terutama
pada anak. Penderita penyakit ini juga mungkin mengalami batuk, mengi dan
sesak, atau demam (World Health Organization, 2014).
Infeksi cacing usus merupakan infeksi kronik yang paling banyak
menyerang anak balita dan anak usia sekolah dasar. Infeksi cacing usus meningkat
pada tempat tinggal yang tidak bersih dan cara hidup tidak bersih yang merupakan
masalah kesehatan masyarakat, di pedesaan dan di daerah kumuh perkotaan di
Indonesia. Tinggi rendahnya fekuensi kecacingan berhubungan

erat dengan

kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan menjadi sumber infeksi. Diantara


cacing usus yang menjadi masalah kesehatan adalah kelompok soil transmitted
helminth atau cacing yang ditularkan melalui tanah, seperti Ascaris lumbricoides,
Trichuris trichiura dan Ancylostoma sp (cacing tambang). Di Indonesia prevalensi
kecacingan masih tinggi antara 60% 90 % tergantung pada lokasi dan sanitasi
lingkungan (Mardiana dan Djarismawati, 2008).

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Skenario Kasus
Seorang anak perempuan usia 7 tahun dibawa ibunya ke puskesmas
karena badannya semakin kurus dan tidak nafsu makan sejak 2 bulan terakhir,
kadang-kadang ada gejala diare.Sejak 2 minggu yang lalu pasien batuk-batuk
dan sesak nafas. Anak juga mengalami demam. Demam telah dirasakan hilang
timbul sejak 2 minggu yang lalu tetapi tetap tinggi selama 3 hari terakhir.
Batuknya kering dan berbunyi. 2 bulan yang lalu pernah buang air besar
disertai dengan cacing. Riwayat keringat pada malam hari di sangkal. Adik
pasien tubuhnya lebih kecil daripada anak yang lain dan mengalami buang air
besar yang cair juga. Ayah dari pasien merupakan buruh tani, dan ibunya tidak
bekerja. Keluarga pasien tinggal di daerah yang padat, kumuh, dan tidak
mempunyai jamban keluarga. Anak sering bermain di halaman tanpa
menggunakan alas kaki dan tidak mencuci tangan sebelum makan.
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : tampak lemah, compos mentis.
Tanda vital
: suhu 39,50C, nadi 120/menit, RR 20/menit, TD 80/60
mmHg
Pemeriksaan status generalis
Kepala
: conjunctivaanemis ( - ), sklera ikterik ( - )
Leher
: supel
Thorax
: Ronkhi (+/+)
Abdomen
: Abdomen tampak membuncit, hepar dan lien tidak teraba
BU positif meningkat
Ekstremitas
: Kuku panjang dan hitam
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan darah tepi
a. Hemoglobin
: 10 g/dl
b. Leukosit
: 4500
c. Hematokrit
: 32%
d. LED
: 25 mm/jam
e. Trombosit
: 250.000
f. Diff Count
: 0/15/4/25/40/6
2. Pemeriksaan feses
Pada pemeriksaan tinja didapatkan telur cacing yang membuktikan
adanya infeksi cacing pada pasien tersebut. Dilihat pada hasil pemeriksaan
mikroskopis, ditemukan gambaran telur bilayeryang berisi larva.

Morfologi telur ini merupakan telur infektif atau telur matang Ascaris
lumbricoides.

Gambar 1. Telur infektif Ascaris lumbricoides (Syamsu, 2012)


Pada hasil pemeriksaan tinja juga didapatkan hasil eritrosit,
leukosit, dan darah samar didapatkan hasil negatif yang berarti normal
serta tidak terdapatnya perdarahan pada GIT.
3. Pemeriksaan urinalisa
Pada hasil urinalisa didapatkan hasil protein (-) dan glukosa (-)
yang menunjukkan hasil normal. Dimana pasien ini tidak mengalami
gangguan ginjal.
Pada pemeriksaan sedimen
a. Leukosit
: 3-4 / LPB
b. Eritrosit
: 0/LPB
c. Silinder
: Negatif (-)

4. Pemeriksaan foto rontgen

Gambar 2.
Foto

rontgen

pasien

dengan
gambaran
infiltrat seluruh lapangan paru kiri dan kanan (Syamsu,2012)

Pada hasil foto thorax didapatkan gambaran infiltrat seluruh


lapangan paru kiri dan kanan.
5. Pemeriksaan Sputum
a. Pewarnaan gram tidak ditemukan bakteri
b. Pewarnaan tahan asam
: BTA (-)
c. Pemeriksaan KOH 10%
: Jamur (-)
d. Pewarnaan Wright/Giemsa
: Eosinofilia

