Anda di halaman 1dari 6

Laporan Modul 8, MG3017

Flotasi Mineral Sulfida


Erika (12113046) / Kelompok 1 / Senin, 22 Februari 2016
Asisten : Rachmi Anindya D. (12512013)

Abstrak Flotasi adalah salah satu metode yang


digunakan dalam pengolahan bahan galian. Flotasi
digunakan untuk memisahkan mineral berharga dari
mineral lain yang tidak berharga, yaitu dengan
memanfaatkan sifat hidrofilik dan hidrofobik
mineral. Dalam flotasi digunakan reagen-reagen
kimia, berupa kolektor, frother dan modifier, baik
yang berupa pH regulator,activator, maupun
depresan.

A. Tinjauan Pustaka
Flotasi merupakan metode pemisahan secara fisikakimia yang digunakan di dalam pengolahan bahan
galian, salah satunya yang akan kita bahas kali ini,
yaitu dalam pemisahan timbal dari mineral-mineral
lain. Berdasarkan jenis sel flotasi yang digunakan,
flotasi dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu
flotasi mekanikal, flotasi kolom dan flotasi
penumatik. Sementara berdasarkan prosesnya, flotasi
dapat dikelompokkan menjadi bulk floatation,
differential floatation dan selective floatation.
Flotasi secara umum terdiri adari 2 tahapan utama,
yaitu:
1.

2.

Conditioning, meliputi tahapan agitasi atau


pengadukan agar pulp menempel pada reagen
kimia. Agitasi menimbulkan turbulensi dalam
pulp dan menyebabkan terjadinya tumbukan
antara partikel dan gelembung, yang kemudian
gelembung akan mengikat mineral berharga ke
permukaan air.
Aeration, meliputi proses penambahan udara
agar terbentuk gelembung-gelembung.

3.

Flotasi memanfaatkan salah satu sifat mineral, yaitu


hidrofilik dan hidrofobik. Mineral yang hidrofobik
sulit ditempeli air, sementara mineral hidrofilik
mudah ditempeli air. Kebanyakan mineral bersifat
hidrofilik dalam keadaan alaminya sehingga
diperlukan reagen kimia untuk mengubahnya menjadi
hidrofobik sehingga mudah menempel pada
gelembung udara. Untuk mengubah sifat hidrofilik
menjadi hidrofobik inilah diperlukan reagen kimia
yang disebut kolektor. Sementara itu, untuk
menstabilkan
tegangan
permukaan
sehingga
gelembung tidak mudah pecah, digunakan frother.
Selain itu ada juga modifier, untuk memodifikasi
lingkungan flotasi, yang terdiri dari pH regulator
(untuk mengatur pH), serta activator dan depressant,
yang masing-masing digunakan untuk membantu dan
menghalangi air untuk menempel pada partikel.
Faktor-faktor operasi yang mempengaruhi flotasi
adalah:
a.

b.
c.

Material terpisah dari pulp melalui proses flotasi


yang terdiri dari tiga mekanisme, yaitu:
1.

2.

Penempelan selektif terhadap gelembung udara


(flotasi
sebenarnya),
merupakan
bagian
terpenting
Pertukaran dalam air yang melalui buih

Penangkapan secara fisik antara partikel di


dalam buih yang di menempel ke gelembung
udara (agregasi)

d.
e.

Ukuran partikel. Ukuran partikel yang terlalu


kecil selain menyebabkan penggunaan reagen
kimia yang boros, juga akan menyebabkan
sliming sehingga menghalangi gelembung
menempel pada partikel. Sebaliknya, jika ukuran
partikel terlalu besar, maka partikel akan
mengendap dan sulit diflotasi ke permukaan oleh
gelembung. Selain itu, jika ukurannya terlalu
besar, keberadaan pengotor pun lebih banyak
karena belum terbebaskan.
Persen solid.
Derajat oksidasi. Mineral oksida sulit untuk
diflotasi. Sebaliknya mineral sulfida mudah
untuk diflotasi, sehingga mineral oksida yang
akan diflotasi umumnya diubah terlebih dahulu
menjadi mineral sulfida.
Suhu, pH, dan densitas pulp.
Reagen kimia.

f.

g.

