Anda di halaman 1dari 11

2.2.

Ibu Hamil

2.2.1

Definisi
Menurut

Federasi

Obstetri

Ginekologi

Internasional,

kehamilan

didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan
dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi (Prawirohardjo,2009). Hamil adalah
suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam tubuh wanita yang sebelumnya
diawali dengan proses pembuahan dan kemudian akan diakhiri dengan proses
persalinan (Sigalingging, 2001). Kehamilan merupakan suatu proses yang alamiah
dan fisiologis. Setiap wanita yang memiliki organ reproduksi sehat, yang telah
mengalami menstruasi, dan melakukan hubungan seksual dengan seorang pria
yang organ reproduksinya sehat, sangat besar kemungkinan akan mengalami
kehamilan (Mandriwati, 2007 : 3).
Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal
akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut
kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester
pertama berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13
hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40)
(Prawirohardjo,2009).
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya
hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari
pertama haid terakhir (Saryono,2008).
Seorang ibu dapat didiagnosa hamil apabila didapatkan tanda-tanda pasti
kehamilan yaitu Denyut Jantung Janin (DJJ) dapat didengar dengan stetoskop
laenec pada minggu 17-18, dapat dipalpasi (yang harus ditemukan adalah bagianbagian janin jelas pada minggu ke-22 dan gerakan janin dapat dirasakan dengan
jelas setelah minggu 24) dan juga dapat di Ultrasonografi (USG) pada minggu ke6 (Kusmiyati et. al. 2008).
Menurut Bagus Ida tanda pasti hamil adalah ada atau terdapat gerakan janin
dalam rahim (terlihat atau teraba gerakan janin dan teraba bagian-bagian janin),
terdengar denyut jantung janin (didengar dengan stetoskop laenec, alat
kardiotokografi atau EKG dan alat Doppler, dilihat dengan ultrasonografi,

pemeriksaan dengan alat canggih, yaitu rontgen melihat kerangka janin,


ultrasonografi) (Ida, 2005).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ibu hamil adalah seorang ibu
dimulai masa kehamilan atau mulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya
kehamilan normal adalah 280 hari atau 40 minggu, di hitung dari hari pertama
haid terakhir dan dapat dilihat tanda pasti hamil yaitu ada gerakan janin dalam
rahim (terlihat atau teraba gerakan janin dan teraba bagian bagian janin),
terdengar denyut jantung janin (didengar dengan stetoskop laenec, alat
kardiotokografi atau EKG dan alat Doppler, dilihat dengan ultrasonografi,
pemeriksaan dengan alat canggih, yaitu rontgen melihat kerangka janin,
ultrasonografi.

2.2.2

Pemeriksaan Kehamilan (Antenatal Care)

2.2.2.1 Pengertian ANC (Antenatal Care)


ANC (Antenatal Care) adalah suatu program yang terencana berupa
observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh
suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan (Mufdliah,
2009).
ANC (Antenatal Care) merupakan perawatan atau asuhan yang diberikan
kepada ibu hamil sebelum kelahiran, yang berguna untuk memfasilitasi hasil yang
sehat dan positif bagi ibu hamil atau bayinya dengan menegakkan hubungan
kepercayaan dengan ibu, mendeteksi komplikasi yang dapat mengancam jiwa,
mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan kesehatan (Mufdliah,
2009).
ANC (Antenatal Care) adalah pelayanan yang diberikan oleh ibu hamil
secara berkala untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya. Pelayanan antenatal ini
meliputi pemeriksaan kehamilan, upaya koreksi terhadap penyimpangan dan
intervensi dasar yang dilakukan (Dep. Kes. R.I, 1997).
2.2.2.2 Tujuan ANC (Antenatal Care)
Menurut Vivian (2010) tujuan asuhan kehamilan yaitu :
1) Tujuan umum

