Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Warna rambut manusia bermacam-macam. Warna hitam, merah, coklat, keemasan

(pirang) muncul tergantung pada jenis-jenis pigmen yang terdapat di dalam korteks rambut.
Bila sudah mencapai usia lanjut, warna rambut berubah menjadi putih, yang sering kurang
disukai keberadaannya (Wasitaatmaja, 1997).
Rambut yang rusak dan kusam juga kurang disukai karena membuat diri tampak
kurang menarik. Untuk mengatasinya, orang seringkali datang ke salon meminta rambutnya
diwarnai. Salah satu permintaan yang sering diajukan di salon adalah mewarnai rambut agar
bewarna pirang.
Pewarna rambut pirang adalah preparat kosmetika yang digunakan untuk merubah
warna rambut menjadi berwarna keemasan. Warna pirang biasanya dipilih untuk menutupi
keadaan rambut yang tampak kusam atau mulai berubah warna menjadi keputihan. Jika
keadaan ini dapat diubah, akan membuat orang tampil lebih baik dan lebih percaya diri.
Pewarna (padat) rambut pirang yang kami formulasi memberikan warna rambut yang
tahan lama dan aman karena tidak mengandung parafenilendiamin. Formula rancangan tidak
berbau amoniak karena mengandung parfum. Selain itu, juga dapat digunakan untuk rambut
orang yang bekerja di tempat yang memungkinkan rambutnya mengandung senyawa logam
berat.
1.2

TUJUAN
Tujuan dari pembuatan paper ini adalah untuk memahami dan merancang formulasi

kosmetika padat Pewarna Rambut Pirang.


1.3

MANFAAT PEWARNA RAMBUT PIRANG


Mengubah warna rambut telah dilakukan sejak kosmetika mulai dikenal orang, dengan

maksud untuk memperbaiki penampilan. Keadaan rambut yang kotor dapat ditutupi dengan
pewarna rambut berwarna hitam. Agar penonton tertarik, para artis di panggung sering mencat
rambutnya dengan berbagai warna. Untuk anak-anak muda yang ingin rambutnya tampak
seperti orang barat, begitu juga dengan orang ingin tampil tampak lebih muda disaat
rambutnya mulai memutih, pewarna rambut pirang adalah pilihan yang tepat.
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

RAMBUT
Rambut dikenal sejak zaman dahulu dengan julukan mahkota bagi wanita. Tetapi di

zaman yang sudah maju seperti sekarang, julukan tersebut tidak lagi tertuju hanya kepada
kaum wanita, namun juga untuk pria. Peranan rambut sangat penting untuk diperhatikan
karena rambut bukan hanya sebagai pelindung kepala dari berbagai hal seperti bahaya
benturan/pukulan benda keras, sengatan sinar matahari, dan sebagainya, melainkan juga
merupakan perhiasan yang berharga. Rambut yang tebal, panjang, hitam/berwarna,
berkilau, sehat dan mudah diatur memberikan daya pesona tersendiri bagi pemiliknya. Tidak
sedikit wanita ataupun pria yang merasa kagum hanya karena keindahan rambutnya
(Rostamailis dkk, 2008).
Rambut merupakan tambahan pada kulit kepala yang memberikan kehangatan,
perlindungan dan keindahan. Rambut juga terdapat diseluruh tubuh, kecuali telapak tangan,
telapak kaki dan bibir. Semua jenis rambut tumbuh dari akar rambut yang ada di dalam
lapisan dermis dari kulit. Oleh karena itu kulit kepala atau kulit bagian badan lainnya
memiliki rambut. Rambut yang tumbuh keluar dari akar rambut itu ada 2 bagian menurut
letaknya, yaitu bagian yang ada di dalam kulit dan bagian yang ada di luar kulit.
Rambut terbentuk dari sel-sel yang terletak di tepi kandung akar. Cupak rambut atau
kandung akar ialah, bagian yang terbenam dan menyerupai pipa serta mengelilingi akar
rambut. Jadi bila rambut itu dicabut akan tumbuh kembali, karena papil dan kadung akar akan
tetap tertinggal di sana (Rostamailis dkk, 2008).
2.1.1

ANATOMI RAMBUT
Rambut (Gambar 1) terdiri atas :

1. Akar Rambut (Hair Folicle)


Akar rambut adalah bagian rambut yang tertanam di dalam kulit. Seperti yang terlihat
pada gambar di atas maka akar rambut terbagi :
a. Bulp yaitu bagian pangkal rambut yang membesar, seperti bentuk bola, gunanya untuk
melindungi papil rambut.

