Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kristalisasi (crystallization) merupakan peristiwa pembentukan kristalkristal padat dalam suatu fase homogen. Baik itu dalam pembuatan partikel
padat didalam uap seperti dalam hal pembuatan salju atau pembuatan partikel
padat didalam lelehan cair sebagai mana dalam pembuatan kristal tunggal
yang besar maupun kristalisasi dari larutan cair misalnya pembuatan garam.
Peristiwa kristalisasi ditandai dengan terbentuknya kristal padat.
Agar kristal-kristal dapat terbentuk dari suatu larutan harus dalam
keadaan lewat jenuh. Konsentrasi bahan yang akan dikristal dalam larutan
harus lebih tinggi dari pada kelarutannya pada suhu yang bersangkutan
perbedaan konsentrasi ini dapat dianggap sebagai gaya pendorong kristalisasi.
Keadaan lewat jenuh dapat dicapai dengan cara berbeda-beda. Pemilihan
metoda tergantung pada apakah kelarutan dari bahan yang akan dikristalisasi
berubah sedikit atau banyak dengan suhunya. Yang biasa digunakan adalah
metoda-metoda berikut ini :
1. Pendinginan
2. Penguapan
3. Penguapan pendingina
4. Penambahan bahan lain
Kristal merupakan suatu benda mati yang terorganisasi dan dibentuk oleh
partikel-partikel (yang bisa berupa atom, molekul atau ion) tersusun dalam
suatu susunan tiga dimensi yang beraturan. Bentuk kristal dapat berupa
polyhedron yang mempunyai sudut-sudut tajam dan sisi yang rata, bentuk ini
dapat terbentuk jika kristal dibiarkan sehingga permukaannya tidak mendapat
gangguan dari kristal lain atau benda luar.
Berdasarkan sudut-sudut yang terbentuk kristal dibagi kedalam 7 kelas :
1. Kubus (cubic)
2. Trigonal (trigonal)
3. Tetragonal (tetragonal
1

4. Heksagonal (hexagonal)
5. Ortorombik (orthorhombic)
6. Monoklin (monoclinic)
7. Triklin (triclinic)
Bentuk kristal yang geometri dapat dipelihara selama kristal itu tumbuh.
Satu muka kristal mungkin tumbuh jauh lebih cepat dari muka yang lain
sehingga menghasilkan kristal yang panjang dan berbentuk jarum. Laju
pertumbuhan setiap muka diukur dengan kecepatan translasi muka itu dalam
berpindah menjauhi pusat pada arah tegak lurus terhadap muka. Pertumbuhan
kristal merupakan suatu proses difusi, yang dimodifikasi oleh pengaruh
permukaan padat tempat pertumbuhan itu berlangsung. Molekul-molekul atau
ion-ion zat terlarut mencapai muka kristal yang tumbuh itu dengan cara difusi
melalui fase zat cair. Setelah mencapai permukaan molekul atau ion itu akan
ditampung oleh kristal dan disusun dalam kisi ruang. Proses difusi maupun
langkah antarmuka hanya dapat berlangsung jika larutan itu lewat jenuh.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksut dengan alat kristalisator?
2. Bagaimana Pembagian Tahapan Operasi Kistalisasi?
3. Apa saja jenis-jenis kristalisator?
C. Tujuan
1. Memahami alat kristalisator
2. Mengetahui pembagian tahapan operasi kristalisasi
3. Mengetahui jenis-jenis kristalisator

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kristallisator
Alat-alat kristalisasi disebut juga kristallisator. Alat-alat ini digunakan
dalam proses kristalisasi terutama dalam skala industri, alat-alat yang
digunakan dalam proses kristalisasi sangat beragam macam, hal ini

disebabkan oleh sifat-sifat bahan dan kondisi pertumbuhan kristal yang sangat
bervariasi. Disamping itu juga karena kristallisasi dilaksanakan untuk tujuan
yang berbeda-beda (pemisahan bahan, pemurnian bahan, pemberian bentuk).
Penggunaan alat kristallisasi harus memenuhi persyaratan misalnya
konsentrasi, suhu, dan gerakan untuk menunjang pertumbuhan inti atau benih
kristal. Dengan melengkapi perlengkapan-perlengkapan pada kristalisator
untuk

memungkinkan

terjadinya

perpindahan

panas

(pemanasan,

pendinginan, dan penguapan) dan juga gerakan (pengadukan, penggulingan,


pengankutan).
Kristallisator biasanya dilengkapi dengan alat pemisah (filtrasi) yang
dipasang dibelakang alat kristalisasi dan alat pengering. Faktor-faktor yang
menjadi dasar pemilihan sebuah alat kristalisasi ialah :
1. Unjuk kerja kristalisasi yang diingikan
2. Cara operasi (tak kontinu, kontinu)
3. Kondisi bahan baku (larutan , lelehan)
4. Ukuran Kristal yang diinginkan
5. Bentuk Kristal yang diinginkan
6. Kemurnian kristalisat yang diinginkan
7. Kecendrungan produk untuk membentuk kerak.

B. Pembagian Tahapan Operasi Kristalisasi


1. Membuat Larutan Lewat Jenuh
Bila larutan telah mencapai derajat saturasi tertentu, maka di dalam
larutan akan terbentuk zat padat kristaline. Oleh sebab itu derajat
supersaturasi larutan merupakan faktor terpenting dalam mengontrol
operasi kristalisasi. Cara mencapai supersaturasi:
a. Pendinginan
Yaitu mendinginkan larutan yang akan dikristalka sampai keadaan
supersaturasi dimana konsentrasi larutan lebih besar dari konsentrasi
larutan jenuh pada suhu tersebut.
b. Penguapan Solvent

Larutan disiapkan dalam evaporator untuk dipekatkan, lalu dikristalkan


dengan pendingn. Cara ini digunakan untuk zat yang mempunyai kurva
kelarutan agak dalam.
c. Evaporasi Adiabatis
Larutan dalam keadaan panas bila dimasukan ke dalam ruang vacuum,
maka terjadi penguapan dengan sendirinya, sebab tekanan totalnya
menjadi lebih rendah dari tekanan uap solvent pada suhu itu. Penguapan
dan turunya suhu disertai kristalisasi.
d. Penambahan zat lain yang dapat menurunkan kelarutan zat yang akan
dikristalisasi, misalnya larutan NaOH ditambah gliserol, maka
kelarutan NaOH menjadi turun dan larutan NaOH mudah diendapkan.
2. Pembentukan Inti Kristal
Pembentukan Inti Kristal secara sistematis :
a. Primary Nukleus
Proses pembentukan inti kristal karena larutan telah mencapai derajat
supersaturasi yang cukup tinggi.
b. Homogen Nukleus
Nukleus disini pembentukannya spontan pada larutan dengan
supersaturasi tinggi, artinya nukleus terbentuk karena penggabungan
molekul-molekul solute sendiri
c. Heterogen Nukleus
Pembentukan inti kristalnya masih dalam supersaturasi tinggi, namun
dapat dipercepat dengan adanya partikel-partikel asing seperti debu
dan sebagainya.
3. Pertumbuhan Kristal
Umumnya kristal yang berukuran > 100 kecepatan tumbuhnya tidak
tergantung pada ukuran.
C. Jenis - Jenis Kristallisator
Jenis-jenis kristalisator antara lain :
1)
2)
3)
4)
5)

Draft Tube Baffle Crystallizer


Forced Circulation Crystallizer
Oslo Type Crystallizer
Agitated Batch
Swenson Walker

1. DRAFT TUBE BAFFLE CRYSTALLIZER


a. Pengertian Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizers
Draft tube baffle (DTB) crystallizers atau plat buang/tabung isap
kristalisasi merupakan salah satu dari beberapa jenis alat kristalisator yang
didasarkan pada pemisahan debu/uap dari bahan melalui fase lewat - jenuh
yang ditingkatkan sehingga diperoleh kristal kristal yang besar. Alat ini
dilengkapi dengan tabung junjut fungsi sekat untuk mengendalikan
sirkulasi magma dan dilengkapi pula oleh alat penggerak (argitator).
Fungsi sirkulasi terkontrol terhadap aliran magma.
b. Prinsip Kerja Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizers
Crystallizer DTB terdiri dari :
1) Superheated Solution From Hearter and Recirculation Pump,
merupakan pompa sirkulasi yang letaknya pada bagian paling bawah
dari Crystallizer DTB yang berfungsi untuk mendorong (mengalirkan)
bahan yang berasal dari pusat ke Draft tube untuk proses lebih lanjut.
2) Draft Tube, merupakan pipa isap bagian dalam dari Crystallizer DTB
sebagai pusat sirkulasi bahan.
3) Agitator, merupakan pemutar atau pengaduk.
4) Slurry Withdrawal, merupakan tempat penarikan atau pengambilan
kembali.
5) Settling zone, merupakan zona penyelesaian. Pada zona ini terdapat
Clear Mother Liquor Overlow dan To Recirculation pump.
6) To Recirculation Pump, merupakan pompa sirkulasi ulang.
7) Clear Mother Liquor Overlow, merupakan tempat keluarnya cairan
induk.
8) Circulation Magma, merupakan tempat sirkulasi Magma (hasil akhir
kristallisator dari campuran Mother Liquor dengan kristal.
9) Vapors Separation (pemisahan uap).
10) Demister
11) Proses Vapors Outlet, merupakan tempat proses keluarnya uap.

Gambar 1. Draft Tube Baffle Cystallizer.


Secara sederhana proses kerja Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizers
dapat dibedakan menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah proses
kristalisasi dan bagian kedua adalah proses klarifikasi. Pada bagian
kristalisasi, bahan sample dan cairan induk (mother liquit) dimasukkan
kedalam tangki DTB Crystallizers melalui sebuah pipa, komponen ini akan
mendorong bahan naik ke atas dalam suatu tabung isap. Didalam tabung isap
bahan akan tercampur dan mengalami sirkulasi dengan bantuan Agitator
(pemutar/pengaduk) yang berada di dalam tangki bagian bawah, Kedua bahan
ini akan membentuk magma melalui fase lewat-jenuh yang ditingkatkan.
Magma yang terbentuk akan mengalami perubahan density sehingga uap
yang terkandung di dalamnya akan terlepas kepermukaan magma menuju ke
Vapors Separation (pemisahan uap). Magma yang mengalami perubahan
density akan mengalami proses nukleasi (pembentukan inti kristal), kristal
yang terbentuk akibat proses nukleasi akan mengendap kadasar larutan dan
sebagian akan naik ke permukaan. Kristal yang mengendap akan mengalami
pemisahan antara kristal halus dan kristal kasar, pada zona penyelesaian
sebagian Kristal akan dikeluarkan dari dasar tangki dan selebihnya dijadikan

umpan bersama cairan induk untuk melakukan proses sirkulasi guna


melarutkan partikel-partikel halus yang masih mengendap. Pada bagian
klarifikasi akan terjadi pemisahan pada bentuk kristal, Kristal yang sesuai
dengan keinginan akan diambil dan kristal yang belum sesuai (ukurannya
besar/kasar) akan dikembalikan ke zona kristalisasi untuk proses lebih lanjut.
c. Produk Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizers
Dengan menggunakan alat pengkristal Draft Tube Baffle (DTB)
Crystallizers diperoleh produk :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Natrium Karbonat (Sodium Carbonate)


Sodium Sulfat (Sodium Sulfate)
Natrium Nitrat (Sodium Nitrate)
Tembaga Sulfat (Copper Sulfate)
Sodium Sulfit (Sodium Sulfite)
Kalsium Klorida (Calcium Chloride)
Amonium Sulfat (Ammonium Sulfate)
Kalium Klorida (Potassium Chloride).

