Anda di halaman 1dari 96

PENGKAJIAN KEBUTUHAN ENERGI PROSES DESALINASI

UNTUK PENAMBAHAN AIR KETEL PADA UNIT PLTU


DENGAN DAYA 315 MW

Tugas Akhir
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana(S1)
Bidang Ilmu Teknik Jurusan Teknik Mesin

Nama

: ALDILA RIZQI ANGGERIAGNI

No. Pokok

: 4310215067

Pembimbing : Prof. Dr. Ir. WIBOWO PARYATMO, IPM

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2014

PERSETUJUAN
Tugas Akhir dengan Judul Pengkajian kebutuhan energi proses desalinasi untuk
penambahan air ketel pada unit PLTU dengan daya 315 MW. Dibuat untuk
melengkapi persyaratan kurikulum Program Studi Teknik Mesin Universitas
Pancasila guna memperoleh gelar Sarjana Teknik (S.T.) pada Program Sarjana
Program Studi Teknik Mesin

Tugas Akhir ini telah diujikan dalam sidang ujian pada


Hari / Tanggal

: Rabu / 26 Februari 2014

Tempat

: PS-TM Universitas Pancasila

Jakarta, Maret 2014

Jakarta,

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Prof.Dr.Ir.Wibowo Paryatmo, IPM

Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Mesin

Koordinator Tugas Akhir

Ir. Eddy Djatmiko, MT

I Gede Eka Lesmana, ST.,MT.

ii

PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR


Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tulisan ilmiah dalam Tugas Akhir ini
dengan judul :
Pengkajian kebutuhan energi proses desalinasi untuk penambahan air ketel
pada unit PLTU dengan daya 315 MW
yang di buat untuk melengkapi sebagian prasyarat menjadi Sarjana Teknik pada
Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Pancasila, bukan
merupakan tiruan atau duplikasi dari Tugas Akhir yang sudah di publikasi dan atau
pernah di pakai untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik di Lingkungan Universitas
Pancasila maupun di Perguruan Tinggi, kecuali bagian yang sumber informasinya
dicantumkan sebagaimana mestinya.

Jakarta , 5 Februari 2014

Aldila Rizqi Anggeriagni


4310215067

iii

ABSTRAK
Pada pengkajian ini dikaji sebuah sistem desalinasi untuk mengolah air laut
dengan bantuan uap diubah menjadi air destilasi, yang kemudian akan digunakan
sebagai air penambah /make up water sehingga jumlah air pengisi / feed water di
ketel uap Pusat Listrik Tenaga Uap dengan daya 315 MW tetap terjaga.
Untuk melakukan pengkajian ini, diambil data spesifikasi ketel uap, turbin,
kondensor dan pompa di PLTU untuk mengetahui jumlah air yang hilang selama
proses berlangsung. Selanjutnya diambil data spesifikasi peralatan sistem desalinasi
untuk mengetahui jumlah produk air penambah/ make up water dan kebutuhan energi
untuk menghasilkan air tersebut. Akan diamati sistem desalinasi yang dilakukan pada
tekanan atmosfer dan tekanan vakum. Peralatan desalinasi adalah MED (multi effect
desalination).
Setelah dilakukan proses pengkajian, sisem desalinasi dengan tekanan vakum
multi effect desalination membutuhkan energi 8300.36 kJ/s atau 30% lebih kecil
daripada proses deslinasi dengan tekanan atmosfer dengan effisiensi termal sebesar
65%.

Kata kunci : air laut, air destilasi, feed water, make up water, energi, desalinasi,
vakum

iv

ABSTRACT

In this study assessed a processing system for seawater desalination with the
help of distilled water is converted to steam , which then will be used as a water
enhancer / make-up water so that the amount of water filler / boiler feed water in
Steam Power Plant with 315 MW of power is maintained .
To perform this assessment , specification data taken boilers, turbines ,
condensers and pumps at the plant to determine the amount of water lost during the
process . Furthermore, the data taken desalination system equipment specifications
to determine the amount of water enhancer products / make-up water and the energy
required to produce the water . Will be performed observed desalination system at
atmospheric pressure and vacuum pressure . MED desalination equipment is ( multi
effect desalination ). However, the assessment is done only on a single effect / single
evaporator .
After the assessment process, sisem desalination by multi-effect desalination
vacuum pressure requires energy 8300.36 kJ / s or 30% smaller than the
atmospheric pressure deslinasi process with a thermal efficiency of 65%.

Keywords : sea water, distilled water, feed water, makeup water, energy,
desalination, vacuum

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis yang dipanjatkan selalu kepada Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan segala rahmat, nikmat serta kasih sayang kepada seluruh
umat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini sesuai dengan apa
yang diharapkan. Dengan judul PENGKAJIAN KEBUTUHAN ENERGI
PROSES DESALINASI UNTUK PENAMBAHAN AIR KETEL PADA UNIT
PLTU DENGAN DAYA 315 MW, ini diajukan untuk memenuhi sebagian syarat
mata kuliah tugas akhir di jurusan teknik mesin Universitas Pancasila.
Dalam melakukan penyelesaian penulisan tugas akhir ini banyak pihak yang
telah memberikan bantuan sehingga tulisan ini dapat terselesaikan dengan baik,
untuk itu penulis ingin memberikan ucapan terima kasih kepada :
1. Kedua orang tua ( Alm. Agus Subagijo dan Kustiwiyanik ) serta kakak dan
adikku ( Adiana Fitriagni dan Aldina Hanifah Agni ) terima kasih atas doa
dan dukungannya dalam penyelesaian tugas akhir ini.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. Wibowo Paryatmo, IPM selaku dosen pembimbing
yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan pengarahan sehingga tugas
akhir ini dapat diselesaikan.
3. Bapak I Gede Eka Lesmana,ST,.MT selaku koordinator tugas akhir yang
telah meluangkan waktu dan pengarahan sehingga tugas akhir ini dapat di
selesaikan.
4. Bapak Ir. Eddy Djatmiko, MT selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin
Fakultas Teknik Universitas Pancasila , Jakarta.
5. Ibu Wina L, ST. MM. MT dan bapak Ir. Rudi Hermawan, MM. MT selaku
tim penguji.
vi

6. Rekan rekan seangkatan mahasiswa teknik mesin Universitas Pancasila,


serta pihak-pihak lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang
memberikan segala dukungannya kepada penulis dalam penyelesaian tugas
akhir ini.
7. Rekan rekan Indonesia Power PLTU Banten 3 Lontar yang membantu
data dan informasi untuk melengkapi tugas akhir ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian Laporan Tugas Akhir ini masih
jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang menuju ke arah perbaikan
sangat penulis harapkan. Semoga Laporan Tugas Akhir ini dapat memberikan
manfaat dan menunjang perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan bagi
rekan-rekan mahasiswa Universitas Pancasila pada khususnya.

Jakarta, 5 Februari 2014

Penulis

vii

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL....

PERSETUJUAN...

ii

PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR

iii

ABSTRAK.

iv

KATA PENGANTAR..

vi

DAFTAR ISI.

viii

DAFTAR TABEL.

xi

DAFTAR GAMBAR

xii

DAFTAR ISTILAH..

xiv

DAFTAR NOTASI...

xv

DAFTAR LAMPIRAN.....

xi

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

B. Perumusan Masalah...

C. Tujuan Penulisan...

D. Metode Penulisan..

E. Batasan Masalah

F. Sistematika Penulisan

LANDASAN TEORI
A. Siklus Rankine.

B. Pompa Feed Water...

C. Ketel Uap..

D. Turbin...

E. Kondensor.....

10

F. Pengolahan Air (Water Treatment Plant.......

11

1. Flokulasi dan Koagulasi.......

11

2. Proses pengendapan Kimia......

12

viii

3. Filtrasi ( Penyaringan ) ......

12

4. Evaporasi / Desalinasi........

13

5. Pertukaran Ion.......

14

6. Reverse Osmose.....

14

G. Desalinsi....

15

1. Definisi Desalinasi.....

15

2. Tujuan Desalinasi.......

15

3. Klasifikasi Desalinasi dengan Penambahan Energi Panas.

16

a). Long Tube Vertical Deslination.......

16

b). Single Effect Evaporation.....

17

c). MED (multi effect desalination).......

18

H. Feed Water........

20

I. Vakum.........

21

1. Cara Membuat Vakum........

21

2. Kelebihan Membuat Vakum dengan Ejector..

22

I. Perubahan Fasa pada Zat Murni.........

23

1. Cair Tekan (Compresses Liquid)...

23

2. Cairan jenuh (Saturation Liquid)...

24

3. Campuran air-uap (liquid-vapor mixture)..

24

4. Uap Jenuh (saturated Vapor).

25

5. Uap Panas Lanjut (Superheated vapor).

25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Pengertian Penelitian.

27

B. Metode Penelitian..

27

C. Pengumpulan Data Operasi...

29

1. Data Peralatan Utama.........

29

2. Data Peralatan Sistem Desalinasi...

32

D. Perhitungan........

44

1. Aliran Feed Water Selama Siklus PLTU Berlangsung..

44

2. Kerugian Feed Water Selama Siklus PLTU berlangsung..

45

ix

3. Perhitungan Kebutuhan Energi proses Desalinasi.....

45

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA


A. Perhitungan kebutuhan feed water dan air tambah/ make up water
..

46

B. Perhitungan Energi Proses Desalinasi .

49

1. Proses desalinasi pada tekanan atmosfer ......

49

2. Proses desalinasi pada tekanan vakum dengan pompa vakum..

49

3. Proses desalinasi pada tekanan vakum dengan steam jet

BAB V

ejector.

50

a) Single stage..

51

b) Two stage.

52

C. Proses desalinasi dengan kebutuhan energi paling kecil..

53

KESIMPULAN

A. Kesimpulan........

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN LAMPIRAN

54

DAFTAR TABEL
Tabel III - 1 Data spesifikasi pompa feed water ..

30

Tabel III - 2 Data spesifikasi ketel uap

31

Tabel III - 3 Data spesifikasi turbin .....

31

Tabel III - 4 Data spesifikasi kondensor ..

32

Tabel III - 5 Data pasokan air laut menuju proses desalinasi .

34

Tabel III - 6 Data brine proses desalinasi

34

Tabel III - 7 Data produk air kondensat ...

43

Tabel IV-1 Kebutuhan energi proses desalinasi

53

xi

DAFTAR GAMBAR
Gambar II-1 Diagram alir siklus rankine......

Gambar II-2 Siklus Rankine (a)T-s diagram dan Siklus Rankine (b) h-s
diagram..

Gambar II-3

Skema Multiple Stage Flash Evaporator..

13

Gambar II-4

Multiple Effect Desalination

14

Gambar II-5

Klasifikasi teknologi desalinasi berdasarkan tipe energi..

16

Gambar II-6

Single Effect Evaporation.

17

Gambar II-7

Skema MED/TVC dengan thermal vapour compression.

19

Gambar II-8

ejektor

21

Gambar II-9

rekomendasi jumlah ejektor untuk proses vakum.

22

Gambar I-10

Cair Tekan (Compresses Liquid)..

24

Gambar II-11 Cairan jenuh (Saturation Liquid)

24

Gambar II-12 Campuran air-uap (liquid-vapor mixture)

25

Gambar II-13 Uap Jenuh (saturated Vapor) ..

25

Gambar II-14 Uap Panas Lanjut (Superheated vapor) ...

26

Gambar II-15 Diagram T-v pemanasan air pada tekanan konstan..

27

Gambar III-1

Diagram alir analisa.

28

Gambar III-2

Siklus rankine PLTU...

29

Gambar III-3

Skema sistem desalinasi...

32

Gambar III-4

Peralatan Desalinasi.

33

Gambar III-5

Diagram aliran air laut pada proses desalinasi.

33

Gambar III-6

Diagram proses vakum pada desalinasi..

35

Gambar III-7

Proses vakum awal...

35

Gambar III-8

Proses vakum berkelanjutan

36

Gambar III-9

Diagram aliran uap pada proses desalinasi..

36

Gambar III-10 Skema desalinasi di evaporator 1....

37

Gambar III-11 Proses desalinasi di evaporator 1....

37

Gambar III-12 Skema desalinasi di evaporator 2...

38

Gambar III-13 Proses desalinasi di evaporator 2

38

Gambar III-14 Skema desalinasi di evaporator 3...

38

xii

Gambar III-15 Proses desalinasi di evaporator 3

39

Gambar III-16 Skema desalinasi di evaporator 4...

39

Gambar III-17 Proses desalinasi di evaporator 4

39

Gambar III-18 Skema desalinasi di evaporator 5...

40

Gambar III-19 Proses desalinasi di evaporator 5

40

Gambar III-20 Skema desalinasi di evaporator 6...

41

Gambar III-21 Proses desalinasi di evaporator 6

41

Gambar III-22 Skema desalinasi di evaporator 7...

41

Gambar III-23 Proses desalinasi di evaporator 7

42

Gambar III-24 Skema desalinasi di kondensor...

42

Gambar III-25 Gambar desalinasi di kondensor.

