Anda di halaman 1dari 23

Laporan Praktikum Fisika Inti

ADSORBSI RADIASI SINAR BETA DALAM BAHAN

Disusun Oleh:
KELOMPOK 4

Anggota: 1. Melinda Maharani (06121011044)


2. Tri Nanda Amilia (06121011036)
3. Sri Rahmasari (06121011023)
4. Elvira Anggraini (06121011005)
6. Dwi Agustina (06121011029)
7. Amalia Ratnasari (06121011037)
8. Hesih Permawati (06121011041)
9. Riko Irawan (061210110113)

Program Studi Pendidikan Fisika


Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
0

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum, wr.wb.
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt, karena atas berkat dan rahmatNyalah penyusun dapat menyelesaikan laporan praktikum yang berjudul Adsorbsi Sinar
Beta dalam Bahan. Tujuan utama penyusunan laporan praktikum ini adalah untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Pendahuluan Fisika Inti. Dalam penyusunan makalah ini
penyusun mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pengampuh Pendahuluan Fisika Inti.,
Bapak Dr.`Ketang Wiyono, S.Pd, M.Pd, kedua orang tua kami yang senantiasa memberikan
dukungan dan nasihatnya, serta sahabat-sahabat kami tercinta keluarga besar HIMAPFIS
yang selalu memberikan dukungan serta semangatnya dalam penyusunan makalah ini.
Meskipun telah berusaha dengan segenap kemampuan, namun penyusun menyadari
bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, segala tegur sapa, kritik, serta
saran yang diberikan pembaca akan penyusun terima dengan kelapangan hati guna perbaikan
pada masa yang akan datang. Akhir kata, penyusun berharap semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi para pembaca.
Wassalamualaikum, wr.wb.

Indralaya, November 2015

Penyusun

Daftar Isi
Kata Pengantar.......................................................................................

Daftar Isi................................................................................................

I. Landasan Teori
1.1.

Radiasi............................................................................................. 3

1.2.

Adsorbsi Bahan................................................................................. 4

1.3.

Interaksi Radiasi dengan Materi.........................................................

1.4.

Interaksi Beta dengan Materi..............................................................

1.5.

Adsorbsi Koefisien Linier....................................................................

1.6.

Adsorbsi Sinar Beta dalam bahan........................................................ 7

1.7.

Jangkauan Tempuh Energi Sinar Beta................................................

1.8.

Detektor GM.......................................................................................

1.9.

Daerah Plateu Tabung GM.................................................................

10

5
5
5

II. Tujuan Percobaan.................................................................................. 11


III. Alat dan Bahan..................................................................................

11

IV. Prosedur..............................................................................................

11

V. Tabel Hasil Pengamatan...................................................................

12

VI. Pengolahan Data.................................................................................. 13


VII. Pembahasan....................................................................................... 17
VIII. Kesimpulan....................................................................................... 18

Daftar Pustaka........................................................................................

19

ADSORBSI RADIASI SINAR BETA DALAM BAHAN


I. Landasan Teori
1.1 Radiasi
Radiasi adalah pancaran energi dari suatu sumber energi ke lingkungannya. Radiasi tidak
dapat dideteksi oleh indra manusia, sehingga untuk mengenalinya diperlukan suatu alat bantu
pendeteksi yang disebut dengan detektor radiasi. Ada beberapa jenis detektor yang secara
spesifik mempunyai kemampuan untuk melacak keberadaan jenis radiasi tertentu yaitu
detektor alpha, detektor gamma, detektor neutron, dll. Radiasi dapat berinteraksi dengan
materi yang dilaluinya melalui proses ionisasi, eksitasi dan lain-lain. Dengan menggunakan
sifat-sifat tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk membuat detektor radiasi.

