Anda di halaman 1dari 13

PENGERINGAN

A. TUJUAN
1. Menentukan koefisian transfer masa pada proses pengeringan zat padat
2. Mencari hubungan antara kadar air (x) dengan waktu pengeringan
3. Mencari hubungan kecepatan pengeringan (R) dengan waktu pengerigan (t)
4. Mencari hubungan kecepattan pengeringan (R) dengan kadar air (x)
5. Mahasiswa dapat menggambarkan dan membandingkan laju pengeringan pada kayu
dengan luas permukaan, panjang dan massa berbeda.
B. DASAR TEORI
Pengeringan benda padat bertujuan untuk mengurangi kadar air. Kecepatan
pengeringan ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya adalah luas transfer massa/
massa aktif (A), suhu udara kering (Td), dan kelembaban udara (H), jumlah kandungan
air dalam padatan dan tekanan. Apabila thermometer air raksa bola Hg-nya dibasahi
dengan air dan dibiarkan dalam udara, maka airnya akan menguap. Panas untuk
penguapan mula- mula diambil dari Hg air dan udara. Setelah kesetimbangan tercapai
panas untuk penguapan diambil dari udara. Jumlah panas yang dipindahkan dari udara ke
benda basah dinyatakan dalam perssamaan.
Pada umumnya proses pengeringan dibagi menjadi 2 tahap, yaitu : tahap pertama
dengan laju pengeringan yang konstan dan tahap kedua dengan laju pengeringan yang
menurun.
Pada tahap pertama, cairan pada permukaan partikel menguap dengan segera secara
merata, sebagai akibatnya terjadi penurunan kelembaban dalam partikel dan akan
berpindah dari bagian dalam partikel ke permukaan secara difusi.
Tahap pengeringan kedua dimulai ketika cairan yang berasal dari bagian dalam
partikel telah cukup membaahi permukaan dengan batas terjadinya penguapan kemudian
bergerak masuk kedalam partikel cairan harus berdifusi dalam bentuk uap agar dapat
menembu lapian- lapisan bahan telah mengering, maka tekanan bear dan laju
pengeringan menurun.
Transfer massa adalah gerakan molekul-molekul atau elemen fluida yang disebabkan
karena adanya sesuatu gaya pendorong (Hardjono, 1989). Beda konsentrasi, beda
tekanan, dan beda suhu merupakan gaya pendorong dalam proses transfer massa.
Bila suatu zat padat dikontakan dengan udara yang kelembabannya lebih rendah dari
kandungan kebasahan zat padat, zat padat akan melepaskan sebagian dari kebasahan dan

mengering sampai seimbang dengan udara. Bila udara lebih lembab dari zat padat yang
berada dalam kesetimbangan dengan udara akan menyerap kebasahan dari udara
sehingga tercapai kesetimbangan (McCabe, 1993).
Pada umumnya, pengeringan zat padat adalah pemisahan sejumlah kecil air atau zat
cair lain dari bahan padat, sehingga mengurangi kandungan zat cair di dalam zat padat
itu sampai suatu nilai terendah. Pengeringan bia saja merupakan langkah terakhir dari
serangkaian

operasi, dan hasil dari pengeringan biasanya merupakan suatu bahan

padatan yang siap untuk dikemas.


Pengeringan (drying) zat padat berarti pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair lain
dari bahan padat, sehingga mengurangi kandungan sisa zat cair didalam padat itu sampai
suatu nilai rendah yang dapat diterima (McCabe, 1993).
Pengeringan merupakan suatu cara mengurangi kandungan air suatu bahan dengan
jalan memasukannya ke dalam alat pengering atau oven, sehingga terjadi pengupan dari
zat cair yang ada dalam bahan tersebut. Tidak semua pengeringan dilakukan dengan
oven. Ada beberapa cara pengeringan atau menghilangkan air yang tidak termasuk dalam
operasi pengeringan yaitu dengan cara penekanan atau pemusingan (Treyball, 1981).
Operasi pengeringan secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua golongan yaitu
pengeringan terputus-putus (batch) dan pengeringan kontinyu. Di dalam pengeringan
terputus-putus, bahan yang dikeringkan berada pada suatu tempat tertentu di dalam alat
pengering, sedangkan udara secara terus menerus mengalir melaluinya dan menguapkan
air dari bahan yang dikeringkan. Dalam pengeringan kontinyu, baik bahan yang
dikeringkan dan udara, keduanya bergerak secara terus-menerus di dalam alat pengering.
Proses pengeringan berdasarkan kondisi fisik yang digunakan untuk memberikan
panas pada sistem dan memindahkan uap air dapat dibagi menjadi 3, yaitu :
a. Pengeringan kontak langsung
Menggunakan uadra panas sebagai medium pengeringan pada tekanan atmosferik.
Pada proses ini, uap yang terbentuk terbawa oleh udara.
b. Pengeringan vakum
Menggunakan logam sebagai medium pengontak panas atau menggunakan efek
radiasi. Pada proses ini penguapan air berlangsung cepat pada tekanan rendah.
c. Pengeringan beku
Pengeringan yang melibatkan proses sublimasi air dari suatu material beku.
Faktor yang mempengaruhi pengeringan ada 2 golongan, yaitu: faktor yang
berhubungan dengan udara pengeringan (suhu, kecepatan volumetrik aliran udara

