Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bank adalah lembaga atau perusahaan yang aktivitasnya menghimpun
dana berupa giro, deposito tabungan dan simpanan yang lain dari pihak yang
kelebihan dana (surplus spending unit) kemudian menempatkannya kembali
kepada masyarakat yang membutuhkan dana (deficit spending unit) (Taswan,
2010:6). Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bank merupakan
lembaga perantara keuangan (financial intermediary) anatara pihak yang
kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan danan. Berdasarkan UU No.10
Tahun 1998 tentang perbankan, jenis bank terdiri menjadi dua yaitu Bank Umum
dan Bank Perkreditan Rakyat BPR.
Bank Umum yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya
memberikan jasa lalu lintas pembayaran. Sedangkan Bank Perkreditan Rakyat
(BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan
atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa
lalu lintas pembayaran (Taswan, 2010:8). Menurut Undang-Undang Republik
Indonesia No. 10 Tahun 1998, sasaran BPR adalah melayani usaha kecil (Anita,
2009). Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) jumlah BPR pada
bulan September 2015 jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan bank umum.
Berikut ini adalah rekapitulasi institusi perbankan di Indonesia bulan September
tahun 2015 menurut OJK.

(Sumber: www.ojk.go.id)

Sebagai lembaga bisnis, BPR tentunya tidak ingin mengalami kerugian


sehingga BPR harus berhati-hati dalam menyalurkan kreditnya kepada
masyarakat. Sedangkan sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dana dan
menyalurkannya kembali pada masyarakat banyak terutama kepada usaha kecil,
BPR harus menjadi lembaga keuangan yang sehat agar mampu melakukan
kegiatan operasionalnya secara optimal. Sesuai dengan pasal 29 ayat (2) UndangUndang No. 10 Tahun 1998, bahwa bank wajib memelihara tingkat kesehatannya
sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kulialitas aset, kualitas manajemen,
likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan degnan
usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha dengan prinsip kehati-hatian
(Anita, 2009). Kehadiran BPR diharapkan mampu memberi solusi bagi usaha
kecil yang memerlukan suntikan dana untuk menambah modal usaha.
Kinerja BPR pada tahun 2015 menunjukan mayoritas memiliki
pengelolaan yang sangat bagus. Sebanyak 433 BPR berpredikat sangat bagus, 108
BPR berpredikat bagus, 25 BPR berpredikat cukup bagus, 32 BPR berpredikat
tidak bagus dan 1 BPR tereliminasi (www.infobanknews.com). Bila dilihat dari
sisi aset terdapat 9 BPR raksasa atau BPR yang memiliki aset lebih dari Rp.1
Triliun. Tidak hanya sekadar besar asetnya. Aset kesembilan BPR tersebut juga
tumbuh

positif

meski

perekonomian

sedang

tidak

kondusif.

Rata-rata

pertumbuhan aset mereka di atas pertumbuhan aset industri perbankan nasional.


Salah satu BPR raksasa tersebut adalah BPR Sri Artha Lestari dari Denpasar
dengan aset Rp.2,56 Triliun (www.infobanknews.com).
Dengan latar belakang di atas terkait pentingnya kesehatan pada BPR dan
melihat banyaknya BPR konvensional maka penulis tertarik untuk membuat
makalah dengan tema Penilaian Kesahatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Studi
Kasus Pada BPR. Sri Artha Lestari Denpasar.

B. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
2. Mengetahui kegiatan usaha Bank Perkreditan Rakyat (BPR) konvensional

3. Mengetahui larangan kegiatan usaha Bank Perkreditan Rakyat (BPR)


konvensional
4. Mengetahui cara penilaian kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan
metode CAMEL
5. Mengetahui kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sri Artha Lestari
Denpasar dengan metode CAMEL

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, Bank
perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak
memberikan jasa lalu lintas pembayaran. Bank ini sama seperti bank umum,
namun wilayah operasinya sangat terbatas di wilayah tertentu misalnya kabupaten
saja. BPR Tidak boleh mengikuti kliring

atau terlibat dalam transaksi giral.

Dengan demikian penghimpunan dana hanya boleh dilakukan dalam bentuk


tabungan dan deposito.
B. Kegiatan Usaha Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Konvensional
1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito
berjangka, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
2. Memberikan kredit.
3. Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito
berjangka, sertifikat deposito dan atau tabungan pada bank lain.
C. Larangan Kegiatan Usaha Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Konvensional
1. Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran.
2. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing kecuali sebagai pedagang valuta
asing (PVA).
3. Melakukan penyertaan modal.
4. Melakukan usaha perasuransian.
5. Melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam
kegiatan usaha BPR di atas.

D. Cara Penilaian Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan


Metode CAMEL
Cara peneliaian kesehatan bank pada Bank Umum dan Bank Perkreditan
Rakyat (BPR) berdeda. Berikut ini adalah perbedaan cara penilaian kesehatan
bank antara Bank Umum dan BPR berdasarkan peraturan dan surat edaran dari
Bank Indonesia.
Jenis Bank

Cara Penilaian Kesehatan Bank

Bank Umum Konvesional

Berdasarkan Peraturan BI N0. 13/1/PBI/2011 dan Surat Edaran


BI No. 13/24/DPNP/2011 tentang penilaian kesehatan bank
umum.
Faktor-faktor

Bank Umum Syariah

penilaian

tingkat

kesehatan

bank

umum

konvensional terdiri:
1. Profil risiko (Risk Profile)
2. Good Corporate Governance (GCG)
3. Rentabilitas (Earning)
4. Permodalan (Capital)
Berdasarkan Peraturan BI N0. 9/1/PBI/2007 dan Surat Edaran BI
No.

9/24/DPBS/2007

tentang

penilaian

kesehatan

bank

berdasarkan prinsip syariah.


