Anda di halaman 1dari 48

Referat

LUKA BAKAR

Oleh :
LYSI RAHIMISTA
NIM. 10101054

PEMBIMBING
Dr. EKO HAMIDIANTO Sp.B
Dr. RAMZI ASRIAL Sp.B (K) V
Dr. AMDASMAR Sp.B

KKS ILMU BEDAH RSUD BANGKINANG


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
PEKANBARU
2016

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala puji syukur penulis panjatkan atas rahmat dan nikmat Allah SWT
sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul LUKA BAKAR. Referat ini
diajukan sebagai persyaratan untuk mengikuti KKS Ilmu Bedah di RSUD Bangkinang.
Dalam menyelesaikan referat ini penulis banyak mendapat bantuan bimbingan dan
dukungan dari berbagai pihak hingga akhirnya referat ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Oleh karena itu sepantasnya penulis mengucapkan terima kasih kepada dokter pembimbing dan
segenap Staff Bagian Ilmu Bedah RSUD Bangkinang atas bimbingan dan pertolongannya selama
menjalani kepanitraan klinik bagian Bedah dan dapat menyelesaikan penulisan dan pembahasan
referat ini.
Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari kesempurnaan,
penulis mohon maaf atas segala kesalahan, sehingga kritik dan saran dari pembaca yang bersifat
membangun sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan penulisan referat berikutnya.

Bangkinang, 18 Januari 2016


Penulis

Lysi Rahimista

DAFTAR ISI
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG

Page 2

KATA PENGANTAR

02

DAFTAR ISI

03

BAB I PENDAHULUAN
I.0 Latar belakang

04

I.1 Insiden

05

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Anatomi Kulit.

06

II.2 Definisi

06

II.3 Klasifikasi

07

II.4 Luas Luka Bakar

16

II.5 Patofisiologi Luka Bakar

18

II.6 Jenis Parut Akibat Luka Bakar

21

II.7 Menentukan Keparahan Luka Bakar

24

II.8 Berat Ringannya Luka Bakar

25

II.9 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Keparahan Luka Bakar

25

II.10 Terapi

26

II.11 Rehabilitasi Pasca Luka Bakar

34

BAB III PENUTUP


III.1 Kesimpulan

46

DAFTAR PUSTAKA

48

BAB I
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG

Page 3

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Luka bakar berat adalah luka yang kompleks. Sejumlah fungsi organ tubuh mungkin ikut
terpengaruh. Luka bakar bisa mempengaruhi otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah. Sistem
pernapasan dapat juga rusak, kemungkinan adanya penyumbatan udara, gagal nafas dan henti
nafas. Karena luka bakar mengenai kulit, maka luka tersebut dapat merusak keseimbangan
cairan atau elektrolit normal tubuh, temperatur tubuh, pengaturan suhu tubuh, fungsi sendi, dan
penampilan fisik. Sebagai tambahan terhadap kerusakan fisik yang disebabkan oleh luka bakar,
pasien juga bisa menderita permasalahan psikologis dan emosional yang dimulai sejak peristiwa
terjadi dan bisa bertahan / berlangsung untuk jangka waktu yang lama.
Mencegah timbulnya bekas luka adalah merupakan tujuan utama dari penatalaksanaan
luka bakar. Edukasi pasien secara konsisten dan berulang adalah suatu bagian yang penting
dalam terapi pasien. Penatalaksanaan terhadap edema, penatalaksanaan gangguan nafas,
memposisikan, dan melibatkan pasien dalam aktivitas fungsional dan pergerakan harus dimulai
sejak dini. Pasien perlu dimotivasi untuk bekerja sesuai dengan kemampuan mereka dan
menerima tanggung jawab untuk merawat diri mereka sendiri. Kemampuan fungsional pasien
setelah terapi tidak akan maksimal jika pasien tidak secara teratur terlibat dalam pergerakan.
Menurut the National Institutes of General Medical Sciences, sekitar 1,1 juta luka-luka
bakar yang membutuhkan perawatan medis setiap tahun di Amerika Serikat. Di antara mereka
terluka, sekitar 50.000 memerlukan rawat inap dan sekitar 4.500 meninggal setiap tahun dari
luka bakar. Ketahanan hidup setelah cedera luka bakar telah meningkat pesat selama abad kedua
puluh. Perbaikan resusitasi, pengenalan agen antimikroba topikal dan, yang lebih penting,
praktek eksisi dini luka bakar memberikan kontribusi terhadap hasil yang lebih baik.Namun,
cedera tetap mengancam jiwa. Di India, sekitar 2,4 juta luka bakar dilaporkan per tahun. Sekitar
650.000 dari cedera ditangani oleh pusat-pusat perawatan luka bakar, 75.000 dirawat di rumah
sakit. Dari mereka yang dirawat di rumah sakit, 20.000 yang mengalami luka bakar besar telah
melibatkan paling sedikit 25% dari total permukaan tubuh mereka. Antara 8.000 dan 12.000
pasien dengan luka bakar meninggal, dan sekitar satu juta akan mempertahankan cacat
substansial atau permanen yang dihasilkan dari luka bakar mereka. Angka mortalitas penderita
luka bakar di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 27,6% (2012) di RSCM dan 26,41% (2012) di
RS Dr. Soetomo (Martina & Wardhana, 2013). Data epidemiologi dari unit luka bakar RSCM
pada tahun 2011-2012 melaporkan jumlah pasien luka bakar sebanyak 257 pasien. Dengan rerata
usia adalah 28 tahun ( range : 2,5 bulan 76 tahun), dengan rasio laki- laki : perempuan adalah
2,7 : 1. Luka bakar api adalah etiologi terbanyak (54,9 %), diikuti air panas (29,2%), luka bakar
listrik (12,8%), dan luka bakar kimia (3,1%). Rerata luas luka bakar adalah 26% (range 1-98%).
Dan rerata lama rawatan adalah 13,2 hari. Angka mortalitas sebanyak 36,6% pada pasien dengan
rerata luas luka bakar 44,5%, dengan luas luka bakar > 60 % semuanya mengalami kematian.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG

Page 4

I.2 Insiden
Kelompok terbesar dengan kasus luka bakar adalah anak-anak kelompok usia dibawah 6
tahun bahkan sebagian besar berusia kurang dari 2 tahun. Puncak insiden kedua adalah luka
bakar akibat kerja yaitu pada usia 25-35 tahun. Kendatipun jumlah pasien lanjut usia dengan luka
bakar cukup kecil, tetapi kelompok ini sering kali memerlukan perawatan pada fasilitas khusus
luka bakar. Dalam tahun tahun terakhir ini daya tahan hidup dimana penderita dapat kembali
pada keadaan sebelum cedera pada penderita lanjut usia mengalami perbaikan yang lebih cepat
dibandingkan dengan populasi umum luka bakar lainnya. Insiden luka bakar terutama terjadi
pada pria oleh karena dominasi pekerja pria pada industri berat dan kehidupan pria yang lebih
beresiko tinggi. Cedera luka bakar lebih sering melibatkan sosio ekonomi yang kurang-rendah.
Insiden puncak luka bakar pada orang dewasa muda terdapat pada umur 20-29 tahun. Diikuti
oleh anak umur 9 tahun atau lebih muda, luka bakar jarang terjadi pada umur 80 tahun ke atas.
Sekitar 80% luka bakar dapat terjadi di rumah. Pada anak dibawah umur 3 tahun penyebab luka
bakar paling umum adalah cedera lepuh (scald burn). Luka ini dapat terjadi bila bayi dan balita
yang tak terurus dengan baik, dimasukkan kedalam bak mandi yang berisi air yang sangat panas
dan anak tak mampu keluar dari bak mandi tersebut. Selain itu kulit balita lebih tipis daripada
kulit anak yang lebih besar dan orang dewasa, karena nya lebih rentan cedera. Pada anak umur 314 tahun, penyebab luka bakar paling sering karena nyala api yang membakar baju. Dari umur
ini sampai 60 tahun luka bakar paling sering disebabkan oleh kecelakaan industri.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG

Page 5

II.1 Anatomi Kulit

Gambar 1: Anatomi Kulit Manusia


Kulit adalah organ terluar tubuh manusia dengan luas 0,025 m 2 pada anak baru lahir
sampai 1m2 pada orang dewasa. Apabila kulit terbakar atau terpajan suhu tinggi, pembuluh
kapiler dibawahnya, area sekitarnya dan area yang jauh sekali pun akan rusak dan menyebabkan
permeabilitasnya meningkat. Terjadilah kebocoran cairan intrakapiler ke interstisial sehingga
terjadi udem dan bula yang mengandung banyak elektrolit. Rusaknya kulit akibat luka bakar
akan mengakibatkan hilangnya fungsi kulit sebagai barier dan penahan penguapan.
II.2.

Definisi
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air

panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi. Luka ini dapat menyebabkan kerusakkan jaringan.
Cedera lain yang termasuk luka bakar adalah sambaran petir, sengatan listrik, sinar X dan bahan
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG

Page 6

korosif. Kerusakan kulit yang terjadi tergantung pada tinggi suhu dan lama kontak. Suhu
minimal untuk dapat menghasilkan luka bakar adalah sekitar 44C dengan kontak sekurangkurangnya 5-6 jam. Suhu 65C dengan kontak selama 2 detik sudah cukup menghasilkan luka
bakar. Kontak kulit dengan uap air panas selama 2 detik mengakibatkan suhu kulit pada
kedalaman 1 mm dapat mencapai suhu 47C, air panas yang mempunyai suhu 60C yang kontak
dengan kulit dalam waktu 10 detik akan menyebabkan kehilangan sebagian ketebalan kulit dan
diatas 70C akan menyebabkan kehilangan seluruh kulit. Temperatur air yang digunakan untuk
mandi adalah berkisar 36C-42C. Pelebaran kapiler dibawah kulit mulai terjadi pada saat suhu
mencapai 35C selama 120 detik, vesikel terjadi pada suhu 53C-57C selama kontak 30-120
detik.

II.3.

Klasifikasi Luka Bakar


Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan 2 cara: sumber penyebab dan derajat luka

bakar.
Berdasarkan sumber penyebab dibedakan atas:

Panas. Termasuk api, radiasi, atau pajanan panas dari api, uap dan cairan panas serta
benda benda yang panas

Bahan kimia. Termasuk berbagai macam asam dan basa

Listrik. Termasuk didalamnya arus listrik dan sambaran petir

Cahaya. Luka bakar yang disebabkan oleh sumber cahaya yang kuat atau cahaya ultra
violet, juga termasuk sinar matahari

Radiasi. Seperti radiasi nuklir, cahaya ultra violet juga termasuk salah satu sumber
penyebab luka bakar karena radiasi

Berdasarkan penyebabnya, luka bakar secara kasar dapat dibagi dalam enam kategori
A Luka Bakar Api
Terjadi bila kulit mengalami kontak langsung dengan api
1

Keparahan tergantung lamanya waktu kulit terpajan dengan api.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG

Page 7

Bentuk lain dari jenis ini adalah luka bakar cahaya

Disebabkan oleh ledakan yang berasal dari gas, atau berupa partikel-partikel halus
suatu benda panas.

Menyebabkan luka bakar derajat dua dan tiga pada seluruh daerah kulit yang
terkena, termasuk rambut.

B Luka Bakar Kontak


Terjadi bila kulit mengalami kontak langsung dengan objek yang panas, misalnya besi panas,
setrika, dll. Jenis luka bakar ini dapat memberikan gambaran mengenai benda panas yang
menyebabkan luka bakar tersebut.
C Luka Bakar Radiasi
Terjadi apabila kulit terpajan dengan gelombang panas
1

Tidak selalu diperlukan kontak langsung dengan benda yang menghasilkan


gelombang panas untuk menimbulkan luka bakar

Dapat menimbulkan lepuh dan eritema

Bila pajanan terjadi dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan karbonisasi

D Luka bakar terjadi bila kulit berhubungan langsung dengan cairan panas (biasanya air)
1

Air pada 1580F (700C) akan menghasilkan suatu luka bakar derajat tiga pada kulit
orang dewasa, kira-kira dalam satu detik dari kontak; pada 131 0F (550C), hampir 25
detik untuk menghasilkan luka bakar yang sama

Pemanas air hampir seluruh rumah di Amerika berasal dari pengaturan pabrik kirakira 1300-1400F, meskipun begitu,unit terbaru sekarang disesuaikan menjadi sekitar
1200F

Luka terbakar dapat dibagi menjadi 3 tipe :


a

Luka imersi, yang mana bisa saja karena ketidak sengajaan atau kecerobohan
dirumah. Luka bakar imersi akibat kecerobohan dirumah sering terjadi karena
anak kecil ditempatkan didalam kolam atau bak mandi yang dipenuhi air panas
membara, dengan tujuan untuk mendisiplinkan atau menghukum si anak. Bentuk
khas luka bakar dapat terlihat, sebagai anak yang terrefleksi tenggelam di dalam
air. Disekeliling area dari kulit yang melingkari tiap-tiap daerah lutut tidak terkena
karena anak tersebut dipaksa berjongkok di dalam air. Anak biasanya dipegang

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG

Page 8

diantara tangannya dan ke bawah pada air membara. Hasil luka bakar
menunjukkan bentuk khas dengan tidak terdapat luka di bawah lututnya, fosa
poplitea dan daerah inguinal
b

Luka bakar karena percikan atau tumpahan biasanya tidak disengaja, disebabkan
karena memercikkan, menumpahkan cairan panas ke tubuh. Luka akibat
tumpahan dapat terjadi bila seorang anak kecil menuangkan pot berisi air panas
dari kompor dan cairan tumpah ke seluruh tubuh. Di beberapa bagian kasus,
bentuk dari luka bakar harus berhubungan dengan cerita, dengan yang paling
berat luka bakarnya dari kulit kepala atau kepala.

Luka bakar hangat biasanya karena ketidaksengajaan. Uap yang sangat panas
dapat menyebabkan luka berat pada mukosa saluran nafas. Pada beberapa kasus,
edema laring masif dapat terjadi, penyebab asfiksia dan kematian

E Luka bakar karena gelombang mikro


Gelombang mikro adalah gelombang elektromagnetik yang mana frekwensi berkisar
antara 30 300.000 MHz dan panjang antara 1mm sampai 30cm. Radiasi microwave adalah
non-ionisasi, oleh karena itu efek biologi primernya adalah panas, yang mana memproduksi
melalui agitasi molekuler dari molekul polar seperti air. Pada sistem biologi, oleh karena itu,
jaringan dengan komposisis air yang lebih tinggi (seperti otot) akan menjadi lebih panas
daripada jaringan dengan komposisis air yang lebih rendah (seperti lemak). Standar operasi
untuk microwave di dapur adalah pada 2,450 MHz.
1

Tergantung pada panjang gelombang radiasi, dan ketebalan, orientasi, dan karakter
dari target, apabila ada salah satu atau kombinasi dari tiga hal ini :
a. Gelombang mikro terrefleksi
b. Gelombang mikro diabsorpsi
c. Gelombang mikro melewati dikeseluruhan terget

Surell et al, pada 1987 melaporkan pada suatu studi yang mana piglet anestesi
terekspos pada radiasi gelombang mikro dari sebuah 750 watt microwave rumah
tangga, pada energi penuh dalam waktu berkisar 90 120 detik. Studi ini
menunjukkan bahwa :

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG

Page 9

Pada semua kasus, luka bakar memproduksi demarkasi yang sempurna, luka
bakar penuh

Luka bakar yang mana lebih ekstensif dipermukaan tubuh mendekati alat
pengeluaran (biasanya bertempat diatas dari oven)

Secara mikroskopik kasar menunjukkan penemuan yang konsisten dari


perubahan relatif lemak subkutaneus, selain luka bakar pada kulit diatas atau di
bawah otot (perubahan relatif lapisan jaringan). Arus nuklir tidak ada

Mikroskopik elektron tidak memperlihatkan kerusakan seluler atau organel yang


berarti

Hampir luka bakar karena microwave adalah karena ketidaksengajaan, berkaitan


dengan memasukkan tangan kedalam microwave dengan tidak benar benar
mematikan terlebih dahulu, atau karena ingesti dari cairan panas yang dipanaskan ke
dalam microwave. Pada suatu pelaporan, seorang pria yang menggunakan tambalan
nitro transdermal mengalami luka bakar derajat dua didekat tambalan itu,ketika dia
duduk disebelah oven microwave yang bocor. Diperkirakan, plastik alumunium yang
ada pada tambalan tersebut merupakan faktor yang menyebabkan kebakaran
tersebut.

Bentuk tidak biasa dari penyiksaan anak pernah dilaporkan pada tahun 1987 oleh
Alexander et al yang mana berhubungan dengan dua kasus terpisah yang mana
seorang bayi perempuan umur 5 minggu, dan seorang anak laki-laki umur 14 bulan
yang terbakar karena diletakkan di oven microwave yang sedang dinyalakan.

F Luka bakar kimia adalah diproduksi oleh agen kimia seperti asam kuat dan alkali, sama
seperti agen lain seperti fosfor dan fenol. Luka bakar menghasilkan perbaikan yang lebih
lambat daripada luka bakar akibat agen panas.
1 Ekstensi luka tergantung dari :
a. Agen kimianya
b. Kekuatan atau konsentrasi dari agen kimianya
c. Durasi kontak dengan agen tersebut
2

Agen alkalin :
a. Cenderung lebih menjadi luka berat dibanding agen asam

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 10

b. Yang dapat menyebabkan luka bakar umumnya memiliki pH >11,5


c. Sering menghasilkan luka yang cukup tebal
d. Menghasilkan luka yang menimbulkan nyeri, dan merusak kulit dan licin
3

Agen asam biasanya menghasilkan hanya sebagian dari ketebalan luka, yang mana diikuti
dengan eritema dan erosi yang superfisial saja.
Klasifikasi derajat luka bakar berbeda-beda untuk masing-masing negara oleh karena ini

sangat bergantung terhadap manajemen pengobatan yang digunakan oleh negara tersebut.
Klasifikasi lama yang diperkenalkan oleh Dupuytren adalah pembagian derajat luka bakar
dalam 6 derajat
1.

Luka bakar derajat 1. Luka akibat terkena panas dari api, benda panas dan cairan panas
yang suhunya tidak mencapai titik didih, atau akibat cairan kimia. Biasanya bentuk luka
berupa kemerahan dan proses penyembuhan terjadi tanpa meninggalkan parut. Waktu
penyembuhan antara beberapa jam sampai beberapa hari.

2.

Luka bakar derajat 2. Luka diakibatkan terkena benda panas atau cairan panas yang
suhunya mencapai titik didih atau lebih tinggi. Lapisan kulit superfisial hanya sedikit yang
rusak dan penyembuhannya tanpa meninggalkan jaringan parut. Pada awalnya terdapat
vesikel yang kemudian akan terasa sakit dan warnanya menjadi hitam.

3.

Luka bakar derajat 3. Luka bakar ini adalah akibat cairan yang suhunya diatas titik didih.
Pada keadaan ini lapisan superfisial kulit seluruhnya rusak sehingga pada penyembuhan
akan meninggalkan jaringan parut. Ujung persyarafan juga terbakar dan halini
mengakibatkan rasa nyeri yang hebat. Pada proses penyembuhan dapat terjadi jaringan
parut yang mengandung semua elemen kulit, sehingga tidak mengalami kontraktur.

4.

Luka bakar derajat 4. Seluruh jaringan kulit mengalami kerusakan. Ujung saraf juga ikut
rusak, sehingga pada luka bakar ini rasa nyeri tidak ada. Jaringan parut yang terbentuk akan
mengalami kontraksi dan deformitas. Luka terkelupas pada hari ke 5 atau ke 6 dan
penyembuhan akan berjalan lambat.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 11

5.

Luka bakar derajat 5. Pada keadaan ini kerusakan juga meliputi fasia otot dan hampir selalu
mengalami deformitas.

6.

Luka bakar derajat 6. Keadaan ini biasanya fatal, jika tidak meninggal maka biasanya
mengakibatkan kerusakan anggota badan.

Klasifikasi luka bakar menurut Wilson


1.

Luka bakar derajat satu (derajat satu dan dua, Dupuytren) Terjadi eritema dan

blister

tanpa kehilangan epidermis. Disini kapiler mengalami dilatasi dan terjadi transudasi cairan
kedalam jaringan ikat, yang menyebabkan edema. Secara umum blister diliputi oleh kulit
yang berwarna keputihan diatasnya, epidermis yang avaskuler dan dibatasi oleh zona yang
berwarna hiperemi. Bila besar blister kurang dari 1 cm maka blister ini akan diresorbsi,
sebaliknya bila blister ini pecah maka akan meninggalkan daerah dengan dasar yang
berwarna kemerahan. Luka bakar derajat satu ini akan sembuh tanpa meninggalkan
jaringan parut. Walaupun luka bakar yang terjadi adalah derajat satu akan tetapi bila
meliputi lebih dari sepertiga permukaan tubuh terutama yang terletak pada daerah kepala,
leher, badan, atau dinding depan dari abdomen maka akan menyebabkan kefatalan.
2.

