Anda di halaman 1dari 27

1.

1 LATAR BELAKANG
Krisis moneter yang terjadi sejak tahun 1997 membawa dampak yang sangat besar bagi
kehidupan rakyat Indonesia, terutama bagi kalangan menengah kebawah. Akibat krisis
moneter, harga berbagai kebutuhan pokok terus melonjak. Hal tersebut menyebabkan jumlah
penduduk miskin di Indonesia meningkat tajam. Dampak beruntun dari krisis moneter,
meningkatnya harga kebutuhan pokok serta kemiskinan yang kian merajalela berimbas pada
perubahan pola konsumsi masyarakat (dalam hal ini mengarah pada penurunan). Sehingga
tidak berlebihan jika dikatakan ketahanan pangan masyarakat anjlok.
Ketahanan pangan merupakan persoalan hidup mati suatu bangsa. Seseorang atau
sekelompok masyarakat bila tidak makan dalam jangka waktu tertentu akan menemui ajal.
Bila makan, tetapi dengan asupan yang tidak memenuhi standar gizipun hanya menghasilkan
generasi yang lemah, kurang sehat, tidak cerdas dan malas.
Dewasa ini, harga sembako seperti beras, beras, kedelai dan minyak goreng semakin
hari semakin tidak terjangkau oleh daya beli rakyat Indonesia. Akibatnya, prahara
kekurangan pangan dan gizi buruk merebak di berbagai daerah. Berita tentang adanya
sejumlah rakyat yang kelaparan, makan nasi aking, lumpuh layu dan bunuh diri lantaran tidak
mampu memenuhi kebutuhan pokok menghiasi media massa hampir setiap hari. Penderita
gizi buruk semakin bertambah. Jika pada tahun 2005 anak balita yang menderita gizi buruk
sebanyak 1,8 juta jiwa, pada tahun 2007 menjadi 5 juta jiwa (prakarsa-rakyat.org).
Sumber lain memaparkan hal yang lebih memprihatinkan lagi, tercatat 2 sampai 4 dari
10 anak balita di 72 kabupaten terkena busung lapar, sekitar 11 juta dari 13 juta anak usia
sekolah di seluruh Indonesia kini mengalami anemia gizi (republika.co.id). Fenomena
tersebut sungguh ironi yang memilukan, karena terjadi di negara agraris dan maritim terbesar
di dunia, memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyaknya. Indonesia dikenal sebagai
negara agraris dan maritim terbesar, namun pada kenyataanya masih sangat banyak rakyatnya
yang kelaparan dan terkena gizi buruk.
Fenomena gizi buruk sebagian besar terjadi akibat kemiskinan, diperparah dengan
perilaku para komprador pemburu keuntungan yang selama ini kecanduan mangimpor secara
besar-besaran aneka bahan pangan, mulai dari beras, kedelai, gula, daging sampai buahbuahan. Impor bahan pangan yang berlebihan dapat menyengsarakan para petani,
meningkatkan pengangguran, menghamburkan devisa dan membunuh sektor pertanian yang
mestinya menjadi keunggulan kompetitif bangsa. Dewasa ini Indonesia mengimpor sekitar
2,5 juta ton beras/tahun (terbesar di dunia); 2 juta ton gula/tahun (terbesar ke dua); 1,2 juta
ton kedelai/tahun; 1,3 juta ton jagung/tahun; 5 juta ton gandum/tahun dan 550.000
ekor/tahun. Sungguh angka yang mencenganngkan bagi sebuah negara yang memiliki kondisi
agroekologis nusantara cocok untuk budi daya semua bahan pangan tersebut. Buktinya
Indonesia pernah mengukir prestasi menumental yang diakui dunia (FAO), yaitu swasembada

beras pada tahun 1984. indonesia juga pernah mencapai swasembada gula, jagung dan
kedelai (prakarsa-rakyat.org).
Tragedi kerawanan pangan dan gizi memang sungguh ironis terjadi di Negara sesubur
Indonesia. Padahal pemerintah terus berupaya meningkatkan dari APBN untuk bantuan bagi
rakyat miskin diantaranya melauli asuransi lesehatan rakyat miskin (Askeskin). Jika pada
tahun 2005 anggaran yang disiapkan untuk rakyat miskin (Askeskin) adalah sebesar 2,3
triliun, tahun 2006 sebesar 3,6 triliun, tahun 2007, 2,2 triliun dan untuk 2008 dianggarkan 4,6
triliun (lampungnews.com).
1.2 TUJUAN
Tujuan penulisan makala ini adalah untuk dapat mengetahui :
1. Kebijakan pemerintah dalam bidang pengan dan gizi
2. Gizi seimbang dan sistem ketahanan pangan
3. Penerapan sistem dalam bidang pangan dan gizi
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 KONSEP DASAR
SISTEM :

Rangkaian komponen/ unsure yg saling terkait menuju suatu tujuan yg sama.

Contoh : tubuh manusia mrpkan suatu system dgn komponen jaringan, organ, saraf,
pembuluh darah, dsb dgn tujuan menjaga keseimbangan fungsi tubuh.

SISTEM PANGAN & GIZI :


Mempunyai tujuan meningkatkan & mempertahankan status gizi masyarakat dlm

keadaan optimal.
Ada 4 komponen :

1.

penyediaan pangan

2.

distribusi pangan

3.

konsumsi makanan

4.

utilisasi makanan

Beberapa Pengertian/ Istilah Dalam Gizi


1.

Ilmu Gizi (Nutrience Science) adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang
makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal/ tubuh.

2.

Zat Gizi (Nutrients) adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan
fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan serta
mengatur proses-proses kehidupan.

3.

Gizi (Nutrition) adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang


dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan,
metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan, untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dri organ-organ, serta menghasilkan energi.

4.

Pangan adalah istilah umum untuk semua bahan yang dapat dijadikan makanan.

5.

Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan atau unsurunsur/ ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh, yang berguna bila
dimasukkan ke dalam tubuh.

6.

Bahan makanan adalah makanan dalam keadaan mentah.

7.

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan
zat-zat gizi.
Kata gizi berasal dari bahasa Arab ghidza, yg berarti makanan. Ilmu gizi bisa

berkaitan dengan makanan dan tubuh manusia.


Dalam bahasa Inggris, food menyatakan makanan, pangan dan bahan makanan.
Pengertian gizi terbagi secara klasik dan masa sekarang yaitu :
1.

Secara Klasik : gizi hanya dihubungkan dengan kesehatan tubuh (menyediakan


energi, membangun, memelihara jaringan tubuh, mengatur proses-proses kehidupan
dalam tubuh).

2.

Sekarang : selain untuk kesehatan, juga dikaitkan dengan potensi ekonomi seseorang
karena gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas
kerja.

Sejarah Perkembangan Ilmu Gizi


Berdiri tahun 1926, oleh Mary Swartz Rose saat dikukuhkan sebagai profesor ilmu
gizi di Universitas Columbia, New York, AS. Pada zaman purba, makanan penting untuk
kelangsungan hidup. Sedangkan pada zaman Yunani, tahun 400 SM ada teori Hipocrates
yang menyatakan bahwa makanan sebagai panas yang dibutuhkan manusia, artinya manusia
butuh makan.
Beberapa penelitian yang menegaskan bahwa ilmu gizi sudah ada sejak dulu, antara lain:
1.

Penelitian tentang Pernafasan dan Kalorimetri Pertama dipelajari oleh Antoine


Lavoisier (1743-1794). Mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan energi
makanan yang meliputi proses pernafasan, oksidasi dan kalorimetri. Kemudian
berkembang hingga awal abad 20, adanya penelitian tentang pertukaran energi dan sifatsifat bahan makanan pokok.

2.

Penemuan Mineral Sejak lama mineral telah diketahui dalam tulang dan gigi. Pada
tahun 1808 ditemukan kalsium. Tahun 1808, Boussingault menemukan zat besi sebagai
zat esensial. Ringer (1885) dan Locke (1990), menemukan cairan tubuh perlu

konsentrasi elektrolit tertentu. Awal abad 20, penelitian Loeb tentang pengaruh
konsentrasi garam natrium, kalium dan kalsium klorida terhadap jaringan hidup.
3.

Penemuan Vitamin Awal abad 20, vitamin sudah dikenal. Sejak tahun 1887-1905
muncul penelitian-penelitian dengan makanan yang dimurnikan dan makanan utuh.
Dengan hasil: ditemukan suatu zat aktif dalam makanan yang tidak tergolong zat gizi
utama dan berperan dalam pencegahan penyakit (Scurvy dan Rickets). Pada tahun 1912,
Funk mengusulkan memberi nama vitamine untuk zat tersebut. Tahun 1920, vitamin
diganti menjadi vitamine dan diakui sebagai zat esensial.

4.

Penelitian Tingkat Molekular dan Selular Penelitian ini dimulai tahun 1955, dan
diperoleh pengertian tentang struktur sel yang rumit serta peranan kompleks dan vital zat
gizi dalam pertumbuhan dan pemeliharaan sel-sel. Setelah tahun 1960, penelitian
bergeser dari zat-zat gizi esensial ke inter relationship antara zat-zat gizi, peranan
biologik spesifik, penetapan kebutuhan zat gizi manusia dan pengolahan makanan thdp
kandungan zat gizi.

5.

Keadaan Sekarang Muncul konsep-konsep baru antara lain: pengaruh keturunan


terhadap kebutuhan gizi; pengaruh gizi terhadap perkembangan otak dan perilaku,
kemampuan bekerja dan produktivitas serta daya tahan terhadap penyakit infeksi. Pada
bidang teknologi pangan ditemukan : cara mengolah makanan bergizi, fortifikasi bahan
pangan dengan zat-zat gizi esensial, pemanfaatan sifat struktural bahan pangan, dsb.
FAO dan WHO mengeluarkan Codex Alimentaris (peraturan food labeling dan batas
keracunan).