Gambar 1. Rambut

b. Papil rambut adalah bagian yang terlindungi di dalam bulp atau terletak dibagian
terbawah dari folicle rambut. Papil rambut tidak ubahnya seperti piring kecil yang
tengahnya melengkung dan menonjol ke arah rambut, lengkungan inilah yang
menyebabkan ia disebut papil, berasal dari sel-sel kulit jangat (corium) serta kulit ari
(epidermis). Diantara sel-sel papil juga terdapat melanosit. Melanosit menghasilkan
pigmen (zat warna), yang akan disebarkan terutama ke dalam contek, kemudian ke dalam
medulla rambut. Di samping itu juga terdapat di dalam papil rambut yaitu pembuluh darah
dan getah bening, yang berfungsi memberi makanan kepada rambut (memelihara
kehidupan rambut), serta terdapat juga saraf yang mensarafi folicle rambut. Itu sebabnya
rambut tidak mempunyai saraf perasa. Oleh karenanya kita tidak merasa sakit bila rambut
digunting atau dipangkas.
c. Folicle rambut ialah kandungan atau kantong rambut tempat tumbuhnya rambut. Kantong
rambut terdiri dari 2 lapis. Lapisan dalamnya berasal dari sel-sel epidermis, sedangkan
lapisan luarnya berasal dari sel-sel dermis. Rambut yang panjang dan tebal mempunyai
folicle berbentuk besar, folicle rambut ini bentuknya menyerupai silinder pipa. Kalau
folicle bentuknya lurus, rambut juga lurus dan bila melengkung rambut jadi berombak.
Tetapi kalau lengkungannya itu lebih lengkung lagi, maka rambutnya keriting. Di dalam
folicle ini bermuara kelenjar lemak (palit).
d. Otot penegak rambut ialah yang menyebabkan rambut halus bulu roma berdiri bila ada
sesuatu rangsangan dari luar dan dari dalam tubuh kita. Misalnya merasa seram,
kedinginan, kesakitan, kelaparan dan sebagainya.
e. Matrix, disebut juga dengan umbi/tombol atau lembaga rambut.Seperti dijelaskan di
depan, bahwa di dalam folicle terdapat rambut. Bagian yang berdekatan dengan papil
lebih subur daripada bagian yang lebih jauh di atasnya. Bagian yang subur itulah yang
3

disebut matrix atau umbi/tombol atau lembaga rambut. Mengapa pada bagian itu lebih
subur ? Ini disebabkan karena kelompok sel yang terdapat dibagian itu selalu membelah
diri, membentuk bagian rambut baru. Diantara sel-sel umbi juga terdapat sel-sel
melanosit. Bagian paling dalam atau tengah umbi rambut, sel-selnya berwarna keputihputihan dan masih lembek (masih muda).
Sel-sel ini masih mengandung parakeratin (sel rambut yang warnanya sudah lebih
mantap, sudah keras, mengandung keratin). Parakeratin adalah zat pendahulu keratin. Selsel rambut yang masih muda ini terdorong ke atas oleh sel-sel yang terjadi kemudian.
Makin ke atas makin mengalami proses keratinisasi penandukan.
2. Lapisan Batang Rambut

Gambar 2. Lapisan batang rambut


Batang rambut (Gambar 2) ialah bagian rambut yang kelihatan di atas permukaan kulit.
Batang rambut ini terbagi pula atas 3 bagian yakni (Rostamailis dkk, 2008; Mitsui, 1997):
a. Cuticula (selaput kulit ari) yang berbentuk seperti sisik-sisik ikan dan sangat berfungsi
untuk melindungi lapisan rambut (berada paling luar yang merupakan pelindung). Di
samping itu ia juga berfungsi untuk menentukan besar kesilnya daya serap zat cair pada
rambut seperti air, shampo, conditioner, obat keriting, zat/cat pewarna rambut, bleaching.
Pada rambut yang kasar lapisan cuticula nya juga kasar. Sedang pada rambut yang halus
lapisan cuticula nya juga halus.
b. Cortex atau kulit ari rambut, ialah bagian rambut yang terbesar dan merupakan lapisan di
bawah cuticula. Cortex berfungsi sebagai lapisan yang menentukan warna karena pigmen
(zat warna rambut dikandung oleh lapisan ini). Misalnya penyerapan zat cair, obat
keriting, cat rambut, dan lain-lain. Jadi cortex ini berhubungan dengan sifat elastisitas
rambut.

c. Medulla atau sum-sum rambut. Medulla ini terdapat dibagian paling tengah. Rambut
yang halus sekali ada yang tidak terdapat medulla-nya.
2.1.2

FUNGSI RAMBUT
Sepanjang sejarah peradaban manusia, rambut selalu menempati kedudukan penting.

Kedudukan penting tersebut berkaitan langsung dengan berbagai fungsi rambut. Adapun
fungsi utama rambut adalah sebagai berikut :
1. Pelindung
Ketika nenek moyang manusia masih hidup dihutan belukar dan tinggal di dalam gua-gua,
satu-satunya pelindung utama bagi kepala adalah rambutnya. Akibat berbagai benturan dan
gesekan dengan kekejaman alam sekitar diperkecil oleh rambut subur yang tumbuh dikepala.
Kandung rambut di dalam kulit berhubungan langsung dengan ujungujung saraf perasa,
dengan cepat mampu mengantar denyut-denyut sinyal ke otak, sehingga manusia segera
mampu bereaksi terhadap keadaan yang menjadi penyebabnya. Jika kita mendadak menjadi
sangat tegang atau sangat ketakutan, otot penegak rambut yang menempel dikandung rambut
dalam kulit akan mengerut dan menjadikan rambut, bulu kuduk, atau bulu roma kita berdiri.
Keadaan ini merupakan peringatan dini agar kita segera dapat bereaksi terhadap hal-hal yang
secara instingktif perlu kita hindari.
2. Penghangat
Selain sebagai penyangga benturan dan alat sensorik, rambut akan memberi kehangatan
kepada tubuh manusia. Manusia purba yang hidup dialam terbuka dengan segala
kekerasannya. Rambut kepala yang paling dominan pertumbuhan dan ketebalannya,
membentuk semacam insulator alami yang menjaga stabilitas suhu kulit kepala dari pengaruh
suhu udara disekitarnya. Dinginnya udara sekitar tidak dapat langsung mengenai kulit kepala
berhubung adanya insulator udara yang memperoleh pemanasan tetap dari suhu badan kita.
Sebaliknya, panasnya udara sekitar akan meningkatkan suhu insulator yang segera
merangsang terjadinya perkeringatan. Kulit kepala akan terbasahi oleh keringat. Keringat
akan menguap dan untuk menguap membutuhkan panas yang akan diambil dari suhu kulit
kepala. Dengan demikian tidak akan terjadi peningkatan suhu kulit kepala.
3. Penambah Kecantikan
Ditinjau dari sisi estetika, rambut juga memiliki fungsi sebagai berikut (Rostamailis
dkk, 2008) z:
a. Pertanda status sosial

Berkembangnya suatu peradaban membawa serta terbentuknya strata sosial. Rambut yang
dapat ditata dalam berbagai bentuknya, kemudian dijadikan salah satu tanda status sosial
pemiliknya. Para bangsawan dan jenderal Gaul memiliki rambut sangat panjang. Ketika
dalam suatu pertempuran Julius Cesar (100-44 SM) berhasil menaklukan mereka, kaisar
Romawi ini pun segera memerintahkan agar mereka memotong rambutnya. Tindakan ini
bukannya hanya sekadar suatu penghinaan, melainkan sebagai pertanda penghambaan diri
mereka kepada kekaisaran Romawi. Para budak dilingkungan kekaisaran Romawi juga harus
mencukur rambutnya.
b. Identitas profesi
Rambut juga lazim digunakan sebagai identitas profesi yang bersangkutan. Di zaman
kekaisaran Romawi, ketika para penguasa dan para bangsawan sering membubuhi rambutnya
dengan serbuk emas atau perak sebagai pertanda kebangsawaannya, para wanita penjaja seks
yang dalam lingkungan kekaisaran Romawi diberi status legal, dilindungi dan dipungut pajak,
diharuskan mewarnai kuning rambutnya sebagai identitas profesinya.
c. Menunjang penampilan
Terciptanya mode tata rambut diciptakan hanya untuk lingkungan istana dan kaum
bangsawan saja. Tujuan semula adalah untuk membedakan penampilan mereka dengan kaum
kebanyakan. Para penata rambut istana membuat beberapa desain tata rambut untuk dipilih
dan digunakan Ratu. Desain yang terpilih kemudian juga diikuti istri para bangsawan,
terutama oleh para kekasih gelap, yang memandang istri resmi sebagai pesaing utama.
2.2

PEWARNAAN RAMBUT
Pada zaman modern sekarang ini pewarnaan merupakan trend rambut yang banyak

digemari baik pria maupun wanita tanpa mengenal batas usia. Pewarnaan merupakan tindakan
merubah warna rambut yang dikenal sejak zaman dulu. Pada zaman itu pewarnaan rambut
menggunakan bahan berasal dari tumbuh-tumbuhan dan disebut pewarna nabati atau pewarna
tradisional. Wanita Romawi kuno sangat menggemari warna rambut karena itu mereka sering
mengganti warna-warna rambut mereka. Tidak hanya pada rambut, mereka juga memberi
warna pada kuku, telapak tangan dan kaki, terutama bagi penari.
Pewarnaan pada zaman modern terutama dalam seni tata rambut, dapat berwujud
sebagai 3 proses yang berbeda, yaitu penambahan warna, (hair tinting), pemudaan warna
(Hair light tening) dan penghilangan warna (bleaching). Penambahan warna atau hair tinting
terutama dilakukan guna menutupi warna rambut kelabu yang terjadi karena rambut

kehilangan pigmen warna aslinya. Pemudaan warna atau hair lightening banyak diperlukan
dalam pewarna korektif atau corrective coloring sedangkan penghilangan warna atau
bleaching banyak dilakukan dalam mempersiapkan proses perubahan warna yang lebih
mendasar. Dalam praktek pewarnaan sering terjadi bahwa diantara tindakan pemudaan warna
dan tindakan penghilang warna sebagian tidak diadakan pembatasan yang tajam.
2.2.1

Klasifikasi Pewarnaan

1. Pewarna Nabati (Vegetable Dry) (Rostamailis dkk, 2008)


a. Tumbuhan celadin, diambil bunganya yang mempunyai warna kuning. Celadin sama
dengan Chamomile diambil dari tumbuhan tertua, zat pewarnanya disebut apegenin
(C15O15H). Bekerja dengan cara melapis batang rambut secara permanent. Pewarna ini
cara pemakaiannya dicampur dengan kaolin yang perbandingannya sebagai berikut: bubuk
bunga chamomile 40%, kaolin 40% dan air panas 20% digunakan 15 sampai 60 menit
sesuai dengan tingkat warna yang diinginkan.
b. Tumbuhan indigo (Indigofena Argentea), diambil dari kulit kayu dan daunnya yang
mempunyai warna biru, caranya dengan mencampurkan kulit kayu dengan daunnya lalu
ditumbuk halus dan diberi larutan air kapur serta air tawar. Kemudian digunakan untuk
mewarnai rambut, supaya pewarna rambut indigo awet dan tahan lama, kita jadikan bubuk
dengan cara menjemur hingga kering lalu ditumbuk halus, sehingga menjadi bubuk warna
yang disebut reng. Cara bekerjanya juga melapisi batang rambut dengan permanent.
Indigo tidak pernah digunakan tanpa campuran. Penggunaan secara terus-menerus dapat
menjadikan rambut kasar dan rapuh, karena kosmetologi modern.
c. Pewarna rhubarb (Rheum Officinale).
Pewarna rhubarb memberi warna kuning muda (blond). Zat pewarnanya disebut
hrysophanol (C15H10O). Penggunaannya dicampur dengan daun henna, daun teh dan
bunga chamomile dalam larutan yang bersifat basa, cara kerjanya juga melapisi batang
rambut secara permanent.
d. Pewarna sage (salvia officinalis).
Pewarna sage menghasilkan warna hijau. Digunakan dalam bentuk larutan teh dan dikenal
dengan nama sage tea. Biasanya digunakan untuk menghilangkan warna putih suram pada
rambut pirang. Penggunaan secara terus menerus dapat menimbulkan rambut putih
nampak keabu-abuan dan kotor. Dengan ditemukannya pembilas rambut modern sage tea
tidak digunakan lagi.

e. Pewarna brazilwood (cessalpina braziliensis).


Pewarna ini menggunakan bahan ekstrak kayu brazilwood. Zat pewarnanya disebut
brazilin (C16H14O) menghasilkan warna kuning. Jika dicampur dengan oksigen dalam
larutan basa akan terjadi warna kemerahan. Dengan mencampur zat pewarna lainnya
dapat diperoleh berbagai warna kecoklatan. Pewarna ekstrak kayu brazilwood digunakan
terutama untuk mewarnai wigs dan hair piece.
f. Tumbuhan henna atau pewarna henna (lawnosia inermir).
Pewarna henna ini pertama kali digunakan oleh Ratu Ses, ibu suri raja Tetra dari dinasti
III Mesir purba yang memerintah sekitar tahun 2650-2700 SM, zat pewarnanya disebut
lawsone (CO), memberi warna merah pada rambut, melapisi batang rambut secara
permanent sehingga tergolong pewarna tetap yang melapisi atau coating tint. Henna juga
digunakan untuk mewarnai kuku, telapak tangan dan kaki para penari, serta rambut
tengkuk dan ekor kuda.
Pewarna henna digunakan tersendiri tetapi bisa juga sebagai campuran dalam beberapa
bentuk sebagai berikut:
1) Henna reng
Henna reng merupakan campuran henna dengan daun indigo dan memberi warna hitam
kebiru-biruan.
2) Henna rinse
Henna rinse adalah pembilas rambut dari henna yang diberi campuran berbagai zat warna.
Kekurangan utama dari pembilas henna adalah jika mengenai kuku sulit dihilangkan.
3) Henna pack
Pewarna ini dibuat dari bubuk daun henna yang diberi asam sitrat dan dilarutkan dalam air
panas. Dengan pH larutan sekitar 5.5. Hasil warna yang diperoleh ditentukan oleh pH larutan,
waktu olah dan pourositas larutan yang bersangkutan.
2. Pewarna Logam (Metallic Dye)
Pewarna logam dibuat dari unsur logam juga sudah digunakan setua usia pewarna
tumbuh-tumbuhan. Para wanita Romawi biasa menyisir dengan sisir timah yang dibasahi
dengan cuka guna menambah kehitamannya, pewarna logam juga melapisi rambut dengan
kuat secara permanent dan diklasifikasikan sebagai pewarna tetap melapis (coating tint). Jenis
logam terpenting yang digunakan sebagai bahan dasar pewarna serta warna yang dihasilkan
adalah sebagai berikut:
a. Perak (silver) menghasilkan warna hitam kehijauan
b. Timah (lead) menghasilkan warna hitam lembayung
8

c. Tembaga (copper) menghasilkan warna hitam pekat


Pewarna logam juga disebut color restorer. Pemakaiannya harus berkali-kali dan
warnanya juga timbul bertahap. Pewarna logam tidak dapat dicampur dengan hydrogen
peroksida, karena dapat menimbulkan reaksi yang merusak dan menghancurkan rambut.
Rambut yang telah diwarnai dengan pewarna logam tidak dibenarkan untuk dikeriting,
diwarnai dengan pewarna jenis para, diluruskan, maupun dihilangkan warnanya melalui
proses penghilangan warna atau bleaching, karena proses di atas menggunakan hydrogen
peroksida. Guna mengetahui apakah telah digunakannya pewarna logam dapat dilakukan tes
garam atau metalik salt test yaitu dengan cara sebagai berikut; Sebuah bejana berisi air 100
gram diberi hydrogen peroksida 20 volume, dan 20 tetes amonia 28%, masukkan guntingan
rambut yang telah dicurigai telah diwarnai dengan pewarna logam ke dalamnya dan biarkan
untuk beberapa waktu. Dalam keadaan normal warna rambut akan menjadi lebih muda, tetapi
bila rambut telah diwarnai dengan pewarna logam maka tidak akan terjadi perubahan warna.
3. Pewarna Campuran.
Pewarna campuran dibuat dengan mencampur unsur pewarna nabati dan unsur logam
yang terpenting di dalamnya adalah compound henna.
4. Pewarna Sintetik Organic (Synthetic Organic Tint)
Pewarna yang dibuat dari bahan dasar sintetik organic merupakan pewarna paling
sempurna dan paling banyak digunakan dalam kosmetologi modern dan dapat dibedakan
dalam 3 kategori yakni sebagai berikut :
a. Pewarna sementara (azo dye)

Gambar 3. Batang Rambut dan Molekul Pewarna Azo


Pewarna sementara memiliki melekul zat pewarna yang besar dengan larutan yang bersifat
asam. Karena itu hanya dapat melekat dibatang rambut, dan bisa hilang dengan penyampoan.
9

Pewarna azo dye ini banyak dibuat dari para hidoksi-azo-venzene (para-hydroxi-azovenzene) menghasilkan warna kuning; naftol (phenil-azo-napthol) memberi warna merah dan
pewarna (color rinse); krim pewarna (color cream); dan crayon termasuk kat gori pewarna
sementara. Adapun kelebihan pewarna sementara ini yaitu: banyak variasi warnanya, mudah
dihapus, berguna untuk warna percobaan sebelum menggunakan warna asli (tetap).
b. Pewarna semi permanen/setengah tetap (nitro dye)
Pewarna setengah tetap juga memiliki molekul pewarna yang masih cukup besar untuk
dapat melewati imbrikasi rambut meskipun larutannya bersifat basa. Sebagian dari molekul
zat pewarna dapat masuk ke dalam kulit rambut dan bergabung dengan ikatan hydrogen
keratin rambut, sebagian lagi melekat dipermukaan dan celah-celah imbrikasi selaput rambut.
Pewarna setengah tetap juga dikenal sebagai pewarna nitro atau nitro dye. Banyak dibuat dari
bahan nitro-fenilin-diamina (nitro-phenylene-diamine) yang menimbulkan warna biru, yang
tergolong dalam warna setengah tetap adalah shampo pewarna (color shampoo) yang tahan
hingga beberapa kali pencucian.

Gambar 4. Batang Rambut dan Pewarna Nitro


Kelebihan dari pewarna azo adalah daya lekatnya yang lebih lama, warnanya lebih
beraneka ragam, perubahan warna ke arah warna asli rambut terjadi bertahap, sehingga
perubahan rambut tidak akan memperlihatkan perubahan warna yang mencolok.
c. Pewarna tetap (permanent tint)
Pewarna tetap memiliki molekul zat pewarna yang sangat kecil dan tidak berwarna. Sifat
larutannya basa, molekul zat pewarnanya dengan mudah dapat masuk ke dalam kulit rambut
lewat imbrikasi yang terbuka. Dengan hydrogen peroksida sebagai oksidator molekulmolekul
kecil tak berwarna dioksidasi menjadi molekul-molekul raksasa yang berwarna sehingga
menjadi terlalu besar untuk dapat keluar lagi melalui imbrikasi rambut (lihat gambar 5).

10

Pewarna tetap jenis sintetik organic banyak dibuat dengan bahan-bahan dasar keturunan
aniline, yang terpenting diantaranya adalah para fenilendiamine, (para-phenylenediamine)
yang menghasilkan warna hitam.
Para-toluene-diamine sebagai penyempurnaan para fenilen diamina; meta-toluenediamina (meta-toluene-diamine) yang menimbukan warna coklat: para-amin-finol (paraamino-phenol) memberi warna coklat kemerahan; dan meta-dihidroksi-venzene (metadihydroxi-venzene) menghasilkan abu-abu. Lain dengan pewarna tetap dari bahan tumbuhtumbuhan dan bahan logam yang melapisi bat ng rambut. Karena itu juga diklasifikasi sebagai
penerating tint atau pewarna yang meresap, guna membedakannya dengan pewarna melapis
atau coating tint. Kekurangan jenis para ini adalah reaksi alergi yang sering ditimbulkan dan
bila terkena mata akan menimbulkan kebutaan. Dengan banyaknya laporan tentang kasus
alergi yang terjadi akibat penggunaan inecto (para-fenilen-diamine) maka oleh Sabaouroud
dan Rousseau pada tahun

1911 dilakukan tes kulit sebelum menggunakan inecto yang

dikenal dengan istilah SabaouroudRousseau tes atau tes tempel (Pateh tesh).

Gambar 5. Molekul Pewarna Pada Dalam kulit Rambut


Dibeberapa Negara Eropa dan Amerika penggunaan pewarnaan rambut para-femilendiamine sudah dilarang, sebagai gantinya digunakan bahan dasar para-toluene-diamine yang
merupakan hasil penyempurnaan yang dilakukan oleh Dr. Ralph Evans dari Universitas
Colombia pada tahun 1926. Meskipun paratoluene-diamine masih menimbulkan reaksi
alergi tetapi tidak sering. Pewarna jenis para juga disebut pewarna pengenaan tunggal atau
single application tint, pada penggunaanya warna asli rambut harus dihilangkan terlebih
dahulu sebelum diberi warna baru. Karena larutan pewarna jenis para bersifat lindi, maka
setelah pembilasan perlu diberikan pengkondisi (conditioner).

11

2.2.2

Penggunaan Kosmetika Pewarnaan Rambut

Ada dua tujuan orang mewarnai rambut yaitu (Mitsui, 1997) :


1. Agar tampak lebih muda.
2. Agar tampak lebih gaya.
Jika proses suatu jenis perawatan rambut dikehendaki hanya berlangsung dilapisan selaput
rambut saja, maka baik digunakan kosmetika bersifat asam. Misalnya dalam menghadapi
rambut kusut dan sulit diatur, kekusutan ini biasanya terjadi akibat penyasakan yang intensif,
oleh penyasakan, sel-sel selaput rambut mencuat keluar dan menjadikan rambut bertautan satu
dengan yang lain. Penggunaan pembilas yang bersifat asam akan menutup kembali imbrikasi
rambut dan menghilangkan kekusutannya. Sebaliknya, jika dalam suatu perawatan rambut,
prosesnya dikehendaki terjadi di dalam kulit rambut, maka perlu digunakan kosmetika rambut
yang bersifat lindi. Misalnya dalam pewarnaan rambut yang bersifat permanen. Untuk
keperluan tersebut dapat digunakan pewarna dari tumbuh-tumbuhan atau dari garam logam.
Kedua-duanya akan melapisi batang rambut secara permanen. Tetapi rambut akan kehilangan
kecemerlangannya yang wajar, karena selaput rambut terlapisi oleh bahan pewarna. Dengan
menggunakan pewarna rambut jenis para yang bersifat lindi, proses pewarnaan akan dapat
berlangsung dikulit rambut. Pemilihan

kosmetika

harus senantiasa didasarkan kepada

kondisi rambut dan tujuan yang hendak dicapai. Penggunaan kosmetika rambut yang bersifat
lindi, harus dilakukan dengan lebih hati-hati, karena sering menjadi penyebab utama
terjadinya kerusakan rambut.
2.2.3

