Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM

DASAR-DASAR TEORI PELUANG DAN MODEL PERBANDINGAN


GENETIK MENURUT MENDEL
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur Mata Kuliah Genetika.
Dosen : Milla Listiawati, M. Pd

Disusun Oleh :
Eka Abdul Rozaq S

(1132060020)

Eny Apilianti

(1132060023)

Fitriani Nurpratiwi

(1132060025)

Frety Suster Mariam. H

(1132060026)

Irma Erpianah

(1132060036)

Kiki Zakiah Khairany

(1132060040)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016

Judul Praktikum

: Model Perbandingan Genetik Menurut Mendel

Tanggal Praktikum : 16 Maret 2016


Tujuan Praktikum
-

: Setelah selesai kegiatan ini mahasiswa dapat:

Membuktikan perbandingan menurut Mendel 1:2:1 untuk rasio genotip dan


3:1 untuk rasio fenotip pada persilangan monohibrid, serta perbandingan

fenotip 9:3:3:1 pada persilangan dihibrid;


Menghitung X2untuk menguji data hasil pengamatan;
Menginterpretasi nilai X2 setelah dibandingkan dengan nilai X2 pada tabel.

A. Landasan Teori
Genetika yang sesungguhnya baru dimulai pada decade
kedua dari abad ke-19 setelah mendel menyajikan secara hati-hati
hasil analisis beberapa percobaan persilangan yang dibuatnya pada
tamanan ercis/kapri (Pisum sativum). (Suryo, 1990).
Johann Mendel lahir tanggal 22 Juli 1822 di kota kecil
Heinzendorf di Silesia, Austria. (Sekarang kota itu bernama Hranice
wilayah Republik Ceko.) Johann memunyai dua saudara perempuan.
Ayahnya adalah seorang petani. Minatnya dalam bidang hortikultura
ternyata dimulai sejak dia masih kecil. (Syamsuri, 2004).
Eksperimen Mendel dimulai saat dia berada di biara Brunn
didorong oleh keingintahuannya tentang suatu ciri tumbuhan
diturunkan

dari

induk

keturunannya.

Jika

misteri

ini

dapat

dipecahkan, petani dapat menanam hibrida dengan hasil yang lebih


besar. Prosedur Mendel merupakan langkah yang cemerlang
dibanding prosedur yang dilakukan waktu itu. Mendel sangat
memperhitungkan aspek keturunan dan keturunan tersebut diteliti
sebagai satu kelompok, bukan sejumlah keturunan yang istimewa.
Dia juga memisahkan berbagai macam ciri dan meneliti satu jenis
ciri saja pada waktu tertentu; tidak memusatkan perhatian pada
tumbuhan sebagai keseluruhan. Dalam eksperimennya, Mendel

memilih tumbuhan biasa, kacang polong, sedangkan para peneliti


lain

umumnya

lebih

suka

meneliti

tumbuhan

langka.

Dia

mengidentifikasi tujuh ciri berbeda yang kemudian dia teliti:

bentuk benih (bundar atau keriput),

warna benih (kuning atau hijau),

warna selaput luar (berwarna atau putih),

bentuk kulit biji yang matang (licin atau bertulang),

warna kulit biji yang belum matang (hijau atau kuning),

letak bunga (tersebar atau hanya di ujung), dan

panjang batang tumbuhan (tinggi atau pendek). (Syamsuri,

2004)
Mendel
menyilangkan

melakukan

percobaan

(mengawin

silang)

selama

12

tahun.

sejenis

buncis

Dia

dengan

memerhatikan satu sifat beda yang menyolok. Misalnya, buncis


berbiji bulat disilangkan dengan buncis berbiji keriput, buncis
dengan biji warna kuning disilangkan dengan biji warna hijau,
buncis berbunga merah dengan bunga putih, dan seterusnya.
(Suryo, 1990).
Mendel memperoleh hukum segregasi dengan melakukan penyilangan
monohibrid, percobaan mengembangbiakkan dengan menggunakan varietas pariental
yang berbeda dalam sebuah karakter. Pengelompokkan keturunan F2 dari
penyilangan monohibrid menghasilkan fenotipe dengan rasio 3:1 (Campbell : 2004).
Hukum Mandel I berlaku pada gametogenesis F1. F1 itu
memiliki genotif heterozigot. Baik pada bunga betina maupun
benang sari, terbentuk 2 macam gamet. Maka kalau terjadi
penyerbukan

sendiri

(F1 x

F1)

terdapat

macam

perkawinan (Yatim, 1996:76).


Pada galur murni akan menampilkan sifat-sifat dominan (alel
AA) maupun sifat resesif (aa) dari suatu karakter tertentu. Bila
disilangkan, F1 akan mempunyai kedua macam alel (Aa) tetapi
2

menampakkan

sifat

dominan

(apabila

dominant

lengkap).

Sedangkan individu heterozigot (F1) menghasilkan gamet-gamet,


setengahnya

mempunyai

alel

dominan

dan

setengahnya

mempunyai alel resesif a. Dengan rekomendasi antara gametgamet

secara

rambang

populasi

F2menampilkan

sifat-sifat

dominant dan resesif dengan nisbah yang diramalkan. Nisbah


fenotif yaitu 3 dominan (AA atau Aa) : 1 resesif (aa). Nisbah geneotif
yaitu 1 dominan lengkap (AA) : 2 hibrida (Aa) : 1 resesif lengkap
(aa) (L. V. Crowder, 1997:33).

B. Alat dan Bahan


Alat
1. Percobaan Monohibrid

Bahan

Kancing Genetika:
25 pasang Merah
25 pasang Putih
2. Percobaan Dihibrid

Kancing Genetika:
25 pasang Merah
25 pasang Putih
25 pasang Hijau
25 pasang Kuning
C. Langkah Kerja
a) Monohibrid

Pisahkan 25 pasang kancing (warna merah sebagai dominan/ M) menjadi


dua bagian masing-masing menjadi dua bagian masing-masing terdiri dari
25 buah kancing berlekuk sebagai gamet betina dan 25 pasang kancing
yang menonjol sebagai gamet jantan. demikian pula untuk 25 kancing
berwana putih;
Campurkan 25 buah kancing merah dan 25 buah kancing putih sebahai
gamet betina di dalam kotak yang sama (kotak 1). demikian pula untuk
sisanya ada kotak yang lain (kotak 2);
Lakukan pengambilan secara acak satu kancing dari kotak 1 dan 1 kancing
dari kotak 2, kemudian pasangkan dan catat macam dan jumlah fenotif
serta genotif dalam tabel;

Dengan cara yang sama lakukan terus sampai kancing-kancing dari kedua
kotak habis terambil;
Hitung perbandingan yang diperoleh baik fenotip maupun genotip dengan
uji X2.

b) Dihibrid

Pisahkan 25 pasang kancing menjadi dua bagian masing-masing menjadi


dua bagian masing-masing terdiri dari 25 buah kancing berlekuk sebagai
gamet betina dan 25 pasang kancing yang menonjol sebagai gamet jantan.
demikian pula untuk 25 kancing berwana putih;
Campurkan gamet jantan masing-masing dari kancing merah (M) dan
kancing putih (m), juga gamet betina masing-masing dari kancing
merah (M) dan kancing putih (m), kemudian pasangkan secara acak
(kelompok A);
Lakukan seperti pada nomor 2 untuk kancing hijau (H) dengan kancing
kuning (h) (kelompok B);

Pertemukan setiap pasang kancing dari kelompok A dengan kelompok B


sampai habis, catat macam dan jumlah fenotip dan genotip dalam tabel;
Hitung perbandingan yang diperoleh baik fenotip maupun genotip dengan
uji X2.

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan


Perbandingan antara M (warna merah), m (warna putih), H (warna hijau), dan
h (warna kuning) pada generasi F2. Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada
pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan
pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari
induknya. Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok:

Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter


turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak
selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya m, dan alel

dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya M).
Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari teua jantan (misalnya mm)

dan satu dari tetua betina (misalnya MM).


Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Mh dan mH), alel
dominan (M atau H) akan selalu terekspresikan (nampak secara visual dari
luar). Alel resesif (m atau h) yang tidak selalu terekspresikan, tetap akan
diwariskan pada gamet yang dibentuk pada turunannya.
Dalam hitungan, harus di perhatikan besarnya derajat kebebasan (degree of

freedom), yang nilainya sama dengan jumlah kelas fenotip di kurangi dengan satu.
Dalam tabel, semakin kekanan nilai kemungkinan itu makin menjauhi nilai 1, yang
berarti bahwa data hasil percobaan yang di peroleh itu tidak baik. Semakin kekiri
nilai kemungkinan makin mendekati 1 (100%), yang berarti bahwa data percobaan
yang di peroleh adalah baik. Apabila nilai X 2 yang di dapat dari perhitungan terletak
di bawah kolom nilai kemungkinan 0,05 atau kurang (0,1 atau 0,01) itu berarti bahwa
faktor kebetulan hanya berpengaruh sebanyak 5% atu kurang, sehingga data
percobaan yang di dapat di nyatakan buruk. Apabila nilai X 2 yang di dapat dari
perhitungan letaknya di dalam kolom kemungkinan 0,01 atau ahkan 0,001 itu berarti
bahwa data yang di peroleh pada percobaan itu sangat buruk, (Suryo,2004).
Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa ternyata
kemungkinan atau peluang yang dimiliki tiap gen itu berbeda. Dan setiap
kemungkinan gen itu memiliki peluang, namun persentase peluang tiap gen itu
berbeda.
Pada percobaan model perbandingan genetis ini dilakukan dengan
menggunakan kancing genetika sebanyak 25 pasang masing-masing yang mempunyai
warna sangat bervariasi yaitu, warna merah (M), hijau (H), putih (m), dan kuning (h).
Kemudian dimasukkan dalam kotak yang berbeda yang diambil secara acak hingga
kancing genetika habis terambil.

Metode yang digunakan dalam percobaan adalah metode X2 (Chi Square)


yaitu cara untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari hasil
persilangan dengan hasil yang diharapkan berdasarkan hipotesis secara teoristis yang
harus dievaluasi. Chi- square bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang
kemungkinan gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet akan bertemu secara acak
(random).
Tabel X2

(Listiawati, 2016 :16)


a) Monohibrid
Tabel 1.1 Genotip
Kelas
Genot
ip
MM

Mm

Fenoti
p

Merah

Merah

Observe
d

Expected

Deviasi (d):

(E)

(O-E)

(O)
9

31

1
4

x 50

= 12,5
2
4 x 20

9 12,5 =

X2 = d2/E

(3,5 )2
12,5

-3,5

31- 25 = 6

0,98
62
25

= 1,44

= 25

Mm

Putih

1
4

10

Jumlah
Pembahasan:

x 50

10 12,5 =
-2,5

= 12,5
50

50

(2,5 )2
12,5

0,5
2,92

Pada percobaan pertama, setelah diperoleh data seperti yang


tersaji pada tabel 1.1, selanjutnya dilakukan perhitungan untuk
mencari nilai X2 atau chi square, maka digunakan rumus X2 = serta P yang
digunakan adalah 0,05 aatau 50% yang berarti peluang deviasi penyimpangan yang
diamati mendekati 50%.
Sebelum mencari nilai X2, terlebih dahulu dicari jumlah derajat bebas;
(db = n 1).
Dalam percobaan ini, derajat bebasnya adalah sebagai berikut:
db
db

=n-1
=31
=2

Untuk mendapatkan nilai X2 tabel dicari pada jalur P = .05 dan kolom n =
2, maka diperoleh: X2 tabel (2) = 5,491
Sedangkan X2 hitung = 2,92 (diperoleh dari jumlah X2 pada tabel 1.1)
Maka:

X2 hitung (2,92) < X2 tabel (5,491)

Artinya, hasil percobaan dapat diterima sesuai dengan Teori


Mendel yaitu perbandingan genotip untuk monohibrid adalah 1 : 2 :
1.
Tabel 1.2 Fenotip
Kelas
Fenoti
p
Merah

Genoti
p
MM
Mm

Observe
d
(O)
40

Expected

Deviasi (d):

(E)

(O-E)

3
4

x 50

40 37,5 =
2,5

X2 = d2/E

(2,5 )2
37,5

Putih

Mm

Jumlah
Pembahasan:

= 37,5
1
4 x 50

10

10 -12,5 =
-2,5

= 12,5
50

50

0,17
(2,5 )2
=
12,5
0,5
0,67

Sama halnya dengan data yang tersaji pada tabel genotip 1.1,
untuk data yang tersaji pada tabel fenotip 1.2 pun dilakukan
perhitungan untuk mencari nilai X2 atau chi square, maka digunakan rumus X2
= serta P yang digunakan adalah 0,05 aatau 50% yang berarti peluang deviasi
penyimpangan yang diamati mendekati 50%.
Sebelum mencari nilai X2, terlebih dahulu dicari jumlah derajat bebas;
(db = n 1).
Dalam percobaan ini, derajat bebasnya adalah sebagai berikut:
db
db

=n-1
=21
=1

Untuk mendapatkan nilai X2 tabel dicari pada jalur P = .05 dan kolom n =
1, maka diperoleh: X2 tabel (1) = 3,841
Sedangkan X2 hitung = 0,67 (diperoleh dari jumlah X2 pada tabel 1.2)
Maka:

X2 hitung (0,67) < X2 tabel (3,841)