Ruang Lingkup Ilmu Gizi


Ruang lingkup cukup luas, dimulai dari cara produksi pangan, perubahan pascapanen
(penyediaan pangan, distribusi dan pengolahan pangan, konsumsi makanan serta cara
pemanfaatan makanan oleh tubuh yang sehat dan sakit).
Ilmu gizi berkaitan dengan ilmu agronomi, peternakan, ilmu pangan, mikrobiologi,
biokimia, faal, biologi molekular dan kedokteran.
Informasi gizi yang diberikan pada masyarakat, yang meliputi gizi individu, keluarga
dan masyarakat; gizi institusi dan gizi olahraga.
Perkembangan gizi klinis :

Anamnesis dan pengkajian status nutrisi pasien.

Pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan defisiensi zat besi.

Pemeriksaan antropometris dan tindak lanjut terahdap gangguannya.

Pemeriksaan radiologi dan tes laboratorium dengan status nutrisi pasien.

Suplementasi oral, enteral dan parenteral.

Interaksi timbal balik antara nutrien dan obat-obatan.

Bahan tambahan makanan (pewarna, penyedap dan sejenis serta bahan-bahan

kontaminan).
Pengelompokan Zat Gizi Menurut Kebutuhan
Terbagi dalam dua golongan besar yaitu makronutrien dan mikronutrien.
Makronutrien
Komponen terbesar dari susunan diet, berfungsi untuk menyuplai energi dan zat-zat esensial
(pertumbuhan sel/ jaringan), pemeliharaan aktivitas tubuh. Karbohodrat (hidrat arang),
lemak, protein, makromineral dan air.
Mikronutrien
Golongan mikronutrien terdiri dari :
1.

Karbohidrat Glukosa; serat.

2.

Lemak/ lipida Asam linoleat (omega-6); asam linolenat (omega-3).

3.

Protein Asam-asam amino; leusin; isoleusin; lisin; metionin; fenilalanin; treonin;


valin; histidin; nitrogen nonesensial.

4.

Mineral Kalsium; fosfor; natrium; kalium; sulfur; klor; magnesium; zat besi;
selenium; seng; mangan; tembaga; kobalt; iodium; krom fluor; timah; nikel; silikon,
arsen, boron; vanadium, molibden.

5.

Vitamin Vitamin A (retinol); vitamin D (kolekalsiferol); vitamin E (tokoferol);


vitamin K; tiamin; riboflavin; niaclin; biotin; folasin/folat; vitamin B6; vitamin B12;
asam pantotenat; vitamin C.

6.

Air

Fungsi Zat Gizi


1.

Memberi energi (zat pembakar) Karbohidrat, lemak dan protein, merupakan ikatan
organik yang mengandung karbon yang dapat dibakar dan dibutuhkan tubuh untuk
melakukan kegiatan/aktivitas.

2.

Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh (zat pembangun) Protein, mineral


dan air, diperlukan untuk membentuk sel-sel baru, memelihara, dan menganti sel yang
rusak.

3.

Mengatur proses tubuh (zat pengatur) Protein, mineral, air dan vitamin. Protein
bertujuan mengatur keseimbangan air di dalam sel,bertindak sebagai buffer dalam upaya
memelihara netralitas tubuh dan membentuk antibodi sebagai penangkal organisme yang
bersifat infektil dan bahan-bahan asing yang dapat masuk ke dalam tubuh. Mineral dan
vitamin sebagai pengatur dalam proses-proses oksidasi, fungsi normal sarafdan otot serta
banyak proses lain yang terjadi dalam tubuh, seperti dalam darah, cairan pencernaan,

jaringan, mengatur suhu tubuh, peredaran darah, pembuangan sisa-sisa/ ekskresi dan
lain-lain proses tubuh.
2.2 ELEMEN DAN SUB ELEMEN PANGAN
Sistem Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri atas subsistem ketersediaan, distribusi dan
konsumsi. Kinerja dari masing-masing subsistem tersebut tercermin dalam hal stabilitas pasokan
pangan, akses masyarakat terhadap pangan, serta pemanfaatan pangan (food utilization) termasuk
pengaturan menu dan distribusi pangan dalam keluarga.
Kinerja dari ketiga subsistem ketahanan pangan akan terlihat pada status gizi masyarakat,
yang dapat dideteksi antara lain dari status gizi anak balita (usia di bawah lima tahun). Apabila salah
satu atau lebih, dari ke tiga subsistem tersebut tidak berfungsi dengan baik, maka akan terjadi
masalah kerawanan pangan yang akan berdampak peningkatan kasus gizi kurang dan/atau gizi
buruk. Dalam kondisi demikian, negara atau daerah dapat dikatakan belum mampu mewujudkan
ketahanan pangan.
a.

Sub Sistem Ketersediaan


Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan
seluruh penduduk, dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Terdapat acuan
kuantitatif untuk ketersediaan, yaitu Angka Kecukupan Gizi (AKG) rekomendasi Widya Karya Pangan
dan Gizi VIII tahun 2004, dalam satuan rata-rata perkapita perhari untuk energi sebesar 2.200 Kilo
kalori dan protein 57 gram. Angka tersebut merupakan standar kebutuhan energi bagi setiap individu
agar mampu menjalankan aktivitas sehari-hari. Di samping itu juga terdapat acuan untuk menilai
tingkat keragaman ketersediaan pangan, yaitu Pola Pangan Harapan (PPH) dengan skor 100 sebagai
PPH yang ideal. Kinerja keragaman ketersediaan pangan pada suatu waktu dapat dinilai dengan
metoda PPH (suaramerdeka.com).
Ketersediaan pangan dapat dipenuhi dari tiga sumber yaitu: (1) produksi dalam negeri, (2)
impor pangan dan (3) pengelolaan cadangan pangan. Dengan jumlah penduduk cukup besar dan
kemampuan ekonomi relatif lemah, maka kemauan untuk menjadi bangsa yang mandiri di bidang
pangan harus terus diupayakan. Karena itu, bangsa Indonesia mempunyai komitmen tinggi untuk
memenuhi kebutuhan pangannya dari produksi dalam negeri. Impor pangan merupakan pilihan
akhir, apabila terjadi kelangkaan produksi pangan dalam negeri. Hal ini sangat penting untuk
menghindari ketergantungan pangan terhadap negara lain, yang dapat berdampak pada kerentanan
oleh campur tangan asing baik secara ekonomi maupun politik. Hal yang perlu disadari adalah,
bahwa kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dari produksi sendiri, khususnya bahan pangan
pokok, juga menyangkut harkat martabat dan kelanjutan eksistensi bangsa.
Impor pangan sebagai alternatif terakhir untuk mengisi kesenjangan antara produksi dan
kebutuhan pangan dalam negeri, diatur sedemikian rupa agar tidak merugikan kepentingan para

produsen pangan di dalam negeri, yang mayoritas petani skala kecil, juga kepentingan konsumen
khususnya kelompok miskin. Kedua kelompok produsen dan konsumen tersebut rentan terhadap
gejolak perubahan harga yang tinggi.
Cadangan pangan merupakan salah satu sumber pasokan untuk mengisi kesenjangan antara
produksi dan kebutuhan dalam negeri atau daerah. Stabilitas pasokan pangan dapat dijaga dengan
pengelolaan cadangan yang tepat. Cadangan pangan terdiri atas cadangan pangan pemerintah dan
cadangan pangan masyarakat. Cadangan pangan masyarakat meliputi rumah tangga, pedagang dan
industri pengolahan. Cadangan pangan pemerintah (pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota)
hanya mencakup pangan tertentu yang bersifat pokok.
Untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan produksi pangan domestik diperlukan
kebijakan yang kondusif, meliputi insentif untuk berproduksi secara efisien dengan pendapatan yang
memadai, serta kebijakan perlindungan dari persaingan usaha yang merugikan petani. Seperti
dibahas di muka, kebijakan perdagangan perlu diterapkan dengan tepat untuk melindungi
kepentingan produsen maupun konsumen.
b.

Subsistem Distribusi
Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien, sebagai
prasyarat untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan
kualitas yang cukup sepanjang waktu, dengan harga yang terjangkau. Bervariasinya kemampuan
produksi pangan antar wilayah dan antar musim menuntut kecermatan dalam mengelola sistem
distribusi, sehingga pangan tersedia sepanjang waktu di seluruh wilayah. Kinerja subsistem distribusi
dipengaruhi oleh kondisi prasarana dan sarana, kelembagaan dan peraturan perundangan.
Sebagai negara kepulauan, selain memerlukan prasarana dan sarana distribusi darat dan
antar pulau yang memadai untuk mendistribusikan pangan, juga input produksi pangan ke seluruh
pelosok wilayah yang membutuhkan. Untuk itu penyediaan prasarana dan sarana distribusi pangan
merupakan bagian dari fungsi fasilitasi pemerintah, yang pelaksanaannya harus mempertimbangkan
aspek efektivitas distribusi pangan sekaligus aspek efisiensi secara ekonomi. Biaya distribusi yang
paling efisien harus menjadi acuan utama, agar tidak membebani produsen maupun konsumen secara
berlebihan.
Lembaga pemasaran berperan menjaga kestabilan distribusi dan harga pangan. Lembaga ini
menggerakkan aliran produk pangan dari sentra-sentra produksi ke sentra-sentra konsumsi, sehingga
tercapai keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan. Apabila lembaga pemasaran bekerja dengan
baik, maka tidak akan terjadi fluktuasi harga terlalu besar pada musim panen maupun paceklik, pada
saat banjir maupun sungai (sebagai jalur distribusi) mengering, ketika ombak normal maupun ombak
ganas, saat normal maupun saat bencana.
Peraturan-peraturan pemerintah daerah, seperti biaya retribusi dan pungutan lainnya dapat
mengakibatkan biaya tinggi yang mengurangi efisiensi kinerja subsistem distribusi. Di samping itu,
keamanan di sepanjang jalur distribusi, di lokasi pemasaran maupun pada proses transaksi sangat