Luka bakar derajat dua (derajat tiga dan empat, Dupuytren) Terjadi destruksi dari seluruh
ketebalan kulit. Epidermis dapat mengalami koagulasi, pengerutan, berupa daerah yang
dibatasi oleh zona yang berwarna kemerahan, dan blister kulit. Dalam beberapa hari,
biasanya dalam beberapa minggu jaringan yang nekrosis akan mengelupas dan
meninggalkan ulkus yang lambat menyembuh. Luka bakar derajat dua sering memerlukan
koreksi bedah plastik untuk mengatasi jaringan parut yang terbetuk selama penyembuhan.

3.

Luka bakar derajat tiga (derajat lima dan enam, Dupuytren) Yang karakteristik dari luka
bakar ini adalah destruksi yang luas tidak hanya pada kulit dan subkutis tetapi juga pada
otot dan tulang. Destruksi pada ujung-ujung saraf juga dapat terjadi yang mengakibatkan
kehilangan rasa nyeri yang relatif. Devitalisasi jaringan pada area luka bakar menyebabkan
mudah terkenanya infeksi dan penyembuhan yang berjalan lambat. Bila paparannya
berkepanjangan, maka kulit dan jaringan ikat dibawah kulit akan terbakar dan menjadi
arang. Sedangkan paparan yang luas dari tubuh setelah kematian oleh karena panas dan
asap menyebabkan seluruh tubuhh menjadi arang dengan otot-otot dan organ-organ dalam

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 12

yang terpanggang, dan akhirnya menghanguskan bagian-bagian tubuh terutama


ekstremitas, genitalia dan telinga.
Klasifikasi Luka Bakar Berdasarkan Dalamnya Luka
Luka bakar biasanya digolongkan berdasarkan dalamnya luka yang terbentuk (kerusakan
jaringan)
A. Luka bakar derajat Satu
Adalah luka bakar yang terbatas pada epidermis superfisial
1

Dapat terlihat dalam bentuk eritema dan edema, biasanya tidak terdapat lepuh
(blister), kulit bisa saja, mengalami pengelupasan

Biasanya sangat nyeri

Tidak terbentuk jaringan parut dalam proses penyembuhan

Misalnya luka bakar akibat terpajan sinar matahari

B. Luka bakar derajat dua


Yang meliputi seluruh epidermis dan sebagian dermis juga mengenai sebagian apendiks
kulit. Luka bakar derajat dua dapat terletak dangkal (superfisial) maupun dalam
(profunda)
1

Biasanya terdapat lepuh

Sensasi sensori utuh, biasanya menyembuh tanpa membentuk jaringan parut, namun
pada luka bakar yang dalam dapat menimbulkan jaringan parut

C. Luka Bakar Derajat Tiga


Meliputi nekrosis (kematian jaringan) yang mengenai seluruh lapisan kulit, termasuk
seluruh apendiks kulit.
1

Daerah yang terbakar terlihat berwarna putih

Kehilangan semua sensasi (mati rasa)

Hampir selalu terbentuk jaringan parut yang parah

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 13

D. Luka Bakar Derajat Empat


Dikenal sebagai karbonisasi, dimana seluruh jaringan terbakar dan menjadi arang. Terjadi
kerusakan total pada kulit dan jaringan subkutan, dan tulang juga mengalami karbonisasi
baik sebagian maupun keseluruhan.
Tabel 1. Deskripsi Tradisional dan Klasifikasi Umum dari Luka Bakar.
Nomenklatur
Ketebalan
Dangkal
Ketebalan
sebagian
dangkal
Ketebalan
Sebagian
dalam
Seluruh
Ketebalan

Nomenklatur
Tradisional
Derajat 1

Kedalaman

Penemuan Klinis

Epidermis

Erythema, nyeri

Derajat 2

Dermis dangkal
(papillar)

Lepuh, cairan jernih, nyeri

Derajat 2

Dermis dalam (reticular)

Derajat 3 atau 4

Dermis dan jaringan


dibawahnya, mungkin
fascia, tulang, otot

Kulit tampak pucat, nyeri


berkurang. Sulit
dibedakan dengan derajat
3
Keras, eschar seperti kulit,
cairan berwarna ungu,
sensibilitas (-)

Klasifikasi Derajat Luka Bakar yang lainnya


1

Luka bakar derajat 1 (luka bakar superfisial). Luka bakar hanya terbatas pada lapisan epidermis.
Luka bakar derajat ini ditandai dengan kemerahan yang biasanya akan sembuh tanpa jaringan
parut dalam waktu 5 7 hari.

Gambar 2. Luka Bakar Derajat I


2. Luka bakar derajat 2 (luka bakar dermis)

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 14

Luka bakar derajat dua mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel yang
tersisa, seperti sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan folikel rambut.
Dengan adanya sisa epitel yang sehat ini, luka dapat sembuh sendiri dalam 10 21 hari. Oleh
karena kerusakan kapiler dan ujung saraf di dermis, luka derajat ini tampak lebih pucat dan
lebih nyeri dibandingkan luka bakar superfisial, karena adanya iritasi ujung saraf sensorik.
Juga timbul bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas
dindingnya meninggi.
Luka bakar derajat 2 dibedakan menjadi : a. Derajat dua dangkal dimana kerusakan
mengenai bagian superfisial dari dermis dan penyembuhan terjadi secara spontan dalam 1014 hari. b. Derajat dua dalam dimana kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis.
Bila kerusakan lebih dalam mengenai dermis, subyektif dirasakan nyeri. Penyembuhan
terjadi lebih lama tergantung bagian dari dermis yang memiliki kemampuan reproduksi selsel kulit (epitel, stratum germinativum, kelenjar keringat, kelenjar sebasea dan lain
sebagainya) yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.

Gambar 3. Luka Bakar Derajat II

Gambar 4 dan 5. Evaluasi luka bakar derajat 2 1 jam. Evaluasi luka bakar derajat 2 > 2
hari, tampak lepuh

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 15

Gambar 6. Evaluasi luka bakar derajat 2 1 hari

3. Luka bakar derajat 3


Luka bakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman kulit, mungkin subkutis, atau organ yang
lebih dalam. Oleh karena tidak ada lagi elemen epitel yang hidup maka untuk mendapatkan
kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. Koagulasi protein yang terjadi memberikan
gambaran luka bakar berwarna keputihan, tidak ada bula dan tidak nyeri.

Gambar 7. Luka Bakar Derajat III

II.4.

Luas Luka Bakar


Penentuan luas luka bakar pada kulit adalah penting pada kasus-kasus dimana kematian

terjadi lambat oleh karena luas dan derajat luka bakar sangat penting pengaruhnya terhadap
prognosis dan manajemen pengobatannya. Untuk perhitungan luas luka bakar secara tradisional
dihitung dengan menggunakan `Rule of Nines` dari Wallace. Dikatakan bahwa luka bakar yang
terjadi dapat diindikasikan sebagai presentasi dari total permukaan yang terlibat oleh karena luka
termal. Bila permukaan tubuh dihitung sebagai 100%, maka kepala adalah 9%, tiap tiap

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 16

ekstremitas bagian atas adalah 9%, dada bagian depan adalah 18%, bagian belakang adalah 18%,
tiap-tiap ekstremitas bagian bawah adalah 18% dan leher 1%. Lihat gambar
Rumus tersebut tidak dapat digunakan pada anak dan bayi karena relatif luas permukaan
kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Oleh karena itu,
digunakan `Rule of ten` untuk bayi dan `Rule of 10-15-20` dari Lund and Browder untuk anak.
Dasar presentasi yang digunakan dalam rumus tersebut adalah luas telapak tangan dianggap
seluas 1%.
Derajat dan luas luka bakar tergantung pada banyak faktor seperti jarak korban dengan
api, lamanya pajanan, bahkan pakaian yang digunakan korban pada waktu terjadinya kebakaran.
Komposisi pakaian dapat menentukan derajat keparahan dan luasnya luka bakar. Kain katun
murni akan mentransmisi lebih banyak energi panas ke kulit dibandingkan dengan bahan katun
polyester. Bahan katun terbakar lebih cepat dan dapat menghasilkan luka bakar yang besar dan
dalam. Bila bahan yang dipakai kandungan poliesternya lebih banyak akan menyebabkan luka
bakar yang relatif ringan atau kurang berat. Bahan rajutan akan menghasilkan daerah luka bakar
yang relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan bahan pintalan. Sehingga dapat dikatakan
bahwa bila bahan yang dipakai bertambah berat maka daerah yang terbakar akan berkurang.
Selain itu derajat luka bakar akan berkurang bila pakaian yang dipakai korban ketat dan
mengelilingi tubuh.

1 th

5 th
14
18
9

9
18 18

18 18
16
14

14

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 17

16

15 th

Dewasa
10

18 18

18

18 18

18

18

18

Gambar 8. Perhitungan Luas Luka Bakar

Tabel 2. Rule of Nines untuk Penatalaksanaan Luka Bakar Pada Permukaan Tubuh
Struktur Anatomi
Area Permukaan
Kepala
9%
Badan Depan
18%
Punggung
18%
Tiap Kaki
18%
Tiap Lengan
9%
Genitalia/perineum
1%

II.5.

Patofisiologi Luka Bakar


Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler

yang terpajan suhu tinggi, rusak dan permeabilitasnya meningkat. Sel darah yang ada
didalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan
edema dan menimbulkan bula yang mengandung banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 18

berkurangnya volume cairan intra vaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan
kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke bula yang terbentuk
pada luka bakar derajat dua, dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat tiga.
Bila luas luka bakar <25%, biasanya mekanisme kompensasi tubuh, masih bisa
mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20%, akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang
khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun,
dan produksi urin yang berkurang. Pembengkakan terjadi pelan-pelan, maksimal terjadi setelah 8
jam.
Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat terjadi
kerusakan mukosa jalan nafas karena gas, asap, atau uap panas yang terhisap. Edema laring yang
ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan nafas dengan gejala sesak nafas, takipnea,
stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap akibat jelaga.
Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lainnya. Karbon monoksida akan
mengikat hemoglobin dengan kuat, sehingga hemoglobin tidak mampu lagi mengikat oksigen.
Tanda keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan yang
berat terjadi koma. Bila dari 60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat meninggal.
Setelah 12 24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi serta
penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. Ini ditandai dengan meningkatnya
diuresis.
Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium
yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit untuk diatasi
karena daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami trombosis. Padahal
pembuluh ini membawa sistem pertahanan tubuh atau antibiotik. Kuman penyebab infeksi pada
luka bakar selain berasal dari kulit penderita sendiri, juga dari kontaminasi kuman saluran atas
dan kontaminasi kuman di lingkungan rumah sakit. Infeksi nosokomial ini biasanya sangat
berbahaya karena kumannya banyak yang sudah resisten terhadap berbagai macam antibiotik.
Perubahan luka bakar derajat 2 menjadi derajat 3 akibat infeksi, dapat dicegah dengan mencegah
infeksi.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 19

