Anda di halaman 1dari 26

1.

Selayang pandang pengadilan tipikor


Pengadilan Tipikor
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi adalah pengadilan yang khusus menangani perkara
korupsi. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi bertugas dan berwenang memeriksa dan
memutus tindak pidana korupsi yang penuntutannya diajukan oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi.
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berada di lingkungan Peradilan Umum. Untuk pertama
kali Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dibentuk pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang
wilayah hukumnya meliputi seluruh wilayah negara Republik Indonesia.
Pengadilan ini dibentuk berdasarkan pasal 53 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 (Dasar
hokum) tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi terdapat pada pengadilan negeri, pengadilan tinggi, dan
pada Mahkamah Agung. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berkedudukan di setiap ibu kota
kabupaten/kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum pengadilan negeri yang
bersangkutan.
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi merupakan satu-satunya pengadilan yang
berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana korupsi yang diajukan
oleh penuntut umum atau yang diajukan oleh penuntut pada KPK sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara
tindak pidana korupsi atau tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi
yang dilakukan oleh warga negara Indonesia di luar wilayah Negara Republik Indonesia.
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi juga berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus
perkara tindak pidana korupsi dan tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana
korupsi yang dilakukan oleh warga negara asing di luar wilayah Negara Republik Indonesia
sepanjang menyangkut kepentingan negara Indonesia.
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berwenang memberikan izin untuk melakukan
pembekuan, penyitaan, penyadapan, dan/ atau penggeledahan.

Proses pengadilan tipikor


1. Susunan Pengadilan
Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi terdiri atas hakim karir dan hakim ad hoc.
Untuk dapat diusulkan sebagai hakim ad hoc pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, calon
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) HAKIM KARIER
Untuk dapat diangkat sebagai Hakim Tindak Pidana Korupsi seorang Hakim Karier
harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a.

berpengalaman menjadi Hakim sekurang-kurangnya selama 10 (sepuluh) tahun; di bidang


hukum untuk hakim

b.

berpengalaman menangani perkara pidana;

c.

jujur, adil, cakap, dan memiliki integritas moral yang tinggi serta reputasi yang baik selama
menjalankan tugas;

d.

tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin dan/atau terlibat dalam perkara pidana;

e.

memiliki sertifikasi khusus sebagai Hakim tindak pidana korupsi yang dikeluarkan oleh
Mahkamah Agung; dan

f.

telah melaporkan harta kekayaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.


Calon hakim yang telah lulus seleksi wajib mengikuti diklat yang diselenggarakan
oleh Mahkamah Agung untuk mendapatkan sertifikasi sebagai hakim Pengadilan Tindak
Pidana Korupsi.
Untuk dapat diusulkan sebagai hakim ad hoc Pengadilan Tindak Pidana Korupsi

1.
2.
3.
4.

warga negara Republik Indonesia;


bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
sehat jasmani dan rohani;
berpendidikan sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian dan berpengalaman

5.
6.
7.
8.
9.

sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun di bidang hukum;


berumur sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun pada proses pemilihan;
tidak pernah melakukan perbuatan tercela;
cakap, jujur, memiliki integritas moral yang tinggi, dan memiliki reputasi yang baik;
tidak menjadi pengurus salah satu partai politik; dan
melepaskan jabatan struktural dan atau jabatan lainnya selama menjadi hakim ad hoc.

Sebelum memangku jabatan, hakim ad hoc wajib mengucapkan sumpah/janji menurut


agamanya di hadapan Presiden Republik Indonesia.
Ketentuan penunjukan hakim adhoc sesuai dengan pasal 13 undang undang no.46 tahun
2009 :
a) Untuk memilih dan mengusulkan calon Hakim ad hoc pada Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi dan pengadilan tinggi, Ketua Mahkamah Agung membentuk panitia seleksi yang
terdiri dari unsur Mahkamah Agung dan masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya
bersifat mandiri dan transparan.
b) Ketentuan mengenai tata cara pemilihan untuk diusulkan sebagai Hakim ad hoc
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) diatur dengan Peraturan Mahkamah Agung.
Dalam memangku sebuah jabatan hakim ad hoc, seorang hakim akan dilantik terlebuh
dahulu dan harus membacakan sumpah yang telah diatur dalam undang undang nomor 46
tahun 2009, dalam pasal 14 dikatakan bahwa[5] :
Sebelum memangku jabatan, Hakim ad hoc diambil sumpah atau janji menurut agamanya
oleh:

Ketua Mahkamah Agung untuk Hakim ad hoc pada Mahkamah Agung;

Ketua pengadilan tinggi untuk Hakim ad hoc pada pengadilan tinggi;

Ketua pengadilan negeri untuk Hakim ad hoc pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
2. Pemeriksaan Pendahuluan
Pada hari sidang yang telah ditetapkan sebelum mulai memeriksa pokok perkara, ketua
majelis hakim mengadakan pemeriksaan pendahuluan mengenai kelengkapan dan kejelasan
materi surat dakwaan.
Jaksa Agung mengkoordinasikan dan mengendalikan penyelidikan, penyidikan, dan
penuntutan tindak pidana korupsi yang dilakukan bersama-sama oleh orang yang tunduk pada
Peradilan Umum dan Peradilan Militer.
3. Penyidikan, Alat Bukti, dan Pembuktian
Untuk kepentingan penyidikan, tersangka wajib memberikan keterangan tentang seluruh
harta bendanya dan harta benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau
korporasi yang diketahui dan atau yang diduga mempunyai hubungan dengan tindak pidana
korupsi yang dilakukan tersangka.
Alat bukti yang sah dalam perkara tindak pidana korupsi adalah yang ditetapkan berdasarkan
Hukum Acara Pidana yang berlaku, dan alat bukti lain yang meliputi:

Informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat
optik atau yang serupa dengan itu; dan Dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi
yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa
bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apa pun selain kertas,
maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan,
foto, huruf, tanda, angka, atau porforasi (tanda pengesahan) yang memiliki makna.
Setelah penyidikan dinyatakan cukup, penyidik membuat berita acara dan disampaikan
kepada Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk segera ditindaklanjuti.
2. PERUBAHAN POKOK KUHP DAN KUHAP
BUKU KESATU
Secara keseluruhan perbedaan yang mendasar antara Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
warisan Belanda (Wetboek van Strafrecht) dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Baru adalah filosofi yang mendasarinya. KUHP Warisan Belanda secara keseluruhan
dilandasi oleh pemikiran Aliran Klasik (Classical School) yang berkembang pada Abad ke-18
yang memusatkan perhatian hukum pidana pada perbuatan atau tindak pidana (DaadStrafrecht). Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Baru mendasarkan diri pada pemikiran
Aliran Neo-Klasik (Neo-Classical School) yang menjaga keseimbangan antara faktor
obyektif (perbuatan/lahiriah) dan faktor subyektif (orang/batiniah/sikap batin).
Aliran ini berkembang pada Abad ke- 19 yang memusatkan perhatiannya tidak hanya pada
perbuatan atau tindak pidana yang terjadi, tetapi juga terhadap aspek-aspek individual si
pelaku tindak pidana (Daad-dader Strafrecht). Pemikiran mendasar lain yang mempengaruhi
penyusunan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Baru adalah perkembangan ilmu
pengetahuan tentang korban kejahatan (victimology) yang berkembang setelah Perang Dunia
II, yang menaruh perhatian besar pada perlakuan yang adil terhadap korban kejahatan dan
penyalahgunaan kekuasaan. Baik falsafah Daad-dader Strafrecht maupun viktimologi akan
mempengaruhi perumusan 3 (tiga) permasalahan pokok dalam hukum pidana yaitu
perumusan perbuatan yang bersifat melawan hukum, pertanggungjawaban pidana atau
kesalahan dan sanksi (pidana dan tindakan) yang dapat dijatuhkan beserta asas-asas hukum
pidana yang mendasarinya.