43

Gambar III-26 Siklus Rankine T-s diagram kondisi aktual

45

Gambar IV-1 Skema proses desalinasi tekanan vakum

53

xiii

DAFTAR ISTILAH

Rankine

: siklus termodinamika yang mengubah panas menjadi kerja

Feed water

: air pengisi ketel uap

Make up water

: air penambah ketel uap selama proses

Evaporator

: sebuah alat yang berfungsi mengubah sebuah larutan dari


bentuk cair menjadi uap

Hotwell

: tempat penampungan air kondensat hasil pendinginan uap


turbin di kondensor

xiv

DAFTAR NOTASI

Wt

: Daya Turbin

(kJ/s)

Wp

: Daya Pompa

(kJ/s)

Qin

: Laju perpindahan kalor masuk

(kJ/s)

Qout

: Laju perpindahan kalor keluar

(kJ/s)

: Laju aliran massa

(kg/h)

: entalphi

(kJ/kg)

: entrophi

(kJ/kg.K)

: massa jenis fluida

(kg/m3)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A

SKEMA PUSAT LISTRIK TENAGA UAP

LAMPIRAN B

SIKLUS IDEAL REHEAT

LAMPIRAN C

GAMBAR MULTI EFFECT DESALINATION

LAMPIRAN D

SKEMA MULTI EFFECT DESALINATION

LAMPIRAN E

DIAGRAM MULLIER

LAMPIRAN F

TABEL UAP

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sistem pengolahan air laut menjadi kondensat / air destilasi merupakan salah
satu kegiatan yang banyak digunakan di pembangkit listrik, pertambangan lepas
pantai, maupun daerah gurun yang minim air tawar. Proses pengolahan ini
bermacam-macam tergantung sumber energi yang tersedia di daerah tersebut.
Pada Pusat Listrik, khususnya Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang
membutuhkan air dengan kadar mineral rendah, dan proses desalinasi merupakan
salah satu kegiatan yang dilakukan. Proses ini dilakukan karena sumber air yang
tersedia adalah air laut. Sebab hanya dengan proses desalinasi yang dapat membuat
air laut menjadi air destilasi untuk kemudian digunakan untuk mengisi ketel dan
uapnya digunakan untuk memutar turbin. Di PLTU menggunakan uap untuk proses
desalinasi, sehingga perlu dilakukan pengkajian untuk memastikan bahwa energi
yang digunakan sesuai untuk memproduksi kondensat / air destilasi.
Pengkajian meliputi perhitungan jumlah air pengisi ketel uap / feed water,
perhitungan kerugian air, perhitungan jumlah air tambah / make up water dan
perhitungan proses desalinasi. Sehingga dapat diketahui kesesuaian peralatan yang
digunakan. Peralatan adalah pompa feed water, ketel uap, turbin, kondensor dan
peralatan desalinasi.
Penulis memilih untuk penulisan tugas akhir pengkajian kebutuhan energi
proses desalinasi untuk penambahan air ketel pada unit PLTU dengan daya 315 MW,
karena proses ini merupakan salah satu bagian penting di Pembangkit Listrik Tenaga
Uap, sehingga perlu dilakukan pengkajian untuk menghasilkan data yang dapat
digunakan sebagai acuan efisien atau tidaknya peralatan ini.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka dalam pengkajian ini
dirumuskan beberapa masalah tentang :

1. Menghitung energi yang dipakai untuk memproduksi kondensat / air


destilasi.
2. Menghitung efisiensi proses desalinasi.
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan tugas akhir ini adalah :
1. Mengetahui jumlah energi yang digunakan.
2. Mengetahui efisiensi proses desalinasi.

D. Metode Penulisan
Untuk memperoleh data-data dalam pengkajian kebutuhan energi proses
desalinasi untuk penambah air ketel pada unit PLTU dengan daya 315 MW
dilakukan metode sebagai berikut :
1. Studi literatur, yaitu mempelajari buku-buku, jurnal ilmiah, manual book,
ataupun referensi yang lainnya yang dapat menunjang sebagai pelengkap
dalam mengkaji masalah dan perhitungan-perhitungan.
2. Pengkajian, yaitu menghitung kebutuhan energi untuk proses desalinasi.

E. Batasan Masalah
Dalam membahas ini, penulis membatasi masalah pada pengkajian kebutuhan
energi proses desalinasi. Agar lebih fokus dalam perhitungan rumus dan juga
penulisan. Batasan masalahnya adalah :
1. Perhitungan jumlah energi yang digunakan untuk proses desalinasi.
2. Efisiensi proses desalinasi.

F. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam pembahasan dan penyusunan selanjutnya, maka
penulis membuat kerangka penulisan penelitian yang akan diuraikan berdasarkan
urutan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN
Meliputi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan,
metode penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI


Pada ladasan teori menguraikan tentang teori-teori yang mendukung
pengkajian kebutuhan energi untuk proses desalinasi pada unit PLTU
dengan daya 315 MW.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


Membahas sistematika penelitian yang menjadi acuan dalam proses
pengkajian kebutuhan energi proses desalinasi untuk penambahan air
ketel pada unit PLTU dengan daya 315 MW.

BAB IV PERHITUNGAN
Pada kegiatan perhitungan menguraikan mengenai langkah-langkah yang
dilakukan dalam menyelesaikan permasalahan dalam perhitungan
kebutuhan energi.

BAB V KESIMPULAN
Membahas hasil perhitungan kebutuhan energi untuk proses desalinasi.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Siklus Rankine
Pada Pusat Listrik Tenaga Uap, uap dihasilkan dengan jalan memanaskan air
pada ketel uap. Dari air yang dipanaskan pada ketel uap inilah akan dihasilkan uap
yang akan digunakan untuk menggerakkan turbin. Air untuk mengisi ketel uap
tersebut memerlukan persyaratan kimia khusus dan untuk menghasilkannya
membutuhkan pengolahan (kimia) yang khusus pula. Untuk itu perlu dilakukan
penanganan yang khusus terhadap air pengisi ketel uap tersebut.
Pada ketel uap dikenal adanya close loop system. Dalam close loop system
berarti air yang telah menjadi uap akan di kondensasikan untuk digunakan kembali
sebagai bahan baku uap. Dengan menggunakan air yang sama, maka akan
mengurangi biaya operasi. Dalam proses ini tetap diperlukan air penambah (make-up
water) dengan jumlah sesuai dengan water losses yang terjadi selama siklus air.
Pada PLTU, bagian yang mengatur penggunaan kembali air pengisi ketel uap
ini adalah condensate system. Condensor merupakan bagian utama dari condensate
system. Pada condensor ini uap akan dikondensasikan menjadi air, dimana air ini
akan digunakan lagi sebagai feed water. Sedangkan uap yang telah terkondensasi
akan dikumpulkan di hotwell. Hotwell ini merupakan awal dari siklus air pada sistem
kondensate.
Pusat Listrik Tenaga Uap merupakan salah satu dari jenis pembangkit,
dimana energi utama untuk menggerakkan turbin berupa uap hasil pemanasan di
ketel uap sehingga generator berputar dan menghasilkan listrik. Sistem pembangkit
yang sederhana terdiri dari empat komponen utama yaitu ketel uap, turbin, kondensor
dan pompa. Skema Pusat Listrik Tenaga Uap dapat ditunjukkan pada gambar berikut
ini.

Gambar II-1 Diagram alir siklus rankine

Siklus ideal yang mendasari siklus kerja dari suatu pembangkit dengan daya
uap adalah siklus Rankine. Siklus Rankine berbeda dengan siklus-siklus udara
ditinjau dari fluida kerjanya yang mengalami perubahan fasa selama siklus pada saat
evaporasi dan kondensasi. Perbedaan lainnya secara termodinamika siklus uap
dibandingkan dengan siklus gas adalah bahwa perpindahan kalor pada siklus uap
dapat terjadi secara isotermal.
Proses perpindahan kalor yang sama dengan proses perpindahan kalor pada
siklus carnot dapat dicapai pada daerah uap basah dimana perubahan entalpi kerja
akan menghasilkan penguapan atau kondensasi, tetapi tidak pada perubahan
temperatur. Temperatur hanya diatur oleh tekanan uap fluida. Kerja pompa pada
siklus rankine untuk menaikan tekanan fluida kerja dalam fase cair akan jauh lebih
kecil dibandingkan dengan pemampatan untuk campuran uap dalam tekanan yang
sama pada siklus carnot. Siklus Rankine ideal dapat digambarkan dalam diagram T-s
dan h-s seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar II-2 Siklus Rankine (a)T-s diagram dan Siklus Rankine (b) h-s diagram

Siklus Rankine ideal terdiri dari 4 tahapan proses:


34

Kompresi isentropik dengan pompa

41

Penambahan panas dalam ketel uap secara isobar

12

Ekspansi isentropik pada turbin

23

Pelepasan panas pada kondensor secara isobar dan isotermal

Air masuk pompa pada kondisi 3 sebagai cairan jenuh (saturated liquid) dan
dikompresi sampai tekanan operasi ketel uap. Temperatur air akan meningkat selama
kompresi isentropic karena menurunnya volume spesifik air. Air memasuki ketel uap
sebagai cairan terkompresi (compressed liquid) pada kondisi 4 dan akan menjadi uap
superheated pada kondisi 1. Dimana panas diberikan oleh ketel uap ke dalam air
pada tekanan yang tetap. Ketel uap dan seluruh bagian yang menghasilkan uap ini
disebut steam generator. Uap superheated pada kondisi 1 kemudian akan memasuki
turbin untuk diekspansi secara isentropic dan akan menghasilkan kerja untuk
memutar poros yang terhubung dengan generator listrik sehingga dapat dihasilkan
listrik. Tekanan dan temperatur dari uap akan turun selama proses ini menuju
keadaan 2 dimana uap akan masuk kondensor dan biasanya sudah berupa uap jenuh.
Uap ini akan dicairkan pada tekanan konstan di dalam kondensor dan akan
meninggalkan kondensor sebagai cairan jenuh yang akan masuk pompa untuk
melengkapi siklus ini.
Siklus Rankine yang ideal juga mencakup kemungkinan uap superheated/ uap
kering, seperti pada siklus 1 - 2 - 3 - 4 - 1. Pentingnya uap kering dibahas pada
gambar II-2. Karena siklus Rankine yang ideal terdiri dari proses internal reversibel,
area di bawah garis proses gambar II-2 dapat diartikan sebagai transfer panas per
satuan massa mengalir. Area 1 - b - c - 4 - a - 1 merupakan transfer panas ke fluida
kerja melalui ketel uap dan daerah 2 - b - c - 3 - 2, adalah perpindahan panas dari
fluida kerja lewat melalui kondensor, masing-masing per unit massa mengalir.
Daerah tertutup 1 - 2 - 3 - 4 - a - 1 dapat diartikan sebagai masukan net panas atau,
sama, output kerja bersih, masing-masing per unit massa mengalir. Karena pompa
ideal operasi tanpa ketidak dapat baliknya.

Setelah penjelasan tentang siklus rankine.

Maka diperlukan informasi

lengkap tentang peralatan utama pada siklus rankine untuk menunjang pemahaman
tentang peralatan tersebut. Peralatan utama pada siklus rankine adalah :
1. Pompa feed water
2. Ketel uap
3. Turbin
4. Kondensor
5. Dan salah satu alat bantu adalah water treatment plant

B. Pompa Feed Water


Kondensat cair yang meninggalkan kondensor pada kondisi 3 dipompakan
dari kondensor ke dalam ketel uap sehingga tekanannya naik. Dengan menggunakan
volume atur disekitar pompa dan mengasumsikan tidak ada perpindahan kalor
disekitarnya, kesetimbangan laju massa dan energi adalah

h4 h3

...................(1.1)

Dengan Wp adalah tenaga masuk per unit massa yang melalui pompa.
m adalah laju aliran massa kondensat

h4 adalah entalphi kondensat di dalam ketel sesuai uap tabel uap LAMPIRAN F
h3 adalah entalphi kondensat dari kondensor
C. Ketel Uap
Ketel uap adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dipindahkan ke
air sampai terbentuk air panas kemudian uap. Air panas atau uap pada tekanan
tertentu kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Air adalah
media yang berguna dan murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Jika air
dididihkan sampai menjadi uap, volumenya akan meningkat sekitar 1.600 kali,
menghasilkan tenaga yang menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak, sehingga
ketel uap merupakan peralatan yang harus dikelola dan dijaga dengan sangat baik.

Energi kalor yang dibangkitkan dalam sistem ketel uap memiliki nilai
tekanan, temperatur, dan laju aliran yang menentukan pemanfaatan uap yang akan
digunakan. Ketel uap mengenal keadaan tekanan temperatur rendah, dan tekanantemperatur tinggi, dengan perbedaan itu pemanfaatan uap yang keluar dari sistem
ketel uap dimanfaatkan dalam suatu proses untuk memanasakan cairan dan
menjalankan suatu mesin, atau membangkitkan energi listrik dengan merubah energi
kalor menjadi energi mekanik kemudian memutar generator sehingga menghasilkan
energi listrik. Namun ada juga yang menggabungkan kedua sistem ketel uap tersebut
dengan memanfaatkan tekanan temperatur tinggi untuk membangkitkan energi
listrik.
Instalasi tenaga uap sekurang-kurangnya terdiri dari pembangkit uap atau
yang dikenal dengan sebutan ketel uap yang berfungsi sebagai sarana untuk
mengubah air menjadi uap bertekanan. Ketel uap dalam bahasa inggris disebut
dengan nama boiler berarti mendidihkan atau menguapkan, sehingga boiler dapat
diartikan sebagai alat pembentukan uap yang mampu mengkonversikan energi kimia
dari bahan bakar padat, bahan bakar cair, maupun bahan bakar gas yang menjadi
energi panas. Uap yang dihasilkan dari ketel uap merupakan gas yang timbul akibat
perubahan fase cairan menjadi uap atau gas melalui cara pendidihan yang
memerlukan sejumlah energi dalam pembentukannya.
Zat cair yang dipanaskan akan mengakibatkan pergerakan moleku-molekul
menjadi cepat,sehingga melepas diri dari lingkungannya dan berubah menjadi uap.
Air yang berdekatan dengan bidang pemanas akan memiliki temperatur yang lebih
tinggi 10 (berat jenis yang lebih rendah) dibandingkan dengan air yang bertemperatur
rendah, sehingga air yang bertemperatur tinggi akan naik kepermukaan dan air yang
bertemperatur rendah akan turun. Peristiwa ini akan terjadi secara terus menerus
(sirkulasi) hingga berbentuk uap. Uap yang dihasikan oleh ketel uap dapat
dimanfaatkan untuk berbagai keperluan antara lain sebagai utilitas suatu daya
pembangkit tenaga listrik dan industri. Sistem ketel uap terdiri dari sistem air umpan,
sistem uap, dan sistem bahan bakar. Sistem air umpan menyediakan air untuk ketel
uap secara otomatis sesuai dengan kebutuhan uap. Air yang disuplai pada ketel uap
untuk dirubah menjadi uap disebut air umpan.

Jika dihubungkan dengan siklus rankine, maka urutan kerja ketel uap berawal
dari fluida kerja meninggalkan pompa pada kondisi 4 yang disebut air pengisian,
dipanaskan sampai jenuh dan diuapkan di dalam ketel uap. Dengan menggunakan
volume atur yang melingkupi tabung ketel uap dan drum yang mengalirkan air
pengisian dari kondisi 4 ke kondisi 1, kesetimbangan laju massa dan energi
menghasilkan

h1 h4

...................(1.2)

Dengan Qin adalah laju perpindahan kalor dari sumber energi ke dalam fluida kerja
per unit massa yang melalui ketel uap.
m adalah laju aliran massa uap

h4 adalah entalphi kondensat di dalam ketel uap


h1 adalah entalphi uap keluar ketel uap
D. Turbin
Turbin merupakan sebuah alat yang salah satunya digunakan untuk
membangkitkan suatu energi. Turbin adalah suatu alat atau mesin penggerak mula, di
mana energi fluida kerja yang langsung dipergunakan untuk memutar roda turbin
melalui nosel di teruskan ke sudu-sudunya, Bagian turbin yang berputar dinamai
rotor atau roda turbin, sedangkan bagian yang tidak berputar dinamakan stator atau
rumah turbin. Roda turbin terletak di dalam rumah turbin dan roda turbin memutar
poros daya yang menggerakkan atau memutar bebannya (generator listrik, pompa,
kompresor, baling-baling atau mesin lainnya). Di dalam turbin fluida kerja
mengalami proses ekspansi, yaitu proses penurunan tekanan, dan mengalir secara
kontinu. Fluida kerjanya dapat berupa air, uap air atau gas.
Jika dihubungkan dengan siklus rankine, maka urutan kerja turbin uap
berawal dari uap dari ketel uap pada kondisi 1, yang berada pada temperatur dan
tekanan yang sudah dinaikkan, berekspansi melalui turbin untuk menghasilkan kerja
dan kemudian dibuang ke kondensor pada kondisi 2 dengan tekanan yang relatif

10

rendah.

Dengan

mengabaikan

perpindahan

kalor

dengan

sekelilingnya,

kesetimbangan laju energi dan massa untuk volume atur di sekitar turbin menjadi

h1 h2

...................(1.3)

Dengan Wt adalah laju kerja yang dihasilkan per unit massa uap yang melalui turbin.
m adalah laju aliran massa dari fluida kerja

h1adalah entalphi uap masuk turbin


h2 adalah entalphi fluida pada kondensor
E. Kondensor
Kondensor adalah peralatan yang berfungsi untuk mengubah uap menjadi
air. Prinsip kerja Kondensor proses perubahannya dilakukan dengan cara
mengalirkan uap ke dalam suatu ruangan yang berisi pipa-pipa (tubes). Uap mengalir
di luar pipa-pipa (shell side) sedangkan air sebagai pendingin mengalir di dalam
pipa-pipa (tube side). Kondensor seperti ini disebut kondensor tipe surface
(permukaan). Kebutuhan air untuk pendingin di kondensor sangat besar sehingga
dalam perencanaan biasanya sudah diperhitungkan. Air pendingin diambil dari
sumber yang cukup persediannya, yaitu dari danau, sungai atau laut. Posisi
kondensor umumnya terletak dibawah turbin sehingga memudahkan aliran uap
keluar turbin untuk masuk kondensor karena gravitasi.
Laju perpindahan panas tergantung pada aliran air pendingin, kebersihan
pipa-pipa dan perbedaan temperatur antara uap dan air pendingin. Proses perubahan
uap menjadi air terjadi pada tekanan dan temperatur jenuh, dalam hal ini kondensor
berada pada kondisi vakum. Karena temperatur air pendingin sama dengan
temperatur udara luar, maka temperatur air kondensatnya maksimum mendekati
temperatur udara luar. Apabila laju perpindahan panas terganggu, maka akan
berpengaruh terhadap tekanan dan temperatur.
Jika dihubungkan dengan siklus rankine, maka kondensor dapat dijelaskan
sebagai berikut. Dalam kondensor

terjadi perpindahan kalor dari uap ke air

pendingin yang mengalir dalam aliran yang terpisah. Uap terkondensasi dan

11

temperatur air pendingin meningkat. Pada kondisi ini, kesetimbangan laju aliran
massa dan energi untuk volume atur yang melingkupi bagian kondensasi dan penukar
kalor adalah

h2 h3

...................(1.4)

Dengan Qout adalah laju perpindahan energi dari fluida kerja ke air pendingin per unit
massa fluida kerja yang melalui kondensor.
m adalah laju aliran massa dari fluida kerja

h2adalah entalphi air dari kondensor


h2 adalah entalphi air masuk pompa
F. Pengolahan air (Water Treatment Plant)
Untuk mencegah terjadinya korosi dan deposit kerak yang sangat
mengganggu pada sistem PLTU, maka air baku perlu diolah terlebih dahulu, yaitu
dengan cara pengolahan air (Eksternal

Water

treatment),

kemudian air yang

masuk sistem diolah dengan sistem internal Water Treatment.


Kita mengenal beberapa cara pengolahan air sebelum dipakai masuk sistem
(Eksternal Water Treatment)
1. Flokulasi dan koagulasi
2. Proses pengendapan kimia
3. Filtrasi
4. Evaporasi / Desalinasi
5. Pertukaran ion
6. Reverse Osmosa ( Osmosa Balik )

1. Flokulasi dan koagulasi


Flokulasi dan koagulasi merupakan proses penyatuan partikel partikel
yang halus dan kotoran kotoran koloid dalam air menjadi satu massa yang
segera dapat dipisahkan dan disaring . Partikel partikel koloid mempunyai
permukaan

yang

luas , sehingga mereka tetap dalam keadaan suspensi

dan

12

partikel paryikel suspensi mempunyai muatan listrik negatif yang menyebabkan


saling tolak menolak sehingga tidak dapat

bersatu. Ada beberapa macam

koagulasi yang dipakai , seperti garam alumunium sulfat AI2 ( SO4 ), Fery
sulfat Fe2 ( SO4 )3 , Fery Chlorida ( FeCI3 ) dan lain lain.
Ion ion ini mempunyai 3 muatan positif, sehingga keaktifan mereka untuk
mengikat muatan negatif dan koloid sangat besar, dan dengan pemakaian yang baik
dapat membentuk jala jala yang bermassa dan mudah mengendap. Akhir
akhir ini banyak industri menggunakan poli elektrolit yang mempunyai rantai
panjang bermuatan positif , sehingga koagulasi akan cepat.

2. Proses pengendapan kimia


Proses pengendapan kimia, pada proses ini zat zat kimia ditambahkan
untuk bereaksi dengan mineral mineral yang terlarut dalam air, dan menghasilkan
endapan. Cara ini dapat mengurangi ion ion kalsium dan magnesium terlarut dan
CO2, seperti pada proses kapur soda (lime soda softener).
Pemakaian efektif dari koagulasi dapat membantu menghilangkan silika,
karena akan dapat diserap kedalam lumpur koagulasi dalam bentuk kalsium
silikat. Cara pelunakan kapur soda ini ada 2 cara, yaitu dengan cara batch dan
cara continue. Pada cara batch, bahan bahan kimia dicampur ke dalam tangki,
kemudian lumpur yang terjadi dipisahkan dan air yang jernih dikeluarkan dari
tangki. Sedangkan cara continyu menggunakan beberapa tangki, masing masing
dipakai untuk:
a. Mengatur pertimbangan zat zat kimia yang dipakai dan air masuk.
b. Tempat reaksi , sampai lumpur terpisah
c. Mengalirkan air yang bersih keluar tangki

3. Filtrasi ( penyaringan )
Ada beberapa macam saringan untuk menjernihkan air dari partikel partikel
yang tersuspensi dan terendap, antara lain yang sering terpakai adalah sand filter
(saringan pasir) dan carbon filter (saringan carbon). Kelebihan carbom filter adalah
dapat menyerap warna, bau dan koloid. Bila pasir / koral sudah jenuh, perlu dicuci,

13

sedang untuk carbon filter perlu pula dialiri uap untuk mengembangkan pori pori
yang berfungsi sebagai penyerap.

4. Evaporasi / Desalinasi
Cara ini sama prinsipnya dengan distilasi, yaitu air yang diolah diuapkan
kemudian diembunkan menjadi air distilate (air tawar). Bila airnya sadah maka akan
dapat menimbulkan kerak pada tangki karenanya pula sebelum masuk ke tangki
diberi bahan kimia anti scale, seperti poli posphat, dan endapan yang terjadi dibuang.
Alat evaporasi ini disebut evaporator.
Alat untuk mengurangi kadar garam dengan cara evaporasi dan kondensasi
disebut juga desalination plant. Ada beberapa sistem Desalination plant yang dipakai
di PLTU, diantaranya adalah multiple stage flash evaporator (one through/
recirculating ), dan multiple effect desalination.
Jet
Ejector

Steam
Pressure
Reducing
Valve

Preheate
d

Feedwater

Antiscalant

Feedwater
Pump

Feed Heater

Mist
Separator

Stage 1

Stage 2
Brine

Condensat
e
pump

Stage n-1

Stage n
Brine
Brine
pump

Product
pump

Gambar II-3 Skema Multiple Stage Flash Evaporator

14

Gambar II-4 Multiple Effect Desalination

5. Pertukaran ion
Reaksi kimia antara zat padat ( penukar ion ) dan fluida yang mana ion ion
ditukar dari satu zat ke zat yang lain. Ada 2 macam penukar ion dari alam dan
buatan.
Penukar ion dari alam Zeolit adalah penukar kation yang tersusun secara
alamiah dari Natrium, Alumunium dan pasir. ( Na2O. YAI2O3

2SiO2.aH2O )

berfungsi mengadakan pertukaran kation antara yang terlarut dalam air terutama ion
calsium ( Ca++) dan Magnesium ( Mg++) dengan ion Natrium (Na) yang terdapat
pada Zeolite.
Penukar ion buatan berupa resin anion dan resin kation. Anion berfungsi
untuk menukar ion negatif dan kation untuk menukar ion positif. Sehingga air yang
mengalami pertukaran ion oleh resin ini kandungan mineralnya akan hilang (air
demin).

6. Reverse Osmose
R.O. (Reverse Osmosis) adalah suatu metode pemurnian melalui membran
semi permeable di mana suatu tekanan tinggi (50-60 PSI) diberikan melampaui
tarikan osmosis sehingga akan memaksa air melewati proses osmosis terbalik dari
bagian yang memiliki kepekatan tinggi ke bagian dengan kepekatan rendah. Selama

15

proses ini terjadi, kotoran dan bahan yang berbahaya akan dibuang sebagai air
tercemar. Molekul air dan bahan mikro yang lebih kecil dari pori-pori R.O. akan
melewati pori-pori membran dan hasilnya adalah air yang murni.
Sekarang ini sistem R.O semakin banyak diminati kalangan industri
pengolahan air maupun perumahan untuk mendapatkan air bersih (pure water) karena
faktor sederhana untuk prosesur pengoperasian maupun pemeliharaannya.

G. Desalinasi
1. Definisi desalinasi
Proses desalinasi adalah menguapkan air laut dengan pemanasan atau dengan
vakum kemudian dikondensasikan sehingga dihasilkan air destilasi tanpa kadar
garam.
Beberapa tahun di amerika dan belahan dunia lain muncul permasalahan
kebutuhan air bersih. Karena pertumbuhan penduduk dan

industri yang

menyebabkan kebutuhan air bersih ikut meningkat. Namun fakta membuktikan


bahwa tiga perempat permukaan bumi merupakan air laut yang mengandung garam.
Oleh karena itu banyak sekali penelitian untuk mengubah air laut menjadi air
destilasi tanpa kadar garam untuk kebutuhan industri dan pertanian.
Dari data-data tersebut, dan setelah banyak dilakukan penelitian. Dihasilkan
beberapa metode untuk menghasilkan air destilasi yang berasal dari air laut dan
sebagian telah digunakan dalam beberapa tahun. Dalam pembuatan air destilasi ada
kendala terutama masalah biaya produksi. Biaya produksi air destilasi sangat
bervariasi tergantung dari sumber energi yang digunakan.

2. Tujuan desalinasi

Mengatasi kekurangan air di negara negara tertentu.

Salah satu alternatif penghasil kondensat / air destilasi.