Kecepatan
putaran
pengaduk,
yang
mempengaruhi seberapa cepat pulp menjadi
homogen.
Tipe sirkuit flotasi, yang meliputi tahapantahapan flotasi.

Menambahkan collector 0.03kg/ton,


dengan conditioning selama 2 menit.

Sesuai dengan faktor-faktor tersebut, salah satunya


yaitu pH pulp, maka tujuan dari praktikum kali ini
adalah menentukan pH optimum untuk flotasi
mineral sulfida.

Menambahkan frother 0.03kg/ton, dengan


conditioning selama 2 menit.

B. Data Percobaan
1. Prosedur percobaan

Membuka kran udara lalu mengumpulkan


apungan selama 2 menit, lalu segera tutup
kran udara setelah selesai.

Menggerus conto bijih sedemikian tupa


sehingga slime yang terbentuk minimum.

Mengulangi prosedur ke 8-10 untuk


mmeperoleh konsentrat kedua.

Mengayak hasil gerusan untuk


menghasilkan umpak -65 mesh.

Mengeringkan konsentrat dan tailing


untuk dianalisis kandungan mineral
sulfidanya.

Mengambil conto bijih dengan baik lalu


mengambil conto umpan untuk dianalisis
kandungan mineral dan materialnya.

Menghidupkan mesin flotasi dengan


speed impeller sebesar 1500 rpm.

Mengisi cell flotasi hingga 2.5 cm di


bawah bibir overflow, lalu mengukur
volumenya dengan bantuan tabung ukur.

Menghitung umpang yang diperlukan


Produk
untuk menghasilkan pulp dengan
persen pH 6
berat sebesar 30%.
Konsentra 36.6
t1
7
Konsentra 25.4
t2
8
Memasukkan pulp ke dalam
cell flotasi 47.1
Pbs
pH
pH Konsentra
pH
pH
t 3H SO
Dalam
6 dengan
8 lime9dan
114. 8
Mengatur pH
2
55.5
23.1 21.9Konsentra
21.3 20.12
t
4
8
7
8
2
Konsentr
138.
at 1
Konsentr
11.3 8.32 Tailing
14.2 11.0388
303.
at 2
9
1
Konsentr
7.78 Umpan
11.5
7.3479
at 3
8.89
4
Konsentr
at 4
7.11 6.98 9.53
4.89
Konsentr
50.5 45.0
at
6
6 56.6 43.38
Umpan
73.4 75.2
awal
5
2 67.9 83.23

pH 8
35.5
2
27.9
8
54.0
3
59.9
8
126.
28
303.
79

Prosedur percobaan flotasi mineral sulfida


meliputi langkah-langkah yang telah dijabarkan
Pada diagram alir di atas. Adapun alat dan bahan
yang digunakan meliputi bijih sulfida; tabung
ukur, jar mill; penampung froth dan tailing;
kolektor
dan
pH
pH
regulator; lime; serta
pH 9
11
laboratory flotation cell.
33.0
38.0
2
2
2. Data Percobaan
37.8
21.1
a. Hasil flotasi dengan
3
2
variasi pH
23.1
48.0
Tabel 1 Hasil Flotasi dengan
2
8
Variasi pH
55.1
52.0
b.
Hasil
AAS
2
9
Tabel
2 Hasil AAS
154.
144.
7
48
C. Pengolahan
Data
303.
303.
Percobaan
79
79

a.

Rumus-rumus yang digunakan

%berat konsentrat =

PbS=

e.

Persen Recovery PbS


Tabel 5 Persen Recovery PbS

b.

p
H
8

%Recovery PbS vs pH

berat PbS dikonsentra


x 100
berat PbS diumpan awal
Persen
Konsentrat
Tabel 3 Persen
Konsentrat

p
p H
H pH
1 6
9 1

%
68.8
KonRecovery
1 1 1 1 35
senPbS
2. 1. 0. 2.
trat
1

0
7

6
9

8
7

5
2

Kon
sen
trat
2

8.
3
9

9.
2
1

1
2.
4
5

0.
0
7

Kon
sen
trat
3

1
5.
5
3

1
7.
7
9

7.
6
1

0.
1
6

Kon
sen
trat
4

1
8.
3
0

d.

