Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

DWARFISME

Disusun Oleh
Kelompok 8 :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Astri Candra Wiranti


Ayu Wulandari
Galih Setyo Rahayu
Galuh Prafitasari
Moh. Iva Alwi
Moh. Joko Setiawan
Siti Nurul Qomariah
Sugiarto

PROGAM STUDI PENDIDIKAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SATRIA BHAKTI NGANJUK
2014/2015

KATA PENGANTAR

Dengan memohon ridlo Allah SWT dan dengan hidayah-Nya Alhamdulillah


saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Laporan Pendahuluan
Dwarfisme.
Selanjutnya sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, karena beliaulah yang menjadi penerang kegelapan dan
kedzaliman dan beliau adalah Nabi dan rosul yang dalam masa yang relative
singkat dapat memerintah dunia dengan berbagai macam pembentukan akhlak
Makalah ini merupakan tugas akademik program studi Ners semester IV (Empat)
Stikes Satria Bhakti Nganjuk. Maka dari itu makalah ini saya buat dengan penuh
ketelitian. Dalam pembuatan Makalah ini, saya tidak lupa mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Yang Terhormat, Ibu Aprillia Choirunisa', S.Kep.,Ns yang memberi
dukungan saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
2. Serta kedua orang tua saya dan teman-teman yang selalu memberi
semangat.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kritik dan saran dari semua
pihak tetap saya harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan makalah
selanjutnya. Terima Kasih.
Nganjuk, 16 Maret 2015

Kelompok 8

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Sistem Endoktrin


Dengan Dwarfisme
oleh kelompok 8
Telah disetujui dan disahkan pada :

Hari

: Senin

Tanggal : 16 Maret 2015

PJMK

Tutor

Sistem

Sistem Sensori Persepsi

Erni Tri Indarti,S.Kep.Ns

Aprillia Choirunisa',S.Kep.Ns

NPK :

NPK :

BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi
Dwarfisme merupakan gangguan pertumbuhan somatic akibat
insufesiensi pelepasan Growth Hormone yang terjadi pada masa anak-anak
(Rumahorbo,1999). Adanya

kekurangan

hormon

pertumbuhan

ini

berkaitan dengan hipofungsi kelenjar hipofisis ( Hipopituitarisme ).


Hipopituitarisme ini dapat terjadi akibat penyakit pada kelenjar hipofisis
sendiri atau pada hipotalamus gejalanya berupa badan pendek (Smeltzer,
2001 ). Selain itu sering pula ditemukan berbagai derajat insifisiensi
adrenal dan hipotiroidisme, mereka mungkin akan mengalami kesulitan di
sekolah dan memperlihatkan perkembangan intelektual yang lamban, kulit
biasanya pucat karena tidak adanya MSH (price, Sylvia. 2006)
Dwarfisme merupakan konsekuensi dari defisiensi Hormon
Pertumbuhan (Growth Hormon). Ketika anak-anak tersebut mencapai
pubertas, maka tanda-tanda seksual sekunder dan genetalia eksterna gagal
berkembang (Price,2006).
Dwarfisme adalah gangguan pertumbuhan akibat gangguan pada
fungsi hormone pertumbuhan. Gejalanya berupa badan pendek, terdapat
penipisan tulang, muka dan suara imatur (tampak seperti anak kecil),
pematangan tulang yang terlambat, lipolisis (proses pemecahan lemak
tubuh) yang berkurang, peningkatan kolesterol total / LDL, dan
hipoglikemia. Biasanya intelengensia / IQ tetap normal kecuali sering
terkena serangan hipoglikemia berat yang berulang (Corwin,2009).
Hormon

pertubuhan

berfungsi

meningkatkan

pertumbuhan

dan

mempengaruhi banyak fungsi metabolisme diseluruh tubuh khususnya


pembentukan protein.
Kekurangan hormon pertumbuhan mengakibatkan Dwarfisme.
Pada umumnya gambaran tubuh berkembang satu sama lain dengan
perbandingan yang sesuai, tetapi kecepatan perkembangan sangat
berkurang. Penderita dwarfisme tidak pernah melewati masa pubertas dan
tidak menyereksi hormon gonadotropin dalam jumlah yang cukup untuk
perkembangan fungsi seksual dewasa.

B. Etiologi
Dwarfisme dapat disebabkan oleh defisiensi GRH, defisiensi IGFI, atau penyebab lainnya. Beberapa kasus dwarfisme disebabkan oleh
defisiensi seluruh sekresi kelenjar hipofisis anterior atau disebut
panhipopituitarisme

selama

masa

anak-anak. Pada

umumnya,

pertumbuhan bagian-bagian tubuh sesuai satu sama lain, tetapi kecepatan


pertumbuhannya sangat berkurang. Defisiensi hormon pertumbuhan
biasanya disebabkan oleh defisiensi GRH. Pada keadaan ini, respons
hormon pertumbuhan terhadap GRH tetap normal, tetapi sebagian
penderita

mengalami

kelainan

pada

sel-sel

pensekresi

hormon

pertumbuhan.
Pada satu tipe dwarfisme, yaitu pada Lorain dwarf, kecepatan
sekresi hormon pertumbuhannya normal atau malahan tinggi, namun
penderita mengalami ketidak mampuan herediter untuk membentuk
somastostatin sebagai respons terhadap hormon pertumbuhan.
Dwarfisme

disebabkan

defisiensi

Hormon

Pertumbuhan.

Kekurangan hormon pertumbuhan ini akan mempengaruhi pertumbuhan


tulang dan otot serta mengganggu metabolisme karbohidrat, lemak dan
mineral yang bermanifestasi menjadi cebol. Ada dua sebab kekurangan
hormon pertumbuhan yaitu:
A. Kekurangan hormon pertumbuhan yang congenital (bawaan) yaitu
karena produksinya memang kurang atau karena reseptor dalam sel
yang kurang atau tidak sensitive terhadap rangsangan hormon.
Biasanya gejala mulai tampak sejak bayi hingga puncaknya pada
dewasa, jadi dari kecil postur tubuhnya selalu lebih kecil dari anak
yang lain. Misalnya karena agenesis hipofisis atau defek /mutasi dari
gen tertentu yang menyebabkan kurangnya kadar hormon seperti
sindroma laron dan fenomena pada suku pygmi di Afrika.
B. Kekurangan hormon pertumbuhan yang didapat. Biasanya gejala
baru muncul pada penghujung masa kanak-kanak atau pada masa
pubertas, jadi saat kecil sama dengan yang lain, namun kemudian

tampak terhentinya pertumbuhan sehingga menjadi lebih pendek dari


yang lain. Kadang juga disertai gejala-gejala lain akibat kurangnya
hormon-hormon lain yang juga diproduksi hipofisis. Penyebab
paling sering adalah tumor pada hipothalamus kelenjar hipofisis
seperti kraniofaringioma, glioma. Iradiasi kronis juga dapat
mengurangi produksi hormon (Greenspan, F.S. & Baxter, J.D.,2000).
Seseorang dapat menjadi individu dwarfisme disebabkan
oleh beberapa hal, antara lain :
a. Defisiensi

seluruh

sekresi

kelenjar

hipofisis

anterior

(panhipopituitary) selama masa kanak-kanak (Guyton & Hall,


1997).
b. Terlalu sedikitnya hormon hipofisis sehingga menyebabkan
tubuh yang kerdil (Atkinson, 1994)
c. Mutasi genetik yang berlangsung secara spontan yang terjadi
pada sel telur atau pada sel sperma. Dalam beberapa kasus,
kedua orang tua yang memiliki ukuran tubuh normal
sekalipun dapat memiliki anak dengan struktur tubuh yang
kecil (Nicholson, 2005).
d. Defisiensi hormon pertumbuhan selanjutnya dapat disebabkan
karena penyakit hipofisis atau defek pada tigkat hipotalamus
yang tidak mampu merangsang sekresi hormon pertumbuhan
(Ganong, 1990).

C. Manisfestasi klinis
Gambaran klinis defisiensi hormon pertumbuhan berupa
1. perawakan pendek berat (cebol),

2. agak gemuk,
3. lemak subkutan di abdomen bertambah,
4. bisa terdapat keluhan dan gejala hipoglikemia,
5. proporsi tulang normal.
6. Bisa terdapat gejala-gejala yang berkaitan dengan etiologi seperti
kraniofaringioma yang menyebabkan visus mata menurun. Ketika
anak-anak mencapai pubertas, maka tanda-tanda seksual sekunder
dari genetalia eksterna gagal berkembang (Price,2006).
7. Dwarfisme adalah gangguan pertumbuhan dengan gejalanya
berupa
8. badan pendek,
9. terdapat penipisan tulang,
10. muka dan suara imatur (tampak seperti anak kecil),
11. pematangan tulang yang terlambat,
12. lipolisis (proses pemecahan lemak tubuh) yang berkurang,
13. peningkatan kolesterol total / LDL, dan hipoglikemia.
14. Biasanya intelengensia / IQ tetap normal kecuali sering terkena
serangan hipoglikemia berat yang berulang (Kleingsen,2011).
D. Patofisiologi
Infusiensi hipofisis pada umumnya memengaruhi semua
kelenjar hormon yang secara normal disekresi oleh kelenjar hipofisis
anterior. Oleh karena itu, manifestasi klinis dari panhipopituitarisme
merupakan gabungan pengaruh metabolic akibat kekurangan sekresi
masing-masing hormon hipofisis.
Beberapa proses patologik dapat mengakibatkan infusiensi
hipofisis dengan cara merusak sel-sel hipofisis normal: (1) tumor
hipofisis, (2) thrombosis vascular yang mengakibatkan nekrosis
kelenjar hipofisis normal, (3) penyakit granulomaltosa infiltrative, dan
(4) idiopatik atau mungkin penyakit yang bersifat autoimun.
Sindrom klinis yang diakibatkan oleh panhipopituitarisme
pada anak-anak dan orang dewasa berbeda. Pada anak-anak, terjadi

gangguan

pertumbuhan

GH. Dwarfisme

somatic

hipofisis (kerdil)

akibat

defisiensi

merupakan

pelepasan

kosenkuensi

dari

defisiensi tersebut. Ketika anak-anak tersebut mencapai pubertas,


maka tanda-tanda seksual sekunder dan genetalia eksterna gagal
berkembang. Selain itu sering pula ditemukan berbagai derajat
infusiensi adrenal dan hipotiroidisme; mereka mungkin akan
mengalami kesulitan di sekolah dan memperlihatkan perkembangan
intelektual yang lamban; kulit biasanya pucat karena tidak adanya
MSH.
Kalau hipopituitarisme terjadi pada orang dewasa, kehilangan
fungsi hipofisis sering mengikuti kronologi sebagai berikut : defisiensi
GH, hipogonadisme, hipotiroidisme dan insufisiensi adrenal. Karena
orang dewasa telah menyelesaikan pertumbuhan somatisnya, maka
tinggi tubuh pasien dewasa dengan hipopituitarisme adalah normal.
Manifestasi defisiensi GH mungkin dinyatakan dengan timbulnya
kepekaan yang luar biasa terhadap insulin dan terhadap hipoglikemia
puasa.

Bersamaan

dengan

terjadinya

hipogonadisme,

pria

menunjukkan penurunan libido, impotensi dan pengurangan progresif


pertumbuhan rambut dan bulu di tubuh, jenggot dan berkurangnya
perkembangan otot. Pada wanita, berhentinya siklus menstruasi
atau amenorea, merupakan tanda awal dari kegagalan hipofisis.
Kemudian diikuti oleh atrofi payudara dan genetalia eksterna. Baik
laki-laki maupun perempuan menunjukkan berbagai tingkatan
hipotiroidisme dan infusiensi adrenal. Kurangnya MSH akan
mengakibatkan kulit pasien ini kelihatan pucat.
Kadang kala pasien memperlihatkan kegagalan hormon
hipofisis saja. Dalam keadaan ini, penyebab defisiensi agaknya
terletak pada hipotalamus dan mengenai hormon pelepasan yang
bersangkutan.
Pada pasien dengan panhipopituitarisme, tingkat dasar hormon
tropic ini rendah, sama dengan tingkat produksi hormon kelenjar
target yang dikontrol oleh hormon-hormon tropik ini.

Pasien dengan hipopituitarisme, selain memiliki tingkat


hormon basal yang rendah, juga tidak merespons terhadap pemberian
hormon perangsang sekresi. Uji fungsi hipofisis kombinasi dapat
dilakukan pada pasien ini dengan menyuntikkan (1)insulin untuk
menghasilkan hipoglikemia, (2) CRH, (3) TRH, dan (4) GnRH.
Hipoglikemia dengan kadar serum glukosa yang kurang dari 40 mg/dl,
normalnya menyebabkan pelepasan GH, ACTH, dan kortisol; CRH
merangsang pelepasan ACTH dan kortisol;

TRH menrangsang

pelepasan TSH dan prolaktin; sedangkan GnRH merangsang


pelepasan FSH dan LH. Pasien dengan panhipopitutarisme gagal
untuk merespon empat perangsang sekresi tersebut. Selain studi
biokimia, juga disarankan pemeriksaan radiografi kelenjar hipofisis
pada pasien yang diperkirakan menderita hipofisis, karena tumortumor hipofisis seringkali menyebabkan gangguan-gangguan ini.

E. WOC
Kongenital

Tumor hipofisis, nekrosis kelenjar hipofisi,


granulomaltosa infiltrative

Gangguan pertumbuhan somatik

Kekurangan GH ,sekresi
hormon hipofisis

Dwarfisme

Gangguan
pertumbuhan
tulang dan otot

Metabolisme
karbohidrat,
lemak menurun

Sekresi GH

Terjadi kerusakan IGH


Perubahan
struktur tubuh

MK: Gangguan
citra tubuh

hipoglikemia

Resistensi
insulin

MK: Resiko
ketidakstabilan
hipoglikemia

Jaringan lunak

Tangan, kaki, hidung,


bibir, dll mengecil,
kulit tipis dan basah

MK: Intoleransi
aktivitas

F. Pemeriksaan penunjang
Menurut Syahbuddin,2002:
1. Pemeriksaan hormon pertumbuhan dan somatomedin secara RIA
(Radioimmunoassay), dapat memberi petunjuk adanya penurunan

kadar hormon pertumbuhan dan somatomedin C pada defisiensi


hormon pertumbuhan.
2. Pemeriksaan X-Ray tulang epifis dan pergelangan tangan dengan
bantuan Atlas Gruelich dan Pyle adalah untuk menilai tingkat
pematangan tulang dan umur tulang. Umur tulang tertinggal pada
defisiensi hormon pertumbuhan.
3. X Ray sella tursica (tengkorak /kepala) dapat memberi petunjuk
adanya tumor hipofisis dan sekitarnya
4. Pemeriksaan kadar gula darah yang menurun dan kolesterol yang
meningkat.
5. Pengukuran kadar IGF-1 berkisar yang cenderung turun (kadar
normal: 0,3-1,4 U/mL).
G. Penatalaksanaan
1. Terapi pengobatan dengan memberikan hormon pertumbuhan
yang diproduksi dengan teknologi DNA rekombinan dengan dosis
0,05 mg/kgBB s.c/i.m 3x seminggu .
2. Operasi pengangkatan tumor dan sinar radiasi untuk penanganan
tumor.
3. Pengobatan hipopituitarisme mencakup penggantian hormonhormon yang kurang. GH manusia, hormon yang hanya efektif
pada manusia, dihasilkan dari tehnik rekombinasi asam
deoksiribonukleat(DNA), dapat digunakan untuk mengobati
pasien dengan defesiensi GH dan hanya dapat dikerjakan oleh
dokter spesialis. GH manusia jika diberikan pada anak-anak yang
menderita dwarfisme hipofisis, dapat menyebabkan peningkatan
tinggi badan yang berlebihan. GH manusia rekombinan juga
dapat digunakan sebagai hormon pengganti pada pasien dewasa
dengan panhipopituitarisme. Hormon hipofisis hanya dapat
diberikan dengan cara disuntikan. Sehingga, terapi harian
pengganti hormon kelenjar target akibat defesiensi hipofisis untuk
jangka waktu yang lama, hanya diberikan sebagai alternatif.
(price, Sylvia. 2006).

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN
DWARFISME

Seorang pria, 46 tahun datang ke poli penyakit dalam RS Dahlia dengan


keluhan nyeri kepala bagian frontal sejak usia 28 tahun, nyeri sendi dan
punggung, kemudian mengalami gangguan penglihatan pada usa 31 tahun. Lamakelamaan IQ menjadi rendah dan tidak memiliki libido pada usia 41 tahun. TB
pasien 100 cm dengan berat badan 30 kg. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan
penampilan wajah berubah, tangan/kaki mengecil. Dahi menonjol, hidung
mengecil, dahi menonjol, hidung mengecil, rahang menonjol, suara dalam, rambut
badan kasar. Hasil foto tengkorak didapatkan didapatkan pengecilan sella, erosi
prosesus klinoid, alur supraorbita, dan rahang bawah. Lantai fosa hipofisis
biasanya tampak mengalami erosi atau menjadi ganda pada tomogram tampak
lateral Rontgen tulang tengkorak bisa menunjukkan penebalan tulang, pengecilan
sinus hidung dan pengecilan sella tursika (struktur bertulang yang mengelilingi
hipofisa). Hasil EKG menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri akibat hipertensi.
Diagnosa Medis pasien Dwarfisme.
A. Pengkajian
Pengkajian tanggal

Tanggal masuk

Ruang/Kelas

: Poli penyakit

Jam MRS

Jam Pengkajian

DX Masuk
Indentitas
Nama

: Tn

No Reg

Agama

Umur

L/P

: Laki-

Bahasa

Pendidikan

Alamat

Pekerjaan

Pembiayaan

Status Kawin

46

tahun
Suku
laki

Penanggung Jawab

Keluhan Utama

: Nyeri kepala bagian frontal

Riwayat Penyakit Sekarang : Nyeri kepala bagian frontal, nyeri sendi


dan nyeri punggung, kemudian mengalami gangguan penglihatan
Riwayat Dahulu

: Nyeri kepala bagian frontal sejak usia 28

tahun, nyeri sendi dan nyeri punggung, kemudian mengalami


gangguan penglihatan pada usia 31 tahun. Lama-kelamaan IQ menjadi
rendah dan tidak memiliki libido pada usia 41 tahun.
Riwayat Penyakit Keluarga

Pemeriksaan Fisik
Kedaaan Umum :
Kesadaran :
Penampilan

Postur Tubuh

Monitor Vital Sign


Tekanan darah

Nadi

RR

Suhu

BB

: 30 kg

TB

: 100 cm

B. Pemeiksaan Fisik
Head to toe
a. Kepala
Inspeksi:
Palpasi: ada nyeri
Perkusi:
Auskultasi:
Wajah
Inspeksi: bentuk wajah berubah, dahi menonjol, rahang menonjol

b. Mata
Inspeksi: ketajaman penglihatan bekurang
Hidung:
Inspeksi: hidung mengecil
Palpasi:
c. Dada :
Inspeksi:
Auskultasi: suara dalam
Palpasi:
Perkusi:
d. Jantung
Inspeksi:
Palpasi:
Auskultasi:
e. Perkusi:
Abdomen
Inspeksi:
Auskultasi:
Palpasi:
Perkusi:
f. Genetalia
Inspeksi:
Palpasi:
Integument
Inspeksi:
Palpasi: rambut badan yang terasa kasar
g. Pemeriksaaan muskuloskeletal (ekstermitas)
Inspeksi: tangan dan kaki mengecil
Palpasi:
Kekuatan otot

3
3

h. Persyarafan

C. ADL (Activity Daily Living)


a. Pola Nutrisi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan bahwa ia makan secara teratur.
3 kali sehari
Saat sakit: Pasien mengatakan bahwa ia makan secara tidak teratur.
b. Pola eliminasi
BAB
Sebelum sakit : Pasien mengatakan bahwa ia biasanya BAB normal
pada pagi hari dan karakteristiknya padat dan berwarna keclokatan
Saat sakit : Pasien mengatakan bahwa ia jarang BAB, terkadang 3
kali sehari
BAK
Sebelum sakit : mengatakan bahwa ia biasanya BAK normal,
warna urine kuning bening dan berbau khas urinr
c. Pola Istirahat dan Tidur
Sebelum sakit : pasien mengatakan bahwa dia sering tidur larut
malam pukul 22.00 wib dan terbangun pukul 04.00 wib. Dengan
memaki kasur kapuk, guling selimut dan bantal, serta penerangan
dengan tidak memakai lampu
Keringat.
d. Pola Personal Higiene
Sebelum sakit : pasien mengatakan bahwa dia mandi 2 kali sehari
memakai sabun dan keramas 2 kali 1 mnggu.
Saat sakit :
e. Pola aktivitas
Sebelum sakit : Pasien mengatakan bahwa dia dapat melakukan
kegiatan sehari-hari seperti biasa tanpa bantuan orang lain.
Saat sakit : pasien mengatakan sat sakit pasien hanya di sekitar
rumah karena merasa tidak nyaman karena dadanya sering
berdebar-debar dan tangan tremor
f. Kooping Mekanisme

Sebelum sakit : pasien mengatakan bahwa ia ketika sakit kepala


nyeri dan pilek hanya membawa ke puskesma terdekat dan
meminum obat ntibiotic.
Saat sakit :
D. Pemeriksaan Penunjang
1. X foto: foto tengkorak didapatkan pengecilan sella, erosi prosesus
klinoid, alur supraorbita, dan rahang bawah. Lantai fosa hipofsis
biasanya tampak mengalami erosi atau menjadi ganda pada
tomogram

tampak

lateral,

rontgen

tulang

tengkorak

bisa

menunjukkan penebalan tulang, pengecilan sinus hidung dan


pengecilan sella tursika (struktur bertulang yang mengelilingi
hipofisa).
2. Hasil EKG: Menunjukkan hipertofi ventrikel kiri akibat hipertensi.
E. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan struktur
tubuh
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan sekunder
penurunan laju metabolisme tubuh.
F. Intervensi
1. Diagnosa keperawatan : Gangguan citra tubuh berhubungan
dengan prubahan struktur tubuh

Tujuan : Pasien mampu menerima dan beradaptasi dengan


perubahan struktur tubuh setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil:
1. Pasien mengungkapkan hal positif tentang dirinya.
2. Pasien mau bersosialisasi dengan lingkungan
sekitar tanpa adnya gangguan citra diri.
INTERVENSI

RASIONAL

Gunakan alat seperti Body Image


Instrumen
(BII)
untuk
mengidentifikasi
klien
yang
memiliki keprihatinan tentang
perubahan citra tubuh.

Amati mekanisme biasa klien


mengatasi selama masa stres yang
ekstrim
dan
memperkuat
penggunaannya dalam krisis saat
ini.
Akui penolakan , kemarahan ,
atau depresi sebagai perasaan
normal saat menyesuaikan diri
dengan perubahan dalam tubuh
dan gaya hidup.

Mengidentifikasi klien beresiko


untuk gangguan citra tubuh.

Jangan meminta klien untuk


mengeksplorasi perasaan kecuali
mereka
telah
menunjukkan
kebutuhan untuk melakukannya.

5 skala BII (penampilan


umum , kompetensi tubuh ,
reaksi
lainnya
untuk
penampilan, nilai penampilan
dan bagian ubuh) dipamerkan
sedang hingga tinggi reliabilitas
internal dan validitas konkuren.
Klien shock selama fase akut,
dan sistem nilai mereka sendiri
harus dipertimbangkan. Klien
sepakat lebih baik dengan
perubahan dari waktu ke waktu.
Perubahan
citra
tubuh
menyebabkan
kecemasan.
Orang-orang dalam situasi ini
menggunakan
berbagai
mekanisme koping sadar untuk
berurusan dengan citra tubuh
mereka berubah. Mekanisme
pertahanan normal, kecuali
mereka digunakan sehingga
mereka mengganggu daripada
meningkatkan rasa percaya diri.
Hasil dari satu penelitian
menunjukkan
bahwa
pembentukan tubuh laki-laki
beresiko untuk gangguan citra
tubuh.
Pasien melaporkan menjaga
perasaan mereka kepada diri
mereka sendiri sebagai strategi
koping yang sering digunakan.

Dorong klien untuk membahas Sebuah persepsi yang baik


konflik interpersonal dan sosial terhadap citra tubuh yang
yang mungkin timbul.
terbaik dicapai dalam kerangka
sosial yang mendukung . Klien
dengan dukungan jaringan
sosial yang aktif cenderung
membuat kemajuan yang lebih

Dorong klien untuk membuat


keputusan sendiri, berpartisipasi
dalam rencana perawatan , dan
menerima baik kekurangan dan
kelebihan.

Dorong klien untuk melanjutkan


rutinitas perawatan pribadi yang
sama yang diikuti sebelum
perubahan citra tubuh.

baik
Hal ini penting bagi klien untuk
terlibat
dalam
perawatan
mereka sendiri. Jika mereka
telah
menerima
informasi
tentang citra perubahan tubuh
mereka,
pengobatan
dan
rehabilitasi,
mereka
akan
mampu untuk membuat pilihan
mereka sendiri.
Mendorong
kemandirian
pasien
dan
meningkatkan
percaya diri pasien.

2. Diagnosa Keperawatan :Intoleransi aktivitas berhubungan


dengan kelelahan sekunder penurunan laju metabolisme tubuh.
Tujuan: Mentoleransi aktivitas yang biasa dilakukan setelah
dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria Hasil: Pasien mampu menunjukkan toleransi aktivitas dan
mendemonstrasikan penghematan energi.
RASIONAL
INTERVENSI
Dapat
mengendalikan
Kaji respons emosi, sosial dan spiritual
terhadap aktivitas.
emosi, sosial dan spiritual
terhadap aktivitas.
Evaluasi motivasi dan keinginan pasien Menumbuhkan motivasi
untuk meningkatkan aktivitas.
dan keinginan pasien
untuk
Tentukan penyebab keletihan.
Pantau
respons
terhadap aktivitas.

aktivitas.
Dapat

meningkatkan
mengetahui

penyebab keletihan
kardiorespiratori Monitor kardiorespiratori

Pantau
asupan
nutrisi
memastikan sumber-sumber
yang adekuat.

terhadap aktivitas.
untuk Monitor asupan nutrisi
energi untuk pasien agar nutrisi

terpenuhi
Instruksikan kepada pasien dan Dapat merubah tindakan
keluarga tindakan untuk menghemat

energi, misalnya menyimpan alat/benda


yang sering digunakan di tempat yang
mudah dijangkau.
Hindari menjadwalkan pelaksanaan
aktivitas perawatan selama periode
istirahat.
Rencanakan aktivitas bersama pasien
dan keluarga yang dapat meningkatkan
kemandirian dan ketahanan.

pasien untuk menghemat


energi.
Agar

pasien

dapat

beristirahat dengan cukup


Agar pasien lebih mandiri
dalam

melakukan

aktivitas
pasien
dapat
Kolaborasikan dengan ahli terapi Agar
okupasi, fisik atau rekreasi untuk memperoleh perawatan
merencanakan dan memantau program
yang baik dan benar
aktivitas, jika perlu.
Kaji tingkat kemampuan pasien untuk Memonitoring

agar

berpindah dari tempat tidur, berdiri, pasien

lebih

ambulasi dan melakukan AKS dan nyaman.


AKSI.

merasa

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Dwarfisme terjadi akibat hiposekresi persisten dari GH yang merangsang

sekresi IGF-1 sebelum lapisan epifise menutup, sehingga menyebabkan


manifestasi klinis pada anak-anak/remaja berupa tubuh tinggi abnormal. Penyebab
gigantisme adalah kelainan hipotalamus dan adanya adenoma hipofise.
Pilihan utama pengobatan adala pengobatan medis/farmakologis mengalami
perkembangan yang pesat. Pengobatan radiasi mempunyai banyak kelemahan,
sehingga penggunaannya hanya sebagai penunjang pada kasus-kasus tertentu.
Masalah keperawatan yang muncul pada pasien dengan dwarfisme adalah nyeri,
cemas, resiko cidera, gangguan citra tubuh, resiko ketidakstabilan kadar gula
darah dan intoleransi aktivitas.
Rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan dwarfisme bertujuan untuk
mengatasi permasalahan keperawatan, sehingga dapat meningkatkan derajat
kesehatan pasien.
B.

Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka penulis menyampaikan saran-saran

yang kiranya dapat dijadikan perhatian dan masukan untuk mencapai tujuan yang
diharapkan yaitu:
1. Pasien hendaknya lebih memahami tentang penyakit, gejala, pengobatan
dan penanganan di rumah.
2. Keluarga hendaknya memahami keadaan pasien dan mendukung proses
pengobatan pasien.
3. Perawat hendaknya lebih memahami tentang konsep dwarfisme, sehingga
dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan pada pasien dwarfisme secara
komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA
Kleingsen, Anna and Jackson, Andrew P.2011. Mechanisms and pathways of
growth

failure

in

primordial

dwarfism

.http://genesdev.cshlp

.org/content/25/19/2011. long diakses tanggal 10 November 2013


Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G., (2002). Buku ajar: keperawatan
medikal bedah brunner & suddarth (ed. 8). Jakarta: EGC.
Wilkinson, J.M. & Ahern, N.R. (2013). Buku saku diagnosis keperawatan:
diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC (ed. 9). Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai