Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

EPIDEMIOLOGI TERKAIT PENYAKIT INFEKSI SALURAN


PERNAPASAN AKUT

OLEH :

NURHASANAH AZIS
ALI MUDZHAFAR
YUSNANDA NOVISTA
DEVICA SARAH PUTRI
NUR MUHAFIA
MALIKUL NUR RAZAK
RURYSTIA NINGSIH
IRMAWATI P
WULAN ANASTASYA

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS HALU OLEO
2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat danhidayah-Nya makalah ini
dapat terselesaikan dengan baik.Makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan oleh
dosen mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular sebagai syarat untuk memenuhi sebagian
nilai tugas.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan sehingga kami mengharapkan
partisipasi dari pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang membangun demi
memperbaiki kekurangan makalah ini. Untuk itu kami berharap semoga makalah yang disusun
ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Kendari, 23 Maret 2016

Penulis.

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam GBHN, dinyatakan bahwa pola dasar pembangunan Nasional pada hakekatnya adalah
Pembangunan Manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia. Jadi jelas
bahwa hubungan antara usaha peningkatan kesehatan masyarakat dengan pembangunan, karena
tanpa modal kesehatan niscaya akan gagal pula pembangunan kita.
Usaha peningkatan kesehatan masyarakat pada kenyataannya tidaklah mudah seperti
membalikkan telapak tangan saja, karena masalah ini sangatlah kompleks, dimana penyakit yang
terbanyak diderita oleh masyarakat terutama pada yang paling rawan yaitu ibu dan anak, ibu
hamil dan ibu menyusui serta anak bawah lima tahun .
Salah satu penyakit yang diderita oleh masyarakat terutama adalah ISPA (Infeksi Saluran
Pernapasan Akut) yaitu meliputi infeksi akut saluran pernapasan bagian atas dan infeksi akut
saluran pernapasan bagian bawah. ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak diderita oleh anakanak, baik dinegara berkembang maupun dinegara maju dan sudah mampu. dan banyak dari
mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran
pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada,masa
dewasa. dimana ditemukan adanya hubungan dengan terjadinya Chronic Obstructive
Pulmonary Disease .
Minimnya informasi mengenai epidemiologi penyakit ISPA menjadi tolak ukur dengan kejadian
penyakit ini Epidemiologi penyakit ISPA perlu untuk diketahui mengingat besarnya angka
prevalensi kejadian penyakit ISPA yang sedang terjadi di Negara kita saat ini.
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan
balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan
mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % -60 % dari kunjungan di Puskesmas adalah
oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % -30 %.
Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari
2 bulan .
Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian seringkali
disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat dan sering disertai
penyulit-penyulit dan kurang gizi (3). Data morbiditas penyakit pneumonia di Indonesia per
tahun berkisar antara 10 -20 % dari populasi balita. Hal ini didukung oleh data penelitian
dilapangan berdasarkan data dari puskesmas Kecamatan Abeli,Provinsi Sulawesi Tenggara pada

bulan Januari 2011 dan bulan Januari 2012, penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas yang
terjadi pada bayi di Kecamatan Abeli sebanyak 1.627 kasus.).
Bila kita mengambil angka morbiditas 10 % pertahun, ini berarti setiap tahun jumlah penderita
pneumonia di Indonesia berkisar 2,3 juta .Penderita yang dilaporkan baik dari rumah sakit
maupun dari Puskesmas pada tahun 1991 hanya berjumlah 98.271. Diperkirakan bahwa separuh
dari penderita pneumonia didapat pada kelompok umur 0-6 bulan .
Program pemberantasan ISPA secara khusus telah dimulai sejak tahun 1984, dengan tujuan
berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian khususnya pada bayi dan anak balita
yang disebabkan oleh ISPA, namun kelihatannya angka kesakitan dan kematian tersebut masih
tetap tinggi seperti yang telah dilaporkan berdasarkan penelitian yang telah disebutkan di atas.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian yang telah disampaikan di latar belakang, maka rumusan masalah yang dapat
di ambil yakni :
-

Apa definisi penyakit ISPA ?


Bagaimana epidemiologi penyakit ISPA?
Bagaimana distribusi penyakit ISPA ?
Bagaimana Infektivitas penyakit ISPA ?
Bagaimana Virulensi penyakit ISPA ?
Apa saja agen dari penyakit ISPA?
Bagaimana cara penularan penyakit ISPA?

