Anda di halaman 1dari 22

SOLUSI ANALITIK DAN NUMERIK

KONDUKSI PANAS PADA PEMBANGKIT ENERGI


Elfrida Saragi*

ABSTRAK
SOLUSI ANALITIK DAN NUMERIK KONDUKSI PANAS PADA PEMBANGKIT
ENERGI. Problem konduksi panas yang timbul karena pembangkit energi dalam benda padat terdapat
pada beberapa aplikasi enginering seperti perpindahan panas pada bahan bakar reaktor nuklir, disipasi
panas dari sumber panas secara elektrik dan lain lain. Dalam tulisan ini diterangkan teknik solusi
analitik dan numerik untuk menentukan distribusi temperatur dan aliran panas pada konduksi panas
dalam keadaan tunak berdimensi satu akibat pembangkit energi pada benda yang mempunyai bentuk
seperti bidang datar, silinder. Formulasi masalah konduksi panas yang dikenalkan adalah beda hingga.

ABSTRACT
ANALYTIC AND NUMERICAL SOLUTIONS ON THE HEAT CONDUCTION WITH
ENERGY GENERATION. Heat conduction problems involving energy generation in the solid come up
in numerous engineering applications, including heat removal from the fuel elements of nuclear reactor,
heat dissipation from electrically heat source, and many others. This paper presents analytic and
numerical solution techniques for determining temperature distribution and heat flow in one dimensional
steady state heat conduction with energy generation in solids having shape such as plane walls, cylinders.
The finite difference formulation of heat conduction problem is introduced.

PENDAHULUAN
Solusi analitik untuk masalah konduksi panas seperti pada geometrik yang
komplek, problem nonlinear, sistem termal yang meliputi coupling antara elemen
elemen sangat rumit. Untuk menyelesaikan masalah konduksi panas satu dimensi pada
keadaan tunak dengan pembangkit energi adalah menentukan distribusi temperatur
dan aliran rata rata panas pada medium dengan bentuk geometrinya diambil contoh
yaitu; bidang datar, silinder.

Pusat Pengembangan Teknologi Informatika dan Komputasi - BATAN

SOLUSI ANALITIK
Bidang Datar dengan Pembangkit Energi dan Temperatur Permukaan Konstan
Pada gambar 1 untuk ketebalan permukaan datar adalah L, syarat batas
permukaan x = 0 dan x = L yang konstan tetapi temperaturnya berbeda yaitu T1 dan
T2. Konduktiviti termal papan datar adalah k dan pembangkit energi adalah g dalam
W/m3.
T(0)=T1
Q1

T(x
)

T(L) =T2
Q2

Gambar 1. Distribusi temperatur asimetrik


Secara matematik formulasi konduksi panas adalah;
d 2T ( x )
g
+
= 0
2
dx
k

T(x) = T1
T(x) = T2

pada 0<x<L

1-1a

pada x = 0
pada x = L

1-1b
1-1c

Distribusi temperatur T(x) untuk bidang datar ditentukan dengan integrasi langsung
dari persamaan differensial. Integral persamaan 1-1a menjadi

T ( x) =

g 2
x + C1 x + C 2
2k

Untuk syarat batas pertama (boundary condition) ;


C2 = T 1
Syarat kondisi yang kedua;
C1 =

gL T2 T1
+
L
2k

1-2
1-3
1-4

C1 dan C2 diketahui, distribusi panas dari persamaan 1-2 menjadi;

gL2
T ( x) =
2k

x x 2
x
+ (T2 T1 ) + T1
L
L L

1-5

Bentuk pertama pada samping kanan adalah distribusi pembangkit energi dalam
medium ke distribusi temperatur, dan bentuk kedua adalah kontribusi temperatur pada
batas permukaan. Dari persamaan 1-5 diperoleh beberapa syarat yaitu;
a. Jika pembangkit energi (g) = 0 maka pers 1-5 menjadi

T ( x ) = (T2 T1 )

x
+ T1
L

1-6

T(x)= distribusi temperatur linear.