FAKTOR OBJEKTIF & SUBJEKTIF


Karakter Daad-dader Strafrecht yang lebih manusiawi tersebut secara sistemik mewarnai
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana baru, yang antara lain juga tersurat dan tersirat dari
adanya pelbagai pengaturan yang berusaha menjaga kesimbangan antara unsur/faktor
obyektif (perbuatan/lahiriah) dan unsur/faktor subyektif (manusia/batiniah/sikap batin).
Hal ini antara lain tercermin dari pelbagai pengaturan tentang Tujuan Pemidanaan, Syarat
Pemidanaan, pasangan Sanksi berupa Pidana dan Tindakan, pengembangan Alternatif Pidana
Kemerdekaan jangka pendek, Pedoman atau Aturan Pemidanaan, Pidana Mati Bersyarat, dan
pengaturan Batas Minimum Umum Pertanggungjawaban Pidana, Pidana serta Tindakan Bagi
Anak.
PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA
Pembaharuan Hukum Pidana materiil dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana baru ini
tidak membedakan lagi antara tindak pidana (strafbaarfeit) berupa kejahatan (misdrijven)
dan tindak pidana pelanggaran (overtredingen). Untuk keduanya dipakai istilah tindak
pidana. Dengan demikian, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana baru nantinya hanya terdiri
atas 2 (dua) Buku yaitu Buku Kesatu memuat Ketentuan Umum dan Buku Kedua yang
memuat ketentuan tentang Tindak Pidana. Adapun Buku Ketiga Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana yang mengatur tentang Tindak Pidana Pelanggaran dihapus dan materinya
secara selektif ditampung ke dalam Buku Kedua dengan kualifikasi Tindak Pidana.
Alasan penghapusan tersebut didasarkan atas kenyataan bahwa secara konseptual perbedaan
antara kejahatan sebagai rechtsdelict dan pelanggaran sebagai wetsdelict ternyata tidak
dapat dipertahankan, karena dalam perkembangannya tidak sedikit beberapa rechtsdelict
dikualifikasikan sebagai pelanggaran dan sebaliknya beberapa perbuatan yang seharusnya
merupakan wetsdelict dirumuskan sebagai kejahatan, hanya karena diperberat ancaman
pidananya. Kenyataan juga membuktikan bahwa persoalan berat ringannya kualitas dan
dampak tindak pidana kejahatan dan pelanggaran juga relatif, sehingga kriteria kualitatif
semacam ini dalam kenyataannya tidak lagi dapat dipertahankan secara konsisten.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana baru ini diakui pula adanya tindak pidana atas
dasar hukum yang hidup dalam masyarakat atau yang sebelumnya dikenal sebagai tindak
pidana adat untuk lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat. Adalah

suatu kenyataan bahwa di beberapa daerah di tanah air, masih terdapat ketentuan-ketentuan
hukum yang tidak tertulis, yang hidup dan diakui sebagai hukum di daerah yang
bersangkutan, yang menentukan bahwa pelanggaran atas hukum itu patut dipidana.
Dalam hal ini hakim dapat menetapkan sanksi berupa Pemenuhan Kewajiban Adat
setempat yang harus dilaksanakan oleh pembuat tindak pidana. Hal ini mengandung arti,
bahwa standar, nilai dan norma yang hidup dalam masyarakat setempat masih tetap
dilindungi untuk lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat tertentu.
Keadaan seperti ini tidak akan menggoyahkan dan tetap menjamin pelaksanaan asas legalitas
serta larangan analogi yang dianut dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
PEMBATASAN HUKUM PIDANA
Mengingat kemajuan yang terjadi dalam bidang keuangan, ekonomi dan perdagangan, lebihlebih di era globalisasi serta berkembangnya tindak pidana terorganisasi baik yang bersifat
domestik maupun transnasional, maka subyek hukum pidana tidak dapat dibatasi hanya pada
manusia alamiah (natural person) tetapi mencakup pula korporasi, yaitu kumpulan
terorganisasi dari orang dan/atau kekayaan, baik merupakan badan hukum (legal person)
maupun bukan badan hukum.
Dalam hal ini korporasi dapat dijadikan sarana untuk melakukan tindak pidana (corporate
criminal) dan dapat pula memperoleh keuntungan dari suatu tindak pidana (crimes for
corporation). Dengan dianutnya paham bahwa korporasi adalah subyek tindak pidana, berarti
korporasi baik sebagai badan hukum maupun non-badan hukum dianggap mampu melakukan
tindak pidana dan dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana (corporate criminal
responsibility).
Di samping itu, masih dimungkinkan pula pertanggungjawaban pidana dipikul bersama oleh
korporasi dan pengurusnya yang memiliki kedudukan fungsional dalam korporasi atau hanya
pengurusnya saja yang dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana. Dengan
diaturnya pertanggungjawaban pidana korporasi dalam Buku I Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana, maka pertanggungjawaban pidana bagi korporasi yang semula hanya berlaku
untuk tindak-tindak pidana tertentu di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, berlaku
juga secara umum untuk tindak-tindak pidana lain baik di dalam maupun di luar Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana.

Sanksi terhadap korporasi dapat berupa pidana (straf), namun dapat pula berupa tindakan tata
tertib (maatregel). Dalam hal ini kesalahan korporasi diidentifikasikan dari kesalahan
pengurus yang memiliki kedudukan fungsional (mempunyai kewenangan untuk mewakili
korporasi, mengambil keputusan atas nama korporasi dan kewenangan menerapkan
pengawasan terhadap korporasi), yang melakukan tindak pidana dengan menguntungkan
korporasi, baik sebagai pelaku, sebagai orang yang menyuruhlakukan, sebagai orang yang
turutserta melakukan, sebagai penganjur maupun sebagai pembantu tindak pidana yang
dilakukan bawahannya di dalam lingkup usaha atau pekerjaan korporasi tersebut.
PRADUGA TAKBERSALAH
Asas tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld) tetap merupakan salah satu asas
utama dalam hukum pidana. Namun demikian dalam hal-hal tertentu sebagai perkecualian
dimungkinkan penerapan asas strict liability dan asas vicarious liability.
Dalam hal yang pertama, pembuat tindak pidana telah dapat dipidana hanya karena telah
dipenuhinya unsur-unsur tindak pidana oleh perbuatannya, sedangkan yang kedua
tanggungjawab pidana seseorang dipandang patut diperluas sampai kepada tindakan
bawahannya yang melakukan pekerjaan atau perbuatan untuknya atau dalam batas-batas
perintahnya.
JENIS-JENIS PIDANA
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana baru ini diatur mengenai jenis pidana berupa
pidana pokok, pidana mati, dan pidana tambahan. Jenis pidana pokok terdiri atas :
1. pidana penjara;
2. pidana tutupan;
3. pidana pengawasan;
4. pidana denda; dan
5. pidana kerja sosial.
Dalam pidana pokok diatur jenis pidana baru berupa pidana pengawasan dan pidana kerja
sosial. Kedua jenis pidana ini bersama dengan pidana denda perlu dikembangkan sebagai
alternatif dari pidana perampasan kemerdekaan jangka pendek (short prison sentence) yang
akan dijatuhkan oleh hakim, sebab dengan pelaksanaan ketiga jenis pidana ini terpidana dapat
dibantu untuk membebaskan diri dari rasa bersalah, di samping untuk menghindari efek