Faktor-faktor penilaian tingkat kesehatan bank umum syariah
terdiri:
1. Permodalan (Capital)
2. Kualitas Aset (Aset Quality)
3. Manajemen (Management)
4. Rentabilitas (Earning)
5. Likuiditas (Liquidity)
6. Sensitivitas Terhadap Risiko Pasar (Sensitivity to Market
BPR Konvensional

Risk)
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.
30/12/DIR/1997 tentang tatacara penilaian tingkat kesehatan
BPR.
Faktor-faktor penilaian tingkat kesehatan BPR konvensional

BPR Syariah

terdiri:
1. Permodalan (Capital)
2. Kualitas Aset (Aset Quality)
3. Manajemen (Management)
4. Rentabilitas (Earning)
5. Likuiditas (Liquidity)
Berdasarkan Peraturan BI No. 9/17/PBI/2007 dan Surat Edaran
BI No. 9/29/DPBS/2007 tentang penilaian tingkat kesehatan BPR
berdasarkan prinsip syariah.
Faktor-faktor penilaian tingkat kesehatan BPR syariah terdiri:
1. Permodalan (Capital)
2. Kualitas Aset (Aset Quality)
3. Manajemen (Management)
4. Rentabilitas (Earning)
5. Likuiditas (Liquidity)

Penilaian kesehatan BPR konvensional mengacu pada Surat Keputusan


Direksi Bank Indonesia Nomer 30/12/KEP/DIR/1997 tentang Tatacara Penilaian
Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Faktor-faktor penilaian
tingkat kesehatan BPR konvensional terdiri atas permodalan (capital), kualitas
aset (aset quality), manajemen (management), rentabilitas (earning) dan likuiditas

(liquidity) atau bisa disebut CAMEL. Adapun bobot untuk setiap faktor penilaian
adalah sebagai berikut.
1.
2.

Faktor yang Dinilai


Modal
Kualitas aktiva
produktif

3.

Manajemen

4.

Rentabilitas

5.

Likuiditas

Komponen yang Dinilai


Rasio Modal terhadap ATMR (CAR)
a. Rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap
total aktiva produktif (KAP)
b. Rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif yang
dibentuk terhdadap penyisihan aktiva produktif yang
wajib dibentuk oleh bank (PPAP)
a. Manajemen Umum
b. Manajemen Risiko
a. Rasio laba terhadap rata-rata volume usaha (ROA)
b. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan
operasional (BOPO)
a. Rasio alat likuid terhadap utang lancar (Cash Ratio)
b. Rasio kredit terhadap dana yang diterima (LDR)

Bobot
30%
25%
5%
10%
10%
5%
5%
5%
5%

(Sumber: Taswan, 2010)

1. Faktor Permodalan atau Capital (Bobot 30)


Penilaian permodalan didasarkan kepada kewajiban penyediaan modal
minimun bank yang didasarkan kepada Capital Adequency Ratio (CAR).
Perhitungan rasio CAR merujuk kepada peraturan BI No. 8/18/PBI/2006 tentang
kewajiban penyediaan modal minimum bank umum yang menetapkan bahwa
penilaian terhadap faktor permodalan ini didasarkan pada rasio modal terhadap
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) (Zahara, 2013).
modal inti+modal Pelengkap
CAR=
x 100
ATMR
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) mengikuti rincian bobot
sebagai berikut
0%

20%

40%
50%
85%
100%

a.
b.
c.

Kas
SBI
Kredit dengan agunan berupa SBI, tabungan dan deposito yang diblokir pada
BPR disertai surat kuasa pencairan, emas dan logam mulia
d. Kredit kepada Pemerintah Pusat
a. Giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan serta tagihan lainnya
kepada bank lain
b. Kredit kepada atau dijamin oleh bank lain atau Pemerintah Daerah
Kredit Kepemilikan Rumah (KPR)
a. Kredit kepada atau yang dijamin oleh BUMN atau BUMD
b. Kredit kepada pegawai atau pensiunan
c. Tidak merupakan pihak terkait
Kredit kepada usaha mikro dan kecil
a. Kredit yang dijamin oleh perorangan, koperasi, kelompok dan perusahaan
lainnya
b. Aktiva tetap dan inventaris (nilai buku)
c. Aktiva lainnya selain tersebut di atas

Adapun penilaian kewajiban pemenuhan modal minimum atau rasio CAR


adalah sebagai berikut.
8%
6,5% - 7,9%
0% - 6,4%

Sehat
Kurang Sehat
Tidak Sehat

(Sumber: Zahara)

Rumus untuk menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai berikut.
81 + (rasio/0,1) = nilai kredit
2. Faktor Kualitas Aktiva Produktif (Bobot 30%)
Penilaian kualitas aset merupakan penilaian terhadap kondisi aset bank dan
kemampuan menajemen dalam mengelola risiko kredit.
penilaian KAP didasarkan pada dua rasio yaitu:
a. Rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap total aktiva produktif
(rasio KAP). Bobot 25%.
b. Rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif yang dibentuk terhadap
penyisihan aktiva produktif yang wajib dibentuk oleh bank (rasio PPAP).

Bobot 5%
Rasio Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan terhadap aktiva produktif sebesar
22,5% atau lebih diberi nilai kredit 0 dan untuk penurunan 0,15% mulai dari

22,5% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimum 100.


Rasio Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang dibentuk oleh bank
terhadap Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang wajib dibentuk oleh
bank sebesar 0% diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap kenaikan 1% dimulai

dari 0 nilai kredit ditambah 1 dengan maksimum 100.