mempengaruhi besarnya biaya distribusi. Untuk itu, iklim perdagangan yang adil, khususnya dalam
penentuan harga dan cara pembayaran perlu diwujudkan, sehingga tidak terjadi eksploitasi oleh salah
satu pihak terhadap pihak lain (pihak yang kuat terhadap yang lemah). Dalam hal ini, penjagaan
keamanan, pengaturan perdagangan yang kondusif dan penegakan hukum menjadi kunci
keberhasilan kinerja subsistem distribusi.
Stabilitas pasokan dan harga merupakan indikator penting yang menunjukkan kinerja
subsistem distribusi. Harga yang terlalu berfluktuasi dapat merugikan petani produsen, pengolah,
pedagang hingga konsumen, sehingga berpotensi menimbulkan keresahan sosial. Oleh sebab itu
hampir semua negara melakukan intervensi kebijakan untuk menjaga stabilitas harga pangan pokok
yang mempengaruhi kehidupan sebagian besar masyarakat. Dalam kaitan ini Pemerintah telah
menerapkan kebijakan stabilitasi harga pangan, melalui pembelian maupun penyaluran bahan
pangan (beras) oleh Perum Bulog.
Sistem perdagangan pangan global yang semakin terbuka dapat menjadi kendala dalam
upaya stabilitasi harga pangan. Kebijakan-kebijakan subsidi domestik, subsidi ekspor dan kredit
ekspor yang diterapkan oleh negara-negara eksportir telah menyebabkan harga pangan global
terdistorsi dan tidak merefleksikan biaya produksi yang sebenarnya. Untuk melindungi produsen
dalam negeri dari persaingan yang tidak adil, diperlukan kebijakan proteksi secara selektif dengan
perhitungan yang cermat.
c.

Subsistem Konsumsi
Subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional
memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, keamanan dan kehalalan, Di samping juga
efisiensi untuk mencegah pemborosan.
Subsistem konsumsi juga mengarahkan agar pemanfaatan pangan dalam tubuh (food utility)
dapat optimal, dengan peningkatan kesadaran atas pentingnya pola konsumsi beragam dengan gizi
seimbang mencakup energi, protein, vitamin dan mineral, pemeliharaan sanitasi dan higiene serta
pencegahan penyakit infeksi dalam lingkungan rumah tangga. Hal ini dilakukan melalui pendidikan
dan penyadaran masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemauan
menerapkan kaidah kaidah tersebut dalam pengelolaan konsumsi.
Kinerja subsistem konsumsi tercermin dalam pola konsumsi masyarakat di tingkat rumah
tangga. Pola konsumsi dalam rumah tangga dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain kondisi
ekonomi, sosial dan budaya setempat. Untuk itu, penanaman kesadaran pola konsumsi yang sehat
perlu dilakukan sejak dini melalui pendidikan formal dan non-formal. Dengan kesadaran gizi yang
baik, masyarakat dapat menentukan pilihan pangan sesuai kemampuannya dengan tetap
memperhatikan kuantitas, kualitas, keragaman dan keseimbangan gizi. Dengan kesadaran gizi yang
baik, masyarakat dapat meninggalkan kebiasaan serta budaya konsumsi yang kurang sesuai dengan
kaidah gizi dan kesehatan. Kesadaran yang baik ini lebih menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi
masing-masing anggota keluarga sesuai dengan tingkatan usia dan aktivitasnya.

Acuan kuantitatif untuk konsumsi pangan adalah Angka Kecukupan Gizi (AKG) rekomendasi
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) ke-VIII tahun 2004, dalam satuan rata-rata per
kapita perhari, untuk energi 2.000 Kilo kalori dan protein 52 gram. Acuan untuk menilai tingkat
keragaman konsusi pangan adalah Pola Pangan Harapan (PPH) dengan skor 100 sebagai pola yang
ideal. Kinerja keragaman konsumsi pangan pada suatu waktu untuk komunitas tertentu dapat dinilai
dengan metoda PPH (suaramerdeka.com).
Dalam kondisi kegagalan berfungsinya salah satu subsistem di atas, maka pemerintah perlu
melakukan tindakan intervensi. Berbagai macam intervensi yang dapat dilakukan adalah: (a) pada
subsistem ketersediaan berupa bantuan/subsidi saprodi, kebijakan harga pangan, kebijakan
impor/ekspor, kebijakan cadangan pangan pemerintah; (b) pada subsistem distribusi berupa
penyaluran pangan bersubsidi, penyaluran pangan untuk keadaan darurat dan operasi pasar untuk
pengendalian harga pangan; dan (c) pada subsistem konsumsi dapat dilakukan pemberian makanan
tambahan untuk kelompok rawan pangan/gizi buruk, pemberian bantuan tunai untuk meningkatkan
kemampuan mengakses pangan.

2.3 ELEMEN DAN SUB ELEMEN GIZI


Kriteria Gizi Seimbang
a.

Makanan beraneka ragam dapat memberikan manfaat yang besar terhadap kesehatan. Sebab
zat gizi tertentu yang tidak terkandung dalam satu jenis bahan makanan akan dapat
dilengkapi oleh gizi serupa dari bahan makanan yang lain. Demikian juga bahan makanan
dalam susunan aneka ragam menu seimbang akan saling melengkapi.

b. Bahan makanan sumber zat tenaga adalah beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar,
kentang, sagu, roti, dan mi yang mengandung karbohidrat, serta minyak, margarine, dan
santan yang mengandung lemak.
c.

Bahan makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah
kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan dari hewani adalah telur, ikan, ayam, daging, susu
serta hasil olahan seperti keju.

d. Zat pembangun berperanan sangat penting untuk perkembangan kualitas tingkat kecerdasan
seseorang.
e.

Bahan makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Bahan
makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan
bekerjanya fungsi-fungsi organ tubuh.

f.

Setiap orang dianjurkan makan cukup hidangan mengandung zat tenaga atau energi, agar
dapat hidup dan melaksanakan kegiatan sehari-hari, seperti bekerja, belajar, berolah raga,
berekreasi, kegiatan sosial, dan kegiatan yang lain. Kebutuhan energi dapat dipenuhi dengan
mengkonsumsi bahan makanan sumber karbohidrat, protein, lemak. Kecukupan energi
seseorang ditandai dengan berat badannya yang normal. Untuk mengetahui berat badan

normal, seseorang dapat menggunakan digunakan indeks massa tubuh (IMT). Kekurangan
energi yang berlangsung lama akan mengakibatkan menurunnya berat badan.
g. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi, terdapat dua
kelompok karbohidrat yaitu:
Karbohidrat kompleks: Bahan makanan sumber karbohidrat kompleks adalah padi-

1.

padian (beras, jagung, gandum), umbi-umbian (singkong, ubi jalar, kentang) dan bahan
makanan lain yang mengandung banyak karbohidrat (sagu, pisang).
Karbohidrat sederhana: Golongan karbohidrat sederhana yang tidak mengandung zat

2.

gizi lain, yang sifatnya hanya mengenyangkan dan cenderung dikonsumsi berlebihan.
Konsumsi gula dapat menyebabkan kegemukan, karies gigi atau keropos. Oleh karena
itu konsumsi gula sebaiknya dibatasi sampai 5% dari jumlah kecukupan energi.
Seyogyanya sekitar 50-60% kebutuhan energi diperlukan oleh karbohidrat kompleks,
atau setara dengan 3-4 piring nasi.
h. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi Lemak dan
minyak yang terdapat di dalam makanan berguna untuk meningkatkan jumlah energi,
membantu penyerapan vitamin-vitamin A, D, E, dan K, serta menambah lezatnya hidangan.
Konsumsi lemak dan minyak paling sedikit 10% dari kebutuhan energi. Seyogyanya
menggunakan lemak dan minyak nabati, misalnya minyak kelapa, minyak jagung, minyak
kacang atau nabati yang lain.
i.

Gunakan garam beryodium Garam beryodium yang dikonsumsi setiap hari bermanfaat untuk
mencegah timbulnya Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). GAKY dapat
menghambat perkembangan tingkat kecerdasan pada balita, penyakit gondok, endemik dan
kretin.

j.

Makanlah makan sumber zat besi Kekurangan zat besi dalam makanan sehari-hari secara
berkelanjutan dapat menimbulkan penyakit anemia gizi.

k. Berikan ASI saja kepada bayi sampai berumur 6 bulan Air Susu Ibu (ASI) mampu memenuhi
kebutuhan gizi bayi untuk tumbuh kembang dan menjadi sehat sampai ia berumur 6 bulan.
Setelah bayi berumur 6 bulan ASI saja tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi,
oleh karena itu setelah 6 bulan bayi mendapatkan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) diberikan kepada bayi secara bertahap sesuai dengan pertambahan umur, pertumbuhan
berat badan dan perkembangan kecerdasannya.
l.