1.3 Tujuan Penulisan


- Untuk mengetahui definisi penyakit ISPA
- Untuk mengetahui epidemiologi penyakit ISPA
- Untuk mengetahui distribusi penyakit ISPA
- Untuk mengetahui Infektivitas penyakit ISPA
- Untuk mengetahui Virulensi penyakit ISPA
- Untuk mengetahui agen dari penyakit ISPA
- Untuk mengetahui cara penularan penyakit ISPA
1.4 Manfaat Penulisan

Bagi Masyarakat

Dengan adanya dasar epidemiologi tersebut diharapkan masyarakat dapat memahami factor
factor yang menyebabkan terjadinya penyakit ISPA dan bagaimana cara pencegahannya

Bagi Pemerintah

Dapat mengeluarkan kebijakan kesehatan terkait dengan kejadian penyakit ISPA yang saat ini
terjadi di Indonesia

Bagi penulis

Menambah pengetahuan, pemahaman serta wawasan terkait dengan penyakit ISPA

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi penyakit ISPA

ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, istilah ini diadaptasi dari istilah
dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Penyakit infeksi akut yang menyerang
salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli
(saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena sistem pertahanan
tubuh anak masih rendah.
Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dimana
pengertiannya sebagai berikut :
1. Infeksi
Adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak
sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2. Saluran pernafasan
Adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus,
rongga telinga tengah dan pleura.
3. Infeksi Akut
Adalah Infeksi yang langsung sampai dengan 14 hari. batas 14 hari diambil untuk menunjukkan
proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini
dapat berlangsung lebih dari 14 hari.
ISPA merupakan infeksi akut yang menyerang salah satu bagian/lebih organ dari saluran
pernapasan mulai dari hidung sampai alveoli termasuk adneksanya (sinus, rongga telingan
tengah, plura). Bedanya dengan pneumonia adalah pneumonia merupakan infeksi akut yang
mengenai jaringan paru-paru (alveoli).
Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan yang terjadi hanya bersifat ringan seperti batuk,
pilek, kesukaran bernafas, sakit tenggorokan, sakit telinga dan demam dan tidak memerlukan
pengobatan dengan antibiotik. Namun demikian, petugas kesehatan perlu mengenal gejala yang
lebih serius dengan batuk atau sukar bernapas yang membutuhkan pengobatan antibiotik, yaitu
pneumonia (infeksi paru) yang ditandai dengan nafas cepat dan mungkin juga tarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam yang jika tidak di obati dengan antibiotik bisa menyebabkan
kematian.
Sedangkan influenza adalah infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan, disebabkan oleh
virus influenza dengan gejala demam 380C disertai salah satu atau lebih gejala batuk, nyeri
tenggorokan, nyeri otot, pilek dan kadang diare.
ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia sering terjadi pada anak kecil terutama apabila terdapat
gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene. Risiko terutama
terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban
immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak
tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik.

2.2 Epidemiologi Penyakit ISPA


Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak. Episode penyakit batuk pilek pada balita di
Indonesia diperkirakan terjadi 3-6 kali pertahun, artinya setiap balita rata-rata mendapatkan
serangan batuk dan pilek sebanyak 3-6 kali setahun. Di negara berkembang, penyakit pneumonia
merupakan 25% penyumbang kematian pada anak terutama pada bayi berusia kurang dari dua
bulan (Widoyono, 2008).

2.3 Distribusi penyakit ISPA


Distribusi ini terkait dengan adanya Manusia, Tempat, dan Waktu. Hal ini dapat di
jabarkan sebagai berikut :

Manusia

1. Faktor Umur
Berdasarkan hasil penelitian Daulay (1999) di Medan, anak berusia dibawah 2 tahun
mempunyai risiko mendapat ISPA 1,4 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang lebih tua.
Keadaan ini terjadi karena anak di bawah usia 2 tahun imunitasnya belum sempurna dan lumen
saluran nafasnya masih sempit.
2. Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penelitian Kartasasmita (1993), menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan prevalensi, insiden maupun lama ISPA pada laki-laki dibandingkan dengan
perempuan.
3. Status Gizi
Di banyak negara di dunia, penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama kematian
terutama pada anak dibawah usia 5 tahun. Akan tetapi anak-anak yang meninggal karena
penyakit infeksi itu biasanya didahului oleh keadaan gizi yang kurang memuaskan. Rendahnya
daya tahan tubuh akibat gizi buruk sangat memudahkan dan mempercepat berkembangnya bibit
penyakit dalam tubuh.
4. Berat Badan Lahir
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ditetapkan sebagai suatu berat lahir <2.500 gram.
Menurut Tuminah (1999), bayi dengan BBLR mempunyai angka kematian lebih tinggi dari pada

bayi dengan berat 2500 gram saat lahir selama tahun pertama kehidupannya. Pneumonia adalah
penyebab kematian terbesar akibat infeksi pada bayi baru lahir.
5.

Status ASI Eksklusif

Air Susu Ibu (ASI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang bayi kaya akan faktor
antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri dan virus, terutama selama minggu pertama (4-6
hari) payudara akan menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal mengandung zat kekebalan
(Imunoglobulin, Lisozim, Laktoperin, bifidus factor dan sel-sel leukosit) yang sangat penting
untuk melindungi bayi dari infeksi.

6. Status Imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk melindungi seseorang terhadap penyakit menular
tertentu agar kebal dan terhindar dari penyakit infeksi tertentu. Pentingnya imunisasi didasarkan
pada pemikiran bahwa pencegahan penyakit merupakan upaya terpenting dalam pemeliharaan
kesehatan anak.

1.

Tempat

Kelembaban Ruangan

Hasil penelitian Chahaya, dkk di Perumnas Mandala Medan (2004), dengan desain cross
sectionaldidapatkan bahwa kelembaban ruangan berpengaruh terhadap terjadinya ISPA pada
balita. Berdasarkan hasil ujiregresi, diperoleh bahwa faktor kelembaban ruangan mempunyai exp
(B) 28,097, yang artinya kelembaban ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi
faktor risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 28 kali
2. Suhu Ruangan
Salah satu syarat fisiologis rumah sehat adalah memiliki suhu optimum 18- 300C. Hal ini
berarti, jika suhu ruangan rumah dibawah 180C atau diatas 300C keadaan rumah tersebut tidak
memenuhi syarat. Suhu ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi faktor risiko
terjadinya ISPA pada balita sebesar 4 kali.
3.

Ventilasi

Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah menjaga agar aliran
udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh
penghuni rumah tersebut tetap terjaga.
4. Kepadatan Hunian Rumah

Menurut Gani dalam penelitiannya di Sumatera Selatan (2004) menemukan proses


kejadian pneumonia pada anak balita lebih besar pada anak yang tinggal di rumah yang padat
dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah yang tidak padat. Berdasarkan hasil penelitian
Chahaya tahun 2004, kepadatan hunian rumah dapat memberikan risiko terjadinya ISPA sebesar
9 kali.
5. Penggunaan Anti Nyamuk
Penggunaan Anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan nyamuk dapat
menyebabkan gangguan saluran pernafasan karena menghasilkan asap dan bau tidak sedap.
Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru
sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan.
6.

Bahan Bakar Untuk Memasak

Bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari dapat menyebabkan kualitas
udara menjadi rusak. Kualitas udara di 74% wilayah pedesaan di China tidak memenuhi standar
nasional pada tahun 2002, hal ini menimbulkan terjadinya peningkatan penyakit paru dan
penyakit paru ini telah menyebabkan 1,3 juta kematian.
7. Keberadaan Perokok
Rokok bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok pasif. Asap rokok terdiri
dari 4.000 bahan kimia, 200 diantaranya merupakan racun antara lain Carbon
Monoksida (CO), Polycyclic Aromatic Hydrocarbons(PAHs) dan lain-lain. Berdasarkan hasil
penelitian Pradono dan Kristanti (2003), secara keseluruhan prevalensi perokok pasif pada semua
umur di Indonesia adalah sebesar 48,9% atau 97.560.002 penduduk.
8. Status Ekonomi dan Pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian Djaja, dkk (2001), didapatkan bahwa bila rasio pengeluaran
makanan dibagi pengeluaran total perbulan bertambah besar, maka jumlah ibu yang membawa
anaknya berobat ke dukun ketika sakit lebih banyak. Bedasarkan hasil uji statistik didapatkan
bahwa ibu dengan status ekonomi tinggi 1,8 kali lebih banyak pergi berobat ke pelayanan
kesehatan dibandingkan dengan ibu yang status ekonominya rendah.