b. Syarat temperatur permukaan adalah sama
Jika syarat temperatur permukaan adalah T1 dan T2 adalah sama,yaitu
T1 = T2 Tw,
Maka distribusi temperatur;

gL2
T ( x) =
2k

x x 2
+ Tw
L L

1-7

di mana distribusi temperatur parabolik dan simetrik mempunyai temperatur


maximum pada sumbu simetri x = L/2 seperti gambar 2. Formulasi matematik untuk
problem yang tergantung pada plat, 0<x<L/2 sebagai berikut;
Tc
T(-L/2)=Tw

T(L/2)=Tw
x
L/2

L/2

Gambar 2. Distribusi temperatur simetrik

d 2T ( x ) 1
+ g=0
k
dx 2
dT ( x )
=0
dx
T ( x ) = Tw

pada 0 < x < L/2

1-8a

pada x = 0

1-8b

pada x = L/2

1-8c

Problem ini diselesaikan dengan mengintegralkan pers 1-8a dua kali dan
memasukkan syarat batas x = 0 dan x = L/2. Ekspresi temperatur menjadi;

gL2
T ( x) =
2k

1 x 2
+ Tw
4 L

1-9

di mana koordinat x merupakan garis pusat slab seperti pada gambar 2. Temperatur
pada garis pusat, x = 0 diperoleh dari pers 1-9 dengan menentukan x = 0;

Tc =

gL2
+ Tw
8k

1-10

Sisa Energi Plat


Sisa energi plat pada batas permukaan merupakan kuantiti yang terkait untuk
menentukan fluks panas. Sisa energi pada batas permukaan kanan x = L/2 adalah;

dT ( x )
L
q = k
dx x = L
2

1-11a

Pers 1-9 dimasukkan pada pers 1-11a dan menentukan x = L/2, maka fluks panas pada
batas permukaan x = L/2 menjadi;

L gL
q =
2 2

W / m2

1-11b

Fluks panas di batas permukaan kiri x = -L/2 ;

gL
L
q =
2
2

W / m2

1-12

di mana kuantiti gL/2 adalah negatip dan q(-L/2) adalah negatip.

Bidang Datar dengan Pembangkit Energi dan Konveksi


Gambar 2.1 untuk batas permukaan x = 0 merupakan isolasi dan batas
permukaan x = L, terjadi disipasi panas dengan koefisien perpindahan panas adalah h
pada temperatur T.

Isolasi
Konveksi h, T

O L
Gambar 2.1. Pembangkit Energi Secara Konveksi pada Bidang Datar

Formulasi matematik dapat ditulis persamaan :

d 2T ( x ) g
+ =0
pada
dx 2
k
dT ( x )
=0
pada
dx
dT ( x )
k
= h [T ( x ) T ]
dx

0<x<L

1-13a

x=0

1-13b

x=L

pada

dT ( x )
g
= x + C1
dx
k

1-13c
1-14

Dari pers 1-14, jika syarat batas C1 = 0 maka


dT ( x )
g
= x
dx
k

1-15

Untuk syarat batas kedua dari pers 1-2 bila C1 = 0 maka;


g 2
x + C2
2k
g 2

g
k L = h
L + C 2 T
2k

T ( x) =

C2 =

1-16

1-17

gL2 gL
+
+ T
2 k h

Distribusi temperatur menjadi;


2
gL2 x gL
1 +
T (x) =
+ T
1-18
2 k L h

Koefisien perpindahan panas (h) mempunyai dua batasan yaitu ;


a. h
yang bernilai besar maka resistan termal pada batas permukaan hilang
dan persamaan 1-34 menjadi;
2
gL2 x
1 + T
T ( x) =
1-19
2k L

b. h
0 maka distribusi temperatur T(x) menjadi tak terhingga dan syarat batas
menjadi;

dT ( x )
0
dx

jika h

Benda yang Berbentuk Silinder dengan Pembangkit Energi dan Temperatur


Permukaan Konstan
Pada gambar 3 benda silinder dengan radius r = b , di mana temperatur
permukaan disebut temperatur yang sama yaitu Tw, konduktiviti termal dan
pembangkit energi konstan.