Biasakan makan pagi Makanan pagi atau sarapan sangat bermanfaat bagi setiap orang. Bagi
orang dewasa makan pagi dapat memelihara ketahanan fisik, mempertahankan daya tahan
saat bekerja dan meningkatkan produktivitas kerjanya. Bagi anak sekolah makan pagi dapat
memudahkan konsentrasi belajar, menyerap pelajaran, sehingga prestasi belajarnya pun
menjadi lebih baik. Kebiasaan makan pagi membantu seseorang untuk mencukupi kebutuhan
gizinya sehari-hari. Jenis hidangan untuk makan pagi dapat dipilih dan disusun sesuai dengan

keadaan, dan akan lebih baik bila terdiri dari makanan sumber zat tenaga sumber zat
pembangun dan zat pengatur.
m. Minumlah air bersih, aman dan cukup jumlahnya Air minum harus bersih and bebas kuman.
Oleh karena itu, air minum harus terlebih dahulu dididihkan. Sedangkan air minum dalam
kemasan yang banyak beredar di pasaran, juga harus terlebih dulu diproses oleh pabrik sesuai
dengan ketentuan pemerintah dan memenuhi syaratsyarat kesehatan. Cairan yang dikonsumsi
seseorang terutama air minum, sekurangkurangnya dua liter atau setara dengan delapan gelas
setiap harinya, agar proses faali dalam tubuh berlangsung dengan lancar dan seimbang.
Dengan mengkonsumsi cukup cairan, seseorang dapat terhindar dari menderita dehidrasi atau
kekurangan cairan tubuh, serta dapat menurunkan risiko menderita penyakit batu ginjal.
n. Lakukan kegiatan fisik dan olah raga secara teratur Kegiatan fisik dan olah secara teratur dan
cukup takarannya, dapat membantu mempertahankan derajat kesehatan yang optimal bagi
yang bersangkutan.
o. Hindari minuman beralkohol. Minum-minuman beralkohol dapat menyebabkan ketagihan,
mabuk dan tidak mampu mengendalikan diri. Kehilangan kendali diri sering menjadi
pencetus tindak kriminal. Selain itu minum-minuman beralkohol secara berlebihan dapat
menyebabkan penyakit gawat, misalnya penyakit hati.
p. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan. Makanan yang aman adalah makanan yang
tidak tercemar, tidak mengandung mikroorganisme atau bakteri, tidak mengandung bahan
kimia yang berbahaya, telah diolah dengan cara yang benar sehingga fisik dan zat gizinya
tidak rusak, serta tidak bertentangan dengan keyakinan masyarakat. Makan makanan tidak
aman dapat menyebabkan gangguan kesehatan, antara lain menderita keracunan makanan
yang dapat menyebabkan kematian.
q. Bacalah label pada makanan yang dikemas. Peraturan perundangan-undangan, bahwa setiap
produk makanan yang dikemas harus mencantumkan keterangan pada labelnya mengenai
bahan-bahan yang digunakan, susunan (komposisi) zat gizinya, tanggal kadaluwarsa, dan
keterangan penting lainnya. Semua keterangan yang rinci pada label makanan kemas sangat
membantu konsumen pada saat memilih dan menggunkannya. Keterangan mengenai susunan
zat gizi pada label diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gizi sesuai dengan keadaan
kesehatan konsumen. Keterangan mengenai kadaluwarsa pada label menunjukkan kelayakan
makanan tersebut untuk bisa dimakan atau tidak. Sedangkan keterangan mengenai bahanbahan, yang terkandung dalam makanan kemas tersebut memberikan informasi kepada
konsumen untuk menilai halal atau tidaknya bahan makanan tersebut.
2.4 PENERAPAN SUB ELEMEN DALAM MEMBENTUK SISTEM PANGAN
Berbagai kebijakan pertanian dan pangan selama ini tengah dikembangkan dan
diimplementasikan melalui aneka program. Meski demikian berita tentang rawan pangan

pada suatu komunitas tidak juga hilang begitu saja. Sedemikian banyaknya proyek-proyek
tentang ketahanan pangan, namun masih saja tidak mampu menjangkau semua kelompok
masyarakat. Hal ini bisa disebabkan oleh tingginya tingkat kerentanan masyarakat di suatu
wilayah, seperti di pulau-pulau kecil atau dampak dari bencana alam.
Fenomena rawan pangan yang terus terjadi ditengah maraknya aneka program
pemerintah, mestinya menjadi salah satu momentum untuk mawas diri. Menjamin ketahanan
pangan masyarakat yang tersebar di Nusantara dengan aneka kondisinya, tidak bisa dilakukan
melalui sebuah paket program yang masif. Kebijakan terkait ketahanan pangan, meskipun
terbuka untuk dimodifikasi dengan mengakomodasi keragaman, namun perangkat
pelaksanaannya masih serupa.
Sebagai misal, Kredit Ketahanan Pangan hingga Desa Mandiri Pangan atau Lembaga
Distribusi Pangan Masyarakat, dikembangkan atas semangat mengakomodasi keragaman dan
memberikan peluang partisipasi. Sayangnya, perangkat implementasinya justru membuat
pelaksana di tingkat operasional menjadi mekanistis. Persyaratan administratif gabungan
kelompok (gapoktan) atau ketersediaan lahan untuk membangun lumbung LDPM, justru
membuat peluang untuk mengakomodasi keragaman menjadi hilang.
Kondisi-kondisi tersebut kian menambah keyakinan KRKP bahwa untuk mewujudkan
kedaulatan bangsa atas pangan ataupun ketahanan pangan di tingkat nasional, mestinya
dilakukan dengan membangun sistem pangan komunitas. Bangsa Indonesia dibangun oleh
kesatuan keragaman atas suku suku bangsa yang berjumlah ribuan. Keragaman kondisi sosial
maupun ekologi ibarat mozaik yang menyusun sebuah gambar besar. Demikian pula sistem
pangan komunitas adalah mozaik-mozaik kecil yang cukup banyak dan tersebar, sehingga
terwujud sebuah gambaran ideal dari ketahanan pangan tersebut.
Sistem Pangan Komunitas adalah pilihan rasional untuk mewujudkan kedaulatan
pangan baik ditingkat kabupaten maupun wilayah yang lebih luas. Sistem Pangan ini tidak
saja mendorong produksi pangan, akan tetapi juga mempertimbangkan aspek distribusi dan
konsumsi, bahkan lebih lengkap lagi karena memasukkan unsuk cadangan pangan. Subsistem
cadangan pangan ini merupakan hal yang seringkali dilupakan, sehingga masyarakat menjadi
rentan terhadap goncangan (shock).
Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka sistem pangan komunitas tidak
hanya menjadi milik wilayah yang secara ekologi tersedia lahan untuk budidaya tanaman
pangan. Sistem pangan komunitas mestinya merasuk hingga ke wilayah-wilayah dimana
masyarakat tidak mampu memproduksi pangan sendiri. Dengan demikian diperlukan sebuah
kelembagaan pangan yang tidak hanya mengurus soal-soal sarana produksi tetapi juga
memperhitungkan berapa jumlah pangan yang harus disediakan oleh masyarakat dan
darimana didapatkan, jika tidak mampu memproduksi sendiri.
Terdapat lima konsep dasar dari Sistem Pangan Komunitas:

a.

Memenuhi kebutuhan pangan dari masyarakat berpengahsilan rendah melalui pelatihan,


pengembangan kemampuan bisnis, penghijauan di perkotaan, pelestarian lahan pertanian, dan
revitalisasi komuniti

b.

Fokus pada menghidupkan sumber daya pangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhann
sendiri

c.

Mengembangkan kemampuan dan kemandirian melalui peningkatan kemampuan anggota


masyarakat dalam penyediaan kebutuhan pangan mereka

d.

Melindungi pertanian lokal dengan membangun hubungan yang lebih baik antara petani dan
konsumen

e.

Meletakkan pendekatan sistem pangan dalam kerangka hubungan multi pihak, kelompok dan
rumah tangga dan keterpautan seluruh aspek dari sistem pangan.
Sistem pangan lokal mempertimbangkan beberapa prinsip dan pendekatan seperti:

a.

Berpusat pada masyarakat: SPK seyogyanya focus dalam memenuhi kebutuhan semua
masyarakat baik menyangkut budaya, fisik, social, ekonomi dan lingkungan

b. Keterkaitan: SPK mestinya didasarkan pada hubungan pihak-pihak yang memproduksi


pangan, prosesing dan konsumen
c.

Kewilayahan: Unit SPK merupakan satu unit komunitas yang menempati wilayah tertentu.
Pangan adalah yang diproduksi pada lahan dihadapan kita atau dimana lahannya bias kita
kunjungi. Dengan kata lain : pangan di tanam, dipanen, diproses, dijual dan dikonsumsi
sebisa mungkin dekat mungkin dengan rumah.

d. Partisipatif: sistem pangan komunitas melibatkan anggota masyarakat mulai dari yang
termiskin hingga paling kaya, mulai dari termuda hingga tertua dalam memutuskan apa yang
akan dikonsumsi dan yang harus ditanam. Dimana, bagaimana dan oleh siapa pangan ditanam
dan bagaimana didistribusikan.
e.

Sehat: SPK menjamin bahwa produksi dan konsumsi pangan sehat bagi masyarakat, lahan
dan ekosistem.

f.

Solidaritas: produksi dan konsumsi pangan terkait dengan semua masyarakat, semua
anggota komunitas mempunyai akses terhadap pangan ketika membutuhkan.

g. Lokal ekonomi: SPK adalah bagian dari ekonomi masyarakat. produksi, proses dan
konsumsi pangan memberikan keuntungan bagi semua anggota masyaarakat.

