Anda di halaman 1dari 18

ETIKA PROFESI

Dosen

: DRA. HJ. Sapartinah ABD.,MM

Kelas

: Kamis 13.15-15.45/AI.0501

TEORI TEORI ETIKA

Kelompok 2

Alony Kartika Latersia. G ( 023131259 )


Ines Permatasari. S
( 023131274 )
Nabiila Qosiima. I
( 023131277 )
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2016
BEBERAPA TEORI ETIKA
Menurut (Agoes, Sukrisno& Ardana, I Cenik,2011) etika dibagi
menjadi beberapa teori yaitu:

Egoisme

Rachels

(2004)

memperkenalkan

dua

konsep

yang

berhubungn dengan egoisme, yaitu:


1. Egoisme psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan
bahwa

semua

tindakan

manusia

dimotivasi

oleh

kepentingan berkuwat diri (selfish).


2. Egoisme etis adalah tindakan yang dilandasi oleh
kepentingan diri sendiri (self-interest).
Yang membedakan tindakan berkutat diri (egoisme psikologis)
dengan tindakan untuk kepentingan diri (egoisme etis) adalah
pada akibatnya terhadap orang lain. Tindakan berkutat diri
ditandai

dengan

ciri

mengabaikan

atau

merugikan

kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan


diri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.
Contoh:
(mungkin masih ada) para petinggi politik yang saling berebut
kursi kekuasaan dengan melakukan berbagai cara yang
bertujuan bahwa dia harus mendapatkannya.

Utilitarianisme
Menurut teori
membawa

ini,

manfaat

suatu

tindakan

bagi

sebanyak

dikatakan

baik

mungkin

jika

anggota

masyarakat. Jadi, ukuran baik tidaknya suatu tindakan dilihat


dari akibat, konsekuensi, atau tujuan dari tindakan itu apakah
memberi manfaat atau tidak.
Contoh:
Melakukan kerja bakti yang di adakan di lingkungan sekitar,
sebagai upaya untuk kebersihan lingkungan dan membuat
tempat

tersebut

juga

jadi

nyaman

dan

sehat

untuk

masyarakatnya.

Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti
kewajiban. Paham deontologi mengatakan bahwa etis
tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali
dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan
tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi

pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu


tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena
hasilnya baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk
membenarkan suatu tindakan, melainkan hanya kisah
terkenal Robinhood yang merampok kekayaan orang-orang
kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat miskin.
Contoh:
Kewajiban seseorang yang memiliki dan mempecayai
agamanya,

maka

orang

tersebut

harus

beribadah,

menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.

Teori hak
Menurut teori hak, suatu tindakan atau perbuatan dianggap
baik bila perbuatan atau tindakan tersebut sesuai dengan hak
asasi

manusia (HAM). Namun Bertens (2000) mengatakan,

teori hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi


(kewajiban) karena

hak

tidak

dapat dipisahkan dengan

kewajiban bagaikan satu keping mata uang logam yang sama


dengan du sisi. Teori hak sebenarnya di dasarkan atas asumsi
bahwa manusia mempunyai martabat dan semua manusia
mempunyai martabat yang sama. HAM didasarkan atas
beberapa sumber otoritas (Weiss, 2006), yaitu:
1. Hak hukum (legal right)
Adalah hak yang didasarkan atas sistem/yurisdiksi
hukum suatu negara, dimana sumber hukum tertinggi
suatu negara adalah Undang-Undang Dasar negara
yang bersangkutan.
2. Hak moral atau kemanusiaan (moral, human right)
Dihubungkan dengan pribadi manusia secara individu,
atau

dalam

beberapa

kasus

dihubungkan

dengan

kelompok bukan dengan masyarakat dalam arti luas.


Hak

moral

berkaitan

dengan

kepentingan

individu

sepanjang kepentingan individu itu tidak melanggar


hak-hak orang lain.
3. Hak kontraktual (contractual right)

Mengikat individu-individu yang membuat kesepakatan


atau kontrak bersama dalam wujud hak dan kewajiban
masing-masing pihak.

Teori Keutamaan (Virtue Theory)


Tidak seperti kedua teori yang pernah dijelaskan sebelumnya,
dasar teori keutamaan sangat berbeda. Teori ini tidak lagi
mempertanyakan

suatu

tindakan,

tetapi

berangkat

dari

pernyataan mengenai sifat-sifat atau karakter yang harus


dimiliki seseorang agar bisa disebut sebagai manusia utama,
dan sifat-sifat atau karakter yang mencerminkan manusia
hina.