destruktif dari pidana perampasan kemerdekaan. Demikian pula masyarakat dapat


berinteraksi dan berperan serta secara aktif membantu terpidana dalam menjalankan
kehidupan sosialnya secara wajar dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Urutan jenis pidana pokok tersebut di atas menentukan berat ringannya pidana (strafmaat).
Hakim bebas memilih jenis-jenis pidana (strafsoort) yang akan dijatuhkan di antara kelima
jenis tersebut, walaupun dalam Buku Kedua Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ini hanya
dirumuskan tiga jenis pidana yaitu pidana penjara, pidana denda, dan pidana mati. Sedangkan
jenis pidana tutupan, pidana pengawasan, dan pidana kerja sosial pada hakikatnya
merupakan cara pelaksanaan pidana (strafmodus) sebagai alternatif pidana penjara.
Pidana mati tidak terdapat dalam urutan pidana pokok. Pidana mati ditentukan dalam pasal
tersendiri untuk menunjukkan bahwa jenis pidana ini benar-benar bersifat khusus sebagai
upaya terakhir untuk mengayomi masyarakat. Pidana mati adalah pidana yang paling berat
dan harus selalu diancamkan secara alternatif dengan jenis pidana seumur hidup atau pidana
penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun. Pidana mati dapat dijatuhkan pula secara bersyarat,
dengan memberikan masa percobaan, sehingga dalam tenggang waktu masa percobaan
tersebut terpidana diharapkan dapat memperbaiki diri sehingga pidana mati tidak perlu
dilaksanakan, dan dapat diganti dengan pidana perampasan kemerdekaan.
PEMIDANAAN
Dalam pemidanaan dianut sistem dua jalur (double-track system), sebab di samping jenisjenis pidana tersebut di atas, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengatur pula jenis-jenis
tindakan (maatregelen). Dalam hal ini hakim dapat menjatuhkan tindakan kepada mereka
yang melakukan tindak pidana, tetapi tidak atau kurang mampu mempertanggungjawabkan
perbuatannya yang disebabkan karena menderita gangguan jiwa atau penyakit jiwa atau
retardasi mental.
Di samping itu dalam hal tertentu tindakan dapat pula diterapkan kepada terpidana yang
mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya, dengan maksud untuk memberi
perlindungan kepada masyarakat dan menumbuhkan tata tertib sosial.
RAMBU-RAMBU PEMIDANAAN
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ini diatur pula rambu-rambu pemidanaan baru

yang berkaitan dengan berat ringannya pidana yakni berupa ancaman pidana minimum
khusus yang sebenarnya sebelumnya juga sudah dikenal dalam perundang-undangan pidana
di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pengaturan sistem pemidanaan baru ini
dilakukan berdasarkan pertimbangan :
1. untuk menghindari adanya disparitas pidana yang sangat mencolok bagi tindak
pidana yang sama atau kurang lebih sama kualitasnya;
2. untuk lebih mengefektifkan pengaruh prevensi umum, khususnya bagi tindak pidana
yang dipandang membahayakan dan meresahkan masyarakat;
3. apabila dalam hal-hal tertentu maksimum pidana dapat diperberat, maka sebagai
analog dipertimbangkan pula bahwa untuk minimum pidana pun dalam hal-hal
tertentu dapat diperberat.
Pada prinsipnya pidana minimum khusus merupakan suatu pengecualian, yaitu hanya untuk
tindak pidana tertentu yang dipandang sangat merugikan, membahayakan, atau meresahkan
masyarakat dan untuk tindak pidana yang dikualifikasi atau diperberat oleh akibatnya.
PIDANA DENDA DALAM KUHP
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana baru ini ancaman pidana denda dirumuskan
dengan menggunakan sistem kategori. Sistem ini dimaksudkan agar dalam perumusan tindak
pidana tidak perlu disebutkan suatu jumlah denda tertentu, melainkan cukup dengan
menunjuk kategori denda tertentu sebagaimana yang ditentukan dalam Buku Kesatu.
Dasar pemikiran penggunaan sistem kategori ini adalah bahwa pidana denda termasuk jenis
pidana yang relatif lebih sering berubah nilainya karena perkembangan nilai mata uang akibat
situasi perekonomian. Dengan demikian, apabila terjadi perubahan nilai mata uang, dengan
sistem kategori akan lebih mudah dilakukan perubahan atau penyesuaian, sebab yang diubah
tidak seluruh ancaman pidana denda yang terdapat dalam perumusan tindak pidana,
melainkan cukup mengubah pasal yang mengatur kategori denda dalam Buku Kesatu.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ini diatur pula mengenai jenis pidana, berat
ringannya pidana dan cara pelaksanaan pemidanaan secara khusus terhadap anak. Hal ini
karena baik dipandang dari perkembangan fisik maupun psikis anak berbeda dari orang
dewasa. Selain itu, pengaturan secara khusus terhadap anak berkaitan dengan kenyataaan
bahwa Indonesia telah meratifikasi Konvensi Internasional tentang Hak-hak Anak

(Convention on the Rights of the Child) dalam kerangka pemajuan dan perlindungan HakHak Asasi Manusia.
RUU tentang KUHP ini terdiri dari 2 (dua) Buku, yakni Buku Kesatu yang mengatur
mengenai Ketentuan Umum dan Buku Kedua yang mengatur mengenai Tindak Pidana yang
secara keseluruhan memuat 766 pasal. KUHP nasional ini menganut sistem kodifikasi dan
unifikasi hukum pidana nasional, sehingga Buku I (Ketentuan Umum) berlaku juga bagi
Undang-Undang di luar KUHP dan Peraturan Daerah, kecuali ditentukan lain oleh UndangUndang dan Undang-Undang di luar KUHP dinyatakan tetap berlaku, sepanjang materinya
tidak diatur dalam RUU KUHP.
Adapun beberapa pokok perubahan dalam Rancangan Undang-Undang Tentang Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana ini antara lain:

1. Buku Kesatu
a. Pergeseran filosofi yang mendasarinya, yaitu dari pemikiran aliran klasik (classical school)
yang berfokus pada perbuatan atau tindak pidana (daad strafrecht) yang dianut oleh KUHP
warisan Belanda, menjadi mendasarkan pada pemikiran aliran Neo Classic (neo classical
school) yang mempertimbangkan aspek-aspek individual pelaku tindak pidana (daad-dader
strafrecht) yang memiliki karakter lebih manusiawi yang berusaha menjaga keseimbangan
antara faktor obyektif (perbuatan pidana) dengan faktor subyektif (sikap batin).
b. Pembaharuan Hukum Pidana Materiil dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak
lagi membedakan lagi antara Kejahatan (misdrijven) dan Pelanggaran (overtredingen) dengan
menggunakan istilah tindak pidana. Sehingga KUHP baru terdiri dari 2 (dua) buku yang
terdiri dari Buku Kesatu tentang Ketentuan Umum dan Buku Kedua memuat tentang Tindak
Pidana.
c. KUHP baru mengakui pula adanya tindak pidana atas dasar hukum yang hidup dalam
masyarakat atau yang sebelumnya dikenal sebagai tindak pidana adat untuk lebih memenuhi
rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat. Sehingga hakim dapat menetapkan sanksi
berupa pemenuhan kewajiban adat setempat yang harus dilaksanakan oleh pelaku tindak
pidana.

d. Subjek hukum pidana tidak hanya terbatas pada manusia (naturlijk person) tetapi juga
mencakup pula korporasi yaitu kumpulan terorganisasi dari orang dan atau kekayaan, baik
merupakan badan hukum (legal person) maupun bukan badan hukum. Hal ini dikarenakan
korporaasi dapat dijadikan sarana untuk melakukan tindak pidana (corporate criminal) dan
dapat pula memperoleh keuntungan dari suatu tindak pidana (crimes for corporation).
Sehingga korporasi dianggap mampu melakukan tindak pidana dan dapat
dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana. Dan dimungkinkan pula pertanggungjawaban
pidana dipikul bersama oleh korporasi dan pengurusnya yang memiliki kedudukan fungsional
dalam korporasi atau hanya pengurusnya saja yang dapat dipertanggungjawabkan dalam
hukum pidana. Sehingga dengan diatur dalam Buku Kesatu KUHP maka
pertanggungjawaban pidana oleh Korporasi berlaku secara umum untuk tindak pidana lain
baik didalam maupun diluar KUHP. Sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi dapat
berupa pidana (straf) dan dapat pula berupa tindakan tata tertib (maatregel).
e. Asas tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld) tetap merupakan salah satu
asas utama dalam hukum pidana. Namun demikian dalam hal tertentu sebagai pengecualian,
diumumkan penerapan asas "strict liability" dan asas "vocarious liability" Sehingga pelaku
tindak pidana telah dapat dipidana hanya karena telah dipenuhinya unsur tindak pidana yang
karena telah dipenuhinya unsur tindak pidana oleh perbuatannya dan tanggung jawab pidana
pelaku dipandang patut dapat diperluas kepada tindakan bawahannya yang melakukan
pekerjaan atau perbuatan untuknya atau dalam batas-batas perintahnya.
f. Dalam KUHP baru diatur mengenai jenis pidana berupa
1) Pidana pokok:
a) Pidana Penjara;
b) Pidana tutupan;
c) Pidana pengawasan;
d) Pidana denda;
e) Pidana kerja sosial.
Dalam pidana pokok diatur jenis pidana baru berupa pidana pengawasan dan pidana kerja
sosial. Kedua jenis pidana ini bersama dengan pidana denda perlu dikembangkan sebagai
alternative dari pidana perampasan kemerdekaan jangka pendek yang akan dijatuhkan oleh

