Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Limbah adalah sampah cair dari suatu lingkungan masyarakat dan biasanya terdiri
dari air yang telah digunakan. Sebanyak 0,1% limbah dapat pula berupa benda-benda
padat yang terdiri dari zat organik dan anorganik. Limbah yang dihasilkan suatu usaha
dapat digolongkan menurut sifatnya fisiknya yang meliputi: limbah cair, limbah padat dan
limbah gas (Otto, 1986).
Zat organik dalam sampah terdiri dari bahan-bahan nitrogen, karbohidrat, lemak,
dan sabun. Mereka bersifat tidak tetap dan menjadi busuk, mengeluarkan bau-bauan yang
tidak sedap. Benda-benda anorganik pada umumnya tidak merugikan (Mahida, 1992).
Limbah industri pangan umumnya tidak membahayakan kesehatan masyarakat
karena tidak terlibat langsung dalam perpindahan penyakit, tetapi kandungan bahan
organiknya yang tinggi dapat bertindak sebagai sumber makanan bagi pertumbuhan
mikroba. Pasokan makanan yang berlimpah akan menyebabkan mikroorganisme
berkembang biak dengan cepat dan mereduksi oksigen terlarut yang ada di dalam air
(Jenie & Rahayu, 1993).
Menurut artikel Guideline for Agricultural Waste Management, penanganan
limbah sebelum dilepaskan ke alam harus diperhatikan sebab dalam limbah
dimungkinkan masih banyak senyawasenyawa racun, selain itu mengandung pula zat
zat hidup khususnya bakteri, virus dan protozoa dan dengan demikian merupakan wadah
yang

baik

untuk

pembiakan

jasad-jasad

renik.

Setiap

industri

juga

harus

bertanggungjawab untuk mengembangkan program yang dapat mengolah limbah dari


industri tersebut agar tidak menimbulkan bahaya untuk lingkungan sekitarnya.
Limbah pengolahan pangan yang seluruhnya dapat dikomposkan antara lain
limbah buah dan sayur, limbah pengolahan ikan, limbah pengolahan daging, serta limbah
pengolahan biji-bijian. Praktek landfilling menjadi kurang baik karena bisa menimbulkan
bau dan mengkontaminasi tanaman pangan. Pengolahan komponen yang tidak diinginkan
seperti garam serta organik terlarut ke dalam tanah dan air tanah juga menjadi perhatian
penting karena air tanah digunakan oleh komunitas. Selain itu, air tanah ini juga bisa
bermigrasi ke aliran yang terdekat (Parker, 2003).
Landfilling atau pengomposan merupakan salah satu proses minimalis untuk
mengurangi limbah padat. Proses ini dapat dilakukan melalui dewatering screens,
centrifugal screens, atau strainers untuk memisahkan cairan dari padatan. Contohnya,
1

padatan dari ekstraktor jus dan pensortiran untuk menghilangkan buah dan sayur yang
rusak dan limbah padat yang tidak diolah sebelum dibuang. Beberapa limbah padat yang
dibuang dan digunakan sebagai bahan pakan hewan tidak diolah lebih lanjut. Namun,
dialokasikan ke peternakan lokal khususnya untuk industri susu dan daging sapi, misalnya
limbah padat dari produksi jus jeruk dikeringkan dan dijual sebagai pakan ternak (Parker,
2003).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana defenisi tempe dan diagram alir proses pembuatan tempe?
2. Bagaimana karakteristik limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan tempe?
3. Bagaimana penanganan limbah dari industri tempe?
C. Tujuan
1. Mengetahui defenisi tempe dan diagram alir proses pembuatan tempe?
2. Mengetahui karakteristik limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan tempe?
3. Mengetahui penanganan limbah dari industi tempe?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Defenisi tempe dan diagram alir proses pembuatan tempe
Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau
beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti
Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus.
Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe". Kapang yang
tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa
sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium,
2

vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai
obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah
penyakit degeneratif.
Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang
merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi
komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan
aroma khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak masam. Tempe banyak
dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh
dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya
sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia.
Berbagai penelitian di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat.
Indonesia juga sekarang berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus
untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki
kandungan gizi tempe. Beberapa pihak mengkhawatirkan kegiatan ini dapat
mengancam keberadaan tempe sebagai bahan pangan milik umum karena galur-galur
ragi tempe unggul dapat didaftarkan hak patennya sehingga penggunaannya
dilindungi undang-undang (memerlukan lisensi dari pemegang hak paten).
Tempe merupakan hasil fermentasi kedelai. Proses produksi tempe,
memerlukan banyak air yang digunakan untuk perendaman, perebusan, pencucian
serta pengupasan kulit kedelai. Limbah yang diperoleh dari proses tersebut dapat
berupa limbah cair maupun limbah padat. Sebagian besar limbah padat yang berasal
dari kulit kedelai, kedelai yang rusak dan mengambang pada proses pencucian serta
lembaga yang lepas pada waktu pelepasan kulit, sudah banyak yang dimanfaatkan
untuk makanan ternak. Limbah cair berupa air bekas rendaman kedelai dan air bekas
rebusan kedelai masih dibuang langsung diperairan disekitarnya (Anonim, 1989).
Jika limbah tersebut langsung dibuang keperairan maka dalam waktu yang
relatif singkat akan menimbulkan bau busuk dari gas H 2S, amoniak ataupun fosfin
sebagai akibat dari terjadinya fermentasi limbah organik tersebut (Wardojo,1975).
Adanya proses pembusukan, akan menimbulkan bau yang tidak sedap,
terutama pada musim kemarau dengan debit air yang berkurang. Ketidak seimbangan
lingkungan baik fisik, kimia maupun biologis dari perairan yang setiap hari menerima
beban limbah dari proses produksi tempe ini, akan dapat mempengaruhi kualitas air
dan kehidupan organisme di perairan tersebut .
Secara garis besar proses pembuatan tempe adalah sebagai berikut :
3

Gambar 1. Bagan Proses Pembuatan Tempe

Dari gambar tersebut dapat dijelaskan:


1. Kedelai dimasak, setelah masak kedelai direndam 1 malam hingga lunak dan terasa
berlendir, kemudian kedelai dicuci hingga bersih.
2. Kedelai dipecah dengan mesin pemecah, hingga kedelai terbelah dua dan kulit kedelai
terpisah.
3. Kulit kedelai dipisahkan dengan cara hasil pemecahan kedelai dimasukkan ke dalam air,
sehingga kulit kedelai mengambang dan dapat dipisahkan.
4. Kedelai kupas dicuci kembali hingga bersih, kemudian peragian dengan cara kedelai
dicampurkan ragi yang telah dilarutkan dan didiamkan selama lebih kurang 10 menit.
5. Kedelai yang telah mengandung ragi ditiriskan hingga hampir kering, kemudian dibungkus
dengan daun pisang. Setelah fermentasi selama 2 hari diperoleh tempe.
(Said &Wahjono,1999).

Berdasarkan gambar 1 tersebut juga nampak bahwa hampir disetiap tahap


pembuatan tempe menghasilkan limbah. Apabila limbah ini dibuang keperairan maka akan
tercemar oleh bahan organik dalam jumlah yang besar, sehingga kebutuhan oksigen untuk
proses penguraiannya lebih banyak dari pada pemasukan oksigen keperairan, dan
kandungan oksigen terlarut sangat rendah. Hal ini sangat membahayakan kehidupan
organisme perairan tersebut. Sisa bahan organik yang tidak terurai secara aerob akan
diuraikan oleh bakteri anaerob, sehingga akan tercium bau busuk.

B. Karakteristik limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan tempe


Untuk karakteristik limbah industri tempe ada dua hal yang perlu diperhatikan
yakni karakteristik fisika dan kimiawi. Karakteristik fisika meliputi padatan
total,suhu,warna dan bau. Karakteristik kimiawi meliputi bahan organik, bahan anorganik
dan gas. Bahan-bahan organik yang terkandung di dalam buangan industri tempe pada
umumnya sangat tinggi. Senyawa-senyawa organik di dalam air buangan tersebut dapat
berupa protein, karbohidrat, lemak dan minyak. Di antara senyawa-senyawa tersebut,
protein dan lemaklah yang jumlahnya paling besar yang mencapai 40% - 60% protein, 25
- 50% karbohidrat, dan 10% lemak. Semakin lama jumlah dan jenis bahan organik ini
semakin banyak, dalam hal ini akan menyulitkan pengelolaan limbah, karena beberapa
zat sulit diuraikan oleh mikroorganisme di dalam air limbah tempe tersebut. Untuk
menentukan besarnya kandungan bahan organik digunakan beberapa teknik pengujian
seperti BOD, COD dan TOM. Uji BOD merupakan parameter yang sering digunakan
untuk mengetahui tingkat pencemaran bahan organik, baik dari industri ataupun dari
rumah tangga, (Said &Wahjono,1999).
Limbah cair yang dihasilkan berasal dari lokasi pemasakan kedelai, pencucian
kedelai, peralatan proses dan lantai. Karakter limbah cair yang dihasilkan berupa bahan
organik padatan tersuspensi (kulit, selaput lendir dan bahan organik lain). Warna putih
keruh pada air limbah berasal dari pembuangan air rendaman dan pengelupasan kulit
kedelai yang masih banyak mengandung pati,juga berasal dari air bekas pencucian
peralatan proses produksi,peralatan dapur dan peralatan lainnya. Bau yang timbul karena
adanya aktivitas mikroorganisme yang menguraikan zat organik atau dari reaksi kimia
yang terjadi dan menghsilkan gas tertentu, (Wignyanto,et all, 2009).
5

Air buangan industri tempe kualitasnya bergantung dari proses yang digunakan.
Apabila air prosesnya baik, maka kandungan bahan organik pada air buangannya
biasanya rendah. Pada umumnya konsentrasi ion hidrogen buangan industri tempe
cenderung bersifat asam. Sehingga air limbah dan bahan buangan yang dibuang ke
perairan akan mengubah pH air, dan dapat mengganggu kehidupan organisme air, ph air
normal yang memenuhi syarat untuk kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5 - 7,5
(Wardhana, 2004). Gas-gas yang biasa ditemukan dalam limbah tempe adalah gas
nitrogen (N2 ), oksigen (O2 ), hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3 ), karbondioksida
(CO2 ) dan metana (CH4). Gas-gas tersebut berasal dari dekomposisi bahan-bahan
organik yang terdapat di dalam air buangan tempe. Beberapa contoh hasil pengukuran
kadar BOD Dan COD di dalam air limbah tempe di daerah DKI Jakarta ditunjukkan pada
Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Analisa Limbah Cair Industri Tempe
PARAMETER LOKASI

COD (mg/l)

BOD (mg/l)

Setia Budi

7.852

5.400

Setia Budi

20.467

11.000

Setia Budi

8.659

4.750

Tebet

28.320

9.475

Tebet

5.285

2.950

Kebayoran Baru

5.597

3.675

Kebayoran Lama

6.423

3.525

Cilandak

6.073

3.600

Pasar Minggu

12.300

7.500

Pasar Minggu

7.912

3.650

Tegal Parang

15.685

8.250

Tegal Parang

23.340

14.000

Cipinang

61.425

13.600

Kebon Pala

2136

2100

Setia Budi

7852

5400

Tebet

28320

9475

Kebayoran Baru

5597

3675

Kebayoran Lama

6423

3525

Cilandak

6073

3600

(Said & wahjono,1999).


Limbah dari proses pembuatan tempe ini termasuk dalam limbah yang
biodegradable yaitu merupakan limbah atau bahan buangan yang dapat dihancurkan
oleh mikroorganisme. Senyawa organik yang terkandung didalamnya akan
dihancurkan oleh bakteri meskipun prosesnya lambat dan sering disertakan dengan
keluarnya bau busuk. Konsentrasi amoniak sebesar 0,037 mg / l sudah dapat
menimbulkan bau amoniak yang menyengat. Dalam limbah domestik, sebagian besar
nitrogen organik akan diubah menjadi amoniak pada pembusukan anaerobik dan
menjadi nitrat atau nitrit pada pembusukan aerob, (Said & wahjono,1999).
Selain itu Menurut penelitian yang dilakukan Wiryan, karakteristik kandungan
limbah tempe juga dapat diperjelas dengan tabel berikut dimana yang telah dilakukan
analis untuk mengetahui kandungan limbah tempe.

Tabel 2 : Hasil Analisa Kandungan Limbah Cair Pabrik Tempe

Berdasarkan Tabel 2. tersebut diatas dapat dinyatakan bahwa baik limbah cair
yang berasal dari air rebusan maupun air rendaman kedelai berpotensi untuk
mencemari lingkungan perairan disekitarnya. Suhu limbah cair yang berasal dari
rebusan kedelai mencapai 75oC. Apabila setiap hari perairan memperoleh pasokan
limbah cair dengan suhu yang tinggi maka akan membahayakan kehidupan organisme
air. Suhu yang optimum untuk kehidupan dalam air adalah 25 30o C. Air sungai yang
suhunya naik akan mengganggu kehidupan hewan maupun tanaman air karena kadar
oksigen terlarut akan turun bersamaan dengan kenaikan suhu (Wardhana,
2004).Tumbuhan air akan terhenti pertumbuhannya pada suhu air dibawah 10oC atau
diatas 40oC.
Terdapat hubungan timbal balik antara oksigen terlarut dengan laju pernapasan
mahkluk hidup. Meningkatnya suhu akan menyebabkan peningkatan laju pernapasan
makhluk hidup dan penurunan oksigen terlarut dalam air. Laju penurunan oksigen
terlarut (DO) yang disebabkan oleh limbah organik akan lebih cepat karena laju
peningkatan pernapasan makhluk hidup yang lebih tinggi (Connel dan Miller, 1995).
Limbah cair dari proses perebusan dan perendaman kedelai, mempunyai nilai
TDS dan TSS yang jauh melewati standart baku mutu limbah cair. Pengaruh Padatan
tersuspensi (TSS) maupun padatan terlarut (TDS) sangat beragam, tergantung dari
sifat kimia alamiah bahan tersuspensi tersebut. Pengaruh yang berbahaya pada ikan,
zooplankton maupun makhluk hidup yang lain pada prinsipnya adalah terjadinya
penyumbatan insang oleh partikel partikel yang menyebabkan afiksiasi. Disamping itu
juga adanya pengaruh pada perilaku ikan dan yang paling sering terjadi adalah
penolakan terhadap air yang keruh, adanya hambatan makan serta peningkatan