pengering, kelembaban udara), dan faktor yang berhubungan dengan sifat bahan (ukuran
bahan, kadar air awal, tekanan parsial dalam bahan)
Mekanisme Pengeringan
Ketika bahan basah dikeringkan secara termal, ada 2 proses yang berlangsung secara
simultan, yaitu:
a. Perpindahan energi dari lingkungan untuk menguapkan air yang terdapat di
permukaan benda padat.
Perpindahan energi dari lingkungan ini dapat berlangsung secara konduksi,
konveksi, radiasi, atau kombinasi dari ketiganya. Proses ini dipengaruhi oleh
temperatur, kelembaban, laju dan arah aliran udara, bentuk fisik padatan, luas
permukaan kontak dengan udara dan tekanan. Proses ini merupakan proses penting
selama tahap awal pengeringan ketika air tidak terikat dihilangkan. Penguapan yang
terjadi pada permukaan padatan dikendalikan oleh peristiwa difusi uap dari
permukaan padatan ke lingkungan melalui lapisan film tipis udara.
b. Perpindahan massa air yang terdapat didalam benda ke permukaan
Ketika terjadi penguapan pada permukaan padatan, terjadi perbedaan
temperatur sehingga air mengalir dari bagian dalam benda menuju ke permukaan
bahan padat.Benda padat basah yang diletakkan dalam aliran gas kontinyu akan
kehilangan kandungan air sampai saat tekanan uap di dalam padatan sama dengan
tekanan parsial uap air dalam gas. Keadaan ini disebut equilibrium dan kandungan air
yang berada dalam padatan disebut equilibrium moisture content. Pada keseimbangan,
penghilangan air tidak akan terjadi lagi kecuali apabila material diletakkan pada
lingkungan (gas) dengan relative humidity yang lebih rendah (tekanan parsial uap air
yang lebih rendah).
Kecepatan pengeringan dipengaruhi oleh:
a. Luas transfer massa (A)
b. Kelembaban (H)
c. Tekanan (P)

Dalam proses pengeringan dapat dibuat suatu kurva hubungan sebagai berikut:
a. Hubungan antara kadar air (X) dan waktu pengeringan (t)

(Fig 6-12, Hardjono, 1989)


Gambar B.1 Kurva hubungan antara kadar air (X) dengan waktupengeringan (t)
Keterangan :
A

: Daerah permukaan bagian atas yang basah

A B : Periode yang terjadi setelah analisa pengeringan


B C : Daerah bagian kecepatan yang konstan, setelah ditambah kelembabannya
C D : Periode pengeringan mendekati jenuh
D E : Daerah pada saat kecepatan pengeringan mulai menurun lebih cepat dari sebelumnya
E

: Daerah dimana kadar

air bahan padat sudah mendekati kandungan air pada

kesetimbangan, setelah pengeringan dapat dihentikan dapat dihentikan karena


keadaan telah konstan.
Dari grafik dapat dapat diketahui bahwa semakin lama waktu pengeringan (t) yang
dilakukan maka semakin berkurang kadar air (X) dalam suatu bahan.
b. Hubungan kecepatan pengeringan (R) dengan kadar uap air (X)

(Fig 6-13, Hardjono, 1989)


Gambar B.2 Kurva hubungan antara kecepatan pengeringan (R) dengan kadar uap air (X)
Keterangan :

A B : Kecepatan pengeringan mungkin naik atau turun tergantung kandungan airnya.


B

: Kecepatan pengeringan konstan.

B C : Proses pngeringan terjadi, yaitu cairan yang terdapat dalam bahan padat teruapkan
C D : Periode dimana kadar air makin kecil
c. Hubungan antara kecepatan pengeringan (R) dengan waktu pengeringan (T)

(Fig 12-41, Perry, 1983)


Gambar B.3 Kurva hubungan antara kecepatan pengeringan (R) denganwaktu pengeringan (t)
Keterangan :
A B : Daerah laju pengeringan naik jika waktu ditingkatkan
B C : Daerah kecepatan pengeringan konstan
C

: Titik dimana kecepatan konstan berakhir dan kecepatan pengeringan mulai turun
C D : Kecepatan pengeringan turun drastis

C. ALAT DAN BAHAN


Alat
1. Thermometer udara kering

Bahan
1. Kayu berbentuk silinder

2. Thermometer udara baah

2. Kayu berbentuk kubus

3. Team table

D. CARA KERJA
1. Merendam benda padat kayu untuk berbagai bentuk selama waktu yang ditentukan
2. Menimbang benda padat baah
3. Memasukkan benda kedalam alat pengering yang sebelumnya telah diatur suhu 1000
C, lama pengeringan setiap elang waktu yang ditentukan
4. Pada waktu pengeringan menghiupkan pompa vakum, etelah selang waktu tertentu
mengeluarkan zat padat basah dari dalam oven
5. Mencatat berat benda padat (Wt), suhu bola kering (Td), suhu bola basah (Twet)
6. Mengulangi langkah 5 6 sampai diperoleh berat zat padat akhir konstan (Wn)
7. Menghitung kadar air (x), kecepatan pengeringan (R), koefisian transfer maa (Kg)
8. Membuat hubungan kadar air (x), kecepatan pengeringan (R) dan waktu pengeringan
(t)
9. Melakukan langkah 1 -8 dengan bentuk benda yang berbeda

E. Skema Kerja
Kayu
Penimbangan

Dihitung sebagai berat kering


Perendaman
Kayu direndam selama 15 menit
Penimbangan
Dihitung sebagai berat basah/berat awal
Pengovenan
Kayu dioven pada suhu 1000C
setiap 5 menit
Penimbangan
Kayu ditimbang sebagai berat setelah pengeringan.
Diulang sampai didapat berat konstan
Pencatatan
dataProses Drying
Gambar E.I Skema Kerja

F. PENGAMBILAN DATA
t
No

(menit

berat sampel
Tw

Td

)
1
2
3
4
5
6

0
5
10
15
20
25

24
24
24
24
24
24

29
29
28
30
29
30

silinder
8,839
7,473
7,241
7,003
6,899
6,731

balok
9,871
9,300
9,244
9,171
9,144
9,076

berat kering awal


silinder
6,398
6,398
6,398
6,398
6,398
6,398

balok
8,856
8,856
8,856
8,856
8,856
8,856

berat air
silinder
2,441
1,075
0,843
0,605
0,501
0,333

balok
1,015
0,444
0,388
0,315
0,288
0,220

kadar air
silinder
0,382
0,168
0,132
0,095
0,078
0,052

balok
0,115
0,050
0,044
0,036
0,033
0,025

7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
85
90

24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24

30
30
30
30
30
31
30
30
30
31
30
30
30

6,657
6,586
6,520
6,507
6,452
6,441
6,440
6,437
6,429
6,401
6,398
6,398
6,398

9,044
9,013
8,974
8,965
8,922
8,911
8,905
8,892
8,891
8,864
8,856
8,856
8,856

6,398
6,398
6,398
6,398
6,398
6,398
6,398
6,398
6,398
6,398
6,398
6,398
6,398

8,856
8,856
8,856
8,856
8,856
8,856
8,856
8,856
8,856
8,856
8,856
8,856
8,856

0,259
0,188
0,122
0,109
0,054
0,043
0,042
0,039
0,031
0,003
0,000
0,000
0,000

0,188
0,157
0,118
0,109
0,066
0,055
0,049
0,036
0,035
0,008
0,000
0,000
0,000

0,040
0,029
0,019
0,017
0,008
0,007
0,007
0,006
0,005
0,000
0,000
0,000
0,000

G. PERHITUNGAN
kecepatan pengeringan
No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

t (menit)