B. Definisi
Ascariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing Ascaris
lumbricoides dengan manusia sebagai satu-satunya hospes. Gejala yang
timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan larva .
Gangguan karna larva biasanya terjadi pada saat berada di paru yang dapat
menimbulkan batuk, demam dan eosinofilia. Pada foto thoraks tampak infiltrat
yang hilang dalam waktu 3 minggu yang disebut sindrom loeffler. Gangguan
yang disebabkan oleh cacing dewasa seperti mual, diare dan anoreksia (Supali,
2009).
C. Etiologi dan Predisposisi
Ascariasis disebabkan oleh salah satu spesies Nematoda usus, yaitu
stadium infektif dari Ascaris lumbricoides adalah telur yang berisi larva
matang. Telur ini bentuknya oval, lebar mempunyai kulit yang tebal dengan
penutup sebelah luar manillated dan berukuran sekitar 40-60 mikroliter. Telur
ini keluar bersama tinja individu yang terinfeksi dan matang dalam 5-10 hari
pada keadaan lingkungan yang baik untuk menjadi infektif (Berhman, 2000).
Dan adapun faktor predisposisi terjadinya Ascariasis adalah sebagai
berikut(Soeharsono, 2002) :
1. Host
Pada manusia yang hygiene perorangan yang masih kurang ( jarang
cuci tangan sebelum dan sesudah makan, tidak cuci tangan pasca BAB,
kebiasaan tidak memakai alas kaki, kebiasaan jarang memotong kuku dan
status gizi dari individu)
2. Agent
Cacing dengan jumlah/potensi untuk menginfeksi
3. Environment
Lingkungan yang kumuh (jamban yang kotor, ketersediaan air
bersih yang minim, lantai rumah masih tanah, iklim tropis).

D. Epidemiologi
Iklim merupakan determinan utama dari penyebaran infeksi
Ascariasis, sehingga infeksi Ascariasis banyak ditemukan di daerah yang
beriklim tropis atau subtropis (Tiastuti, 2006). Menurut beberapa peneliatian,
kejadian infeksi Ascariasis lebih tinggi di daerah pedesaan dibandingkan
dengan perkotaan, hal ini terjadi akibat sanitasi lingkungan pedesaan belum
baik, seperti banyak masyarakat yang belum mempunyai jamban sehingga
harus membuang tinja di tanah atau di sungai (Rasmaliah, 2007).
Faktor risiko lain, terinfeksi Ascariasis adalah usia yaitu sebesar 60
-90 %, usia anak anak biasanya lebih banyak terinfeksi Ascariasis
dibandingkan orang dewasa. Hal ini disebabkan karena, anak anak belum bisa
sadar sepenuhnya tentang kebersihan (Rasmaliah, 2007).

E. Patogenesis dan Patofisiologi


Manusia dapat terinfeksi

cacing

Ascaris

lumbricoidesakibat

mengkonsumsi makan yang terkontaminasi telur cacing yang telah berembrio.


Makanan atau minuman yang terkontaminasi telur cacing yang infektif
tersebut masuk ke saluran pencernaan, di usus halus telur akan menetas
menjadi larva stadium 1 (L1), kemudian larva ini akan menembus dinding
usus menjadi larva stadium 2 (L2). Larva stadium 2 (L2) tersebut akan ke
hepar melalui vena porta dan ke ductus thoracicus melalui aliran limfe.
Melalui hapar dan ductus thoracicus larva stadium 2 (L2) akan ke jantung
kemudian menuju paru dan berganti kulit sebanyak 2 kali menjadi larva
stadium 3 (L3)(Rudolph, 2006).
Di paru parasit ini akan menyebabkan inflamasi/radang yang berakibat
berbagai manifestasi klinis, yaitu demam, eosinofilia, batuk nonproduktif,
dispneu atau sesak nafas, batuk darah akibat inflamasi yang memberat di
saluran pernafasan dan pada foto rontgent thoraks terlihat infiltrate dari gejala
gejala klinis tersebut maka disebut syndrome loeffler dan jika larva dalam
jumlah besar dapat menyebabkan pneuminitis. Larva stadium 3 (L3) yang
bermigrasi di saluran nafas akan ke faring merangsang reflex batuk melalui
alveoli, bronkiolus, bronkus karena adanya reflek batuk menyebabkan larva
tersebut tertelan dan turun lagi ke saluran pencernaan. Di usus halus/ jejunum
larva menjadi stadium 4 dan 5 (L4 dan L5) dan menjadi dewasa. Cacing
6