Menurunkan atau mencegah kesakitan, serta kematian maternal dan


perinatal.
2) Tujuan khususnya adalah sebagai berikut :
a) Memonitor kemajuan kehamilan guna memastikan kesehatan ibu dan
perkembangan bayi yang normal
b) Mengenali secara dini penyimpangan dari normal dan memberikan
penatalaksanaan yang diperlukan
c) Membina hubungan saling percaya antara ibu dan bidan dalam rangka
mempersiapkan ibu dan keluarga secara fisik, emosional, serta logis untuk
menghadapi kelahiran dan kemungkinan adanya komplikasi.
2.2.2.3 Manfaat ANC
Menurut Vivian (2010) manfaat melakukan Antenatal Care (ANC)
kehamilan dan persalinan akan berakhir dengan hal-hal sebagai berikut :
1) Ibu dalam kondisi selamat selama kehamilan, persalinan dan nifas tanpa
trauma fisik maupun mental yang merugikan
2) Bayi dilahirkan sehat, baik fisik maupun mental
3) Ibu sanggup merawat dan memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada
bayinya
4) Suami istri telah ada kesiapan dan kesanggupan untuk mengikuti keluarga
berencana setelah kelahiran bayinya.
2.2.2.4 Pelayanan ANC
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional
(dokter spesialis kebidanan, dokter umum, tenaga kebidanan) untuk ibu selama
masa kehamilannya sesuai dengan standar minimal pelayanan antenatal meliputi
7T (Mufdilah, 2009) yaitu :
1) Timbang berat badan
2) Ukur tinggi badan
3) Ukur tekanan darah
4) Pemberian imunisasi TT (Tetanus Toxoid)
5) Ukur tinggi fundus uteri
6) Temu wicara

7) Tablet FE (pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama

masa

kehamilan)
Dari kebijakan program pelayanan ANC (Antenatal Care) menurut
Saryono , 2010 ada 7T yaitu :
1) Timbang berat badan dan tinggi badan
Tinggi badan diperiksa sekali pada saat ibu hamil datang pertama kali
kunjungan, dilakukan untuk mendeteksi tinggi badan ibu yang berguna untuk
mengkategorikan adanya resiko apabila hasil pengukuran < 145 cm. Berat badan
diukur setiap ibu datang atau berkunjung untuk mengetahui kenaikan BB atau
penurunan BB (Berat Badan). Kenaikan berat badan ibu normal rata-rata antara
6,5 kg sampai 16 kg (Winkjosastro dalam kutipan Saryono, 2010)
Menurut buku asuhan kebidanan kehamilan (Saryono, 2010) yaitu
mengatakan kenaikan berat badan selama hamil 9-13,5 kg yaitu pada trimester 1
kenaikan berat badan minimal 0,7 1,4 kg , pada trimester 2 kenaikan berat badan
4,1 kg dan pada trimester 3 kenaikan berat badan 9,5 kg
Menurut Saryono, 2009 standar kenaikan berat selama hamil adalah sebagai
berikut :
a) Kenaikan berat badan trimester 1 kurang lebih 1 kg. Kenaikan berat
badan ini hampir seluruhnya merupakan kenaikan berat badan ibu
b) Kenaikan berat badan trimester 2 adalah 3 kg atau 0,3 per minggu.
Sebesar 60% kenaikan berat badan ini dikarenakan pertumbuhan jaringan pada
ibu
c) Kenaikan berat badan trimester 3 adalah 6 kg atau 0,3 sampai 0,5 kg per
minggu. Sekitar 60% dan kenaikan berat badan ini karena pertumbuhan jaringan
pada janin. Timbunan lemak pada ibu lebih kurang 3 kg.
2) Ukur Tekanan Darah (TD)
Diukur dan diperiksa setiap kali ibu datang atau kunjungan ANC (Antenatal
Care). Pemeriksaan tekanan darah sangat penting untuk mengetahui standar
normal, tinggi atau rendah. Deteksi tekanan darah yang cenderung naik
diwaspadai adanya gejala kearah hipertensi dan preeklampsi. Apabila turun
dibawah normal kita pikirkan kearah anemia. Tekanan darah normal berkisar
systole / diastole : 110/80 sampai 120/80 mmHg.

