Anda di halaman 1dari 6

CEKUNGAN

BARITO
DISUSUN OLEH:
NENDEN LESTARI S
131101177
KELAS B

TEKTONIK DAN STRATIGRAFI CEKUNGAN BARITO

SECARA TEKTONIK CEKUNGAN BARITO TERLETAK PADA BATAS BAGIAN TENGGARA DARI SCHWANNERSHIELD,
KALIMANTAN SELATAN. CEKUNGAN INI DIBATASI OLEH TINGGIAN MERATUS PADA BAGIAN TIMUR DAN PADA
BAGIAN UTARA TERPISAH DENGAN CEKUNGAN KUTAI OLEH PELENTURAN BERUPA SESAR ADANG, KE SELATAN
MASIH MEMBUKA KE LAUT JAWA, DAN KE BARAT DIBATASI OLEH PAPARAN SUNDA.
CEKUNGAN BARITO MERUPAKAN CEKUNGAN ASIMETRIK, MEMILIKI CEKUNGAN DEPAN (FOREDEEP) PADA BAGIAN
PALING TIMUR DAN BERUPAPLATFORM PADA BAGIAN BARAT. CEKUNGAN BARITO MULAI TERBENTUK PADA
KAPUR AKHIR, SETELAH TUMBUKAN (COLLISION) ANTARAMICROCONTINENT PATERNOSTER DAN BARAT DAYA
KALIMANTAN (METCALFE, 1996; SATYANA, 1996).
PADA TERSIER AWAL TERJADI DEFORMASI EKSTENSIONAL SEBAGAI DAMPAK DARI TEKTONIK KONVERGEN, DAN
MENGHASILKAN POLARIFTING BARAT LAUT TENGGARA.RIFTINGINI KEMUDIAN MENJADI TEMPAT
PENGENDAPAN SEDIMENLACUSTRINEDAN KIPAS ALUVIAL (ALLUVIAL FAN) DARI FORMASI TANJUNG BAGIAN
BAWAH YANG BERASAL DARI WILAYAHHORSTDAN MENGISI BAGIANGRABEN, KEMUDIAN DIIKUTI OLEH
PENGENDAPAN FORMASI TANJUNG BAGIAN ATAS DALAM HUBUNGAN TRANSGRESI.
PADA AWAL OLIGOSEN TERJADI PROSES PENGANGKATAN YANG DIIKUTI OLEH PENGENDAPAN FORMASI BERAI
BAGIAN BAWAH YANG MENUTUPI FORMASI TANJUNG BAGIAN ATAS SECARA SELARAS DALAM HUBUNGAN
REGRESI. PADA MIOSEN AWAL DIKUTI OLEH PENGENDAPAN SATUAN BATUGAMPING MASIF FORMASI BERAI.
SELAMA MIOSEN TENGAH TERJADI PROSES PENGANGKATAN KOMPLEKS MERATUS YANG MENGAKIBATKAN
TERJADINYA SIKLUS REGRESI BERSAMAAN DENGAN DIENDAPKANNYA FORMASI WARUKIN BAGIAN BAWAH, DAN
PADA BEBERAPA TEMPAT MENUNJUKKAN ADANYA GEJALA KETIDAKSELARASAN LOKAL (HIATUS) ANTARA FORMASI
WARUKIN BAGIAN ATAS DAN FORMASI WARUKIN BAGIAN BAWAH.
PENGANGKATAN INI BERLANJUT HINGGA AKHIR MIOSEN TENGAH YANG PADA AKHIRNYA MENGAKIBATKAN
TERJADINYA KETIDAKSELARASAN REGIONAL ANTARA FORMASI WARUKIN ATAS DENGAN FORMASI DAHOR YANG
BERUMUR MIOSEN ATAS PLIOSEN.
TEKTONIK TERAKHIR TERJADI PADA KALA PLIO-PLIESTOSEN, SELURUH WILAYAH TERANGKAT, TERLIPAT, DAN
TERPATAHKAN. SUMBU STRUKTUR SEJAJAR DENGAN TINGGIAN MERATUS. SESAR-SESAR NAIK TERBENTUK
DENGAN KEMIRINGAN KE ARAH TIMUR, MEMATAHKAN BATUAN-BATUAN TERSIER, TERUTAMA DAERAH-DAERAH

STRATIGRAFI CEKUNGAN BARITO


1.