Dengan

demikian,

karakteristik/sifat

utama

dapat

didefinisikan sebagai disposisi sifat/watak yang telah melekat


dan dimiliki oleh seseorang dan memungkinkan dia untuk
selalu bertingkah laku yang secara moral bernilai baik.
Contoh:
1 Kebijaksanaan : seorang pemimpin yang memiliki

sifat

bijaksana dalam segala urusan.


2 Keadilan : mampu bersifat adil dalam menentukan pilihan.
3 Suka bekerja keras : mau terus berjuang dalam bekerja,
sehingga pada akhirnya dapat menikmati hasil jerih payahnya
yang baik.
Hidup yang baik : tidak pernah melakukan hal hal yang
dapat merugikan sekitarnya,dapat menikmati hidup dengan
tenang, nyaman dan tentram.

Teori Etika Teonom


Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat risten, yang
mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara
hakiki oleh kesesuaian hubungannya dengan kehendak Allah.
Perilaku manusia secara moral dianggap baik jika sepadan
dengan kehendak Allah, dan perilaku manusia dianggap tidak
baik bila tidak mengikuti aturan/perintah Allah sebagaimana
dituangkan dalam kitab suci.
Kelemahan teori etika Kant teletak pada pengabaian adanya
tujuan mutlak, tujuan tertinggi yang harus dicapai umat
manusia, walaupun ia memperkenalkan etika kewajiban

mutlak. Moralitas dikatakan bersifat mutlak hanya bila


moralitas itu dikatakan dengan tujuan tertinggi umat manusia.
Segala sesuatu yang bersifat mutlak tidak dapat
diperdebatkan dengan pendekatan rasional karena semua
yang bersifat mutlak melampaui tingkat kecerdasan rasional
yang dimiliki manusia.
Menurut (Weiss, Joseph 2006):

Martabat/hak

Kewajiban

Kewajaran

Keadilan

Menurut (Sonny Keraf, 1998) :

Etika Deontologi adalah suatu tindakan itu baik bukan dinilai


dan dibenarkan berdasarkan akibat atau tujuan baik dari
tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri
sebagai baik pada dirinya sendiri.
Contoh : Suatu tindakan bisnis akan dinilai baikoleh etika
deontologi bukan karna tindakan itu mendatangkan akibat
baik bagi pelakunya, melainkan karena tindakan itu sejalan
dengan kewajiban si pelaku untuk memberikan pelayanan
yang baik kepadasemua konsumen, untuk menawarkan
barang dan jasa dengan mutu yang sebanding dengan
harganya, dsb.
Ada 3 prinsip yang harus dipenuhi :
a. Supaya suatu tindakan punya nilai moral, tindakan itu
harus dijalankan berdasarkan kewajiban
b. Nilai moral dari tindakan itu tidak tergantung pada
tercapainya tujuan dari tindakan itu melainkan tergantung
pada kemauan baik yang mendorong seseorang untuk
melakukan tindakan itu berarti kalaupun tujuannya tidak
tercapai, tindakan itu sudah dinilai baik

c. Sebagai konsekuensi dari kedua prinsip itu, kewajiban


adalah hal yang niscaya dari tindakan yang dilakukan
didasarkan sikap hormat pada hukummoral universal.

Etika Teleologi adalah mengukur baik buruknya suatu tindakan


berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu,
atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.
Contoh: Mencuri bagi etikat teori bagi etika teleologi tidak
dinilai baik atau buruk berdasarkan baik buruknya tindakan itu
sendiri, melainkan oleh tujuan dan akibat dari tindakan itu.
Kalau tujuannya baik maka tindakan itu dinilai baik, misalnya
seorang anak mencuri demi membiayai pengobatan ibunya
yang sakit parah akan dinilai secara moral sebagai tindakan
baik, baik terlepas darikenyataan bahwa secara legal ia dapat
dihukum. Sebaliknya, kalau tindakan itu jahat maka akan
bernilai jahat.
Dua aliran etika teleologi, yaitu :
a. Egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada
dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi
dan memajukan dirinya sendiri.
b. Utilitarianisme adalah Berasal dari kata utilis yaitu
manfaat. Dikembangkan oleh Jeremy Bentham (1748-1832)
dengan melihat permasalahan pada kebijaksanaan public
saat itu. Disebut juga sebagai teori konsekuensialisme,
kualitas moral ditentukan oleh konsekuensi atau akibat
yang dibawakannya. Perbuatan yang bermaksud baik tapi
tidak menghasilkan apa-apa, tidak disebut baik.