Gambar 1
Radiasi , dan
Beberapa jenis radiasi dari radioaktif, yaitu radiasi alpha, betha dan gamma. Radiasi
beta sebenarnya ada dua macam, yaitu beta min dan beta plus yang keduanya memilki sifat
berlainan. Pemakaian min dan plus adalah untuk menyatakan muatan listrik yang dibawa oleh
zarah radiasi beta. Untuk pemancaran sinar , energy peluruhan hampir seluruhnya dibawa
oleh partikel dalam bentuk energi kinetik. Berbeda dengan sinar yang dipancarkan
oleh inti radioaktif dengan spectrum energy kontinu. Radiasi beta min pada umumnya disertai
juga dengan radiasi gamma. Sedangkan radiasi beta plus serupa dengan pancaran electron
positif atau positron dari inti atom. Radiasi beta plus terjadi pada atom yang kelebihan potron.
Partikel beta merupakan suatu partikel sub atomik yang terlempar dari inti atom yang
tidak stabil. Partikel tersebut ekiuvalen dengan electron dan memiliki muatan listrik negatif
tunggal e (-1,6 x 10-19 C) dan memiliki massa yang sangat kecil (0,00055 sma) atau sekitar
1/2000 dari massa neutron dan proton. Perbedaannya adalah partikel beta berasal dari inti
sedangkan electron berasaldari luar inti.

Daya tembus partikel beta untuk menembus jaringan tergantung pada energi yang
dimiliki partikel tersebut, sehingga radiasi partikel beta juga merupakan bahaya radiasi
eksternal jika memiliki energy diatas 200 kEV sehingga tingkat bahaya haruslah dievaluasi
untuk setiap kasus.
Peluruhan merupakan jenis peluruhan yang paling umum dikenal, sebab hampir
semua nuklida tidak berada pada daerah kestabilan. Proses peluruhan meliputi pancaran
elektron secara langsung dari inti. Baik elektron yang bermuatan negatif maupun positron
yang bermuatan positif dapat dipancarkan oleh inti yang sama dalam beberapa kasus
khusus. Rutherford dan Soddy(1903) mendemonstrasikan bahwa secara kimia nomor atom
dari sebuah nuklida akan mengalami kenaikan dengan bilangan bulat selama nuklida
mengalami peluruhan negatif. Selanjutnya, Curie dan Juliot (1934) menemukan bahwa
nomor atom akan

berkurang dengan bilangan bulat pada saat ini memancarkan positron.

Chadwick (1914), menemukan bahwa energi peluruhan beta adalah kontinu.


Peluruhan ditemukan pertama kali pada akhir abad ke-19. Pada waktu itu
ditunjukkan adanya beberapa isotop radioaktif yang memancarkan zarah bermuatan negatif.
Namun demikian,

dikarenakan adanya kesulitan teknis, pengamatan langsung terjadinya

proses tersebut baru dapat dilakukan pada tahun 1945 setelah ditemukannya reaktor nuklir.
Deteksi neutrino secara langsung baru dapat dilakukan setelah ditemukannya alat pengelip
cairan (liquidscintilator). Percobaan peluruhan yang berorientasi pada fisika nuklir baru
dapat dikembangkan setelah dikuasainya teknik suhu rendah ( cryogenic).
1.2 Adsorbsi Bahan
Peristiwa absorbsi adalah peristiwa terserapnya partikel radiasi oleh suatu bahan yang
terkena radiasi. Pada peristiwa absorbsi ini ada radiasi yang terserap seluruhnya oleh materi,
ada yang hanya sebagian terserap oleh materi dan sisanya ada yang diteruskan keluar dari
materi. Akibat peristiwa absorbsi radiasi oleh suatu bahan (materi), bahan akan menjadi panas
sesuai dengan energi radiasi yang ditransfer ke atom-atom bahan.
Partikel radiasi yang bermassa besar akan lebih mudah terabsorbsi daripada partikel
yang bermassa kecil. Hal ini mudah dipahami karena massa yang besar relatif gerak
kinetisnya lebih lamban daripada massa yang kecil. Selain daripada itu, muatan yang dibawa
partikel radiasi juga berpengaruh pada peristiwa absorbsi. Partikel radiasi yang bermuatan
positif akan lebih mudah tertangkap oleh elektron-elektron bahan. Dengan kata lain partikel
radiasi yang bermuatan positif akan lebih mudah diabsorbsi oleh materi.

1.3 Interaksi radiasi dengan materi


Ada beberapa macam perubahan yang terjadi pada materi jika berinteraksi dengan bahan
radiasi. Perubahan tersebut anatara lain : perubahan fisis, perubahan mekanis, perubahan
elektris dan perubahaan kimiawi. Secara fisis interaksi radiasi dengan materi berupa
pelepasan energi partikel ke medium atau materi yang dilewati. Efek interaksi demikian
digunakan sebagai prinsip kerja detektor nuklir.
1.4 Interaksi Beta dengan Materi
Hilangnya sinar beta karena berinteraksi dengan materi dapat melalui beberapa
mekanisme. Mekanisme tersebut diantaranya dihasilkan pasangan ion seperti halnya dengan
partikel alpha. Kehilangan energi pasangan ion adalah sebesar sekitar 3,5 eV dalam udara.
Bila dibandingkan dengan partikel alpha, kecepatan dan juga jangkauan tempuh sinar beta
jauh lebih besar dibandingkan partikel alpha. Dalam udara ionisasi akan berhenti bila energi
sinar beta berkurang hingga 12,5 eV. Selain mekanisme di atas, hilangnya energi sinar beta
bisa juga karena peristiwa Bremstrahlung. Dalam proses ini dipancarkan radiasi
elektromagnetik, ini terjadi karena elektron yang bergerak sangat cepat mengalami
perlambatan. Semakin besar nomor atom inti maka semakin besar pula kehilangan energinya.
1.5 Koefisien Adsorbsi Linear ( )
Besaran yang dipakai untuk menyatakan besarnya atenuasi yang dialami foton beta
disebut koefisien atenuasi ( ). Jika pada jarak x dari permukaan

materi (bahan)

intensitasnya adalah I (x), maka lapisan setebal dx akan menyerap radiasi beta sebesar
dI = - I(x) dx
Hubungan intensitas sebelum dan sesudah melewati bahan dinyatakan sebagai
x
I(x)=Io e

2.2
Dengan
I(x) : intensitas radiasi foton beta setelah melewati bahan
I0 : intensitas radiasi fotton beta sebelum melewati bahan

: koefisien absorbsi linear radiasi sinar beta (tergantung jenis bahan dan energi

sinar radiasi)

adalah koefisien serap linier bahan terhadap radiasi gamma dan sinar-X. sangat
dipengaruhi oleh jenis bahan penyerap, nomor atom (Z) dan densitas (r) serta energy radiasi
yang mengenainya. Nilai tebal bahan penyerap dapat dalam satuan panjang (mm ; cm)
ataupun dalam satuan massa persatuan luas (gr/cm2). Terlihat bahwa persamaan di atas
merupakan persamaan eksponensial seperti persamaan peluruhan radioaktif sehingga dapat
digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2
Kurva Penyerapan Bahan terhadap sumber radiasi
Dari grafik ini maka nilai

persamaan garis lurusnya adalah Ln I =

dapat ditentukan dengan

= AC/BC dimana

Gambar 3
Kurva intensitas radiasi yang diteruskan oleh bahan penyerap
Bila di peluruhan radioaktif dikenal istilah waktu paro, disini terdapat istilah tebal
paro (HVL = half value layer) yaitu tebal bahan yang dapat menyerap separo dari intensitas
7

mula-mula atau intensitas yang diteruskan tinggal separonya. Istilah lain adalah TVL (tenth
value layer) yaitu tebal bahan yang dapat menyerap 90% intensitas mula-mula atau intensitas
yang diteruskan tinggal sepersepuluhnya (10%). Nilai HVL dan TVL suatu bahan ditentukan
dari koefisien serap linier () nya dengan persamaan berikut.
0,693
2,303
HVL=
; TVL=
3.3

Perhitungan intensitas radiasi yang masih diteruskan setelah melalui suatu bahan
penyerap (penahan radiasi) lebih mudah bila menggunakan konsep HVL dan TVL ini
dibandingkan harus menggunakan persamaan dasarnya
n
m
1
1
I x=
I 0; I x =
I0
2
10

()

( )

3.4

Dimana n adalah jumlah HVL (x / HVL) sedangkan m adalah jumlah TVL (x / TVL).
1.6 Adsorbsi sinar Beta ( ) dalam Bahan
Apabila sinar beta mengalami sejumlah besar tumbukan dengan bahan penyerap, maka
energinya akan melemah. Oleh karena itu jejak yang mula-mula lurus memeprlihatkan
penyimpangan, maka penyimpangan ini semakin besar pada saat melewati ujung jarak yang
ditempuh. Kurva adsorbsi partikel beta oleh bahan penyerap dalam hal ini percobaan dengan
bahan (plat) Al (aluminium) dapat dilihat seperti gambar 4 berikut.

Gambar 4
Kurva Penyerapan Radiasi

dan

Dalam Bahan

Dari gambar diatas terlihat bahwa adsorbsi sinar beta yang dihasilkan oleh bahan
penyerap dari posisi titik A sampai titik C mengakami perubahan kemiringan garisnya, dan
sesungguhnya menunjukan adsorbsi sinar gamma oleh bahan penyerap.
1.7 Jangkauan tempuh energi sianar beta ( )

Jangkauan tempuh (range) didefisnisikan sebagai jarak maksimum yang dapat dilalui
R

radiasi sinar

dan jenis bahan. Besarnya jangkauan tempuh (

energi sinar

dan jenis bahannya. Harga jangkauan tempuh diperoleh dari grafik.


R

Hubungan antara energi (E) dan jangkauan (

) bergantung pada

) dapat ditulis dalam bentuk persamaan

empiris yang diberikan oleh Feather berikut:


E = 0,00185 (R ) +0,245 ; untuk
0,725

E = 0,0128 ( R )

; untuk 30 <

R
R

> 300 mg/cm2


<300 mg/cm2

Mekanisme hilangnya energy dari partikel serupa dengan mekanisme pada partikel
. Interaksi medan listrik antara partikel - dengan electron dalam atom bahan penyerap
memungkinkan terjadinya eksitasi dan ionisasi. Kedua peristiwa tersebut merupakan
mekanisme yang paling sering terjadi. Namun interaksi antara partikel- dengan inti juga
dapat terjadi, dan hal ini menyebabkan terbentuknya sinar-X bremsstrahlung. Peristiwa yang
terakhir ini lebih sering terjadi pada partikel yang memiliki energy cukup tinggi.
Partikel- akan kehilangan energinya sebesar 34 eV untuk setiap pembentukan satu
pasang ion di udara. Namun karena massa partikel- yang sangat kecil (kira-kira 1/7.300 dari
massa partikel-) dan muatan yang lebih rendah (1/2 dari muatan partikel-), maka sebagai
konsekuensinya partikel- dalam sepanjang jejaknya tidak memproduksi pasangan ion per
cm sebanyak yang terbentuk oleh partikel-. Ionisasi spesifikasi partikel- di udara bervariasi
dari 60 sampai 7.000 pasangan ion/cm. Ionisasi berspesifikasi tinggi berenergi rendah untuk
partikel , lalu berkurang secara cepat untuk energi yang makin besar, hingga mencapai nilai
energy minimum yang lebarnya 1 MeV.
1.8 Detektor GM
Detektor GM merupakan salah satu detector isian gas, bila dikenai radiasi yang
mempunyai energy lebih besar dari pada energy ikat electron maka di dalam detector isian
gas akan terjadi proses ionisasi, yaitu proses pembentukan ion positif dan ion negative dari
suatu atom yang netral. Hal ini karena sejumlah elektrondari atom pengisi detector akan lepas
menjadi ion negative sedangkan sisa atom yang ditinggalkan electron akan bermuatan positif
(ion positif).
Dengan adanya medan listrik, ion-ion tersebu takan diarahkan sehingga bergerak
menuju dua elektroda yang berbeda, electron menuju anoda sedangkan ion positif menuju
9

katoda. Terkumpulnya ion-ion pada dua elektroda tersebut akan menghasilkan sinyal listrik
yang mempunyai tinggi sebanding dengan energy radiasi yang datang.
Dimana : N = jumlah ion (elektron), E =energy setiap radiasi yang datang, dan w
energy ikat elektron. Karena bahan detektor yang digunakan berbentuk gas maka detector ini
mempunyai efisiensi yang sangat rendah untuk radiasi gamma. Jika tegangan V dinaikkan
lebih tinggi lagi, maka peristiwa avalans makin besar dan electron sekunder yang terbentuk
banyak sekali akibatnya anoda bisa diselubungi serta terlindung oleh muatan negatif electron
sekunder, sehingga peristiwa ionisasi akan terhenti. Karena gerak ion positf

kedinding

tabung (katoda) lambat, maka ion-ion ini dapat membentuk semacam lapier pelindung positif
pada permukaan dinding tabung. Keadaan yang demikian ini disebut efek muatan ruang atau
space charge effect. Tegangan V yang menimbulkan efek muatan ruang adalah tegangan
maksimum yang membatasi terkumpulnya elektron-elektron pada anoda. Dalam keadaan
seperti ini detektor tidak peka lagi karena adanya efek muatan ruang harus dihindarkan
dengan cara menambah besarnya menambah besarnya tegangan V. Penambahan tegangan V
ini dengan maksud supaya terjadi pelepasan muatan (discharge) pada anoda, sehingga
detector dapat bekerja normal kembali. Pelepasan muatan dapat terjadi karena electron
mendapat tambahan tenaga kinetic akibat penambahan V.
Bila tegangan V terus dinaikkan, terjadinya pelucutan electron sekunder akan makin
banyak. Pada suatu tegangan tertentu peristiwa avalans electron sekunder tidak tergantung
lagi oleh jenis zarah radiasi yang dating maupun tenaga tenaga zarah radiasi tersebut. Sifat
demikian ini pertama kali diamati oleh Geiger, sehingga detector betektor yang bekerja
atas dasar penemuan ini disebut Detektor Geiger-Muller atau tabung G.M.

10

Gambar 5
Jika tegangan tersebut lebih tinggi lagi dari daerah tegangan Geiger-Muller, maka
detector bisa rusak karena susunan molekul gas (campuran gas) tidak pada perbandingan
semula, atau terjadi suatu Cotinous discharge.
Tamapak dari gambar diatas bahwa daerah G.M adalah daerah DE, dengan tegangan
tertentu yang dapat mempercepat elektron primer membentuk electron sekunder dari
ionisasi gas dalam tabung G.M. Peristiwa ionisasinya sudah tidak tergantung pada jenis
dan besarnya tenaga zarah radiasi. Jelas di sini bahwa tabung G.M. memanfaatkan ionisasi
sekunder sehingga setiap tembusan zarah radiasi akan menghasilkan pulsa dan tingginya
tetap sama tidak dipengaruhi oleh tenaga radiasinya. Oleh karena itu tabung G.M. tidak
dapat dipakai untuk mengukur spectrum energy
1.9 Daerah Plateu tabung Geiger-Muller
Bentuk plateau suatu tabung Geiger-Muller merupakan salah satu karakteristik tabung
Geiger-Muller. Tabung Geiger-Muller yang baik bentuk plateaunya mendatar tidak boleh
terlalu curam. Daerah tegangan kerja tabung Giger-Muller yang menghasilkan keadaan ini
disebut daerah Geiger-Muller atau lebih dikenal sebagai daerah plateau Geiger-Muller.
Untuk jelasnya lihat gambar berikut ini :

11

Gambar 6
Grafik Plateau
Lebar tegangan plateau Geiger-Muller yang baik disekitar 200 volt dengan slope
yang kecil. Besarnya slope dapat dinyatakan dalam % per volt terhadap N1, jadi
N 2N 1
Slope =
N1

/ v2 v1 X 100 %

(Yohannes, 1979)

II.