Waktu

Penyakit ini sering muncul pada musim pancaroba akibat sirkulasi virus di udara yang
meningkat. Selain itu, perubahan udara dari panas ke dingin seringkali memperlemah daya tahan
tubuh anak. Akibatnya, mereka pun menjadi lebih rentan terhadap penyakit ini.

2.4 Infektivitas Penyakit ISPA

Infektivitas adalah adalah kemampuan unsur penyebab atau agent untuk masuk dan
berkembang biak serta menghasilkan infeksi dalam tubuh pejamu (Mulyatati, 2013).
Infeksi terjadi secara progresif dan beratnya infeksi pada klien tergantung dari tingkat infeksi,
patogenesitas mikroorganisme dan kerentanan penjamu. Dengan proses perawatan yang tepat,
maka akan meminimalisir penyebaran dan meminimalkan penyakit.
Perkembangan infeksi mempengaruhi tingkat asuhan keperawatan yang diberikan.
Berbagai komponen dari sistem imun memberikan jaringan kompleks mekanisme yang sangat
baik, yang jika utuh, berfungsi mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme asing dan selsel ganas. Pada beberapa keadaan, komponen-komponen baik respon spesifik maupun
nonspesifik bisa gagal dan hal tersebut mengakibatkan kerusakan pertahanan hospes. Orangorang yang mendapat infeksi yang disebabkan oleh defisiensi dalam pertahanan dari segi
hospesnya disebut hospes yang melemah. Sedangkan orang-orang dengan kerusakan mayor yang
berhubungan dengan respon imun spesifik disebut hospes yang terimunosupres.
Efek dan gejala nyata yang berhubungan dengan kelainan pertahanan hospes bervariasi
berdasarkan pada sistem imun yang rusak. Ciri-ciri umum yang berkaitan dengan hospes yang
melemah adalah: infeksi berulang, infeksi kronik, ruam kulit, diare, kerusakan pertumbuhan dan
meningkatnya kerentanan terhadap kanker tertentu.
Secara umum proses infeksi adalah sebagai berikut:
- Periode inkubasi
Interval antara masuknya patogen ke dalam tubuh dan munculnya gejala pertama.
Contoh: flu 1-3 hari, campak 2-3 minggu, mumps/gondongan 18 hari
- Tahap prodromal
Interval dari awitan tanda dan gejala nonspesifik (malaise, demam ringan, keletihan) sampai
gejala yang spesifik. Selama masa ini, mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak dan klien
lebih mampu menyebarkan penyakit ke orang lain.
- Tahap sakit
Klien memanifestasikan tanda dan gejala yang spesifik terhadap jenis infeksi. Contoh: demam
dimanifestasikan dengan sakit tenggorokan, mumps dimanifestasikan dengan sakit telinga,
demam tinggi, pembengkakan kelenjar parotid dan saliva.
- pemulihan
Interval saat munculnya gejala akut infeksi.
2.5 Virulensi Penyakit ISPA
Virulensi adalah nilai proporsi penderita dengan gejala klinis yang berat terhadap seluruh
penderita dengan gejala klinis jelas (Mulyatati, 2013).