Prinsip Utilitarisme, yaitu :


a. Suatu kebijaksanaan atau tindakan adalah baik dan tepat
secara moral jika dan hanya jika kebijaksanaan atau
tindakan tersebut mendatangkan manfaat atau
keuntungan.

b. Diantara kebijaksanaan atau tindakan yang sama baiknya,


kebijaksanaan atau tindakan yang mempunyai manfaat
terbesar adalah tindakan yang paling baik
c. Diantara kebijaksanaan atau tindakan yang sama-sama
mendatangkan manfaat terbesar, kebijaksanaan atau
tindakan yang mempunyai manfaat bagi orang banyak.

PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI


Menurut (Sonny Keraf, 1998) :
a. Prinsip Otonomi yaitu sikap dan kemampuan manusia untuk
mengambil

keputusan

dan

bertindak

kesadarannya tentang apa yang dianggapnya

berdasarkan
baik untuk

dilakukan.
b. Prinsip Kejujuran ; terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang
bisa ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak akan bisa
bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan atas
kejujuran. Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-syarat
perjanjian dan kontrak. Kedua, kejujuran dalam penawaran
barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding.
Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu
perusahaan.
c. Prinsip Keadilan ; menuntut agar setiap orang diperlakukan
secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai
criteria yang rasional obyektif, serta dapat dipertanggung
jawabkan.
d. Prinsip Saling Menguntungkan (Mutual Benefit Principle) ;
menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga
menguntungkan semua pihak.
e. Prinsip Integritas Moral ; terutama dihayati sebagai tuntutan
internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu
menjalankan

bisnis

dengan

tetap

menjaga

nama

baik

pimpinan atau orang-orangnya maupun perusahaannya.

Menurut IAI :
Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung-jawabnya
dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja
tertinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik.
Prinsip Etika Profesi Akuntan :

Tanggung Jawab Profesi


Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional
setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan
moral

dan

profesional

dalam

semua

kegiatan

yang

dilakukannya.

Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak
dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati
kepercayaan

publik,

dan

menunjukkan

komitmen

atas

profesionalisme.

Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik,
setiap

anggota

harus

memenuhi

tanggung

jawab

profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

Obyektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari
benturan

kepentingan

dalam

pemenuhan

kewajiban

profesionalnya.

Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional


Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya
tkngan

kehati-hatian,

kompetensi

dan

ketekunan,

serta

mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan


dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan

untuk

memastikan

bahwa

klien

atau

pemberi

kerja

memperoleh matifaat dari jasa profesional yang kompeten


berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang
paling mutakhir.

Kerahasiaan
Setiap anggota harus, menghormati kerahasiaan informasi
yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak
boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut
tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban
profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan
reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesi.

Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya
sesuai dengan standar teknis dan standar proesional yang
relevan.Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati,
anggota

mempunyai

kewajiban

untuk

melaksanakan

penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut


sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.

PERILAKU ETIKA DALAM PROFESI AKUNTANSI


Di Indonesia, akuntan tergabung dalam satu wadah bernama Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI). Profesi akuntan dapat dibedakan sebagai
berikut:
a. Akuntan Intern
Yaitu orang yang
bertanggung
intern

jawab

bertugas

bekerja

pada

terhadap

menyusun

suatu

laporan

sistem

perusahaan dan
keuangan.Akuntan

akuntansi,

menyusun

laporan keuangan, menyusun anggaran, menangani masalah


perpajakan, serta memeriksa laporan keuangan.
b. Akuntan Publik

Yaitu

orang

yang

bekerja

secara

independen

dengan

memberikan jasa akuntansi bagi perusahaan atau organisasi


nonbisnis.Jasa yang ditawarkan berupa pemeriksaan laporan
keuangan

sehingga

sesuai

dengan

standar

akuntansi

keuangan.Jasa lainnya berupa konsultasi perpajakan dan


penyusunan laporan keuangan.
c. Akuntan Pemerintah

Merupakan

orang

yang

bekerja

pada

lembaga

pemerintahan.Akuntan ini bertugas memeriksa keuangan dan


mengadakan perencanaan sistem akuntansi. Misalnya Badan
Pengawas Keuangan (BPK), dan Badan Pengawas Keuangan
dan Pembangunan (BPKP).
d. Akuntan Pendidik

Merupakan
mengajarkan

orang

yang

bertugas

akuntansi.Misalnya

mengembangkan

dosen

dan

guru

dan
mata

pelajaran akuntansi.