Pada awalnya, infeksi biasanya disebabkan oleh kokus Gram positif yang berasal dari
kulit sendiri atau dari saluran nafas, tetapi kemudian dapat terjadi invasi kuman Gream negatif.
Peudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan eksotoksin protease dan toksin lain yang
berbahaya, terkenal sangat agresif dalam invasinya pada luka bakar. Infeksi Pseudomonas dapat
dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar. Kuman memproduksi enzim penghancur
keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan granulasi membentuk nanah.
Infeksi ringan dan non invasif (tidak dalam) ditandai dengan keropeng yang mudah
terlepas dengan nanah yang banyak. Infeksi yang invasif ditandai dengan perubahan jaringan di
tepi keropeng yang kering dengan perubahan jaringan di tepi keropeng yang mula-mula sehat
menjadi nekrotik; akibatnya, luka bakar yang mula-mula derajat 2 menjadi derajat 3. Infeksi
kuman menimbulkan vaskulitis pada pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar dan
menimbulkan trombosis sehingga jaringan yang diperdarahinya mati.
Bila luka bakar di biopsi dan eksudatnya dibiak, biasanya ditemukan kuman dan terlihat
invasi kuman tersebut ke jaringan sekelilingnya. Luka bakar demikian disebut luka bakar septik.
Bila penyebabnya kuman Gram positif, seperti Staphylococcus atau basil Gram negatif lainnya,
dapat terjadi penyebaran kuman lewat darah (bakteremia) yang dapat menimbulkan fokus infeksi
di usus. Syok septik dan kematian dapat terjadi karena toksin kuman yang menyumbat di darah.
Bila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat 2 dapat sembuh dengan
meninggalkan cacat berupa parut. Penyembuhan ini dimulai dari sisa elemen epitel yang masih
vital, misalnya sel kelenjar sebasea, sel basal, sel kelenjar keringat, atau sel pangkal rambut.
Luka bakar derajat 2 yang dalam mungkin menimbulkan parut hipertrofik yang nyeri, gatal,
kaku, dan secara estetik sangat jelek.
Luka bakar derajat 3 yang dibiarkan sembuh sendiri akan mengalami kontraktur. Bila ini
terjadi dipersendian, fungsi sendi dapat berkurang atau hilang.
Pada luka bakar dapat ditemukan ileus paralitik. Pada fase akut, peristaltik usus menurun
atau berhenti karena syok, sedangkan pada fase mobilisasi, peristalsis dapat menurun karena
kekurangan ion kalium.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 20

Stress atau beban faali yang terjadi pada penderita luka bakar berat dapat menyebabkan
terjadinya tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala yang sama dengan gejala
tukak peptik. Kelainan ini dikenal sebagai tukak Curling. Yang di khawatirkan pada tukak
Curling ini adalah penyulit perdarahan yang tampil sebagai hematemesis dan/atau melena.
Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga keseimbangan protein
menjadi negatif. Protein tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi, dan infeksi.
Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga memerlukan kalori tambahan. Tenaga yang
diperlukan tubuh pada fase ini terutama didapat dari pembakaran protein dari otot skelet. Oleh
karena itu, penderita menjadi sangat kurus, otot mengecil dan berat badan menurun. Dengan
demikian, korban luka bakar menderita penyakit berat yang disebut penyakit luka bakar. Bila
luka bakar menyebabkan cacat, terutama bila luka bakar mengenai wajah sehingga rusak berat,
penderita mungkin menderita beban kejiwaan berat. Jadi, prognosis luka bakar terutama
ditentukan oleh luasnya luka bakar.
II.6.

Jenis Parut Akibat Luka Bakar


Ada tiga jenis parut utama yang biasanya disebabkan oleh luka bakar: Keloid, Parut

hipertrofik dan kontraktur. Keloid adalah jaringan parut yang tebal tak beraturan dan membesar
secara progresif akibat pembentukan kolagen yang berlebihan dalam lapisan korium selama
pembentukan jaringan ikat pada bekas luka. Parut akan tumbuh di luar lokasi yang luka. Parut ini
biasanya berwarna merah muda atau merah dan pada akhirnya akan menjadi berwarna coklat
gelap. Parut Hipertrofik biasanya berwarna merah, tebal, berbeda dengan keloid, parut
hipertrofik berada di luar lokasi dari luka. Kontraktur adalah suatu pengencangan kulit yang
permanen yang bisa mempengaruhi otot dan tendon dibawahnya sehingga membatasi pergerakan
dan mungkin merusak atau mengurangi fungsi saraf.
1

Keloid
Keloid adalah suatu pertumbuhan yang terlalu cepat dari jaringan parut. Parut akan tumbuh

di luar lokasi luka. Parut ini biasanya berwarna merah muda atau merah dan pada akhirnya akan
menjadi berwarna coklat gelap. Keloid terjadi ketika tubuh melanjutkan prosesnya untuk
menghasilkan kolagen suatu protein berserat kuat, setelah luka telah disembuhkan. Parut keloid
biasanya tebal, bersimpai, kaku dan gatal selama proses pembentukan dan perkembangannya.
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 21

Keloid yang luas bisa membatasi pergerakan. Apalagi, gesekan dari pakaian atau jenis friksi lain
bisa mengiritasi keloid. Orang-orang berkulit gelap lebih mudah untuk mengalami Keloid
dibanding mereka yang mempunyai kulit berwarna putih dan angka kejadian terjadinya Keloid
berkurang sesuai dengan umur.
Keloid bisa dikurangi ukurannya dengan cryotherapy (pembekuan), tekanan dari luar,
suntikan kortison, suntikan steroid, radiasi atau dengan pembedahan. Jika suntikan dan tekanan
dari luar seperti balut tekan tidak cukup, jaringan parut dapat dioperasi, hal ini biasanya
dilakukan pada pasien dengan anestesi lokal dan mereka bisa kembali ke pekerjaan atau sekolah
dalam beberapa hari. Dokter anda boleh merekomendasikan bahwa kamu memakai balut tekan di
atas area yang atas selama satu tahun untuk mencegah Keloid dari kekambuhan. adalah mungkin
bahwa prosedur ini akan perlu untuk diulangi sedikitnya tiap tahun sebab Keloid mempunyai
suatu kecenderungan untuk timbul kembali.

Gambar 9. Keloid

Parut Hipertrofik
Parut Hipertrofik biasanya berwarna merah, tebal dan timbul, bagaimanapun juga mereka

berbeda dengan Keloid karena mereka tumbuh di bawah jaringan yang mengalami luka. Apalagi,
Parut Hipertrofik akan tumbuh dari waktu ke waktu. Pertumbuhannya ini bagaimanapun juga
dapat dikurangi dengan bantuan steroid atau suntikan.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 22

Gam
Tabel 3. Perbedaan antara

Permulaan

Invasi

bar 10. Parut Hipertrofik


keloid dan parut hipertrofik

Keloid

Parut Hipertrofik

Timbul setelah beberapa bulan atau

Timbul dalam beberapa

tahun

minggu

Meluas ke daerah kerusakan epitel

Terbatas pada bekas


kerusakan

Penyembuha

Tak ada regresi

Hilang sendiri

Sternum,bahu,pipi,telinga,pinggang

Dapat timbul

n
Predileksi

dimanapun

Ras/bangsa

Ras kulit gelap/hitam

Ras kulit putih

Luka bakar

Mungkin

Sering

Gatal

Jarang hebat

Sangat mengganggu

Kontraktur
Suatu parut kontraktur adalah suatu pengencangan kulit yang permanen yang bisa
mempengaruhi otot dan tendon dibawahnya sehingga membatasi pergerakan dan mungkin
merusak atau mengurangi fungsi saraf. Kontraktur terjadi ketika jaringan elastis normal
digantikan dengan jaringan berserat yang tidak elastis. Hal ini membuat jaringan tersebut resisten
terhadap regangan dan mencegah pergerakan normal area yang terpengaruh.
Fisioterapi, tekanan dan memperbanyak berlatih dapat membantu mengendalikan
kontraktur. Jika perawatan ini tidak bisa mengendalikan efek kontraktur, pembedahan mungkin

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 23

diperlukan. Suatu skin graft atau suatu prosedur penutupan mungkin bisa dilakukan. Apalagi
dokter anda bisa merekomendasikan suatu teknik baru seperti Z-Plasty atau perluasan jaringan.

Gambar 11. Kontraktur

II.7.

Menentukan Keparahan Luka Bakar


Sumber luka bakar. Luka bakar minor yang disebabkan oleh radiasi nuklir lebih parah
dibandingkan dengan suatu luka bakar termal. Luka bakar yang disebabkan oleh bahan
kimia adalah berbahaya sebab bahan kimia mungkin masih terdapat pada kulit.

Bagian tubuh yang terbakar luka bakar yang terdapat pada wajah lebih berbahaya sebab
bisa mempengaruhi jalan nafas atau mata. Luka bakar pada telapak tangan dan kaki juga
membutuhkan perhatian khusus sebab bisa membatasi pergerakan jari dan jari kaki.

Derajat luka bakar. Derajat luka bakar adalah penting untuk ditentukan sebab bisa
menyebabkan infeksi/peradangan jaringan yang terbakar dan memudahkan invasi kuman
ke sistem sirkulasi.

Luas daerah luka bakar. Adalah penting untuk mengetahui persentase dari jumlah
permukaan kulit yang terbakar. Tubuh orang dewasa dibagi menjadi beberapa regio,
masing-masing mewakili sembilan persen dari total permukaan tubuh. Regio ini adalah
kepala dan leher, masing-masing ekstremitas bagian atas, dada, abdomen, punggung
bagian atas, pantat dan punggung bagian bawah, bagian depan dari masing-masing
ekstremitas bawah, dan bagian belakang dari masing-masing ektremitas bagian bawah.
Jumlahnya 99 persen. 1 persen sisanya adalah area genital. Pada bayi atau anak kecil,
persentase yang lebih besar ditempatkan pada kepala dan batang tubuh.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 24

Umur pasien. Ini sangat penting sebab anak-anak kecil dan orang tua pada umumnya
mempunyai reaksi yang lebih berat terhadap luka bakar dan berbeda proses
penyembuhannya.

Kondisi fisik dan mental sebelum terjadinya luka bakar. Pasien dengan penyakit saluran
pernapasan, kelainan jantung, diabetes atau penyakit ginjal berada dalam bahaya yang
lebih besar dibanding orang-orang yang sehat.

II.8.

Berat Ringannya Luka Bakar


Dibagi menjadi :
1. Berat = Parah
a. Luka bakar derajat II 25% atau lebih
b. Luka bakar derajat III 10% atau lebih
c. Luka bakar derajat III pada tangan, kaki dan muka
d.Terdapat komplikasi pada saluran nafas, jantung, patah tulang, kerusakan soft tissue
yang luas
2. Sedang
a. Luka bakar derajat II 15 25%
b. Luka bakar derajat III 2 10% kecuali pada muka, tangan dan kaki
3. Ringan
a. Luka bakar derajat II <15%
b. Luka bakat derajat III <2%

II.9.

Faktor faktor yang Mempengaruhi Tingkat Keparahan Luka Bakar


Tingkat keparahan luka bakar dipengaruhi oleh factor-faktor berikut :

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 25

Intensitas panas
Pada kebakaran rumah, biasanya suhu berada pada kisaran di bawah 1200 16000F

Durasi terpajan panas


Misalnya, kulit manusia dipanaskan sampai 45 0C selama 2 jam, maka kulit akan
menjadi hiperemis tanpa terjadi kerusakan epidermis, namun bila durasi pajanan
diperpanjang sampai 3 jam, akan terjadi kerusakan total atau nekrosis pada epidermis.

Pada pelaksanaan pembakaran jenazah (kremasi) orang dewasa, alat yang digunakan
harus dipanaskan terlebih dahulu selama 1,5 jam dengan suhu 15000F

II.10. Terapi
Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada tubuh, misalnya dengan
menyelimuti dan menutupi bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen pada api
yang menyala. Korban dapat mengusahakannya dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling
agar bagian pakaian yang terbakar tidak meluas. Kontak dengan bahan yang panas juga harus
cepat diakhiri, misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air
dingin atau melepaskan baju yang tersiram air panas.
Pertongan pertama setelah sumber panas dihilangkan adalah merendam daerah luka bakar
dengan air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang kurangnya lima belas menit.
Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus setelah api
dipadamkan sehingga destruksi tetap meluas. Proses ini dapat dihentikan dengan mendinginkan
daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin ini pada jam pertama. Oleh karena itu
merendam bagian yang terbakar selama 15 menit pertama dalam air sangat bermanfaat untuk
menurunkan suhu jaringan sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil. Dengan demikian
luka yang sebenarnya menuju derajat dua dapat berhenti pada derajat satu, atau luka yang akan
menjadi derajat tiga dihentikan pada tingkat dua atau satu. Pencelupan atau penyiraman dapat
dilakukan dengan air apa saja yang dingin, tidak usah steril.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 26

Pada luka bakar ringan, prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang
terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk
berploriferasi dan menutup permukaan luka. Luka dapat dirawat secara tertutup atau terbuka.
Pada luka bakar berat, selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan, kalau perlu
dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. Bila penderita menunjukkan
gejala terbakarnya jalan nafas, diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Kalau terjadi
edema laring, dipasang endotrakeal tube atau dibuat trakeostomi. Trakeostomi berfungsi untuk
membebaskan jalan nafas, mengurangi ruang mati dan memudahkan pembersihan jalan nafas
dari lendir atau kotoran. Bila ada dugaan keracunan CO, diberikan oksigen murni.
Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik dan membiarkannya terbuka
untuk perawatan terbuka atau menutupnya dengan pembalut steril untuk perawatan tertutup.
Kalau perlu, penderita dimandikan terlebih dahulu. Selanjutnya diberikan pencegahan tetanus
berupa ATS dan/atau toksoid. Analgesik diberikan bila penderita kesakitan.
Secara singkat, berikut adalah hal hal yang bisa dilakukan untuk menolong korban luka
bakar di tempat kejadian.
A. Bantuan Pertama untuk Luka Bakar Derajat Pertama
1.

Jika kulit tidak rusak, siram air dingin di atas area yang terbakar atau rendam dengan
air dingin (bukan air es). Lakukan hal tersebut untuk beberapa menit. Jika luka bakar
terjadi karena suatu lingkungan dingin, Jangan gunakan air. Suatu handuk basah yang
dingin dapat juga membantu mengurangi sakit.

2.

Luka bakar dapat sangat menyakitkan, tenteramkan hati korban dan jaga ia agar tetap
tenang.

3.

Setelah membilas atau merendam luka bakar untuk beberapa menit, tutup luka bakar
dengan suatu perban yang steril, tidak mudah lengket atau kain bersih.

4.

Lindungi luka bakar dari gesekan dan tekanan.

5.

Pemberian analgesik mungkin diperlukan untuk mengurangi sakit, mereka juga bisa
membantu mengurangi peradangan dan pembengkakan.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 27

6.

Luka bakar ringan pada umumnya sembuh tanpa perawatan lebih lanjut.

B. Bantuan Pertama untuk Luka Bakar Derajat Dua dan Tiga


1.

Jangan lepas atau tanggalkan pakaian yang terbakar; (kecuali jika pakaian itu lepas
dengan mudah), tetapi pastikan bahwa korban tidak kontak dengan bahan atau material
yang terbakar.

2.

Pastikan bahwa korban masih bernafas. Jika nafasnya berhenti atau airway korban
terhalang kemudian buka airway dan jika perlu mulai resusitasi.

3.

Jika korban bernafas, tutup luka bakar dengan suatu perban yang steril, lembab, dingin
atau kain bersih. Jangan menggunakan suatu selimut atau handuk; suatu seprai yang
mudah terbakar. Jangan gunakan obat salep dan hindari terjadinya lepuh.

4.

Jika jari tangan atau jari kaki telah dibakar, pisahkan mereka dengan pembalut luka
yang tidak mudah lengket steril, kering.

5.

Angkat area yang terbakar dan lindungi dari tekanan atau gesekan.

6.

Lakukan tindakan untuk mencegah syok. Letakkan korban pada tempat yang datar,
angkat kaki setinggi 12 inci, dan tutup korban dengan suatu mantel atau selimut. Jangan
tempatkan korban pada posisi syok bila dicurigai ada kepala, leher, punggung, atau kaki
yang luka atau jika posisi tersebut membuat korban tidak nyaman.

7.

Lanjutkan dengan memonitor tanda vital korban (nafas, denyut nadi, tekanan darah).

C. Hal Yang Tidak Boleh Dilakukan


1. Jangan oleskan obat salep, mentega, es, pengobatan, pakaian berbahan kapas halus, perban
yang mudah lengket, kain sari, meminyaki percikan, atau menggunakan bahan rumah
tangga apapun untuk memperbaiki luka bakar. Hal ini dapat bertentangan dengan
penyembuhan yang sesuai.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 28

2. Jangan biarkan luka bakar terkontaminasi. Hindari bernafas atau batuk di area yang
terbakar.
3. Jangan lakukan apapun pada kulit yang mati atau melepuh.
4. Jangan lakukan kompres beku dan jangan rendam suatu luka bakar serius dengan air
dingin. Hal ini dapat menyebabkan syok.
5. Jangan letakkan bantal di bawah kepala korban jika ada suatu luka bakar pada airway. Hal
ini dapat menutup airway.

Luka bakar adalah merupakan suatu keadaan gawat darurat, jadi setelah hal-hal diatas
dilakukan sebaiknya korban di bawa ke rumah sakit. Berikut adalah hal-hal yang dilakukan:
DUA PULUH EMPAT JAM PERTAMA (HARI 1)
Survei primer :
A = Airway
adakah trauma inhalasi: anamnesa, suara serak (stridor)observasi selama 24 jam bila
perlu pasang ET atau lakukan trakheostomi
B = Breathing
Gangguan nafas karena eschar yang melingkar dada, trauma thorax dlllakukan
escharotomi atau penanganan trauma thorax yang lain
C = Circulation
Dilakukan resusitasi cairan. Bila penderita syok maka diatasi dulu syoknya dengan infus RL
diguyur sampai nadi teraba atau tekanan darah >90mmHg. Baru kemudian lakukan resusitasi
cairan. Cairan yang dibutuhkan dalam penanganan syok tidak dihitung. Resusitasi cairan
yang sering digunakan adalah cara Baxter.
Baxter dengan rumus :
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 29

4cc x kgBB x %luka bakar


Setengah dari jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama dan sisanya diberikan selama
16 jam berikutnya. Cairan yang diberikan biasanya RL karena terjadi defisit ion Na.
Cara lain yang bisa dilakukan adalah cara Evans :
1. %luka bakar x kgBB menjadi NaCl per 24 jam
2. %luka bakar x kgBB menjadi ml plasma per 24 jam
Keduanya merupakan pengganti cairan yang hilang akibat edema. Plasma diperlukan
untuk mengganti plasma yang keluar dari pembuluh darah dan meninggikan tekanan osmosis
hingga mengurangi perembesan keluar dan menarik kembali cairan yang telah keluar.
3. Sebagai pengganti cairan yang hilang akibat penguapan, diberikan 2000cc glukosa 5%
per 24jam.
Separuh dari jumlah 1+2+3 diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya dalam 16 jam
berikutnya.
- Pasang kateter untuk memonitor produksi urin. Diharapkan produksi urin 1cc/KgBB/jam
- Pasang CVP pada luka bakar >/=40% dan pada penderita yang mengalami kesulitan
untuk mengukur tekanan darah.
Survei Sekunder

Penilaian luas luka bakar dan derajat kedalamannya. Biasanya dihitung sebelum resusitasi
cairan definitive

Pasang NGT. Untuk dekompresi penderita yang mengalami ileus paralitik dan untuk
memasukkan makanan

Cuci luka dengan NaCl dan savlon, keringkan, olesi dengan salep (Dermazin) kemudian
rawat luka secara tertutup

Pemeriksaan laboratorium darah dan Analisa Gas Darah tiap 24 jam

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 30

Pemberian analgetika dan antibiotika


Luka bakar termal, listrik dan bahan kimia membutuhkan penanganan dan pengobatan

yang berbeda. Terapi farmakologi memiliki peran yang terbatas dalam penatalaksanaan luka
bakar kimia. Disisi lain kunci dari penanganan luka bakar listrik adalah pada rehidrasi sementara
luka bakar termal memerlukan analgetik dan antibiotik topikal. Pastikan pasien memberi
informasi tentang alergi obat yang mereka miliki, obat obatan yang sedang diminum atau
kondisi kesehatan lain.