2. FORCED CIRCULATION CRYSTALLIZERS

Gambar 2. Forced Circulation Crystallizer


Forced Circulation Crystallizer (FC) adalah aplikasi praktis dari
MSMPR (suspensi campuran, penghapusan produk campuran) crystallizer.

Il pada dasarnya disusun oleh badan kristalisasi dan loop sirkulasi


eksternal yang laju aliran terjamin oleh pompa baling-baling, dilengkapi
dengan shell and tube heat exchanger. Agitasi internal yang disediakan
oleh circulator eksternal yang juga harus memenuhi persyaratan
pertukaran

panas

sehingga

menimbulkan

jenuh

operasi.

Karena

kesederhanaan dan kemudahan desain dan operasi, itu adalah kuda kerja
industri kimia.
Sistem ini dapat berupa efek tunggal atau ganda dan konsep
recompression uap (baik termal atau mekanis) sering diterapkan. Biasanya,
mereka beroperasi dari vakum rendah tekanan atmosfer. Sebagai aturan,
unit-unit ini digunakan untuk tingkat penguapan yang tinggi dan ketika
ukuran kristal tidak hal yang sangat penting atau jika kristal tumbuh pada
tingkat

yang

wajar.

Hampir

semua

bahan

dipertimbangkan untuk pembuatan crystallizers ini.


Produk khas adalah:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

NaCl (makanan atau kelas teknis)


KNO 3
Na 2, SO 4, K 2 SO 4
NH 4 Cl
Na 2 CO 3 H 2 O
Asam sitrat.

3. OSLO TYPE CRYSTALLIZERS

konstruksi

dapat

Gambar 3. Oslo Type Crystallizer


Oslo Jenis crystallizer juga disebut diklasifikasikan-suspensi
crystallizer adalah desain tertua dikembangkan untuk produksi besar,
kristal kasar. Kriteria desain dasar ada dua:
a. desupersaturation dari larutan induk melalui kontak dengan kristal
terbesar hadir di ruang kristalisasi
b. menjaga sebagian besar kristal dalam suspensi tanpa kontak dengan
perangkat pengadukan, sehingga memungkinkan produksi kristal
besar distribusi ukuran yang sempit.
Pengklasifikasian kristalisasi ruang adalah bagian bawah unit.
Bagian atas adalah area pemisahan minuman keras-uap jenuh di mana
dikembangkan oleh penghapusan pelarut (air untuk sebagian besar
aplikasi). Cairan sedikit jenuh mengalir turun melalui pipa tengah dan
jenuh yang lega dengan kontak dengan fluidized bed kristal.
Desupersaturation terjadi secara progresif sebagai larutan induk beredar
bergerak ke atas melalui tidur pengklasifikasian sebelum dikumpulkan di
bagian atas ruangan. Kemudian daun melalui pipa beredar dan setelah
penambahan pakan segar, melewati penukar panas di mana panas makeup disediakan. Hal ini kemudian didaur ulang ke bagian atas.

Perangkat tambahan, seperti dijelaskan untuk sirkulasi crystallizer


paksa, tentu saja tersedia. Perlu diingat bahwa biaya operasi unit jenis
crystallizer Oslo jauh lebih rendah daripada dengan jenis lain ketika kristal
baik besar dan kasar yang diperlukan. Karena kristal yang tidak bersentuhan
dengan perangkat agitasi, jumlah denda yang harus dihancurkan lebih
rendah dan begitu juga kebutuhan energi yang sesuai.
Selain operasi proses biasa, Oslo Jenis crystallizer juga menemukan
sejumlah aplikasi yang menarik, misalnya untuk reaksi-kristalisasi dan
pemisahan-kristal jika beberapa spesies kimia yang terlibat. Sebagian besar
jenis Oslo unit kristalisasi adalah dari "jenis dekat." Namun, "terbuka" Jenis
(lihat Gambar 2) layak untuk dipertimbangkan ketika daerah pengendapan
yang sangat besar diperlukan atau ketika kapal harus dibuat dari paduan
biaya tinggi atau logam.