Sumber : Isw, 2010


Skema 1: Mendorong Sistem Pangan Nasional dari Sistem pangan komunitas

Untuk menggerakkan kelembagaan pangan, diperlukan kepedulian yang dalam tentang hak
atas pangan bagi seluruh lapisan masyarakatnya. Kelembagaan pangan dapat berkelanjutan
melebihi umur proyek yang selama ini dikembangkan oleh pemerintah. Artinya, kelembagaan
pangan dibentuk atas kesadaran masyarakat untuk menjamin ketersediaan pangan dalam
kualias dan kuantitas
yang memadai, sehingga selama masyarakat perlu pangan, kelembagaan pangan akan tetap
hidup.
Mendorong keberlanjutan kelembagaan pangan, dapat dimulai dari berbagai sisi atau
berbagai aktor. Tahapan yang lebih penting adalah pasca inisiasi program, siapa dan darimana
aktor-aktor penggerak sistem pangan, sehingga mampu menjaga dinamika dan irama sistem
pangan komunitas tetap hidup. Kelembagaan pangan sebisa mungkin berasal dari dalam
masyarakat sendiri, dan digerakkan oleh aktor atau kader-kader penggerak dari kalangan
masyarakat sendiri.

2.5 PENERAPAN SUB ELEMEN DALAM MEMBENTUK SISTEM GIZI


Banyak hal yang menjadi pertimbangan bagi konsumen untuk memilih, membeli, dan
mengonsumsi makanan, baik untuk dirinya sendiri, anggota keluarganya, maupun orang lain
yang menjadi tanggung jawabnya. Cita rasa jelas menjadi faktor utama, selanjutnya

pertimbangan harga, kepraktisan penyajian, kemudahan mendapatkan, dan manfaat bagi


kesehatan bisa berubah urutannya tergantung kondisi konsumen.
Masyarakat dewasa ini semakin meyakini bahwa melalui konsumsi makanan mereka bisa
memelihara kesehatan dan menghindarkan diri dari risiko menderita sakit. Mereka yang
berusaha mengendalikan kadar kolesterol darah berusaha menghindari lemak hewani. Yang
ingin menjaga struktur tulang yang kokoh akan mengutamakan, misalnya, mengonsumsi susu
sebagai sumber kalsium. Yang ingin mencegah risiko kanker usus besar (kolon) akan
mengonsumsi makanan berserat. Yang ingin mengendalikan berat badan akan memperhatikan
nilai kalori makanannya.
Pemahaman masyarakat tersebut muncul karena advokasi atau rekomendasi dari para
ahli berbagai asosiasi profesi yang berkaitan dengan makanan dan kesehatan hampir di
seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Rekomendasi tersebut disebarluaskan sebagai upaya
untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui konsumsi makanan. Namun, masyarakat
juga sering bingung ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa jenis makanan yang sama
dikonsumsi oleh individu yang berbeda menimbulkan efek yang berbeda pula.
Hal yang kurang disadari adalah walaupun secara genetik memiliki kesamaan hingga
99,9 persen, semua manusia masih menyisakan 0,1 persen perbedaan yang justru menjadi
pembeda antarindividu. Dengan kata lain, bisa dipahami bahwa tidak ada dua individu yang
semuanya sama persis sekalipun mereka saudara kembar. Dalam perjalanan usia tidak ada
dua individu yang memiliki "sejarah" makan dan kegiatan yang sama persis. Demikian pula
kondisi psikologis dan fisiologis tubuh manusia tidaklah stabil selama 24 jam.
Hal-hal inilah yang ditengarai sebagai penyebab kenapa penelitian menggunakan hewan
coba ataupun manusia hasil- hasilnya sering saling kontradiksi. Lebih parah lagi kalau
perbedaan hasil penelitian ini diatasi dengan saling menyalahkan antarpeneliti.
Hubungan antara konsumsi makanan dan beragamnnya respons pada berbagai individu
dengan latar belakang genetik yang berbeda sudah lama diketahui, misalnya pada kasus
galaktosemia dan phenylketonuria (PKU). Galaktosemia, pertama kali ditemukan tahun 1917
oleh F Goppart, adalah varian genetik di mana individu sejak lahir tidak memiliki
kemampuan memetabolisme galaktosa (tidak memiliki aktivitas enzim galaktosa-1-phosphat
uridyltranferase).
Sebagai akibatnya pada individu ini jika mengonsumi makanan yang mengandung
galaktosa akan terjadi akumulasi galaktosa dalam darahnya yang berimplikasi munculya
berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan pertumbuhan mental. PKU, ditemukan
tahun 1934 oleh Asbjorn Folling, adalah varian genetik pada individu yang menyebabkan
tidak adanya aktivitas enzim phenilalanin hidroksilase.
Sebagai akibatnya pada individu ini jika mengonsumsi makanan yang mengandung
phenilalanin akan terjadi akumulasi phenilalanin dalam darahnya yang bisa berakibat

terjadinya kerusakan neurologis. Namun, adanya kedua varian tersebut sudah bisa diketahui
sejak dini setelah lahir dan ditangani dengan mengelola makanannya agar rendah galaktosa
atau rendah phenilalanin.
Dengan semakin majunya perkembangan ilmu gizi, biologi molekuler, genetika
molekuler, patologi, toksikologi, fisiologi, dan bioinformatika telah membawa kemajuan
pengetahuan manusia menuju dunia ilmu yang baru yang disebut Nutrigenomik.
Nutrigenomik mempelajari interaksi antara komponen bioaktif dari makanan dan
pengaruhnya pada pola- pola ekspresi gen.
Dalam hal ini termasuk juga interaksi antara komponen bioaktif dari makanan dengan
sitesis protein, degradasi protein, dan modifikasi protein yang
keseluruhannya bermuara pada metabolisme sel. Munculnya ilmu baru ini dilandasi oleh
beberapa fakta yang telah diketahui hingga saat terakhir ini.
Pertama, zat-zat kimia pada makanan berpengaruh pada gen-gen manusia, baik secara
langsung maupun tidak langsung, yang bisa mengganggu ekspresi gen.
Kedua, dalam kondisi tertentu atau pada individu tertentu, zat-zat bioaktif makanan bisa
menjadi pemicu yang menyebabkan sakit. Ketiga, sejauh mana zat makanan berpengaruh
menyehatkan atau menyebabkan sakit bagi individu tergantung pada kondisi genetik masingmasing. Keempat, konsumsi makanan tertentu yang didasarkan pada pengetahuan kebutuhan
gizi, status gizi, dan genotipe individu bisa diarahkan untuk mencegah, mengendalikan, atau
bahkan menyembuhkan penyakit kronis.
Di atas sudah dijelaskan bahwa masing-masing kita sebagai individu memiliki perbedaan
genetik dan pola tanggap terhadap zat-zat makanan. Sekarang dari sisi makanan itu sendiri
ternyata juga sangat kompleks dan beragam kandungan zat-zat bioaktifnya. Pada berbagai
penelitian secara klinis yang ditujukan untuk mengetahui pengaruh keberadaan zat makanan
tertentu (misalnya: lemak rendah vs tinggi, atau lemak jenuh vs tidak jenuh) sering
menghasilkan efek yang berbeda-beda. Hal ini juga bisa disebabkan oleh komposisi makanan
yang terdiri dari berbagai komponen minor (kadarnya rendah) yang macamnya sangat
banyak.
Untuk mempengaruhi terjadinya perubahan pada tahap ekspresi gen ataupun status
metabolisme sel, mungkin komponen minor inilah yang secara efektif berperan. Misalnya
untuk menu yang disiapkan atau diolah dengan menambahkan minyak jagung, maka bukan
hanya asam lemak tidak jenuh (85 persen) yang ada pada minyak jagung tersebut, namun
terdapat juga asam lemak jenuh (13 persen).
Bukan hanya itu, di dalam minyak jagung tersebut juga masih ditemukan berpuluh-puluh
macam senyawa lain, misalnya kelompok sterol, sterol asam lemak, tokoferol. Pada tokoferol
sendiri bisa terdiri dari alfa, beta, gama, dan delta tokoferol. Demikian pula pada minyak

nabati yang lain yang telah dimurnikan sekalipun masih mengandung senyawa- senyawa
tersebut dalam jumlah yang sangat kecil (ppm).
Hasil penelitian dari banyak studi ada yang secara konsisten menunjukkan hubungan
antara konsumsi makanan tertentu dengan munculnya penyakit kronis dan tingkat
keparahannya. Meskipun demikian, secara jelas mekanisme hubungan keduanya belum bisa
disimpulkan secara meyakinkan sebagai sebab-akibat. Hal tersebut antara lain disebabkan
oleh adanya zat-zat bioaktif lain yang macamnya dan kadarnya tidak bisa dijaga agar 100
persen selalu sama.
Zat bioaktif pada makanan bisa mempengaruhi ekspresi gen baik secara langsung
maupun tidak langsung. Pada tingkat sel, zat bioaktif ada makanan bisa (1) berperan sebagai
ligan (penyambung) reseptor faktor transkripsi, (2) dimetabolisme melalui jalur metabolik
primer atau sekunder, dan (3) mempengaruhi jalur pemrosesan sinyal untuk "komunikasi" di
dalam atau di luar sel.
Bertambahnya pengetahuan baru di lingkup nutrigenomik selanjutnya akan berdampak
pada makin tipisnya batasan antara makanan dan obat. Perbedaan definisi obat dan makanan
yang sekarang ada akan mendapat tantangan baru dengan makin majunya nutrigenomik pada
dekade mendatang. Pada waktu lampau para ahli pangan dan gizi hanya bisa menduga bahwa
komponen bioaktif pada makanan memiliki pengaruh terhadap proses-proses yang
berlangsung di dalam sel. Sekarang mulai muncul bukti-bukti yang mengarah ke situ dan
makin banyak terkumpul dari waktu ke waktu. Ini bukan berarti bahwa makanan di masa
datang harus diregulasi seperti obat. Hanya saja, harus mulai disadari bahwa peranan
komponen bioaktif pada makanan kesehatan dan kebugaran konsumen makin nyata.
Lalu, bagaimanakah dampak munculnya nutrigenomik terhadap industri pangan ? Seperti
halnya pemasaran produk-produk makanan fungsional yang mulai banyak beredar dan
dikonsumsi masyarakat segmen tertentu, maka nutrigenomik akan menjadi dasar untuk
membuka era baru industri makanan kesehatan di masa depan. Hanya segmen tertentu dari
konsumen yang akan memiliki peluang untuk mencoba menggunakan produk-produk yang
didasari oleh pengetahuan nutrigenomik. Pada tahap awalnya yang diperlukan konsumen
adalah adanya layanan bagi mereka untuk mengetahui pola- pola genetik yang berbeda secara
spesifik antarindividu.
Selanjutnya berkembang menuju tersedianya metode monitoring terhadap penanda
biologis untuk mengetahui sejauh mana latar belakang genetik memberikan respons terhadap
makanan. Pada saat yang bersamaan, industri makanan akan mulai mengembangkan,
memproduksi, dan menghadirkan produk-produk baru dengan muatan nutrigenomik yang
makin kuat.
Akhirnya masyarakat konsumen memerlukan layanan konsultasi atau konseling untuk
memahami arti hasil uji latar belakang genetik dan hubungannya dengan pilihan makanan