pencarian tempat berlindung . Pola yang ditemukan pada sungai yang menerima
sebagian besar padatan tersuspensi, secara umum adalah berkurangnya jumlah spesies
dan jumlah individu makhluk hidup (Connel dan Miller, 1995).
Derajat keasaman limbah cair dari air rebusan kedelai telah melampaui
standart baku mutu. Air limbah dan bahan buangan dari kegiatan industri yang
dibuang ke perairan akan mengubah pH air, dan dapat mengganggu kehidupan
organisme air. Air normal yang memenuhi syarat untuk kehidupan mempunyai pH
berkisar antara 6,5 - 7,5 (Wardhana, 2004).
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa limbah tempe ini termasuk dalam
limbah yang biodegradable. Bahan buangan biodegradable merupakan nutrien bagi
tumbuhan air (Prawiro, 1988). Kandungan bahan buangan biodegradable yang tinggi
pada perairan dapat menimbulkan eutrofikasi sehingga menyebabkan terjadinya
blooming population beberapa tumbuhan air seperti Alga, Phytoplankton maupun
Eceng Gondok (Eichhornia crassipes Solm) (Wardhana, 2004).
Terjadinya peningkatan eutrofikasi mengakibatkan daerah bentik yang
kekurangan oksigen terlarut akan semakin meluas. Hal ini dapat menurunkan jumlah
habitat yang sesuai untuk ikan dan dapat menyebabkan penurunan jumlah ikan secara
keseluruhan (Connel dan Miller, 1995).
Jika kita lihat pada tabel 2 diatas nilai Biological Oxygen Demand (BOD atau
kebutuhan oksigen biologis) dari limbah cair ini sangat tinggi sehingga jumlah
oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme didalam perairan untuk mendegradasi
limbah tersebut, sangat besar. Bahan organik akan diuraikan oleh mikroorganisme
menjadi gas CO2, H2O dan gas NH3. Gas NH3 inilah yang menimbulkan bau busuk.
Demikian juga dengan angka Chemical Oxigen Demand (COD atau kebutuhan
oksigen kimiawi) sangat tinggi sehingga akan membutuhkan oksigen yang sangat
besar agar limbah cair tersebut dapat teroksidasi melalui reaksi kimia. Dalam hal ini
limbah organik akan dioksidasi oleh Kalium bikromat (K 2Cr2O7) menjadi gas CO2 dan
H2O serta ion Chrom (Wardhana, 2004).

C. Penanganan limbah dari industi tempe

Salah satu cara untuk mengatasi masalah air limbah industri tempe tersebut
adalah dengan kombinasi proses pengolahan biologis anaerob dan aerob. Secara
umum proses pengolahannya dibagi menjadi dua tahap yakni pertama proses
penguraian anaerob (Anaerobic digesting), dan yang ke dua proses pengolahan lanjut
dengan sistem biofilter anaerob-aerob. Secara garis besar proses pengolahan air
limbah industri tempe ditunjukkan seperti pada gambar 2 di bawah ini menurut (Said
& wahjono,1999).

Gambar 2
Diagram proses pengolahan air limbah industri tempe dengan sistem biofilter anaerob
aerob :
1. Proses pengolahan secara anaerob
Air limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan/pengrajin tempe
kumpulkan melalui saluran air limbah, kemudian dilairkan ke bak kontrol untuk
memisahkan kotoran padat. Selanjutnya, sambil di bubuhi dengan larutan kapur atau
larutan NaOH air limbah dialirkan ke bak pengurai anaerob. Di dalam bak pengurai
anaerob tersebut polutan organik yang ada di dalam air limbah akan diuraikan oleh
mikroorganisme secara anaerob, menghasilkan gas methan yang dapat digunakan
sebagai bahan bakar. Dengan proses tahap pertama konsentrasi COD dalam air limbah
dapat diturukkan sampai kira-kira 600 ppm (efisiensi pengolahan 90 %). Air olahan
10

tahap awal ini selanjutnya diolah dengan proses pengolahan lanjut dengan sistem
biofilter aerob.

Proses Penguarian Senyawa Organik Secara Anaerob


Secara garis besar penguraian senyawa organik secara anaerob dapat di bagi
menjadi dua yakni penguraian satu tahap dan penguraian dua tahap.
Penguraian satu tahap
Penguraian anaerobik membutuhkan tangki fermentasi yang besar, memiliki
pencampur mekanik yang besar, pemanasan, pengumpul gas, penambahan lumpur,
dan keluaran supernatan. Penguraian lumpur dan pengendapan terjadi secara simultan
dalam tangki. Stratifikasi lumpur dan membentuk lapisan berikut dari bawah ke atas :
lumpur hasil penguraian, lumpur pengurai aktif, lapisan supernatan (jernih), lapisan
buih (skum), dan ruang gas. Hal ini secara umum ditunjukkan seperti pada gambar 3
di bawah ini.