berat konsentrasi
x 100
berat umpanawal

berat PbS dalam konsentrat


x 100
berat PbS total dalam konsentrat

recovery =

%
Ber
at
Kon p
senpHH
trat 6

Grafik 2 Persen PbS Dalam Konsentrat vs pH

1 1
9. 8. 0.
7 1 1
4 4 7
Konsentrat

Persen
PbS
dalam
Konsentrat

Tabel 5 Persen PbS


Dalam Konsentrat

40.000
30.000
20.000
10.000
0.000
pH 6

Berat
Berat

pH
11

pH 8

pH 9

59.9
04

83.3
57

pH 8

pH 9

pH 11

Konsentrat 1

Konsentrat 2

Konsentrat 3

Konsentrat 4

Grafik 3 Persen Recovery PbS vs pH

52.1
20

f.

Total Persen Recovery PbS


Tabel 5 Total Persen Recovery PbS

Grafik 1 Persen Berat


Konsentrat vs pH

Grafik 3 Persen Total Recovery PbS vs pH


D. Analisis Hasil Percobaan

c.

Total Persen Berat


Konsentrat

Tabel 4 Total Persen Berat


% PbS
dalam
Konsentr
at
Konsentr
at 1
Konsentr
at 2
Konsentr
at 3
Konsentr
at 4

%
Recovery
PbS
Konsentr
at 1
Konsentr
at 2
Konsentr
at 3
Konsentr
at 4

pH 6
45.8
26
22.5
27
17.5
83
14.0
62

pH 6
31.5
45
15.5
07
12.1
03
9.68
0

pH
pH
pH
pH
pH 6
8
9
11

%Berat
Konsen
58.4 49.0 12.9
trat
54.28
3
8
1
Percobaan ini bertujuan menentukan pH optimum
untuk flotasi mineral sulfida,
jika dilihat dari persen berat
pH
konsentrat,
%PbS
dan
pH 8 pH 9 11
%recovery yang didapat.
48.7 37.66 46.38 Dari table dan grafik persen
79
7
0 berat terhadap pH, dapat
18.4 25.10 25.42 dilihat bahwa kisaran persen
64
6
6 berat berada di antara 12-18
17.2 20.38 16.92 gram,
dengan
nilai
65
8
0 maksimum 18 gram pada pH
15.4 16.83 11.27 9, sementara pada pH 11,
90
7
2
mengalami
penurunan
pH 8 pH 9 pH
drastis.
Sementara
untuk
11
total
persen
berat
konsentrat, berkisar pada
29.2 31.39
24.1
21
9
74 49-54% untuk pH 6,8 dan
9. Namun pada pH 11

11.0
61
10.3
43
9.27
9

20.92
8
16.99
6
14.03
5

13.2
52
8.81
9
5.87
5

mengalami penurunan sehingga nilainya 13%. Lalu


dalam persen Pb dalam konsentrat, nilainya berkisar
antara 11%-49%. Sementara untuk recovery PbS,
nilai terbesar diperoleh pada pH 9, yaitu 83%.
Maka untuk pH optimum, dapat dikatakan bahwa
nilainya berkisar pada angka 9. Hal ini dapat dilihat
secara keseluruhan, bahwa nilai yang paling
konsisten adalah pH 9.

sedemikian rupa sehingga apabila diberi


udara maka mineral tersebut akan
mengapung dan mineral lainnya akan
tenggelam agar proses flotasi berlangsung
dengan baik.
4.

Untuk penggunaan reagen kimia, yang umumnya


digunan di pabrik yaitu 0.03/ton. hal ini akan
mempengaruhi proses flotasi, yaitu dari segi optimasi
recovery. Namun pada percobaan kali ini,
penggunaan reagen kimia dirasa sudah cukup, karena
gelembung yang terbentuk cukup stabil dan tidak
mudah pecah s
E. Jawaban Pertanyaan dan Tugas
1. Apa tujuan Desliming pada umpan flotasi?
2. Tuliskan
persamaan
kimia
yang
menunjukkan ionisasi Potassium Amyl
Xanthate (PAX) ke dalam air!
3. Tuliskan tujuan conditioning pada umpan
flotasi!
4. Tuliskan dan jelaskan macam-macam sel
flotasi yang dipergunakan dalam flotasi
komersial!
5. Apa yang dimaksud reagen activator?
6. Jelaskan mengapa air murni tidak
membentuk froth?
7. Jelaskan mekanisme aksi pada proses
flotasi!