yang memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Bagi industri pengolah produk pangan jelas
bahwa munculnya nutrigenomik tidak bisa lagi dihadapi dengan cara produksi dengan pola
lama.
Mengingat demikian banyaknya komponen keahlian yang terlibat, industri perlu
membangun atau memperkuat kemitraannya dengan berbagai partner bisnis, termasuk
institusi penelitian yang relevan. Sekalipun nutrigenomik diawali di negara-negara maju, bagi
Indonesia memiliki peluang yang tidak kalah besar untuk memajukan bidang ini.
2.6 KONSEP EFEKTIFITAS DAN EFESIENSI PENDEKATAN SISTEM DALAM BIDANG
PANGAN
Pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi sumberdaya manusia suatu bangsa.
Untuk mencapai ketahanan pangan diperlukan ketersediaan pangan dalam jumlah dan
kualitas yang cukup, terdistribusi dengan harga terjangkau dan aman dikonsumsi bagi setiap
warga untuk menopang aktivitasnya sehari-hari sepanjang waktu. Dalam hal ini, sekalipun
ketahanan pangan ditingkat nasional (dilihat dari perbandingan antara jumlah produksi dan
konsumsi total) relatif telah dapat dicapai, pada kenyataanya ketahanan pangan dibeberapa
daerah tertentu dan ketahanan pangan dibanyak keluarga masih sangat rentan. Kesejahteraan
petani pangan yang relatif rendah dan menurun saat ini akan sangat menentukan prospek
ketahanan pangan. Kesejahteraan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor dan keterbatasan,
diantaranya yang utama adalah :
a.

Sebagian petani miskin karena memang tidak memiliki faktor produktif apapun kecuali
tenaga kerjanya.

b. Luas lahan petani sempit dan mendapat tekanan untuk terus terkonversi/perubahan dan
peningkatan.
c.

Terbatasnya akses terhadap dukungan layanan pembiayaan

d. Tidak adanya atau terbatasnya akses terhadap informasi dan teknologi yang lebih baik
e.

Infrastruktur produksi (air, listrik, jalan, telekomunikasi) yang tidak memadai

f.

Struktur pasar yang tidak adil dan eksploitatif akibat posisi rebut-tawar.

g. Ketidak-mampuan,

kelemahan,

atau

ketidak-tahuan

petani

sendiri.

Maka tanpa adanya penyelesaian yang mendasar dan komprehensif dalam berbagai aspek
diatas kesejahteraan petani akan terancam dan ketahanan pangan akan sangat sulit dicapai.
Disadari sepenuhnya bahwa telah terjadi perubahan tatanan sosial politik masyarakat
sehingga berbagai aspek pembangunan telah lebih terdesentralisasi dan lebih berbasis pada
partisipasi masyarakat. Permasalahan timbul terutama karena proses desentralisasi tersebut
masih berada pada tahap proses belajar bagi semua pihak. Hal tersebut semakin diperberat
ditengah kondisi dimana anggaran pemerintah semakin terbatas, perencanaan dan

pelaksanaan pengembangan pangan yang kurang terfokus, berpendekatan proyek, parsial, dan
tidak berkesinambungan.
Globalisasi dalam berbagai aspek sosial ekonomi pada kenyataannya telah menjadi ancaman
serius bagi usaha membangun ketahanan pangan jangka panjang, walaupun disadari pula
menjadi peluang jika dapat diwujudkan suatu perdagangan internasional pangan yang adil
(fair trade). Dalam akhir pada abad ke duapuluh ini, suatu era yang serba makmur kelaparan
masih merupakan nasib yang lumrah bagi manusia, bagi golongan ini mutu kehidupan lebih
banyak dipengarhui oleh factor kekurangan makanan daripada factor-faktor yang lain.
a. kecukupan
ketersediaan pangan;
Ketersediaan pangan dalam rumah tangga yang dipakai dalam pengukuran mengacu
pada pangan yang cukup dan tersedia dalam jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan
konsumsi rumah tangga. Penentuan jangka waktu ketersediaan makanan pokok di perdesaan
(seperti daerah penelitian) biasanya dilihat dengan mempertimbangkan jarak antara musim
tanam dengan musim tanam berikutnya.
b. stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun.
Stabilitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga diukur berdasarkan kecukupan
ketersediaan pangan dan frekuensi makan anggota rumah tangga dalam sehari. Satu rumah
tangga dikatakan memiliki stabilitas ketersediaan pangan jika mempunyai persediaan pangan
diatas cutting point (240 hari atau 360 hari) dan anggota rumah tangga dapat makan 3 (tiga)
kali sehari sesuai dengan kebiasaan makan penduduk di daerah tersebut.
c. aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan serta
Indikator aksesibilitas/keterjangkauan dalam pengukuran ketahanan pangan di tingkat rumah
tangga dilihat dari kemudahan rumahtangga memperoleh pangan, yang diukur dari pemilikan
lahan (misalnya sawah atau ladang) serta cara rumah tangga untuk memperoleh pangan
d. kualitas/keamanan pangan
Kualitas/keamanan jenis pangan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi. Ukuran
kualitas pangan seperti ini sangat sulit dilakukan karena melibatkan berbagai macam jenis
makanan dengan kandungan gizi yang berbeda-beda., sehingga ukuran keamanan pangan
hanya dilihat dari ada atau tidaknya bahan makanan yang mengandung protein hewani
dan/atau nabati yang dikonsumsi dalam rumah tangga.
Landasan Hukum Kegiatan Ketahanan Pangan
Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia 1945 sebagai sumber dari segala sumber
hukum mengamanatkan kepada penyelenggara negara untuk memberikan jaminan kepada
warga negaranya agar dapat hidup sejahtera lahir dan batin. Amanat tersebut antara lain
tersurat pada Pasal 28 A, ayat 1 UUD 1945 Amandemen ke dua yang menyebutkan Setiap

orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan
hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pasal 34
menjamin hak warga negara atas perlindungan dari diskriminasi.
Undang-Undang (UU) No. 39 tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia pasal 9 ayat 1
menyebutkan Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan
taraf kehidupannya. Walaupun secara eksplisit hak atas pangan tidak disebutkan, kedua ayat
tersebut secara implisit memuat perintah kepada penyelenggara negara untuk menjamin
kecukupan pangan dalam rangka memenuhi hak azasi pangan setiap warganya dan
menyatakan pentingnya pangan sebagai salah satu komponen utama dalam mencapai
kehidupan sejahtera lahir dan batin.
Undang-Undang yang secara eksplisit menyatakan kewajiban mewujudkan ketahanan
pangan adalah UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. UU tersebut menjelaskan konsep
ketahanan pangan, komponen, serta para pihak yang harus berperan dalam mewujudkan
ketahanan pangan. Secara umum UU tersebut mengamanatkan bahwa pemerintah bersama
masyarakat wajib mewujudkan ketahanan pangan. UU tersebut telah dijabarkan
dalam beberapa Peraturan

Pemerintah

2002 Ketahanan

yang

Pangan

(PP) antara

mencakup

lain:

ketersediaan

(i)

PP Nomor

pangan,

68

cadangan

Tahun
pangan,

penganekaragaman pangan, pencegahan dan penanggulangan masalah pangan, peran


pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat, pengembangan sumberdaya manusia dan
kerjasama internasional; (ii) PP Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan yang
mengatur pembinaan dan pengawasan di bidang label dan iklan pangan untuk menciptakan
perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab; dan (iii) PP Nomor 28 Tahun
2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan, yang mengatur tentang keamanan, mutu dan
gizi pangan, pemasukan dan pengeluaran pangan ke wilayah Indonesia, pengawasan dan
pembinaan, serta peranserta masyarakat mengenai hal-hal di bidang mutu dan gizi pangan.
Kebijakan Umum Ketahanan Pangan 6 Disamping mengacu pada berbagai dokumen
hukum nasional tersebut, pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan juga mengacu pada
komitmen bangsa Indonesia dalam kesepakatan dunia. Sebagai anggota Persatuan BangsaBangsa (PBB), Indonesia telah menyatakan komitmen untuk melaksanakan aksi-aksi
mengatasi masalah kelaparan, kekurangan gizi serta kemiskinan di dunia. Kesepakatan
tersebut antara lain tertuang dalam Deklarasi World Food Summit 1996 dan ditegaskan
kembali dalam World Food Summit: five years later (WFS:fyl) 2001, serta Millenium
Development Goals (MDGs) 2000, untuk mengurangi angka kemiskinan ekstrim dan
kerawanan pangan di dunia sampai setengahnya di tahun 2015.
Mengacu pada berbagai dokumen hukum serta kesepakatan nasional maupun
internasional, Pemerintah Indonesia menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah
(RPJM) 2005-2009 yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005, serta