Penghasil sumber kondensat / air destilasi yang ekonomis dan dapat


diandalkan.

16

3. Klasifikasi Desalinasi dengan Penambahan Energi Panas


Multi Stage Flash (MSF), Multiple Effect Desalination (MED) dan
Mechanical Vapour Compression (MVC) adalah proses desalinasi termal utama.
Pangsa pasar dari ketiga proses adalah 87,3, 12,5, dan 0,2% untuk MSF, MED dan
MVC. Jenis lain dari proses desalinasi termal, yaitu solar still, humid/dehum dan
freezing, tidak ditemukan pada skala komersial dan terbatas untuk eksperimental atau
desain konseptual.
MSF dan sistem MED sering dibangun di pembangkit kogenerasi di mana
listrik dan air yang diproduksi secara bersamaan. Hal ini mudah karena kedua sistem
memerlukan tekanan rendah pemanasan uap yang dapat dengan mudah diambil dari
pembangkit listrik dengan biaya cukup rendah. Sistem MVC dioperasikan hanya
pada pembangkit listrik.

Desalination processes
(Type of energy used)

Mechanical energy

MVC

Thermal energy

MED : Multi Effect Desalination


TVC : Thermal Vapor Compression
MVC : Mechanical Vapor
Compression
MSF : Multi Stage Flash
MD : Membrane Distillation

Reverse
Osmosis

heat removal
freezing

Solar
still

Electrical energy

Solar
collector

heat addition

Solar energy

MED

TVC

Steam

MVC

MSF

Humid/
dehum

MD

Gambar II-5 Klasifikasi teknologi desalinasi berdasarkan tipe energi


1)

Long Tube vertical distillation


Air garam dialirkan di dalam pipa panjang. Kemudian pipa tersebut

dipanaskan dengan uap di sekelliling. Uap yang dialirkan berasal dari pembangkit

17

listrik. Kemudian air garam mulai mendidih dan menjadi uap. Dan diwaktu yang
bersamaan, uap yang berada disekitar pipa terkondensasi menjadi air destilasi. Inilah
yang disebut produk dari proses destilasi.

2)

Single Effect Evaporation


Sistem single effect evaporation untuk proses desalinasi air laut secara praktis

tidak digunakan untuk skala industri. Hal ini karena rasio kerja dari sistem ini kurang
dari 1. Massa dari produk desalinasi lebih kecil dari massa uap yang digunakan untuk
memanaskan sistem ini. Meskipun demikian, sistem single effect evaporation dapat
lebih optimal jika dibah menjadi multi effect evaporation.
Dapat dijelaskan diskema diagram pipa horizontal untuk sistem single effect
evaporation. Komponen utama adalah evaporator, kondensor dan sistem vakum.
Fungsi dari kondensor adalah untuk menurunkan temperatur air laut sebelum dibuang
/ kembali ke laut. Dan fungsi dari vakum adalah untuk menurunkan temperatur didih
air laut, sehingga kebutuhan energi uap untuk memanaskan air laut menjadi rendah.

Gambar II-6 Single Effect Evaporation

Dari gambar di atas proses single effect desalination dapat dijelaskan. Air laut
mengalir melalui kondensor melalui pipa 1 untuk dipercikkan ke evaporator.
Kemudian tekanan evaporator dibuat vakum dengan bantuan steam jet ejector

18

melalui pipa 2. Setelah itu uap pemanas masuk ke evaporator melalui pipa 3. Dengan
kondisi ini uap pemanas akan terkondensasi dan berubah fasa menjadi cair.
Sedangkan air laut yang dipercikan akan berubah fasa menjadi uap dengan panas dari
uap pemanas dan tekanan vakum. Uap pemanas yang menjadi cair (condensed steam)
dan air laut yang menjadi uap (distillate vapor) merupakan produk dari proses
desalinasi. Sedangkan air laut yang tidak menguap akan dibuang (reject brine).

3)

MED (multiple effect desalination)


Proses multi efek desalinasi dapat ditemukan di berbagai industri, yaitu gula,

kertas dan pulp, susu, tekstil, asam dan desalinasi. MED kecil dengan kapasitas
kurang

dari

500

m3/hari

diperkenalkan

ke

industri

desalinasi

di

tahun 1960. Perkembangan selanjutnya menyebabkan peningkatan kapasitas unit


produksi.
Pada tahun 2006, kapasitas MED meningkat menjadi nilai 36.000 m3/hari.
Sebagian besar proses MED beroperasi pada temperatur rendah, kurang dari 70 C.
Hal ini karena evaporator mengadopsi konfigurasi film yang horisontal, di mana air
laut umpan disemprotkan pada permukaan luar tabung. Oleh karena itu operasi suhu
rendah membatasi laju pembentukan kerak pada permukaan luar tabung evaporator.
Selain itu, operasi pada suhu rendah memungkinkan untuk kombinasi yang efisien
dengan termal atau mekanis kompresi uap. Proses kompresi uap telah dikembangkan
untuk meningkatkan rasio kinerja proses (kg produk / kg pemanasan uap) ke nilai
mendekati 16 untuk sistem dua belas-efek. Rasio kinerja turun ke nilai 8 jika sistem
beroperasi tanpa kompresi uap. Unit prototipe MED, dikombinasikan dengan lithium
bromide penyerapan kompresi uap, memberikan rasio kinerja lebih dari 20. Pada
skala komersial, sebagian besar sistem MED dirancang untuk beroperasi baik dalam
modus mandiri atau dalam kombinasi dengan termal uap kompresor (MED / TVC).
Mekanik kompresi uap sistem (MED / MVC) ditemukan pada skala yang jauh lebih
terbatas.
Seperti disebutkan sebelumnya, operasi suhu rendah memungkinkan untuk
kompresi uap panas yang sangat efisien. Hal ini juga memungkinkan untuk
penggunaan energi kelas rendah. Keuntungan lainnya adalah penggunaan bahan
konstruksi yang relatif murah, yang meliputi paduan aluminium untuk tabung

19

perpindahan panas, serta baja epoxy kerang dilapisi karbon, kerang evaporator.
Dilaporkan biaya air $ 0.54/m3 untuk pabrik dari 5 unit, masing-masing
memproduksi 20.000 m3/hari.
Sistem MED Industri mencakup hingga 12 efek penguapan, di mana
penguapan dalam efek pertama didorong oleh uap panas yang diambil dari boiler
cogeneration. Uap terbentuk pada efek pertama digunakan untuk menggerakkan
penguapan dalam efek kedua. Proses ini berlanjut dalam efek berikutnya sampai suhu
uap turun menjadi sekitar 30-40C. Sistem MED industri dirancang untuk beroperasi
dalam mode ganda, yaitu mandiri, di mana ia didorong oleh pemanasan uap dari
boiler, atau dalam modus kompresi uap panas, di mana bagian dari uap yang
terbentuk di terakhir.

Gambar II-7 Skema MED/TVC dengan thermal vapour compression

Efek dikompresi ke suhu yang diinginkan dan digunakan untuk menggerakkan


penguapan dalam efek pertama. Gambar II-7 menunjukkan skema untuk sistem
kompresi uap termal (MED / TVC).
Sebagian kecil dari sistem MED menggunakan konfigurasi kompresi uap
mekanik, di mana seluruh uap yang terbentuk dalam efek terakhir dikompresi
mekanis ke suhu yang diinginkan, dan digunakan untuk menggerakkan penguapan
dalam efek pertama. Keterbatasan dalam kapasitas kompresi mekanik uap kompresor

20

membatasi jumlah efek dalam sistem untuk kurang dari 6. Gambar II-1 menunjukkan
skema untuk proses MED / MVC. MED / MVC sistem, seperti ditunjukkan pada
Gambar II-7 memiliki layout yang mirip dengan proses termal kompresi uap.
Perbedaan utama adalah tidak adanya kondensor turun dan penggunaan
kompresor mekanik, untuk kompres seluruh uap yang terbentuk dalam efek terakhir
ke diinginkan pemanasan suhu uap. Selain itu, air garam stopkontak dan distilat
aliran panas pertukaran dengan aliran umpan dalam dua pra-pemanas.
H. Feed Water
Pusat Listrik Tenaga Uap kehilangan uap-air selama proses karena ada
kebocoran dari sambungan, bearing, gas yang tidak terkondensasi di deaerator, air
buangan ketel uap dan banyak penyebab lainnya. Rasio kehilangan uap-air antara 0.5
sampai 1.5 persen dari total aliran di dalam siklus PLTU. Hal ini tergantung dari
desain dan umur dari PLTU. Namun untuk PLTU dengan tenaga nuklir mempunyai
rasio kehilangan uap-air lebih kecil. Uap-air yang hilang harus ditambah sesuai
kebutuhan. Dan air tambah harus mempunyai kondisi yang baik.
Seperti telah diuraikan pada pengolahan air (water treatment plant) , bahwa
salah satu pencegahan terhadap kerusakan peralatan adalah dengan cara
mengolah fluidanya, dalam hal ini tidak cukup dengan pengolahan eksternal,
melainkan perlu pengolahan didalam sistem yang disebut Internal Water
Treatment.
Meskipun proses pengolahan air (eksternal water treatment) menghasilkan air
dengan kualitas baik untuk pusat listrik, namun selama air melewati siklus dapat
mengambil ion logam, seperti besi dan tembaga dari jalur pipa dan lainnya. Dan ada
kemungkinan terkontaminasi dari air pendingin saat ada kebocoran dikondensor.
Sesuai penjelasan diatas, pusat listrik yang menggunakan satu ketel uap dan
pemanasan air dengan reactor nuklir harus menyediakan air dengan kualitas baik dan
menggunakan sistem condensate polishing. Condensate polishing bekerja dengan
mengumpan air kondensat dari siklus menuju tanki demineralisasi yang berisi resin
cation dan anion. Resin akan menghilangkan partikel solid dengan menyaring
partikel tersebut sehingga kembali seperti kondisi semula dan air pengisi ketel uap
dapat digunakan kembali.

21

Feed water untuk pengisi ketel uap harus memiliki kriteria parameter yang
sesuai dengan peralatan sebagai penggunanya, air pengisi harus memiliki kriteria
pada penggunaan seperti dibawah,

I.

Bersih tidak mengandung TDS

Bebas colloid

Bersifat basa

Bebas hardness (kesadahan)

Vakum
1. Cara Membuat Vakum
Prinsip dasar dari pompa vakum dan kompresor. Salah satu dari peralatan

yang biasa digunakan untuk membuat vakum. Dilakukan dengan memperbesar sisi
konvergen atau difergen dari nozel untuk mendapat tekanan yang rendah atau biasa
disebut pipa venture. Seperti ditunjukkan digambar berikut ini atau yang biasa
dikenal steam driven ejector.

Gambar II-8 ejektor

Ejektor mempunyai bentuk dan bagian yang sangat sederhana. Dan proses
kerjanya sangat mudah dipelajari seperti penjelasan berikut ini. Ketika uap utama
masuk dan melalui sisi nozel konvergen-difergen, ruang yang akan dibuat vakum

22

akan terhisap melalui sisi suction. Setelah terhisap ruangan tersebut yang semula
bertekanan atmosfir 1 atm menjadi bertekanan vakum < 1 atm. Setelah tercapai
kondisi vakum, ruangan / evaporator dapat dipertahankan kondisinya dengan terus
mengalirkan uap untuk menarik udara di dalam ruang tersebut.

2. Kelebihan Membuat Vakum dengan Ejector


Efisiensi dari ejector adalah rasio kerja dari kompresi adiabatik ideal
dibanding energi panas dari uap penggerak/penarik yang digunakan pada ejektor.
Meskipun peralatan ini relatif mempunyai efiiensi termodinamika yang rendah (2030%), tetapi bisa ditingkatkan hanya dengan menambah tingkatan dari ejektor sesuai
gambar dibawah ini.

Gambar II-9 rekomendasi jumlah ejektor untuk proses vakum

Banyak keuntungan dari pompa ejektor ini dari sisi konsumsi energi
dibandingkan dengan pompa mekanik, sebagai contoh sederhana, konstruksi sangat

23

sederhana, minim pemeliharaan, tahan dari korosi dan sangat tinggi kemampuan
ketahanannya. Ejektor sangat murah untuk membuat proses vakum di sebuah tabung,
kemampuannya membuat vakum dari suatu volume besar secara terus menerus
sangat bagus.
Uap dan gas yang terkompresi tidak dipisahkan, dimana sering disebut tipe
kontak langsung dengan resiko air pendingin diizinkan untuk terkontaminasi.
Ejektor tunggal dapat menerima cukup besar rasio kompresi (diatas 10)
meskipun dalam prakteknya kemampuan optimal hanya 6.

Ejektor ini sering

digunakan dalam susunan seri untuk mendapatkan tekanan yang lebih rendah,
sebagai contoh dua tingkat ejektor menghasilkan tekanan vakum 0,04 bar dan tiga
tingkat ejektor menghasilkan tekanan vakum 0,013 bar. Dengan kondensor diantara
ejektor untuk menghilangkan uap dan mengurangi beban kerja dari ejektor.

J. Perubahan Fasa pada Zat Murni


Air dapat berada pada keadaan campuran antara cair dan uap. Contohnya
yaitu pada ketel uap dan kondensor dari suatu sistem pusat listrik tenaga uap.
Dibawah ini akan dijelaskan secara lebih rinci mengenai perubahan fasa pada zat
murni, contohnya air.