Predikat untuk komponen Rasio Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan
terhadap Aktiva Produktif (rasio KAP).
7,50 s/d < 10,35
10,35 s/d < 12,60
12,60 s/d < 14,48
14,85 s/d 22,50
(Sumber: Taswan)

Sehat
Cukup Sehat
Kurang Sehat
Tidak Sehat

Rumus untuk menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai berikut.
(22,5 Rasio) / 0,15 = nilai kredit
Predikat untuk komponen Rasio Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif
yang Dibentuk (PPAPYD) oleh BPR terhadap Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif yang wajib dibentuk oleh BPR
81 s/d 100
66 s/d < 81
51 s/d < 66

Sehat
Cukup Sehat
Kurang Sehat

0 s/d < 51
(Sumber: Taswan)

Tidak Sehat

Rumus untuk menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai berikut.
Rasio x 1= nilai kredit
Predikat untuk Faktor Aktiva Produktif dapat ditentukan sebagai berikut.
81 s/d 100
66 s/d < 81
51 s/d < 66
0 s/d < 51
(Sumber: Taswan)

Sehat
Cukup Sehat
Kurang Sehat
Tidak Sehat

3. Faktor Manajemen (Bobot 20%)


Berdasarkan Surat Keputusan Direksi BI No. 30/12/Kep/Dir/1997
penilaian faktor manajer meliputi:
Penilaian terhadap faktor manajemen mencakup 2 (dua) komponen yaitu
manajemen umum dan manajemen risiko, dengan menggunakan daftar
pertanyaan/pernyataan
Jumlah pertanyaan/pernyataan ditetapkan sebanyak 25 yang terdiri atas 10

pertanyaan/pernyataan manajemen umum dan 15 pertanyaan/pernyataan


manajemen risiko.
Skala penilaian untuk setiap pertanyaan/pernyataan ditetapkan antara 0 sampai

dengan 4 dengan kriteria:


a. Nilai 0 mencerminkan kondis yang lemah;
b. Nilai 1, 2, dan 3 mencerminkan kondisi antara;
c. Nilai 4 mencerminkan kondisi yang baik.
Adapun pertanyaaan untuk faktor manajemen umum dan manajemen
risiko tampak seperti tabel dibawah ini.

DAFTAR PERTANYAAN DAN PERNYATAAN

O
I

MANAJEMEN UMUM
a.

b.

STRATEGI / SASARAN
1. Rencana kerja tahunan bank digunakan sebagai dasar
acuan kegiatan usaha bank selama satu tahun.
STRUKTUR
2. Bagan organisasi yang ada telah mencerminkan
seluruh kegiatan bank dan tidak terdapat jabatan
kosong

atau

perangkapan

jabatan

yang

mengganggu kelancaran pelaksanaan tugas.

dapat

Nilai

3.

Bank memiliki batasan tugas dan wewenang yang jelas


untuk masing-masing karyawannya yang tercermin

c.

pada kegiatan operasionalnya.


SISTEM
4. Kegiatan operasional pemberian
5.

kredit

telah

dilaksanakan sesuai sistem dan prosedur tertulis


Pencatatan setiap transaksi dilakukan secara akurat dan
laporan keuangan disusun sesuai dengan standar

d.

6.

akuntansi keuangan yang berlaku


Bank mempunyai sistem pengamanan yang baik

7.

terhadap semua dokumen penting


Pimpinan senantiasa melakukan pengawasan terhadap

perkembangan dan pelaksanaan kegiatan bawahannya


KEPEMIMPINAN
8. Pengambilan keputusan-keputusan yang bersifat
9.

operasional dilakukan oleh direksi secara independen


Pimpinan bank komit untuk menangani permasalahan
bank yang dihadapi serta senantiasa melakukan

langkah-langkah perbaikan yang diperlukan


10. Direksi dan karyawan memiliki tertib kerja yang
meliputi disiplin kerja serta komitmen dan didukung
sarana kerja yang memadai dalam melaksanakan
pekerjaan
JUMLAH NILAI UNTUK MANAJEMEN UMUM
II

MANAJEMEN RISIKO
a.

RISIKO LIKUIDITAS / LIQUIDITY RISK


11. Bank melakukan pemantauan dan pencatatan tagihan
dan kewajiban
12. Bank senantiasa memelihara likuiditas dengan baik
yang jatuh tempo untuk mencegah kemungkinan

b.

timbulnya kesulitan likuiditas


RISIKO KREDIT / CREDIT RISK
13. Dalam memberikan kredit bank melakukan analisis
terhadap

kemampuan

debitur

untuk

membayar

kembali kewajibannya
14. Setelah kredit diberikan bank melakukan pemantauan
terhadap penggunaan kredit, serta kemampuan dan
kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajibannya
15. Bank melakukan pininjauan, penilaian dan pengikatan
c.

terhadap agunan
RISIKO OPERASIONAL
16. Bank menerapkan kebijakan pembentukan penyisihan
penghapusan piutagn berdasarkan prinsip kehati-hatian
17. Bank tidak menetapkan persyaratan yang lebih ringan

kepada

pemilik

atau

pengururs

bank

untuk

memperoleh fasilitas dari bank


18. Pimpinan senantiasa melakukan tindak lanjut secara
d.

efektif terhadap temuan hasil pemeriksaan oleh BI


RISIKO HUKUM / LEGAL RISK
19. Perjanjian kredit telah sesuai dengan ketentuan yang
berlaku
20. Bank telah memastikan bahwa agunan yang diterima
telah memenuhi persyaratan ketentuan yang berlaku
21. Bank menatausahakan secara baik dan aman blangko
bilyet deposito dan buku tabungan yang belum
digunakan (kosong), dan blangko bilyet deposito yang
telah dicairkan dananya serta buku tabungan yang
telah dikembalikan ke bank karena rekeningnya telah

e.

ditutup
RISIKO PEMILIK DAN PENGURUS / OWNERSHIP & MANAGERSHIP RISK
22. Pemilik bank tidak mencampuri kegiatan operasional
sehari-hari

yang

cenderung

menguntungkan

kepentingan sendiri, keluarga atau grupnya sehingga


merugikan bank
23. Pemilik bank mempunyai kemampuan dan kemauan
untuk meningkatkan permodalan bank sehingga
senantiasa memenuhi ketentuan yang berlaku
24. Direksi bank dalam melaksanakan kegiatan
operasional tidak melakukan hal-hal yang cenderung
menguntungkan diri sendiri, keluarga atau grupnya,
atau berpotensi akan merugikan bank
25. Dewan komisaris melaksanakan fungsi pengawasan
terhadap pelaksanaan tugas direksi dalam batasan
tugas dan wewenang yang jelas yang dilakukan
JUMLAH NILAI UNTUK MANAJEMEN RISIKO
JUMLAH NILAI FAKTOR MANAJEMEN

(sumber: Taswan)
Predikat untuk kesehatan faktor manajemen ditentukan sebagai berikut.
81 s/d 100
66 s/d < 81
51 s/d < 66
0 s/d < 51
(sumber: Taswan)

Sehat
Cukup Sehat
Kurang Sehat
Tidak Sehat

Untuk menghitung nilai kredit faktor manajemen adalah sebagai berikut.


Jumlah nilai faktor manajemen x bobot faktor

4. Faktor Rentabilitas (Bobot 10%)


Aspek ini dapat melihat kemampuan bank dalam meningkatkan laba dan
efisiensi usaha yang dicapainya.
Penilaian terhadap faktor rentabilitas didasarkan pada dua rasio yaitu:
a. Return On Asset (ROA). Bobot 5%
Rumus untuk menghitung ROA adalah sebagai berikut (Zahara, 2013).
Laba Sebelum Pajak
ROA=
x 100
Total Aset
Predikat untuk rasio ROA dapat ditentukan sebagai berikut.
1,22 s/d < 1,50
0,99 s/d < 1,22
0,77 s/d < 0,99
0 s/d < 0,77
(Sumber: Taswan)

Sehat
Cukup Sehat
Kurang Sehat
Tidak Sehat

Adapun rumus untuk menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai
berikut.
(Rasio/0.015) = Nilai Kredit
b. BOPO. Bobot 5%
Rumus untuk menghitung BOPO adalah sebagai berikut (Zahara, 2013).
Biaya Operasional
x 100
Pendapatan Operasional
Predikat untuk rasio BOPO dapat ditentukan sebagai berikut.
BOPO =

92,00 s/d < 93,52


93,52 s/d < 94,72
94,72 s/d < 95,92
95,92 < 100,00
(Sumber: Taswan)

Sehat
Cukup Sehat
Kurang Sehat
Tidak Sehat

Adapun rumus untuk menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai
berikut.
(100-Rasio)/0,08 = Nilai Kredit
5. Faktor Likuiditas (Bobot 10%)
Pada aspek likuiditas ini penilaian didasarkan atas kemampuan bank dalam
membayar semua hutang-hutangnya terutama simpanan tabungan, giro, dan
deposito.
Penilaian terhadap faktor likuiditas didasarkan pada dua rasio yaitu:
a. Cash Ratio. Bobot 5%

Cash ratio yaitu rasio alat likuid terhadap utang lancar, dimana alat likuid
adalah kas dan penanaman pada bank lain dalam bentuk giro dan tabungan
dikurangi dengan tabungan bank lain pada bank, sedangkan utang lancar
meliputi kewajiban segera, tabungan dan deposito.
Rumus untuk menghitung Cash Ratio adalah sebagai berikut (Zahara,
2013).

Aktiva Lancar
x 100
Utang Lancar
Predikat untuk rasio Cash Ratio dapat ditentukan sebagai berikut.
Cash Ratio=

4,05 s/d 5,00


3,30 s/d < 4,05
2,55 s/d < 3,30
0 s/d < 2,55
(Sumber: Taswan)

Sehat
Cukup Sehat
Kurang Sehat
Tidak Sehat

Adapun rumus untuk menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai
berikut.
(Rasio/0.05) = Nilai Kredit
b. Loan to Deposit Ratio (LDR). Bobot 5%
Loan to Deposit ratio (LDR) yaitu rasio kredit terhadap dana yang diterima
oleh bank, dimana kredit yang dimaksud dalam hal ini adalah kredit yang
diterima oleh masyarakat dan penanaman pada bank lain dalam bentuk
kredit yang diberikan dengan jangka waktu lebih dari 3 bulan. Sedangkan
untuk dana yang diterima oleh bank meliputi tabungan dan deposito
berjangka, pinjaman bukan dari bank lain dengan jangka waktu lebih dari 3
bulam, modal inti, dan modal pinjaman.
Rumus untuk menghitung LDR adalah sebagai berikut (Zahara, 2013).
Kredit yang Diberikan
x 100
Dana yang Diterima
Predikat untuk rasio LDR dapat ditentukan sebagai berikut.
LDR=

89,00 s/d 93,75


93,75 s/d < 97,50
97,50 s/d < 101,25
101,25 < 115,00
(Sumber: Taswan)

Sehat
Cukup Sehat
Kurang Sehat
Tidak Sehat

Adapun rumus untuk menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai
berikut.
(114-Rasio) x 4 = Nilai Kredit
Setelah nilai kredit tingkat kesehatan BPR dihitung, selanjutnya nilai
kredit tersebut dihitung berdasarkan rasio CAMEL dengan bobot komponen

masing-masing standar rasio. Berikut ini adalah penilaian tingkat kesehatan BPR
konvensional berdasarkan metode CAMEL
Rasio CAMEL
PERMODALAN (CAPITAL)
1. Rasio CAR
2. Nilai = 81 + (rasio/0,1)
3. Bobot komponen / standar
4. Bobot komponen dalam faktor per standar
5. Nilai kredit komponen (no. 2 x no.4)
6. Bobot faktor / standar
7. Nilai kredit faktor (no. 5 x no. 6)

KUALITAS AKTIVA PRODUCKTIF (ASSET QUALITY)


1. Rasio KAP
2. Nilai (22,5 a)/0,15 ; dan (b x 1)
3. Bobot komponen / standar
4. Bobot komponen dalam faktor per standar
Jumlah
5. Nilai kredit komponen (no. 2 x no.4)
Jumlah a + b
6. Bobot faktor / standar (0,25 + 0,5)
7. Nilai kredit faktor (no. 5 x no. 6)

MANAJEMEN (MANAGEMENT)
1. Nilai
2. Bobot faktor / standar
3. Nilai kredit faktor

Nilai

RENTABILITAS (EARNING POWER)


1. Rasio rentabilitas
2. Nilai (rasio a / 0,015) ; dan (100-rasio b/0,08)
3. Bobot komponen / standar
4. Bobot komponen dalam faktor per standar
Jumlah
5. Nilai kredit komponen (no. 2 x no.4)
Jumlah a + b
6. Bobot faktor / standar
7. Nilai kredit faktor (no. 5 x no.6)

LIKUIDITAS (LIQUIDITY)
1. Rasio likuiditas
2. Nilai (rasio a / 0,05) ; dan ((114-rasio b) x 4)
3. Bobot komponen / standar
4. Bobot komponen dalam faktor per standar
Jumlah
5. Nilai kredit komponen (no. 2 x no.4)
Jumlah a + b
6. Bobot faktor / standar
7. Nilai kredit faktor (no. 5 x no.6)

Nilai kredit CAMEL

Bila nilai kredit CAMEL telah didapatkan maka selanjutnya adalah


melihat hasil penilaian tingkat kesehatan BPR. Hasil penilaian tingkat kesehatan
BPR dikelompokan menjadi 4 kelompok dengan kriteria sebagai berikut.
Nilai Kredit
81 s/d 100
66 s/d < 81
51 s/d < 66
0 s/d < 51

Predikat
Sehat
Cukup Sehat
Kurang Sehat
Tidak Sehat

Dalam pelaksanaan, ada pelanggaran yang sanksinya dikaitkan dengan


penilain kesehatan BPR yaitu:
a. Pelanggaran terhadap Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)
b. Pelanggaran BMPK dihitung berdasarkan jumlah kumulatif pelanggaran
BMPK kepada debitur individual, debitur kelompok dan pihak terkait dengan
bank terhadap modal BPR
c. Untuk pelanggaran tersebut, akan mengurangi hasil penilaian tingkat kesehatan
BPR dengan perhitungan:
Untuk setiap pelanggaran BMPK nilai kredit dikurangi 5%
Untuk setiap 1% pelanggaran BMPK nilai kredit dikurangi lagi dengan
0,05% dengan maksimum 100.

BAB III
DESKRIPSI OBJEK

A. Logo Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sri Artha Lestari Denpasar

B. Profil Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sri Artha Lestari Denpasar


Nama Perusahaan
: BPR Sri Artha Lestari
Alamat
: Jalan Teuku Umar No. 110 Denpasar Bali
Nomor Telepon
: 0361-246706
Nomor Faksimili
: 0361-246706
Website
: http://wwwbprlestari.com
C. Sejarah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sri Artha Lestari Denpasar
Berdiri sejak tanggal 22 Maret 1989. BPR Lestari ketika itu berkantor di
Jalan Setiabudi Kuta.Seiring dengan perkembangannya dengan Manajemen baru
Pada tahun 1999, BPR Lestari dipimpin oleh Bpk. Alex P Chandra. Nama BPR
Lestari diperkenalkan dengan tagline "Aman, Praktis & Menguntungkan".
Pada tahun 2003 BPR Lestari memindahkan kantor pusat dari Kuta ke
Jalan Teuku Umar Denpasar untuk lebih meningkatkan kepercayaan dan citra
perusahaan. Pada tahun 2005 BPR Lestari memimpin pasar, menjadi Market
Leader di Bali dengan asset Rp.55,1 Milyar. Pada tahun 2007 BPR Lestari
membuka kantor kas pertama yang perposisi di Jalan Thamrin Denpasar (Lestari
Thamrin). Pada tahun 2008 Pembukaan 3 Kantor pelayanan kas tambahan
sekaligus

yaitu

Lestari

Gatsu,

Lestari

Renon

dan

Lestari

Melati.

Ditahun 2008 dengan asset Rp.265,9 Milyar, BPR Lestari berada dalam jajaran 10
BPR papan atas nasional. Pada tahun 2009 BPR Lestari meluncurkan System
Online dan meresmikan gedung baru berlantai 4 dengan luas 1.200 m2 sebagai
pusat kantor BPR Lestari di Jalan Teuku Umar Denpasar.
Dengan aset sebesar Rp.378,1 Milyar, pada tahun 2009 BPR Lestari
berada di jajaran 6 BPR papan atas nasional. Pada tahun 2010, BPR Lestari
merubah tagline pelayanannya menjadi Cepat, Bersahabat dan menjadi ranking
5 BPR terbesar nasional dengan asset Rp. 624 Milyar. Pada tahun 2011 BPR
Lestari tumbuh 73,5% dan memiliki aset Rp.1 Triliun sehinggan menduduki
rangking 3 BPR papan atas nasional. Pada tahun 2012 BPR Lestari menambahkan
3 kantor pelayanan yang berlokasi di titik-titik strategis kota Denpasar yaitu

Sanur, WR Supratman dan Hayam Wuruk. Pada tahun 2013 BPR Lestari
membentuk 5 divisi yang dipimpin oleh masing-masing kepala divisi, yakni
Banking Operational and IT Division, Risk and Special Asset Management
Division, Human Capital Management and Compliance Division, Business
Division, dan Retail Banking Division. Di tahun 2014 aset BPR Lestari mencapai
2 triliyun dan mempertahankan posisi ketiga sebagai BPR terbesar di Indonesia.
Sebagai BPR terbaik di Bali, di tahun 2015 BPR Lestari kembali membuktikan
kinerjanya dengan pencapaian asset lebih dari Rp. 3 Triliun di tahun 2015.
Dengan pencapaian ini BPR Lestari tetap mempertahankan posisinya sebagai BPR
terbesar ketiga di Indonesia. (www.bprlestari.com)
D. Visi BPR Sri Artha Lestari
1. Mendapatkan profitabilitas 4% ROA
2. Memberikan kesejahteraan yang layak bagi setiap anggota tim
3. Bermanfaat secara signifikan terhadap pengembangan sosial ekonomi
masyarakat Bali
E. Strategi Untuk Mencapai Visi BPR Sri Artha Lestari
1. Menjadikan BPR Lestari sebagai A Service Company
2. Menjadikan BPR Lestari sebagai A Productive Company
3. Menjadikan BPR Lestari sebagai A Learning Organization
Berikut ini adalah laporan keuangan BPR Sri Artha Lestari Denpasar

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Perhitungan Faktor Penilaian Kesehatan Bank pada Bank Perkreditan


Rakyat (BPR) Sri Artha Lestari Denpasar
1. Faktor Permodalan atau Capital (Bobot 30)
Pada laporan keuangan tahun 2014 telah dijelaskan bahwa besarnya rasio
CAR pada BPR Sri Artha Lestari adalah 9,81%. Bila berpedoman pada penilaian
kewajiban pemenuhan modal minimum atau rasio CAR maka rasio CAR pada
BPR Sri Artha Lestari Denpasar termasuk dalam kategori sehat. Sedangkan untuk
menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai berikut.
9,81
=nilai kredit maka 81+(
=179,1
( rasio
)
0,1
0,1 )

81+

Nilai Kredit rasio ini sebesar 179,1 namun maksimum nilai kredit adalah 100
sehingga nilai kredit untuk rasio ini adalah 100
2. Faktor Kualitas Aktiva Produktif (Bobot 30%)
penilaian Aktiva Produktif didasarkan pada dua rasio yaitu:
a. Rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap total aktiva produktif
(rasio KAP). Bobot 25%.
Pada laporan keuangan tahun 2014 telah dijelaskan bahwa besarnya rasio
KAP pada BPR Sri Artha Lestari adalah 0,24%. Bila berpedoman pada penilaian
rasio KAP maka rasio KAP pada BPR Sri Artha Lestari Denpasar termasuk dalam
kategori sehat. Sedangkan untuk menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai
berikut.

( 22,5 Rasio )
( 22,5 0,24 )
=nilai kredit maka
=148,4
0,15
0,15
Nilai Kredit rasio ini sebesar 148,4 namun maksimum nilai kredit adalah 100
sehingga nilai kredit untuk rasio ini adalah 100
b. Rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif yang dibentuk terhadap
penyisihan aktiva produktif yang wajib dibentuk oleh bank (rasio PPAP).
Bobot 5%.

Pada laporan keuangan tahun 2014 telah dijelaskan bahwa besarnya rasio
PPAP pada BPR Sri Artha Lestari adalah 100,00%. Bila berpedoman pada
penilaian rasio PPAP maka rasio PPAP pada BPR Sri Artha Lestari Denpasar
termasuk dalam kategori sehat. Sedangkan untuk menghitung nilai kredit rasio ini
adalah sebagai berikut.
Rasio x 1=nilai kredit maka100 x 1=100

Untuk menghitung predikat faktor aktiva produktif adalah sebagai berikut.


predikat=( 0,25 x 100 ) + ( 0,05 x 100 ) maka predikat=25+5=30
Dari perhitungan diatas didapatkan nilai faktor aktiva produktif sebesar
42,1. Dengan demikian maka faktor aktiva produktif BPR Sri Artha Lestari masuk
dalam kategori tidak sehat.
3. Faktor Manajemen (Bobot 20%)
Pihak yang berwenang menjawab pertanyaan dan pernyataan untuk faktor
manajemen ini adalah Bank Indonesia, sehingga untuk faktor manajemen pada
BPR Sri Artha Lestari hanya perkiraan dari penulis saja.
N
O
I

DAFTAR PERTANYAAN DAN PERNYATAAN

Nilai

MANAJEMEN UMUM
STRATEGI / SASARAN
1. Rencana kerja tahunan bank digunakan sebagai dasar
acuan kegiatan usaha bank selama satu tahun.

STRUKTUR
2.

Bagan organisasi yang ada telah mencerminkan seluruh


kegiatan bank dan tidak terdapat jabatan kosong atau
perangkapan jabatan yang dapat mengganggu
kelancaran pelaksanaan tugas.

3.

Bank memiliki batasan tugas dan wewenang yang jelas


untuk masing-masing karyawannya yang tercermin pada
kegiatan operasionalnya.

SISTEM
4.

Kegiatan operasional pemberian kredit telah


dilaksanakan sesuai sistem dan prosedur tertulis

5.

Pencatatan setiap transaksi dilakukan secara akurat dan


laporan keuangan disusun sesuai dengan standar

6.

akuntansi keuangan yang berlaku


Bank mempunyai sistem pengamanan yang baik

7.

terhadap semua dokumen penting


Pimpinan senantiasa melakukan pengawasan terhadap
perkembangan dan pelaksanaan kegiatan bawahannya

KEPEMIMPINAN
8.