hakim. Sebab dengan pelaksanaan ketiga jenis pidana ini terpidana dapat dibantu untuk
membebaskan diri dari rasa bersalah. Disamping untuk menghindari efek destruktif dari
pidana perampasan kemerdekaan. Demikian pula masyarakat dapat berinteraksi dan berperan
serta secara aktif membantu terpidana dalam menjalankan kehiduan sosialnya secara wajar
dengan melakukan hal yang bermanfaat.
2) Pidana Mati, Dan Pidana Tambahan
Pidana mati tidak terdapat dalam urutan pidana pokok. Pidana mati ditentukan dalam pasal
tersendiri untuk menunjukkan bahwa jenis pidana ini benar-benar bersifat khusus sebagai
upaya terakhir untuk mengayomi masyarakat. Pidana mati adalah pidana yang paling berat
dan harus selalu diancamkan secara alternatif dengan jenis pidana seumur hidup atau pidana
penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun. Pidana mati dapat dijatuhkan pula secara bersyarat,
dengan memberikan masa percobaan, sehingga dalam tenggang waktu masa percobaan
tersebut terpidana diharapkan dapat memperbaiki diri sehingga pidana mati tidak perlu
dilaksanakan, dan dapat diganti dengan pidana perampasan kemerdekaan.
g. Hakim bebas memilih jenis-jenis pidana (strafsoort) yang akan dijatuhkan di antara kelima
jenis tersebut, walaupun dalam Buku Kedua Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ini hanya
dirumuskan tiga jenis pidana yaitu pidana penjara, pidana denda, dan pidana mati. Sedangkan
jenis pidana tutupan, pidana pengawasan, dan pidana kerja sosial pada hakikatnya merupakan
cara pelaksanaan pidana (strafmodus) sebagai alternatif pidana penjara.
h. Dalam pemidanaan dianut sistem dua jalur (double track system) sebab disamping jenis
pidana tersebut diatas KUHP juga mengatur pula jenis-jenis tindakan (maatregelen). Dalam
hal ini hakim dapat menjatuhkan tindakan kepada mereka yang melakukan tindak pidana,
tetapi tidak atau kurang mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya yang disebabkan
karena menderita gangguan jiwa atau penyaki jiwa atau retardasi mental. Disamping itu
dalam hal tertentu tindakan dapat diterapkan kepada terpidana yang mampu
mempertanggungjawabkan perbuatannya, dengan maksud untuk memberi perlindungan
kepada masyarakat dan menumbuhkan tata tertib sosial.
i. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ini diatur pula rambu-rambu pemidanaan
baru yang berkaitan dengan berat ringannya pidana yakni berupa ancaman pidana minimum
khusus yang sebenarnya sebelumnya juga sudah dikenal dalam perundang-undangan pidana

di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pengaturan sistem pemidanaan baru ini
dilakukan berdasarkan pertimbangan:
1) Untuk menghindari adanya disparitas pidana yang sangat mencolok bagi tindak pidana
yang sama atau kurang lebih sama kualitasnya;
2) Untuk lebih mengefektifkan pengaruh prevensi umum, khususnya bagi tindak pidana yang
dipandang membahayakan dan meresahkan masyarakat;
3) Apabila dalam hal-hal tertentu maksimum pidana dapat diperberat, maka sebagai analog
dipertimbangkan pula bahwa untuk minimum pidana pun dalam hal-hal tertentu dapat
diperberat;
4) Pada prinsipnya pidana minimum khusus merupakan suatu pengecualian, yaitu hanya
untuk tindak pidana tertentu yang dipandang sangat merugikan, membahayakan, atau
meresahkan masyarakat dan untuk tindak pidana yang dikualifikasi atau diperberat oleh
akibatnya.
j. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana baru ini ancaman pidana denda dirumuskan
dengan menggunakan sistem kategori. Sistem ini dimaksudkan agar dalam perumusan tindak
pidana tidak perlu disebutkan suatu jumlah denda tertentu, melainkan cukup dengan
menunjuk kategori denda tertentu sebagaimana yang ditentukan dalam Buku Kesatu. Dasar
pemikiran penggunaan sistem kategori ini adalah bahwa pidana denda termasuk jenis pidana
yang relatif lebih sering berubah nilainya karena perkembangan nilai mata uang akibat situasi
perekonomian. Dengan demikian, apabila terjadi perubahan nilai mata uang, dengan sistem
kategori akan lebih mudah dilakukan perubahan atau penyesuaian, sebab yang diubah tidak
seluruh ancaman pidana denda yang terdapat dalam perumusan tindak pidana, melainkan
cukup mengubah pasal yang mengatur kategori denda dalam Buku Kesatu.
k. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ini diatur pula mengenai jenis pidana, berat
ringannya pidana dan cara pelaksanaan pemidanaan secara khusus terhadap anak. Hal ini
karena baik dipandang dari perkembangan fisik maupun psikis anak berbeda dari orang
dewasa. Selain itu, pengaturan secara khusus terhadap anak berkaitan dengan kenyataaan
bahwa Indonesia telah meratifikasi Konvensi Internasional tentang Hak-hak Anak
(Convention on the Rights of the Child) dalam kerangka pemajuan dan perlindungan HakHak Asasi Manusia.
2. Buku Kedua

a. Untuk menghasilkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang bersifat kodifikasi dan
unifikasi, di samping dilakukannya evaluasi dan seleksi terhadap pelbagai tindak pidana yang
ada di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana lama, apresiasi juga dilakukan terhadap
pelbagai perkembangan tindak pidana yang terjadi di luar Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana, antara lain, berbagai Undang-Undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang,
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga,
Pengelolaan Lingkungan Hidup, Perlindungan Benda Cagar Budaya, Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, Pengadilan Hak Asasi Manusia, Kesehatan, Sistem Pendidikan Nasional, dan
sebagainya.
b. Secara antisipatif dan proaktif, juga dimasukkan pengaturan tentang Tindak Pidana
Pornografi dan Pornoaksi, Tindak Pidana di Dunia Maya dan Tindak Pidana tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik (Cybercrime), Tindak Pidana Perdagangan Orang
(Human Trafficking Crime), dan lain-lain.
c. Di samping itu, adaptasi terhadap perkembangan tindak pidana internasional yang
bersumber dari pelbagi konvensi internasional baik yang sudah diratifikasi maupun yang
belum diratifikasi juga dilakukan, antara lain Tindak Pidana Penyiksaan atas dasar UndangUndang Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Convention Against Torture and Other
Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaan
dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan
Martabat Manusia), 1984. Di samping itu secara antisipatif diatur pula Kejahatan Perang
(War Crimes) yang bersumber pada Statuta Roma 1998 tentang International Criminal
Court, dan perluasan Tindak Pidana Korupsi yang bersumber pada United Nations
Convention Against Corruption (2003).
d. Dengan sistem perumusan tindak pidana semacam itu, maka penambahan beberapa pasal
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, khususnya di dalam Buku II tak dapat
dihindarkan. Dalam hal ini terlihat beberapa Bab baru seperti Bab VI tentang Tindak Pidana
Terhadap Proses Peradilan, Bab VII tentang Tindak Pidana Terhadap Agama dan Kehidupan
Beragama, Bab IX tentang Tindak Pidana Terhadap Hak Asasi Manusia, Bab XVII tentang
Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika dan Psikotropika, dan Bab XXXII tentang Tindak
Pidana Korupsi.

e. Sejalan dengan proses globalisasi, lajunya pembangunan dan perkembangan sosial yang
disertai dengan mobilitas sosial yang cepat serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
canggih, diperkirakan jenis tindak pidana baru masih akan muncul di kemudian hari. Oleh
karena itu, terhadap jenis tindak pidana baru yang akan muncul yang belum diatur dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana baru ini, pengaturannya tetap dapat dilakukan melalui
amandemen terhadap Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau mengaturnya dalam
Undang-Undang tersendiri karena kekhususannya atas dasar Pasal 211 Buku Kesatu.