1. Cair Tekan (Compresses Liquid)


Fluida berisi air pada 20 C dan tekanan 1 atm. Pada kondisi ini, air berada
pada fasa cair tekan karena temperatur dari air tersebut masih dibawah temperatur
saturasi air pada saat tekanan 1 atm. Kemudian kalor mulai ditambahkan ke dalam air
sehingga terjadi kenaikkan temperatur. Seiring dengan kenaikan temperature tersebut
maka air secara perlahan berekspansi dan volume spesifiknya meningkat. Karena
ekspansi ini maka piston juga secara perlahan mulai bergerak naik. Tekanan di dalam
silinder konstan selama proses karena didasarkan pada tekanan atmosfer dari luar dan
berat dari torak.

24

Gambar I-10 Cair Tekan (Compresses Liquid)

2. Cairan jenuh (Saturation Liquid)


Dengan semakin bertambahnya jumlah kalor yang dimasukkan ke dalam
ssilinder maka temperatur akan naik hingga 100 C. Pada titik ini air masih dalam
fase cair, tetapi sedikit saja ada penambahan kalor maka sebagian dari air tersebut
akan berubah menjadi uap. Kondisi ini disebut dengan cair jenuh (saturation liquid)
seperti digambarkan pada gambar

Gambar II-11 Cairan jenuh (Saturation Liquid)

3. Campuran air-uap (liquid-vapor mixture)


Saat pendidihan berlangsung tidak terjadi kenaikan temperatur sampai cairan
seluruhnya berubah menjadi uap. Temperatur akan tetap konstan selama proses
perubahan fase jika temperatur juga dijaga konstan. Pada proses ini volume fluida di
dalam silinder meningkat karena perubahan fase yang terjadi, volume spesifik uap
lebih besar daripada cairan. Sehingga menyebabkan torak terdorong ke atas.

25

Gambar II-12 Campuran air-uap (liquid-vapor mixture)

4. Uap Jenuh (saturated Vapor)


Jika kalor terus ditambahkan, maka proses penguapan akan terus berlangsung
sampai seluruh cairan berubah menjadi uap, seperti ditunjukkan gambar .
Sedangkan jika sedikit saja terjadi pengurangan kalor maka akan
menyebabkan uap terkondensasi.

Gambar II-13 Uap Jenuh (saturated Vapor)

5. Uap Panas Lanjut (Superheated vapor)


Setelah fluida di dalam silinder dalam kondisi uap jenuh maka jika kalor
kembali ditambahkan dan tekanan dijaga konstan pada 1 atm, temperature
uap akan meningkat seperti ditunjukkan pada gambar. Kondisi tersebut
dinamakan uap panas lanjut (superheated vapor) karena temperatur uap di
dalam silinder di atas temperatur saturasi dari uap pada tekanan 1 atm yaitu
100 C.

26

Gambar II-14 Uap Panas Lanjut (Superheated vapor)


Proses di atas digambarkan pada suatu diagram T-v seperti terlihat pada
gambar di bawah ini.

Gambar II-15 Diagram T-v pemanasan air pada tekanan konstan

K. Effisiensi termal
Secara umum effisiensi konversi energi adalah rasio antara keluaran yang
digunakan pada peralatan dan masukan. Untuk effisiensi termal, masukan Qin untuk
peralatan panas atau dengan konsumsi bahan bakar. Dan keluaran Wout atau Qout.
Secara umum dapat dituliskan sesuai persamaan berikut.

x 100 % .(1.5)

27

BAB III
METODE PENELITIAN

A.

Pengertian Penelitian
Penelitian adalah usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah

terhadap sesuatu masalah. Sistematik, karena harus mengikuti prosedur dan langkah
- langkah sebagai suatu kebulatan prosedur.

B.

Metode Penelitian
Metode penelitian adalah langkah-langkah yang digunakan sebagai acuan

dalam melakukan penelitian sehingga diperoleh data-data sesuai dengan tujuan


penelitian. Dengan mengetahui semua data yang dibutuhkan, seperti data pompa feed
water, ketel uap, turbin, kondensor dan peralatan desalinasi. Maka dapat diperoleh
perhitungan tentang penggunaan energi proses desalinasi untuk penambahan air ketel
pada unit PLTU dengan daya 315 MW.
Kemudian akan dibandingkan hasil perhitungan proses desalinasi dengan
tekanan atmosfer dan tekanan vakum. Data perbandingan ini nantinya sebagai
masukan untuk menentukan efisiensi proses desalinasi pada PLTU dengan daya 315
MW.

28

START
Studi literatur
Perumusan masalah

Pengumpulan
data operasi

Perhitungan

Tidak

Sistem desalinasi
dengan tekanan
vakum lebih efisien
Ya
Pola Operasi
Pembangkit Listrik

Hasil = Baik

Kesimpulan

FINISH

Gambar III-1 Diagram alir analisa

29

C. Pengumpulan Data
Data data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data peralatan utama
yang meliputi data ketel uap, turbin, kondensor dan pompa yang berguna untuk
menghitung jumlah aliran massa dan kerugian air-uap selama siklus berlangsung.
Kemudian diperlukan data peralatan desalinasi yang akan digunakan untuk
menghitung jumlah energi yang diperlukan selama proses desalinasi berlangsung.
Data data ini yang menentukan keakuratan dalam proses penelitian ini. Adapun
data data yang diperlukan sebagai berikut.

1. Data Peralatan Utama


Pusat Listik Tenaga Uap menggunakan siklus ideal rankine untuk
menjelaskan secara sederhana urutan proses perpindahan panas. Secara umum dapat
dijelaskan, air masuk ke dalam ketel uap dipanaskan menjadi uap, kemudian uap
dapat digunakan untuk memutar turbin, setelah itu uap melewati kondensor agar
menjadi air. Dan air ini yang digunakan kembali untuk mengisi boiler. Proses ini
dapat dilihat digambar berikut.
Diagram T-s siklus idea rankine, jika diterjemahkan dalam bentuk peralatan
di PLTU terdiri dari beberapa peralatan. Diantaranya yaitu, ketel uap, turbin,
kondensor dan pompa. Seperti gambar di bawah ini.

Gambar III-2 Siklus rankine PLTU

30

Peralatan yang dijelaskan di atas merupakan peralatan utama PLTU yang data
datanya diperlukan dalam penelitian ini. Adapun data data peralatan tersebut
sebagai berikut.

Pompa feed water


Untuk menghitung daya pompa feed water Wp diperlukan data-data untuk
menentukan entalphi air masuk h3 pada titik 3 dan keluar dari pompa h4 pada titik 4
serta laju aliran massa fluida yang melewati pompa. Data pompa feed water yang
digunakan berdasarkan sumber dari buku manual dengan penjelasan sesuai tabel di
bawah ini.

Tabel III-1 Data spesifikasi pompa feed water


Type

FK6D32MDG600-240VM

No. of stages

6
UNIT

Rated

Flow rate(in)

m3/h

562

Flow rate(out)

m /h

517

head

2256

Efficiency

84

Pressure(intermediate)

MPa

11.16

Power absorbed at duty

kW

3605

Temperature

169.1
3

Density

kg/m

898

NPSHr

28.26

speed

rpm

5156

Ketel uap
Untuk menghitung laju perpindahan kalor dari sumber energi ke dalam fluida
kerja per unit massa yang melalui ketel uap Qin diperlukan data-data untuk
menentukan entalphi kondensat di dalam ketel uap h4 pada titik 4 dan entalphi uap
keluar ketel uap h1 pada titik 1 serta laju aliran massa uap m yang mengalir di ketel
uap. Data ketel uap yang digunakan berdasarkan sumber dari buku manual dengan
penjelasan sesuai tabel di bawah ini.

31

Tabel III-2 Data spesifikasi ketel uap


Boiler Model

DG1025/17.4 II13

Manufacturer

Dong Fang Boiler Group Co., Ltd.

Main steam flow

1025t/h

Superheater outlet steam pressure

17.40 MPa

Superheater outlet steam temperature

541 C

Economizer inlet feedwater temperature

280.6 C

Turbin
Untuk menghitung laju kerja yang dihasilkan per unit massa uap yang melalui
turbin Wt diperlukan data-data untuk menentukan entalphi uap masuk turbin h1 pada
titik 1 dan entalphi fluida pada kondensor h2 pada titik 2 serta laju aliran massa fluida
kerja m yang melewati turbin. Data turbin yang digunakan berdasarkan sumber dari
buku manual dengan penjelasan sesuai tabel di bawah ini.

Tabel III-3 Data spesifikasi turbin


Rate output

315 MW

Steam flow at the inlet of MSV

976.19 t/h

Steam pressure at the inlet of MSV

16.67MPa

Steam temperature at the inlet of MSV

538 C

Condensate flow

588.286t/h (Not including


BFP-turbine flow
38.998t/h)

Back pressure of condenser

0.09 MPa

Efficiency

85%

Kondensor
Untuk menghitung perpindahan energi dari fluida kerja ke air pendingin per
unit massa fluida kerja yang melalui kondensor Qout diperlukan data-data untuk
menentukan entalphi air dari kondensor h2 pada titik 2 dan entalphi air masuk pompa
h3 pada titik 3 serta laju aliran massa dari fluida kerja m yang mengalir. Data

32

kondensor yang digunakan berdasarkan sumber dari buku manual dengan penjelasan
sesuai tabel di bawah ini.
Tabel III-4 Data spesifikasi kondensor
Inlet pressure

0.09 MPa

Inlet temperatur

60 C

Outlet pressure

0.09 MPa

Outlet temperatur

50 C

2. Data Peralatan Sistem Desalinasi


Sistem desalinasi (LAMPIRAN C) merupakan peralatan pendukung dari
peralatan utama di Pusat Listrik Tenaga Uap. Sistem desalinasi membutuhkan energi
untuk menguapkan air laut yang kemudian dikondensasi sehingga menghasilkan feed
water yang digunakan di dalam siklus PLTU. Sistem pendukung ini dapat dijelaskan
dengan skema seperti di bawah ini.

Gambar III-3 skema sistem desalinasi


Dari skema di atas perlu dilengkapi data data peralatan desalinasi untuk
menghitung kebutuhan energi yang diperlukan selama sistem berlangsung. Dan dapat
digunakan untuk mengetahui jumlah produksi air destilasi yang dihasilkan selama
proses berlangsung. Peralatan desalinasi yang digunakan adalah Multi Effect
Desalinasi (MED) (LAMPIRAN C) yang terdiri dari beberapa evaporator yang
dirangkai seri untuk menghasilkan air destilasi. Proses pemanasan air laut bertingkat

33

dari efek ke-1 sampai efek ke-7 hanya dengan mengalirkan uap di efek ke-1. Secara
umum peralatan dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar III-4 Peralatan Desalinasi


Adapun siklus dan data data peralatan desalinasi sesuai penjelasan di bawah
ini. Proses pertama adalah mengalirkan air laut ke proses desalinasi. Pompa A
mengalirkan air laut menuju kondensor MED, kemudian dengan pompa B air laut
dialirkan ke evaporator tingkat 4-7 dan terakhir air laut dipompakan dengan pompa C
evaporator tingkat 1-3. Proses aliran air laut ini menggunakan 3 tingkat pompa yang
berbeda untuk menyesuaikan jumlah aliran yang diperlukan disetiap tingkat
evaporator. Namun dalam pengkajian ini data yang digunakan adalah jumlah total
aliran air laut setiap jam. Penjelasan siklus mengalirkan air laut pada proses
desalinasi dengan multi effect desalinasi dapat dilihat (lampiran A) atau disketsa
berikut.

Kondensor

brine

Gambar III-5 Diagram aliran air laut pada proses desalinasi

34

Perhitungan proses desalinasi dengan multi effect desalination memerlukan


data tentang aliran air laut sesuai diagram di atas. Data yang diambil berasal dari
kondisi aktual di Pusat Listrik Tenaga Uap. Jumlah aliran air laut yang masuk setiap
evaporator berbeda-beda sesuai kebutuhan. Data aliran air laut menuju proses
desalinasi sesuai tabel berikut.
Tabel III-5 Data pasokan air laut menuju proses desalinasi
Lokasi

Rata-rata aliran (m3/s)

Kondensor

0.166

Tingkat 1

0.028

Tingkat 2

0.028

Tingkat 3

0.028

Tingkat 4

0.026

Tingkat 5

0.026

Tingkat 6

0.026

Tingkat 7

0.026

Data selanjutnya yang diperlukan untuk perhitungan proses desalinasi adalah


data air keluar / brine. Brine merupakan air laut yang tidak menguap saat proses
desalinasi berlangsung. Brine selanjutnya dibuang dari evaporator menuju ke laut
dengan pompa D. Data aliran brine sesuai tabel berikut.
Tabel III 6 Data brine proses desalinasi
Lokasi

Rata-rata aliran (m3/s)

Kondensor

0.062

Tingkat 1

0.022

Tingkat 2

0.022

Tingkat 3

0.022

Tingkat 4

0.021

Tingkat 5

0.021

Tingkat 6

0.021

Tingkat 7

0.021

35

Proses kedua adalah pembuatan kondisi vakum. Kondisi evaporator dari


tekanan ruangan diubah menjadi tekanan vakum dengan bantuan ejector. Dengan
kondisi ini proses penguapan air laut membutuhkan energi lebih kecil. Air laut dapat
menguap dengan pemanasan dibawah temperatur 100 C. Proses pembuatan vakum
dilakukan dengan dua ejector, yaitu ejector untuk vakum awal dan ejector saat proses
desalinasi berjalan normal.

uap
ekstraksi
turbin

ejector awal

ejector
tiga
tingkat
Kondensor

Gambar III-6 Diagram proses vakum pada desalinasi


Ejector awal digunakan untuk proses pembuatan vakum awal. Dari kondisi
setiap evaporator tekanan ruangan. Kemudian diubah menjadi tekanan vakum. Proses
pembuatan vakum memanfaatkan uap dari ekstraksi turbin. Katup yang menuju
evaporator 1 dan menuju ejector tiga tingkat ditutup sehingga proses pembuatan
vakum awal menjadi maksimal. Proses ini sesuai gambar dibawah ini.