Tujuan Percobaan
1. Menghitung dan membandingkan cacahan radioaktif dalam bahan
2. Menentukan koefisien adsorbser dari plat aluminium

III.

Alat dan Bahan


1. Detektor tabung geiger Muller
2. Penyedia tegangan dan counter (timer)
3. Sumber radioaktif

Radan Sr

4. Stopwatch
5. Sangkup pelindung tunggal
12

6. Penjepit sumber radioaktif


7. Statif dan Klem
IV.

Prosedur Percobaan
1. Susunlah seperti alat percobaan seperti gambar berikut:

2. Hidupkan semua peralatan dan biarkan selama 5 menit


3. Atur tegangan hingga counter digital menunjukan respon
4. Tekan tombol On pada Counter Timer
5. Tanpa Bahan (n0) : Hidupkan Stopwatch bersamaan dengan menekan tombol
Reset pada Counter Timer. Jika sudah 10 detik, tekan tombol Hold pada Counter
Timer. Untuk melanjutkan percobaan, tekan kembali tombol reset. Lakukan
sebanyak 5 kali percobaan.
6. Menggunakan Ra (n1) : Ambil Radium dengan klip penjepit, letakkan pada
sangkup pelindung. Arahkan tepat dengan tabung GM. Kemudian, Lakukan hal
yang sama dengan kegiatan no.4.
7. Menggunakan Sr (n2) : Ambil Stronsium dengan klip penjepit, letakkan pada
sangkup pelindung. Arahkan tepat dengan tabung GM. Kemudian, Lakukan hal
yang sama dengan kegiatan no.4.
8. Catat semua hasil pengamatan.
V. Tabel Hasil Pengamatan
1. Nilai Cacahan Radioaktif
Banyak
Pengulang
an (n)

Tanpa
Bahan

Ra (n1)

Sr (n2)

Ra & Sr
(n3)

(n0)

13

0,008

0,330

0,104

0,444

0,008

0,341

0,097

0,448

0,005

0,347

0,118

0,418

0,010

0,358

0,106

0,502

0,005

0,354

0,97

0,473

2. Cacahan Radioaktif Sinar Beta

Pengukur
an ke

n0 atau n

n1 (Sr
) atau
N

8
8
5
10
5

104
97
118
106
970

27
68
78
74
82
78

7,2

294

76

1
2
3
4
5
Rata-Rata

Ia

) dalam Bahan
Plat mg/cm2
100
59
75
43
55
47
55,8

197
39
41
35
38
37
38

322
12
9
25
14
19
15,8

877
1
6
2
5
5
3,8

Aluminium
7,08

4,86

3,872

0,86

-0,34

Keterangan:
Tegangan yang digunakan (V) = 400 V
t = 10 detik

N
= Rata-rata cacahan dengan sumber radiasi
n = Rata-rata cacahan background

N a = Rata-rata data radiasi bahan

VI.

I o=

N n
N n
dan I a = a
t
t

I o=

2947,2
=28,68
10

Pengolahan Data
14

1. Menghitung Waktu Mati


Banyak
Pengulang
an (n)

Tanpa

Ra (n1)

Sr (n2)

Ra & Sr

Bahan

(n3)

(n0)

330

104

444

341

97

448

347

118

418

10

358

106

502

354

970

473

Rata-rata

7,2

346

279

457

Nilai Cacah Radioaktif


2000
1800
1600
1400
1200
Nilai Cacahan 1000
800
600
400
200
0
1

Ra & Sr (n3)
Sr (n2)
Ra (n1)
Tanpa Bahan (n0)

Keterangan:
Tegangan yang digunakan (V) = 400 V
t = 10 detik

n0 = cacahan tanpa sumber


n1 = cacahan dengan sumber Ra
n2 = cacahan dengan sumber Sr
n3 = cacahan dengan penggabungan sumber Ra dan Sr
15

2. Penyerapan Beta ( ) dalam Bahan

Pengukur
an ke
1
2
3
4
5
Rata-Rata

N n
I a= a
t

n0 atau n

n1 (Sr
) atau
N

8
8
5
10
5

104
97
118
106
970

27
68
78
74
82
78

7,2

279

76

Ia

Ln

Ia

Log

Intensitas Awal (

I o=

Plat mg/cm2

I0

100
59
75
43
55
47
55,8

197
39
41
35
38
37
38

322
12
9
25
14
19
15,8

877
1
6
2
5
5
3,8

6,88

4,86

3,08

0,86

-0,34

1,92

1,58

1,12

-0,15

...

0,84

0,69

0,49

-0,07

...

dapat diperoleh menggunakan rumus:

N n
N n
dan I a = a
t
t

Keterangan:
Tegangan yang digunakan (V) = 400 V
t = 10 detik

I o = Intensitas tanpa penghalang


Ia

= Intensitas dengan penghalang

N
= Rata-rata cacahan dengan sumber radiasi
n = Rata-rata cacahan background

N a = Rata-rata data radiasi bahan

16

Kurva Penyerapan Radiasi Beta dan Gamma dalam Bahan


1
0.8
0.6
Log I

Log I 0.4
0.2
0
0 50 100 150 200 250 300 350
-0.2
Tebal Plat (x)

Kurva Penyerapan Bahan Terhadap Sumber Radiasi


3
2
Ln I

LN I 1
0
0
-1

50 100 150 200 250 300 350


Tebal Plat (X)

3. Koefisien Adsorbsi ( )

Pengukur
an ke
1
2
3
4
5
Rata-Rata

n0 atau n

n1 (Sr
) atau
N

Plat mg/cm2

8
8
5
10
5

104
97
118
106
970

27
68
78
74
82
78

7,2

279

76

100
59
75
43
55
47
55,8

197
39
41
35
38
37
38

322
12
9
25
14
19
15,8

877
1
6
2
5
5
3,8
17

Intensitas Awal (

I o=

I0

dapat diperoleh menggunakan rumus:

N n
N n
dan I a = a
t
t

Keterangan:
Tegangan yang digunakan (V) = 400 V
t = 10 detik
I o = Intensitas tanpa penghalang
Ia

= Intensitas dengan penghalang

N
= Rata-rata cacahan dengan sumber radiasi

n = Rata-rata cacahan background


N a = Rata-rata data radiasi bahan

Dari rumus tersebut kita peroleh,


I o=

2797,2
=27,18
10

Kemudian kita mencari Intensitas (

I a=

Nilai

I a

menggunakan rumus:

N an
t
I a=I

, sehingga:

18

ln

I
=x
I0

Keterangan:
= koefisien adsorbsi penghalang
x = tebal penghalang
Tebal
Plat

Koefisiensi adsorbsi
linier (

N a
27
mg/c
m2

76

Ia
I a=

767,2
=7,08
10

dengan

ln

I 0 =27,18

6,88
= 27
27,18

=0,05
100
mg/c
m2

55,8

I a=

55,87,2
=4,86
10

ln

4,86
= 100
27,18
= 0,017

197
mg/c
m2

38

I a=

387,2
=3,872
10

ln

3,872
= 197
27,18

=0,0098
322
mg/c
m2

15,8

I a=

15,87,2
=0,86
10

ln

0,86
= 322
27,18

=0,012
=0,022

Rata-rata

VII.

