Anda di halaman 1dari 4

Keragaan Spermatozoa

Performances of Spermatozoa
Audry Rut Patricia Tambunan (C24130038)*
Manajemen Sumberdaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor
2015
Abstrak
Motilitas sangat penting dalam fungsi gamet jantan dengan keaktifan spermatozoa dan
penetrasi dari gametnya dalam suatu organisme dengan fertilisasi internal dan eksternal. Aktivitas
seksual ikan secara umum musiman dan fertilisasi diluar. Aktivitas seksual ikan secara umum
musiman dan fertilisasi diluar. Sperma tidak sama dengan gonad sampai dengan kedalam media
eksternal pada ikan air tawar maupun ikan air laut. Sperma ikan terlihat berbeda dari bentuk dan
strukturnya. Penambahan bahan pengencer dalam semen ikan akan meningkatkan volume semen
sehingga memungkinkan cukup banyak. Bahan pengencer yang digunakan harus isotonik,
mengandung nutrisi sebagai sumber energi, adanya pelarut pelindung terhadap cold shock, menjamin
bebas kuman, bersifat buffer, dan tidak beracun bagi spermatozoa. Praktikum ini bertujuan untuk
mengetahui motilitas (daya gerak), daya hidup, dan mortalitas (tingkat kematian) sperma ikan setelah
mengalami beberapa perlakuan berbeda.
Kata kunci

: Motilitas, Mortalitas, Pengencer, Sperma,


Abstract

Motility is very important in the function of the male gametes with liveliness and
penetration of spermatozoa from gamet in an organism with internal and externalfertilization. Sexual
activity in
General and seasonal fish fertilization outside. Sexual
activity in
General and seasonal fish fertilization outside. Sperm does
not
correspond
to gonads up
to external media into the fresh water fish and sea water fish. Sperm fishlooks different from its form
and structure. The addition of diluent in the fish willincrease the volume of cement stucco so as to
allow quite a lot. The diluentingredients used must be isotonik, contains nutrients as an energy
source, the existence of a protective solvent against cold shock, guarantee free of germs, is the buffer,
and is not toxic to spermatozoa. Practical work is aimed at knowing the motility(impulse), vitality,
and mortality rate (death rate) of fish sperm after experiencingseveral different treatment.
Key words

: Diluent, Mortality, Motility, Sperm

PENDAHULUAN
Motilitas sangat penting dalam fungsi
gamet jantan dengan keaktifan spermatozoa
dan penetrasi dari gametnya dalam suatu
organisme dengan fertilisasi internal dan
eksternal. Aktivitas seksual ikan secara umum
musiman dan fertilisasi diluar. Sperma tidak
sama dengan gonad sampai dengan kedalam
media eksternal pada ikan air tawar maupun
*Kelompok VI

ikan air laut. Sperma ikan terlihat berbeda dari


bentuk dan strukturnya. Hal tersebut tidak
konstruksi sebuah model spermatik dari ikan
(Islam dan Akhter 2011).
Kualitas sperma (persentase hidup,
motilitas, dan lama hidup) akan terus menurun
setelah dikeluarkan dari tubuh ikan (Rustidja
2000). Penambahan bahan pengencer akan
menciptakan kondisi yang sesuai bagi

spermatozoa. Penyimpanan spermatozoa di


luar tubuh ikan dapat menjamin kebutuhan
fisik dan kimia spermatozoa sehingga dapat
bertahan dalam jangka waktu tertentu (Sutoyo
2000 in Condro 2012).
Penambahan bahan pengencer dalam
semen ikan akan meningkatkan volume semen
sehingga memungkinkan cukup banyak.
Bahan pengencer yang digunakan harus
isotonik, mengandung nutrisi sebagai sumber
energi, adanya pelarut pelindung terhadap cold
shock, menjamin bebas kuman, bersifat buffer,
dan tidak beracun bagi spermatozoa. Selain itu
pengencer hendaknya murah, sederhana,
praktis dibuat tetapi memiliki daya preservasi
yang tinggi (Styono 2009).
Praktikum
ini
bertujuan
untuk
mengetahui motilitas (daya gerak), daya hidup,
dan mortalitas (tingkat kematian) sperma ikan
setelah mengalami beberapa perlakuan
berbeda.

