Anda di halaman 1dari 33

Daerah Operasi Kereta Api Indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Operasi_Kereta_Api_Indonesia#Tata_laksana

Daerah Operasi Kereta Api Indonesia atau disingkat menjadi DAOP KAI adalah
pembagian daerah pengoperasian kereta api Indonesia, di bawah lingkungan PT
Kereta Api (Persero) yang berada di bawah Direksi PT Kereta Api (Persero) dipimpin
oleh seorang Kepala Daerah Operasi (KADAOP) yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Direksi PT Kereta Api (Persero).

Tata laksana

A. Dalam melaksanakan tugasnya Kepala Daerah Operasi dibantu para Kepala Seksi,
Pemeriksa Kas Daerah, HUMASDA dan para Kepala UPT wajib menerapkan prinsipprinsip koordinasi, konsolidasi, integrasi, sinkronisasi dan komunikasi pada satuan
organisasi masing-masing dalam lingkup Daerah Operasi dan dengan satuan
organisasi lain di dalam dan di luar PT Kereta Api (Persero);
B. setiap pemimpin satuan organisasi di dalam lingkungan PT Kereta Api (Persero)
bertanggung jawab memimpin dan mengoordinasikan bawahannya masing-masing,
serta berkewajiban untuk memberikan bimbingan. pengarahan dan keteladanan bagi
bawahan untuk kelancaran pelaksanaan tugas.;
C. setiap pemimpin satuan organisasi berkewajiban untuk selalu mengikuti dan menaati
petunjuk pelaksanaan teknis, prosedur kerja, reglemen (peraturan dinas) dan peraturan
umum yang berlaku, bertanggung jawab kepada atasan masing-masing, serta selalu
menyampaikan laporan berkala kepada atasannya secara tepat waktu;
D. setiap laporan yang diterima dari pemimpin satuan organisasi di bawahnya wajib
diolah dan dipergunakan sebagai bahan untuk menyusun laporan lebih lanjut,
pemberian pengarahan kepada bawahan dan bahan untuk melaksanakan kelancaran
pekerjaan;
E. para Kepala Seksi, Pemeriksa Kas Daerah, HUMASDA dan Kepala UPT
menyampaikan laporan kepada Kepala Daerah Operasi berdasarkan laporan yang
diterima dari para bawahan untuk selanjutnya Kepala Daerah Operasi menyusun
laporan berkala tentang Kegiatan Daerah Operasi;
F. dalam menyampaikan laporan kepada atasan tembusan laporan wajib disampaikan
kepada Kepala Satuan Organisasi lain yang secara fungsional mempunyai hubungan
kerja;
G. dalam melaksanakan tugas pokoknya para Kepala Satuan Organisasi wajib
berpedoman kepada uraian jabatan (Job Description) dan peraturan-peraturan yang
masih berlaku.

Tugas pokok
A. Menyelenggarakan pengusahaan angkutan kereta api.

B. Merumuskan dan menyusun program pembinaan angkutan penumpang dan / atau


barang.
C. Pengendalian pelaksanaan angkutan penumpang dan / atau barang di wilayah Daerah
Operasi.

Fungsi
A. Pengelolaan sumber daya manusia (SDM), administrasi kerumahtanggaan dan
umum, pertimbangan dan bantuan hukum, serta pengujian, pengendalian dan
pembinaan hygiene perusahaan, kesehatan (HIPERKES) dan keselamatan kerja.
B. Pendayagunaan keuangan, serta pelaksanaan dan pembinaan anggaran dan
akuntansi.
C. Pemeriksaan kas daerah.
D. Pelaksanaan hubungan masyarakat di daerah.
E. Pemeliharaan dan pengendalian jalan rel dan jembatan.
F. Pelaksanaan dan pengendalian operasi dan pemasaran.
G. Pemeliharaan dan pengendalian sinyal, telekomunikasi dan listrik umum.

Seksi-seksi
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Seksi Sumber Daya Manusia dan Umum.


Seksi Keuangan.
Pemeriksaan Kas Daerah.
Hubungan Masyarakat Daerah (HUMASDA).
Seksi Jalan Rel dan Jembatan.
Seksi Operasi dan Pemasaran.
G. Seksi Sinyal, Telekomunikasi dan Listrik.

Jalur kereta api di


Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Jalur_kereta_api_di_Indonesia

Jalur kereta api di Indonesia mengacu kepada jalur kereta api yang pernah ada, tidak ada dan
pembaharuan digunakan sebagai angkutan penumpang dan/atau angkutan barang.

Daftar jalur kereta api di Indonesia


1. Jawa

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Utara

Jalur
Merak-Cilegon
Cilegon-Serang
Serang-Tangerang
Tangerang-Jakarta
Jakarta-Bekasi
Bekasi-Cikampek
Cikampek-Jatibarang
Jatibarang-Cirebon
Cirebon-Tegal
Tegal-Pekalongan
Pekalongan-Semarang
Semarang-Demak
Demak-Kudus
Kudus-Pati
Pati-Rembang
Rembang-Tuban
Tuban-Lamongan
Lamongan-Gresik
Gresik-Surabaya
Surabaya-Sidoarjo
Sidoarjo-Bangil
Bangil-Pasuruan
Pasuruan-Probolinggo
Probolinggo-Situbondo
Situbondo-Banyuwangi

Status KA
Aktif
Aktif
Baru
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Tidak aktif
Tidak aktif
Tidak aktif
Tidak aktif
baru
Tidak aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Tidak aktif

Status rel
Ada
Ada
Tidak ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak ada

Selatan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

Jalur
Cilegon-Anyer
Anyer-Labuan
Labuan-Pandeglang
Pandeglang-Rangkasbitung
Rangkasbitung-Serpong
Serpong-Cibinong
Cibinong-Bogor
Bogor-Cibadak
Cibadak-Sukabumi
Sukabumi-Cianjur
Cianjur-Cirawa
Cirawa-Bandung
Bandung-Dayeuhkolot
Dayeuhkolot-Garut
Garut-Tasikmalaya
Tasikmalaya-Banjar
Banjar-Pangandaran
Pangandaran-Cilacap
Cilacap-Kroya
Kroya-Purworejo
Purworejo-Yogyakarta
Yogyakarta-Solo
Solo-Wonogiri
Wonogiri-Ponogoro
Ponogoro-Trenggalek
Trenggalek-Tulungagung
Tulungagung-Blitar
Blitar-Kepanjen
Kepanjen-Dampit
Dampit-Lumajang
Lumajang-Jember
Jember-Banyuwangi