5.

Reagen activator adalah salah satu reagen


kimia yang digunakan dalam flotasi,
termasuk kedalam golongan modifier yang
fungsinya untuk mengatur atau
memodifikasi kondisi larutan. Reagen
activator berfungsi membantu terjadinya
pelekatan gelembung pada permukaan
mineral, dengan cara meningkatkan
aktivitas permukaan mineral sehingga dapat
berinteraksi dengan kolektor sehingga
adsorbsi kolektor pada permukaan partikel
dapat berlangsung dengan baik.

6.

Air murni tidak dapat membentuk froth


karena memiliki tegangan permukaan yang
tinggi, sehingga gelembung yang terbentuk
menjadi tidak stabil.

7.

Mekanisme aksi pada flotasi secara umum


meliputi 2 tahapan sebagai berikut:
Conditioning, meliputi tahapan agitasi
atau pengadukan agar pulp menempel
pada reagen kimia. Agitasi menimbulkan
turbulensi dalam pulp dan menyebabkan
terjadinya tumbukan antara partikel dan
gelembung, yang kemudian gelembung
akan mengikat mineral berharga ke
permukaan air.

Jawaban:
1.

Desliming merupakan tahap penghilangan


slime, atau partikel halus, pada permukaan
bijih yang akan digunakan sebagai umpan.
Desliming dilakukan dengan cara pencucian.
Hal ini dilakukan karena sliming akan
mengganggu
proses
flotasi,
dimana
kehadirannya
menghalangi
gelembung
untuk menempel pada partikel.

2.

Dalam lingkungan basa, seperti percobaan


ini, persamaan kimia yang menunjukkan
ionisasi Potassium Amyl Xanthate (PAX) ke
dalam air yaitu : C2H5OCS2K + H2O
KOH + C2H5OH + CS2

3.

Conditioning merupakan tahapan dari flotasi


dimana permukaan mineral yang berada
dalam pulp diolah dengan reagen kimia

Sel flotasi yang digunakan secara komersial


yaitu:
Sel flotasi mekanikal, dicirikan dengan
adanya impeller yang berputar dalam tangki
dan mempunyai baffle. Cara kerjanya yaitu
udara masuk ke daerah impeller melalui
impeller shaft, lalu gelembung udara
terdispersi ke seluruh bagian sel, bercampur
dan bertumbukan, akhirnya terjadi pelekatan
antara partikel mineral dengan gelembung
udara. Contoh sel flotasi dengan cara
induksi yaitu Denver dan Wemco.
Sementara untuk sel dengan eksternal
blower, contohnya adalah Outokumpu, DorrOliver, Agitar, Batequip, Svedala, Krupp,
Sala, Maxwell, Nagahm.
Tipe kedua adalah sel flotasi pneumatic,
dicirikan dengan pembentukan pulp dalam
pipa semprot. Contohnya sel flotasi kolom,
davcra, flotaire dan Jameson cell.

Aeration, meliputi proses penambahan


udara
agar
terbentuk
gelembunggelembung.

F. Kesimpulan
Dari percobaan ini, dapat disimpulkan bahwa
flotasi merupakan salah satu metode yang paling
banyak dipakai untuk pemisahan mineral berharga
dalam dunia metalurgi. prinsip utamanya
memanfaatkan sifat hidrofilik dan hidrofobik
mineral, yang kemudian direkayasa dengan
bantuan reagen kimia.
Salah satu faktor yang mempengaruhi proses
flotasi adalah pH pulp. Dari gafik yang
dihasilkan, didapat kesimpulan bahwa pH
optimum untuk flotasi mineral sulfida adalah 9.
G. Daftar Pustaka
Barry A. Wills, Tim Napier-Munn. 2006. Mineral
Processing Technology: An Introduction to
the Practical Aspects of Ore Treatment and
Mineral Recovery. Elsevier Science &
Technology Books: Australia.
MODUL
PRAKTIKUM
MG-3017
PENGOLAHAN BAHAN GALIAN. 2016.
Bandung : Program Studi Teknik Metalurgi,
ITB.

Slide
Perkuliahan
MG-3017
PENGOLAHAN BAHAN GALIAN.
2016. Bandung : Program Studi
Teknik Metalurgi, ITB.

H. Lampiran