Penyakit ini bisa di kenali dengan tanda atau gejala yang ditimbulkan yaitu :
1. Suara nafas lemas bahkan hilang dan seperti ada cairan sehingga terdengar keras, ada gejala
sesak yang kebiruan, nafas cuping hidung atau nafas dimana hidungnya tidak lubang, tertariknya
kulit kedalam dinding dada atau bisa disebut retraksi dan sistem pernafasan yang tidak teratur
serta cepat.
2. Gagal jantung, hipotensi, hipertensi, denyut jantung kadang cepat kadang lemah yang terdapat di
sistem peredaran darah dan jantung.
3. Kejang dan koma, bingung, sakit kepala, mudang terangsang, sering gelisah yang menyerang di
sistem syaraf
4. Letih dan sering berkeringat banyak.
Untuk anak dengan umur 2 bulan hingga 5 tahun, yaitu kejang, intensitas kesadaran
menurun, stridor, gizi buruk dan tidak bisa minum. Sedangkan untuk anak dibawah 2 bulan yaitu
kemampuan minum yang menurun secara drastis yang biasanya kurang dari setengah volume
dari setiap kebiasaan, mendengkur, demam, dingin dan intensitas kesadaran menurun.
Perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu:
1. Tahap prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum menunjukkan reaksi apa-apa.
2. Tahap inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah
apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya memang sudah rendah.
3. Tahap dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit. Timbul gejala demam dan batuk.
4. Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat sembuh sempurna, sembuh dengan
ateletaksis, menjadi kronis dan dapat meninggal akibat pneumonia.
Secara umum terdapat gejala klinis yang sering didapat pada penderita ISPA, yakni
rinitis, nyeri tenggorokan, batuk dengan dahak kuning/ putih kental, nyeri retrosternal dan
konjungtivitis. Suhu badan meningkat antara 4-7 hari disertai malaise, mialgia, nyeri kepala,
anoreksia, mual, muntah dan insomnia.
Sebagian besar anak dengan infeksi saluran nafas bagian atas memberikan gejala yang
sangat penting yaitu batuk. Infeksi saluran nafas bagian bawah memberikan beberapa tanda
lainnya seperti nafas yang cepat dan retraksi dada. Semua ibu dapat mengenali batuk tetapi
mungkin tidak mengenal tanda-tanda lainnya dengan mudah (Harsono dkk., 1994). Selain batuk

gejala ISPA pada anak juga dapat dikenali yaitu flu, demam dan suhu tubuh anak meningkat
lebih dari 38,5 0 Celcius dan disertai sesak nafas (PD PERSI, 2002).
Menurut derajat keparahannya, ISPA dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu (Suyudi 2002):
1). ISPA ringan bukan pneumonia
2). ISPA sedang, pneumonia
3). ISPA berat, pneumonia berat
Khusus untuk bayi di bawah dua bulan, hanya dikenal ISPA berat dan ISPA ringan (tidak ada
ISPA sedang). Batasan ISPA berat untuk bayi kurang dari dua bulan adalah bila frekuensi
nafasnya cepat (60 kali per menit atau lebih) atau adanya tarikan dinding dada yang kuat. Pada
dasarnya ISPA ringan dapat berkembang menjadi ISPA sedang atau ISPA berat jika keadaan
memungkinkan misalnya pasien kurang mendapatkan perawatan atau daya tahan tubuh pasien
sangat kurang. Gejala ISPA ringan dapat dengan mudah diketahui orang awam sedangkan ISPA
sedang dan berat memerlukan beberapa pengamatan sederhana.
1) Gejala ISPA ringan
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan gejala sebagai berikut :
a). Batuk.
b). Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu
berbicara atau menangis).
c). Pilek yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung.
d). Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba dengan punggung
tangan terasa panas.
2) Gejala ISPA sedang
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika di jumpai gejala ISPA ringan dengan
disertai gejala sebagai berikut:
a). Pernapasan lebih dari 50 kali /menit pada anak umur kurang dari satu tahun atau lebih dari
40kali/menit pada anak satu tahun atau lebih.
b). Suhu lebih dari 390 C.
c). Tenggorokan berwarna merah.
d). Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak
e). Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
f). Pernafasan berbunyi seperti mendengkur.
g). Pernafasan berbunyi seperti mencuit-cuit.
Dari gejala ISPA sedang ini, orangtua perlu hati-hati karena jika anak menderita ISPA ringan,

sedangkan anak badan panas lebih dari 390C, gizinya kurang, umurnya empat bulan atau kurang
maka anak tersebut menderita ISPA sedang dan harus mendapat pertolongan petugas kesehatan.
3) Gejala ISPA berat
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika ada gejala ISPA ringan atau sedang disertai
satu atau lebih gejala sebagai berikut:
a) Bibir atau kulit membiru
b) Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernapas.
c) Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun.
d) Pernafasan berbunyi mengorok dan anak tampak gelisah.
e) Pernafasan menciut dan anak tampak gelisah.
f). Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas.
g). Nadi cepat lebih dari 60x/ menit atau tidak teraba
h). Tenggorokan berwarna merah.
2.6 Agen Penyakit ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompok penyakit yang kompleks dan
heterogen, yang disebabkan oleh berbagai etiologi. Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis bakteri,
virus, dan jamur. Bakteri penyebabnya antara lain :
-

Genus streptococcus,

Stafilococcus,

Pnemococcus,

Hemofilus,

Bordetella,

Korinebacterium.