Status KA
Tidak Aktif
Baru
Tidak Aktif
Aktif
Aktif
Baru
Aktif
Aktif
Aktif
Tidak aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Tidak aktif
Baru
Aktif
Tidak aktif
Baru
Aktif
Aktif
Baru
Aktif
Aktif
Baru
Baru
Baru
Aktif
Aktif
Baru
Baru
Aktif
Aktif

Status rel
Ada
Tidak ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak ada
Ada
Ada
Tidak ada
Ada
Ada
Tidak ada
ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada

Tengah
No

Jalur

Status

Status

KA

rel

Sambungan
Utar
Selata

1
2
3
4
5
6
7
8
8 (2)
9
10

Serpong-Jakarta
Jakarta-Cibinong
Cikampek-Purwakarta
Purwakarta-Cirawa
Bandung-Cicalengka
Cicalengka-Ciawi
Ciawi-Tasikmalaya
Cirebon-Prupuk
Tegal-Prupuk
Prupuk-Purwokerto
Purwokerto-Banjarnegara

Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Tidak

Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada

a
4/5
4/5
6/7
8/9
9/10
-

n
5/6
6/7
11/12
12/13
15/16
-

11

Banjarnegara-Wonosobo

aktif
Tidak

Ada

12

Wonosobo-Kretek

aktif
Baru

Tidak

20/21

13

Kretek-Purworejo

Baru

ada
Tidak

14
15
16
16(2

Purwokerto-Kroya
Demak-Purwodadi
Purwodadi-Depok
Semarang-Depok

Aktif
Aktif
Aktif
Aktif

ada
Ada
Ada
Ada
Ada

12/13
11/12

19/20
-

Depok-Solo
Purwodadi-Blora
Blora-Cepu
Depok-Cepu
Rembang-Blora
Cepu-Bojonegoro
Bojonegoro-Lamongan
Lamongan-Jombang
Solo-Sragen
Sragen-Madiun
Madiun-Kertosono

Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif

Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada

15/16
22/23
-

22/23
-

)
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

28
29
30
31

Kertosono-Jombang
Jombang-Mojokerto
Mojokerto-Bangil
Madiun-Ponorogo

Aktif
Aktif
Aktif
Tidak
Akti

32
33
34
35
36
37
38
39

Kertosono-Kediri
Kediri-Tulungagung
Mojokerto-Surabaya
Bangil-Malang
Malang-Kepanjen
Probolinggo-Lumajang
Situbondo-Jember
Ponorogo-Slahung

f
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Tidak
Akti

40

Malang Kota Lama-

f
Aktif

Ada
Ada
Ada
Tidak

21/22
-

24/25

19/20
21/22
23/24
24/25
-

26/27
28/29
30/31
31/32
-

Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada

Malang Jagalan
Sumatra
Timur
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Jalur
Banda Aceh-Sigli
Sigli-Lhokseumawe
Lhokseumawe-Binjai
Binjai-Medan
Medan-Tebingtinggi
Tebingtinggi-Kisaran
Kisaran-Tanjungbalai
Tanjungbalai-Rantauprapat
Rantauprapat-Baganbatu
Baganbatu-Duri
Duri-Minas
Minas-Pekanbaru
Pekanbaru-Kerinci
Kerinci-Rengat
Rengat-Jambi
Jambi-Palembang
Palembang-Prabumulih
Prabumulih-Baturaja
Baturaja-Bandarlampung

Status KA
Tidak aktif
Tidak aktif
Tidak aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Aktif
Aktif
Aktif

Status rel
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada
Ada

Barat
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Jalur
Tebingtinggi-Pematangsiantar
Pematangsiantar-Prapat
Prapat-Tarutung
Tarutung-Sibolga
Sibolga-Padangsidempuan
Padangsidempuan-Lubuksikaping
Lubuksikaping-Bukittinggi
Bukittinggi-Padangpanjang
Padangpanjang-Pariaman
Pariaman-Padang
Padang-Solok
Solok-Sawahlunto
Sawahlunto-Muaro
Muaro-Muarabungo
Muarabungo-Bangko
Bangko-Lubuklinggau
Lubuklinggau-Lahat
Lahat-Prabumulih

Status KA
Aktif
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Baru
Tidak aktif
Aktif
Aktif
Baru
Baru
Tidak Aktif
Baru
Baru
Baru
Aktif
Aktif

Status rel
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada

Tengah
No

Jalur

Status

Status

KA

rel

Sambungan
Timu
Barat
r

Tanjungbalai-Tarutung

Baru

Tidak

7/8

3/4

12/13

Pekanbaru-Bangkinang

Baru

ada
Tidak

Bangkinang-Bukittinggi

Tidak

ada
Ada

7/8

Padangpanjang-

aktif
Tidak

Ada

8/9 ke

Sawahlunto
Jambi-Muarabulian

aktif
Baru

Tidak

15/16

Muarabulian-

Baru

ada
Tidak

14/15

Muarabungo

12/13

ada

Jalur kereta api nonaktif di Indonesia


http://id.wikipedia.org/wiki/Jalur_kereta_api_nonaktif_di_Indonesia

Jalur kereta api mati di Indonesia mengacu kepada jalur kereta api yang dahulu pernah ada
dan digunakan sebagai angkutan penumpang dan/atau angkutan barang, namun sekarang sudah tidak
difungsikan lagi, dan di beberapa tempat, bahkan sudah tidak ada bekas-bekasnya lagi.

Daftar jalur kereta api mati di Indonesia


Jawa

Jalur kereta api Ambarawa-Kedungjati

Jalur kereta api Banjar-Cijulang

Jalur kereta api Banjarsari-Purbalingga

Jalur kereta api Barat-Lanud Iswahyudi

Jalur kereta api Blimbing-Tumpang

Jalur kereta api Cepu-Blora

Jalur kereta api Cibatu-Cikajang

Jalur kereta api Cikampek-Cilamaya

Jalur kereta api Cikudapateuh-Ciwidey

Jalur kereta api Cilegon-Anyerkidul

Jalur kereta api Cirebon Prujakan-Kegiren

Jalur kereta api Cirebon-Cirebon Pelabuhan

Jalur kereta api Cirebon-Kadipaten

Jalur kereta api Dayeuhkolot-Majalaya

Jalur kereta api Demak-Blora

Jalur kereta api Demak-Kudus

Jalur kereta api Demak-Purwodadi

Jalur kereta api Jatibarang-Balongan

Jalur kereta api Jatibarang-Indramayu

Jalur kereta api Jombang-Babat

Jalur kereta api Juana-Rembang

Jalur Kereta Api Kabat-Banyuwangi Lama

Jalur kereta api Kalibodri-Kaliwungu

Jalur kereta api Kalisat-Panarukan (Akan Diaktifkan Kembali)

Jalur kereta api Kamalpier-Pamekasan

Jalur kereta api Kamalpier-Tanahmerah

Jalur kereta api Kandangan-Gresik (Ruas Indro-Gresik)

Jalur kereta api Karanganyar-Karanggayam

Jalur kereta api Karawang-Cikampek

Jalur kereta api Karawang-Rengasdengklok

Jalur kereta api Kediri-Jombang

Jalur kereta api Kiaracondong-Karees

Jalur kereta api Kudus-Juana

Jalur kereta api Kudus-Mayong

Jalur kereta api Lamongan-Tuban

Jalur kereta api Losari-Ciledug

Jalur kereta api Lumajang-Rambipuji

Jalur kereta api Lumajang-Klakah

Jalur kereta api Lumajang-Pasirian

Jalur kereta api Madiun-Slahung

Jalur kereta api Malang Kota Lama-Dampit

Jalur kereta api Manggarai-Padalarang (Ruas Sukabumi-Cianjur)

Jalur kereta api Mojokerto-Gempol

Jalur kereta api Pegangsaan-Salemba (Sudah Diubah Menjadi Rel Layang JakartakotaManggarai)

Jalur kereta api Pekalongan-Pekalongan Pelabuhan

Jalur kereta api Pekalongan-Wonopringgo

Jalur kereta api Purwokerto-Wonosobo

Jalur kereta api Purwodadi-Ngrombo

Jalur kereta api Purwodadi-Wirosari

Jalur kereta api Purwosari-Boyolali

Jalur kereta api Rancaekek-Tanjungsari

Jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan

Jalur kereta api Rembang-Blora

Jalur kereta api Rembang-Bojonegoro

Jalur kereta api Rogojampi-Benculuk

Jalur kereta api Saketi-Bayah

Jalur kereta api Secang-Parakan

Jalur kereta api Semarang Tawang-Demak

Jalur kereta api Semarang Tawang-Semarang Gudang

Jalur kereta api Situbondo-Panji

Jalur kereta api Sukabumi-Cikembar

Jalur kereta api Tasikmalaya-Singaparna

Jalur kereta api Tegal-Tegal Pelabuhan

Jalur kereta api Telang-Bangkalan (di Pulau Madura)

Jalur kereta api Telang-Pamekasan (di Pulau Madura)

Jalur kereta api Tuban-Babat

Jalur kereta api Tuban-Merakurak

Jalur kereta api Tulungagung-Tugu

Jalur kereta api Wirosari-Blora

Jalur kereta api Wirosari-Kradenan

Jalur kereta api Wonogiri-Baturetno (Akibat Pembangunan Waduk Gajah Mungkur)

Jalur kereta api Yogyakarta-Ambarawa

Jalur kereta api Yogyakarta-Palbapang

Jalur kereta api Yogyakarta-Secang

Sumatra

Jalur kereta api Pariaman-Sungai Limau

Jalur kereta api Padang Panjang-Payahkumbuh

Jalur kereta api Medan-Deli Tua

Jalur kereta api Lubuk Pakam-Bangun Purba

Jalur kereta api Medan-Pancur Batu

Jalur kereta api Medan-Banda Aceh

Jalur kereta api Muara Kalaban-Pekanbaru

Jalan Kereta Api Muaro-Pekanbaru

Jalur kereta api Binjai-Besitang

Jalur kereta api Binjai-Kuala

Jalur kereta api Lahat-Pagar Alam

Jalur kereta api Sawahlunto-Sijunjung

Kalimantan

Jalur kereta api Pontianak-Sambas

Sulawesi

Jalur kereta api Tanette-Takalar

A. Peta Jaringan KA di Jawa

B. Peta Jaringan KA di Sumatera

PANJANG LINTAS
WILAYAH

BEROPERASI

TIDAK
BEROPERASI

JAWA
SUMATERA
TOTAL

(km)
125.2
143.7
268.9

2710.0
1151.5
3861.5

DATA PERLINTASAN PT KAI (unit)


WILAYA
H

BEROPERASI
PERLINTASAN PERLINTA
SEBIDANG
DIJA
TIDA
G

TIDAK BEROPERASI
PERLINTASAN
PERLINTA

SAN
TIDAK
SEBID

DIJA

SEBIDANG
TIDAKDIJ

GA

AGA

ANG

SAN
TIDAK
SEBID
ANG

IJ
A
G
JAWA
SUMATE
RA
TOTAL

875
179
1054

A
3054
675
3729
4925

113
29

54
16

184
89

4
0

142

70

273
347

5272

Bangunan
http://indonesianheritagerailway.com/index.php?option=com_content&view=article&id=163&Itemid=158&lang=id

Bangunan dalam bidang perkeretaapian adalah bangunan pendukung operasional


perkeretaapian meliputi gedung perkantoran, gedung perawatan / pemeliharaan, rumah dinas,
tempat peristirahatan, menara air, rumah sinyal dan lain-lain.
Dalam perjalanan sejarah, rancangan bangunan-bangunan pendukung operasional
perkeretaapian tersebut menunjukkan nilai arsitektur dari berbagai era sejak jaman
pemerintah Hindia Belanda hingga saat ini. Banyak dari bangunan tersebut yang tidak hanya
mempunyai nilai arsitektur saja, tetapi juga merupakan peninggalan sejarah yang bernilai
historis.
Ikon

Jenis
Deskripsi
Nama dan Letak Bangunan
Bangunan
Heritage
Menara Menara air adalah bangunan yang
Rangkasbitung, Manggarai
Air
berfungsi sebagai tempat penyimpanan air
dan distribusikan melalui pipa air untuk
kepentingan stasiun, dipo atau balai yasa.

Rumah
Sinyal

Kantor

Rumah
Dinas

Rumah Sinyal adalah bangunan yang pada Tanjung Priuk


umumnya terpisah dari stasiun yang dibuat
untuk membantu mengoperasikan sistem
wesel dan sinyal. biasanya setiap stasiun
memiliki dua rumah sinyal
Lawang Sewu
Kantor adalah ruang tempat
diselenggarakannya administrasi
perkeretaapian, tempat kedudukan
pimpinan dan sebagainya. Akan tetapi
dengan perkembangan kebutuhan
masyarakat saat ini, fungsi kantorpun
berkembang, kantor bukan sekedar tempat
bekerja, melainkan sebagai sarana kegiatan
pelayanan dan penyediaan informasi
kepada masyarakat

Rumah dinas adalah bangunan untuk


tempat tinggal milik perusahaan yg
ditempati oleh karyawan dari perusahaan
tersebut

Balai Yasa

Graha Parahyangan , Rumah


Dinas di Madiun

Manggarai, Yogyakarta
Balai Yasa adalah sebuah tempat yang
digunakan untuk perbaikan atau perawatan
sarana kereta api yang meliputi lokomotif,
kereta atau gerbong. Balai yasa berfungsi
untuk menjaga kualitas sarana kereta api
sehingga layak beroperasi

Konstruksi
Konstruksi dalam lingkup perkeretaapian adalah infrastuktur yang dibuat untuk
mendukung jalan rel yang digunakan untuk perjalanan rangkaian kereta api (baik antar kota
maupun dalam kota), meliputi : jembatan, viaduct, terowongan dan beberapa menara
telekomunikasi.
Sebagian besar konstruksi perkeretaapian Indonesia saat ini merupakan peninggalan dari era
pemerintah Hindia Belanda yang memiliki style dan teknik konstruksi yang mencerminkan
kemajuan peradaban manusia saat itu sehingga memiliki nilai sejarah yang perlu dijaga dan
dilestarikan.
Ikon

Jenis

Deskripsi

Nama dan Lokasi


Konstruksi Heritage

Terowongan Terowongan adalah konstruksi galian di Ijo, Notog,


bawah permukaan tanah atau gunung yang Wilhelmina,
dibuat dan digunakan untuk jalur kereta Lampegan, Sasaksaat
api. Terowongan umumnya tertutup di
seluruh sisi kecuali di kedua ujungnya
yang terbuka pada lingkungan luar.
Terowongan dibuat melalui berbagai jenis
dan lapisan tanah dan bebatuan sehingga
metode konstruksi tergantung dari keadaan
tanah
Jembatan
Cibisoro, Cikubang,
Jembatan adalah konstruksi jalan rel yang Cisomang, Cirahong,
Lembah Anai
menghubungkan jalur kereta api yang
dipisahkan oleh sungai.
Viaduct
Viaduct adalah suatu konstruksi jalan rel
di atas jalan raya yang digunakan untuk
menghindari perlintasan sebidang antara
jalur kereta api dan jalan raya. Sistem
viaduct yang dibangun ini barangkali tak
pernah terbayangkan akan membentuk
sebuah node, salah satu elemen citra kota
yang estetik di perkotaan

Jatinegara, Bandung,
Yogyakarta, Surabaya

Lintas Jalan Rel Kereta Api


Teknologi jalan rel sulit dijelaskan tanpa mengetahui sejarah perkembangan teknologi
jalan rel. Salah satunya adalah tentang sejarah perkembangan rel.
Kegunaan rel sudah diketahui oleh manusia sejak 2000 tahun SM. Jika kondisi tanah basah,
maka roda akan menekan tanah sehingga meninggalkan tapak berupa cekungan ke dalam
tanah, hingga lama kelamaan setelah dilewati beberapa kali tanah akan mengeras dan padat.
Mendorong gerobak melalui bagian tanah yang sudah mengeras membuktikan bahwa
gerobak ternyata lebih mudah didorong.

Kebutuhan mendorong gerobak di lorong pertambangan membutuhkan pengetahuan sifat


istimewa dari rel, agar gerobak tidak membentur dinding lorong ditambahkan sebuah alat di
bagian depan gerobak untuk menjaga agar gerak gerobak mengikuti arah lorong. Abad ke 18
digunakan jalan menggunakan papan kayu yang disebut Wagonway untuk angkutan batu
bara.
Setelah besi ditemukan maka dibuat roda yang lebih tahan lama dan mclapisi permukaan roda
yang bersinggungan dengan jalan menggunakan lapisan besi tipis. Selain itu besi juga
digunakan untuk melapisi permukaan jalan kayu. Tahun 1767, von Reynolds melapisi lapisan
kayu dengan besi cor di atasnya dengan peninggian pada sisi-sisinya.
Sejak dikenal proses pengolahan besi yang lebih efektif kemudian menghasilkan rel sebagai
pengganti jalan kayu. Rel dibuat dari besi tuang dengan lekukan yang diharapkan dapat
memberi arah yang tepat bagi pergerakan roda. Jalan dengan menggunakan bahan ini disebut
Plateway. Tahun 1782, von Jessops menggunakan rel darl besi cor yang merubah bentuk rel
dari bentuk kanal menjadi bentuk jamur sejalan dengan dibuatnya roda yang dilengkapi
dengan flens.
Rel yang terbuat dari besi cor sering patah terutama pada bagian tengah. Kemudian dibuat rel
yang diperkuat pada bagian tengah menjadi seperti perut ikan. Tahun 1820, mulai digunakan
rel baja yang ditempa dengan kekuatan tarik yang lebih baik.
Membuat roda dengan flens terjadi ada dua pilihan yaitu flens roda pada sisi luar atau pada
sisi dalam. Flens disisi luar mengakibatkan kesulitan saat belok. Terbaik adalah menempatkan
flens pada sisi dalam. Roda silindris dengan flens dalam menyebabkan saat kendaraan
bergerak, roda akan selalu menyentuh rel pada salah satu sisi dan terjadi gesekan yang terus
menerus antara sisi dalam rel dan flens roda. Untuk mengatasinya roda dibuat kerucut.
Rel berkaki lebar mulai digunakan pada tahun 1839, dikembangkan oleh Steven yang
memulai eksperimen tentang rel sejak tahun 1830.
Pembangunan jalan rel di Indonesia dimulai dengan penyangkulan pertama pembangunan
badan jalan rel oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, LAJ Baron Sloet Van De Beele pada
17 Juni 1864. Jalan rel pertama dibangun oleh perusahaan swasta bernama NIS
(Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij) dimulai dari Semarang menuju Tanggung
sepanjang 26 km dan diresmikan pada tanggal 10 Agustus 1867. Lebar spoor yang digunakan
yaitu 1435 mm.
Pembangunan jalur dilanjutkan menuju Solo dan Yogyakarta kemudian diresmikan pada
tanggal 10 Juni 1872. Mengingat topografi Indonesia yang bergunung maka pemerintah
Hindia Belanda menetapkan lebar spoor 1067 mm sebagai lebar spoor yang lebih sesuai
untuk topografi Indonesia. Pada masa pemerintah Hindia Belanda, tepatnya sampai 1939,
panjang jalan rel di Indonesia telah mencapai 6811 km.

Namun sejarah jalan rel di Indonesia mencatat adanya masa yang memprihatinkan yaitu pada
masa pemerintah Jepang. Sepanjang kurang lebih 901 km raib, yang diperkirakan karena rel
yang dibongkar semasa pemerintahan Jepang ini diangkut ke Burma untuk pembangunan
jalan rel di sana. Bahkan menurut data Ditjen Perkeretaapian tahun 2006, jalan rel yang
beroperasi hanya 4360 km dan tidak beroperasi sepanjang 2122 km.
Jalan rel kereta api merupakan prasarana utama dalam perkeretaapian karena rangkaian
kereta api hanya dapat melintas di atas jalan yang dibuat secara khusus untuknya. Lebar jalan
rel yang pernah ada di Indonesia dibedakan dengan lebar spoor 1435 mm, 1067 mm, 750 mm
dan 600 mm. Sedangkan tipe rel yang pernah digunakan di Indonesia meliputi tipe R25, R33,
R42 dan R54.
Hampir seluruh jalan rel (baik jalan rel yang aktif maupun tidak aktif) di Indonesia saat ini
merupakan aset yang bernilai sejarah sehingga menjadi salah satu fasilitas publik dan aset
bangsa yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Ikon

Lintas
Heritage
Bogor Sukabumi Bandung

Deskripsi

Perusahaan

Jalur pertama dari Jakarta ke Bandung, yg


SS
dibangun 1881-1884. Terdapat terowongan (Staatsspoorwegen)
yang pertama kali dibangun yaitu terowongan
Lampegan yang memiliki panjang 686 meter.
90% stasiun masih original eks SS. Panorama
bernuansa pegunungan dan pedesaan.
Jarak: 140 km

Cikampek - Jalur kedua dari Jakarta ke Bandung, yang


SS
Purwakarta - dibangun tahun 1902-1906 oleh SS. Terdapat (Staatsspoorwegen)
Bandung
terowongan Sasaksaat yang memiliki panjang
950 meter. Terdapat 400 lebih jembatan, yang
terkenal yaitu Cikubang, Cirangrang,
Cisomang dan Ciganea. Panorama bernuansa
pegunungan. Panjang jalur: 75 km
Bandung - Jalur ini dibangun untuk menghubungkan
SS
Banjar
kota Yogyakarta dan kota Bandung, dibangun (Staatsspoorwegen)
1884-1894 oleh SS. Terdapat jalur menawan
di daerah Leles - Lebakjero. Jalur ini naikturun, curam dan berkelak-kelok. Terdapat
jembatan Cirahong, jembatan ini memiliki
keunikan yaitu satu jembatan dapat dilalui
mobil/motor dan kereta api tanpa saling
menghalangi). Panorama bernuansa
pegunungan. Panjang jalur: 157 km
Tuntang Jalur ini dibangun oleh NIS untuk
NIS (NederlandschAmbarawa - kepentingan mobilisasi militer Belanda dari Indische Spoorweg
Bedono
Semarang ke Ambarawa. Jalur ini diresmikan maatschappij)
1873. Terdapat rel bergerigi pada rute Jambu Bedono dan Bedono - Gemawang. Saat ini
jalur cabang tidak terkoneksi dengan jalur
utama kereta api (Semarang - Solo). Kawasan
Stasiun Ambarawa sudah menjadi landmark
kabupaten Semarang. Panjang jalur: 14.5 Km.
Purwokerto - Jalur eks SDS yang tersisa dan terkoneksi
SDS (Serajoedal
Purwokerto dengan jalur utama kereta api (Yogyakarta- Stoomtram
Timur
Purwokerto) di stasiun Purwokerto. Jalur ini Maatschappij)
merupakan bagian dari jalur kereta api rute
Purwokerto - Wonosobo sepanjang 92,1 km.
Jalur milik SDS (Maos-PurwokertoWonosobo) mulai dibangun tahun 1893. Saat
itu dibangun untuk mengangkut hasil bumi
dari Wonosobo ke Cilacap. sempat digunakan
sebagai angkutan Pupuk Sriwijaya dan
Sement dari Cilacap ke Purwokerto Timur,
namun hanya aktif sampai dengan 1985.
Panjang jalur: 5 km

Sarana
Salah satu keunikan dari kereta api adalah terpisahnya unit penggerak kereta api dan
peralatan pengangkut yang dipergunakan. Pemisahan ini mengakibatkan kereta api memiliki
kelebihan yaitu peralatan pengangkut dapat dirangkaikan dan dilepas sesuai kebutuhan. Jika
karena suatu hal unit penggerak harus diganti maka dapat dilakukan dengan mudah tanpa
harus mengganggu peralatan pengangkutan.
Unit penggerak biasanya disebut lokomotif. Lokomotif yang pernah dioperasikan di
Indonesia, antara lain Lokomotif Uap, Lokomotif Listrik dan Lokomotif Diesel. Peralatan
pengangkut disebut kereta untuk angkutan penumpang dan gerbong untuk angkutan barang.
Selain lokomotif, kereta dan gerbong masih terdapat unit peralatan lain yang dapat bergerak
di atas jalan rel, yaitu Railway-Crane, Lori Inspeksi, Lori Kerja dan Peralatan Pemeliharaan
Jalan Rel.
Sarana yang masuk dalam aset cagar budaya antara lain:
Ikon
Sarana
Deskripsi
Jenis
Lokomotif Lokomotif uap adalah kendaraan B12, B13, B16, B17, B20, B22,
Uap
rel yang dapat bergerak sendiri
B23, B25, B27, B50, B51, B52,
dengan penggerak mesin uap yang BB10, BB84, C11, C12, C14, C15,
dihasilkan dari ketel uap yang
C16, C17, C18, C19, C20, C21,
dipanaskan dengan kayu bakar,
C23, C24, C25, C26, C27, C28,
batu bara atau minyak bakar.
C29, C30, C33, C51, C53, C54,
Lokomotif uap pertama di
CC50, D10, D11, D14, D15, D50,
Indonesia mulai beroperasi pada D51, D52, E10, F10, TC10, TD10,
tahun 1867 seiring dengan
DSM 22, DSM 28, DSM 38, DSM
pembukaan jalur kereta api yang 48, DSM 55, NIS 107, SS 200T / SS
pertama dari stasiun Samarang ke 300T
Tanggung sepanjang 26 km.
Lokomotif uap tersebut bernomor
seri NIS 1 dan NIS 2 buatan
pabrik Borsig di Jerman.
Selanjutnya berbagai jenis
lokomotif mulai didatangkan dari
Eropa dan Amerika. Lokomotiflokomotif tersebut memiliki daya
sampai 1850 HP (horse power),
misalnya lokomotif uap terbesar di
Indonesia yaitu DD52. Mulai
tahun 1953, lokomotif diesel mulai
datang dan selanjutnya
menggantikan lokomotif uap. Baru
sekitar tahun 1980, lokomotif uap
tidak dioperasionalkan lagi kecuali
untuk kereta wisata.

Lokomotif Lokomotif diesel adalah


Bima Kunting (B100, B201),
Diesel
kendaraan rel yang dapat bergerak BB200, BB201, BB300, BB301,
sendiri dengan motor diesel
BB305, C300, CC200, D300, D301,
sebagai sumber tenaga dan
Kebo Kuning
berfungsi untuk menarik rangkaian
kereta atau gerbong. Lokomotif
diesel pertama di Indonesia mulai
beroperasi pada tahun 1953 yaitu
lokomotif CC200
Lokomotif Lokomotif listrik tidak dapat
ESS3201
Listrik
menghasilkan listrik sendiri untuk
menggerakkan motor (untuk
menggerakkan roda lokomotif)
namun listriknya diperoleh dari
kabel transmisi di atas jalur kereta
api. Jangkauan lokomotif ini
terbatas hanya pada jalur yang
tersedia jaringan transmisi listrik
penyuplai tenaga. Lokomotif
listrik mulai dioperasikan pada
tahun 1925 sejak adanya jaringan
listrik yang pertama kali dari
stasiun Tanjung Priuk sampai ke
stasiun Jatinegara
Kereta
MCDW 300, CR, AR
Kereta adalah kendaraan yg
seluruhnya atau sebagiannya
dipergunakan untuk mengangkut
penumpang, bagasi atau kiriman
pos. Terdapat sejumlah 22 kereta
tua dari hasil inventarisasi dan
pendataan. Selain itu, terdapat
Kereta Djoko Kendil (mulai dinas
tahun 1938) yang dapat disewa
oleh masyarakat umum untuk
kereta wisata.
Gerbong

GR, PR, YR, KR, ZR


Gerbong adalah kendaraan yg
khusus dipergunakan untuk
mengangkut barang atau binatang.
Terdapat sejumlah 7 gerbong tua
dari hasil inventarisasi dan
pendataan.

Crane

FIGEE, UH-995
crane adalah alat penderek atau
alat pengungkit untuk
memindahkan barang besar dan

berat dalam satu lokasi. Crane


merupakan peralatan pendukung
di dipo lokomotif atau dipo kereta
dan lebih sering dipergunakan
untuk mengangkat lokomotif,
kereta atau gerbong yang anjlog
(derailment) atau terguling saat
beroperasi sehingga mengganggu
perjalanan kereta api yang lain

Standar Prosedur Operasional Perkeretaapian


http://www.semboyan35.com/showthread.php?tid=7316

PROSEDUR PPKA STASIUN


1. SERAH TERIMA DINASAN
a. Hari tanggal bulan tahun dan jam dibuatnya serah terima dinasan harus lengkap dan
sesuai dengan realitas.
b. Diserahkan dari dinas PPKA ke dinas PPKA berikutnya
c. Catat KA-KA yang belum lewat,KA-KA yang belum masuk,KA-KA yang batal,KAKA luar biasa fakultatif yang jalan
d. Keadaan sepur sepur diemplasemen
e. Keadaan alat pengamanan,pesawat telkom,bel genta,kunci pengaman
f. Alat-alat inventaris PPKA apakah lengkap/ tidak sesuaikan dengan keadaan riil
g. Telegram/surat penting
h. Keterangan/kejadian/gangguan lain-lain
i. Pencatat kounter meja pelayanan
j. Jam ditandatangani serahterima PPKA dibuku WK
k. Tanda tangan nama dan NIPP PPKA yang menyerahkan dan yang menerima
l. Tanda tangani serah terima dibuku WK

2.

PERCOBAAN PERALATAN PENGAMANAN DAN


TELEKOMUNIKASI

a. Coba pesawat LCC ke stasiun kanan kiri,PK/OC,JPL

b. Coba pesawat NA 100 ke PK/OC


c. Coba pesawat RIG ke OSCAR ROMEO
d. Coba pesawat TOKA
e. Coba alat pemutar genta perlintasan
3. NEGATIVE CHEK
a. Bentuk rute KA masuk
b. Coba rute arah berlawanan
c. Balik wesel yang tersekat
d. Coba rute yang sama beda sepur
e. Coba rute keluar dari sepur yang berbeda
4. KEBERSIHAN RUANG PPKA
a. Kebersihan lantai dan kaca diruang PPKA
b. Kebersihan meja pelayanan
c. Kebersihan pesawat telpon
d. Kebersihan disekitar ruang PPKA

5. PELAYANAN PERJALANAN KERETA API


a. Penulisan buku warta Kereta Api
1. Petak jalan antara
2. Tanggal
3. Nomor KA
4. Warta aman
5. Warta lepas
6. Semboyan genta yang dibunyikan
7. Warta masuk

8. Jam berangkat dan masuk JPJ


b. Pelaksanaan semboyan satu
1. Semboyan satu harus terlihat dari masinis
2. Dimulai ketika kita mengijinkan KA masuk
3. Selesai setelah ka berhenti benar atau melewati wesel terjauh
4. Laporkan ke PK/OC setiap ka langsung berhenti berangkat dan ketika ada
sesuatu yang mencurigakan
5. Catat jam KA datang langsung berangkat dibuku kelambatan dan bentuk 84 B

6. KETIKA ADA GANGGUAN MEJA PELAYANAN


a. Catat jam dan jenis gangguan dalam buku gangguan
b. Laporkan ke PK/OC dan pihak terkait
c. Kalau berhubungan dengan blok kesetasiun sebelah kabarkan kesetasiun tersebut
d. Yakinkan wesel wesel dan sepur apakah aman untuk dilewati Kereta Api
e. Dahulukan keamanan PERKA
f. Ambilah resiko terberat pada saat mengambil keputusan
g. Tetap tenang dan konsentrasi
h. Catat apabila ada perubahan pencatat kounter dalam buku pencatat pemakaian kounter
7. PENGISIAN ADMINISTRASI LAINNYA
a. Bentuk no. 90
1. Nomor KA
2. Petak jalan antara
3. Penyebab jalan hati-hati
4. Cap stasiun
5. Tanggal bulan dan tahun dibuatnya

6. Tanda tangan nama terang dan NIPP PPKA yang bertugas


7. Minta tandatangani masinis dan kondektur
b. Bentuk no. 92
1. Nomor KA
2. Petak jalan antara
3. Penjelasan kedudukan sinyal
4. Cap setasiun
5. Tanggal bulan dan tahun dibuatnya
6. Tanda tangan nama terang dan NIPP PPKA yang bertugas
7. Minta tanda terima dari masinis

8. Negative chek
1. Buku kelambatan dan bentuk 84 B
2. Buku materil
3. Pembuatan LG
4. Daftar hadir/absensi
5. Buku telegram dinas
6. Buku pengunjukan telegram dinas
7. Periksa benang diGAPEKA sesuaikan dengan tem MALKA atau PPKA
8. SELALU BERDOA SEBELUM DAN SESUDAH BEKERJA SEMOGA DIBERI
KESELAMATAN DAN KELANCARAN DALAM PERJALANAN KERETA API

PROSEDUR PENANGANAN GANGGUAN


PERJALANAN KERETA API DI STASIUN
1. WESEL KEDIP
a. Pelayanan wesel yang gangguan
>> Wesel bukan kopel

Yakinkan kedudukan wesel sebelum kedip


Pembantu PPKA membawa kunci wesel dan engkol wesel
Buka gembok penutup lubang engkol
Masukan engkol dan putar kearah kedudukan wesel yang kurang rapat dan
rapatkansampai terdengar suara klek ditambah kurang lebih 10 putaran
Cabut engkol dan reset wesel tersebut kemudian cek indikator wesel di meja
pelayanan
Apabila sudah tenang maka kunci kembali penutup lubang engkol dan kembali ke
stasiun
Apabila masih kedip maka engkol wesel kearah sebaliknya
Setelah rapat ditambah kurang lebih 10 putaran cabut engkol wesel dan reset wesel
tersebut
Periksa indikator wesel di meja pelayanan
Apabila wesel masih kedip ulangi sampai 3 kali
Dan apabila tetap kedip maka segera hubungi petugas sinyal dan catat dalam buku
laporan gangguan
Laporkan ke PK/OC
>> Wesel kopel
Yakinkan kedudukan wesel sebelum kedip
Pembantu PPKA membawa kunci wesel dan engkol wesel
Engkol wesel yang terlihat kurang rapat
Rapatkan dengan arah sesuai wesel pasanganya
Setelah rapat ditambah kurang lebih 10 putaran cabut engkol dan reset wesel
tersebut
Periksa indikator wesel dimeja pelayanan
Apabila masih kedip maka engkol wesel kearah sebaliknya
Engkol wesel pasangan searah dengan wesel pertama
Putar sampai bunyi klek ditambah kurang lebih 10 putaran
Cabut engkol dan reset wesel
Periksa indikator wesel dimeja pelayanan
Apabila masih kedip ulangi sampai 3 kali
Apabila 3 kali masih kedip maka segera hubungi petugas sinyal dan catat dalam
buku laporan gangguan
Laporkan ke PK/OC
b. Pelayanan Kereta Api pada saat wesel pertama yang akan dilewati kedip
Kabarkan ke PK/OC bahwa wesel masih kedip dan kereta api tersebut ditahan
sinyal dahulu
Untuk pelayanan kereta api ditahan sampai wesel normal kembali
Apabila 3 kali engkol tetap tidak bisa normal maka engkol wesel kearah yang
dikehendaki dan pasang tongklem di wesel tersebut
Kabarkan ke PK/OC bahwa kereta api masuk dengan bentuk MS
Perintahkan pkst untuk menjemput kereta api tersebut dengan membawa MS
Berangkat Kereta Api bisa dengan rute normal
Kabarkan ke petugas sinyal dan catat dalam buku laporan gangguan
Catat dalam buku warta Kereta Api bahwa kereta api tersebut masuk dengan betuk
MS

c. Pelayanan Kereta Api pada saat wesel luncuran yang akan dilewati kedip
Apabila wesel kedip belum bisa normal
Engkol wesel kearah yang diinginkan dan tongklem wesel tersebut
Kabarkan ke PK/OC bahwa wesel tersebut kedip
Kereta api ditahan di sinyal masuk,kabarkan PK/OC bahwa Kereta Api rencana
masuk dengan sinyal darurat keluar dengan bentuk MS
Setelah Kereta Api mendekati sinyal masuk ditandai dengan buser yang menyala,
PPKA membentuk rute masuk
Pencet tombol darurat dengan tombol asal rute sampai sinyal darurat menyala
Setelah minta aman kesetasiun sebelah berangkatkan Kereta Api dengan bentuk
MS
Kabarkan kepada setasiun sebelah bahwa Kereta Api tersebut berangkat dengan
bentuk MS
Kabarkan perihal gangguan tersebut kepada petugas sinyal dan catat dalam buku
laporan gangguan
Catat pula dibuku warta KA bahwa Kereta Api tersebut berangkat dengan bentuk
MS
2. WESEL MERAH TANPA ADA BAKAL PELANTING
Periksa apakah diatas wesel tersebut tidak ada bakal pelanting
Pelayanan Kereta Api dengan sinyal darurat
Untuk membalik wesel dengan kunci TBW
Segera kabarkan ke petugas sinyal dan PK/OC
Untuk kereta api masuk dengan sinyal darurat tidak bisa diset rute langsung harus
rute masuk dulu sampai sinyal darurat muncul
Catat gangguan tersebut dalam buku laporan gangguan
3. WESEL TIDAK DAPAT DIBALIK
Periksa apakah diwesel ada benda yang menghambat pergerakan wesel
Bersihkan lidah wesel dari benda yang dapat menghambat pergerakan wesel
Lumasi wesel supaya mudah digerakan
Bantu pergerakan wesel
Apabila masih tidak bisa,untuk membalik wesel menggunakan engkol wesel
Engkol wesel sesuai arah yang diinginkan dan pasang tongklem
Untuk pelayanan kereta api dengan bentuk MS
Kabarkan ke PK/OC dan stasiun sebelah
Segera hubungi petugas sinyal
Catat gangguan tersebut dalam buku laporan gangguan
4. RUTE TIDAK DAPAT DIBENTUK
Periksa apakah ada rute lainyang berlawanan atau bersinggungan dengan rute yang
akan kita bentuk
Hapus tombol tombol rute, jikalau ada pergerakan pencatat pembebas rute maka
tunggu sampai proses selesai baru kita bentuk rute yang kita inginkan
Apabila tetap tidak bisa membentuk rute maka ka masuk/berangkat menggunakan
bentuk MS
Apabila ka masuk/berangkat dengan bentuk MS maka yakinkan kedudukan wesel
sudah sesuai dengan sepur yang dikehendaki dan tongklem wesel tersebut harus sudah
terpasang
Kabarkan ke PK/OC dan setasiun sebelah bahwa ka berangkat menggunakan

bentuk MS
Segera hubungi petugas sinyal mengenai gangguan tersebut
Catat dalam buku laporan gangguan
Dan catat dalam buku warta KA bahwa KA tersebut masuk/berangkat dengan
bentuk MS
5. PETAK BLOK ATAU TRACK CIRCUIT MERAH
Yakinkan bahwa merah bukan karena ada bakal pelanting
Apabila telah yakin bahwa tidak ada bakal pelanting maka KA masuk berangkat
menggunakan sinyal darurat
Segera hubungi petugas sinyal mengenai gangguan tersebut
Kabarkan ke PK/OC
Catat gangguan tersebut dalam buku laporan gangguan
6. MEJA PELAYANAN PADAM
Kabarkan kepada PK/OC, setasiun kanan kiri,dan petugas sinyal bahwa meja
pelayanan padam mulai jam....
Catat dalam buku warta ka dan dalam buku laporan gangguan
Periksa kedudukan wesel wesel
Posisikan wesel ke arah sepur lurus dan tongklem wesel wesel tersebut
Untuk KA masuk dan berangkat menggunakan bentuk MS
Tolak perintah persilangan dan penyusulan
Sebelum memberangkatkan KA selalu mengabarkan ke PK/OC dan setasiun
sebelah bahwa KA berangkat dengan bentuk MS
7. GANGGUAN PESAWAT TELEKOMUNIKASI
Cari alat komunikasi lain
Komunikasi bisa menggunakan TOKA,na 100,ht,hp
Apabila tetap tidak bisa berangkatkan KA dengan bentuk berjalan hati hati dengan
diberi keterangan hubungan telekomunikasi terganggu
Pelayanan KA sesuai dengan GAPEKA
Kabarkan ke petugas sinyal semampu kita
Catat dalam buku laporan gangguan
Catat dalam buku warta KA
8. GANGGUAN TELEKOMUNIKASI DAN MEJA PELAYANAN PADAM
Penanganan poin 6 dan 7 digabungkan
Tetap tenang dan konsentrasi

PROSEDUR PENANGANAN GANGGUAN


PERLINTASAN PENJAGA JALAN PERLINTASAN (PJL)
PJL TERLAYANI SETEMPAT
A. Pintu Perlintasan Terganggu

1. Aman KA yang lewat dengan memasang rambu perboden (2a) di kanan/kiri dekat
palang pintu
2. Jika masih ada kendaraan yang akan melintas , stop dengan bendera merah /
hansein.
3. Laporkan ke Stasiun terdekat / petugas terkait (SDK/SSK)

B. Kendaraan/Mobil Mogok di Perlintasan


1. Pintu perlintasan harus dututup
2. Amankan KA yang akan lewat, berusaha memberhentikan KA dengan Semboyan 3
jarak 500 meter
3. Lapor ke Stasiun terdekat dengan alat komunikasi yang ada
4. Amankan situasi dan bebaskan kendaraan dari jalan KA
5. Laporkan ke KS terdekat bila sudah aman kembali

C. Palang Pintu Tertabrak Mobil


1. Amankan situasi dan bebaskan palang pintu yang rusak dari jalan KA
2. Amankan KA yang lewat dengan memasang rambu perboden (2a) di kanan/kiri
dekat palang pintu
3. Jika masih ada kemdaraan yang akan melintas, stop dengan bendera merah /
hansein
4. Catat nomor polisi kendaraan tersebut dan tahan SIM/STNK-nya
5. Laporkan ke KS terdekat bila sudah aman kembali

D. Alat Bantu Genta Penjaga dan Telepon Terganggu


1. Pada prinsipnya genta penjaga dan telepon adalah alat bantu bukan alat pengaman

2. Waspada terhadap datangnya KA yang akan lewat dengan berpedoman pada daftar
KA
3. Siap siaga di tempat untuk menutup pintu perlintasan.
4. Lapor ke Stasiun terdekat/petugas terkait (TDK/TSK)

E. KA Lewat tanpa Semboyan 21


1. Tetap pertahankan dengan palang pintu dalam kondisi tertutup , sampai yakin tidak
ada rangkaian yang terputus meluncur ke arah perlintasan
2. Tanyakan ke Stasiun sebelah yang baru dilewati tentang kelengkapan Semboyan 21
dan beritahukan ke Stasiun sebelah yang akan dilewati

F. Ada Kelainan pada KA yang Lewat


Jika mengetahui/melihat roda menyala, material jatuh, rantai lepas, gandengan lepas,
roda lepas dari rel lapor ke Stasiun terdekat yang bisa dihubungi

G. Rel Putus di Perlintasan


1. Amankan KA yang lewat dengan memasang Semboyan 3 di kanan/kiri sejauh 500
meter dari lokasi
2. Lapor ke Stasiun terdekat/petugas terkait (Adk/DK/SK)

H. Jika Ada Hal-hal yang Belum diatur dalam SPO ini Ambil Tindakan yang
Terberat