3.POKOK PERUBAHAAN KUHAP

Rancangan Undang-Undang tentang Hukum Acara Pidana memiliki 11 (sebelas) pokok


perubahan yang mendasar terkait pembaharuan sistem beracara pidana di Indonesia yakni
antara lain:
1. Asas Legalitas
Dalam hal ini, dipertegas adanya asas legalitas demi terciptanya kepastian hukum dalam
hukum acara pidana sehingga ketentuan hukum tak tertulis tidak dapat dijadikan dasar untuk
melakukan tindakan dalam lingkup hukum acara pidana. Ditentukan pula bahwa ruang
lingkup berlakukanya hukum acara peradilan pidana pada semua tingkat peradilan termasuk
didalamnya pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan umum. Hal ini
berakibat bahwa peraturan perundang-undangan lain tidak dapat mengatur substansi hukum
acara pidana.
2. Hubungan Penyidik - Penuntut Umum
Dalam Rancangan HAP ini, pada saat penyidikan dimulai dan diberitahukan kepada penuntut
umum, penuntut umum sudah memberi petunjuk, bukan ketika berkas sudah selesai disusun
oleh penyidik. Jadi penuntut umum bisa memberikan petunjuk baik secara langsung maupun
tidak langsung sejak saat dimulainya penyidikan. Dalam hal kewenangan penuntut umum,
yakni kewenangan prapenuntutan juga telah ditiadakan. Dalam RUU HAP, kewenangan
prapenuntutan, penangkapan dalam tahap penyelidikan, penahanan rumah/kota; masa
perpanjangan penahanan karena alasan tertentu juga dihapuskan. Selain itu RUPBASAN

(Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara) juga dihapuskan, dengan memberikan


kewenangan pada masing-masing instansi yang melakukan penyitaan sesuai dengan tingkat
pemeriksaan.
3. Menuju Sistem Adversarial.
Pasal 4 RUU HAP mengatur bahwa Acara Pidana dilaksanakan secara "wajar" dan
"perpaduan antara sistem hakim aktif dan para pihak berlawanan secara berimbang". Dalam
Rancangan Undang-Undang ketentuan beracara sudah mengarah ke sistem adversarial yang
menjamin keseimbangan hak para pihak yang berlawanan yakni antara penyidik, penuntut
umum dan /atau tersangka atau terdakwa dan penasihat hukumnya. Dengan demikian, peran
aktif hakim yang memimpin sidang berkurang. Peranan berita acara juga berkurang oleh
karena kedua pihak penuntut umum dan terdakwa/penasihat hukum dapat menambah alat
bukti (saksi) baru di sidang pengadilan yang dapat ditolak oleh hakim, jika segalanya sudah
jelas dan terang. Dengan sendirinya tidak diperlukan P-21 (pernyataan Penuntut Umum
bahwa berkas telah lengkap) karena penuntut umum walaupun pada saat proses persidangan
sudah dimulai, masih dapat meminta bantuan penyidik untuk menambah pemeriksaan seperti
pengajuan saksi baru untuk melawan saksi yang diajukan penasihat hukum. Tujuan dari
sistem ini mengharuskan penuntut umum dan penyidik bekerjasama erat untuk suksesnya
penuntutan. Adanya keberatan jika penuntut umum menambah sendiri pemeriksaan juga
menjadi tidak beralasan, karena pada saat sidang sedang berlangsung pun penuntut umum
dapat menambah alat bukti baru, terutama untuk menyanggah alat bukti baru a'de charge
yang diajukan terdakwa / penasihat hukum. Ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 152
Rancangan, yang berbunyi:
Ayat (1): "Penuntut umum dan terdakwa atau penasihat hukum terdakwa diberi kesempatan
menyampaikan penjelasan singkat untuk menguraikan bukti dan saksi yang hendak diajukan
oleh mereka pada persidangan";
Ayat (2): "Sesudah pernyataan pembuka, saksi dan ahli memberikan keterangan";
Ayat (3): "Urutan saksi dan ahli ditentukan oleh pihak yang memanggil";
Ayat (4): "Penuntut umum mengajukan saksi, ahli, dan buktinya terlebih dahulu";
Ayat (5) "Apabila hakim menyetujui saksi dan ahli yang diminta oleh Penasihat hukum untuk
dihadirkan, maka hakim memerintahkan kepada Penuntut Umum untuk memanggil saksi dan
ahli yang diajukan oleh Penasihat Hukum tersebut";

Ayat (10): "Setelah pemeriksaan terdakwa, Penuntut Umum dapat memanggil saksi atau ahli
tambahan untuk menyanggah pembuktian dari penasihat hukum selama persidangan".
Prinsip Adversarial yang terkandung dalam ketentuan ini pada prinsipnya telah sejalan
dengan pasal 5 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat yang menyatakan
bahwa "Advokat berstatus sebagai penegak hukum, bebas, dan mandiri yang dijamin oleh
hukum dan peraturan perundang-undangan". Dalam rancangan undang-undang advokat yang
saat ini sedang dalam pembahasan di DPR RI pun kembali menguatkan posisi advokat
sebagai pembela kepentingan hukum klien dan masyarakat demi kebenaran dan keadilan
serta kedudukan advokat sebagai salah satu pilar penegakan hukum yang bebas dan mandiri.
Sehingga semakin menguatkan dan menjamin keseimbangan hak diantara lembaga peradilan,
penegak hukum seperti kepolisian dan kejaksaan, dan juga tersangka dan/atau terdakwa
termasuk advokat sebagai penasihat hukum tersangka dan/atau terdakwa.
4. Alat Bukti
Alat bukti dalam RUU ini mengubah jenis-jenis alat bukti sebelumnya, sehingga berdasarkan
Pasal 175 Rancangan alat bukti yang sah mencakup:
a. barang bukti
b. surat-surat;
c. bukti eletronik;
d. keterangan seorang ahli;
e. keterangan seorang saksi;
f. keterangan terdakwa;
g. pengamatan hakim
5. Penyadapan
Penyadapan diperkenalkan dalam Rancangan, akan tetapi diberi persyaratan yang ketat. Pasal
83 ayat (1) Rancangan berbunyi : "Penyadapan pembicaraan melalui telepon atau alat
telekomunikasi yang lain dilarang, kecuali dilakukan terhadap pembicaraan yang terkait
dengan tindak pidana serius atau diduga keras akan terjadi tindak pidana serius tersebut, yang
tidak dapat diungkap jika tidak dilakukan penyadapan". Sehingga pada prinsipnya
penyadapan dilarang. Penyadapan dengan demikian bersifat pengecualian. Tindak pidana
serius dijelaskan dalam Pasal 83 ayat (2) Rancangan adalah tindak pidana :

a. Terhadap Keamanan Negara (Bab I Buku II KUHP);


