Anda di halaman 1dari 3

Panduan Praktik Klinis

SMF : ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RSUD SIDOARJO, SIDOARJO
2012 - 2014

HERPES ZOSTER
1. Pengertian (Definisi)

Herpes Zoster (HZ) adalah penyakit yang disebabkan oleh


reaktifasi infeksi laten endogen virus Varicella-zoster yang
terjadi setelah infeksi primer.

2. Anamnesis

Keluhan utama umumnya vesikel berkelompok unilateral pada


tempat predileksi (daerah deltoid, dada, punggung, ekstremitas)
disertai gejala prodromal: demam, pusing, malaise, nyeri otottulang, gatal, pegal, dsb.
Perlu dicari apakah timbul kelainan pada mata dan kulit (Herpes
zoster oftalmikus), timbul gejala paralisis otot muka (paralisis
Bell), kelainan kulit, tinnitus, vertigo, gangguan pendengaran,
nistagmus dan nausea, juga gangguan pengecapan (Sindrom
Ramsay-Hunt).
Riwayat varicella zoster
Riwayat pengobatan
Riwayat alergi obat

3. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan status dermatologi tampak :


1. Vesikel berisi cairan jernih, kemudian menjadi keruh, dapat
menjadi pustule dan krusta
2. Lokasi unilateral dan bersifat dermatomal sesuai tempat
persarafan
Tempat predileksi : daerah deltoid, dada, punggung, ekstremitas.

4. Kriteria Diagnosis

Klinis:
1. Masa tunas 7-12 hari, lesi baru tetap timbul selama 1
minggu, masa resolusi berlangsung 1-2 minggu
2. Gejala prodromal:
Sistemik: demam, pusing, malaise
Lokal: nyeri otot-tulang, gatal, pegal, dsb
3. Timbul eritema yang segera menjadi vesikel berkelompok
dengan dasar kulit eritematosa dan edema. Vesikel berisi
cairan jernih, kemudian menjadi keruh, dapat menjadi
pustule dan krusta
4. Lokasi unilateral dan bersifat dermatomal sesuai tempat
persarafan
5. Bentuk khusus:
Herpes zoster oftalmikus: timbul kelainan pada mata dan
kulit di daerah persarafan cabang kesatun ervustri
geminus
Sindrom Ramsay-Hunt: timbul gejala paralisis otot muka
(paralisis Bell), kelainan kulit, tinnitus, vertigo,
gangguan pendengaran, nistagmus, dan nausea, juga
gangguan pengecapan
6. Neuralgia pasca herpes:

Nyeri menetap di dermatom yang terkena setelah erupsi HZ


menghilang. Batasan waktunya adalah nyeri yang masih
timbul 3 bulan setelah erupsi kulit menyembuh. Umumnya
nyeri akan berkurang dan spontan menghilang setelah 1-6
bulan.

5. Diagnosis

Diagnosis dibuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan gejala klinis

6. Diagnosis Banding

1. Infeksi virus herpes simpleks


2. Bila terdapat di daerah setinggi jantung, dapat salah
diagnosis dengan angina pectoris pada fase prodromal
3. Dermatitis venenata

7. Pemeriksaan Penunjang

Tidak diperlukan

8. Terapi

Medikamentosa:
1. Topikal:
a. Stadium vesikuler : bedak salisil 2% atau bedak kocok
kalamin untuk mencegah vesikel pecah
b. Bila vesikel pecah dan basah dapat diberikan kompres
terbuka dengan larutan antiseptic
c. Jika agak basah atau berkrusta dapat diberikan antibiotic
untuk mencegah infeksi sekunder
2. Sistemik
a. Usia < 50 tahun
Umumnya ringan dan sembuh spontan.
Cukup diberikan terapi simtomatik analgetik:
Asam mefenamat 3-4 x 250-500mg/hari, atau dipiron 3x
500mg/hari, atau parasetamol 3x 500mg/hari ditambah
kodein 3x10 mg/hari
Bila lesi luas:
Asiklovir oral 5 x 800 mg/hari atau
Valasiklovir 3 x 1000 mg/hari
b. Usia > 50 tahun
Perjalanan penyakit seringkali berat
Terapi simtomatik
Asiklovir oral 5 x 800 mg/hari selama 7-10 hari, atau
Valasiklovir 3 x 1000 mg/hari atau famsiklovir 3 x 500
mg/hari
Bila lesi luas diberikan asiklovir intravena 3 x 10 mg/
kgBB /hari selama 5 hari
a) Herpes zoster oftalmikus
Asiklovir atau valasiklovir sampai 10 hari, pada semua
pasien rujuk kedokter mata
b) Herpes zoster otikus dengan paresis nervus fasialis
Asiklovir / valasiklovir oral 7-14 hari dan kortikosteroid
40 - 60 mg/hari selama 1 minggu, pada semua pasien
rujuk THT
c) Kemungkinan terjadi neuralgia pasca herpes zoster

a. Selain diberi asiklovir pada fase akut, dapat


diberikan anti depresan trisiklik (amitriptilin 10
-75 mg/hari) sampai 3 - 6 bulan setelah rasa sakit
berkurang atau
b. Gababentin 300 mg -- dose/hari 4-6 minggu, atau
c. Pregabalin 50-70mg -- dose/hari 2-4 minggu
9. Edukasi

10. Prognosis

11. Tingkat Evidens

Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit dan komplikasi


yang dapat timbul.

Ad vitam
Ad sanationam
Ad fungsionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi


13. Penelaah Kritis

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan

A/B/C
1. dr. Myrna Safrida, SpKK
2. dr. Rudy Wartono, SpKK
3. dr. Dhita Karina, SpKK
1. Gejala prodormal baik sistemik maupun lokal
2. Lesi vesikel
Wolff K, Goldsmith LA, Freedberg IM, Kazt SI, Gilchrest BA,
Paller AS, Leffell DJ, editor. Fitzpatricks Dermatology in
General Medicine, Edisi ke-7. New York: McGraw-Hill, 2008.

Sidoarjo, 1 Desember 2012


Ketua Komite Medik

Ketua SMF Kulit & Kelamin

dr. M. Tauhid Rafii, SpM

dr. Myrna Safrida, SpKK

NIP. 19580505 198610 1 005

NIP. 19620405 198901 2 002

Direktur RSUD Sidoarjo

dr. Eddy Koestantono M., MM


NIP. 19551008 198801 1 001