Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
(Kemenkes RI) ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada
bayi sejak lahir tanpa makanan dan minuman tambahan lain
kecuali vitamin, mineral, atau obat dalam bentuk tetes atau sirup
sampai bayi berusia 6 bulan (Kemenkes RI, 2014). Sebelum
mencapai usia 6 bulan sistem pencernaan bayi belum mampu
berfungsi dengan sempurna, sehingga ia belum mampu
mencerna makanan selain ASI (Marimbi, 2010). ASI memiliki
peranan penting bagi kelangsungan tumbuh kembang anak dan
kesehatannya serta mengandung zat pelindung (antibodi) yang
dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti:
Immunoglobin, Lactobasilus dan Bifidus berguna untuk
melindungi bayi dari infeksi (Ramaiah, 2006).
Manfaat pemberian ASI eksklusif tidak hanya untuk
membentuk antibodi bayi, akan tetapi sangat luas dan beragam
terutama bagi ibu dan bayi serta keluarga. Bagi ibu dan bayi,
pemberian ASI eksklusif akan menumbuhkan jalinan kasih sayang
yang mesra. Hal ini merupakan awal dari keuntungan menyusui
secara eksklusif. Bagi keluarga, pemberian ASI eksklusif akan
membawa manfaat dari aspek ekonomi, psikologi dan
kemudahan (Arini, 2012). Selain itu, pemberian ASI dapat
menurunkan resiko kematian bayi. Menurut Bappenas (2010)
faktor penyebab utama kematian bayi di Indonesia adalah
kematian neonatal sebesar 46,2%, diare sebesar 15,0%,
pneumonia sebesar 12,7%, infeksi 36%, prematuritas 28% dan
asfiksia 23%.
Praktek menyusui di negara berkembang telah berhasil
menyelamatkan sekitar 1,5 juta bayi pertahun. Atas dasar
tersebut World Health Organitation (WHO) merekomendasikan

untuk hanya memberikan ASI sampai bayi berusia 4-6 bulan.


Setiap tahunnya lebih dari 25.000 bayi di Indonesia dan 1,3 juta
bayi di seluruh dunia dapat diselamatkan dengan pemberian ASI
eksklusif, setelah pengalaman 9 tahun, United Nations Childrens
Fund (UNICEF) memberikan klarifikasi tentang rekomendasi
jangka waktu pemberian ASI eksklusif. Rekomendasi terbaru
UNICEF bersama World Health Assembly (WHA) dan banyak
negara lainnya adalah menetapkan jangka waktu pemberian ASI
eksklusif selama 6 bulan (Widyasih, 2007).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif
pasal 6 berbunyi Setiap ibu yang melahirkan harus memberikan
ASI eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya dan berdasarkan
Perda Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemberian ASI Eksklusif pasal
3. Tujuan peraturan pemerintah tersebut adalah untuk: menjamin
pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif sejak
dilahirkan sampai dengan berusia 6 (enam) bulan dengan
memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya;
memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI
eksklusif kepada bayinya; dan meningkatkan peran dan
dukungan keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, dan
pemerintah terhadap pemberian ASI eksklusif.
Kebijakan pemerintah dalam pemberian ASI eksklusif juga
diatur dalam Kepmenkes RI No.450/MENKES/IV/2004 yang
menetapkan perpanjangan pemberian ASI eksklusif secara
eksklusif dari yang semula 4 bulan menjadi 6 bulan dan
PERMENKES RI No 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang izin dan
penyelenggaraan parktik bidan pada pasal 10 ayat (3) bahwa
bidan melakukan bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi
ASI eksklusif.

Masalah yang berkaitan dengan pemberian ASI secara


eksklusif telah dijelaskan dalam Al-Quran yang terdapat dalam
QS.Al-Baqarah:233.












Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama

dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan


penyusuan dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian
kepada para ibu dengan cara yang maruf. Seseorang tidak
dibebani, melainkan kadar kesanggupannya. Janganlah seorang
ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah
karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila
keduanya ingin menyapih (sebelum 2 tahun) dengan kerelaan
keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas
keduanya dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain,
maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan
pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada
Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu
kerjakan. (QS.Al-Baqarah: 233)
Maksud dari surat Al-Baqarah: 233 tersebut dengan tegas
menganjurkan untuk menyempurnakan masa penyusuan (2
tahun) dan peran ayah untuk mencukupi keperluan sandang
pangan ibu, agar ibu dapat menyusui dengan baik. Perintah
menyusui yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan Peraturan
Pemerintah RI merupakan suatu langkah terbaik untuk
menyelamatkan jiwa dan memberikan perlindungan terbaik bagi
ibu dan bayi di awal kehidupannya. Namun pentingnya
memberikan ASI secara eksklusif belum dapat difahami oleh

seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari prilaku


masyarakat yang masih mengesampingkan pemberian ASI
eksklusif. Alasan-alasan yang sering diungkapkan oleh ibu yang
tidak menyusui secara eksklusif diantaranya: pengetahuan ibu
yang kurang memadai tentang ASI eksklusif serta beredarnya
mitos yang kurang baik tentang ASI eksklusif (Indrawati, 2012).
Hasil penelitian terhadap 900 ibu di sekitar Jakarta, Bogor,
Tangerang dan Bekasi diperoleh fakta bahwa yang dapat
memberikan ASI eksklusif selama 4 bulan hanya sekitar 5%,
padahal 98% ibu-ibu tersebut menyusui. Penelitian tersebut juga
menyatakan bahwa 37% dari ibu-ibu tersebut tidak pernah
mendengar informasi khusus tentang ASI, sedangkan 70,4% ibu
tidak pernah mendengar informasi tentang ASI eksklusif (Roesli,
2007). Veronika (2013) menyebutkan di Adonara Barat- Nusa
Tenggara Timur, faktor-faktor yang mempengaruhi praktek
pemberian ASI eksklusif adalah faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal antara lain: motivasi, pengetahuan
tentang ASI eksklusif, pekerjaan dan kondisi kesehatan ibu.
Menurut Idris SM (2013) faktor yang mempengaruhi
pemberian ASI eksklusif antara ibu dan bayi uisa 0-6 bulan salah
satunya adalah pengetahuan ibu tentang isu-isu menyusui .
Penelitian lain menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi
keberhasilan perilaku pemberian ASI pada ibu post partum di RSU
PKU Muhammadiyah kota Yogyakarta salah satunya adalah
pengetahuan tentang ASI (Garudiwati, 2014). Chaudhary RN,
(2011) dalam penelitiannya mengatakan pengetahuan ibu dalam
pemberian ASI tidak memadai dan terdapat kesenjangan besar
dalam praktik yang sebenarnya dengan praktik yang diinginkan.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Arthani (2013)
di kabupaten Batang didapatkan dari 28 responden yang percaya
dengan mitos menyusui, sebagian besar tidak memberikan ASI
eksklusif yaitu sebanyak 27 (96,4%) responden. Briawan (2007)

mengatakan faktor penghambat keberlanjutan pemberian ASI


adalah pengetahuan dan keyakinan ibu bahwa bayi tidak akan
cukup memperoleh zat gizi jika hanya diberi ASI sampai umur 6
bulan, maka dengan pemberian MP-ASI dapat meningkatkan gizi
pada bayi. Penelitian lain menyebutkan penyebab pemberian MPASI dini pada bayi dikarenakan adanya kebiasaan turun-temurun
seperti pemberian bubur nasi dan bubur pisang pada saat acara
Aqiqah ketika bayi telah mencapai usia 3 bulanan (Ginting dkk,
2013).
Data yang diperoleh dari United Nations Childrens Fund
(UNICEF, 2013) menyebutkan bahwa cakupan ASI dalam skala
internasional hanya 39% anak-anak di bawah 6 bulan
mendapatkan ASI Eksklusif pada tahun 2012. Di Cina tingkat
menyusui ASI eksklusif sekitar 28%, Kamboja berhasil
meningkatkan tingkat pemberian ASI eksklusif untuk bayi di
bawah 6 bulan dari 11,7% pada tahun 2000 menjadi 74% pada
tahun 2010. Togo dan Zambia meningkat dari 10% dan 20% pada
akhir tahun 1990 menjadi lebih dari 60% pada tahun 2000,
sedangkan tingkat pemberian ASI eksklusif di Tunisia turun
drastis dari 46,5% di tahun 2000 menjadi 6,2% .
Permasalahan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia
adalah masih rendahnya cakupan tingkat pemberian ASI eksklusif
pada bayi 0-6 bulan di tahun 2013 yang masih jauh dari target
nasional sebesar 80%. Cakupan pemberian ASI eksklusif pada
bayi sampai 6 bulan meningkat dari 33,6% pada tahun 2010
menjadi 38,5% pada tahun 2011. Secara nasional cakupan
pemberian ASI eksklusif di Indonesia berfluktuasi selama 3 tahun
terakhir. Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai 6
bulan pada tahun 2007 adalah 28,6% kemudian menurun
menjadi 24,3% pada tahun 2008, dan meningkat menjadi 34,3%
pada tahun 2009. Data Riset kesehatan Dasar (Rikesdas) 2013
menunjukkan cakupan ASI di Indonesia hanya 42%. Angka ini

menunjukkan cakupan tersebut masih di bawah target WHO yang


mewajibkan cakupan ASI hingga 50% (Kemenkes RI, 2013).
Riset lain menyatakan presentase pemberian ASI eksklusif
di Indonesia menurut anak dan karakteristik responden,
presentase pemberian ASI eksklusif juga lebih tinggi diberikan
pada bayi hanya sampai usia 0-1 bulan (45%), usia 2-3 bulan
(38,3%), dan usia 4-5 bulan (31%). Pemberian ASI eksklusif juga
lebih tinggi di daerah pedesaan dibandingkan perkotaan,
berturut-turut presentasenya 41,7% dan 50% (Riskesdas, 2013).
Data Dinkes pada penelitian di Jawa Tengah menemukan
bahwa bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif baru mencapai
20,42% (Gaster, 2007). Sedangkan jumlah bayi yang diberi ASI
eksklusif di Provinsi D.I Yogyakarta pada tahun 2013 yaitu 16.055
bayi atau 66,7%. Pencapaian ASI eksklusif tertinggi yaitu
terdapat di kabupaten Sleman dengan jumlah cakupan mencapai
80,6% dan pencapaian ASI eksklusif terendah terdapat di kota
Yogyakarta dengan jumlah cakupan 51,6% (Dinkes, 2014).
Berdasarkan permasalahan diatas maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian tentang Hubungan Tingkat
pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif dengan pemberian ASI
Eksklusif di Kota Yogyakarta.
II.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan
peneliti yang timbul dapat dirumuskan yaitu Adakah Hubungan
Tingkat Pengetahuan dan Mitos tentang ASI Eksklusif dengan
Pemberian ASI Eksklusif di Kota Yogyakarta tahun 2016?.

III.

Tujuan Penelitian
A. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan mitos tentang
ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif di kota
Yogyakarta tahun 2016.
B. Tujuan Khusus

1. Diketahui tingkat pengetahuan tentang ASI eksklusif di kota


Yogyakarta tahun 2016.
2. Diketahui mitos tentang ASI eksklusif di kota Yogyakarta
tahun 2016.
IV.

MANFAAT
A. Bagi teoritis, diharapkan dapat digunakan:
1. Sebagai bahan untuk mengembangkan ataupun
merumuskan khasanah ilmu tentang hubungan tingkat
pengetahuan dan mitos tentang ASI eksklusif dengan
pemberian ASI eksklusif.
2. Sebagai wacana dan menjadi bahan pengkajian untuk
mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang tingkat
pengetahuan dan mitos tentang ASI eksklusif dengan
pemberian ASI eksklusif.
B. Bagi praktisi, diharapkan dapat digunakan:
1. Sebagai masukan dan menambah informasi bagi civitas
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah Yogyakarta dalam
penerapan materi keilmuan kebidanan terutama mengenai
ASI eksklusif.
2. Sebagai masukan bagi tenaga kesehatan dalam
meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi tenaga kesehatan untuk
mengadakan promosi ASI eksklusif.
C. Bagi Responden, diharapkan dapat digunakan:
Sebagai bahan informasi untuk meningkatkan kesadaran ibu
tentang pentingnya ASI eksklusif sehingga dapat memberikan
ASI secara eksklusif kepaada anak-anak berikutnya.

V.

RUANG LINGKUP
A. Lingkup Materi.
Lingkup materi penelitian ini adalah hubungan tingkat
pengetahuan dan mitos tentang ASI eksklusif dengan
pemberian ASI eksklusif.
B. Lingkup Responden
Responden penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki
bayi usia > 6 bulan -12 bulan.

C. Lingkup Waktu
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari 2016 sampai
dengan bulan Mei 2016 , yaitu mulai penyusunan proposal
sampai dengan penyusunan hasil laporan penelitian.
D. Lingkup Tempat
Penelitian ini dilakukan di kota Yogyakarta dikarenakan
cakupan ASI Eksklusif di kota Yogyakarta masih 51,6% dan hal
ini masih rendah dibandingkan dengan target ASI eksklusif
nasional yaitu 80%.
VI.

Keaslian Penelitian
1. RN Chaudhary, T Shah, S Raja, Department of Child health
Nursing, Department of Community Health Nursing,
Department of Pediatrics, BPKIHS Dharan (2011) Knowledge
and practice of mothers regarding breast feeding: a hospital
based study. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif
dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 200 ibu
yang mempunyai anak di bawah usia 1 tahun. Instrument
penelitian adalah questioner. Hasil penelitian pengetahuan ibu
terhadap pemberian ASI tidak memadai dan ada kesenjangan
besar antara praktik aktual dan yang diinginkan. Perbedaan
dengan penelitian ini terdapat pada variabel penelitian,
sampel penelitian, tempat penelitian dan tahun penelitian.
2. SM Idris, A Gordiano O Tafeng, A Elgorashi (2013) Factors
Influencing Exclusive Breastfeeding among Mother with Infant
Age 0-6 Months. Jenis penelitian kuantitatif dengan
pendekatan potong lintang (cross sectional), jumlah sampel
244 ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan. Hasil analisis
univariat: usia bayi dan morbiditas bayi, morbiditas ibu,
kesehatan payudara ibu dan pengetahuan ibu tentang isu-isu
menyusui memiliki hubungan yang signifikan dengan
pemberian ASI eksklusif. Aspek pengetahuan ibu termasuk;
ibu pengetahuan yang benar pada durasi pemberian ASI

eksklusif (P = 0,005) dan P <0,001); Di analisis regresi


logistik, morbiditas bayi (P = 0,01) sebanyak 38,0% untuk ASI
eksklusif terus menerus sejak lahir dan (P = <0,01) sebanyak
56,7% untuk ASI eksklusif berdasarkan pemberian selama 24
jam. Perbedaan dengan penelitian ini terdapat pada variabel
penelitian, sampel penelitian, analisis penelitian, tempat
penelitian dan tahun penelitian.
3. AS Arthani (2013) Hubungan Mitos Menyusui dengan
Pemberian ASI di Kelurahan Proyonanggan Tengah Kecamatan
Batang Kabupaten Batang. Jenis penelitian deskriptif korelasi
dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data
dengan menggunakan questioner. Jumlah sampel 38 ibu yang
memiliki bayi usia 0-12 bulan dengan menggunakan teknik
Total Sampling. Analisa data yang dilakukan secara Univariat
dan Bivariat menggunakan uji chi-square dengan p value
0,0001. Hasil penelitian 28 responden percaya dengan mitos
menyusui, sebagian besar memberikan ASI non eksklusif yaitu
sebanyak 27 (96,4%) responden dan hanya sebagian kecil
yang memberikan ASI eksklusif yaitu 1 (3,6%) responden.
Perbedaan dengan penelitian ini terdapat pada variabel
penelitian, sampel penelitian, tempat penelitian dan tahun
penelitian.
4. D Ginting, D Sekawarna, H Sukandar (2013) dalam
penelitiannya Pengaruh Karakteristik, Faktor Internal dan
Eksternal Ibu terhadap Pemberian MP-ASI Dini pada Bayi Usia
< 6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Barusjahe Kabupaten
Karo Provinsi Sumatera Utara. Jenis penelitian kuantitatif
dengan pendekatan potong lintang (cross sectional), jumlah
sampel 100 orang ibu yang mempunyai bayi usia < 6 bulan.
Analisis data bivariat dengan chi-square dan analisis
multivariat dengan menggunakan regresi logistic ganda. Hasil
penelitian menunjukkan ada pengaruh tingkat pengetahuan,

sikap, status pekerjaan, paritas, dukungan keluarga, peran


petugas kesehatan dan sosial budaya / mitos terhadap
pemberian MP-ASI dini pada bayi usia < 6 bulan. Perbedaan
dengan penelitian ini terdapat pada variabel penelitian,
pengambilan sampel, analisis penelitian, tempat penelitian,
tahun penelitian.