b. Perampasan Kemerdekaan/Penculikan (Pasal 333 KUHP);
c. Pencurian Dengan Kekerasan (Pasal 365 KUHP);
d. Pemerasan (Pasal 368 KUHP);
e. Pengancaman (Pasal 368 KUHP);
f. Perdagangan Orang;
g. Penyelundupan;
h. Korupsi;
i. Pencucian Uang;
j. Pemalsuan Uang;
k. Keimigrasian;
l. Mengenai Bahan Peledak Dan Senjata Api;
m. Terorisme;
n. Pelanggaran Berat HAM;
o. Psikotropika Dan Narkotika; Dan
p. Pemerkosaan
Penyadapan pun dilakukan dengan perintah tertulis atasan penyidik setempat setelah
mendapat izin Hakim Pemeriksa Pendahuluan. Dengan demikian, tidak ada kecuali, KPK pun
melakukan penyadapan harus dengan izin Hakim Pemeriksa Pendahuluan. Pengecualian izin
Hakim Pemeriksa Pendahuluan dalam keadaan mendesak dibatasi dan tetap dilaporkan
kepada hakim melalui penuntut umum.
6. Saksi Mahkota Dan Plea Bargaining
Saksi mahkota (krron getuigen/crown witness) ialah salah seorang tersangka/terdakwa yang
paling ringan perannya dalam delik terorganisasi yang bersedia mengungkap delik itu, dan
untuk "jasanya" itu dia dikeluarkan dari daftar tersangka/terdakwa dan dijadikan saksi. Jika
tidak ada peserta (tersangka/terdakwa) yang ringan perannya dan tidak dapat dimaafkan
begitu saja, tetap diambil yang paling ringan perannya dan dijadikan saksi kemudian menjadi
terdakwa dengan janji oleh penuntut umum akan menuntut pidana yang lebih ringan dari
kawan berbuatnya yang lain. Hal ini tercantum di dalam Pasal 199 Rancangan yang berjudul
jalur khusus pada saat penuntut umum membacakan surat dakwaan, terdakwa mengakui
semua perbuatan yang didakwakan dan mengaku bersalah melakukan tindak pidana yang
ancaman pidana yang didakwakan tidak lebih dari tujuh tahun penjara, penuntut umum dapat

melimpahkan perkara ke sidang acara pemeriksaan singkat. Pidana yang dijatuhkan tidak
boleh lebih dari 2/3 dari maksimum. Di sinilah letak pengakuan yang memberi keuntungan
(semacam plea bargaining). Hakim dapat menolak pengakuan ini dan meminta penuntut
umum mengajukan ke sidang pemeriksaan biasa.
7. Asas Oportunitas
Berbeda dengan Inggris, Perancis, Belgia, Rusia, Thailand, RRC dan Filipina yang swasta
(korban) langsung dapat melakukan penuntutan ke pengadilan tanpa melalui Penyidik dan
Jaksa. Biasanya hanya untuk perkara ringan, seperti penghinaan, penganiayaan (ringan),
penipuan, dll. Di Thailand ada tiga macam penuntutan, yaitu yang dilakukan oleh penuntut
umum (public prosecutor), swasta atau korban dan gabungan antara swasta (korban) dan
jaksa yang disebut joint prosecution. Hal ini disebabkan karena penuntutan pidana itu
memerlukan keahlian teknis-yuridis. Belum terpikirkan untuk memperkenalkan private
prosecution di Indonesia, karena hal itu berarti akan merombak seluruh sistem acara pidana.
Oleh karena Indonesia menganut asas oportunitas, sama dengan Belanda, Perancis, Jepang,
Korea, Israel dll, maka diperkenalkan penyelesaian perkara di luar pengadilan (afdoening
buiten proces). Hal ini sesuai dengan asas peradilan cepat, biaya murah dan sederhana. Asas
oportunitas secara global diartikan "The public prosecutor may decide conditionally or
unconditionally to make prosecution to court or not." (Penuntut Umum boleh menentukan
menuntut atau tidak menuntut ke pengadilan dengan syarat atau tanpa syarat."). Penyelesaian
di luar pengadilan tercantum di dalam Pasal 42 ayat (2) dan (3) Rancangan. Pasal 42 ayat (2)
berbunyi: "Penuntut umum juga berwenang demi kepentingan umum dan/atau alasan tertentu
menghentikan penuntutan baik dengan syarat maupun tanpa syarat. Hal ini agaknya perlu
dikaji lebih dalam mengingat asas oportunitas yang disebut di dalam undang-undang
Kejaksaan, benar-benar untuk kepentingan umum termasuk delik berat, akan tetapi hanya
Jaksa Agung yang boleh menerapkannya.
8. Penyelesaian Perkara Di Luar Pengadilan
Seperti pada asas oportunitas yang telah dijelaskan sebelumnya, yang tetap mengutamakan
asas peradilan yang cepat, ringan, dan sederhana, maka RUU ini bertujuan untuk mengatur
pula penyelesaian perkara di luar pengadilan terhadap perkara-perkara tertentu. Pasal 42 ayat
(3) menyebut syarat-syaratnya yakni:
a. tindak pidana yang dilakukan bersifat ringan;

b. tindak pidana yang dilakukan diancam dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun;
c. tindak pidana yang dilakukan hanya diancam dengan pidana denda;
d. umur tersangka pada waktu melakukan tindak pidana di atas tujuh puluh tahun;dan/atau
e. kerugian sudah diganti.
Oleh karena Pasal 42 Rancangan menyebut maksimum pidana empat tahun penjara, maka
sebagai contoh tindak pidana pencurian yang ancaman pidananya lima tahun penjara tidak
termasuk penyelesaian di luar pengadilan, kecuali pelaku yang berumur 70 tahun atau lebih.
Penyelesaian di luar pengadilan ini termasuk peradilan restoratif (restorative justice). Hukum
Islam mengenal restoratice justice bahkan sampai delik berat seperti pembunuhan yang
disebut diat. Akan tetapi ada perbedaan karena penyelesaian di luar pengadilan (afdoening
buiten proces) hanya untuk delik ringan dan motifnya pun harus ringan.
9. Penahanan
Dengan diratifikasikannya International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR)
yang menunjukkan pada Pasal 9 bahwa jika Penyidik melakukan penangkapan, maka
promptly harus membawa tersangka (secara fisik) ke hakim yang akan melakukan
penahanan. Dalam RUU dipertegas bahwa penahanan (termasuk juga penangkapan,
penggeledahan, dan penyitaan) memerlukan perintah tertulis dari pejabat yang berwenang.
Jangka waktu penahanan perlu disesuaikan dengan ICCPR, yang menentukan bahwa
seseorang yang ditangkap dan ditahan berdasarkan tindak pidana wajib segera dibawa secara
fisik ke depan hakim untuk disidangkan atau dibebaskan. Dalam Pasal 60 RUU ini,
disepakati jangka waktu yang wajar adalah 5 (lima) hari dengan ketentuan waktu tempuh
perjalanan tersangka ke tempat penahanan tidak dihitung. Barulah kemudian, ia dibawa
kepada Hakim Pemeriksa Pendahuluan yang menandatangani surat perintah penahanan
selama 25 (dua puluh lima) hari, yang formulirnya dipegang dan diisi oleh penuntut umum
(Penyidik yang membawa, namun penuntut umum yang memegang dan mengisi formulir
surat perintah penahanan, sedangkan hakim pemeriksa pendahuluan berwenang menyetujui
atau tidak menyetujui penahanan) Perpanjangan penahanan selanjutnya dilakukan oleh
Hakim Pengadilan Negeri.
10. Hakim Pemeriksa Pendahuluan

