Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN KESEHATAN MASYARAKAT

UPAYA PENANGGULANGAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI


DENGAN PROGRAM PENCEGAHAN DAN
PENANGGULANGAN ANEMIA GIZI BESI (PPAGB)
DI SMAN 1 MEJAYAN CARUBAN

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Populasi remaja di Indonesia mencapai 20% dari total populasi penduduk Indonesia yaitu sekitar
30 juta jiwa.(1) World Health Organization(2) menyebutkan bahwa banyak masalah gizi pada
remaja masih terabaikan disebabkan karena masih banyaknya faktor-faktor yang belum
diketahui, padahal remaja merupakan sumber daya manusia Indonesia yang harus dilindungi
karena potensinya yang sangat besar dalam upaya pembangunan kualitas bangsa.
Anemia akibat kekurangan zat gizi besi (Fe) merupakan salah satu masalah gizi utama di Asia
termasuk di Indonesia. Pada anak usia sekolah, prevalensi anemia tertinggi ditemukan di Asia
Tenggara dengan perkiraan sekitar 60% anak mengalami anemia. (3) Laporan berbagai studi di
Indonesia memperlihatkan masih tingginya prevalensi anemia gizi pada remaja putri yang
berkisar antara 20-50%. Survei yang dilakukan oleh Gross et al (4) di Jakarta dan Yogyakarta
melaporkan prevalensi anemia pada remaja sebesar 21,1%. Penelitian Budiman(5) menyebutkan
dari sejumlah 545 orang sampel siswi SLTA di Kabupaten dan Kotamadya Sukabumi, Cirebon
dan Tangerang Propinsi Jawa Barat sebanyak 40,4%-nya menderita anemia. Survei Kesehatan
Rumah Tangga tahun 2001 melaporkan 28,3% anak dan remaja dalam kelompok umur 5-14
tahun menderita anemia. (6) Penelitian Hamid(7) di Padang, Sumatera Barat mendapatkan angka
prevalensi anemia pada siswi SLTA sebesar 29,2%. Penelitian Februhartanty et al (8) terhadap
137 siswi SLTP di Kupang, Nusa Tenggara Timur mendapatkan angka prevalensi anemia sebesar
49,6%.
Berbagai studi menunjukkan dampak negatif dari anemia akibat kekurangan zat gizi besi
terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja. (9,10) Anemia pada anak
menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tidak optimal dan menurunkan prestasi belajar
karena rasa cepat lelah, kehilangan gairah dan tidak dapat berkonsentrasi. (6) Sedangkan pada
remaja penderita anemia, sebagai calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus bangsa,
anemia akan menyebabkan tingginya risiko untuk melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR)
yang mempunyai kualitas hidup yang tidak optimal.(9,10)

Melihat dampak anemia yang sangat besar dalam menurunkan kualitas sumber daya manusia,
maka sebaiknya penanggulangan anemia perlu dilakukan sejak dini, sebelum remaja putri
menjadi ibu hamil, agar kondisi fisik remaja putri tersebut telah siap menjadi ibu yang sehat.(11)
Remaja putri termasuk kelompok yang rawan terhadap anemia, hal ini disebabkan karena
kebutuhan Fe pada wanita 3 kali lebih besar dari kebutuhan pria. Wanita mengalami menstruasi
setiap bulannya yang berarti kehilangan darah secara rutin dalam jumlah cukup banyak, juga
kebutuhan Fe meningkat karena untuk pertumbuhan fisik, mental dan intelektual, dan kurang
mengkonsumsi sumber makanan hewani yang merupakan sumber Fe yang mudahdiserap.(6,12)
Kelompok remaja putri mempunyai risiko paling tinggi untuk menderita anemia karena pada
masa itu terjadi peningkatan kebutuhan Fe. Peningkatan kebutuhan ini terutama disebabkan
karena pertumbuhan pesat yang sedang dialami dan terjadinya kehilangan darah akibat
menstruasi.(9) Kelompok ini juga memiliki kebiasaan makan tidak teratur, mengkonsumsi
makanan berisiko seperti fast food, snack, dan soft drink(13,14) dan tingginya keinginan mereka
untuk berdiet agar tampak langsing(15) yang mempengaruhi asupan zat gizi termasuk sumber Fe
yang adekuat. Strategi untuk mengatasi masalah anemia pada remaja putri adalah dengan
perbaikan kebiasaan makan, fortifikasi makanan dan pemberian suplementasi Fe. Mengubah pola
makan dan fortifikasi makanan merupakan strategi jangka panjang yang penting namun tidak
dapat diharapkan dapat berhasil dengan cepat.(16) Cara lain adalah dengan memberikan
suplementasi Fe melalui pemberian tablet tambah darah (TTD). Untuk pencegahan dan
pengobatan anemia suplementasi TTD merupakan cara yang efisien karena mudah didapat,
efeknya cepat terlihat, dan harganya relatif murah sehingga terjangkau oleh masyarakat luas.
Brabin and Brabin(17) merekomendasikan program pencegahan anemia dengan suplementasi Fe
lebih banyak ditargetkan kepada remaja putrid dari pada anak-anak, wanita dewasa atau ibu
hamil karena pemberian suplementasi kepada remaja putri akan memberi dampak yang lebih
besar pada kesehatan reproduksi dan keberhasilan proses reproduksi dibandingkan dengan
suplementasi selama masa hamil saja. Remaja putri merupakan calon ibu yang harus sehat dan
tidak anemia, untuk dapat melahirkan bayi yang sehat.
Berbagai studi intervensi menunjukkan bahwa dosis, frekuensi pemberian dan lama pemberian
TTD berbeda-beda. (18-20) Namun demikian dibandingkan dengan dosis yang umumnya relatif
hampir sama (60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat), frekuensi pemberian per minggu
dan lama pemberiannya masih sangat bervariasi. Departemen Kesehatan RI(15) menyebutkan
dosis terapi untuk remaja putri yang anemia adalah 1 kali per hari selama satu bulan sedangkan
WHO/ UNICEF dalam Gross et al.(4) menyebutkan dua kali per hari untuk waktu dua sampai
dengan tiga bulan. Studi evaluasi program suplementasi Fe sirup untuk balita di Nusa Tenggara
Timur menunjukkan pemberian sirup Fe harian lebih efektif daripada mingguan dalam
menurunkan prevalensi anemia balita.(21) Berbagai studi lain memperlihatkanbahwa
suplementasi mingguan cukup efektif dan ekonomis dalam menurunkan prevalensianemia.(4,18)
Salah satu masalah dalam program suplementasi adalah rendahnya kepatuhan. (22-24) Data
Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003 pada ibu hamil menunjukkan

bahwa hanya kurang dari sepertiga ibu hamil mengkonsumsi TTD sebanyak 90 tablet, sepertiga
mengkonsumsi <60 tablet, dan 20% tidak mengkonsumsi sama sekali. (1)
Masalah kepatuhan merupakan kendala utama suplementasi besi harian, dan karena itu alternatif
suplementasi mingguan diharapkan dapat mengurangi masalah kepatuhan ini. Tetapi
suplementasi mingguan menghadapi masalah dalam hal dosis Fe yang diperlukan untuk
meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah agar setara dengan suplementasi harian.(24)
Sebagai salah satu opsi, dengan demikian, diperlukan penelitian untuk mengetahui keefektifan
suplementasi Fe dengan frekuensi di antara mingguan dan harian misalnya dua kali per minggu
untuk menilai keefektifan suplementasi terhadap kadar hemoglobin (Hb).

1.2 Permasalahan
a. Berapa jumlah presentase kejadian anemia pada remaja putri?
b. Apakah yang menyebabkan terjadinya anemi pada remaja putri siswi SMSN 1 Mejayan?
b. Bagaimana cara untuk menurunkan angka kejadian anemia pada remaja putri?
c. Apakah para remaja putri di SMAN 1 Mejayan tahu mengenai anemia?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum :
Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan remaja putri khususnya siswi SMAN 2 Mejayan
Madiun mengenai anemia serta encegahannya
1.3.2 Tujuan Khusus :
1. Mengkaji status besi (kadar hemoglobin dan status anemia) remaja putri
2. Mengkaji status gizi antropometri remaja putri
3. Mengkaji menstruasi remaja putri

1.4 Manfaat
Meningkatkan pengetahuan para remaja putri siswi SMAN 1 Mejayan Madiun mengenai anemia
beserta penanggulangannya.s