3) Pengukuran tinggi fundus uteri


Pengukuran tinggi fundus uteri dengan menggunakan pita, letakkan titik nol
pada tepi atas sympisis dan rentangkan sampai fundus uteri (fundus tidak boleh
ditekan). Menurut mufdlilah, 2009 pengukuran Tinggi Fundus Uteri (TFU)
dilakukan secara rutin dengan tujuan mendeteksi secara dini terhadap berat badan
janin. Indikator pertumbuhan berat janin intra uterine, tinggi fundus uteri dapat
juga mendeteksi secara dini terhadap terjadinya molahidatidosa (kehamilan
mola/kehamilan anggur), janin ganda atau hidramnion dimana ketiganya dapat
mempengaruhi terjadinya kematian maternal.
4) Pemberian tablet tambah darah (tablet Fe)
Tablet ini mengandung 200 mg Sulfat Ferosus 0,25 mg asam folat yang
diikat dengan laktosa. Tujuan pemberian tablet Fe adalah untuk memenuhi
kebutuhan Fe pada ibu hamil dan nifas, karena pada masa kehamilan
kebutuhannya meningkat seiring dengan pertumbuhan janin (Dep. Kes RI, 1997).
Zat besi ini penting untuk mengkompensasi peningkatan volume darah yang
teerjadi

selama

kehamilan

dan

untuk

memastikan

pertumbuhan

dan

perkembangan janin yang adekuat. Cara pemberiannya adalah satu tablet Fe


(tablet tambah darah) per hari, sesudah makan, selama masa kehamilan dan nifas.
Perlu diberitahukan kepada ibu bahwa normal bila warna tinja mungkin menjadi
hitam setelah makan obat ini. Dosis tersebut tidak mencukupi pada ibu hamil yang
mengalami anemia, terutama pada anemia berat (8 gr % atau kurang). Dosis yang
dibutuhkan adalah sebanyak 1-2x 100 mg per hari selama 2 bulan sampai dengan
melahirkan.
6) Tes terhadap penyakit menular seksual (PMS)
Pemeriksaan Veneral Desease Research Laboratory (VDRL) adalah untuk
mengetahui adanya treponema pallidum/penyakit menular seksual , antara lain
syphilis. Pemeriksaan kepada ibu hamil yang pertama kali datang diambil
sperimen darah vena kurang lebih 2 cc. apabila hasil tes dinyatakan positif, ibu
hamil dilakukaan pengobatan/rujukan. Akibat fatal yang terjadi adalah kematian
janin pada kehamilan <16 minggu, pada kehamilan lanjut dapat menyebabkan
kelahiran prematur, cacat bawahan.
7) Temu wicara / konseling

a) Definisi konseling
Konseling adalah suatu bentuk wawancara (tatap muka) untuk menolong
orang lain memperoleh pengertian yang lebih baik mengenai dirinya dalam
usahanya untuk memahami dan mengatasi permasalahan yang sedang
dihadapinya.
b) Prinsip- prinsip konseling yaitu sebagai berikut:
(1) Sikap dan respon positif
(2) Keterbukaan
(3) Empati
(4) Dukungan
(5) Setingkat atau sama sederajat
c) Tujuan konseling pada ANC (Antenatal Care)
(1) Membantu ibu hamil memahami kehamilannya sebagai upaya preventif
terhadap hal-hal yang tidak diinginkan

2.3.

Pengetahuan

2.3.1

Pengertian pengetahuan
Pengetahuan adalah Hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang

terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan
sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga menghasilkan
pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi
terhadap objek.
2.3.2

Tingkat pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010), Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai


intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6
tingkat pengetahuan, yaitu:
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
2. Memahami ( Komprehension)

Memahami suatu objek bukan hanya sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak
sekedar

dapat

menyebutkan,

tetapi

orang

tersebut

harus

dapat

menginterprestasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.


3. Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang telah
memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan
prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah sebagai kemampuan seseorang untuk menjabarkan atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang
terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui.
5. Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk merangkum atau meletakkan
dalam satu hubungan yang logis dari komponen komponen pengetahuan yang
dimiliki.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian-penilaian itu didasarkan
pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku
dimasyarakat. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
dengan angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek
penelitian atau responden. Kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita
ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas (Notoatmodjo, 2003).
2.3.3

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan


Menurut

Sukmadinata

(2003)

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

pengetahuan seseorang adalah sebagai berikut :


1) Faktor Internal
a) Jasmani
Faktor jasmani diantaranya adalah kesehatan indera seseorang. Selain itu
juga terdapat faktor usia. Usia adalah variabel yang selalu diperhatikan di dalam
penelitian epidemiologi. Menurut kelompok ibu :
0 14 tahun : bayi dan anak-anak