Deskripsi Beberapa Baku Untuk Pewarna Rambut

1. Amoniak
Amoniak digunakan untuk membuka lapisan kutikula rambut, sebelum warna rambut
dimasukkan.
2. Alkohol
Menutup kembali lapisan kutikula sehingga warna rambut baru akan bertahan lama di
dalam rambut.
3. Hidrogen Peroksida
Hidrogen peroksida digunakan untukmemutihkan melanin korteks rambut, biasanya
digunakan 2-5%.
4. Perfume oils

12

Perfume oil digunakan untuk menutup bau amoniak EDTA


5. EDTA digunakan untuk mencegah terjadinya reaksi yang tidak diharapkan, misalnya
andai terdapat logam berat
6. Resorsinol
Resorsinol merupakan hair color intermediate yang akan membentuk warna pirang pada
rambut (Schrader dan Domsch, 2005).
2.2.4

Bentuk-bentuk sediaan pewarna rambut

1. cairan
2. krim
3. sampo
4. Padat
2.2.5

Contoh-contoh Formula Pewarna Rambut Pirang

Bahan

Jumlah (g)
5

Fungsi

Resorsinol

0,5

Hair Color Intermedite

Amoniak 25%

2,0

Membuka lapisan kutikula

Hidrogen
Peroksida 35%

17,1

Memutihkan melanin korteks

Akuades

80,0

Pelarut

EDTA

0,1

Pembentuk Kompleks dengan logam


berat

Parfum

0,30

Menutup bau amoniak

2.3

Pra Fomulasi Pewarna Rambut Pirang

2.3.1

Formula Rancangan :

13

Bahan

Jumlah (g)
5

Fungsi

Resorsinol

0,5

Hair Color Intermedite

Amoniak 25%

2,0

Membuka lapisan kutikula

Hidrogen
Peroksida 35%

17,1

Memutihkan melanin korteks

Akuades

80,0

Pelarut

EDTA

0,1

Pembentuk Kompleks dengan logam


berat

Parfum

0,30

Menutup bau amoniak

2.3.2

Dskripsi Bahan Baku Pewarna Rambur Pirang

1. Amoniak
Amoniak digunakan untuk membuka lapisan kutikula rambut, sebelum warna rambut
dimasukkan.
2. Hidrogen Peroksida
Hidrogen peroksida digunakan untukmemutihkan melanin korteks rambut, biasanya
digunakan 2-5%.
3. Parfum
Perfume oil digunakan untuk menutup bau amoniak EDTA
4. EDTA digunakan untuk mencegah terjadinya reaksi yang tidak diharapkan, misalnya
andai terdapat logam berat
5. Resorsinol
Resorsinol merupakan hair color intermediate yang akan membentuk warna pirang pada
rambut.

2.3.3

Cara Pembuatan

1. Hidrogen peroksida dimasukkan ke dalam wadah yang telah disiapkan.

14

2. Amoniak, parfum, EDTA dan resorsinol dilarutkan dalam air, kemudian dimasukkan ke
dalam wadah lainnya.
2.3.4

Evaluasi Sediaan
Uvaluasi terhadap produk akhir dilakukan dengan kombinasi dari dua metode berikut

(Williams dan Schmitt, 1992) :


1. Metode In Vitro, yang dilakukan di laboratorium. Hasilnya cukup objektif namun
kekurangannya adalah bahwa kondisi percobaan sangat tidak sama dengan kondisi
real saat digunakan pada manusia.
2. Metode In Vivo. Metode ini digunakan sebagai solusi bagi kekurangan pada uji In
Vitro. Namun untuk mendapatkan hasil yang bagus memerlukan biaya yang banyak.
Uji dengan instrument (In Vitro) dilakukan di laboratorium sebagai uji screening. Uji
ini dilanjutkan dengan uji In vivo terhadap konsumen misalnya yang ada di salon-salon.
Untuk uji kepekaan kulit (gatal dan alergi) dilakukan sebagai berikut :
Kulit belakang daerah telinga selebar bulatan telur dibersihkan dengan kapas, cara
membersihkan jangan ditekan agar kulit tidak lecet, cukup digosok pelan saja sekali gasok
atau 2 kali. Kemudian oleskan cat rambut yang telah diseduh air bersih, lalu oleskan pada
kulit yang telah dibersihkan tadi. Biarkan selama 24 jam, jangan dicuci atau dibersihkan. Bagi
kulit yang peka maka reaksi alergi akan dapat terlihat, yaitu kulit merah disekitar cat rambut
yang menempel pada kulit ditengah atau daerah yang ditempelkan cat akan timbul bintikbintik seperti biang keringat (meliaria) dan bila digaruk bintil-bintil akan pecah dan
mengeluarkan air. Alergi akibat cat rambut rasanya sangat gatal. Hasil Patch-test di atas
adalah positif, karena menimbulkan reaksi alergi, berarti pengecatan rambut tidak dapat
dilakukan. Patch-test yang tidak menimbulkan reaksi alergi pada kulit disebut negatif, sebab
pada kulit tidak terjadi perubahan-perubahan apapun setelah 24 jam.

BAB III
PEMBAHASAN

15

Pewarna rambut pirang adalah peparat kosmetika yang digunakan untuk merubah
warna rambut menjadi pirang. Warna pirang biasanya dipilih agar orang bias tampil seperti
orang barat atau untuk menutupi rambut yang mulai berwarna putih atau beruban. Agar warna
bertahan lama maka pewarna yang digunakan adalah dari jenis pewarna rambut permanen.
Pewarna (padat) rambut pirang yang kami formulasi memberikan warna rambut yang
tahan lama dan aman karena tidak mengandung parafenilendiamin. Formula rancangan tidak
berbau amoniak karena mengandung parfum. Selain itu, juga dapat digunakan untuk rambut
orang yang bekerja di tempat yang memungkinkan rambutnya mengandung senyawa logam
berat.
Bentuk padat dipilih adalah agar pewarna berada dalam keadaan lebih tahan lama.
Pada formula rancangan terdapat pewarna permanen sesuai dengan tujuan penggunaannya
yaitu dipakai untuk jangka wantu yang lama. Setelah menjadi preparat jadi, pewarna rambut
pirang dievaluasi secara In Vitro di laboratorium dengan cara mencat subsrat yang mirip
dengan rambut, dan secara In Vivo pada konsumen misalnya yang berada di salon. Preparat
jadi juga dievaluasi dengan Patch Test untuk melihat apakah preparat menyebabkan reaksi
alergi atau iritasi pada kulit.

BAB 1V
KESIMPULAN DAN SARAN

16

KESIMPULAN
1. Pewarna rambut adalah preparat kosmetik yang digunakan untuk merubah warna rambut
sesuai dengan yang diinginkan. Agar warna dapat bertahan lama, pewarna rambut pirang
biasanya mengandung pewarna permanen. Secara umum, pewarna warna rambut
permanen terdii dari dua bagian yaitu bagian yang memutihkan melanin koteks rambut
dan bagian yang mewarnai rambut yang sudah putih tersebut.
2. Formula rancangan kami adalah sebagai berikut (No 5) :
3.

C
Bahan

Jumlah (g)
5

Fungsi

Resorsinol

0,5

Hair Color Intermedite

Amoniak 25%

2,0

Membuka lapisan kutikula

Hidrogen
Peroksida 35%

17,1

Memutihkan melanin korteks

Akuades

80,0

Pelarut

EDTA

0,1

Pembentuk Kompleks dengan logam


berat

Parfum

0,30

Menutup bau amoniak

pembuatan pewarna rambut pirang kami adalah sebagai berikut :


1. Hidrogen peroksida dimasukkan ke dalam wadah yang telah disiapkan.
2. Amoniak, parfum, EDTA dan resorsinol dilarutkan dalam air, kemudian dimasukkan
ke dalam wadah lainnya.
4. Setelah menjadi preparat jadi, pewarna rambut pirang kami dievaluasi secara In Vitro di
laboratorium dengan cara mencat substrat yang mirip dengan rambut, dan secara In Vivo
pada konsumen misalnya yang berada di salon. Preparat jadi juga dievaluasi dengan Patch
Test untuk melihat apakah preparat menyebabkan reaksi alergi atau iritasi pada kulit.
SARAN
Disaran untuk membuat pewarna rambut pirang milik kami seperti formula rancangan kami.

17

DAFTAR PUSTAKA
1.

Williams, D.F. dan Schmitt, W.H., Chemistry and Technology of the Cosmetics and
Toiletries Industry, 2 nd Edition, Chapman & Hall, London, 1996

2.

Rostamailis dkk, Tata Kecantikan Rambut, Jilid Idan II, Departeman Pendidikan
Nasional, Jakarta, 2008.

18

3.

Schareder, K. dan Domsch, A., Cosmetology, Theory and Practice, Vol 2, verlag fur
Chemische Industrie, Augsbur, 2005

4.

Wasitaatmaja, S.M, Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, Penerbit UI, Jakarta, 1997.

5.

Mitsui, T. (Ed.), New Cosmetic Scienci, Elsevier, Japan, 1997.

19

Anda mungkin juga menyukai