Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kecemasan adalah sesuatu yang dialami hampir setiap orang pada waktu
tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap situasi
yang sangat menekan kehidupan seseorang, dan biasanya berlangsung tidak lama.1
Menurut Freud (cit. Kaplan, dkk, 2010) kecemasan adalah suatu sinyal yang
menyadarkan. Kecemasan memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan
memungkinkan

seseorang

mengambil

tindakan

untuk

mengatasi

ancaman.

Kecemasan merupakan situasi afektif yang dirasa tidak menyenangkan yang diikuti
oleh sensasi fisik yang memperingatkan seseorang akan bahaya yang mengancam.
Perasaan tidak menyenangkan ini biasanya samar-samar dan sulit dipastikan, tetapi
selalu terasa.2,3
Salah satu bentuk kecemasan adalah kecemasan dental. Kecemasan dental
adalah kecemasan yang dialami pasien dalam bidang kedokteran gigi. Kecemasan
dental sudah umum terjadi pada pasien dan telah banyak diteliti di seluruh dunia.
Kecemasan dental tidak hanya dialami oleh pasien, namun juga dirasakan para klinisi.
Prosedur tindakan kedokteran gigi yang dapat menimbulkan kecemasan pada pasien
antara lain adalah pencabutan gigi, penyuntikan (anastesi), tindakan pengeboran dan
pemolisan. Kecemasan merupakan suatu keadaan yang seharusnya dapat diatasi oleh
seorang dokter gigi.4
Kecemasan yang dialami oleh pasien perlu mendapat perhatian oleh karena
kecemasan dapat mempengaruhi pasien dan dokter giginya. Pasien yang merasa
cemas akan menghindar untuk melakukan kunjungan berkala ke dokter gigi atau
pembatalan kunjungan, terlambat datang, tidak kooperatif, dan tidak mampu
melaksanakan atau mengingat instruksi pasca perawatan, sehingga dapat menurunkan
efisiensi pelayanan kesehatan gigi. Kecemasan pada pasien juga dapat menyebabkan
diagnosa yang tidak tepat dari masalah yang sebenarnya dan sering kali

Universitas Sumatera Utara

mempengaruhi tanda-tanda vital tubuh seperti terjadinya peningkatan tekanan darah,


denyut nadi, dan respirasi selama tindakan perawatan gigi dilaksanakan.5
Penelitian Abraham et al. menunjukkan terjadinya peningkatan tekanan darah
yang bervariasi dari 10 sampai 70 mmHg selama tindakan pencabutan gigi.
Peningkatan tekanan darah tersebut dihubungkan oleh banyak faktor salah satunya
faktor psikologis dalam merespons rasa sakit dan tingkat kecemasan seseorang.6
Studi oleh Stouthard dan Hoogsstaten mengungkapkan bahwa lebih 50% dari
total populasi di negara-negara industri merasa cemas saat mengunjungi dokter gigi,
sedangkan 15% dari total populasi selalu menghindari perawatan ke dokter gigi
karena cemas. Selanjutnya, Gatchell dkk. menunjukkan bahwa 70% pasien merasa
ketakutan dan 15% menghindari kunjungan ke dokter gigi karena merasa cemas.7
Penelitian Mehboob dkk. menyatakan bahwa dari 25,8% pasien cemas, 1,2%
tergolong phobia. Prevalensi kecemasan dental yang serupa juga diperoleh di negara
lain seperti Sri Langka 32%, Brazil 28,17%, Bulgaria 29,9%, dan Fiji 28%.
Prevalensi kecemasan gigi relatif rendah di negara-negara China 10,5%, Inggris 13%,
Perancis 13,5%, Rusia 12,6%, Lithuania 11,3%, dan Kanada 5,8% dari jumlah total
seluruh penduduk.8
Penelitian Mehboob dkk. juga menyatakan bahwa tingkat kecemasan yang
tertinggi 94% dialami oleh usia dewasa muda 18-33 tahun dan menurun pada usia
dewasa tua 80%. Humphris dkk. (cit. Bushra, 2011) menemukan bahwa kecemasan
empat kali lebih besar pada kelompok usia muda (18-33 tahun) dibandingkan dengan
populasi usia dewasa tua (60+). Temuan serupa juga dilaporkan oleh Kumar dan
Heaton. Demikian juga pada hasil penelitian Hagglin dkk. dalam studi
longitudinalnya dari tahun 1968 sampai 1996 menyatakan bahwa kecemasan dental
seseorang menurun seiring bertambahnya usia. Hal ini mungkin disebabkan oleh
peningkatan status mutu-rasional dan kemampuan individu untuk bersikap rasional
terhadap pengalaman selama bertambahnya usia.8
Faktor-faktor yang mungkin berhubungan dengan kecemasan dental di
antaranya usia, objek, situasi, jenis kelamin dan lain-lain.9