Gambar III-7 Proses vakum awal

Ejector tiga tingkat digunakan saat kondisi evaporator telah vakum. Ejecktor
ini digunakan untuk mempertahankan kondisi vakum saat proses desalinasi

36

berlangsung. Katup menuju ejector awal ditutup sehingga uap ekstraski turbin masuk
ke ejector tiga tinggat sehingga proses vakum saat proses desalinasi berlangsung
menjadi maksimal. Proses ini sesuai gambar dibawah ini.

Gambar III-8 Proses vakum berkelanjutan


Proses ketiga mengalirkan uap dari ekstraksi turbin ke evaporator. Uap dari
turbin hanya masuk ke evaporator 1. Dan uap yang menuju evaporator 2 merupakan
hasil pemanasan air laut dari evaporator 1 terus berlangsung secara berurutan sampai
evaporator 7 dan kondensor multi effect desalination. Hal ini yang menjadi alasan
proses desalinasi dengan MED digunakan dalam skala industri besar. Untuk
memahami diagram aliran uap dapat dilihat pada gambar berikut.
Uap
ekstraksi
turbin

TVC

uap

Kondensor

uap

uap

uap

uap

uap

Gambar III-9 Diagram aliran uap pada proses desalinasi

uap

37

Setelah ketiga proses telah dilakukan yaitu mengalirkan air, pembuatan


vakum dan mengalirkan uap. Maka proses desalinasi sedang berlangsung. Uap
ekstraksi turbin yang masuk ke evaporator 1 didinginkan oleh air laut sehingga
berubah fasa menjadi cairan. Kemudian air laut yang dipanaskan oleh uap ekstraksi
turbin berubah fasa menjadi uap untuk memanaskan air laut di evaporator 1. Proses
yang terjadi di dalam evaporator 1 sesuai skema dan gambar berikut.

Gambar III-10 Skema desalinasi di evaporator 1

Gambar III-11 Proses desalinasi di evaporator 1

Pada evaporator 2, air laut yang menguap dari evaporator 1 masuk ke


evaporator 2 didinginkan oleh air laut sehingga berubah fasa menjadi cairan.
Kemudian air laut yang dipanaskan oleh uap dari evaporator 1 berubah fasa menjadi
uap untuk memanaskan air laut di evaporator 3. Proses yang terjadi di dalam
evaporator 2 sesuai gambar berikut.

38

Gambar III-12 Skema desalinasi di evaporator 2

Gambar III-13 Proses desalinasi di evaporator 2


Pada evaporator 3, air laut yang menguap dari evaporator 2 masuk ke
evaporator 3 didinginkan oleh air laut sehingga berubah fasa menjadi cairan.
Kemudian air laut yang dipanaskan oleh uap dari evaporator 2 berubah fasa menjadi
uap untuk memanaskan air laut di evaporator 4. Proses yang terjadi di dalam
evaporator 3 sesuai gambar berikut.

Gambar III-14 Skema desalinasi di evaporator 3

39

Gambar III-15 Proses desalinasi di evaporator 3

Pada evaporator 4, air laut yang menguap dari evaporator 3 masuk ke


evaporator 4 didinginkan oleh air laut sehingga berubah fasa menjadi cairan.
Kemudian air laut yang dipanaskan oleh uap dari evaporator 3 berubah fasa menjadi
uap untuk memanaskan air laut di evaporator 5. Proses yang terjadi di dalam
evaporator 4 sesuai gambar berikut.

Gambar III-16 Skema desalinasi di evaporator 4

Gambar III-17 Proses desalinasi di evaporator 4

40

Pada evaporator 5, air laut yang menguap dari evaporator 4 masuk ke


evaporator 5 didinginkan oleh air laut sehingga berubah fasa menjadi cairan.
Kemudian air laut yang dipanaskan oleh uap dari evaporator 4 berubah fasa menjadi
uap untuk memanaskan air laut di evaporator 6. Proses yang terjadi di dalam
evaporator 5 sesuai gambar berikut.

Gambar III-18 Skema desalinasi di evaporator 5

Gambar III-19 Proses desalinasi di evaporator 5

Pada evaporator 6, air laut yang menguap dari evaporator 5 masuk ke


evaporator 6 didinginkan oleh air laut sehingga berubah fasa menjadi cairan.
Kemudian air laut yang dipanaskan oleh uap dari evaporator 5 berubah fasa menjadi
uap untuk memanaskan air laut di evaporator 7. Proses yang terjadi di dalam
evaporator 6 sesuai gambar berikut.

41

Gambar III-20 Skema desalinasi di evaporator 6

Gambar III-21 Proses desalinasi di evaporator 6

Pada evaporator 7, air laut yang menguap dari evaporator 6 masuk ke


evaporator 7 didinginkan oleh air laut sehingga berubah fasa menjadi cairan.
Kemudian air laut yang dipanaskan oleh uap dari evaporator 6 berubah fasa menjadi
uap untuk memanaskan air laut di kondensor. Proses yang terjadi di dalam
evaporator 7 sesuai gambar berikut.

Gambar III-22 Skema desalinasi di evaporator 7

42

Gambar III-23 Proses desalinasi di evaporator 7

Pada kondensor, air laut yang menguap dari evaporator 7 masuk ke


kondensor didinginkan oleh air laut sehingga berubah fasa menjadi cairan. Pada
evaporator ini sangant berbeda dengan evaporator pada tingkat 1-7. Uap pada
evaporator ini sebagian besar atau hampir semua ditarik oleh ejector dan kemudian
masuk kembali ke evaporator 1. Sehingga fungsi evaporator ini sama seperti
kondensor. Proses yang terjadi di dalam evaporator sesuai gambar berikut.

Gambar III-24 Skema desalinasi di kondensor

43

Gambar III-25 Gambar desalinasi di kondensor

Pertukaran panas antara uap dan air laut menghasilkan air kondensat. Air ini
yang akan ditampung dan digunakan di PLTU sebagai feed water pada ketel uap
karena memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Jumlah produk air kondensat
minimal sama atau lebih besar dari jumlah feed water yang hilang selama proses di
PLTU berlangsung. Adapun data produk air kondensat setiap tingkat sebagai berikut.
Tabel III 7 Data produk air kondensat
Lokasi

Rata-rata aliran (m3/s)

Kondensor

0.003

Tingkat 1

0.069

Tingkat 2

0.006

Tingkat 3

0.006

Tingkat 4

0.005

Tingkat 5

0.005

Tingkat 6

0.005

Tingkat 7

0.005

44

D. Perhitungan
Untuk menentukan kebutuhan energi untuk proses desalinansi untuk
penambahan air ketel / make up water pada unit PLTU dengan daya 315 MW
digunakan data-data peralatan utama pada PLTU yang sesuai siklus rankine dan
diperlukan data-data peralatan desalinasi sebagai alat penghasil air penambah / make
up water. Data peratalan utama yaitu pompa feed water diketahui pada tabel 3.1.
Data ketel uap diketahui pada tabel 3.2. Data turbin diketahui pada tabel 3.3. Data
kondensor diketahui pada tabel 3.4. Dan data peralatan desalinasi diketahui pada
tabel 3.5, 3.6, 3.7.
Untuk menentukan kebutuhan energi untuk proses desalinansi untuk
penambahan air ketel pada unit PLTU dengan daya 315 MW dilakukan beberapa
perhitungan. Pertama perhitungan aliran feed water. Kedua perhitungan kerugian
feed water selama siklus PLTU berlangsung. ketiga perhitungan kebutuhan energi
untuk proses desalinasi.

1. Aliran Feed Water Selama Siklus PLTU Berlangsung


Untuk menentukan aliran feed water selama siklus PLTU berlangsung. Harus
ada perbandingan antara aliran feed water ideal dan aktual. Aliran ideal diasumsikan
tidak ada kerugian selama proses berlangsung. fluida kerja yang melewati peralatan
pompa, ketel uap, turbin dan kondensor tidak ada terbuang. Untuk menentukan aliran
feed water ideal digunakan rumus berikut.
Laju kerja siklus PLTU

Wsiklus = Wt - Wp ...................(3.1)
Keseimbangan massa dan energi untuk mengatur aliran disekitar turbin dan
pompa sesuai persamaan 1.3 dan 1.1

h1 h2 dan

h4 h3

45

Sehingga diperoleh persamaan untuk menentukan laju aliran massa pada


siklus PLTU sesuai persamaan (3.1) berikut.

...................(3.2)

2. Kerugian Feed Water Selama Siklus PLTU Berlangsung


Kerugian air selama siklus berlangsung akibat sambungan, air buangan ketel
uap, uap yang tidak terkondensasi harus ditambah untuk menjaga kestabilan PLTU.
Kerugian air antara 0.5 1.5 % dari aliran total feed water PLTU. Namun dalam
perhitungan ini diambil 1.5% kerugian feed water. Maka kerugian feed water selama
siklus PLTU berlangsung sesuai persamaan berikut.
Kerugian feed water = m x 1.5%

3. Perhitungan Kebutuhan Energi Proses Desalinasi


Menentukan tingkat efisien dari proses desalinasi untuk penambahan air ketel
pada unit PLTU dengan daya 315 MW. Perhitungan menghasilkan data jumlah
produksi air kondensat yang akan menanbah feed water. Dan kebutuhan energi yang
dibutuhkan untuk menghasilkan air kondensat tersebut. Untuk perhitungan
digunakan data dari tabel III-5,III-6,III-7.
Proses desalinasi yang akan dilakukan pengkajian secara umum berisi data
aliran air masuk, aliran uap masuk dan aliran produk air kondensat. Temperatur air
laut masuk evaporator, temperatur keluar air laut, temperatur uap masuk, debit air
laut yang masuk evaporator, debit air laut yang masuk evaporator. Kondisi tersebut
sesuai dengan LAMPIRAN D.

BAB IV
PERHITUNGAN DAN ANALISIS

i. Perhitungan kebutuhan feed water dan air tambah/ make up water


Untuk menentukan kebutuhan feed water dan make up water dilakukan
beberapa tahap perhitungan. Pertama menetukan daya yang bekerja di turbin (W t).
Kedua menentukan daya yang bekerja di pompa (Wp). Sehingga daya siklus (Wnet)
keseluruhan dapat ditentukan. Setelah diketahui Wnet, maka kebutuhan feed water
(feed water) dan make up water (make up water) dapat ditentukan.
Menentukan daya turbin (Wt)
Diketahui

: T1 = 538 C (superheated)
P1 = 160 bar
T2 = 60 C (saturated)
m = 976.19 t/h = 271.16 kg/s

Berdasarkan tabel uap LAMPIRAN F superheated water vapor, dengan


interpolasi maka entalphi pada turbin (h1) adalah
Tabel IV-1 Data tabel uap
T (C )

h (kJ/kg)

520 C

3353.3 kJ/kg

538 C

h1

560 C

3465.4 kJ/kg

40h1

= 136149.8 kJ/kg

h1

= 3403.74 kJ/kg
46

47

Berdasarkan tabel uap LAMPIRAN F saturated water:temperature, dengan


interpolasi maka entalphi pada kondensor (h2) adalah 2609.6 kJ/kg.
Maka
h

= h1 - h2
= 3403.74 kJ/kg - 2609.6 kJ/kg
= 794.14 kJ/kg

Sehingga daya turbin (Wt) adalah


= m . h

Wt

= 271.16 kg/s x 794.14 kJ/kg


= 215342.09 kJ/s

Menentukan daya pompa (Wp)


Diketahui

: P3 = 0.9 bar (saturated)


P4 = 111 bar (saturated)
m = 517 m3/h
density = 898 kg/m3
maka m = 517 m3/h x 898 kg/m3 x 1/3600 s
m = 128.96 kg/s

Berdasarkan tabel uap LAMPIRAN F saturated water:pressure, dengan


interpolasi maka entalphi pada ketel uap (h4) adalah
Tabel IV-2 Data tabel uap

=
10h4

= 14541.2 kJ/kg

P (bar)

h (kJ/kg)

110 bar

1450.1 kJ/kg

111 bar

h4

120 bar

1491.3 kJ/kg

48

h4

= 1454.22 kJ/kg
Berdasarkan tabel uap LAMPIRAN F saturated water:temperature, dengan

interpolasi maka entalphi pada pompa (h3) adalah 405.15 kJ/kg.