ETIKA PROFESI AKUNTAN


Prinsip etika profesi akuntan dapat dijelaskan sebagai berikut:

Memiliki pertimbangan moral dan profesional dalam tugasnya

sebagai bentuk tanggung jawab profesi.


Memberikan pelayanan dan menghormati kepercayaan publik.
Memiliki
integritas
tinggi
dalam
memelihara
dan

meningkatkan kepercayaan publik.


Menjunjung sikap obyektif dan bebas dari kepentingan pihak

tertentu.
Melaksanakan tugas dengan kehati-hatian sesuai kompetensi

dalam memberikan jasa kepada klien.


Menjaga kerahasiaan informasi dan tidak mengungkapkan

informasi tanpa persetujuan.


Menjaga
reputasi
dan

menjauhi

tindakan

yang

mendiskreditkan profesinya.

NILAI-NILAI ETIKA VS TEKNIK AKUNTANSI/AUDITING


Sebagain besar akuntan dan kebanyakan bukan akuntan memegang
pendapat bahwa penguasaan akuntansi dan atau teknik audit
merupakan sejata utama proses akuntansi. Tetapi beberapa skandal
10

keuangan disebabkan oleh kesalahan dalam penilaian tentang


kegunaan teknik atau yang layak atau penyimpangan yang terkait
dengan hal itu.
Beberapa kesalahan dalam penilaian berasal dari salah mengartikan
permasalahan dikarenakan kerumitannya, sementara yang lain
dikarenakan

oleh

kurangnnya

perhatian

terhadap

nilai

etik

kejujuran, integritas, objektivitas, perhatian, rahasia dan komitmen


terhadap

mendahulukan

kepentingan

orang

lain

dari

pada

kepentingan diri sendiri.

Integritas: setiap tindakan dan kata-kata pelaku profesi


menunjukan sikap transparansi, kejujuran dan konsisten.

Kerjasama: mempunyai kemampuan untuk bekerja sendiri


maupun dalam tim.

Inovasi: pelaku profesi mampu memberi nilai tambah pada


pelanggan dan proses kerja dengan metode baru.

Simplisitas: pelaku profesi mampu memberikan solusi pada


setiap masalah yang timbul, dan masalah yang kompleks
menjadi lebih sederhana.

Teknik akuntansi (akuntansi technique) adalah aturan aturan khusus


yang diturunkan dari prinsip prinsip akuntan yang menerangkan
transaksi transaksi dan kejadian kejadian tertentu yang dihadapi
oleh entitas akuntansi tersebut.

KODE ETIK PROFESI AKUNTANSI


Kode etik profesi akuntansi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan
perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan seharihari dalam profesi akuntansi.Kode etik akuntansi dapat menjadi
penyeimbang segi-segi negatif dari profesi akuntansi, sehingga kode
etik bagai kompas yang menunjukkan arah moral bagi suatu profesi
dan sekaligus menjamin mutu moral profesi akuntansi dimata
masyarakat.

11

1. Kode Perilaku Profesional


Perilaku etika merupakan fondasi peradaban modern.Etika
mengacu pada suatu sistem atau kode perilaku berdasarkan
kewajiban moral yang menunjukkan bagaimana seorang
individu harus berperilaku dalam masyarakat.Profesionalisme
didefinisikan secara luas mengacu pada perilaku, tujuan dan
kualitas yang membentuk karakter atau ciri suatu profesi atau
orang-orang profesional.Seluruh profesi menyusun aturan
atau kode perilaku yang mendefinisikan perilaku etika bagi
anggota profesi tersebut.
2. Prinsip-prinsip Etika : IFAC, AICPA, IAI
Prinsip-prinsip dan dan standar-standar fundamental yang
telah dijelaskan di atas terdapat disebagian besar kode. IFAC
dalam Kode Etik Akuntan Profesional versi 2001 menyatakan
mengapa akuntan professional harus melayani kepentingan
publik dikatakan:

Tanda

yang

membedakan

suatu

profesi

adalah

penerimaan

tanggung jawab kepada publik.Masyarakat profesi akuntansi terdiri


dari klien, penyedia kredit, pemerintah, pengusaha, karyawan,
investor, masyarakat bisnis dan keuangan, dan lain-lain yang
bergantung pada objektivitas dan integritas akuntan professional
untuk mempertahankan fungsi teratur perniagaan.Ketergantungan
ini membebankan tanggung jawab kepentingan publik pada profesi
akuntansi.Kepentingan umum didefinisikan sebagai kesejahteraan
kolektif masyarakat dan institusi yang mendapat pelayanan akuntan
professional.Tanggung jawab seorang akuntan professional tidak
secara khusus hanya memenuhi kebutuhan individu klien atau
atasan.

Standar

profesi

akuntani

ini

sangat

ditentukan

oleh

kepentingan umum[1]

12

Seorang akuntan professional diharuskan untuk mematuhi prinsipprinsip dasar berikut :

Integritas seorang akuntan professional harus tegas dan


jujur

dalam

semua

keterlibatannya

dalam

hubungan

profesional dan bisnis.

Objektivitas seorang akuntan professional seharusnya tidak


membiarkan bias, konflik kepentingan, atau pengaruh yang
berlebihan dari orang lain untuk mengesampingkan penilaian
professional atau bisnis.

Kompetensi professional dan Kesungguhan seorang akuntan


professional mempunyai tugas yang berkesinambungan untuk
senantiasa menjaga penghetahuan dan skil professional pada
tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau
atasan

menerima

jasa

professional

yang

kompeten

berdasarkan perkembangan terkini dalam praktik, legislasi


dan teknis. Seorang akuntan professional harus bertindak
tekun dan sesuai dengan standar teknis dan professional yang
berlaku dalam memberikan layanan professional.

Kerahasiaan

seorang

akuntan

professional

harus

menghormati kerahasian informasi yang diperoleh sebagai


hasil dari hubungan bisnis professional dan bisnis tidak boleh
mengungkapkan informasi tersebut kepada pihak ketiga,
tanpa otoritas yang tepat dan spesifik kecuali ada hak hukum
atau professional atau kewajiban untuk mengungkapkan.
Informasi rahasi yang diperoleh sebagai hasil dari hubungan
bisnis professional seharusnya tidak boleh digunakan untuk
kepentingan pribadi para akuntan professional atau pihak
ketiga.

Perilaku Profesional seorang akuntan professional harus


patuh pada hukum dan peraturan-peraturan terkait dan
seharusnya menghindari tindakan yang bisa mendeskreditkan
profesi.

Kode Etik di Tempat Kerja, meliputi:


13

1. Kode Etik Sumber Daya manusia


Enam dimensi program etik agar kode etik dapat dipenuhi :
a. Kode etik formal : Kode etik yang dirumuskan/ditetapkan
secara resmi oleh suatu organisasi profesi, suatu
lembaga/entitas tertentu dsb.
b. Kode Etika : Entitas yang mengembangkan kebijakan,
mengevaluasi

tindakan,

menginvestigasi,

dan

menghakimi pelanggaran-pelanggaran etika.


c. Sistem komunikasi etika : Cara untuk mensosialisasikan
kode etik dan perubahannya, termasuk isu-isu dan cara
mengatasinya yang bersifat dua arah
d. Pejabat etika : Pihak yang mengkoordinasikan kebijakan,
memberikan

pendidikan,

dan

menyelidiki

tuduhan

adanya pelanggaran etika


e. Program pelatihan etika : Program yang bertujuan untuk
meningkatkan

kesadaran

dan

membantu

karyawan

dalammerespon masalah-masalah etika


f. Proses penetapan disiplin : dalam hal terjadi perilaku
tidak etis
2. Kode Etik Pemasaran
a. Tanggung jawab (Responbilities)
b. Kejujuran dan Kewajaran (Honesy and Fairness), pelaku
pemasaran

harus

menjaga

dan

mengembangkan

integritas, kehormatan, dan martabat profesi pemasaran


c. Hak (Rights) dan Kewajiaban (Duties), pihak-pihak.
d. Hubungan Organisasi (Organization Relationship)
3. Kode Etik akuntansi
a. Kompetensi
b. Kerahasiaan
c. Integritas
d. Objektivitas

14

e. Resolusi atas Etis


4. Kode Etik Keuangan
a. Bertindak berdasarkan integritas, kompetensi, martabat
dan bertindak etis dalam berhubungan dengan publik dst.
b. Menjalankan dan mendorong pihak lain untuk bertindak
etis dan professional
c. Berusaha keras untuk memeliharan dan meningkatkan
kompetensi dan kompetensi pihak lain
d. Menerapkan kehati-hatian dan menjalankan penilaian yang
bersifat independen
5. Kode Etik Tekonologi Informasi
Kode ini mencakup 24 keharusan yang dirumuskan sebagai
pernyataan tentang tanggung jawab pribadi, mengidentifikasi
unsur-unsur seperti komitmen.
6. Kode Etik Fungsi Lainnya