0
5
10
15
20
25
30
35
40
45

dx/dt
silinder
6,857
0,833
0,833
0,857
0,200
1,200
0,600
0,400
0,600
0,200

-ws/A
balok
6,000
0,714
0,857
0,500
1,000
0,500
0,571
0,667
0,167
0,833

silinder
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196

balok
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198

R=

dx Ws
x
dt
A

silinder
-1,343
-0,163
-0,163
-0,168
-0,039
-0,235
-0,118
-0,078
-0,118
-0,039

balok
-1,187
-0,141
-0,170
-0,099
-0,198
-0,099
-0,113
-0,132
-0,033
-0,165

0,021
0,018
0,013
0,012
0,007
0,006
0,006
0,004
0,004
0,001
0,000
0,000
0,000

11
12
13
14
15
16
17
18
19

50
55
60
65
70
75
80
85
90

0,600
0,200
0,200
0,200
0,654
0,400
0,200
0,200
0,200

0,167
0,167
0,167
0,120
0,057
0,000
0,000
0,000
0,000

-0,196
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196
-0,196

-0,198
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198
-0,198

-0,118
-0,039
-0,039
-0,039
-0,128
-0,078
-0,039
-0,039
-0,039

-0,033
-0,033
-0,033
-0,024
-0,011
0,000
0,000
0,000
0,000

H. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini digunakan 2 jenis kayu berbentuk balok dan silinder. Panjang
kayu balok------- dan panjang kayu silinder------. Langkah pertama yang dilakukan
adalah menimbang balok kayu untuk mengetahui berat kering dari balok sebelum
didrying. Berat awal kayu balok sebesar----- dan kayu silinder sebear-----. Langkah
selanjutnya, kayu direndam selama 15 menit. Setelah dilakukan perendaman, berat kayu
bertambah dari berat awalnya. Berat kayu balok setelah direndam sebesar ---- sedangkan
kayu silinder sebesar-----. Hal ini disebabkan karena kayu menyerap air, sehingga kadar
air dalam kayu bertambah dan mengakibatkan berat kayu bertambah.
Setelah dilakukan penimbangan, kayu dikeringkan menggunakan oven pada suhu
100C. Setiap 5 menit kayu dikeluarkan dari oven kemudian ditimbang menggunakan
timbangan digital. Setelah dilakukan penimbangan berkali kali didapatkan berat kayu
yang semakin berkurang. Hal ini disebabkan karena air yang terkandung dalam kayu
teruapkan oleh udara panas yang dihasilkan oleh oven. Pengovenan dilakukan selama 90
menit hingga dua angka dibelakang koma konstan. Berat akhir kayu setelah pengovenan
lebih kecil dibandingkan berat kayu kering sebelum direndam. Hal ini disebabkan oleh
kayu sebelum direndam belum benar-benar kering.

Kemudian, membuat kurva pengeringan dan kurva penguapan air berdasarkan data
hasil pengeringan kayu.

kadar air balok


0.140
0.120
0.100
kadar air balok

0.080
0.060
0.040
0.020
0.000
0

20

40

60

80

100

kadar air silinder


0.500
0.400
0.300
kadar air (x)

kadar air silinder

0.200
0.100
0.000
0 20 40 60 80 100
waktu (t)

Gambar F.I. Kurva Pengeringan


Dari kurva pengeringan, laju kurva pengeringan kayu balok dengan kayu silinder relatif
sama. Namun, terdapat perbedaan pada laju pengeringan pada awal drying yang cukup
signifikan.

f(x) =

Kecepatan Pengeringan Balok


0.000
-0.050

f(x) = 0x - 0.18
50
0 100
series 1

-0.100
kecepatan pengeringan (R)

Linear (series 1)
series 2

-0.150

Linear (series 2)

-0.200
-0.250
waktu (t)

f(x) =

Kecepatan Pengeringan Silinder


0.000

50
0 100
-0.050
f(x) = 0x - 0.16
series 1
-0.100
Linear (series 1)

kecepatan pengeringan (R)


-0.150

series 2
Linear (series 2)

-0.200
-0.250
waktu (t)

Gambar F.II. Kurva Kecepatan Pengeringan


Berdasarkan kurva kecepatan pengeringan, kayu balok mengalami laju penguapan
lebih cepat dibandingkan laju penguapan pada kayu silinder. Hal ini disebabkan oleh luas
permukaan kayu balok lebih besar dibandingkan dengan luas permukaan kayu silinder.

I. Simpulan dan Saran


1. Simpulan
Berdasarkan kurva pengeringan dan kurva kecepatan pengeringan, dapat
disimpulkan bahwa laju penguapan kayu balok lebih cepat dibandingkan kayu
siinder dikarenakan luas permukaan kayu balok lebih besar sehingga luas kontak
panas dengan bahan juga semakin luas. Sedangkan laju pengeringan kayu relatif
sama.
2. Saran
a. Pada saat drying, sebaiknya tiap kayu diberi tanda agar posisi kayu yang
menguapkan kandungan airnya selalu sama.
b. Kayu sebelum direndam harus dalam keadaan benarbenar kering sehingga
dapat diketahui berat kering kayu.