15 40 tahun : orang muda dan dewasa


50 60 tahun : orang tua
b) Rohani
Faktor rohani diantaranya adalah kesehatan psikis, intelektual, psikomotor,
serta kondisi efektif serta kognitif individu.
2) Faktor Eksternal
a) Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti di dalam pendidikan itu
terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih
dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau
masyarakat. (sigalingging) Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam
memberi respon terdapat sesuatu yang datang dari luar. Orang yang berpendidikan
tinggi akan memberi respon yang lebih rasional terhadap informasi yang akan
datang dan akan berfikir sejauh mana keuntungan yang mungkin akan mereka
peroleh gagasan tersebut.
b) Paparan media masa (akses informasi)
Melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik berbagai informasi
dapat diterima oleh masyarakat, sehingga seseorang lebih sering terpapar media
massa (TV, radio, majalah, pamflet) akan memperoleh informasi yang lebih
banyak dibandingkan dengan orang yang tidak pernah terpapar informasi media.
c) Ekonomi (pendapatan)
Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan sekunder
keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih mudah tercukupi dibanding
keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi pemenuhan
kebutuhan akan informasi pendidikan yang termasuk kebutuhan sekunder.
Hubungan sosial manusia adalah makluk sosial dimana didalam kehidupan
beriteraksi antara satu dengan yang lain. Individu yang dapat berinteraksi secara
kontinue akan lebih besar terpapar informasi.
d) Hubungan sosial
Manusia adalah makhluk sosial, sehingga dalam kehidupan saling
berinteraksi antara satu dengan yang lain. Individu yang dapat berinteraksi secara
kontinyu akan lebih besar terpapar informasi, sementara faktor hubungan sosial

juga mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikan untuk menerima


pesan menurut model komunikasi media.
e) Pengalaman
Pengalaman individu tentang berbagai hal biasa yang diperoleh dari tingkat
kehidupan dalam proses perkembangannya, misalnya sering mengikuti kegiatan
yang mendidik misal seminar.

2.4.

Sikap
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek

tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan
(senang-tidak senang, setuju'tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya).
Campbell (1950) mendefenisikan bahwa sikap merupakan suatu sindroma atau
kumpulan gejala dalam merespon stimulus suatu objek, sehingga sikap itu
melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan gejala kejiwaan yang lain
(Notoatmojo, 2005).
Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap
merupakan kesiapan atau ketersediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan
pelaksanaan motif tertentu. Dalam kata lain, fungsi sikap belum merupakan
tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi
perilaku (tindakan) atau reaksi tertutup. Notoatnodio s' 2005
Menurut Allport (1954) sikap itu terdiri dari 3 komponen pokok, yaitu :
(Notoatmodjo S. 2005)
a. Kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap objek. Artinya bagaimana
b.

keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.


Kehidupan emosional atau evaluasi orang tertradap objek, artinya
bagaimana penilaian (terkandung di dalamnya f;aktor emosi) orang tersebut

c.

terhadap objek.
Kecendrungan untuk bertindak (trend to behave), artinya sikap merupakan
komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap adalah
ancang-anmng untuk bertindak atau berperilaku terbuka.
Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap yang

utuh (total attitude). Dalam menentukan sikap yang utuh ini, pengetahuan,
pikiran, dan emosi memegang peranan yang penting.

Sikap juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya, sebagai


berikut (Notoatnodjo, 2005)
a.
Menerima (receiving); menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek
b.

mau menerima stimulus yang diberikan (objek).


Menanggapi (responding); diartikan memberikan jawaban atau tanggapan

c.

terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.


Menghargai (valuing); diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai
positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti, membahasnya dengan orang
lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang

d.

lain merespon
Bertanggung jawab (responsible); sikap yang paling tinggi tingkatannya
adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya. seseorang
yang telah mengambil sikap tertentu " berdasarkan keyakinannya, dia harus
berani mengambil resiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau
adanya resiko lain.

DAFTAR PUSTAKA

Mandriwati. 2007. Asuhan Kebidanan Ibu Hamil, Edisi 3, Jakarta: EGC.


Prawirohardjo, Sarwono.2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka.