Anda di halaman 1dari 10

Insomnia adalah gangguan di mana orang tidak dapat mendapatkan cukup tidur atau tidur

yang restoratif, karena satu atau lebih faktor. Penderita insomnia sering memiliki gejala di
siang hari yang terkait dengan kurang tidur, seperti kantuk di siang hari, kelelahan, dan
penurunan kewaspadaan mental.
Insomnia dapat disebabkan oleh ketidakmampuan untuk tidur, ketidakmampuan untuk
menjaga tidur atau terbangun terlalu dini dan belum sempat mendapatkan tidur yang
cukup. Ada dua jenis utama insomnia: insomnia akut (insomnia transien) yang terjadi
selama periode yang cukup singkat dan insomnia kronis, yang gejalanya lebih lama
(umumnya lebih dari satu bulan). Insomnia juga dapat diklasifikasikan sebagai primer atau
sekunder. Insomnia primer adalah gangguan yang tidak dapat dikaitkan dengan kondisi atau
gangguan lain. Insomnia sekunder dapat ditelusuri ke sumber lain, yang mungkin adalah
kondisi medis, penggunaan obat-obatan, alkohol atau zat lain, atau gangguan mental
seperti depresi berat.
Penyakit insomnia dapat mengakibatkan daya tahan tubuh menurun, hal ini sangat
berbahaya karena memungkinkan berbagai penyakit menyerang anda.
Secara umum, penyakit insomnia ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1.

Tangan berkeringat

2.

Kembung dan nyeri pada perut

3.

Cepat marah

4.

Kelelahan yang berlebihan

5.

Sulit mengingat, konsentrasi, atau membuat keputusan

6.

Perubahan waktu dan pola tidur

7.

Sakit kepala, nyeri leher, dan pegal pada punggung

8.

Napas tersengal-sengal dan detak jantung tidak stabil

Jenis-jenis Insomnia
Secara garis besar, insomnia diklasifikasikan menjadi tiga jenis tergantung gejala medis atau psikologis
yang dialami serta tergantung dari kurun waktu seseorang menderita insomnia.

Insomnia Temporer (Transient Insomnia). Insomnia jenis ini biasanya hanya berlangsung
singkat, yaitu kurang dari satu minggu. Insomnia temporer biasanya terjadi karena pengaruh
lingkungan atau stres.

Insomnia Akut (Acute Insomnia). Biasanya penderitanya mengalami gangguan tidur selama
kurang lebih satu bulan. Insomnia akut ditandai dengan penderitanya yang tetap mengalami
masalah dengan memulai tidur atau mempertahankan tidur meskipun dengan kondisi yang
memungkinkan.

Insomnia Kronis (Chronic Insomnia). Adalah insomia yang berlangsung lebih dari satu bulan.
Orang dengan gangguan insomnia kronis biasanya mengalami masalah halusinasi yang parah
seperti melihat benda seolah-olah bergerak secara slow motion dan masalah penglihatan ganda
(double vision), yaitu persepsi penglihatan dimana benda tunggal seolah-olah terlihat ganda.

Paronitis
Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis) adalah suatu penyakit menular dimana sesorang terinfeksi
oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah (kelenjar parotis) di antara telinga dan rahang
sehingga menyebabkan pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah.
Penyakit gondongan tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau epidemik,
Gangguan ini cenderung menyerang anak-anak yang berumur 2-12 tahun. Pada orang dewasa, infeksi ini
bisa menyerang testis (buah zakar), sistem saraf pusat, pankreas, prostat, payudara dan organ lainnya.
Adapun mereka yang beresiko besar untuk menderita atau tertular penyakit ini adalah mereka yang
menggunakan atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk menekan hormon kelenjar tiroid dan
mereka yang kekurangan zat Iodium dalam tubuh.
Penularan Penyakit Gondongan
Penyakit Gondong (Mumps atau Parotitis) penyebaran virus dapat ditularkan melalui kontak langsung,
percikan ludah, bahan muntah, mungkin dengan urin. Virus dapat ditemukan dalam urin dari hari pertama
sampai hari keempat belas setelah terjadi pembesaran kelenjar.
Penyakit gondongan sangat jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari 2 tahun, hal tersebut
karena umumnya mereka masih memiliki atau dilindungi oleh anti bodi yang baik. Seseorang yang
pernah menderita penyakit gondongan, maka dia akan memiliki kekebalan seumur hidupnya.
Tanda dan Gejala Penyakit Gondongan
Tidak semua orang yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40%
penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit (subclinical). Namun demikian mereka sama dengan
penderita lainnya yang mengalami keluhan, yaitu dapat menjadi sumber penularan penyakit tersebut.
Masa tunas (masa inkubasi) penyakit Gondong sekitar 12-24 hari dengan rata-rata 17-18 hari. Adapun
tanda dan gejala yang timbul setelah terinfeksi dan berkembangnya masa tunas dapat digambarkan
sdebagai berikut:
1. Pada tahap awal (1-2 hari) penderita Gondong mengalami gejala: demam (suhu badan 38.5 40
derajat celcius), sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, nyeri rahang bagian belakang saat
mengunyah dan adakalanya disertai kaku rahang (sulit membuka mulut).
2. Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar di bawah telinga (parotis) yang diawali dengan
pembengkakan salah satu sisi kelenjar kemudian kedua kelenjar mengalami pembengkakan.
3. Pembengkakan biasanya berlangsung sekitar 3 hari kemudian berangsur mengempis.
4. Kadang terjadi pembengkakan pada kelenjar di bawah rahang (submandibula) dan kelenjar di bawah
lidah (sublingual). Pada pria akil balik adalanya terjadi pembengkakan buah zakar (testis) karena
penyebaran melalui aliran darah.

Diagnosis Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis)


Diagnosis ditegakkan bila jelas ada gejala infeksi parotitis epidemika pada pemeirksaan fisis, termasuk

keterangan adanya kontak dengan penderita penyakit gondong (Mumps atau Parotitis) 2-3 minggu
sebelumnya. Selain itu adalah dengan tindakan pemeriksaan hasil laboratorium air kencing (urin) dan
darah.
Pemeriksaan Laboratorium
Disamping leucopenia dengan limfosiotsis relative, didapatkan pula kenaikan kadar amylase dengan
serum yang mencapai puncaknya setelah satu minggu dan kemudian menjadi normal kembali dalam dua
minggu.
Jika penderita tidak menampakkan pembengkakan kelenjar dibawah telinga, namun tanda dan gejala
lainnya mengarah ke penyakit gondongan sehingga meragukan diagnosa. Dokter akan memberikan
order untuk dilakukannya pemeriksaan lebih lanjut seperti serum darah. Sekurang-kurang ada 3 uji serum
(serologic) untuk membuktikan spesifik mumps antibodies: Complement fixation antibodies (CF),
Hemagglutination inhibitor antibodies (HI), Virus neutralizing antibodies (NT).
Komplikasi Akibat Penyakit Gondongan
Hampir semua anak yang menderita gondongan akan pulih total tanpa penyulit, tetapi kadang gejalanya
kembali memburuk setelah sekitar 2 minggu. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan komplikasi, dimana
virus dapat menyerang organ selain kelenjar liur. Hal tersebut mungkin terjadi terutama jika infeksi terjadi
setelah masa pubertas.
Dibawah ini komplikasi yang dapat terjadi akibat penanganan atau pengobatan yang kurang dini:
1. Orkitis ; peradangan pada salah satu atau kedua testis. Setelah sembuh, testis yang terkena mungkin
akan menciut. Jarang terjadi kerusakan testis yang permanen sehingga terjadi kemandulan.
2. Ovoritis : peradangan pada salah satu atau kedua indung telus. Timbul nyeri perut yang ringan dan
jarang menyebabkan kemandulan.
3. Ensefalitis atau meningitis : peradangan otak atau selaput otak. Gejalanya berupa sakit kepala, kaku
kuduk, mengantuk, koma atau kejang. 5-10% penderita mengalami meningitis dan kebanyakan akan
sembuh total. 1 diantara 400-6.000 penderita yang mengalami enserfalitis cenderung mengalami
kerusakan otak atau saraf yang permanen, seperti ketulian atau kelumpuhan otot wajah.
4. Pankreatitis : peradangan pankreas, bisa terjadi pada akhir minggu pertama. Penderita merasakan
mual dan muntah disertai nyeri perut. Gejala ini akan menghilang dalam waktu 1 minggu dan penderita
akan sembuh total.
5. Peradangan ginjal bisa menyebabkan penderita mengeluarkan air kemih yang kental dalam jumlah
yang banyak
6. Peradangan sendi bisa menyebabkan nyeri pada satu atau beberapa sendi.

Pengobatan Penyakit Gondongan


Pengobatan ditujukan untuk mengurangi keluhan (simptomatis) dan istirahat selama penderita panas dan
kelenjar (parotis) membengkak. Dapat digunakan obat pereda panas dan nyeri (antipiretik dan analgesik)
misalnya Parasetamol dan sejenisnya, Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak karena memiliki
resiko terjadinya sindroma Reye.
Pada penderita yang mengalami pembengkakan testis, sebaiknya penderita menjalani istirahat tirah
baring ditempat tidur. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan melakukan kompres Es pada area testis yang

membengkak tersebut. Sedangkan penderita yang mengalami serangan virus apada organ pancreas
(pankreatitis), dimana menimbulkan gejala mual dan muntah sebaiknya diberikan cairan melalui infus.
Pemberian kortikosteroid selama 2-4 hari dan 20 ml convalescent gammaglobulin diperkirakan dapat
mencegah terjadinya orkitis. Terhadap virus itu sendiri tidak dapat dipengaruhi oleh anti mikroba,
sehingga Pengobatan hanya berorientasi untuk menghilangkan gejala sampai penderita kembali baik
dengan sendirinya.
Penyakit gondongan sebenarnya tergolong dalam "self limiting disease" (penyakit yg sembuh sendiri
tanpa diobati). Penderita penyakit gondongan sebaiknya menghindarkan makanan atau minuman yang
sifatnya asam supaya nyeri tidak bertambah parah, diberikan diet makanan cair dan lunak.
Jika pada jaman dahulu penderita gondongan diberikan blau (warna biru untuk mencuci pakaian),
sebenarnya itu secara klinis tidak ada hubungannya. Kemungkinan besar hanya agar anak yang terkena
penyakit Gondongan ini malu jika main keluar dengan wajah belepotan blau, sehingga harapannya anak
tersebut istirahat dirumah yang cukup untuk membantu proses kesembuhan.
Pencegahan Penyakit Gondongan (Mumps/Parotitis)
Pemberian vaksinasi gondongan merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak, yaitu
imunisasi MMR (mumps, morbili, rubela) yang diberikan melalui injeksi pada usia 15 bulan.
Imunisasi MMR dapat juga diberikan kepada remaja dan orang dewasa yang belum menderita Gondong.
Pemberian imunisasi ini tidak menimbulkan efek apanas atau gejala lainnya. Cukup mengkonsumsi
makanan yang mengandung kadar Iodium, dapat mengurangi resiko terkena serangan penyakit
gondongan.
PRESBIOPIA

1. Defenisi

Presbiopi adalah keadaan berkurangnya daya akomodasi pada usia lanjut

2. Epidemiologi

Terjadi mulai pada usia 40 tahun ke atas

3. Etiologi dan Faktor Resiko

Gangguan akomodasi pada presbiopi dapat terjadi akibat

a.

Kelemahan otot akomodasi

b.

Lensa mata tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sklerosis lensa

4. Patofisiologi

Akibat kelemahan otot akomodasi dan lensa mata yang berkurang elastisitasnya menyebabkan sinar
yang dating kea rah mata di biaskan di belakang retina, sehingga bayangan tidak jatuh tepat di retina
sehingga penderita tidak mampu melihat benda dengan jelas.

5. Manifestasi Klinik

Manifestasi kliniknya hamper sama dengan hipermetropi

6. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan manifestasi klinik dan pemeriksaan ophtalmoscope.

7. Diagnosis Banding

Diagnosis banding adalah hipermetropi dan low vision jika hipermetropinya lebih dari 3 dioptri.

8. Tatalaksana

Dikoreksi dengan lensa positif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal.

9. Prognosis

Karena kelainan ini disebakan karena proses degenerasi, maka prognosisnya cukup jelek.

Tentang Influenza
Influenza adalah infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan : hidung, tenggorokan dan paruparu. Influenza yang biasa disebut flu, tidak sama dengan virus flu perut yang menyebabkan diare
dan muntah.

Gejala Influenza

Awalnya, flu mungkin tampak seperti batuk pilek biasa dengan bersin-bersin, hidung meler dan sakit
tenggorokan. Tapi batuk pilek (atau kita sebut sebagai common cold) biasanya berkembang
perlahan, sedangkan flu cenderung datang tiba-tiba. Dan meskipun dingin bisa menjadi gangguan,
Anda
biasanya
merasa
jauh
lebih
buruk
dengan
flu.

Tanda-tanda umum dan gejala flu meliputi:


Demam lebih dari 380C
Sakit otot, terutama pada lengan punggung dan kaki
Menggigil dan berkeringat
Sakit kepala
Batuk kering
Kelelahan dan lemah, sehingga membuat kita hampir tidak produktif dalam bekerja
Hidung tersumbat

Penyebab Influenza
Virus flu dapat ter-transmisi melalui udara ketika seseorang yang sedang terinfeksi batuk, bersin
atau berbicara. Anda dapat menghirup, ataupun mendapatkannya saat sedang bersentuhan dengan
barang-barang seperti telepon atau keyboard komputer . Virus tersebut biasanya disalurkan ke
mata, hidung atau mulut.

Virus influenza berubah setiap waktu. Jika Anda mengalami influenza di masa lalu, tubuh Anda telah
membuat antibodi untuk melawan virus tertentu. Jika virus influenza masa depan mirip dengan apa
yang Anda miliki sebelumnya, baik dengan memiliki penyakit atau dengan vaksinasi, antibodi
tersebut
dapat
mencegah
infeksi
atau
mengurangi
keparahan.
Tetapi antibodi terhadap virus flu yang ditemui di masa lalu tidak dapat melindungi seseorang dari
infeksi virus influenza subtipe baru yang sangat berbeda struktur imunologinya. Empat subtipe virus
telah muncul pada manusia sejak epidemi global (pandemi) tahun 1918, yang menewaskan puluhan
juta orang.

Faktor Resiko Influenza


Beberapa hal berikut adalah faktor risiko seseorang terkena infeksi influenza, yaitu :

Umur
Influenza musiman cenderung menargetkan anak muda dan orang di atas 65. Namun, tampaknya
paling
sering
terjadi
pada
remaja
dan
dewasa
muda.

Pekerjaan
Pekerja perawatan kesehatan dan personil perawatan anak lebih mungkin untuk memiliki kontak
dekat
dengan
seseorang
yang
terinfeksi
influenza.

Kondisi

hidup

Orang-orang yang tinggal di fasilitas bersama dengan warga lainnya, seperti rumah jompo atau
barak
militer,
lebih
mungkin
untuk
mengembangkan
flu.

Sistem

kekebalan

tubuh

yang

lemah

Pengobatan kanker, obat anti-penolakan, kortikosteroid dan HIV / AIDS dapat melemahkan sistem
kekebalan Anda. Hal ini dapat membuat virus influenza masuk dan berkembang dalam tubuh.

Penyakit

kronis

Kondisi kronis, seperti asma, diabetes atau jantung, dapat meningkatkan risiko komplikasi influenza
Kehamilan
Wanita hamil lebih mungkin untuk mengalami komplikasi influenza, terutama pada trimester kedua
dan ketiga.

Komplikasi Akibat Influenza


Jika Anda masih muda dan sehat, influenza musiman biasanya tidak serius. Meskipun Anda
mungkin merasa sengsara saat mengalaminya, flu biasanya hilang tanpa efek permanen. Tapi anakanak berisiko tinggi dan dewasa dapat mengalami komplikasi seperti:

Pneumonia
Bronkitis
Infeksi sinus
Infeksi telinga
Pneumonia adalah bentuk komplikasi yang paling umum dan paling serius. Untuk orang dewasa
yang lebih tua dan orang dengan penyakit kronis, pneumonia dapat mengancam nyawa.
Perlindungan terbaik adalah dengan mendapatkan vaksinasi terhadap kedua pneumonia
pneumokokus dan influenza.

Diagnosa Influenza
No Content

Pengobatan Influenza
Biasanya, Anda tak perlu melakukan banyak hal selain istirahat dan mengkonsumsi banyak cairan
untuk mengobati flu. Namun dalam beberapa kasus, dokter dapat meresepkan obat antivirus. Jika
diminum segera setelah Anda melihat gejala-gejala, obat ini dapat mempersingkat penyakit Anda
dan membantu mencegah komplikasi serius.

Pencegahan Influenza
Cara paling jitu untuk mencegah infeksi virus flu adalah dengan melakukan vaksinasi. Vaksinasi
cukup diberikan sekali setahun, biasanya dalam bentuk suntikan. Pemberian vaksinasi tidak serta

merta melindungi seseorang 100% dari virus flu, namun setidaknya orang yang telah divaksin, bila
terkena flu, umumnya gejala yang dialami jauh lebih ringan.
Selain itu, beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan guna mencegah infeksi influenza adalah :

Cuci

tangan

Teliti dan sering mencuci tangan adalah cara terbaik untuk mencegah infeksi yang umum. Gosok
tangan Anda dengan benar selama setidaknya 15 detik. Atau gunakan alkohol pembersih tangan
berbahan
dasar
bila
sabun
dan
air
tidak
tersedia.

Tutup

mulut

dan

hidung

Tutup mulut dan hidung ketika Anda bersin atau batuk. Untuk menghindari kontaminasi tangan,
batuk atau bersin ke dalam jaringan atau ke dalam lekukan dalam siku Anda.

Hindari orang

banyak

Flu menyebar dengan mudah dimanapun orang berkumpul seperti pusat-pusat penitipan anak,
sekolah, gedung perkantoran, auditorium dan transportasi umum. Dengan menghindari kerumunan
selama musim flu puncak, Anda mengurangi kesempatan Anda untuk infeksi.

VULVITIS

A. PENGERTIAN
Vulvitis adalah peradangan pada vulva [ mons veneris, labia mayora,
labiya minora, klitoris, vestibulum, orifisium uretra externa,
glandula bartholini dan glandula para uretra ]
B. TANDA DAN GEJALA

Vulva membengkak dan merah


Agak nyeri
Gatal
Gejala sesuai jenis infeksi

C. PATOFISIOLOGI
Umumnya vulvitis dapat dibagi dalam 3 golongan :
1.
Yang bersifat local.

Infeksi pada glandula bartholini


Sering timbul karena gonorea, infeksi streptococcus, E.coli.
Infeksi pada orifisium uretra externa, glandula para uretralis.
Sering disebabkan karena gonorea.
Infeksi pada kulit, rambut, glandula sebasea, glandula esokrin
keringat.bisa timbul karena trauma luka atau sebab lain.
2.

Golongan yang timbul bersama-sama dengan vaginitis atau timbul


akibat vaginitis.

3.

Yang merupakan permulaan atau manifestasi penyakit umumnya.


Vulvitis pada
Penyakit kelamin klasik, yaitu gonorea, sifilis, ulkus molle,
limfogranuloma venereum.
Vulvitis yang disebabkan oleh infeksi virus herpes genetalis.
Vulvitis pada diabetes mellitus.
D. PENGOBATAN

simptomatik
Antibiotik sesuai pengobatan.
Atasi penyebab utama
Perawatan vulva hygiene yang baik.