Pembangkit
Energi, g
b
0
r

T(b) = Tw

Konveksi h, T

Gambar 3. Benda Silinder dengan Pembangkit Energi


Persamaan konduksi panas, di mana,

1 d dT (r ) g
r
+ =0
r dr dr k
dT ( r )
=0
dr

pada 0 < r < b

pada r = 0

1-20a
1-20b

Temperatur permukaan = Tw
T ( r ) = Tw

pada r = b
Persamaan 1-20a diselesaikan dengan integrasi pertama;
dT ( r )
g
C
=
r+ 1
r
dr
2k

1-20c

1-21

Untuk C1 = 0 maka distribusi temperatur menjadi


dT ( r )
g
=
r
dr
2k

1-22

Integrasi dari persamaan 1-22 menjadi;


T (r ) =

g 2
r + C2
4k

1-23

Untuk syarat batas C2 pada temperatur T(r) = Tw menjadi;


C2 =

gb 2
+ Tw
4k

1-24

Distribusi temperatur dari pers 1-24 dimasukkan ke pers 1-23 menjadi ;


T (r ) =

2
gb 2 r
1 + Tw
4k b

1-25

Fluks panas dalam medium didefenisikan sebagai berikut;


q( r ) = k

dT ( r )
dr

1-26

Untuk fluks panas pada batas permukaan adalah;


q( r ) =

gr
2

1-27

Jika r = b maka fluks panas menjadi;


q( r ) =

gb
2

W/m2

1-28

Jika temperatur tinggi terjadi ditengah silinder maka temperatur digaris tengah
diperoleh dari pers 1-25 dengan menentukan r = 0 menjadi;
Tc =

gb2
+ Tw
4k

1-29

Benda Berbentuk Silinder dengan Pembangkit Energi dan Konveksi


Pada gambar 4, aplikasi energi pada disipasi energi secara konveksi yang
berasal dari luar permukaan menuju ke dalam dengan temperatur yang konstan T.

Pembangkit
energi,g
b
0

Konveksi h, T

Gambar 4. Benda berbentuk silinder dengan pembangkit energi ke kondisi batas


konveksi
Secara matematik dapat ditulis persamaan;
1 d dT ( r ) g
r
+ =0
r dr dr k

di 0 < r< b

1-30a

dT ( r )
=0
dr
k

dT ( r )
= h [t ( r ) T ]
dr

pada r = 0

1-30b

pada r = b

1-30c

Persamaan 1-30a diintegrasikan dan diaplikasikan ke syarat batas pers 1-30b dengan
menentukan C1 = 0 maka;
dT ( r )
g
=
r
dr
2k

1-31

Persamaan diatas diintegrasikan untuk mendapatkan distribusi temperatur pada C2


menjadi;
T (r ) =

g 2
r + C2
4k

1-32

Pers 1-30c diintegrasikan dengan syarat batas r = b maka C2 menjadi;


C2 =

g
g 2
b + T
b +
4k
2h

1-33

Distribusi temperatur pada silinder menjadi;


T (r ) =

2
gb 2 r gb
+ T
+ 1 +
4k b 2h

1-34

Secara fisika koefisien perpindahan panas (h ) mempunyai 2 batasan yaitu ;


Distribusi temperatur pada bidang datar (slab) pada koefisien perpindahan panas
h
maka;

2
gb 2 r
T (r) =
+ 1 + T
4k b

1-35

h
0 . Koefisien perpindahan panas yang bernilai kecil di mana temperatur
T(r) menjadi tak terhingga, maka syarat batas pada pers 1-30b menjadi;

dT ( r )
= 0 pada h
dr

Flux panas q(r) didefenisikan menjadi;

q( r ) = k

dT ( r )
dr

1-36

Pers 1-32 dimasukkan ke pers 1-36 maka flux panas menjadi;

q( r ) =

g
r
2

1-37

SOLUSI NUMERIK
Rumus Beda Hingga yang Digunakan pada Bidang Datar.
Persamaan konduksi panas pada bidang datar dengan syarat batas permukaan
x = 0 dan x = L , pembangkit energi adalah g(x) dalam W / m3 menjadi;

d 2T ( x ) 1
+ g ( x) = 0
dx 2
k

dalam 0 < x < L

2-1

Distribusi temperatur pada bidang datar dengan menentukan titik node l pada medium
seperti gambar 5.
T1
.
1

T2
.
2

T3
.
3

Tm - 1
.

x=0

m-1

Tm
.