Gambar 3 : Penguraian anerob satu tahap (Said & wahjono,1999).

Penguraian dua tahap


Secara sederhana proses penguraian anaerob dua tahap dapat ditunjukkan
seperti gambar 4 di bawah ini.

11

Gambar 4 : Penguraian anerob dua tahap (Said & wahjono,1999).


Dari gambar 4 diatas dimana dalam proses ini membutuhkan dua tangki
pengurai (reaktor) yakni pada tangki tahap I berfungsi mencampur secara terusmenerus dan pemanasan untuk stabilisasi lumpur, sedangkan tangki tahap II lagi
untuk pemekatan dan penyimpanan sebelum dibuang ke pembuangan. Proses ini
dapat menguraikan senyawa organik dalam jumlah yang lebih besar dan lebih cepat.
Proses Pengolahan Lanjut
Untuk bagian pengolahan lanjutan dimana dapat dijelaskan bahwa proses
pengolahan lanjut ini dilakukan dengan sistem biofilter anaerob-aerob. Pengolahan air
limbah dengan proses biofilter anaerob-aerob terdiri dari beberapa bagian yakni bak
pengendap awal, biofilter anaerob (anoxic), biofilter aerob, bak pengendap akhir, dan
jika perlu dilengkapi dengan bak kontaktor khlor. Air limbah yang berasal dari proses
penguraian anaerob (pengolahan tahap perama) dialirkan ke bak pengendap awal,
untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran lainnya. Selain sebagai bak
pengendapan, juga berfungasi sebagai bak pengontrol aliran, serta bak pengurai
senyawa organik yang berbentuk padatan, sludge digestion (pengurai lumpur) dan
penampung lumpur, (Said & wahjono,1999).
Air limpasan dari bak pengendap awal selanjutnya dialirkan ke bak kontaktor
anaerob dengan arah aliran dari atas ke dan bawah ke atas. Di dalam bak kontaktor
anaerob tersebut diisi dengan media dari bahan plastik atau kerikil/batu split. Jumlah
bak kontaktor anaerob ini bisa dibuat lebih dari satu sesuai dengan kualitas dan
jumlah air baku yang akan diolah. Penguraian zat-zat organik yang ada dalam air
limbah dilakukan oleh bakteri anaerobik atau facultatif aerobik Setelah beberapa hari
operasi, pada permukaan media filter akan tumbuh lapisan film mikro-organisme.

12

Mikroorganisme inilah yang akan menguraikan zat organik yang belum sempat terurai
pada bak pengendap, (Said & wahjono,1999).
Air limpasan dari bak kontaktor anaerob dialirkan ke bak kontaktor aerob. Di
dalam bak kontaktor aerob ini diisi dengan media dari bahan kerikil, plastik
(polyethylene), batu apung atau bahan serat, sambil diaerasi atau dihembus dengan
udara sehingga mikro organisme yang ada akan menguraikan zat organik yang ada
dalam air limbah serta tumbuh dan menempel pada permukaan media. Dengan
demikian air limbah akan kontak dengan mikro-orgainisme yang tersuspensi dalam air
maupun yang menempel pada permukaan media yang mana hal tersebut dapat
meningkatkan efisiensi penguraian zat organik, deterjen serta mempercepat proses
nitrifikasi, sehingga efisiensi penghilangan ammonia menjadi lebih besar. Proses ini
sering di namakan Aerasi Kontak (Contact Aeration). Dari bak aerasi, air dialirkan ke
bak pengendap akhir. Di dalam bak ini lumpur aktif yang mengandung massa
mikroorganisme diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan
pompa sirkulasi lumpur. Sedangkan air limpasan (over flow) dialirkan ke bak
khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor ini air limbah dikontakkan dengan senyawa
khlor untuk membunuh mikroorganisme patogen. Air olahan, yakni air yang keluar
setelah proses khlorinasi dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran umum.
Dengan kombinasi proses anaerob dan aerob tersebut selain dapat menurunkan zat
organik (BOD, COD), ammonia, deterjen, padatan tersuspensi (SS), phospat dan
lainnya. Dengan adanya proses pengolahan lanjut tersebut konsentrasi COD dalam air
olahan yang dihasilkan relatif rendah yakni sekitar 60 ppm, (Said & wahjono,1999).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau
beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti
Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan
fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe". Kapang yang tumbuh pada
13

kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang


mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat
besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika
untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.
Tempe merupakan hasil fermentasi kedelai. Proses produksi tempe, memerlukan
banyak air yang digunakan untuk perendaman, perebusan, pencucian serta pengupasan
kulit kedelai. Limbah yang diperoleh dari proses tersebut dapat berupa limbah cair
maupun limbah padat. Sebagian besar limbah padat yang berasal dari kulit kedelai,
kedelai yang rusak dan mengambang pada proses pencucian serta lembaga yang lepas
pada waktu pelepasan kulit, sudah banyak yang dimanfaatkan untuk makanan ternak.
Limbah cair berupa air bekas rendaman kedelai dan air bekas rebusan kedelai masih
dibuang langsung diperairan disekitarnya (Anonim, 1989).
Limbah cair yang dihasilkan berasal dari lokasi pemasakan kedelai, pencucian
kedelai, peralatan proses dan lantai. Karakter limbah cair yang dihasilkan berupa bahan
organik padatan tersuspensi (kulit, selaput lendir dan bahan organik lain). Warna putih
keruh pada air limbah berasal dari pembuangan air rendaman dan pengelupasan kulit
kedelai yang masih banyak mengandung pati, juga berasal dari air bekas pencucian
peralatan proses produksi,peralatan dapur dan peralatan lainnya. Bau yang timbul karena
adanya aktivitas mikroorganisme yang menguraikan zat organik atau dari reaksi kimia
yang terjadi dan menghsilkan gas tertentu, (Wignyanto,et all, 2009).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1989. Tahu Tempe, Pembuatan, Pengawetan dan Pemanfaatan Limbah. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan IPB. Bogor.
Connell, D.W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi lingkungan. UI Press.
Jakarta.
Guideline for Agricultural Waste Management
Jenie, B. S. L. & W. P. Rahayu. (1993). Penanganan Limbah Industri Pangan. Kanisius.
Yogyakarta

14

Karyadi, D. 1985. Prospek Pengembangan Tempe Dalam Upaya Peningkatan Status Gizi
dan Kesehatan Masyarakat. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Mahida , U N. 1992. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. CV Rajawali.
Jakarta.
Otto. (1986). Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. CV.Rajawali. Jakarta.
Parker, Rick. (2003). Introduction to Food Science. Delmar, a Division of Thomson Learning,
Inc. United States of America.
Prawiro, R. 1988. Ekologi Lingkungan Pencemaran. Satya Wacana. Semarang .
Rosalina R .2008. Pengaruh Konsentrasi Dan Frekuensi Penyiraman Air Limbah Tempe
Sebagai Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tomat (Lycopersicum Esculentum
Mill.). Universitas Islam Negeri Malang. Malang.
Said, N I & Wahjono H.D.1999. Teknologi Pengolahan Limbah Tahu Tempe Dengan Proses
Biofilter Anaerob dan Aerob. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta.
Wardoyo, S.T.H. 1975. Pengelolaan Kualitas Air. IPB. Bogor.
Wardhana, W.A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Wiryani E.____.Analisa Kandungan Limbah Cair Pabrik Tempe. Universitas Dipenogoro.
Semarang.
Wignyanto, Hidayat N, & Ariningrum A. 2009. Bioremediasi Limbah Cair Sentra Industri
Tempe Sanan Serta Perencenaan unit Pengolahan (Kajian Pengaturan Kecepatan Aerasi Dan
Waktu Inkubasi). Universitas Brawijaya. Malang.
https://id.wikipedia.org/wiki/Tempe

15