dewasa tersebut akan menyerap makanan sehingga menyebabkan malabsorbsi


sehingga pertumbuhan terganggu, jika jumlahnya banyak akan menyebabkan
obstruksi total/parsial sehingga peristaltic menurun dan menyebabkan
perforasi intestinal sehingga terjadi penurunan penyerapan nutrisi. Selain itu
cacing dewasa ini juga dapar bermigrasi ke kolon menyebabkan iritasi
kemudian diare, jika berat dehidrasi, migrasi ke apendiks menyebabkan
apendisitis dan migrasi ke gaster menyebabkan nyeri epigastrik, mual dan
muntah. Siklus hidup cacing Askaris membutuhkan waktu 4 8 minggu
(Rudolph, 2006).

Gambar 3. Siklus

Hidup

Cacing Ascariasis Sp

(http://www.dpd.cdc.gov/dpdx)

Makanan/minuman terkontaminasi telur cacing yang infektif


menembus usus halus menetas jadi L1

Larva menembus dinding usus jadi L2


L2 ke hepar dan ductus thoracicusjantung paru jadi L3 ( terjadi
sindrom loeffler) migrasi kesaluran nafasalveoli, bronkiolus,
bronkus faring, rangsang reflek batuk tertelan lagi

Masuk ke saluran cerna lagi, usus halus jadi L4 dan L5 kemudian


jadi dewasa, cacing dewasa menyerap makanan--.malabsorbsi
(ganguan pertumbuhan)
Migrasi ke

Jika jumlah cacing>>


obstruksi peristaltic<<,
1. Kolon iritasi diare, jika berat
perforasi
dapat terjadi dehidrasi
intestinalpenyerapan
2. Apendiks apendisitis
nutrisi<<
3. GasterBagan
nyeri1. epigastrik,
Patogenesis mual
Ascariasis (Rudolph, 2006)
muantah
F. Penegakan Diagnosis
Diagnosis ascariasis dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan
sebagai berikut :
1. Anamnesis
Umumnya

pasien

tidak

mengeluhkan

gejala

apapun

(asimptomatis). Saat gejala muncul, dapat dibagi dua yaitu fase dini
(migrasi larva) dan fase lanjut (efek mekanik). Pada fase dini (4-16 hari)
didapatkan keluhan demam, batuk nonproduktif, dispneu, dan wheezing.
Sedangkan pada fase lanjut dapat ditemukan mual, muntah, nyeri
abdomen, batuk kering, cacing yang bergerak ke anus/mulut/hidung, dan
lain-lain. Tanda dan gejala khas dari ascariasis adalah sindroma
Loeffler(demam, sesak nafas, eosinofilia, infiltrat pada foto rontgen
thorax). Kadang dapat dijumpai gejala alergik seperti urtikaria dan gatalgatal (Centers for Disease Control and Prevention, 2013).
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik umumnya dapat ditemukan nyeri tekan abdomen
difus/epigastrik, ikterik karena obstruksi bilier, ileus obstruktif, tandatanda anemia bahkan tanda-tanda apendisitis dan pankreatitis. Pada
pemeriksaan paru dijumpai wheezing, ronki, penurunan suara nafas
(Centers for Disease Control and Prevention, 2013).
3. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan penunjang hitung jenis leukosit dapat ditemukan
eosinofilia terutama pada fase pulmonal. Penegakan diagnosis gold
standard pada ascariasis adalah ditemukan cacing/telur pada feses dengan

menggunakan metode Kato-Katz (Centers for Disease Control and


Prevention, 2013).
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ascariasis dilakukan sebagai berikut.
1. Farmakologis
Terapi definitif yang direkomenadiskan untuk digunakan adalah
albendazol dan mebendazol. Kontraindikasi penggunaan obat tersebut
adalah apabila pasien berusia kurang dari lima tahun, ibu hamil trimester
pertama, dan demam. Penggunaan albendazol untuk kasus ascariasis
adalah 1x400 mg dosis tunggal peroral, sedangkan dosis mebendazol
adalah 1x500 mg. Alternatif lainnya adalah terapi dengan pyrantel pamoate
dosis 10 mg/kgBB(Kementerian Kesehatan, 2006).
2. Nonfarmakologis
Pasien dan keluarganya perlu diedukasi untuk menghindari
perilaku tidak higienis, penyuluhan mengenai tanda dan gejala penyakit
hingga pengobatannya, serta edukasi mengenai pentingnya menjaga
kebersihan perorangan dan lingkungan antara lain (Kementerian
Kesehatan, 2006):
a. Mencuci tangan dengan air dan sabun setiap sebelum makan dan
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

n.