Pengambilan keputusan-keputusan yang bersifat

9.

operasional dilakukan oleh direksi secara independen


Pimpinan bank komit untuk menangani permasalahan

bank yang dihadapi serta senantiasa melakukan langkah-

langkah perbaikan yang diperlukan


10. Direksi dan karyawan memiliki tertib kerja yang
meliputi disiplin kerja serta komitmen dan didukung
sarana kerja yang memadai dalam melaksanakan
pekerjaan
JUMLAH NILAI UNTUK MANAJEMEN UMUM
II

39

MANAJEMEN RISIKO
RISIKO LIKUIDITAS / LIQUIDITY RISK
11. Bank melakukan pemantauan dan pencatatan tagihan
dan kewajiban
12. Bank senantiasa memelihara likuiditas dengan baik yang
jatuh tempo untuk mencegah kemungkinan timbulnya

kesulitan likuiditas
RISIKO KREDIT / CREDIT RISK
13. Dalam memberikan kredit bank melakukan analisis
terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali
kewajibannya
14. Setelah kredit diberikan bank melakukan pemantauan
terhadap penggunaan kredit, serta kemampuan dan
kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajibannya
15. Bank melakukan pininjauan, penilaian dan pengikatan
terhadap agunan
RISIKO OPERASIONAL
16. Bank menerapkan kebijakan pembentukan penyisihan
penghapusan piutang berdasarkan prinsip kehati-hatian
17. Bank tidak menetapkan persyaratan yang lebih ringan
kepada pemilik atau pengururs bank untuk memperoleh
fasilitas dari bank
18. Pimpinan senantiasa melakukan tindak lanjut secara

efektif terhadap temuan hasil pemeriksaan oleh BI


RISIKO HUKUM / LEGAL RISK
19. Perjanjian kredit telah sesuai dengan ketentuan yang
berlaku
20. Bank telah memastikan bahwa agunan yang diterima
telah memenuhi persyaratan ketentuan yang berlaku
21. Bank menatausahakan secara baik dan aman blangko

bilyet deposito dan buku tabungan yang belum


digunakan (kosong), dan blangko bilyet deposito yang
telah dicairkan dananya serta buku tabungan yang telah
dikembalikan ke bank karena rekeningnya telah ditutup
RISIKO PEMILIK DAN PENGURUS / OWNERSHIP & MANAGERSHIP RISK
22. Pemilik bank tidak mencampuri kegiatan operasional
sehari-hari yang cenderung menguntungkan kepentingan
sendiri, keluarga atau grupnya sehingga merugikan bank
23. Pemilik bank mempunyai kemampuan dan kemauan
untuk meningkatkan permodalan bank sehingga
senantiasa memenuhi ketentuan yang berlaku
24. Direksi bank dalam melaksanakan kegiatan operasional
tidak melakukan hal-hal yang cenderung
menguntungkan diri sendiri, keluarga atau grupnya, atau
berpotensi akan merugikan bank
25. Dewan komisaris melaksanakan fungsi pengawasan
terhadap pelaksanaan tugas direksi dalam batasan tugas
dan wewenang yang jelas yang dilakukan
JUMLAH NILAI UNTUK MANAJEMEN RISIKO

58

JUMLAH NILAI FAKTOR MANAJEMEN

97

Bila berpedoman pada penilaian faktor manajemen maka faktor


manajemen BPR Sri Artha Lestari Denpasar termasuk dalam kategori sehat.
Sedangkan untuk menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai berikut.
jumlah faktor manajemen x bobot faktor =nilai kredit maka 97 x 0,2=19,4

4. Faktor Rentabilitas (Bobot 10%)


Aspek ini dapat melihat kemampuan bank dalam meningkatkan laba dan
efisiensi usaha yang dicapainya.
Penilaian terhadap faktor rentabilitas didasarkan pada dua rasio yaitu:
a. Return On Asset (ROA). Bobot 5%

Pada laporan keuangan tahun 2014 telah dijelaskan bahwa besarnya rasio
ROA pada BPR Sri Artha Lestari adalah 5,84%. Bila berpedoman pada penilaian
rasio ROA maka rasio ROA pada BPR Sri Artha Lestari Denpasar termasuk dalam
kategori sehat. Sedangkan untuk menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai
berikut.
5,84
=nilai kredit maka
=389,3
( Rasio
)
0,015
0,015

Nilai Kredit rasio ini sebesar 389,33 namun maksimum nilai kredit adalah 100
sehingga nilai kredit untuk rasio ini adalah 100
b. BOPO. Bobot 5%
Pada laporan keuangan tahun 2014 telah dijelaskan bahwa besarnya rasio
BOPO pada BPR Sri Artha Lestari adalah 68,53%. Bila berpedoman pada
penilaian rasio BOPO maka rasio BOPO pada BPR Sri Artha Lestari Denpasar
termasuk dalam kategori sehat. Sedangkan untuk menghitung nilai kredit rasio ini
adalah sebagai berikut.
100rasio
10068,53
=nilai kredit maka
=393,37
0,08
0,08
Nilai Kredit rasio ini sebesar 393,37 namun maksimum nilai kredit adalah 100
sehingga nilai kredit untuk rasio ini adalah 100
5. Faktor Likuiditas (Bobot 10%)
Penilaian terhadap faktor likuiditas didasarkan pada dua rasio yaitu:
a. Cash Ratio. Bobot 5%
Pada laporan keuangan tahun 2014 telah dijelaskan bahwa besarnya rasio
Cash Ratio pada BPR Sri Artha Lestari adalah 10,05%. Bila berpedoman pada
penilaian rasio Cash ratio maka rasio Cash Ratio pada BPR Sri Artha Lestari
Denpasar termasuk dalam kategori sehat. Sedangkan untuk menghitung nilai
kredit rasio ini adalah sebagai berikut.
10,05
=nilai kredit maka (
=201
( Rasio
)
0,05
0,05 )
Nilai Kredit rasio ini sebesar 201 namun maksimum nilai kredit adalah 100
sehingga nilai kredit untuk rasio ini adalah 100
b. Loan to Deposit Ratio (LDR). Bobot 5%
Pada laporan keuangan tahun 2014 telah dijelaskan bahwa besarnya rasio
LDR pada BPR Sri Artha Lestari adalah 71,90%. Bila berpedoman pada penilaian
rasio LDR maka rasio LDR pada BPR Sri Artha Lestari Denpasar termasuk dalam

kategori sehat. Sedangkan untuk menghitung nilai kredit rasio ini adalah sebagai
berikut.

( 114rasio ) x 4=nilai kredit maka (114 71,90 ) x 4=168,4


Nilai Kredit rasio ini sebesar 168,4 namun maksimum nilai kredit adalah 100
sehingga nilai kredit untuk rasio ini adalah 100.
B. Analisis Kesetahan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sri Artha Lestari
Denpasar dengan Metode CAMEL
1

Rasio CAMEL
PERMODALAN (CAPITAL)
1. Rasio CAR
2. Nilai = 81 + (rasio/0,1) max 100
3. Bobot komponen / standar
4. Bobot komponen dalam faktor per standar
5. Nilai kredit komponen (no. 2 x no.4)
6. Bobot faktor / standar
7. Nilai kredit faktor (no. 5 x no. 6)
KUALITAS AKTIVA PRODUCKTIF (ASSET QUALITY)
1. Rasio aktiva produktif
2. Nilai (22,5 a)/0,15 ; dan (b x 1) max 100
3. Bobot komponen / standar
4. Bobot komponen dalam faktor per standar
Jumlah
5. Nilai kredit komponen (no. 2 x no.4)
Jumlah a + b
6. Bobot faktor / standar (0,25 + 0,5)
7. Nilai kredit faktor (no. 5 x no. 6)

Nilai
9,81
100
0,3
1
100
0,3
30
a (KAP)
0,24
100
0,25
0,83
83

MANAJEMEN (MANAGEMENT)
1. Nilai
2. Bobot faktor / standar
3. Nilai kredit faktor

b (PPAP)
100
100
0,05
0,17
1,00
17
100
0,30
30
97
0,20
19,4

RENTABILITAS (EARNING POWER)


1. Rasio rentabilitas
2. Nilai (rasio a / 0,015) ; dan (100-rasio b/0,08) max 100
3. Bobot komponen / standar
4. Bobot komponen dalam faktor per standar
Jumlah
5. Nilai kredit komponen (no. 2 x no.4)
Jumlah a + b
6. Bobot faktor / standar
7. Nilai kredit faktor (no. 5 x no.6)

a (ROA)
5,84
100
0,05
0,50

LIKUIDITAS (LIQUIDITY)
1. Rasio likuiditas
2. Nilai (rasio a / 0,05) ; dan ((114-rasio b) x 4) max 100
3. Bobot komponen / standar
4. Bobot komponen dalam faktor per standar
Jumlah
5. Nilai kredit komponen (no. 2 x no.4)

a (CR)
10,05
100
0,05
0,50

50

50

b (BOPO)
68,53
100
0,05
0,50
1,00
50
100
0,10
10
b (LDR)
71,90
100
0,05
0,50
1,00
50

6.
7.

Jumlah a + b
Bobot faktor / standar
Nilai kredit faktor (no. 5 x no.6)

Nilai kredit CAMEL

100
0,10
10
99,4

Bila berpedoman pada penilaian tingkat kesehatan BPR maka BPR Sri
Artha Lestari termasuk dalam kategori sehat.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut.
1. Faktor permodalan BPR Sri Artha Lestari yang di hitung dengan CAR
termasuk dalam kategori sehat.
2. Faktor kualitas aktiva produktif BPR Sri Artha Lestari yang di hitung dengan
KAP dan PPAP termasuk dalam kategori sehat.
3. Faktor manajemen BPR Sri Artha Lestari yang di hitung dengan 25 pertanyaan
dan pernyataan tentang manajemen unum dan manajemen risiko termasuk
dalam kategori sehat.
4. Faktor rentabilitas BPR Sri Artha Lestari yang di hitung dengan ROA dan
BOPO termasuk dalam kategori sehat.
5. Faktor likuiditas BPR Sri Artha Lestari yang di hitung dengan Cash Ratio dan
LDR termasuk dalam kategori sehat.
6. Penilaian tingkat kesehatan BPR Sri Artha Lestari dengan metode CAMEL
termasuk dalam kategori sehat.
B. Saran
Berdasarkan hasil penilaian yang telah dilakukan maka saran yang dapat
diajukan oleh penulis adalah BPR Sri Artha Lestari diharapkan untuk tetap
mempertahankan dan meningkatkan kinernyanya agar kesehatan BPR selalu
dalam kategori sehat.
C.

Daftar Rujukan
_____. 2012. Propfil Perusahaan PT BPR Sri Artha Lestari. (Online),
(www.kehidupan-yheiye.blogspot.co.id/2012/03/profil-pt-bpr-sri-arthalestari), diakses 12 Maret 2016.
_____. 2015. Rating 599 BPR: BPR Raksasa Survive di Kota Besar. (Online),
(www.infobanknews,com/npr-raksasa-survive-di-kota-besar), diakses 12
Maret 2016.
_____. 2015. Rekapitulasi Institusi Perbankan di Indoonesia September 2015.
(Online),(http://www.ojk.go.id/id/kanal/perbankan/ikhtisarperbankan/Pages/Lembaga-Perbankan), diakses 12 Maret 2016.
_____.

2015.
Sejarah
BPR
Lestari.
(Online),
(www.bprlestrai.com/pages/sejarah.html., diakses 12 Maret 2016

Anita. 2009. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan rakyat Syariah pada
BPRS Kota Bekasi Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor :
9/17/PBI/2007. Skripsi Tidak Diterbitkan. Jakarta : UIN Syarif
Hidayatullah.
Taswan. 2010. Manajemen Perbankan Konsep, Teknik, dan Aplikasi Edisi II.
Yogyakarta : UPP STIM YKPN Yogyakarta
Zahara. 2014. Analisis Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Dengan Metode CAMEL (Studi Kasus Pada Tiga BPR di Sumatera Barat).
Jurnal Akuntansi & Manajemen, 8 (2).

Anda mungkin juga menyukai