Anda di halaman 1dari 3

Tensile test

Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji


kekuatan suatu bahan/material dengan cara memberikan
beban gaya yang berlawanan arah dalam satu garis lurus..
Hasil yang didapatkan dari pengujian tarik sangat penting
untuk rekayasa teknik dan desain produk karena
mengahasilkan data kekuatan material. Pengujian uji tarik
digunakan untuk mengukur ketahanan suatu material
terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat.
Sifat-Sifat Logam Pada Uji Tarik (Tensile Properties)
Pengujian dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat mekanis
suatu material, khususnya logam diantara sifat-sifat
mekanis yang dapat diketahui dari hasil pengujian tarik
adalah sebagai berikut:
1. Kekuatan tarik
2. Kuat luluh dari material
3. Keuletan dari material
4. Modulus elastic dari material
5. Kelentingan dari suatu material
6. Ketangguhan.
1. Kekuatan Tarik
Kekuatan tarik atau kekuatan tarik maksimum (Ultimate
Tensile Strength) (UTS) adalah beban maksimum dibagi luas
penampang lintang awal benda uji.
Untuk logam-logam yang liat kekuatan tariknya harus
dikaitkan dengan beban maksimum dimana logam dapat
menahan sesumbu untuk keadaan yang sangat terbatas.
Tegangan tarik adalah nilai yang paling sering dituliskan
sebagai hasil suatu uji tarik, tetapi pada kenyataannya nilai
tersebut kurang bersifat mendasar dalam kaitannya dengan
kekuatan bahan.
2. Pengukuran Batas Luluh (Yielding)
Batas luluh adalah titik yang menunjukkan perubahan dari
deformasi elastis ke deformasi plastis.Tegangan dimana
deformasi atau batas luluh mulai teramati tergantung pada
kepekaan pengukuran regangan.Telah digunakan berbagai
kriteria permulaan batas luluh tergantung pada ketelitian
pengukuran tegangan dan data-data yang digunakan.
3. Pengukuran Keuletan.
Keuleten adalah kemampuan suatu bahan untuk menahan
beban pada daerah plastis tanpa terjadi perpatahan.
4. Modulus Elastisitas
Modulus Elastisitas adalah ukuran kekuatan suatu bahan akan
keelastisitasannya. Makin besar modulus, makin kecil
regangan elastik yang dihasilkan akibat pemberian tegangan.

Impact test
Material mungkin mempunyai kekuatan tarik
tinggi tetapi tidak tahan dengan beban kejut. Untuk
menentukannya perlu diadakan pengujian inpact.
Ketahanan impact biasanya diukur dengan metode
Charpy atau Izood yang bertakik maupun tidak
bertakik. Pada pengujian ini, beban diayun dari
ketinggian tertentu untuk memukul benda uji, yang
kemudian diukur energi yang diserap oleh
perpatahannya.
Impact test merupakan suatu pengujian yang
dilakukan untuk menguji ketangguhan suatu specimen
bila diberikan beban secara tiba-tiba melalui
tumbukan. Ketangguhan adalah ukuran suatu energy
yang diperlukan untuk mematahkan atau merusak
suatu bahan yang diukur dari luas daerah dibawah
kurva tegangan regangan. Suatu bahan mungkin
memiliki kekuatan tarik yang tinggi tetapi tidak
memenuhi syarat untuk kondisi pembebanan kejut.
Suatu paduan memiliki parameter ketangguhan
terhadap perpatahan yang didefinisikan sebagai
kombinasi tegangan kritis dan panjang retak.
Bentuk takikan yang digunakan pada specimen
dalam pengujian tumbukan yaitu :
a)
Bentuk Segitiga (V) :
b)
Bentuk 1/2 Lingkaran :
c)
Bentuk Segi empat :
Specimen yang digunakan untuk suatu takikan
terdiri dari dua buah yang diuji pada suhu normal dan
suhu rendah.
Hardness test
1.Kekerasan Meyer
Meyer mengajukan definisi kekerasan yang
lebih rasional dibandingkan dengan yang diajarkan Brinell
yang didasarkan pada luas proyeksi retak, buakn keras
permukaannya. Tekanan rata-rata antara luas
penumbuk atau lekukan adalah sama beban luas proyeksi
lekukan.
Meyer mengemukakan bahwa kekerasan/
tekanan rata-rata ini dapat diambil sebagai ukuran
kekerasan dan dinamakan kekerasan Meyer.
Kekerasan Meyer mempunyai satuan Kg/
mm2, kekerasan kurang peka terhadap bahan yang

diterapkan dibanding kekerasan Brinell. Untuk bahanbahan yang mengalami pekerjaan dingin kekerasan Meyer
pada dasarnya tetap, sedangkan kekerasan Brinell akan
mengecil bila beban bertambah. Karena lekukan yang
terjadi mengakibatkan kekerasan renggang.
2.Jominy Test
Bagi setiap jenis baja mendapat hubungan
langsung dan konsistensi antara kekerasan dan laju
pendinginan. Akan tetapi hubungan ini tidak linear selain
itu landasan teori untuk analisa kuantatif cukup rumit.
Karena menyangkut variable seperti: unsure paduan
ketidak murnian, suhu austenit. Untunglah bahwa ada
pengujian stendart yang singkat yang memungkinkan ahli
teknik memperkirakan kekerasan. Pada penggunaan
tertentu dan membandingkan kekerasan antar berbagai
jenis baja. Percoban uji ini adalah percobaan jominy
dimana batang bulat dengan ukuran tertentu dipanaskan
pada daerah austenit dan disemprot ujungnya dengan
air yang mempunyai kecepatan aliran dan tekanan
tertentu nilai kekerasan sepanjang gradien lauju
pendinginan diukur dengan pengukuran kekerasan
Rockwell dan hasilnya digabarkan sebagai kurva
kemampukerasan