dokumen Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) yang telah dicanangkan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tanggal 11 Juni 2005. Kedua dokumen
hukum tersebut memuat kebijakan dan program pembangunan nasional, termasuk ketahanan
pangan.
Khusus untuk mengatur pembangunan perberasan nasional, pemerintah telah
mengeluarkan Inpres Nomor 13 Tahun 2005 tentang Kebijakan Perberasan. Inpres ini
mewajibkan kementerian terkait untuk melaksanakan upaya peningkatan pendapatan petani,
ketahanan pangan dan Kebijakan Umum Ketahanan Pangan 7 pengembangan ekonomi
pedesaan melalui: (i) pemberian dukungan pada upaya peningkatan produksi dan
produktivitas, (ii) pemberian dukungan pada upaya diversifikasi usaha dan pengembangan
pasca panen, (iii) kebijakan harga, (iv) kebijakan ekspor dan impor beras, (v) penyaluran
beras bersubsidi untuk masyarakat miskin, dan (vi) pengelolaan cadangan beras nasional.
Mengingat ketahanan pangan yang kompleks dengan keterkaitan antar banyak pelaku
dan daerah dengan dinamika perubahan antar waktu, maka koordinasi dan sinergi yang baik
merupakan kunci keberhasilan pembangunan. Untuk melaksanakan koordinasi dan sinergi
tersebut itu pemerintah membentuk Dewan Ketahanan Pangan melalui Keppres Nomor 132
Tahun 2001 yang mengatur koordinasi, evaluasi dan pengendalian upaya- upaya mewujudkan
ketahanan pangan nasional. Hingga saat ini telah terbentuk sebanyak 32 Dewan Ketahanan
Pangan propinsi dan 339 Dewan Ketahanan Pangan kabupaten/kota.
UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah mengatur Peran pemerintah yang
lebih bersifat sebagai inisiator, fasilitator dan regulator dan peran masyarakat sebagai pelaku
utama pembangunan ketahanan pangan. Sejalan dengan itu, pemerintah propinsi, pemerintah
kabupaten/kota dan atau pemerintah desa sesuai kewenangannya, menjadi pelaksana fungsifungsi inisiator, fasilitator dan regulator atas penyelengaraan ketahanan pangan di wilayah
masing-masing, namun tetap dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan nasional.
Berkaitan dengan ini maka kebijakan pangan nasional menjadi payung kebijakan pangan
daerah; sedangkan kebijakan pangan daerah menjadi komponen utama dalam kebijakan
pangan nasional. Kebijakan nasional harus menjamin sinergi kebijakan antar daerah,
sehingga tidak ada kebijakan suatu daerah yang merugikan daerah lain. Untuk itu pemerintah
memberikan pedoman, norma, standar dan kriteria yang harus ditaati pemerintah daerah,
melakukan pemantauan dan pengendalian untuk menjaga sinergi pembangunan antar daerah
dan mengarahkan proses pembangunan pada tujuan bersama yaitu mewujudkan ketahanan
pangan nasional.
Substansi dan kerangka dasar dalam dokumen Kebijakan Umum Ketahanan
Ketahanan Pangan ini mengacu pada substansi penting yang dimuat dalam berbagai dokumen
hukum yang dibahas di muka.

Untuk mendorong masyarakat agar mampu mengkaji, merencanakan, melaksanakan


mekanisme dalam membangun sistem pangan maka pihak luar dapat menjadi katalisator
(mempercepat proses) dalam peningkatan kapasitas komunitas. Berbagai modul atau
panduan, pelatihan, perencanaan sistem kelembagaan bahkan pendanaan awal akan dapat
dijadikan pintu masuk menuju terwujudnya sistem pangan komunitas. Dalam hal ini pihak
luar akan berfungsi sebagai penyedia jasa layanan (service provider) demi peningkatan
kapasitas masyarakat.
Sistem pangan komunitas, adalah milik komunitas artinya tidak membedakan
golongan atau profesi dari anggota komunitas. Hal ini didasarkan pada pentingnya pangan
bagi semua manusia. Meski demikian perlu adanya identifikasi dan perhatian khusus terhadap
kalangan yang paling rentan terhadap rawan pangan. Karena sifatnya yang luas dan
diperlukan oleh semua anggota komunitas, maka sistem pangan membutuhkan solidaritas
warga. Artinya ada ikatan sosial yang harus difahami dan dibangun bersama bahwa warga
masyarakat berada pada ruang yang sama. Dalam praktek sehari-hari, hal ini dapat
dicontohkan bahwa penghitungan jumlah pangan yang harus disimpan didasarkan pada
kebutuhan total populasi (bukan hanya petani) yang ada dalam satu komunitas.
Konsekuensinya adalah bahwa pengembangan cadangan pangan dengan penyimpanan
kolektif juga diwajibkan bagi anggota masyarakat yang mempunyai penghasilan non
pertanian.
Untuk menjamin keberlanjutan dari kelembagaan sistem pangan komunitas, tidak
dapat disandarkan pada program dari luar, atau personil-personil lapangan dari lembaga lain.
Keberadaan program dan lembaga (NGO) lebih diarahkan sebagai service provider terhadap
kebutuhan dalam peningkatan kapasitas kelembagaan pangan masyarakat. Mendorong aktoraktor masyarakat untuk terlibat aktif dalam membangun kelembagaan pangan, merupakan hal
yang sangat penting. Aktor-aktor tersebut merupakan agen penggerak dari mekanisme
kelembagaan yang dibangun bersama. Pemilihan agen penggerak tidak diharuskan dari
kalangan petani, akan tetapi lebih melihat pada potensi okal dan diharapkan akan tetap
tinggal di dalam komunitas dalam waktu yang cukup lama. Aktor ini bisa jadi berasal dari
petani muda, karang taruna, tokoh pemuda, kader kesehatan, atau pamong praja setempat.
Peningkatan kapasitas aktor menjadi arena NGO untuk memberikan potensinya dalam
pelatihan, kajian atau monev. Pada aspek kelembagaan, indikator-indikator berikut ini akan
memberikan gambaran tentang apa dan bagaimana kelemabagaan pangan dalam masyarkat
terwujud.
a.

Adanya organisasi atau lembaga pangan di tingkat komunitas dengan anggota warga
komunitas (laki-laki maupun perempuan dan multi pencaharian)

b. Ada dan meningkatnya kapasitas pengurus (laki-laki-perempuan)

c.

Adanya pertemuan atau musyawarah anggota untuk perencanaan, koordinasi dan evaluasi

d. Tersedia data dasar produksi, cadangan, distribusi dan komsumsi pangan pokok komunitas
dalam kurun waktu 1 tahun yang diperbarui setiap tahun
e.

Adanya kesepakatan organisasi tentang produksi, cadangan, distribusi atau perdagangan, dan
konsumsi pangan

f.

Berjalannya sistem administrasi dan pelaporan kegiatan dan keuangan

g. Meningkatnya hubungan dan kerjasama dengan para pemangku kepentingan lain di dalam
dan di luar desa
Peran

LSM

dalam

pengembangan

kelembagaan

pangan

komunitas

Belajar dari berbagai pengalaman serta didasarkan pada iklim dan kebijakan lembaga
internasional yang berubah maka diperlukan pintu keluar yang lain. NGO selama ini diakui
bukan sebagai bagian dari masyarakat sipil namun lebih memerankan lembaga perantara
(intermediary institution). Jangka waktu program yang singkat dan terpadu (tergantung
pada duit) seringkali membuat apa yang hendak dicapai dalam membangun komunitas gugur
sebelum tuntas. Sayangnya, ketika ada kesempatan untuk berefleksi di akhir proyek, langkah
NGO tidak lagi selapang ketika program/proyek masih berjalan.
Untuk tetap dapat menjalankan misinya NGO mestinya mengambil peran lebih
dibandingkan sekedar sebagai pembawa pesan program.
Salah satu pilihannya adalah dengan menjadi service provider sekaligus menjadi
bagian dari dinamika ekonomi yang tengah digerakkan oleh lembaga pangan komunitas.
NGO mempunyai andil dalam setiap langkah dan gerak organisasi masyarakat, sehingga
pasca proyek masih mempunyai energi dan hak untuk ikut memantau dan menjaga laju dan
arah kelembagaan pangan.
2.7 KONSEP EFEKTIFITAS DAN EFESIENSI PENDEKATAN SISTEM DALAM BIDANG
GIZI
Masalah-masalah pemenuhan gizi masyarakat tentunya sangat berkaitan erat dengan
kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah mengenai pemenuhan kebutuhan pangan
terutama bagi rakyat miskin. Berikut dipaparkan mengenai kebijakan pemerintah serta
aplikasinya terkait kebutuhan gizi masyarakat.
a.