Tm + 1
.
m

m+1

TM
.

.
x

(m-1/2) (m+1/2)

TM+1
.

.
M

X
M+1
x=L

Gambar 5. Seleksi node pada bidang datar.


Analisa pertama dengan membagi ke dalam bagian ke dalam M

x =

L
M

2-2

di mana node-node dimulai dari m=1 ke m = M+1 pada gambar 5, besar node m sama
dengan lokasi pada koordinat x yang diberikan;
x = (m-1) x
untuk m = 1,2,3,,M+1
2-3
di mana m =1 sama dengan ke syarat permukaan pada x = 0 dan m = M +1 sama
dengan dengan syarat permukaan x = L. Temperatur T(x) pada node m menjadi;

T ( x ) = T [(m 1)x ] Tm

2-4

g(x)

Ak

Tm+1

Tm

Tm-1

(T

T
x

m 1

Tm

Ak

(Tm Tm+1)
X
x

Gambar 6. Kesetimbangan energi pada internal node m


Persamaan kesetimbangan energi pada keadaan tunak pada gambar 6 adalah;
Rata rata panas yang masuk melalui konduksi + Rata rata pembangkit energi = 0

Ak
(Tm 1 2Tm + Tm +1 ) ] + [Axgm ] = 0
x

2-5

di mana A= luas permukaan slab, gm adalah pembangkit energi.


Bentuk beda hingga untuk persamaan konduksi panas pada keadaan tunak

(Tm1 2Tm + Tm+1 ) + ( x )

gm

= 0 untuk m = 2,3,,M

2-6

Menentukan Syarat Batas Fluks Panas


Kesetimbangan energi dengan ketebalan x/2 pada node m=1;

q0 A + kA

T2 T1 x
+
Ag1 = 0
x
2

Pada gambar 7 ini ketebalan elemen = x/2, pada batas permukaan (x) = 0 di node
m=1

X=0
qo

T1
x/2

T2

T3
x

Gambar 7. Syarat batas fluks panas pada node x = 0


Bentuk beda hingga untuk persamaan fluks panas dengan syarat batas permukaan = 0
dari node m = 1 menjadi;

2T2 2T1 +

( x ) 2 g 1 2 xq 0
+
=0
k
k

untuk m= 1

2-7

Untuk batas permukaan x = L dengan ketebalan elemen = x/2 pada node m = M + 1


maka bentuk persamaan beda hingga fluks panas menjadi;

2TM 2TM +1 +

( x ) 2 g M +1 2xq L
+
=0
k
k

untuk m = M + 1

2-8

Pada batas isolasi (geometrik dan kondisi simetrik termalnya) jika q0 = 0 dan qL = 0
maka persamaan 2-7 dan persamaan 2-8 menjadi ;
( x ) 2 g1
=0
k
( x ) 2 g M +1
2TM 2TM +1 +
=0
k

2T2 2T1 +

2-9

Syarat Batas Konveksi.


Kesetimbangan energi pada elemen dengan ketebalan x/2 pada node
m = 1,seperti pada gambar di bawah ini di mana batas permukaan x = 0 dan koefisien
perpindahan panas h1 kedalam temperatur T1 adalah;

h1 A(T1 T1 ) + kA

T2 T1 x
+
Ag1 = 0
x
2

2-10

Persamaan beda hingga untuk konveksi dengan syarat batas pada node m=1 menjadi;

xh1
(x ) g 1 2 xh1

+
2T2 2 +
T 1 = 0
T1 +
k
k
k

2-11

Jika batas permukaan x=L dan node m = M + 1 maka persamaan beda hingga untuk
konveksi menjadi;

xh 2
(x ) g M +1 2xh 2

T 2 = 0
2TM 2 +
+
TM +1 +
k
k
k

2-12

Sebagai contoh;
Sebuah papan dengan ketebalan potongannya = 0.1 m, konduktivitas termal k = 40
W/(m.0C) di mana energi yang timbul rata rata konstan sebesar 106 W/m3. Batas
permukaan x = 0 dan x =0.1 m, koefisien perpindahan panas sebesar 200 W /(m2.0C)
dan temperatur sebesar 150 0C. Tentukanlah persamaan beda hingga jika papan
tersebut di bagi kedalam M = 5 bagian.
a.

Penyelesaian secara numerik.


x = L/M = 0.1/5 = 0.02m
Maka persamaan beda hingga untuk perpindahan panas pada node m =2 s/d m = 5

(0.02) 2 106
(Tm 1 2Tm + Tm+1 ) +
=0
40
atau ( (Tm1 2Tm + Tm +1 ) + 10 = 0

untuk m = 2,3,4,5

Untuk batas isolasi pada x = 0 maka ;

2T2 2T1 +
2T2 2T1 +

( x ) 2 g 1
=0
k

(0.02) 2 106
=0
40

2T2 - 2T1 + 10 = 0

untuk m = 1

Batas konveksi pada x = L, maka

xh 2
(x )2 g M +1 + 2xh2 T = 0

2TM 2 +
TM +1 +
2
k
k
k

2 0.02 200
(0.02)2 106 + 2 0.02 200 150 = 0

2T5 2 +
T6 +
40
40
40

2T5 2.2 T6 + 40 = 0
untuk m = 6
Kemudian diperoleh 6 persamaan secara matriks yaitu;
-2T1 + 2T2 = -10 untuk m = 1
T1 - 2T2 + T3 = -10 untuk m = 2
T2 - 2T3 + T4 = -10 untuk m = 3
T3 - 2T4 + T5 = -10 untuk m = 4
T4 - 2T5 + T6 = -10 untuk m = 5
2T5 - 2.2T6 = -10 untuk m = 6

Maka bentuk matriksnya adalah;


2
1

0
0

2
2
1
0
0
0

Hasilnya pada :
Node
Temperatur
1
2
3

b.

0
1
2
1
0
0

0
0
1
2
1
0

0
0
0
1
2
2

0
0
0

0
1

2.2

T1

T2
T3
=
T4
T
5
T6

Temperatur

10
10

10

10
10

10

Node

775
770
755

4
5
6

730
695
650

Penyelesaian secara analitk.


Temperatur permukaan isolasi pada x=0
2
gL2 x gL
1 +
+ T
T (x) =
2 k L h

T ( x) =

2
10 6 (0.1) 2 x 10 6 x 0.1
+ 150 = 125 1 100 x 2 + 650 = 7750 C
1
+
2 X 40 0.1
200

Temperatur pada batas konveksi x=L


T ( x) =

106 (0.1) 2
2 X 40

x 2 10 6 x 0.1
+ 150 = 125 1 100 x 2 + 650 = 650 0 C
1
+
0
.
1
200

Formulasi Beda Hingga pada Silinder.


Untuk persamaan konduksi panas dengan syarat batas r = 0 dan r = b maka;

1 d dT ( r ) 1
r
+ g(r) = 0
r dr dr k

pada

0<r<b

Bentuk beda hingga untuk persamaan energi dibagi kedalam M bagian, dan
ketebalannya (r) adalah;
r = b/M

2-13

Pada gambar 8, setiap bagian 0 r b berisi M + 1 pada lokasi ;


r = (m-1) r

pada m = 1,2,, M+1

2-14

TM+1
Gambar 5.

Tm
Tm+1
Tm

r/2

T m -1

r
r

T3

T1
r/2

m -1

m+1

M+1

Gambar 8. Seleksi Node pada Benda yang Berbentuk Silinder


dengan node node m =1 dan m = M+1 sebanding dengan pusat dan luar batas
permukaan benda silinder, dan node m=2,3,,M adalah node dalam (seperti gambar
diatas). Untuk temperatur node M+1 dinyatakan sebagai;
T(r) = T[(m-1) r ] Tm
pada m =1,2,,M+1
2-15
Panas yang timbul pada element dengan ketebalan r pada node m maka;

Panas konduksi

) = Am1,m k Tm 1 Tm
r

di mana ;

Am1,m = 2 (m 1)r r H
2

Am+1,m = 2 (m 1)r + r H
2

H = panjang silinder
Energi generasi = Am rg m = 2H(m-1)(r)2 gm

+ Am +1,m k

Tm +1 Tm
r

Kesetimbangan energi pada silinder ;