sesudah buang air besar


Menggunakan air bersih untuk keperluan makan, minum, dan mandi
Memasak air untuk minum dan masak
Mencuci dan memasak makanan dan minuman sebelum dimakan
Mandi dan membersihkan badan paling sedikit dua kali sehari
Memotong dan membersihkan kuku
Memakai alas kaki bila berjalan di tanah
Memakai sarung tangan apabila melakukan kegiatan yang
berhubungan dengan tanah
Menutup makanan dengan tudung saji
Membuang tinja di jamban
Jangan membuang tinja, sampah, atau kotoran di sungai
Mengusahakan pengaturan pembuangan air kotor
Membuang sampah pada tempatnya untuk menghindari lalat dan lipas
Menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya

3. Contoh Penulisan Resep


Contoh penulisan resep untuk ascariasis adalah sebagai berikut
Dr. dr. Demi Lovato, Sp. A (K)
SIP. 1992/08/20/IDI/2014
Klinik Sehat Cantik
Jalan Soeparto 22 Baturraden
Purwokerto, 4 November 2014
R/ pyrantel pamoate tab 125 mg No. II
1 dd tab II
R/ paracetamol tab mg 500 No. X
prn (3 dd tab I) pc (febris)
R/ dextromethorphan hydrobromide syr 15mg/5mL lag No. I
prn (3 dd cth V) pc (tussis)

Pro

: An. Elsa

10

Usia

: 7 tahun

BB

: 25 kg

11

KESIMPULAN
Pasien ini didiagnosa ascariasis dengan sindroma Loffler. Ascariasis
adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides dengan
manusia sebagai satu-satunya hospes.Faktor resiko yang diduga menjadi
penyebab infeksi ascaris pada anak ini ialah lingkungan tempat tinggal yang
kumuh serta gaya hidup dan kebiasaan anak ini yang sering bermain di tanah
tanpa alas kaki dan tidak mencuci tangan sebelum makan. Daur

hidup

ascaris

yang juga memiliki siklus paru dapat menimbulkan gangguan paru pada pasien
ini, dimana ditemukan suara wheezing saat auskultasi paru dan pada hasil foto
thorax didapatkan gambaran infiltrat seluruh lapangan paru kiri dan kanan. Terapi
definitif yang direkomenadiskan untuk digunakan adalah albendazol dan
mebendazol sebagai obat anti cacing serta diberikan edukasi terhadap kebersihan
lingkungan dan gaya hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA

Berhman, RE., Kliegman, RM., Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi
15 Volume 2. Jakarta: EGC

12

Centers for Disease Control and Prevention. 2013. Parasites Ascariasis. Dapat
diakses di: http://www.cdc.gov/parasites/ascariasis/ (Diakses 4 November
2014).
Kementerian Kesehatan. 2006. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No. 424/Menkes/SK/VI/2006.Jakarta: Kementerian Kesehatan.
Mardiana and Djarismawati. 2008. Helminthiosis Prevalence Among Compulsory
Learning of Public School Children In The Slum Areas Of Poverty
Elimination Integrated Program in Jakarta Province. Jurnal Ekologi
KesehatanVol. 7 No. 2.
Rasmaliah. 2007. Ascariasis Sebagai Penyakit Cacing Yang Perlu Diingatkan
Kembali. Sumatra Utara: Universitas Sumatra Utara
Rudolph, Abraham M. dkk. 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph. Edisi 20. Volume
1. Jakarta : EGC.
Soeharsono. 2002. ZOONOSIS Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia.
Yogyakarta : Kanisius
Supali, T., Margono S., Sutanto I., Ismid I ., Sjarifuddin P., Sungkar S.
2009.Parasitologi kedokteran. Jakarta : Universitas Indonesia
Syamsu,

Yohandromeda. 2012.Ascariasis, Respons IgE dan Upaya


Penanggulangannya. Program Studi Imunologi Program Pasca Sarjana
Universitas Airlangga.

Tiastuti, Surip. 2006. Infeksi Soil Transmitted Helminth : Ascariasis, Trichuriasis,


dan Cacing Tambang. Universa Mediana. Vol 25 (2)
World Health Organization (WHO). Water related diseases: Ascariasis.
Communicable Diseases (CDS) and Water, Sanitation and Health unit
(WSH).Available at URL :
http://www.who.int/water_sanitation_health/diseases/ascariasis/en/.
Accessed on November 2014.

13