ANALISA KASUS
Etika Bisnis Indomie di Taiwan
Akhir-akhir ini makin banyak dibicarakan perlunya pengaturan
tentang perilaku bisnis terutama menjelang mekanisme pasar
bebas. Dalam mekanisme pasar bebas diberi kebebasan luas
kepada

pelaku

bisnis

untuk

melakukan

kegiatan

dan

mengembangkan diri dalam pembangunan ekonomi. Disini pula


pelaku bisnis dibiarkan bersaing untuk berkembang mengikuti
mekanisme pasar.
Dalam persaingan antar perusahaan terutama perusahaan besar
dalam memperoleh keuntungan sering kali terjadi pelanggaran etika
berbisnis, bahkan melanggar peraturan yang berlaku. Apalagi
15

persaingan yang akan dibahas adalah persaingan produk impor dari


Indonesia yang ada di Taiwan. Karena harga yang lebih murah serta
kualitas yang tidak kalah dari produk-produk lainnya.
Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan
karena disebut mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi
manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang terkandung dalam
Indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid
(asam

benzoat).

Kedua

zat

tersebut

biasanya

hanya

boleh

digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada Jumat (08/10/2010)


pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk
Indomie dari peredaran.

Di Hongkong, dua supermarket terkenal

juga untuk sementara waktu tidak memasarkan produk dari


Indomie.
Kasus Indomie kini mendapat perhatian Anggota DPR dan Komisi IX
akan segera memanggil Kepala BPOM Kustantinah. Kita akan
mengundang BPOM untuk menjelaskan masalah terkait produk
Indomie itu, secepatnya kalau bisa hari Kamis ini, kata Ketua
Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta,
Selasa (12/10/2010). Komisi IX DPR akan meminta keterangan
tentang kasus Indomie ini bisa terjadai, apalagi pihak negara luar
yang mengetahui terlebih dahulu akan adanya zat berbahaya yang
terkandung di dalam produk Indomie.
A Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua
zat

yang

terkandung

di

dalam

Indomie

yaitu

methyl

parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat) adalah


bahan pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk dan
tahan lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal dengan nama
nipagin.

Dalam

pemakaian

untuk

produk

kosmetik

sendiri

pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal 0,15%.


Ketua BPOM Kustantinah juga membenarkan tentang adanya zat
berbahaya bagi manusia dalam kasus Indomie ini. Kustantinah
menjelaskan bahwa benar Indomie mengandung nipagin, yang juga

16

berada di dalam kecap dalam kemasam mie instan tersebut. tetapi


kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan
aman untuk dikonsumsi, lanjut Kustantinah.
Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di
konsumsi yaitu 250 mg per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg
nipagin per kilogram dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan
unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan
muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker.
Menurut Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex
Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada
persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan
produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota
Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk
dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara
berbeda maka timbulah kasus Indomie ini.

KESIMPULAN

Dari kasus indomie di Taiwan dapat dilihat sebagai contoh kasus


dalam etika bisnis. Dimana terjadi kasus yang merugikan pihak
perindustrian Taiwan yang produknya kalah bersaing dengan produk
dari negara lain, salah satunya adalah Indomie yang berasal dari
Indonesia. Taiwan berusaha menghentikan pergerakan produk
Indomie di Taiwan, tetapi dengan cara yang berdampak buruk bagi
perdagangan Global.

SARAN

Saran bagi pihak perindustrian Taiwan agar tidah serta merta


menyatakan bahwa produk indomie berbahaya untuk dikonsumsi,
apabila ingin melindungi produsen dalam negeri, pemerintah bisa
membuat perjanjian dan kesepakatan yang lebih ketat sebelum
proses ekspor-impor dilakukan. Karena kasus tersebut berdampak
besar bagi produk Indomie yang telah dikenal oleh masyarakat

17

Indonesia

maupun

warga

negara

lain

yang

negaranya

memperdagangkan Indomie asal Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno dan Ardana, I Cenik. Etika Bisnis dan


Profesi:Tantangan Membangun Manusia Seutuhnya - Jakarta :
Salemba Empat, 2009
Bertens, K. Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta: Kanisius, 2009
Weiss, Joseph (2006) Etika Bisnis
Sonny Keraf, 1998, Etika Bisnis: Tuntutan dan Relevansinya,
Yogyakarta, Penerbit Kanisius (SK)

18