akuades pada sperma yang diamati di bawah


mikroskop.
Perlakuan-perlakuan
yang
diberikan pada sperma adalah pengenceran
dengan akuades, larutan fisiologis, air kelapa
muda, dan tanpa pengenceran serta
penyimpanan pada suhu kamar dan suhu 4oC.
Pastikan botol film dalam kondisi tertutup
rapat selama waktu penyimpanan. Setelah satu
jam penyimpanan, amati motilitas, daya hidup,
dan mortalitas sperma di bawah mikroskop.
Cara mengaktifkan sperma, beri satu tetes
akuades pada sperma yang diamati di bawah
mikroskop. Bandingkan datta tersebut antar
perlakuan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berikut merupakan tabel-tabel hasil dari
perlakuan terhadapa keragaan spermatozoa
yang telah diamati :
Tabel 1. perlakuan pengenceran (larutan fisiologis)

METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum Fisiologi Hewan Air dilaksanakan
pada hari Senin, 13 Mei 2015 pukul 07.0010.00 di Laboratorium Fisiologi Hewan Air,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini
adalah ikan mas jantan matang gonad,
aquades, larutan fisiologis, air kelapa muda,
kotak sterofoam, gel ice, es batu, tube, pipet,
gelas objek, mikroskop, kertas label, dan
lap/tissue.
Prosedur Kerja
Pilih ikan mas jantan yang matang gonad.
Ambil ikan dari media air, keringkan tubuh
ikan hingga kering dan bersih dari air dan
lendir (air dan lendir dapat mengkontaminasi
sperma ikan yang akan di uji cobakan).
Lakukan pengurutan (stripping) pada perut
ikan dari arah anterior ke posterior sampai
sperma keluar melalui lubang kloaka.
Kumpulkan dan bagi sperma dan tabung dalam
5 buah tube, masing-masing sebanyak 0,5 ml.
Ambil sampel sperma pada tube pertama untuk
pengamatan awal (amati motilitas, daya hidup,
dan mortalitas sperma di bawah mikroskop).
Cara mengaktifkan sperma, beri satu tetes
*Kelompok VI

ulangan
1
2

motilitas
5
5

daya hidup
0.2
6

mortalitas
60%
20%

1.00

50%

4
5

5
0

12
0

10%
100%

Pada perlakuan pengenceran menggunakan


larutan fisiologis didapatkan motilitas 5 lebih
mendominasi yaitu semua sperma bergerak
sangat cepat dengan pergerakan ekor
bervariasi dan pada ulangan ketiga motiliasnya
juga menunjukkan banyak sperma bergerak
cepat dan yang lain bergetar di tempat. Dan
diulangan kelima spermatozoa sudah tidak
bergerak dan bergetar.
tabel 2 . Perlakuan pengenceran (air
kelapa)
ulangan motilitas daya hidup
1
0
0

mortalitas
100%

2
3

5
0.5

0.16
0.3

50%
80%

0
0.5

0
0.38

100%
70%

Pada perlakuan air kelapa didapatkan motilitas


antara 0, 0.5 dan 5. Hal ini menunjukkan
bahwa spermatozoa yang diberi larutan air
kelapa akan mengalami hal yang sama dengan

sebelumnya namun pada ulangan 3 dan 5


didapatkan banyak sperma yang tidak bergerak
dan sangat sedikit sekali sperma yang bergetar,
kadang-kadang terlihat bergerak lemah.
tabel 3. perlakuan air es
ulangan motilitas
1
5
2
0

daya hidup
0.4
0

mortalitas
600%
100%

3
4

5
5

6
0.16

20%
50%

1.00

30%

Pada perlakuan air es terjadi pergerakan


sperma yang sangat cepat dengan pergerakan
ekor yang bervariasi namun pada ulangan
kedua adanya semua sperma yang tidak
bergerak maupun bergetar.
tabel 4. perlakuan suhu ruang
ulangan motilitas
daya hidup

mortalitas

1
2
3

3
5
0

17
12
0

80%
10%
100%

0
3

0
3.2

100%
50%

Pada Perlakuan suhu ruangan mengalami


motilitas yang beragam diantaranya 0, 3, dan
5. Dan pada ulangan ketiga dan keempat
semua sperma tidak bergerak dan bergetar
lagi.
Pengamatan yang dilakukan dengan
menggunakan mikroskop dengan perbesaran
100x untuk menghitung lama pergerakan masa
sperma mulai dari bergerak hingga berhenti
bergerak. Pengamatan lama gerak dinyatakan
dalam detik, pemeriksaan terhadap sperma
dilakukan baik pada sperma yang baru
dikeluarkan ataupun perlakuannya (Alinaya et
al. 2013). Pengamtan ketahanan hidup
spermatozoa dilakukan seiring dengan
dilakukannya pengamatan persentase hidup
dan lama gerak (motilitas) yaitu dengan cara
menghitung sampai berapa lama spermatozoa
dapat bertahan hidup dalam waktu yang
diperlakukan. Hardjopranoto (1995) dalam
Solichah (2009) menyatakan bahwa protein
yang tinggi dalam pakan/larutan dapat
meningkatkan volume, konsentrasi, dan
jumlah spermatozoa yang hidup. Frekuensi
pengambilan spermatozoa mempengaruhi
*Kelompok VI

konsentrasi sperma, hal tersebut dikarenakan


spermatozoa memiliki waktu tertentu untuk
proses spermatogenesis sehingga julah
spermatozoa berkurang/mati jika frekuensi
pengambilan sperma terlalu dekat.
Media pengencer harus isotonik
terhadap sperma. Larutan pengencer yang
bersifat hipotonik ataupun hipertonik akan
mempengaruhi metabolisme spermatozoa,
khususnya
membran
sel
bersifat
semipermeabel, sehingga larutan pengencer
baik yang bersifat hipotonik maupun
hipertonik akan mempengaruhi transfer air
melalui membran sel dan menyebabkan
rusaknya integritas sel (Sutoyo 2000 in Condro
2012). Menurut Suquest (1994) in Condro
(2012) menyatakan bahwa durasi motilitas
pada ikan air tawar terjadi dalam periode yang
sangat pendek, pergerakan aktif spermatozoa
ikan sekitar 1-2 menit dan tidak ada lagi
pergerakan setelah 5 menit.
Hal ini perlu dilakukan, karena kualitas
sperma mampu mensukseskan fertilisasi dalam
telur ikan dan proses perkembangan embrio
secara normal. Sehingga dalam menganalisa
kualitas sperma mampu memprediksi estimasi
dari perkembangan dari keragaan sperma
ketika di luar tubuh ikan. Hal tersebut ditelaah
dengan mengetahui kualitas sperma yang
dihasilkan (Bobe dan Labbe 2009).
KESIMPULAN
Perlakuan yang diberikan menggambarkan
nilai suatu keragaan pada spermatozoa ikan
dengan mencakup tingkat mortalitas (%) yang
tinggi dari semakin bertambahnya (lamanya)
waktu maka akan menurunkan nilai daya
hidup dan angka motilitasnya. Keragaan
spermatozoa dengan baik ditunjukkan pada
larutan fisiologis dan keragaan spermatozoa
yang kurang baik ditunjukkan pada larutan
pengenceran dengan air kelapa. Hal tersebut
dilihat dari tingkat dari motilitas (daya gerak),
daya hidup, dan mortalitas (tingkat kematian)
sperma ikan setelah mengalami beberapa
perlakuan yang berbeda
SARAN
Praktikum
selanjutnya
diharapkan
menggunakan ikan yang beraneka ragam
jenisnya agar bisa lebih banyak mengetahui
tingkat toleransi ikan-ikan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Alinaya M. et al. 2013. Influence of age of
common carp (Cyprinus carpio)
broodstock on reproductive traits and
fertilization. Jurnal. Islamic Azad
University of Lahijan, Departement
of Fisheries Science, Faculty of
Natural Resiurces, International
Sturgeon Research Institute.

Bobe J. dan Labbe C. 2009. Egg and


sperm quality in fish. Jurnal.
INRA, Ouest-Genopole, France.
Condro

H. et al. 2012. Pengaruh


penambahan madu pada media
pengencer NaCl
fisiologis
dalam
proses
penyimpanan
sperma terhadap kualitas sperma
ikan komet (Carassius auratus
auratus).
Jurnal.
Fakultas
Perikanan
dan
Kelautan,
Universitas Airlangga.

Islam M.S. dan Akhter T. 2011. Tale of


fish sperm and factors affecting
sperm
motility: a review.
Jurnal. Departement of Fisheries
Biology and Genetics, Bangladesh
Agricultural
University,
Mymensingh, Bangladesh.
Rustidja. 2000. Prospek Pembekuan
Sperma Ikan. Malang: Fakultas
Perikanan Brawijaya Malang.
Solichah A. 2009. Pengaruh konsentrasi
tris amino methan yang berbeda
dalam
pengencer
tris
kuning
telur
dan
lama
penyimpanan terhadap motilitas
spermatozoa ikan mas (Cyprinus
carpio L.). Skripsi. Jurusan
Biologi.
Fakultas Sains dan
Teknologi. Universitas Islam
Negeri Malang, Malang.

*Kelompok VI

Styono B. 2009. Pengaruh perbedaan


konsentrasi
bahan
pada
pengencer sperma ikan skim
kuning telur terhadap laju
fertilisasi, laju penetasan dan
sintasan ikan mas (Cyprinus
carpio L.). Jurnal. Fakultas
Pertanian
dan
Peternakan,
Universitas
Muhammadiyah
Malang.

LAMPIRAN