Formasi Tanjung (Eosen Oligosen Awal)

Formasi ini disusun oleh batupasir, konglomerat, batulempung, batubara, dan basalt. Formasi Tanjung
diperkirakan mempunyai lingkungan pengendapan delta sampai laut dangkal. Di atasnya diendapkan
secara selaras Formasi Berai yang bersilang jari dengan Formasi Montalat.

2. Formasi Berai (Oligosen Akhir Miosen Awal)


Formasi Berai disusun oleh batugamping berselingan dengan batulempung / serpih di bagian bawah,
di bagian tengah terdiri dari batugamping masif dan pada bagian atas kembali berulang menjadi
perselingan batugamping, serpih, dan batupasir. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan lagoonneritik tengah dan menutupi secara selaras Formasi Tanjung yang terletak di bagian bawahnya. Kedua
Formasi Berai, dan Tanjung memiliki ketebalan 1100 m pada dekat Tanjung.

3. Formasi Warukin (Miosen Bawah Miosen Tengah)


Formasi Warukin diendapkan di atas Formasi Berai dan ditutupi secara tidak selaras oleh
Formasi Dahor. Sebagian besar sudah tersingkap, terutama sepanjang bagian barat Tinggian
Meratus, malahan di daerah Tanjung dan Kambitin telah tererosi. Hanya di sebelah selatan
Tanjung yang masih dibawah permukaan. Formasi ini terbagi atas dua anggota, yaitu
Warukin bagian bawah (anggota klastik), dan Warukin bagian atas (anggota batubara).
Kedua anggota tersebut dibedakan berdasarkan susunan litologinya. Warukin bagian bawah
(anggota klastik) berupa perselingan antara napal atau lempung gampingan dengan sisipan
tipis batupasir, dan batugamping tipis di bagian bawah, sedangkan dibagian atas merupakan
selang-seling batupasir, lempung, dan batubara. Batubaranya mempunyai ketebalan tidak
lebih dari 5 m., sedangkan batupasir bias mencapai ketebalan lebih dari 30 m. Warukin
bagian atas (anggota batubara) dengan ketebalan maksimum 500 meter, berupa
perselingan batupasir, dan batulempung dengan sisipan batubara. Tebal lapisan batubara
mencapai lebih dari 40 m, sedangkan batupasir tidak begitu tebal, biasanya mengandung air
tawar. Formasi Warukin diendapkan pada lingkungan neritik dalam (innerneritik) deltaik
dan menunjukkan fasa regresi.

4. Formasi Dahor (Miosen Atas Pliosen)


Formasi ini terdiri atas perselingan antara batupasir, batubara, konglomerat, dan serpih yang
diendapkan dalam lingkungan litoral supra litoral.