Gambar 4. Oslo Open Type Crystallizer.


Produk khas adalah:
1)
2)
3)
4)

(NH 4) 2 SO 4
Na 2 SO 4
AgNO3
mono sodium glutamat terhidrasi

10

5) mono amonium fosfat (MAP)


4. AGIATATED BATCH
a. Bahan yang diolah : natrium sulfit (Na2SO3) dengan Sulfur dalam bentuk S8
b. Produk : kristal Na2S2O3.5H2O
c. Cara kerja :
Natrium tiosulfat diperoleh dengan mereaksikan antara natrium sulfit
(Na2SO3) dengan Sulfur dalam bentuk S8. Kedua senyawa ini direfluks
dengan melarutkannya dalam air. Sebelum dimasukkan dalam labu refluks
kedua senyawa dicampur dan diaduk terlebih dahulu dengan penambahan air
beberapa mililiter sampai terbentuk suspensi, ini dilakukan agar serbuk sulfur
tidak mengapung jika dimasukkan ke dalam labu refluks. Setelah direfluks
larutan disaring agar terpisah dari zat pengotornya. Larutan tersebut disaring
dalam keadaan panas untuk mencegah terbentuknya kristal dalam kertas
saring. Setelah disaring, filtrat yang diperoleh kemudian diuapkan sampai
terbentuk kristal. Proses penguapan ini untuk menghilangkan molekul air
yang bukan pentahidrat. Adapun kristal yang diperoleh adalah kristal yang
berwarna putih, sesuai dengan warna kristal Na2S2O3 yang sebenarnya.
d. Adapun reaksi yang berlangsung pada pembuatan Na2S2O3 ini adalah :
8 Na2SO3 + S8 + 5 H2O 8 Na2S2O3 + 5 H2O

5. SWENSON WALKER
a. Bahan yang diolah : gula
b. Cara kerja :
suhu sangat berpengaruh terhadap proses pelarutan suatu zat padat di
dalam zat cair. Semakin tinggi suhu/temperatus suatu zat cair semakin cepat
proses pelarutan suatu zat padat (larutan) sehingga semakin sedikit atau
bahkan tidak ada endapan yang tersisa. Sebaliknya, semakin rendah
suhu/temperatur suatu zat cair semakin lambat proses pelarutan suatu zat
padat (larutan) sehingga masih banyak endaopan yang tersisa di zat cair
tersebut. Ini terjadi karena pada suhu tinggi, molekul-molekul air bergerak
lebih cepat. Sehingga lebih sering menumbuk molekul (gula) dan
melarutkannya. Sedangkan pada suhu rendah, molekul air bergerak lebih
lambat, dan membuat jumlah tumbukannya dengan molekul gula menjadi
lebih sedikit, dan gula menjadi lambat larutnya.

11

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Proses kristalisasi merupakan suatu metode pemisahan bahan atau
pemurnian bahan untuk medapatkan produk (kristal) dalam bentuk padat
dengan kualitas yang tinggi. Kristal yang terbentuk melewati fase lewat-jenuh
sehingga didapat kristal dengan permukaan keras dan pertumbuhan yang
singkat. Keunikan dari menggunakan alat ini ialah produk (kristal) yang
terbentuk tidak semuanya diambil tetapi sebagian kristal diproses ulang
sehingga diperoleh kristal dengan nilai kwalitas yang tinggi dalam jumlah
yang besar.

12

DAFTAR PUSTAKA
http://blog.ub.ac.id/gemilang/files/2014/06/Tugas-Satuan-Operasi-danProses (diakses pada 16 Oktober)

http://laporan-kita.blogspot.com/2011/06/pembuatan-natriumtiosulfat.html (diakses pada16 Oktoer )

https://www.google.com/search? jenis-jenis+kristalisator (diakses pada


23 Oktober)

13