1
(r)2 gm
1

2
1
1
T
T
T

+
+
+
=0
m
2(m 1) m1
m+1
k

2(M 1)

untuk m = 2,3,,M (2-16)

untuk m = 2, 3,, M 2-16


Untuk node m = 1 dengan radius r/2 maka;
Rata rata panas yang masuk secara konduksi = Hk (T2 T1 )

r
Hg 1
2

2-17

Rata panas yang timbul =

2-18

Persamaan beda hingga untuk kesetimbangan konduksi panas pada tengah node m =1 ;

( r ) 2 g 1
4(T2 T1 ) +
=0
k

2-19

Pada syarat batas r = b maka perlu menentukan syarat batas temperatur , fluks panas
dan konveksi.

Menentukan Syarat Batas Temperatur.


Jika temperatur pada batas permukaan di node M yang spesifik yang disebut
fM+1 maka
TM+1 = fM+1
pada m = M + 1

Syarat Batas Fluks Panas


Kesetimbangan energi pada batas node M+1 di r = b maka

AM ,M +1k

r
TM TM +1
+ AM +1qM +1 + A* M +1
g m +1 = 0
r
2

di mana
AM ,M +1 = 2 ( Mr

1
r ) H
2

2-20

AM +1 = 2 ( Mr ) H
A* M +1 = 2 ( Mr

1
r ) H 2 ( Mr ) H
4

H= panjang silinder
Dari ekspresi diatas maka diperoleh;
1
1
rh
( r ) 2 g M +1

T +
=0
1
TM 1
TM +1 +
k
2k
2M
2M

untuk m = M + 1

Syarat batas konveksi

AM ,M +1 k

TM TM +1
r
g m +1 = 0
+ AM +1h1 (T TM +1 ) + A* M +1
2
r

di mana
AM ,M +1 = 2 ( Mr

1
r ) H
2

2-21

AM +1 = 2 ( Mr ) H
A* M +1 = 2 ( Mr

1
r ) H 2 ( Mr ) H
4

Pers 2-21 dimasukkan ke persamaan kesetimbangan energi dan persamaan beda


hingga dengan syarat batas r = b pada m = M + 1 maka dapat ditulis sebagai berikut;

rh
( r ) 2 g M +1
1

1 rh

T
+
T
+
=0
1
T M 1
+
M +1

2M
2M
k
k
2k

Contoh benda yang berbentuk silinder.


Benda sejenis chrome nikel yang berbentuk batang dengan diameter 10 Cm,
konduktiviti termal 20 W/(m.0C), energi yang timbul dari panas elektrik dengan rata
rata 107 W/m3.Permukaan batang dipanasi secara konveksi dengan koefisien
perpindahan panas h=200 W/(m.0C) pada temperatur 300C. Tentukanlah persamaan
beda hingga jika radius batang dibagi kedalam 5 interval.
Jawab; b=0.05 m, k = 20 W/(m.0C), g = 107 W/m, T=30 0C, h = 200 W/(m.0C), dan
M = 5 maka r = b/M = 0.05/5 = 0.01
(r)2g/k = (0.01)2 (107) / 20 = 50
r h / k = 0.01X 200 / 20 = 1/10
Persamaan beda hingga dipusat pada node m =1 maka diperoleh;
4(T2 T1) + 50 = 0
untuk m = 0
Persamaan beda hingga dari persamaan 2-16 untuk node m =2 s/d 5 maka
diperoleh ;

1
1
1 2( m 1) Tm 1 2Tm + 1 + 2( M 1) Tm +1 + 50 = 0

Hasil akhir persamaan beda hingga untuk syarat batas konveksi pada node m = M+1 =
6 maka diperoleh;

rh
( r ) 2 g M +1

1
1 rh

T
T
+
+
=0
+
T M 1
1

M +1
2M
2M
2k
k
k

1 1
1

1 T5 1 + T6 + 30 + 25 = 0
10
10
10 10
0.9 T5 T6 + 28 = 0

untuk m = 6

Diperoleh persamaan berbentuk matrik 6 X 6 untuk 6 node temperatur Tm, m = 1 s/d 6.