Virus penyebabnya antara lain :


-

Golongan mikovirus,

Adenovirus,

Koronavirus,

Pikornavirus,

Mikoplasma,

Herpesvirus

Namun dari sekian banyak mikroorganisme yang bisa menyebabkan timbulnya infeksi
saluran pernafasan akut, ada beberapa mikroorganisme yang merupakan penyebab utama
kejadian ISPA diantaranya adalah :
-

B-hemolityc streptococcus,

Staphylococcus,

Haemophylus influenzae,

Clamydia trachomatis,

Mycoplasma dan

Pneumokokus

Mikroorganisme tersebut yang terdapat di udara bebas menempel dan dengan


kemampuannya menyerang, dan menginflamasi saluran pernafasan baik saluran pernafasan atas
seperti nasal, nasal cavity, faring dan laring, dan juga melibatkan saluran pernafasan bawah
seperti trakea, bronchi dan sebagainya yang kemudian melaui kemampuan menginfeksinya,
menimbulkan manifestasi klinik pada individu yang terserang.
Kelompok virus umumnya menyerang saluran pernafasan bagian atas dengan kata lain,
ISPA bagian atas umumnya disebabkan oleh virus, sedangkan ISPA bagian bawah dapat
disebabkan oleh bakteri, virus dan mycoplasma. ISPA bagian bawah yang disebabkan oleh
bakteri umumnya mempunyai manifestasi klinis yang berat sehingga menimbulkan beberapa
masalah dalam penanganannya.

Keterangan gambar :
A. Mycoplasma
B. Clamydia trachomatis
C. Haemophylus influenza
D. B-hemolityc streptococcus (dalam penampang mikroskopis)
E. Staphylococcus
Terkait dengan penyebab infeksi saluran pernafasan, ternyata penyakit ini merupakan
penyakit yang disebabkan oleh multifactor penyebab, artinya tidak hanya bakteri, virus dan
sejenisnya saja yang dapat menyebabkan munculnya infeksi ini, tetapi udara yang tercemar pun
dapat menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya penyakit ini. Sebut saja asap pembakaran
hutan yang selalu kontroversi akan dampaknya yang dapat meningkatkan proporsi penderita
ISPA, seperti yang terjadi di daerah Sumatera Selatan beberapa bulan belakangan.
Diketahui bahwasannya dalam kandungan udara yang kita hirup setiap harinya tidak
semata-mata hanya terdiri dari oksigen saja, tapi terdapat banyak partikel-partikel bebas yang
juga ikut masuk ke dalam rongga hidung ketika bernafas. Namun memang Tuhan menciptakan

manusia dengan segala kesempurnaannya, di dalam saluran pernapasan mulai dari hidung hingga
bronkus terdapat membran mukosa bersilia (silia=rambut-rambut halus) yang dapat menahan
partikel bebas tersebut masuk ke organ pernafasan vital sehingga partikel-partikel tadi tertahan
dan yang tersisa masuk ke dalam organ pernafasan selanjutnya adalah udara.
Namun, ketika udara yang kita hirup adalah udara yang tercemar, dimana kandungan
partikel bebas berada dalam jumlah yang lebih banyak dan dengan ukuran yang lebih besar
belum lagi kandungan bahan kimia berbahaya akibat polusi baik itu dari hasil pembakaran,
industry dsb inilah yang bisa menyebabkan infeksi saluran pernafasan tersebut muncul. Ketika
partikel bebas yang ikut masuk ke dalam nasal cavity dengan mudahnya difilter oleh membrane
mukosa yang bersilia jika dalam jumlah dan ukuran normal, akan menjadi masalah ketika
partikel bebas tersebut masuk dalam jumlah yang tidak normal dan ukuran yang tidak normal
pula karena memang silia yang bertugas memfilter memiliki ambang batas kemampuan. Ketika
dipaparkan dengan keadaan yang demikian secara terus menerus maka akan terjadi decrease
ability dan hal ini akan memperbesar peluang terjadinya infeksi pada saluran pernafasan karena
terdapat banyak partikel tak terfilter dapat menyebabkan luka atau infeksi pada saluran
pernafasan yang dilewatinya.
Masih berkaitan dengan udara tercemar, namun masalahnya kini adalah kandungan bahan
kimia tertentu yang dapat membahayakan saluran pernafasan, sebut saja senyawa nitrogen
oksida, sulfur oksida,karbon monoksida dsb. Secara umum, efek pencemaran udara terhadap
saluran pernafasan dapat menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan
dapat berhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh bahan
pencemar. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan penyempitan saluran
pernafasan dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan. Akibat dari hal tersebut
akan menyebabkan kesulitan bernafas sehingga benda asing tertarik dan bakteri lain tidak dapat
dikeluarkan dari saluran pernafasan, hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran
pernafasan. Dan tidak bisa dihindarkan jika memang senyawa kimia berbahaya yang dalam
konsentrasi melebihi ambang batas dapat mengiritasi saluran pernafasan.