Hakim Pemeriksa Pendahuluan merupakan revitalisasi dari Hakim Praperadilan. Inilah hal
yang mungkin menjadi isu paling krusial dalam RUU ini untuk dikaji lebih mendalam. Salah
satu wewenang hakim Pemeriksa Pendahuluan versi Rancangan ialah menentukan layak
tidaknya suatu perkara diajukan ke pengadilan atas permohonan jaksa (pretrial). Dengan
demikian, jika jaksa tidak menuntut dan terjadi desakan masyarakat awam, jaksa dapat
menunjuk putusan hakim Pemeriksa Pendahuluan. Namun demikian, jika kemudian
ditemukan bukti baru, dapat diajukan lagi ke hakim Pemeriksa Pendahuluan agar penuntutan
dapat dilakukan. Dalam pemeriksaan itu, tersangka dan saksi dapat didengar keterangannya
begitu pula konklusi penuntut umum. Dengan dibentuknya lembaga Hakim Pemeriksaan
Pendahuluan ini, maka diharapkan dapat dicapai tujuan hukum acara pidana due process of
law atau behoorlijk procesrecht. Tujuan hukum acara pidana ialah mencari kebenaran
materiel (objective truth) dan melindungi hak asasi terdakwa jangan sampai terjadi orang
tidak bersalah dijatuhi pidana di samping perhatian kepada korban kejahatan. Wewenang
Hakim Pemeriksa Pendahuluan diatur di dalam Pasal 111 ayat (1) Rancangan berupa
menetapkan atau memutuskan :
a. sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan atau penyadapan;
b. pembatalan atau penangguhan penahanan;
c. bahwa keterangan yang dibuat oleh tersangka atau terdakwa dengan melanggar hak untuk
tidak memberatkan diri sendiri;
d. alat bukti atau pernyataan yang diperoleh secara tidak sah tidak dapat dijadikan alat bukti;
e. ganti kerugian dan/atau rehabilitasi untuk seseorang yang ditangkap atau ditahan secara
tidak sah atau ganti kerugian untuk setiap hak milik yang disita secara tidak sah;
f. tersangka atau terdakwa berhak untuk atau diharuskan untuk didampingi oleh pengacara;
g. bahwa penyidikan atau Penuntutan telah dilakukan untuk tujuan yang tidak sah;
h. penghentian Penyidikan atau penghentian Penuntutan yang tidak berdasarkan asas
oportunitas;
i. layak atau tidak layak suatu perkara untuk dilakukan Penuntutan ke pengadilan;
j. pelanggaran terhadap hak tersangka apapun yang lain yang terjadi selama tahap penyidikan.
k. Sebenarnya, hampir semua wewenang ini sudah dimiliki oleh hakim praperadilan, kecuali
yang tersebut pada butir c, d. f, g, i. Beberapa wewenang yang berdasarkanKUHAP 1981 ada
di tangan atau mestinya diberikan kepada ketua Pengadilan Negeri dibebankan kepada hakim
Pemeriksa Pendahuluan seperti izin penggeledahan, penyitaan, penyadapan. Begitu pula
perpanjangan penahanan dalam tahap penyidikan dan penuntutan yang dilakukan oleh
penuntut umum selama 40 (empat puluh) hari, berpindah ke hakim komisaris selama 25 hari,

selanjutnya diperpanjang oleh hakim Pengadilan Negeri selama tiga kali 30 (tiga puluh) hari,
walaupun formulir diisi dan diajukan oleh penuntut umum.
l. Selama menjabat, hakim Pemeriksaan Pendahuluan dibebaskan dari tugas mengadili semua
jenis perkara dan tugas lain yang berhubungan dengan tugas Pengadilan Negeri (Pasal 119
Rancangan). Inilah perbedaan antara hakim Pemeriksa Pendahuluan dan hakim praperadilan.
Selama menjabat hakim Pemeriksa Pendahuluan lepas dari kaitan dengan ketua Pengadilan
Negeri.
11. Upaya Hukum
Upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) juga diubah menjadi hanya dua alasan, yaitu ada
novum atau putusan yang saling bertentangan. Salah atau keliru penerapan hukum bukan
alasan PK. Jika benar-benar terjadi keliru penerapan hukum kemudian terdakwa dijatuhi
pidana atau salah kualifikasi sehingga dijatuhi pidana lebih berat daripada seharusnya, maka
upayanya ialah permohonan grasi kepada Presiden yang dapat diajukan oleh Jaksa Agung
yang mewakli masyarakat. Kewenangan Jaksa Agung mengajukan PK kepada Mahkamah
Agung. Terhadap putusan bebas, tidak dapat dilakukan banding atau kasasi, kecuali terhadap
putusan lepas dari segala tuntutan hukum. Dalam RUU ini dipertegas kembali bahwa putusan
bebas adalah murni atau tidak ada lagi putusan bebas tidak murni, dan terhadap putusan
bebas tidak dapat dilakukan upaya hukum. Ditegaskan pula dalam Rancangan, hanya jika
terdakwa dijatuhi pidana dapat diajukan PK, artinya putusan bebas dan lepas dari segala
tuntuan hukum tidak dapat diajukan PK. Ketentuan ini bersifat universal.

Kasus Korupsi Angelina Sondakh


1. Kronologi Terseretnya Angelina Sondakh
Terseretnya Angelina Patricia Pingkan Sondakh atau Angelina Sondakh atau Angie dalam
kasus korupsi Kasus Wisma Atlet SEA Games Palembang dan Kemendikbud berawal dari
nyanyian para tersangka pendahulunya yang ditangkap terlebih dulu oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Tersangka awal itu adalah M. Nazarrudin, Muhammad El
Idrus, Mindo Rosalinda Manulang, Wafid Muharam. Dan Angelina Sondakh diseret masuk
oleh M. Nazarrudin dan Mindo Rosalinda Manulang.
Kecuali Angelina Sondakh semua tersangka telah divonis, masing-masing Rosa divonis 2,5
tahun dan denda Rp. 200 juta, Mohammad El Idris divonis dua tahun dan denda Rp. 200 juta,

Wafid Muharam dihukum tiga tahun dan denda Rp. 150 juta, serta Muhammad Nazarudin,
dijatuhi hukuman empat tahun 10 bulan penjara dan denda Rp. 200 juta.
Nazar dalam pengakuannya di persidangan mengungkapkan, bahwa Angie pernah mengaku
menerima sejumlah uang di depan Tim Pencari Fakta yang dibentuk Partai Demokrat. Dalam
rapat Tim Pencari Fakta yang dihadiri Benny K. Harman, Jafar Hafsah, Edi Sitanggang, Max
Sopacua, Ruhut Sitompul, M. Nasir, janda mendiang Adjie Massaid itu menerima uang Rp. 9
miliar dari Kemenpora (dalam hal ini Wafid Muharam), sebanyak Rp. 8 miliar diserahkan ke
Wakil Ketua Banggar DPR, Mirwan Amir. Namun hal itu dibantah oleh Angie.
Selain Nazarudin, Rosa juga menyebut Angelina telah menerima uang darinya terkait proyek
pembangunan wisma Atlet SEA Games di Palembang. PT Anak Negeri mengeluarkan Rp. 10
miliar melalui Angie. Sebanyak Rp. 5 miliar untuk Angie, Rp. 5 miliar sisanya tidak
diketahui, namun diduga digunakan sebagai pelicin ke Badan Anggaran DPR agar anggaran
segera turun.
Sementara mantan anak buah Nazaruddin yang merupakan Wakil Direktur Keuangan PT
Permai Grup, Yulianis, juga membenarkan ucapan Rosa itu. Bahwa Angelina Sondakh dan
Wayan Koster mendapat Rp. 5 miliar.
Pada Rabu, 15 September 2011, Angelina Sondakh mendatangi Kantor KPK untuk diperiksa
selama delapan jam sebagai saksi dalam kasus pembangunan wisma atlet SEA Games di
Palembang yang melibatkan tersangka Muhammad Nazaruddin.
Pada Jumat, 3 Februari 2012, Angelina Sondakh dicegah untuk tidak bepergian ke luar negeri
hingga 3 Februari 2013. Pencekalan ini terkait penyebutan nama keduanya oleh para
tersangka dan terdakwa kasus suap Kementrian Pemuda dan Olahraga. Bahkan rencana
umroh Angie juga batal.
KPK juga menetapkan Angie sebagai tersangka, menjerat dengan Pasal 5, Pasal 10 dan Pasal
11 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Pasal tersebut berisi ancaman pidana 1 tahun, 2
tahun dan 5 tahun serta denda maksimalRp.250.000.000.
Setelah resmi menjadi tersangka, dia diberhentikan dari jabatan sebagai Wakil Sekjen Partai
Demokrat (PD).
Tindakan KPK terhadap Angelina Sondakh
Eksekusi putusan
Terkait dengan eksekusi terhadap putusan itu, Deputi Penindakan KPK Warih Sadono
mengatakan akan segera melaksanakannya. Eksekusi segera dilakukan setelah jaksa