Kebijakan Pemerintah Terkait Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masayarakat


Permasalaha pemenuhan kebutuhan gizi sudah muncul sejak puluhan tahun yang lalu. Oleh
karena itu, sudah ada beberapa upaya dari pemerintah yang diharapkan dapat mengurangi
atau bahkan menyelesaikan permasalahan gizi. Upaya pemerintah tersebut diantaranya
dituangkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan terkait pemenuhan kebutuhan gizi.
Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia 1945 sebagai sumber dari segala
sumber hukum, mengamanatkan kepada penyelenggara negara untuk memberikan jaminan

kepada warganegaranya agar dapat hidup sejahtera lahir dan batin. Amanat tersebut antara
lain tersurat pada Pasal 28 A, Ayat 1 UUD 1945 Amandemen ke dua yang menyebutkan
Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pasal
34 menjamin hak warganegara atas perlindungan dari diskriminasi.
Undang-Undang (UU) No. 39 tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia pasal 9 ayat 1
menyebutkan Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan
taraf kehidupannya. Walaupun secara eksplisit hak atas pangan tidak disebutkan, kedua ayat
tersebut secara implisit memuat perintah kepada penyelenggara negara untuk menjamin
kecukupan pangan dalam rangka memenuhi hak azasi pangan setiap warganya dan
menyatakan pentingnya pangan sebagai salah satu komponen utama dalam mencapai
kehidupan sejahtera lahir dan batin.
Undang-Undang yang secara eksplisit menyatakan kewajiban mewujudkan ketahanan
pangan adalah UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. UU tersebut menjelaskan konsep
ketahanan pangan, komponen, serta para pihak yang harus berperan dalam mewujudkan
ketahanan pangan. Secara umum UU tersebut mengamanatkan bahwa pemerintah bersama
masyarakat wajib mewujudkan ketahanan pangan. UU tersebut telah dijabarkan dalam
beberapa Peraturan Pemerintah (PP) antara lain: (i) PP Nomor 68 Tahun 2002 tentang
Ketahanan Pangan yang mengatur tentang Ketahanan Pangan yang mencakup ketersediaan
pangan, cadangan pangan, penganekaragaman pangan, pencegahan dan penanggulangan
masalah pangan, peran pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat, pengembangan
sumberdaya manusia dan kerjasama internasional; (ii) PP Nomor 69 tahun 1999 tentang
Label dan Iklan Pangan yang mengatur pembinaan dan pengawasan di bidang label dan iklan
pangan untuk menciptakan perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab; dan (iii)
PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan, yang mengatur tentang
keamanan, mutu dan gizi pangan, pemasukan dan pengeluaran pangan ke wilayah Indonesia,
pengawasan dan pembinaan, serta peranserta masyarakat mengenai hal-hal di bidang mutu
dan gizi pangan.
b. Fakta Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masyarakat
Dengan banyaknya kebijakan terkait pemenuhan kebutuhan gizi yang dibuat, memang sangat
ironis jika di negara sebesar dan sesubur Indonesia masih terjadi kekurangan gizi pada
rakyatnya. Jika permasalahan pemenuhan kebutuhan gizi masih banyak terjadi, maka perlu
dipertanyakan

kembali

perihal

kebijaksanaan

pemenuhan

kebutuhan

gizi

beserta

aplikasi/pelaksanaannya.
Nampaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kondisi ketahanan pangan Indonesi
sedang terpuruk. Ketahanan pangan nasional tercapai manakala kebutuhan pangan setiap
rumah tangga mampu dipenuhi, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik

jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau sesuai yang diamanatkan pada UU
No. 7/1996. Beranjak dari definisi tersebut, nampaknya masih sangat berbeda jauh dengan
kondisi riil di Indonesia saat ini. Hal tersebut tercermin dari banyaknya kasus gizi buruk yang
dialami oleh rakyat terutama balita.
Masalah gizi buruk akhir-akhir ini mulai mencuat kembali, apalagi setelah ditemukannya
beberapa korban meninggal akibat gizi buruk. Di akhir Pebruari, 2008 media massa
dihebohkan dengan meninggalnya Dg Basse (35 th) penduduk kota Makassar bersama bayi
berusia tujuh bulan yang dikandungnya. Kematian mereka dinyatakan akibat gizi buruk
(dehidrasi akut) (kompas.com).
Selain kasus tersebut, penyakit busung lapar juga banyak ditemukan di beberapa daerah
atau kota seperti Lombok, NTB, NTT, Majene Sulawesi Barat, Serang Banten, Papua dan
bahkan di Ibu Kota Negara Jakarta juga tidak ketinggalan. Mungkin saja masih banyak kasus
busung lapar yang terjadi di penjuru negeri ini yang belum tercium pemberitaan. Artinya,
masalah gizi telah terjadi secara bersamaan dan dalam skala luas di segenap penjuru
nusantara, seperti terjadi di tahun 80-an (kompas.com).
Sebenarnya fenomena masalah gizi yang terjadi di masyarakat dapat diumpamakan
sebagai fenomena gunung es. Jika kasus busung lapar sudah ditemukan di masyarakat dalam
jumlah hanya sekitar 10 orang, maka sesungguhnya telah tersimpan kurang energi protein
(KEP) kategori ringansedang dalam jumlah yang banyak. Busung lapar adalah istilah yang
diberikan oleh masyarakat dan sebenarnya tergolong masalah gizi KEP kategori berat. KEP
merupakan masalah gizi yang paling mudah dan cepat terjadi di masyarakat bilamana mereka
itu sedang mengalami ketidakseimbangan konsumsi zat-zat gizi sehari. Golongan masyarakat
yang peling rawan menderita KEP adalah bayi dan anak usia bawah lima tahun (balita).
Karena pada usia ini anak sudah mulai memasuki masa penyapihan, sementnara tidak diikuti
pemberian makanan tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizinya.
Menilik catatan-catatan berita tentang busung lapar di NTT di tahun 2005
menggambarkan betapa parahnya kasus ini. ampung Pos (14/06/05) memberitakan bahwa
dalam kurun waktu lima bulan ada 20 orang yang meninggal akibat kelaparan di NTT. Yang
mengenaskan, tujuh di antaranya sudah meninggal dunia pada saat mendapat perwatan di
RSU dan 10 pasien busung lapar lainnya meninggal dunia di di panti-panti perawatan
milik Care International. Di TTS sendiri hasil survai mencatat ada sekitar 26 balita menderita
busung lapar, sementara 2.257 anak lainnya mengalami gizi buruk saat itu. Sementara itu
pelacakan terhadap 2.000 anak balita di Kabupaten Timor Tengah Utara, 400 di antaranya
mengalami status gizi buruk. Juga di Alor, dari 400 anak balita yang disurvai, 20 persen
mengalami gizi kronis yang mengarah pada marasmus (Kompas, 27/5/2005). Menurut catatan
Dinas Kesehatan NTT, di propinsi itu anak yang mengalami gangguan gizi buruk akut dan
kronis hingga busung lapar mencapai 66.685 orang (Kompas, 07/06/05). Gizi buruk dan

kasus busung lapar di Nusa Tenggara Timur telah menambah potret buram generasi penerus
bangsa. Betapa mengenaskan nasib anak-anak kita.
Kasus busung lapar tidak hanya melanda NTT. Paling sedikit 23,63 juta penduduk
Indonesia terancam kelaparan saat itu. Busung lapar juga melanda daerah lainnya seperti di
Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat yang tergolong daerah lumbung beras di Indonesia.
Yang juga patut disimak, kasus gizi buruk pada balita juga ditemukan di Jakarta. Tidak
tanggung-tanggung, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebutkan angka 8455 balita menderita
gizi buruk (Kompas, 10/06/05). Mereka yang terancam kelaparan adalah penduduk yang
pengeluaran per kapita sebulannya di bawah Rp 30.000,00.
Seharusnya gizi buruk, busung lapar atau kelaparan di NTT, bukan sesuatu muncul secara
tiba-tiba dan kemudian disebut sebagai suatu "Kejadian Luar Biasa". Terlepas dari definisi
ilmu epidemiologi, jika melihat beberapa indikator indeks pembangunan manusia (IPM) di
NTT, maka kasus-kasus ini harusnya sudah bisa diprediksikan. Secara nasional, tingkat
kesejahteraan NTT hanya menempatiposisi 24 dari 30 propinsi. Data juga menunjukkan
bahwa presentasi penduduk miskin di NTT mencapai 28.62 % (2003) itu pun kalau data itu
benar - bisa jadi lebih dari angka yang dipaparkan. Menurut Data dan Informasi Kemiskinan,
tahun 2003, BPS Jakarta, Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) NTT dengan jumlah penduduk
miskin 28,62 persen (1.166 juta jiwa). Di sisi lain, tingkat pengangguran terbuka adalah 3,94
persen, sedangkan pengangguran terselubung 58,38 persen. (Kompas, 05/06/2005).
BAB 3 PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal :
1. Banyak kebijakan yang telah dibuat pemerintah terkait pemenuhan kebutuhan gizi
masyarakat, diantaranya yang paling banyak diperbincangkan adalah Undang-Undang Dasar
(UUD) Republik Indonesia 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum, mengamanatkan
kepada penyelenggara negara untuk memberikan jaminan kepada warganegaranya agar dapat
hidup sejahtera lahir dan batin, UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan yang menjelaskan
konsep ketahanan pangan, komponen, serta para pihak yang harus berperan dalam
mewujudkan ketahanan pangan. Secara umum UU tersebut mengamanatkan bahwa
pemerintah bersama masyarakat wajib mewujudkan ketahanan pangan.
2. aplikasi kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi masih belum sesuai
harapan, masih banyak warna negara yang kekurangan bahan pangan yang belum tersentuh
aparat pemerintah.
3.2

SARAN

1. hendaknya pemerintah lebih serius lagi dalam menangani kasus kurang gizi yang terjadi di
masyarakat karena masalah kurang gizi ini adalah permasalahan yang paling mendasar bagi
keberlangsungan suatu bangsa.
2. hendaknya masyarakat senantiasa menambah pengetahuannya mengenai pentingnya gizi cukup serta
merubah pandangan bahwa yang bergizi adalah yang mahal dan menghilangkan budaya Mc
Donaldisasi dan menumbuh kembangkan budaya kerja keras demi peningkatan kesejahteraan hidup
bersama.
3. hendaknya mahasiswa senantiasa meningkatkan kepekaannya terhadap masalah-masalah yang
berkembang dimasyarakat dan senantiasa berupaya menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah
tersebut.