2.7 Cara Penularan Penyakit ISPA


Cara penularan penyakit ISPA terdiri dari portal of entry/ Portal Masuk dan portal of exit/
portal keluar . Portal of entry yaitu jalan masuknya agen penyakit ke dalam host/ tubuh inang
kemudian portal of exit yaitu, jalan keluarnya agen penyakit setelah menempati host/ tubuh
inang.

Seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan terhadap agen infeksius. Kerentanan
bergantung pada derajat ketahanan tubuh individu terhadap patogen. Meskipun seseorang secara
konstan kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar, infeksi tidak akan terjadi
sampai individu rentan terhadap kekuatan dan jumlah mikroorganisme tersebut. Beberapa faktor
yang mempengaruhi kerentanan tubuh terhadap kuman yaitu usia, keturunan, stress (fisik dan
emosional), status nutrisi, terapi medis, pemberian obat dan penyakit penyerta.

Portal of Entry

Sebelum seseorang terinfeksi, mikroorganisme harus masuk dalam tubuh. Kulit merupakan
barier pelindung tubuh terhadap masuknya kuman infeksius. Rusaknya kulit atau ketidakutuhan
kulit dapat menjadi portal masuk. Mikroba dapat masuk ke dalam tubuh melalui rute atau jalan
yang sama dengan portal keluar. Faktor-faktor yang menurunkan daya tahan tubuh memperbesar
kesempatan patogen masuk ke dalam tubuh.
Cara Penularan
pencemaran udara diduga menjadi pencetus infeksi virus pada saluran napas bagian atas. ISPA
dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman
yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya.

Portal of Exit

Mikroorganisme yang hidup di dalam reservoir harus menemukan jalan keluar (portal of exit
untuk masuk ke dalam host dan menyebabkan infeksi. Sebelum menimbulkan infeksi,
mikroorganisme harus keluar terlebih dahulu dari reservoarnya. Jika reservoarnya manusia,
kuman dapat keluar melalui saluran pernapasan, pencernaan, perkemihan, genitalia, kulit dan
membrane mukosa yang rusak serta darah.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa penyakit ISPA merupakan penyakit tertinggi saat ini di Indonesia.
Penyakit ISPA merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyebabkan kematian yang
cukup tinggi pada bayi, balita serta anak anak. Tidak menutup kemungkinan juga orang dewasa
terkena penyakit menular ini.
3.2 Saran
Perlunya penelitian lebih mendalam terkait dengan peyakit ISPA serta upaya pencegahannya
serta pentingnya penyusunan kebijakan yang efektif terkait dengan pencegahan penyakit ISPA di
Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Julianto,Endry. 2012. Infeksi saluran pernapasan akut dan penangulanggannya


http://endryjuliyanto.blogspot.co.id/2012/02/infeksi-saluran-pernafasan-akutispa.html diakses pada tanggal 22 Maret 2016
Rahma.
2014.
NFEKSI
SALURAN
PERNAFASAN
AKUT
http://rahmakesling.blogspot.co.id/2014/03/infeksi-saluran-pernafasan-akutispa.html diakses pada tanggal 22 Maret 2016

(ISPA)

Hengko.
2013.
Berkenalan
dengan
http://hengkoo.blogspot.co.id/2011/03/berkenalan-dengan-ispa.html
tanggal 22 Maret 2016

ispa.
diakses pada

Cag, Sariana. 2014. ISPA. https://www.academia.edu/5113721/ISPA


tanggal 22 Maret 2016

diakses pada