-4T1 + 4 T2 = -50 untuk m = 1
0.5T1 - 2T2 + 1.5 T3 = -50 untuk m = 2
0.75T2 - 2T3 + 1.25 T4 = -50 untuk m = 3
0.8333T3 - 2T4+ 1.1666 T5 = -50 untuk m = 4
0.875T4 - 2T5 + 1.125 T6 = -50 untuk m = 5
0.9T5 - T6 = -50 untuk m = 6

Dari persamaan diatas ditulis dalam bentuk matriks;


4
0.5

0
0

4
2

0
1.5

0
0

0
0

0
0

0.75

1.25

0
0

0.8333
0

2
0.875

1.1666
2

0
1.125

0.9

T1 50
T 50

2
T3 50

=
T4 50
T5 50


T6 50

Solusi Komputer / Numerik


Dari persamaan diatas diperoleh matrix tridiagonal maka dapat dibuat program
aplikasi dengan memasukkan data seperti contoh pada bidang datar maupun pada
silinder dengan persamaan ; [A] {X} = {D}
Secara umum dapat ditulis;
b1
a
2
.

.
.

0
0

c1

b2

c2

.
.

.
a N 1

.
bN 1

.
c N 1

aN

bN

b1

c1

'
1

b2

c2

'
2

b3

c3

'
3

N 1

'
N 1

'
N

0
0
.

.
.

0
c N

Matriks A(I,J)
0

a 2
a
A(I , J ) = 3

a N
a
N

bN
bN

X1
d1
X

2
2
.

.
.
=

X
d
N 1
N 1
X

N
N

KESIMPULAN

Untuk menentukan distribusi temperatur pada benda yang berbentuk bidang datar
maupun berbentuk silinder atau lingkaran dengan cara membagi bagi benda
tersebut kedalam beberapa bagian.
Perpindahan panas secara konduksi harus menentukan syarat batas permukaan,
dalam dan luar benda agar diperoleh temperatur dimasing - masing node yang
telah dibagi kedalam N bagian.
Secara analitik temperatur permukaan isolasi pada x=0 diperoleh sebesar 750 0C ,
temperatur pada batas konveksi x = L diperoleh sebesar 750 0C sedangkan secara
numerik hasilnya sama dengan secara analitik.

DAFTAR PUSTAKA

1. BAYAZITOGLU, Yilzid, OZISIK, M. Necati, Elements of Heat Transfer,


McGraw-Hill Book, (1988)
2. HILL, J. M., DEWYNNE, J.N., Heat Conduction, Blackwell Scientific
Publications, (1987)
3. HOLMAN, J.P., Heat Transfer, McGraw-Hill, (1981)
4. OZISIK, M. Necati, Heat Conduction, Jhon Willey & Sons.

DISKUSI

UTAJA
Untuk bentuk dan syarat batas sederhana, penyelesaian distribusi suhu lebih mudah
dilakukan dengan analitik. Mohon dijelaskan mengapa Anda menggunakan metode
numerik?

ELFRIDA SARAGI
Secara analitik dapat dilakukan. Dalam hal ini saya menggunakan metode secara
numerik karena untuk membuat program komputer, untuk mengetahui distribusi
temperatur pada benda.

SARIFUDDIN MADENDA
Dalam menghitung konduksi panas pada batang, silinder dan lingkaran, apakah ada
perbandingan antara panjang bahan atau diameter bahan terhadap jumlah pembagian
daerah perhitungan konduksi panas? Bila ada berapa kira-kira idealnya?

ELFRIDA SARAGI
Pembagian elemen ke dalam beberapa bagian harus ditentukan dan pembagian
tersebut harus sama antara node pertama dengan node kedua dan node selanjutnya.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Nama

: ELFRIDA SARAGI

2. Tempat/Tanggal Lahir

: Medan, 1 Juni 1963

3. Instansi

: P2TIK - BATAN

4. Pekerjaan / Jabatan

: Staf Bidang Komputasi

5. Riwayat Pendidikan

: (setelah SMA sampai sekarang)

FMIPA-USU, Jurusan Fisika


6. Pengalaman Kerja

(S1)

: - PT Benang Indah Jakarta


- P2TIK - BATAN

7. Organisasi Professional

HOME

: GMK I Medan

KOMPUTASI DALAM SAINS DAN TEKNOLOGI NUKLIR X