Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Cahaya dapat diperlakukan sebagai gelombang. Sama halnya dengan
gelombang mekanik, gelombang cahaya juga berinterferensi satu sama lain. Pada
dasarnya, interferensi yang terkait dengan gelombang cahaya muncul saat
terjadinya penggabungan dari medan elektromagnetik yang menyusun setiap
gelombang. Apabila cahaya dilewatkan melalui sebuah celah sempit dan cahaya
yang keluar tersebut digunakan untuk menerangi dua celah sempit berikutnya,
maka akan terbentuk sederet pita interferensi yang sejajar pada layar. Peristiwa ini
dapat dikatakan sebagai peristiwa interferensi.
Selain dapat berinterferensi, gelombang elektromagnetik juga dapat
mengalami pelenturan gelombang yang secara umum disebut dengan peristiwa
difraksi. Jika gelombang yang mengalami difraksi adalah gelombang cahaya,
maka peristiwa ini disebut dengan difraksi cahaya. Difraksi cahaya adalah
penyebaran atau pembelokan gelombang cahaya pada saat gelombang cahaya
dilewatkan pada celah sempit yang dimensinya seorde dengan panjang gelombang
tersebut. Gelombang cahaya yang telah terdifraksi, kemudian akan berinterferensi
satu sama lain sehingga menghasilkan pola gelap dan terang pada layar.
Celah sempit yang dimaksudkan adalah kisi difraksi. Kisi difraksi adalah
suatu perangkat yang terdiri atas celah-celah sejajar yang jumlahnya sangat
banyak dan berjarak sama satu sama lain dan bermanfaat untuk menganalisis
sumber-sumber cahaya (Serway dan Jewett, 2010 : 175). Dengan mengamati pola
gelap dan pola terang pada layar sebagai hasil dari peristiwa difraksi, kita dapat
menentukan panjang gelombang dari cahaya.
Pada umumnya, untuk mencari panjang gelombang cahaya digunakan
lampu seperti lampu neon. Namun pengukuran panjang gelombang sulit dilakukan
karena lampu yang digunakan bersifat polikromatis. Agar efek interferensi dapat
diamati dan pengukuran panjang gelombang dapat dilakukan dengan mudah,
1

2
maka dibutuhkan sumber cahaya monokromatis. Sumber cahaya monokromatis
artinya berasal dari suatu panjang gelombang tunggal (Serway dan Jewett, 2010:
118). Sinar monokromatis adalah sinar-sinar yang tidak dapat diuraikan lagi
menjadi komponen warna. Contoh sumber cahaya monokromatis adalah Light
Emitting Diode (LED).
Dalam perkembangannya di bidang penerangan, Light Emitting Diode
(LED) kini mulai banyak digunakan. Saat ini, LED merupakan salah satu
komponen elektronik yang tidak asing lagi dalam kehidupan manusia. LED
banyak diaplikasikan sebagai lampu rambu-rambu lalu lintas, lampu pada
permainan anak-anak, lampu darurat, lampu indikator peralatan elektronik seperti
pada televisi, komputer, pengeras suara, proyektor, dan berbagai perangkat
elektronik lainnya. LED banyak digunakan karena memiliki konsumsi daya yang
tidak terlalu besar dan memiliki beragam warna.
Setiap warna pada LED memiliki panjang gelombang yang beragam.
Pengukuran panjang gelombang cahaya monokromatis seperti LED dapat
dilakukan dengan menggunakan alat spektrometer. Spektrometer berteknologi
tinggi semakin banyak diciptakan, misalnya spektrometer kisi. Penggunaan
spektrometer kisi dianggap terlalu rumit untuk pengamatan panjang gelombang
cahaya. Pengukuran panjang gelombang cahaya dapat dilakukan dengan metode
yang lebih sederhana dibandingkan dengan spektrometer terkini, misalnya dengan
menerapkan difraksi kisi celah banyak yaitu kisi difraksi. Berdasarkan latar
belakang masalah tersebut, penulis mengambil judul Eksperimen Fisika II
PEMBUATAN ALAT DIFRAKSI KISI DENGAN MENGGUNAKAN
LED.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang, dapat diidentifiksikan masalah-masalah
sebagai berikut:
1.

Cahaya yang sampai di layar melalui celah sempit dapat mengalami peristiwa
interferensi cahaya.

3
2.

Cahaya yang dilewatkan pada suatu celah sempit dapat mengalami peristiwa
difraksi.

3.

Peristiwa difraksi kisi dapat diterapkan untuk menentukan panjang


gelombang dari suatu sumber cahaya.

4.

Pengukuran panjang gelombang cahaya dapat dilakukan dengan mudah


dengan menggunakan sumber cahaya monokromatis.

5.

LED merupakan contoh sumber cahaya monokromatis.


C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah tersebut di

atas maka dalam makalah Eksperimen Fisika II ini dibatasi pada:


1.

Pembuatan alat percobaan untuk menentukan panjang gelombang cahaya

2.

LED Superbright menggunakan alat difraksi kisi.


Sumber cahaya yang digunakan adalah LED Superbright merah, hijau,
orange, dan biru.
D. Perumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Dapatkah alat yang dibuat digunakan untuk mengukur panjang gelombang


cahaya LED Superbright?
2. Berapa panjang gelombang cahaya LED Superbright berwarna merah, hijau,
orange dan biru?
E. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Membuat alat yang dapat digunakan untuk mengukur panjang gelombang
cahaya LED.
2. Mengukur panjang gelombang cahaya LED merah, hijau, kuning dan biru.

F. Manfaat

4
Dengan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1. Menentukan panjang gelombang cahaya LED Superbright merah, hijau,
orange dan biru.
2. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan bahan acuan untuk
penelitian sejenis.