Artinya, hasil percobaan dapat diterima sesuai dengan Teori


Mendel yaitu perbandingan fenotip untuk monohibrid adalah 3 : 1.
b) Dihibrid
Tabel 2.1 Genotip
Kelas
Genoti
p

Observe
Fenotip

d
(O)

Expected

Deviasi (d):

(E)

(O-E)

X2 = d2/E

MMHH

MMHh

MMhh

MmHH

MmHh

Mmhh

mmHH

mmHh

mmhh

Merah- Hijau

Merah- Hijau

MerahKuning

Merah- Hijau

Merah- Hijau

4x2=8

4x2=8

3x2=6

6x2=
12
17 x 2 =
34

Merah-

5x2=

Kuning

10

Putih- Hijau

1x2=2

Putih- Hijau

Putih- Kuning

Jumlah
Pembahasan:

6x2=
12

4x2=8
100

1
16

x 100

= 6,25
2
16 x 100
= 12,5
1
16 x 100
= 6,25
2
16 x 100
= 12,5
4
16 x 100

8 6,25 =
1,75
8 12,5 =
-4,5
6 6,25 =
-0,25
12 12,5 =
-0,5

34 25 = 9

= 25
2
16

x 100

= 12,5
1
16 x 100
= 6,25
2
16 x 100
= 12,5
1
16 x 100
= 6,25
100

10 12,5 =
-2,5
2 6,25 =
-4,25
12 12,5 =
-0,5
8 6,25 =
1,75
0

1,75 2
6,25

0,49
2
(4,5)
=
12,5
0,162
2
(0,25)
=
6,25
0,01
2
(0,5)
=
12,5
0,02
92
25 =
3,24
2
(2,5)
12,5

0,5
2
(4,25)
6,25

2,89
2
(0,5)
=
12,5
0,02
1,75 2
6,25 =
0,49
7,822

10

Pada percobaan kedua, setelah diperoleh data seperti yang


tersaji pada tabel 2.1, selanjutnya dilakukan perhitungan untuk
mencari nilai X2 atau chi square, maka digunakan rumus X2 = serta P yang
digunakan adalah 0,05 aatau 50% yang berarti peluang deviasi penyimpangan yang
diamati mendekati 50%.
Sebelum mencari nilai X2, terlebih dahulu dicari jumlah derajat bebas;
(db = n 1).
Dalam percobaan ini, derajat bebasnya adalah sebagai berikut:
db
db

=n-1
=91
=8

Untuk mendapatkan nilai X2 tabel dicari pada jalur P = .05 dan kolom n =
8, maka diperoleh: X2 tabel (8) = 15,51
Sedangkan X2 hitung = 7,822 (diperoleh dari jumlah X2 pada tabel 2.1)
Maka:

X2 hitung (7,822) < X2 tabel (15,51)

Artinya, hasil percobaan dapat diterima sesuai dengan Teori


Mendel tentang persilangan dihibrid.
Tabel 2.2 Fenotip
Kelas

Genoti

Fenotip

Merah
Hijau
Merah

MMHH
MMHh
MmHH
MmHh
MMhh

Kuning

Mmhh

Putih Hijau

mmHH
mmHh

Observe
d

Expected

Deviasi (d):

(E)

(O-E)

(O)
62

16
14

9
16

x 100

= 56,25
3
16 x 100
= 18,75
3
16 x 100

62 56,25 =
5.75
16 18,75 =
-2,75
14 18,75 =
-4,75

X2 = d2/E
5,752
56,25

0,588
2
(2,75)
=
18,75
0,403
2
(4,75)
=
18,75

11

Putih

mmhh

Kuning

Jumlah
Pembahasan:

= 18,75
1
16 x 100

= 6,25
100

100

1,203
1,75 2
6,25 =

8 6,25 = 1,75

0,49
2,684

Sama halnya dengan data yang tersaji pada tabel genotip 2.1,
untuk data yang tersaji pada tabel fenotip 2.2 pun dilakukan
perhitungan untuk mencari nilai X2 atau chi square, maka digunakan rumus X2
= serta P yang digunakan adalah 0,05 aatau 50% yang berarti peluang deviasi
penyimpangan yang diamati mendekati 50%.
Sebelum mencari nilai X2, terlebih dahulu dicari jumlah derajat bebas;
(db = n 1).
Dalam percobaan ini, derajat bebasnya adalah sebagai berikut:
db
db

=n-1
=41
=3

Untuk mendapatkan nilai X2 tabel dicari pada jalur P = .05 dan kolom n =
3, maka diperoleh: X2 tabel (3) = 7,816
Sedangkan X2 hitung = 2,684 (diperoleh dari jumlah X2 pada tabel 2.2)
Maka:

X2 hitung (2,684) < X2 tabel (7,816)

Artinya, hasil percobaan dapat diterima sesuai dengan Teori


Mendel yaitu perbandingan fenotip untuk dihibrid adalah 9 : 3 : 3 :
1.
E. Diskusi
a) Monohibrid
1. Apakah arti masing-masing pasangan kancing pada kedua puluh lima pasang
kancing yang berwarna merah dan putih sebelum dipisahkan?
Jawab:
Arti masing-masing pasangan kancing adalah pasangan gen yang sealel.

12

2. Gamet jantan pada generasi apa yang ditunjukan dengan kancing merah dan
putih pada kotak 1?
Jawab:
Gamet jantan yang ditunjukan dengan kancing merah dan putih pada kotak 1
adalah berada pada generasi P1
3. Generasi apakah yang ditunjukan dengan hasil perbandingan fenotip dan genotip
yang dihasilkan dari pengamatan ini?
Jawab:
Generasi yang ditunjukan dengan hasil perbandingan fenotip dan genotip yang
dihasilkan dari pengamatan ini adalah generasi F1
4. Bagaimana kesimpulan dari pengamatan ini?
Jawab:
Kesimpulan dari percobaan monohibrid ini adalah baik perbandingan rasio
genotip maupun fenotip hasilnya adalah sesuai dengan Teori Mendel, yaitu
perbandingan rasio genotip 1 : 2 : 1 dan perbandingan rasio fenotip 3 : 1.
5. Dari hasil uji X2 yang dilakukan pada perbandingan fenotip dan genotip
bagaimana penyimpangan yang terdapat pada data saudara?
Jawab:
Berdasarkan hasil uji X2 yang dilakukan, penyimpangan yang terdapat pada data
adalah mendekati 50% atau P = 0,05.
b) Dihibrid
1. Pada waktu dilakukan perpasangan antara kancing merah dan putih, saudara akan
mendapatkan pasangan kancing merah-merah, meraah-putih dan putih-putih
(kelompok kancing A). Sebenarnya masing-masing pasangan kancing pada
kelompok A itu menunjukan apa?
Jawab:
Masing-masing pasangan kancing pada kelompok A menunjukan pasangan alel
setelah dilakukan persilangan dengan sifat monohibrid (segregasi pasangan gen
sealel). Merah-merah, merah-putih dan putih-putih merupakan pasangan alel
pada F1.
2. Setiap dua pasang kancing dari kelompok A dan B menunjukan ... dari
generasi ...
Jawab:
Setiap dua pasang kancing dari kelompok A dan B menunjukan F2 dari generasi
P2
3. Cara kerja nomor berapa yang menunjukan peristiwa independent assortment?
13

Jawab:
Peristiwa independent assortment ditunjukan oleh cara kerja nomor 4, saat
setiap pasang kancing dari kelompok A dan kelompok B dipertemukan sampai
habis.
4. Bagaimana kesimpulan dari pengamatan ini?
Jawab:
Kesimpulan dari percobaan persilangan dihibrid yang dilakukan adalah hasil
percobaan dapat diterima karena sesuai dengan Teori Mendel dengan
perbandingan rasio fenotip untuk persilangan dihibrid 9 : 3 : 3 : 1.
F. Simpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, dapat dibuktikan bahwa data
yang diperoleh baik pada percobaan pertama (monohibrid) maupun percobaan kedua
(dihibrid) dengan penyimpangan mendekati 50 % adalah sesuai / dapat diterima
berdasarkan Teori Mendel yang mengatakan bahwa perbandingan rasio genotip
monohibrid 1 : 2 : 1 dan perbandingan rasio fenotifnya 3 : 1, sedangkan pada
persilangan dihibrid, rasio fenotifnya 9 : 3 : 3 : 1.
Daftar Pustaka
Campbell. 2010. Biologi. Jakarta: Erlangga
Crowder, L. V. 1997. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press
Listiawati, Milla. 2016. Pedoman Praktikum Genetika. Bandung: UIN
SGD
Suryati, Dotti. 2007. Penuntun Pratikum Genetika Dasar. Bengkulu:
Lab. Agronomi

Universitas Bengkulu.

Suryo. 2004. Genetika.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Suryo. 1990. Genetika Manusia.Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Syamsuri, Istamar, dkk. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Yatim, Wildan. 1996. Genetika. Bandung: Tarsito.

14