Pembahasan
19

Percobaan ini membahas tentang adsorbsi radiasi sinar beta dalam bahan. Alat yang
digunakan ialah Detektor Geiger Muller yang berfungsi mendekteksi suatu sinar radiasi yang
dipancarkan sumber radioaktif. Adapun sumber radioaktif yang digunakan dalam percobaan
ini ialah Radium (Ra) dan Stronsium (Sr). Pada percobaan pertama, ialah menghitung waktu
mati setiap bahan yang ditampilkan dalam nilai cacahan. Ada tiga kali percobaan yang
dilakukan yaitu, mengukur besar cacahan tanpa bahan (n 0), dengan sumber Radium (n1),
dengan sumber Stronsium (n2), serta dengan sumber gabungan antara Radium dan Stronsium
(n3). Percobaan dilakukan sebanyak 5 kali perulangan. Dari hasil percobaan, data perolehan
nilai cacah antara n0, n1, n2 dan n3 disajikan dalam sebuah grafik untuk melihat perbedaan
diantara keempat percobaan tersebut. Berdasarkan grafik, nilai cacahan yang paling besar
ialah saat penggabungan antara sumber radiasi yaitu Radium dan Stronsium. Sedangkan nilai
cacahan yang paling kecil ialah pada saat tanpa bahan (n0). Hal ini terjadi karena bahan
, , dan . Sedangkan Stronsium (Sr)

radium (Ra) memiliki tiga sinar radiasi yaitu,


hanya memiliki satu sinar radiasi, yaitu

Pada percobaan kedua, bahan radiasi yang digunakan ialah stronsium (Sr). Plat yang
digunakan untuk menghalangi radiasi ialah plat berbahan aluminium dengan 5 jenis ketebalan
yang berbeda-beda, yaitu plat 54,6 mg/cm2, 100 mg/cm2, 187 mg/cm2, 322 mg/cm2, dan 877
mg/cm2. Pengambilan data dilakukan sebanyak 5 kali. Setelah dilakukan percobaan,
diperoleh tabel hasil pengamatan, yang berisi nilai cacahan rata-rata pada ketebalan yang
berbeda. Kemudian, dengan menggunakan perhitungan matematis diperoleh nilai intensitas (
I a

pada setiap ketebalan. Nilai intensitas masing-masing plat tersebut disajikan dalam

bentuk kurva. Nilai koefisien adsorbsi ( ) diperoleh dengan perhitungan matematis yang
melibatkan

I 0, dan I a

, yaitu sebesar 0,022.

I0

sama pada semua variabel dan hanya

bergantung pada rata-rata radiasi bahan.


VIII. Kesimpulan

20

1. Sinar radiasi yang paling besar yaitu pada penggabungan bahan


n3

Ra

Sr

dan

Ra ( n1 ) , Sr (n2 )

dengan nilai cacahan yang lebih besar daripada

(
dan

Tanpa Bahan( n0 ) .
2. Semakin tebal plat aluminium penghalang, maka semakin banyak sinar radiasi yang
diserap oleh plat tersebut.
3. Pada percobaan ini hasil koefisien linear ( ) bahan aluminium sebesar 0,022.

DAFTAR PUSTAKA

Interaksi

Radiasi

dengan

Materi

(Online).

http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/43978/0f256d3ca3c6bb4b32ebd4b5a575
35a3. Diakses tgl 17 November 2015..
Interaksi Radiasi (Online). (http://nanikdn.staff.uns.ac.id/files/2011/03/interaksi-radiasi.pdf).
Diakses tgl 17 November 2015.
Fisika Dasar I (Online). http://nanikdn.staff.uns.ac.id/files/2011/03/interaksi-radiasi.pdf).
Universitas Negeri Semarang. Diakses tgl 17 November 2015.
Absorption

Of

Beta

And

Gamma

Radiation

(http://www.physics.rutgers.edu/ugrad/205/manuals/matter.pdf).

Diakses

(Online).
tgl

17

November 2015.
21

22