A. Terapi Luka Bakar Termal


1. Analgetik
Untuk luka bakar termal dokter biasanya memberikan resep analgetik untuk
menghilangkan rasa nyeri dan memberikan kenyamanan pada pasien. Morfin sulfat,
Demerol dan Vicodin mungkin diresepkan untuk nyeri yang sangat hebat.
2. Anti Inflamasi Non steroid
Golongan obat ini digunakan untuk nyeri akibat luka bakar ringan sampai sedang.
Ibuprofen biasanya digunakan untuk terapi awal, tapi pilihan lain seperti naproxen,
ansaid dan anaprox dapat juga diberikan.
3. Antibiotik Topikal
Antibiotik topikal digunakan untuk mencegah infeksi dan pertumbuhan bakteri. Neo
sporin digunakan untuk infeksi minor dan dioleskan ke kulit 1 3x sehari.
Silvadene adalah krim topikal yang digunakan untuk luka bakar yang lebih berat.
Silvadene adalah obat golongan sulfa yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi
bakteri atau jamur. Silvadene harus dioleskan menggunakan teknik steril ke tempat luka bakar
dan tempat luka bakar tersebut harus dicuci bersih sebelum pemakaian. Hindari menggunakan
silvadene pada wajah dan silvadene tidak boleh digunakan pada neonatus, bayi berumur kurang
dari 2 tahun atau pada kehamilan trimester akhir.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 31

B. Terapi Luka Bakar Kimia


Walaupun obat-obatan memegang peranan yang terbatas pada penatalaksanaan luka bakar
kimia pada umumnya namun antibiotik topikal, garam magesium dan kalsium mungkin dapat
digunakan. Setelah luka dibersihkan, terapi cairan IV dan obat-obat narkotik diberikan
1. Antibiotik
Silvadene digunakan untuk luka bakar pada kulit dan berguna dalam pencegahan
infeksi pada luka bakar derajat 2 dan 3. Obat ini harus dioleskan pada kulit 1 atau 2x sehari
dan semua obat yang diberikan sebelumnya harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum
mengoleskan salep baru. Eritromicin salep (bacitracin) digunakan untuk mencegah infeksi
pada luka bakar yang terdapat di bagian mata.
2. Analgetik
Morfin dan asetaminofen diberikan untuk penatalaksanaan nyeri dan mungkin dapat
bertindak sebagai sedatif yang penting bagi pasien yang mengalami cedera pada daerah mata.
3. Anti Inflamasi Non Steroid
Advil, Motrin, Ansaid, Naprosyn, dan anaprox adalah obat anti inflamasi yang
digunakan untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang.
C. Terapi Luka Bakar Elektrik
Kunci dari penatalaksanaan luka bakar listrik adalah hidrasi. Hidrasi yang adekuat dapat
menurunkan morbiditas. Jika kerusakan otot terjadi sangat parah, diuretik osmotik diberikan.
1

Terapi Cairan
Ringer Lactat biasanya digunakan untuk terapi. Ringer lactat adalah larutan isotonik dan
berfungsi sebagai pengganti volume cairan tubuh. Pemberiannya melalui jalur intra vena dan
harus dihentikan apabila terdapat tanda-tanda edema pulmo.

Osmosis diuretik

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 32

Manitol adalah diuretik osmosis yang tidak dimetabolisme secara signifikan dan melewati
glomerulus tanpa direabsorpsi oleh ginjal. Manitol digunakan untuk mengembalikan dan
mempertahankan urin output.

DUA PULUH EMPAT JAM KEDUA (HARI II) dst

Cairan yang diberikan volumenya dari hari pertama

Pemberian koloid/plasma ekspander sudah boleh dilakukan

Diet sudah mulai 8 jam pasca trauma bila tidak terjadi ileus, melalui NGT

Perawatan luka dilakukan sesuai kebutuhan, biasanya setiap hari

Hari ke 7 penderita boleh dimandikan

Posisi penderita diletakkan dalam posisi yang baik agar tidak terjadi kontraktur maupun
problem rekonstruksi yang lain.

Selain penatalaksanaan secara farmakologik, perawatan luka bakar juga tak lepas dengan
masalah nutrisi. Nutrisi bagi penderita luka bakar tak kalah pentingnya dalam proses
penyembuhan luka.
Memperkirakan jumlah kebutuhan nutrisi pada pasien luka bakar sangat penting dalam
proses penyembuhan. Terdapat beberapa rumus untuk menghitung kebutuhan nutrisi pasien kula
bakar. Persamaan Harris-Benedict dibuat untuk menghitung kebutuhan kalori orang dewasa
sementara Galvaston digunakan pada anak-anak. Rumus Curreri digunakan untuk menghitung
kebutuhan kalori dewasa dan anak-anak. Studi terbaru menunjukkan bahwa rumus ini cenderung
bersifat berlebihan (over estimate) sebesar kira kira 150% dari kebutuhan kalori. Karena tidak
ada satupun rumus yang dapat memperhitungkan secara akurat berapa banyak kalori yang
dibutuhkan oleh pasien, adalah penting bagi dokter dan ahli gizi untuk memonitor secara ketat
kondisi nutrisi pasien.
Kebutuhan protein pada umumnya meningkat daripada kebutuhan energi dan tampaknya
berhubungan dengan besarnya massa tubuh. Tubuh kehilangan protein melalui luka dan karena

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 33

hal ini tubuh meningkatkan kebutuhan kalori untuk penyembuhan. Bagaimanapun juga
mayoritas dari peningkatan kebutuhan protein berasal dari adanya kerusakan otot dan terkait
penggunaannya dalam memproduksi energi. Memberikan indeks protein yang lebih tinggi tidak
dapat menghentikan proses perusakan ini akan tetapi protein penting untuk menyediakan bahan
untuk sintesis jaringan yang rusak atau hilang. Karbohidrat merupakan penyuplai kalori terbesar
pada kebanyakan kondisi terrmasuk stress pada luka bakar. Memberikan kalori yang adekuat dari
karbohidrat dapat mengurangi penggunaan protein sebagai bahan bakar. Tubuh memecah
karbohidrat menjadi glukosa yang akan digunakan sebagai energi. Luka bakar membutuhkan
glukosa untuk energi dan tidak dapat menggunakan sumber energi lain.
Lemak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan asam lemak esensial dan juga
sebagai sumber kalori. Rekomendasi umum memberikan 30% kalori dalam bentuk lemak, dan
jumlah ini bisa lebih besar jika diperlukan. Kekurangan asupan lemak berimplikasi pada
penurunan fungsi imun.
Kebanyakan institusi kesehatan mengetahui bahwa luka bakar membutuhkan jumlah
vitamin dan mineral yang lebih tinggi akan tetapi berapa peningkatan kebutuhan ini belum dapat
ditentukan. Beberapa vitamin yang penting adalah vitamin C dan E bersama dengan zinc dapat
membatasi kerusakan oksidatif dan mempercepat penyembuhan luka.
Memberikan kalori dan zat gizi yang adekuat adalah tugas yang sangat sulit pada pasien
luka bakar terutama pada anak-anak. Adalah sangat penting bagi para tenaga kesehatan untuk
dapat memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dalam rangka meminimalisasi efek buruk dari
kehilangan masa tubuh,dan malnutrisi energi protein. Kegagalan memenuhi kebutuhan ini dapat
bermanifestasi sebagai penyembuhan luka yang tidak sempurna, balance nitrogen yang negatif,
penurunan BB dan penurunan fungsi kekebalan tubuh.
Penilaian status nutrisi awal sebaiknya dilakukan secepatnya setelah masuk rumah sakit.
Hal ini sangat penting agar pemberian makan yang adekuat dapat diberikan dalam 24-48 jam
pertama setelah pasien mengalami luka bakar. Pengukuran berat badan dan tinggi badan yang
akurat seperti sebelum luka bakar terjadi yang dapat dilihat pada Tabel Standar Pertumbuhan
Anak sangat diperlukan untuk memperkirakan kebutuhan nutrisi pada anak.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 34

II.11. Rehabilitasi Pasca Luka Bakar


Mencegah timbulnya bekas luka adalah merupakan tujuan utama dari penatalaksanaan
luka bakar. Edukasi pasien secara konsisten dan berulang adalah suatu bagian yang penting
dalam terapi pasien. Penatalaksanaan terhadap edema, penatalaksanaan gangguan nafas,
memposisikan, dan melibatkan pasien dalam aktivitas fungsional dan pergerakan harus dimulai
sejak dini. Pasien perlu dimotivasi untuk bekerja sesuai dengan kemampuan mereka dan
menerima tanggung jawab untuk merawat diri mereka sendiri. Kemampuan fungsional pasien
setelah terapi tidak akan maksimal jika pasien tidak secara teratur terlibat dalam pergerakan.

A. Pengendalian Nyeri
Dalam rangka mencapai hasil akhir yang diinginkan, adalah sangat penting untu
memberikan penghilang nyeri yang adekuat. Tujuan dari pemberian obat penghilang sakit adalah
untuk memberikan dasar yang baik pada penatalaksanaan nyeri agar baik aktifitas dan
pergerakan fungsional hidup sehari-hari dapat dilakukan oleh pasien setiap waktu. Penggunaan
obat penghilang sakit kombinasi seperti paracetamol, AINS, tramadol, dan obat narkotika lepas
lambat dapat menurunkan kebutuhan akan dosis narkotika untuk nyeri yang sangat hebat. Kodein
harus dihindarkan jika mungkin oleh karena efek negatifnya mempengaruhi motilitas usus.
Metode penatalaksanaan yang mungkin dapat membantu adalah Stimulasi Listrik Syaraf
Transkutaneus (TENS)
B. Trauma Inhalasi
Penata laksanaan agresif dan profilaksis terhadap saluran pernafasan harus dimulai bila
ada kecurigaan adanya suatu trauma inhalasi. Jika terdapat riwayat luka bakar pada suatu ruang
tertutup atau pasien mengalami penurunan tingkat kesadaran maka perawatan harus dimulai
secepatnya. Perawatan harus diarahkan pada menghilangkan sekresi paru-paru (oedema),
menormalisasi mekanisme pernafasan, dan mencegah komplikasi lain seperti pneumonia.
Penatalaksanaan awal meliputi:

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 35

Normalisasi mekanisme pernafasan-seperti menggunakan suatu alat Bantu ekspirasi


bertekanan positif, intermittent positive pressure breathing, posisi duduk, dan potitioning

Meningkatkan kedalaman pernafasan dan ventilasi kolateral alveolar seperti dengan


ambulasi atau, jika tidak mungkin, menggunakan tilt table, dan teknik fasilitasi.

Gambar 12 Penggunaan Alat Bantu Nafas Bertekanan Positif


C. Pergerakan dan Fungsi
Pergerakan adalah suatu kebiasaan yang harus dimotivasi untuk dimulai bahkan sejak
saat masuk rumah sakit. Jika suatu pasien dapat menerima tanggung jawab atas latihan diri
sendiri dan dapat melakukan aktivitas hidup sehari-hari maka aspek tersulit dari program
rehabilitasi akan mudah terlewati. Jika dicurigai ada kerusakkan tendon akibat luka bakar, maka
mungkin akan dibutuhkan bidai pelindung dan alat pelindung pergerakan lain.

Gambar 13. Latihan kekuatan untuk penderita luka bakar listrik pada tubuh bagian
atas. rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi difokuskan pada kekuatan
alat gerak atas dan kestabilan badan atas.

D. Penatalaksanaan Oedema

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 36

Menghilangkan Oedema harus dilakukan sejak awal masuk rumah sakit. Satu-satunya
sistem tubuh yang dapat dengan aktif memindahkan kelebihan cairan dan debris dari jaringan
interstitium adalah sistem limfatik. Oedema yang terkumpul pada zona stasis suatu luka bakar
dapat menyebabkan penambahan kedalaman luka bakar secara progresif. Prinsip pengurangan
oedema merupakan bagian yang holistic dalam penata laksanaan luka bakar.
Rehabilitasi Yang dimulai pada saat terjadinya luka bakar meliputi:

Kompresi-misalnya Coban, sarung tangan edema

Pergerakan-Ritmik

Elevasi atau memposisikan ekstremitas untuk membantu penyerapan kembali cairan


oedema

Maksimalisasi pembuluh limfe

Pembidaian tidak mengendalikan oedema kecuali untuk mengalirkan cairan ke


daerah yang mengalami imobilisasi.

Gambar 14. Sarung Tangan Kompresi (Coban)

E. Imobilisasi
Penghentian pergerakan, fungsi, dan ambulasi mempunyai indikasi masing-masing.
Imobilisasi hanya boleh dilakukan apabila terdapat kerusakan tendon atau tulang atau apabila
jaringan yang rusak telah diperbaiki (termasuk rekonstruksi kulit). Apabila bagian tubuh harus
diimobilisasi, misalnya untuk membuat skin graft menempel, maka bagian tersebut harus
dipasang bidai atau diposisikan pada posisi antideformitas (mencegah adanya deformitas
dikemudian hari) untuk jangka waktu yang sesingkat mungkin.
F. Rekonstruksi Kulit
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 37

Rekonstruksi Kulit dirancang sesuai dengan kedalaman luka bakar yang dinilai pada saat
operasi. Teknik rekonstruksi dan perkiraan waktu pelaksanaan rekonstruksi sepenuhnya
tergantung pada masing-masing ahli bedah. Faktor lain yang mempengaruhi metode pemilihan
rekonstruksi kulit ini meliputi ketersediaan dan biaya produk bioteknologi.
G. Penatalaksanaan Jaringan Parut
Penatalaksanaan jaringan parut berhubungan komponen fisik dan komponen estetik
dikarenakan adanya implikasi emosional dan psikososial pasca luka bakar.
Jaringan parut hipertrofik merupakan hasil dari pembentukan serat kolagen yang
berlebihan selama masa penyembuhan luka dan reorientasi dari serat tersebut dengan pola yang
tidak seragam.
Jaringan keloid berbeda dari jaringan parut hipertrofik karena ia bisa meluas di luar area
luka bakar. Keloid lebih sering dijumpai pada orang-orang dengan kulit hitam dibanding orangorang kulit putih.
Pembentukan jaringan parut dipengaruhi oleh banyak faktor:

Faktor diluar kulit: pertolongan pertama kecukupan resusitasi cairan, penempatan di

rumah sakit, intervensi bedah, penatalaksanaan luka dan pembebatan luka.


Faktor yang berhubungan dengan pasien sendiri. Derajat penyesuaian dengan program
rehabilitasi, tingkat motivasi, umur, kehamilan, warna kulit.

Prosedur Pembedahan
Terdapat dua tipe besar prosedur bedah yang dapat menghilangkan jaringan parut dan

mengganti jaringan yang hilang pada korban luka bakar berat: dermabrasi dan skin graft.
Dermabrasi adalah prosedur bedah yang bertujuan meminimalisasi penampilan jaringan parut,
mengembalikan fungsi dan mengkoreksi kelainan bentuk akibat dari luka. Skin graft adalah
prosedur bedah dimana sepotong kulit yang berasal dari tubuh pasien di transplantasikan ke
daerah lain dari tubuh.
a

Dermabrasi
Dermabrasi adalah prosedur bedah yang bertujuan meminimalisasi penampilan jaringan

parut, mengembalikan fungsi dan mengkoreksi kelainan bentuk akibat dari luka. Dermabrasi
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 38

digunakan untuk menghaluskan jaringan parut dengan mencukur atau mengikis lapisan kulit
teratas. Walaupun dermabrasi dapat menghaluskan permukaan jaringan parut,proses ini tidak
akan menghilangkan jaringan parut tersebut. Jaringan parut akan tetap ada akan tetapi
penampilannya akan menjadi lebih baik seiring dengan waktu.
Prosedur ini dapat dilaksanakan di tempat praktek bedah kulit atau di fasilitas kesehatan
lain bagi pasien yang berobat jalan. Segera setelah pembedahan ini dilakukan, kulit akan
diberikan salep, perban yang basah atau mengandung lilin,perawatan kering atau kombinasi dari
keduanya. Biasanya kulit akan terlihat merah dan bengkak setelah pembedahan. Pembengkakan
ini akan berlanjut selama 2 3 minggu. Pasien akan mengalami rasa nyeri, gatal atau rasa
terbakar setelah pembedahan yang menandakan kulit baru yang mulai tumbuh. Krusta akan
terbentuk di area yang sudah mulia menyembuh, bagaimanapun jika salep dioleskan pada daerah
yang terluka segera setelah pembedahan maka hanya akan ada sedikit atau tidak ada krusta sama
sekali. Seiring dengan proses penyembuhan, krusta akan luruh meninggalkan lapisan kulit baru
yang berwarna merah jambu. Jika daerah tersebut tetap berwarna merah, bengkak dan terasa
gatal mungkin ini merupakan tanda pembentukan jaringan parut abnormal. Hal ini harus segera
dilaporkan pada ahli bedah yang bersangkutan.
Setelah pembedahan, pasien dapat beraktifitas dengan normal seperti kembali bekerja
dalam waktu 2 minggu. Pasien disarankan untuk menghindari aktivitas yang dapat menyebabkan
benturan pada area yang di operasi selama 2 minggu. Olah raga harus dihindari untuk 4 6
minggu setelah operasi. Sangatlah penting untuk melindungi kulit selama 6 12 bulan sampai
proses pigmentasi kulit lengkap terbentuk. Warna kulit akan kembali normal dalam waktu sekitar
3 bulan. Pada saat repigmentasi kulit sudah lengkap, warna kulit akan tampak sama dengan
warna kulit sekitarnya.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 39

Gambar 15. Dermabrasi


b. Skin Graft
Skin graft adalah prosedur bedah dimana sepotong kulit yang berasal dari tubuh pasien di
transplantasikan ke daerah lain dari tubuh. Kulit dari orang lain atau dari binatang mungkin
digunakan sebagai penutup sementara pada luka bakar luas untuk menghindari kehilangan
cairan. Kulit yang diambil dari donor haruslah kulit yang sehat dan diiplantasikan ke daerah kulit
yang rusak dari resipien.
Skin graft merupakan prosedur bedah yang lebih rumit daripada dermabrasi. Skin graft
biasanya dilakukan di rumah sakit besar di bawah anestesi umum. Waktu yang dibutuhkan untuk
penyembuhan tergantung dari luas dan keparahan luka, antara 6 minggu sampai beberapa bulan.
Dalam 36 jam pertama setelah pembedahan, pembuluh darah yang baru akan mulai terbentuk
pada kulit yang ditransplantasi. Pada umumnya skin graft berhasil, tetapi ada beberapa yang
membutuhkan pembedahan tambahan jika proses penyembuhan tidak berjalan dengan sempurna.
Ada beberapa tipe dari skin graft: pinch,split - thickness,full thickness dan pedicle
graft.

Pinch Graft : potongan kulit sebesar inchi dipasang pada donor. Bagian kulit yang
kecil ini kemudian akan tumbuh menutup area yang terluka. Kulit ini akan tumbuh

bahkan didaerah dengan suplai darah yang terbatas dan dapat mencegah infeksi.
Split thickness graft : terdiri dari lapisan superficial dan lapisan dalam dari kulit yang
berbentuk helaian. Graft yang diambil dari daerah donor dapat mencapai lebar 4 inchi
dan panjang 10 12 inchi. Graft ini kemudian ditempel pada area resipien. Segera setelah

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 40

graft ditanam daerah tersebut dapat ditutup dengan balut tekan atau dibiarkan terbuka.
Split thickness graft digunakan pada bagian tubuh yang tidak menyangga berat badan

(non weight bearring).


Full thickness graft : digunakan pada bagian tubuh yang menyangga berat badan dan
yang cenderung mengalami gesekan seperti telapak kaki dan sendi. Full thickness graft
terdiri dari semua lapisan kulit termasuk pembuluh darah. Pembuluh darah dari area

resipien akan tumbuh menyambung area transplantasi dalam 36 jam.


Pedicle graft: dengan pedicle graft bagian dari kulit yang digunakan dari daerah donor
akan tetap menempel pada daerah tersebut dan sisanya akan menempel pada daerah
resipien. Suplai darah akan tetap utuh pada daerah donor dan tidak akan dipotong sampai
suplai pembuluh darah baru terbentuk dengan lengkap. Prosedur ini pada umumnya
dilakukan pada tangan, wajah atau sekitar leher.

Gambar 16. Skin Graft


Keberhasilan skin graft dapat diperkirakan 72 jam setelah pembedahan. Jika transplantasi
kulit ini dapat melewati 72 jam pertama tanpa infeksi atau trauma, tubuh pada umumnya tidak
menolak transplantasi ini. Sebelum pembedahan, area donor dan resipien harus bebas dari infeksi
dan mempunyai suplai darah yang stabil. Prosedur lanjutan yang berupa memindahkan atau
meregangkan area resipien harus dihindari. Perban yang digunakan harus steril dan biasanya
diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi.
2