menerima petikan putusan atau ekstrak vonis. Tahap pertama eksekusi pidana pokok tentang
penjara. Untuk eksekusi amar putusan lain tentu harus dipelajari secara lengkap setelah
mendapatkan salinan putusan, ucap Warih.
Soal uang pengganti yang harus dibayarkan Angie, Warih mengatakan, akan diupayakan agar
mantan Puteri Indonesia tersebut membayar uang pengganti dari hartanya yang sudah
diblokir atau disita. Namun, dia belum tahu secara detail berapa jumlah harta Angie yang
telah diblokir dan disita KPK. Jika tidak mampu atau tidak mencukupi, dilaksanakan pidana
penjara subsidernya, lanjutnya.
Progresif dan menjerakan
Secara terpisah, peneliti Indonesian Legal Roundtable, Erwin Natosmal Oemar, menyatakan,
putusan majelis kasasi itu adalah putusan yang progresif dan mampu menjerakan koruptor.
Putusan tersebut harus menjadi tolok ukur dan standar bagi hakim-hakim dalam menjatuhkan
pidana terhadap terdakwa korupsi.
Kalau bicara efek jera dalam pemberantasan korupsi, cara pandang hakim seharusnya seperti
cara pandang hakim MA dalam putusan Angie ini. Efektifkan pidana tambahan. Sita uang
hasil korupsi. Kalau tidak dilakukan, orang tidak takut korupsi karena hanya akan dikenai
hukuman badan (penjara) saja, sementara uang hasil korupsinya aman. Setelah bebas, ia
masih bisa menikmati hasil korupsi. Ini yang ada di benak koruptor saat ini, ungkap Erwin.
Dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jaksa KPK Kresno Anto Wibowo
mengatakan Angelina dianggap bersalah telah menggiring anggaran proyek di Kemenpora
dan Kemendiknas. Mahkamah Agung (MA) telah memperberat hukuman terpidana kasus
korupsi Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Pemuda dan Olahraga, Angelina
Sondakh, dari empat tahun enam bulan penjara menjadi 12 tahun penjara. Angelina juga
diminta membayar uang pengganti sebesar Rp 12,58 miliar dan USD 2,35 juta. Apabila tidak
sanggup membayar maka diganti dengan pidana penjara selama dua tahun.Menurut Juru
Bicara KPK, Johan Budi, KPK berencana tetap akan mengajukan tuntutan Jaksa Penuntut
Umum (JPU) mengenai uang pengganti kerugian negara terhadap Puteri Indonesia 2001 itu
dengan Pasal 18 UU Pemberantasan Korupsi.
Kami sudah memutuskan untuk banding. Jadi ada dua hal, yang pertama soal tuntutan
hukuman terutama Pasal 12 huruf a itu akan kita konstruksikan kembali dalam memori
banding. Kedua, Pasal 18 juga akan kami konstruksikan kembali di tingkat banding, kata
Johan.

Johan menjelaskan, hal itu merupakan bagian dari upaya terobosan yang
dilakukan KPK.Di mana tindak pidana korupsi berupa suap itu harus terdapat penyitaan dan
perampasan aset yang dilakukan kepada terpidana.
Ini upaya untuk mengembalikan uang ke negara sekaligus juga efek jera.Jadiorang tidak
sembarangan korupsi karena bakal disita hartanya, katanya.
Johan mengakui upaya Jaksa KPK menkontruksikan kembali mengenai uang pengganti
kerugian negara dalam memori banding itu merupakan tantangan tersendiri.
Mengingat di pengadilan tingkat pertama, tuntutan itu tidak terbukti.Jadi kami challenge dan
uji di tingkat banding nanti. Apakah hakim nanti melihatnya berbeda ataukah sama nantinya,
ujarnya.
Johan menambahkan, KPK juga tak menutup kemungkinan menjerat Angelina Sondakh
dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).Dia menilai, hal tersebut terbuka lebar
tergantung dari vonis hakim nanti.
Kemungkinan itu bisa saja tergantung dari vonis hakim nanti. Ini kan belum berkekuatan
hukum tetap. Nanti akan sejauh mana putusan, pertimbangan-pertimbangan kemudian yang
jadi acuan hakim itu apa ini nanti bisa digunakan oleh KPK apa bisa menggunakan TPPU
atau tidak, terangnya.
Karena tegas Johan, vonis terhadap Angelina nantinya menjadi pintu masuk KPK dalam
mengembangkan kasus Wisma Atlet terkait pembahasan anggarannya
Angelina didakwa menerima uang itu dari grup Permai pada 2010 terkait pengurusan proyek
di sejumlah universitas di Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan termasuk
program pengadaan sarana dan prasarana di Kemenpora. Jaksa mengatakan hal-hal yang
memberatkan Angelina adalah ia tidak mengakui perbuatannya dan tidak menyesal. Ia juga
dinilai tidak mendukung program pemberantasan korupsi atau memberi teladan pada
masyarakat.
Hal yang meringankan adalah ia dinilai berperilaku santun dalam persidangan, belum pernah
dihukum dan memiliki anak balita. Tim kuasa hukum Angelina mengatakan klien mereka
akan mengajukan nota pembelaan.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad menilai putusan hakim MA tersebut
telah memberikan rasa keadilan dalam masyarakat.Putusan seperti itu diharapkan lanjut
Abraham dapat memberikan efek jera terhadap koruptor yang kerap mendapatkan hukuman
yang tidak setimpal.

Dia menyatakan putusan MA terhadap Angelina Sondakh sudah sangat tepat di tengah
pusaran pemikiran hukum para penegak hukum yang masih jauh dari keadilan dan tidak
mampu menangkap kekhawatiran masyarakat terkait upaya pemberantasan korupsi.
Abraham mengungkapkan putusan hakim MA terhadap Angelina Sondakh harus menjadi
tolok ukur bagi hakim-hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap koruptor.
Kita ingin setiap terdakwa kasus korupsi putusannya bisa memberikan efek jera sehingga
orang berfikir seribu kali untuk melakukan korupsi .Kita mengapresiasi putusan dari
Mahkamah Agung.Kita mengapresiasi telah memberikan keadilan di dalam masyarakat,
kata Abrahan Sahad.
Komisioner Komisi Yudisial Taufiqurrahman Sahuri mengungkapkan bahwa putusan kasasi
MA terhadap Angelina Sondakh (Angie), sebagai obat kekecewaan publik terhadap putusan
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta yang sebelumnya hanya menjatuhkan
pidana empat setengah tahun penjara.
Putusan itu telah mengobati kekecewaan masyarakat pada saat putusan di pengadilan negeri
yang menghukum empat tahun.Dan ini saya rasa putusan yang terberat yang dikeluarkan
Mahkamah Agung terhadap koruptor pasca putusan terhadap Abdullah Puteh 10 tahun.
Setelah itu putusan terhadap koruptor turun-turun empat tahun, dua tahun, tiga tahun seperti
itu, nah ini barulah 12 tahun, kata Taufiqurrahman Sahuri
Dalam putusan kasasi MA, Angelina dinilai aktif meminta dan menerima uang terkait
proyek-proyek di Kementerian Pendidikan Nasional serta Kementerian Pemuda dan Olahraga