Maka
h

= h4 h3
= 1454.22 kJ/kg - 405.15 kJ/kg
= 1049.07 kJ/kg

Sehingga daya pompa (Wp) adalah


Wp

= m . h
= 128.96 kg/s x 1049.07kJ/kg
= 135288.06 kJ/s

Wnet

= Wt - Wp
= 215342.09 kJ/s - = 135288.06 kJ/s
= 80054.02 kJ/s

Untuk menetukan kebutuhan feed water (m) digunakan data Wnet/siklus h1; h2;
h3; h4 dengan perhitungan sebagai berikut

m = 80054.02 kJ/s / (3403.74 kJ/kg - 2609.6 kJ/kg) (1454.22 kJ/kg - 405.15 kJ/kg)
= 80054.02 kJ/s / (794.14 kJ/kg -1049.07 kJ/kg)
= 80054.02 kJ/s / 254.93 kJ/kg
= 314 kg/s
= 11.30 x 105 kg/h
= 1130 T/h

Untuk menentukan kebutuhan air tambah pada siklus PLTU berdasarkan


penjelasan pada BAB I bagian H. bahwa kebutuhan air yang harus ditambah selama
siklus PLTU berlangsung adalah 0.5 sampai 1.5 persen. Maka dalam pengkajian ini

49

digunakan data kebutuhan air yang harus ditambah sebesar 1.5 dari Aliran feed water
() dengan perhitungan sebagai berikut

Kebutuhan air tambah

= Aliran feed water ideal (ideal) X 1.5 %


= 1130 T/h x 1.5%
= 16.95 T/h

ii. Perhitungan Energi Proses Desalinasi


Untuk menetukan kebutuhan energi proses desalinasi. Dilakukan perhitungan
dengan tiga metode yaitu kebutuhan energi pada tekanan atmosfer, kebutuhan energi
pada tekanan vakum dengan pompa vakum dan kebutuhan energi pada tekanan
vakum dengan steam jet ejector.

1. Proses desalinasi pada tekanan atmosfer


Untuk menghasilkan air tambah 16.95 T/h dilakukan pemanasan pada
tekanan atmosfer. Maka kebutuhan energi adalah
Diketahui

: m = 16.95 T/h = 4.71 kg/s


T3 = 30 C
T1 = 100 C

Berdasarkan tabel uap LAMPIRAN F saturated water:temperature, maka


entalphi air pada tekanan atmosfer (h3) adalah 125.78 kJ/kg dan air akan menguap
pada temperatur T2 dengan enthalphi (h1) adalah 2676.1 kJ/kg.
Maka
h

= h1 h3
= 2676.1 kJ/kg - 125.78 kJ/kg
= 2550.32 kJ/kg
Sehingga kebutuhan energi untuk menguapkan air pada temperatur T3

menjadi T1 sejumlah m pada tekanan atmosfer adalah


Wdesalinasi tekanan atmosfer = m . h
= 4.71 kg/s x 2550.32 kJ/kg
= 12012 kJ/s

50

2. Proses desalinasi pada tekanan vakum dengan pompa vakum


Berdasarkan gambar III-10; III-12; III-14; III-16; III-18; III-20; III-22; III-24.
Maka rata-rata tekanan kerja evaporator adalah 0.15 bar untuk untuk membuat air
laut dengan temperatur 30 C menjadi uap pada 60 C. Sehingga untuk menentukan
kebutuhan energi proses desalinasi pada tekanan vakum dengan pompa vakum sesuai
penjelasan berikut.

Diketahui

: T3 = 30 C
T1 = 60 C
P1

= 0.15 bar

= 4.71 kg/s

Berdasarkan tabel uap LAMPIRAN F saturated water:temperature, maka


entalphi air pada tekanan atmosfer (h3) adalah 125.78 kJ/kg dan air akan menguap
pada temperatur T2 dengan enthalphi (h1) adalah 2597.2kJ/kg.
Tabel IV-3 Data tabel uap
P (bar)

h (kJ/kg)

0.1 bar

2584.7 kJ/kg

0.15 bar

h1

0.2 bar

2609.7 kJ/kg

0.1h1 = 259.72kJ/kg
h1

= 2597.2 kJ/kg
Maka

= h1 h3
= 2597.2 kJ/kg - 125.78 kJ/kg

51

= 2471.42 kJ/kg
Sehingga kebutuhan energi untuk menguapkan air pada temperatur T3
menjadi T1 sejumlah m pada tekanan vakum dengan pompa adalah
Wdesalinasi tekanan atmosfer = m . h
= 4.71 kg/s x 2471.42 kJ/kg
= 11640.38 kJ/s

3. Proses desalinasi pada tekanan vakum dengan steam jet ejector


Untuk menentukan kebutuhan energi proses desalinasi dengan tekanan vakum
dengan steam jet ejector digunakan data pada gambar II-9 rekomendasi jumlah
ejector untuk proses vakum. Berdasarkan gambar III-8 tekanan uap untuk menarik
ruangan menjadi vakum (steam pressure) adalah 8 bar. Sehingga dapat ditentukan
kondisi vakum pada

a) Single stage
Dengan Psteam pressur adalah 8 bar, penurunan tekanan 0.87 bar dari tekanan
atmosfer
Jika P atm = 1.014 bar
Maka kondisi vakum

= 1.014 bar - 0.87 bar


= 0.144 bar

Pada kondisi tekanan 0.144 bar air laut dengan temperatur 30 C akan lebih
cepat mendidih. Sehingga untuk menghasilkan air tambah 4.71 kg/s hanya
membutuhkan energi yang sangat sedikit sesuai penjelasan berikut.
Diketahui

: P1 = 0.144 bar
: T3 = 30 C
: m = 4.71 kg/s

Berdasarkan tabel uap LAMPIRAN F saturated water:temperature, maka


entalphi air pada tekanan atmosfer (h3) adalah 125.78 kJ/kg dan air akan menguap
pada temperatur P2 dengan enthalphi (h1) adalah 2595.7 kJ/kg.

52

Tabel IV-4 Data tabel uap


P (bar)

h (kJ/kg)

0.1 bar

2584.7 kJ/kg

0.144 bar

h1

0.2 bar

2609.7 kJ/kg

0.1h1 = 259.57 kJ/kg


h1

= 2595.7 kJ/kg

Maka
h

= h1 h3
= 2595.7 kJ/kg - 125.78 kJ/kg
= 2469.92 kJ/kg
Sehingga kebutuhan energi untuk menguapkan air pada temperatur T3

menjadi T1 sejumlah m pada tekanan vakum dengan steam jet ejector adalah
Wdesalinasi steam jet ejector 1 = m . h
= 4.71 kg/s x 2469.92 kJ/kg
= 11633.32 kJ/s

b) Two stage
Dengan Psteam pressur adalah 8 bar, penurunan tekanan 0.98 bar dari tekanan
atmosfer
Jika P atm = 1.014 bar
Maka kondisi vakum

= 1.014 bar - 0.98 bar


= 0..034 bar

53

Pada kondisi tekanan 0..034 bar air laut dengan temperatur 30 C akan lebih
cepat mendidih. Sehingga untuk menghasilkan air tambah 4.71 kg/s hanya
membutuhkan energi yang sangat sedikit sesuai penjelasan berikut.
Diketahui

: P1 = 0.034 bar
: T3 = 30 C
: m = 4.71 kg/s

Berdasarkan tabel uap LAMPIRAN F saturated water:temperature, maka


entalphi air pada tekanan atmosfer (h3) adalah 125.78 kJ/kg dan air akan menguap
pada temperatur P2 dengan enthalphi (h1) adalah 2548.64 kJ/kg.
Maka
h

= h1 h3
= 2548.64 kJ/kg - 125.78 kJ/kg
= 2422.86 kJ/kg
Sehingga kebutuhan energi untuk menguapkan air pada temperatur T3

menjadi T1 sejumlah m pada tekanan vakum dengan steam jet ejector adalah
Wdesalinasi steam jet ejector 2 = m . h
= 4.71 kg/s x 2422.86 kJ/kg
= 11411.67 kJ/s

iii. Menentukan Kebutuhan Energi untuk Proses Multi Effect Desalinasi


Untuk menentukan kebutuhan energi desalinasi pada tekanan vakum.
Dilakukan perhitungan peralatan desalinasi setiap tingkat sesuai gambar IV-1 atau
LAMPIRAN D.

Gambar IV-1 Skema proses desalinasi tekanan vakum

54

Untuk menentukan energi pada tingkat 1 MED diketahui jumlah air laut
masuk 28.72 kg/s dengan temperatur 32 C dipanaskan menjadi 55 C, maka nilai
entalphi adalah 134.09 kJ/kg dan 230.25 kJ/kg. Jumlah air laut masuk 28.72 kg/s
dengan temperatur 55 C dipanaskan menjadi 63 C, maka nilai entalphi adalah
230.25 kJ/kg dan 263.74 kJ/kg. Jumlah air brine 22.57 kg/s dengan temperatur 63 C
didinginkan menjadi 52 C, maka nilai entalphi adalah 263.74 kJ/kg dan 217.7
kJ/kg. Jumlah air kondensat 7.07 kg/s dengan temperature 68 C didinginkan
menjadi 52 C, maka nilai entalphi adalah 284.68 kJ/kg dan 217.7 kJ/kg. Sehingga
laju perpindahan kalor pada tingat 1 adalah

Qin1

= air laut (h55C h32C)


= 28.72 kg/s (230.25 134.09) kJ/kg
= 28.72 x 108.7
= 3121.86 kJ/s

Qin2

= air laut (h63C h55C)


= 28.72 kg/s (263.74 230.25) kJ/kg
= 28.72 x 33.49
= 961.83 kJ/s

Qout1

= produk (h63C h61C)


= 6.15 kg/s (263.74 255.35) kJ/kg
= 6.15 x 8.39
= 51.53 kJ/s

Qout2

= brine (h63C h52C)


= 22.57 kg/s (263.74 217.7) kJ/kg
= 22.57 x 46.04
= 1039.12 kJ/s

55

Qout3

= kondensat (h68C h52C)


= 7.07 kg/s (284.68 217.7) kJ/kg
= 7.07 x 66.98
= 473.54 kJ/s

Untuk menentukan energi pada tingkat 2 MED diketahui jumlah air laut
masuk 28.72 kg/s dengan temperatur 32 C dipanaskan menjadi 55 C, maka nilai
entalphi adalah 134.09 kJ/kg dan 230.25 kJ/kg. Jumlah air laut masuk 28.72 kg/s
dengan temperatur 55 C dipanaskan menjadi 61 C, maka nilai entalphi adalah
230.25 kJ/kg dan 255.36 kJ/kg. Jumlah air brine 22.57 kg/s dengan temperatur 61 C
didinginkan menjadi 52 C, maka nilai entalphi adalah 255.36 kJ/kg dan 217.7
kJ/kg. Jumlah air kondensat 7.07 kg/s dengan temperature 63 C didinginkan
menjadi 52 C, maka nilai entalphi adalah 263.74kJ/kg dan 217.7 kJ/kg. Sehingga
laju perpindahan kalor pada tingat 2 adalah

Qin1

= air laut (h55C h32C)


= 28.72 kg/s (230.25 134.09) kJ/kg
= 28.72 x 25.11
= 3121.86 kJ/s

Qin2

air laut (h61C h55C)


= 28.72 kg/s (255.36 230.25) kJ/kg
= 28.72 x 25.11
= 721.15 kJ/s

Qout1

= produk (h61C h52C)


= 6.15 kg/s (255.35 217.7) kJ/kg
= 6.15 x 37.65
= 849.98 kJ/s

Qout2

= brine (h61C h52C)


= 22.57 kg/s (255.35 217.7) kJ/kg

56

= 22.57 x 37.65
= 849.98 kJ/s

Qout3

= kondensat (h63C h52C)


= 6.15 kg/s (263.74 217.7) kJ/kg
= 6.15 x 46.04
= 283.14kJ/s

Untuk menentukan energi pada tingkat 3 MED diketahui jumlah air laut
masuk 28.72 kg/s dengan temperatur 32 C dipanaskan menjadi 55 C, maka nilai
entalphi adalah 134.09 kJ/kg dan 230.25 kJ/kg. Jumlah air laut masuk 28.72 kg/s
dengan temperatur 55 C dipanaskan menjadi 58 C, maka nilai entalphi adalah
230.25 kJ/kg dan 242.36 kJ/kg. Jumlah air brine 22.57 kg/s dengan temperatur 58 C
didinginkan menjadi 52 C, maka nilai entalphi adalah 242.36 kJ/kg dan 217.7
kJ/kg. Jumlah air kondensat 6.15 kg/s dengan temperature 61 C didinginkan
menjadi 52 C, maka nilai entalphi adalah 255.36 kJ/kg dan 217.7 kJ/kg. Sehingga
laju perpindahan kalor pada tingat 3 adalah

Qin1

= air laut (h55C h32C)


= 28.72 kg/s (230.25 134.09) kJ/kg
= 28.72 x 25.11
= 3121.86 kJ/s

Qin2

air laut (h58C h55C)


= 28.72 kg/s (242.36 230.25) kJ/kg
= 28.72 x 12.11
= 247.79 kJ/s

Qout1

= produk (h58C h52C)


= 5.13 kg/s (242.36 217.7) kJ/kg
= 5.13 x 24.66
= 126.5 kJ/s

57

Qout2

= brine (h58C h52C)


= 22.57 kg/s (242.36 217.7) kJ/kg
= 22.57 x 24.66
= 556.57 kJ/s

Qout3

= kondensat (h61C h52C)


= 6.15 kg/s (255.36 217.7) kJ/kg
= 6.15 x 38.16
= 234.68kJ/s

Untuk menentukan energi pada tingkat 4 MED diketahui jumlah air laut
masuk 26.67 kg/s dengan temperatur 29 C dipanaskan menjadi 32 C, maka nilai
entalphi adalah 121.55 kJ/kg dan 134.09 kJ/kg. Jumlah air laut masuk 26.67 kg/s
dengan temperatur 32 C dipanaskan menjadi 54 C, maka nilai entalphi adalah
134.09 kJ/kg dan 266.07 kJ/kg. Jumlah air brine 21.54 kg/s dengan temperatur 54 C
didinginkan menjadi 52 C, maka nilai entalphi adalah 266.07 kJ/kg dan 217.7
kJ/kg. Jumlah air kondensat 6.15 kg/s dengan temperature 58 C didinginkan
menjadi 52 C, maka nilai entalphi adalah 242.36 kJ/kg dan 217.7 kJ/kg. Sehingga
laju perpindahan kalor pada tingat 4 adalah