LOKASI DAERAH PENYELIDIKAN

Lokasi Daerah Penyelidikan

Stratigrafi Daerah Penyelidikan

Lapisan 1
Lapisan ini ditemukan pada singkapan dengan panjang 12.300 m tebal rata-rata 1,20 m dan kemiringan
rata-rata 150 merupakan sayap sebelah timur dari antiklin Mihau. Lapisan ini terpotong oleh sebuah sesar
geser yang berarah hampir Barat-Timur, lapisan ini ke arah Utara berubah menjadi batulempungbatubaraan (Lokasi S4) sedangkan ke selatan lapisan ini kemungkinan terpotong oleh sesar geser.
Lapisan 2
Lapisan ini ditemukan pada singkapan dengan panjang 3200 m tebal rata-rata 1,0 m dan kemiringan ratarata 100 merupakan sayap sebelah Timur dari antiklin Mihau. Lapisan ini terdiri atas dua lapis batubara
dengan interseam batulempung 1,0m. Lapisan ini ke sebelah utara maupun ke sebelah selatan
Lapisan 3
penyebarannya tidak menerus
Lapisan ini ditemukan pada singkapandengan panjang 6500 m tebal rata-rata 1,65 m dan kemiringan ratarata 150 merupakan sayap sebelah timur dari Sinklin Kalinggai. Lapisan ini ke sebelah Utara maupun ke
Lapisan
4
sebelah Selatan
penyebarannya tidak menerus.
Lapisan ini ditemukan pada singkapan dengan panjang 7000 m tebal rata-rata 2,10 m dan kemiringan ratarata 150 merupakan sayap sebelah Barat dari Sinklin Kalinggai. Lapisan ini ke sebelah Utara maupun ke
sebelah Selatan penyebarannya tidak menerus. Lapisan 4 ini diperkirakan sebagai lapisan yang sama
dengan
3 tetapi berada pada sayap sinklin yang lain.
Lapisanlapisan
5
Lapisan ini ditemukan pada singkapan dengan panjang 4500 m. Lapisan ini dibagi lagi menjadi lapisan 5A,
5B dan 5C dengan ketebalan 1,60 m, 1,00 m dan 2,10 m dan kemiringan rata-rata 150 merupakan sayap
sebelah Barat
dari antiklin Panaan.
Lapisan
6
Lapisan ini ditemukan pada singkapan-singkapan PA05 dengan panjang 2000 m tebal rata-rata 1,65 m dan
kemiringan rata-rata 150 merupakan sayap sebelah timur dari Antiklin Panaan. Lapisan ini ke sebelah Utara
maupun ke sebelah Selatan penyebarannya tidak menerus.
Lapisan 7
Lapisan ini ditemukan pada singkapan-singkapan PA07 dengan panjang 2000 m tebal rata-rata 1,65 m dan
kemiringan rata-rata 150 merupakan sayap sebelah Barat dari Antiklin Panaan. Lapisan ini ke sebelah Utara
maupun ke sebelah Selatan penyebarannya tidak menerus.
Lapisan 8
Lapisan ini ditemukan pada singkapan-singkapan MI01 dengan panjang 2000 m tebal rata-rata 1,65 m dan
kemiringan rata-rata 150 merupakan sayap sebelah Barat dari Antiklin Panaan. Lapisan ini ke sebelah Utara
maupun ke sebelah Selatan penyebarannya tidak menerus.

KESIMPULAN
DARI PENYELIDIKAN DI LAPANGAN, DAPAT DIAMBIL BEBERAPA KESIMPULAN SEBAGAI BERIKUT:
1. FORMASI PEMBAWA BATUBARA DI DAERAH PENYELIDIKAN ADALAH FORMASI TANJUNG
2. BERDASARKAN ANALISA BATUBARA DI DAERAH PENYELIDIKAN BAIK DI LAPANGAN MAUPUN
HASIL REKONSTRUKSI DAPAT DIKELOMPOKKAN MENJADI 8 LAPISAN YANG DIBERI NAMA
LAPISAN 1 8.
3. KUALITAS BATUBARA PADA FORMASI TANJUNG ADALAH SUB-BITUMINUS.
4. SUMBERDAYA BATUBARA DIDAERAH PENYELIDIKAN CUKUP POTENSIA UNTUK
DIKEMBANGKAN LEBIH LANJUT.
5. JUMLAH SUMBERDAYA TEREKA BATUBARA YANG TERDAPAT DI DAERAH PENYELIDIKAN
ADALAH 21.681.431 TON.
DAFTAR PUSTAKA
Bachtiar, A., 2006, Slide Kuliah Geologi Indonesia, Prodi Teknik Geologi, FITB-ITB
Cahyono. J A E. dan Dahlan Ibrahim, (1990), Penyelidikan pendahuluan batubara di daerah Muara Uya dan sekitarnya, Direktorat sumberdaya Mineral.
Bandung.
Heryanto.R dan Sanyoto.P ,(1994), Peta Geologi lembar Amuntai Skala 1:250.00, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.Bandung
Satyana, A.H., 2000, Kalimantan,An Outline of The Geology of Indonesia, Indonesian Association of Geologists, p.69-89.