Penggantian Kulit

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 41

Pada beberapa pasien dengan luka bakar yang sangat parah, transplantasi kulit
menggunakan kulit sehat meraka sendiri tidak dapat dilakukan karena mereka hanya memiliki
sedikit sekali kulit yang sehat atau meraka tidak cukup kuat menjalani operasi. Alternatif lain
untuk menutup luka bakar ini adalah dengan menggunakan kulit cadaver atau kulit binatang.
Tubuh akan menolak kedua pilihan ini dalam beberapa hari dan pembedahan harus diulangi lagi.
Pada tahun 1997, produk sintetik baru bernama DermagraftTC tersedia di pasaran. Dermagraft
TC dibuat dari sel manusia hidup dan secara luas digunakan untuk mengganti kulit kadaver.
Badan pengawasan obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui penggunakan
Dermagraft TC ini. Ada dua jenis perban kulit buatan yang dapat digunakan untuk perawatan
luka bakar derajat tiga: Integra Artificial Skin dan Original BioBrane. Tidak seperti perban
tradisional, perban baru ini dapat mempercepat penyembuhan luka dengan berinteraksi langsung
dengan jaringan tubuh.
BioBrane adalah bahan nilon yang mengandung gelatin yang berinteraksi dengan factor
pembekuan pada luka. Interaksi ini menyebabkan perban menempel dengan baik membentuk
lapisan pelindung yang lebih kuat.
Integra adalah perban 2 lapis. Lapisan paling atas berperan sebagai lapisan epidermis
sintetik, lapisan di bawahnya berperan sebagai dasar pertumbuhan kembali jaringan kulit.
Lapisan yang bawah terbuat dari serat kolagen dan berperan sebagai penghubung bagi sel tubuh
untuk mulai membentuk jaringan kulitnya sendiri.
Produk pengganti kulit lain banyak muncul di pasaran. Organogenesis inc. menjual
Apilgra, suatu bahan yang ekuivalen dengan kulit manusia hidup untuk merawat luka dan ulcus.
Lifecell corporation membuat jaringan kulit manusia yang dapat di implantasi untuk keperluan
bedah rekonstruksi dan perawatan luka bakar.
Sebagai tambahan dari kulit buatan adalah kulit kultur. Dokter dapat mengambil
potongan kulit sebesar perangko dari pasien dan menumbuhkannya di media kultur khusus. Dari
bagian kulit yang kecil ini, para ahli dapat menumbuhkan cukup kulit untuk menutup hampir
seluruh tubuh dalam jangka waktu 3 minggu. Kultur kulit sudah tersedia di Amerika sejak 10
tahun yang lalu. Kulit buatan hanya merupakan perbaikan sementara;pasien akan tetap
membutuhkan skin graft bagaimanapun juga dengan penggunaan kulit buatan berarti skin graft
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 42

yang akan di gunakan semakin tipis yang membantu daerah donor dan resipien menyembuh
secara lebih cepat dan akan lebih sedikit operasi yang dibutuhkan.
Penggunaan kulit buatan belum sepenuhnya sempurna dan mungkin tidak cocok bagi
semua pasien luka bakar. Jaringan parut masih akan tetap tampak akan tetapi jauh lebih ringan.

Gambar 17. Kulit Buatan


3

Balut Tekan
Kulit normal yang tidak mengalami kerusakan terdiri dari jaringan ikat yang terdapat

pada lapisan dermis yang membentuk serabut kolagen 3 dimensi yang menyatu secara pararel
pada permukaan kulit. Kulit memerlukan tekanan yang berlawanan dengan lapisan di bawahnya.
Pada keadaan normal, tekanan yang diberikan kulit terhadap tubuh memastikan setiap kulit yang
terluka digantikan ke bentuknya semula tanpa adanya jaringan parut.
Ketika luka bakar merusak kulit, tekanan papilla dermis yang normal pada lapisan ini
tidak ada lagi. Tanpa tekanan ini jaringan parut hipertrofik akan mulai terbentuk menyebabkan
berbagai macam deformitas. Perban balut tekan menyediakan dan mengontrol pembentukan dari
jaringan parut hipertrofik dengan memberikan reaksi titik topang pada daerah luka. Pembalut
takan berperan dalam menurunkan pembentukan jaringan parut hipertrofik dengan menurunkan
pembentukan jaringan parut dan deformitas.
Sangatlah penting bagi pasien luka bakar menggunakan balut tekan pada saat jaringan
parut masih in aktif dan belum matur. Jaringan parut sangat responsif pada awal
pembentukannya dan penggunaan balut tekan secara dini sangat membantu. Balut tekan
sebaiknya dipakai paling tidak 23 jam sehari dan hanya dibuka pada saat mandi atau
membersihkan balut tekan tersebut. Pada umumnya pasien harus memakai balut tekan ini selama
12-18 bulan. Penggunaan lanjut balut tekan mencegah penebalan, pemadatan dan pembentukan
nodul yang biasa terlihat pada jaringan parut hipertrofik. Diharapkan hanya akan terbentuk
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 43

jaringan parut tipis yang elastis yang masih memungkinkan pergerakan semi normal. Tekanan
eksternal yang diberikan oleh balut tekan dapat menurunkan respon inflamasi dan jumlah darah
dalam jaringan parut, mengurangi rasa gatal dan mencegah sintesis kolagen. Sebagai tambahan,
balut tekan memberikan perlindungan terhadap trauma.

Gambar 18. Balut Tekan


Pemasangan balut tekan adalah intervensi yang utama di dalam penata laksanaan jaringan
parut. Pemberian tekanan pada luka bakar bertujuan untuk mengurangi pembentukan jaringan
parut dengan menghalangi maturasi jaringan parut dan memudahkan reorientasi serat kolagen
menjadi seragam, dan tersusun paralel sebagai kebalikan dari pola melingkar yang terlihat di
jaringan parut tidak dirawat.
Bahan pembalut tekan ini harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan sering kali
dipengaruhi oleh jenis pembedahan yang telah di jalani. Pasien harus diukur pada hari ke lima
atau ke tujuh setelah operasi transplantasi dan bahan pembalut tekan ini harus langsung
digunakan secepatnya setelah mereka selesai dibuat. Balut tekan bisa digunakan untuk 3 bulan,
setelah masa itu diharapkan diadakan pengukuran kembali terhadap pasien untuk menyesuaikan
dengan perubahan dimensi jaringan parut.
Pada orang-orang dengan luka bakar derajat sedang sampai berat di daerah muka atau
leher, masker wajah yang terbuat dari akrilic harus dipertimbangkan untuk digunakan. Masker
ini memberikan tekanan yang cukup untuk daerah wajah dan leher. Masker ini juga bisa dibuat
untuk dipakai pasien pada malam hari. Pada daerah dengan jaringan parut yang persisten yang
tidak responsive terhadap pemasangan balut tekan, teknik perawatan jaringan parut lain harus di
pertimbangkan. Teknik ini termasuk dengan pijatan, krim pelembab.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 44

Gambar 19. Topeng Akrilik


4

Edukasi Pasien Pada Penatalaksanaan Jaringan Parut


Setelah mengalami luka bakar, kulit mengalami perubahan fungsi, oleh karena itu pasien

harus di beri motivasi untuk terus menerus menggunakan zat pelembab bagi kulit. Pelembaban
sangat penting karena dapat mencegah kulit dari kekeringan, berkerut dan pecah-pecah yang
dapat menyebabkan infeksi sekunder dan kerusakan kulit.
Edukasi tentang perlindungan terhadap sinar matahari juga penting bagi pasien. Pasien
harus mengetahui bahwa mereka harus melindungi kulit mereka dari sinar matahari sampai 2
tahun dan mereka juga harus melindungi dan menutup kulit mereka tidak hanya dengan tabir
surya tapi juga pakaian yang baik pada saat bekerja atau beraktivitas di luar ruangan.

H. Follow Up pasien rawat Jalan


Unit penanganan luka bakar sebaiknya memberikan ringkasan yang teratur dan
komprehensif mengenai perkembangan terapinya. Jenis follow up pasien rawat jalan tergantung
dari derajat beratnya luka bakar, akan tetapi dalam hubungannya dengan pengembalian fungsi
dan pergerakan, pasien rawat jalan membutuhkan monitoring yang ketat dan perubahan secara
berkala dosis latihan fisioterapi dan program latihan di rumah.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 45

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air
panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi. Luka ini dapat menyebabkan kerusakkan jaringan.
Cedera lain yang termasuk luka bakar adalah sambaran petir, sengatan listrik, sinar X dan bahan
korosif.
Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan 2 cara: sumber penyebab dan derajat atau
kedalaman luka bakar. Berdasarkan sumber di bedakan atas panas, bahan kimia, listrik, cahaya
dan radiasi. Berdasarkan derajat dibagi menjadi derajat satu, dua dan tiga.
Luas luka bakar dihitung berdasarkan rumus Rule Of Nine atau Rule of Wallace. Bila
permukaan tubuh dihitung sebagai 100%, maka kepala adalah 9%, tiap-tiap ekstremitas bagian
atas adalah 9%, dada bagian depan adalah 18%, bagian belakang adalah 18 5, tiap-tiap
ekstremitas bagian bawah adalah 18% dan leher 1%. Rumus tersebut tidak dapat digunakan pada
anak dan bayi karena relatif luas permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif
permukaan kaki lebih kecil. Oleh karena itu, digunakan `Rule of ten` untuk bayi dan `Rule of 1015-20` dari Lund and Browder untuk anak. Dasar presentasi yang digunakan dalam rumus
tersebut adalah luas telapak tangan dianggap seluas 1 %.
Ada tiga jenis parut utama yang biasanya disebabkan oleh luka bakar: Keloid, Parut
hipertrofik dan kontraktur. Keloid adalah jaringan parut yang tebal tak beraturan dan membesar
secara progresif akibat pembentukan kolagen yang berlebihan dalam lapisan korium selama
pembentukan jaringan ikat pada bekas luka. Parut akan tumbuh di luar lokasi yang luka. Parut ini
biasanya berwarna merah muda atau merah dan pada akhirnya akan menjadi berwarna coklat
gelap. Parut Hipertrofik biasanya berwarna merah, tebal, berbeda dengan Keloid, parur
hipertrofik berada di luar lokasi dari luka. Kontraktur adalah suatu pengencangan kulit yang
permanen yang bisa mempengaruhi otot dan tendon dibawahnya sehingga membatasi pergerakan
dan mungkin merusak atau mengurangi fungsi saraf.
Berat Ringannya Luka Bakar
KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 46

Dibagi menjadi :
1. Berat = Parah
a. Luka bakar derajat II 25% atau lebih
b. Luka bakar derajat III 10% atau lebih
c. Luka bakar derajat III pada tangan, kaki dan muka
d. Terdapat komplikasi pada saluran nafas, jantung, patah tulang, kerusakan jaringan lunak
yang luas
2. Sedang
a. Luka bakar derajat II 15 25%
b. Luka bakar derajat III 2 10% kecuali pada muka,tangan dan kaki
3. Ringan
a. Luka bakar derajat II <15%
b. Luka bakat derajat III <2%
Prinsip penanganan luka bakar meliputi:(2,7)
1. Pertolongan pertama di tempat kejadian
2. Pertolongan di rumah sakit
3. Rehabilitasi pasca luka bakar.

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 47

DAFTAR PUSTAKA
1

Sjamsuhidajat, de Jong. Luka bakar. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed 3. Jakarta: penerbit Buku

Kedokteran EGC.2007. Hlm: 103-110.


Robert. H, Demling. MD. Current Surgical Diagnosis & Treatment. Doherty, Gerard M,

Way, Lawrence W (editor). 2006. Hlm: 248


Steven J. Schwults, J Perren Cobb. Wasington Manual Of Surgery, Ed 5. 2008. Hlm: 418-

425.
Perawatan

luka

bakar.Diunduh

dari

http://www.zimbio.com/member/bedahumum/articles/3869708/PERAWATAN+LUKA+B
5

AKAR
Luka bakar. Diunduh dari http://hidayat2.wordpress.com/2009/07/05/askep-luka-bakar/

KKS Ilmu BEDAH RSUD BANGKINANG Page 48