Qin1

= air laut (h32C h29C)


= 26.67 kg/s (134.09 121.55) kJ/kg
= 26.67 x 12.54
= 334.44 kJ/s

Qin2

air laut (h54C h32C)


= 26.67 kg/s (266.07 134.09) kJ/kg
= 26.67 x 131.98
= 2453.10 kJ/s

Qout1

= produk (h54C h52C)


= 5.13 kg/s (226.07 217.7) kJ/kg

58

= 5.13 x 8.37
= 42.93 kJ/s

Qout2

= brine (h53C h52C)


= 21.54 kg/s (226.07 217.7) kJ/kg
= 22.57 x 8.37
= 188.91 kJ/s

Qout3

= kondensat (h58C h52C)


= 5.13 kg/s (242.36 217.7) kJ/kg
= 6.15 x 24.66
= 126.5 kJ/s

Untuk menentukan energi pada tingkat 5 MED diketahui jumlah air laut
masuk 26.67 kg/s dengan temperatur 29 C dipanaskan menjadi 32 C, maka nilai
entalphi adalah 121.55 kJ/kg dan 134.09 kJ/kg. Jumlah air laut masuk 26.67 kg/s
dengan temperatur 32 C dipanaskan menjadi 53 C, maka nilai entalphi adalah
134.09 kJ/kg dan 221.88 kJ/kg. Jumlah air brine 21.54 kg/s dengan temperature 53
C didinginkan menjadi 52 C, maka nilai entalphi adalah 221.88 kJ/kg dan 217.7
kJ/kg. Jumlah air kondensat 6.15 kg/s dengan temperature 54 C didinginkan
menjadi 52 C, maka nilai entalphi adalah 226.07 kJ/kg dan 217.7 kJ/kg. Sehingga
laju perpindahan kalor pada tingat 5 adalah

Qin1

= air laut (h32C h29C)


= 26.67 kg/s (134.09 121.55) kJ/kg
= 26.67 x 12.54
= 334.44 kJ/s

Qin2

air laut (h53C h32C)


= 26.67 kg/s (221.88 134.09) kJ/kg
= 26.67 x 87.79
= 2341.35 kJ/s

59

Qout1

= produk (h53C h52C)


= 5.13 kg/s (221.88 217.7) kJ/kg
= 5.13 x 4.18
= 21.44 kJ/s

Qout2

= brine (h53C h52C)


= 21.54 kg/s (221.88 217.7) kJ/kg
= 21.54 x 4.18
= 90.03kJ/s

Qout3

= kondensat (h54C h52C)


= 5.13 kg/s (226.07 217.7) kJ/kg
= 6.15 x 8.37
= 42.93 kJ/s

Untuk menentukan energi pada tingkat 6 MED diketahui jumlah air laut
masuk 26.67 kg/s dengan temperatur 29 C dipanaskan menjadi 32 C, maka nilai
entalphi adalah 121.55 kJ/kg dan 134.09 kJ/kg. Jumlah air laut masuk 26.67 kg/s
dengan temperatur 32 C dipanaskan menjadi 51 C, maka nilai entalphi adalah
134.09 kJ/kg dan 213.52 kJ/kg. Jumlah air brine 21.54 kg/s dengan temperatur 52 C
didinginkan menjadi 51 C, maka nilai entalphi adalah 217.7 kJ/kg dan 213.52
kJ/kg. Jumlah air kondensat 5.13 kg/s dengan temperature 53 C didinginkan
menjadi 51 C, maka nilai entalphi adalah 221.88 kJ/kg dan 213.52 kJ/kg. Sehingga
laju perpindahan kalor pada tingat 6 adalah

Qin1

= air laut (h32C h29C)


= 26.67 kg/s (134.09 121.55) kJ/kg
= 26.67 x 12.54
= 334.44 kJ/s

Qin2

air laut (h51C h32C)


= 26.67 kg/s (213.52 134.09) kJ/kg

60

= 26.67 x 79.43
= 2118.39 kJ/s

Qout1

= produk (h52C h51C)


= 5.13 kg/s (217.7 213.52) kJ/kg
= 5.13 x 4.18
= 21.44 kJ/s

Qout2

= brine (h52C h51C)


= 21.54 kg/s (217.7 213.52) kJ/kg
= 21.54 x 4.18
= 90.03kJ/s

Qout3

= kondensat (h53C h52C)


= 5.13 kg/s (221.88 217.7) kJ/kg
= 6.15 x 4.18
= 25.7 kJ/s

Untuk menentukan energi pada tingkat 7 MED diketahui jumlah air laut
masuk 26.67 kg/s dengan temperatur 29 C dipanaskan menjadi 32 C, maka nilai
entalphi adalah 121.55 kJ/kg dan 134.09 kJ/kg. Jumlah air laut masuk 26.67 kg/s
dengan temperatur 32 C dipanaskan menjadi 49 C, maka nilai entalphi adalah
134.09 kJ/kg dan 205.16 kJ/kg. Jumlah air brine 21.54 kg/s dengan temperatur 52 C
didinginkan menjadi 49 C, maka nilai entalphi adalah 217.7 kJ/kg dan 205.16
kJ/kg. Jumlah air kondensat 5.13 kg/s dengan temperature 51 C didinginkan
menjadi 49 C, maka nilai entalphi adalah 213.52 kJ/kg dan 205.16 kJ/kg. Sehingga
laju perpindahan kalor pada tingat 7 adalah

Qin1

= air laut (h32C h29C)


= 26.67 kg/s (134.09 121.55) kJ/kg
= 26.67 x 12.54
= 334.44 kJ/s

61

Qin2

air laut (h49C h32C)


= 26.67 kg/s (205.16 134.09) kJ/kg
= 26.67 x 71.07
= 1895.43 kJ/s

Qout1

= produk (h52C h49C)


= 3.08 kg/s (217.7 205.16) kJ/kg
= 3.08 x 12.54
= 38.62 kJ/s

Qout2

= brine (h52C h49C)


= 21.54 kg/s (217.7 205.16) kJ/kg
= 21.54 x 12.54
= 270.11 kJ/s

Qout3

= kondensat (h52C h51C)


= 5.13 kg/s (217.7 213.52 ) kJ/kg
= 6.13 x 4.18
= 25.62 kJ/s

Untuk menentukan energi pada kondensor MED diketahui jumlah air laut
masuk 170.28 kg/s dengan temperatur 29 C dipanaskan menjadi 32 C, maka nilai
entalphi adalah 121.55 kJ/kg dan 134.09 kJ/kg. Jumlah air brine 63.60 kg/s dengan
temperature 52 C didinginkan menjadi 29 C, maka nilai entalphi adalah 217.7
kJ/kg dan 121.55 kJ/kg. Jumlah air kondensat 3.08 kg/s dengan temperature 52C
didinginkan menjadi 49 C, maka nilai entalphi adalah 217.7 kJ/kg dan 205.16
kJ/kg. Sehingga laju perpindahan kalor pada kondensor adalah

Qin1

= air laut (h32C h29C)


= 170.28 kg/s (134.09 121.55) kJ/kg
= 170.28 x 12.54

62

= 2131.8 kJ/s

Qout2

= brine (h52C h49C)


= 63.60 kg/s (217.7 121.55) kJ/kg
= 63.60 x 96.15
= 6115.14 kJ/s

Qout3

= kondensat (h52C h49C)


= 3.08 kg/s (217.7 205.16 ) kJ/kg
= 3.08 x 12.54
= 38.62 kJ/s

Dari perhitungan di atas diperoleh data kebutuhan energi proses desalinasi


dengan tekanan vakum sebagai berikut
W = Qin Qout
Wtingkat 1

= 4135.22 kJ/s 5727.72 kJ/s


= - 1592.5 kJ/s

Wtingkat 2

= 3843 kJ/s 1210.36 kJ/s


= 2632.64 kJ/s

Wtingkat 3

= 3469.65 kJ/s 644.43 kJ/s


= 2825.22 kJ/s

Wtingkat 4

= 2787.54 kJ/s 307.83 kJ/s


= 2452.8 kJ/s

Wtingkat 5

= 2675.79 kJ/s 222.99 kJ/s


= 2452.8 kJ/s

Wtingkat 6

= 1560.99 kJ/s 85.76 kJ/s


= 2365.07 kJ/s

63

Wtingkat 6

= 1560.99 kJ/s 85.76 kJ/s


= 2365.07 kJ/s

Wkondensor

= 2131 kJ/s 6153.76 kJ/s


= - 4021.96 kJ/s

Wmulti effect desalination

= 8300.36 kJ/s
= 8.3 MW

iv. Proses desalinasi dengan kebutuhan energi paling kecil


Setelah melakukan perhitungan proses desalinasi dengan pada tekanan
atmosfer, pada tekanan vakum dengan pompa vakum, pada tekanan vakum dengan
steam jet ejector single stage dan double stage. Maka diperoleh data.

Tabel IV-5 Kebutuhan energi proses desalinasi


No

Proses desalinasi

P (bar)

h (kJ/kg)

Daya (kJ/s)

Tekanan atmosfer

2550.32

12012

Tekanan

vakum

0.15

2471.42

11640

dengan

pompa

0.144

2469.92

11633.32

0.034

2422.86

11411.67

(setiap stage/

(setiap stage/

8300.36

evaporator sesuai

evaporator sesuai

penjelasan pada

penjelasan pada

BAB IV- C)

BAB IV- C)

vakum
3

Tekanan
dengan

vakum
steam

jet

ejector single stage


4

Tekanan
dengan

vakum
steam

jet

ejector double stage


5

Tekanan

vakum

dengan multi effect


desalination

64

Sehingga selama proses PLTU berlangsung kebutuhan feed water 314 kg/s
akan mengalami kerugian 4.71 kg/s. dan proses desalinasi tekanan vakum dengan
dengan multi effect desalination yang membutuhkan energi paling kecil atau 30%
lebih kecil daripada proses deslinasi dengan tekanan atmosfer .

v. Effisiensi termal pada proses desalinasi


Sesuai perhitungan pada proses multi effect desalination dapat ditentukan
effisiensi termal sesuai persamaan (1.5) berikut.

x 100 %
=

x 100%

x 100%
= 0.65 X 100%
= 65 %

BAB V
KESIMPULAN
Dari perhitungan didapat data data tentang PLTU dengan daya 315 MW.
Data ini berfungsi untuk membandingkaan kondisi area tertentu pada Pusat Listrik
Tenaga Uap. Diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. PLTU dengan daya 315 MW membutuhkan jumlah feed water dalam
kondisi ideal sebanyak 314 kg/s.
2. Sehingga diperlukan air penambah ketel uap / make up water dalam
kondisi ideal sebanyak 4.71 kg/s.
3. Untuk menghasilkan air penambah ketel uap dengan desalinasi diperlukan

kebutuhan energi sebanyak 8300.36 kJ/s dengan multi effect desalination


atau 30% lebih kecil daripada proses deslinasi dengan tekanan atmosfer.
4. Effisiensi termal pada proses multi effect desalination adalah 65%.

SARAN

Sistem desalinasi yang diterapkan pada PLTU masih mempunyai beberapa


hal yang harus dilakukan perbaikan sebagai berikut :
1. Rugi-rugi yang terjadi selama proses dapat dikurangi dengan memeriksa
kembali sambungan pipa, kebocoran pengelasan dan kemampuan pompa
air laut.
2. Perlu dilakukan pemeriksaan peralatan multi effect desalination untuk

meningkatkan effisiensi termal.

DAFTAR PUSTAKA

1. Incropera, F.P., DeWitt, D.P., Bergman, T.L., Lavine, A.S (2007). Fundamentals
of Heat and Mass Transfer (7th ed). United State of America: John Wiley & Sons.
2. Goodall.P.M, 1981 The Efficient Use of Steam Westbury House

3. Maron,

J.M.,

Shapiro,

H.N

(2006).

Fundamentals

of

Engineering

th

Thermodynamics(5 ed). United State of America: John Wiley & Sons.

4. Cengel, Y.A, & Boles, M.A (2011). Thermodynamics: An Engineering Approach


(7th ed). United State of America: McGraw-Hill
5. El-Wakil M.M (1985). Powerplant Technology (1st ed). United State of Americ:
McGraw-Hill
6. Encyclopedia Amerian 1972

7. PLN udiklat Suralaya. Water Treatment

8. http://rakhman.net/2013/04/prinsip-kerja-kondensor.html

9. Seawater Desalination: Conventional and Renewable Energy Processes


10. http://arifiyan-budiman.blogspot.com/2012/01/normal-0-false-false-false-in-xnone-x.html

LAMPIRAN A
SKEMA PUSAT LISTRIK TENAGA UAP

TO DESALINATION

LAMPIRAN B
SIKLUS IDEAL REHEAT

LAMPIRAN C
GAMBAR MULTI EFFECT DESALINATION

LAMPIRAN D
SKEMA MULTI EFFECT DESALINATION

LAMPIRAN E
DIAGRAM MULLIER

LAMPIRAN F
TABEL UAP
Saturated Water (LiquidVapor): Temperature Table

Saturated Water (LiquidVapor): Pressure Table

Superheated Water Vapor

Anda mungkin juga menyukai