Universitas Sumatera Utara

Myers (cit. Trismiati, 2004) menyatakan bahwa perempuan lebih cemas akan
ketidakmampuannya dibandingkan laki-laki, yang mana laki-laki lebih aktif,
eksploratif sedangkan perempuan lebih sensitif. Penelitian Myers (cit. Trimiati, 2004)
menunjukkan bahwa laki-laki lebih tenang dibandingkan perempuan.10
James (cit. Trismiati, 2004) menyatakan bahwa perempuan lebih mudah
dipengaruhi oleh tekanan-tekanan lingkungan dari pada laki-laki. Cattel (cit.
Trismiati, 2004) menyatakan perempuan juga lebih cemas, kurang sabar, dan mudah
mengeluarkan air mata. Dalam berbagai studi kecemasan secara umum, Maccoby dan
Jacklin (cit. Trismiati, 2004) menyatakan bahwa perempuan lebih cemas dari pada
laki-laki.10
Pada penelitian lain, dinyatakan bahwa wanita memiliki ambang nyeri yang
lebih rendah dibandingkan laki-laki dan juga memiliki toleransi yang rendah terhadap
stimulus yang menyakitkan. Hal ini dapat menjadi alasan untuk perbedaan tingkat
kecemasan dari sisi jenis kelamin.8
Banyak alat ukur yang telah dikembangkan untuk mengukur kecemasan dental,
di antaranya:

The Corah Dental Anxiety Scale, Modified Dental Anxiety Scale,

Dental Fear Survey, Dental Belief Survey dan lain-lain. Semua skala tersebut telah di
adaptasi dan di uji selama bertahun-tahun pada penelitian di bidang kedokteran gigi
dan psikologi.9
Hasil

penelitian

Mehboob

dkk.

tentang

tingkat

kecemasan

dengan

menggunakan Modified Dental Anxiety Scale (MDAS) menunjukkan dari 200 orang
responden yang diteliti diperoleh 27% pasien sangat cemas dengan hasil skor MDAS
> 19, di antaranya 15% laki-laki dan 85% perempuan. Sangat cemas tertinggi tercatat
pada kelompok usia 18-33 (49,5%), diikuti kelompok usia 35-49 (32,5%), dan
kelompok usia 50 tahun keatas (18%). Sangat cemas pada penelitian tersebut
dikategorikan juga sebagai phobia.8
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti merasa tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai perbedaan tingkat kecemasan dental pasien pria dan wanita
sebelum pencabutan gigi di Departemen Bedah Mulut RSGMP FKG USU Medan.

Universitas Sumatera Utara

1.2 Rumusan Masalah


Apakah ada perbedaan tingkat kecemasan dental pasien pria dan wanita
sebelum pencabutan gigi di Departemen Bedah Mulut RSGMP FKG USU Medan ?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat kecemasan dental pasien pria dan wanita sebelum
pencabutan gigi pada di Departemen Bedah Mulut RSGMP FKG USU Medan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui tingkat kecemasan dental pada pasien pria sebelum
pencabutan gigi di Departemen Bedah Mulut RSGMP FKG USU Medan
2. Untuk mengetahui tingkat kecemasan dental pada pasien wanita sebelum
pencabutan gigi di Departemen Bedah Mulut RSGMP FKG USU Medan
3. Untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan dental pada pasien pria dan
wanita sebelum pencabutan gigi di Departemen Bedah Mulut RSGMP FKG USU
Medan

1.4 Hipotesis Penelitian


Tidak ada perbedaan tingkat kecemasan dental pasien pria dan wanita sebelum
pencabutan gigi di Departemen Bedah Mulut RSGMP FKG USU Medan

1.5 Manfaat Penelitian


1. Bagi Praktisi, dengan adanya hasil penelitian ini dapat memberikan informasi
mengenai perlunya penanganan pasien cemas terutama pada kasus-kasus pencabutan
gigi
2. Bagi Mahasiswa kedokteran gigi, dapat memberikan gambaran mengenai
tingkat kecemasan pada pria dan wanita sebelum tindakan pencabutan gigi
3. Bagi Peneliti, dengan adanya hasil penelitian ini dapat menjadi sumber data
untuk penelitian-penelitian lanjutan yang terkait dengan kecemasan dental

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai