Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

TRIGEMINAL NEURALGIA
BAB I
PENDAHULUAN
Neuralgia trigeminal terdiri atas dua kata; Neuralgia berasal dari bahasa Yunani; yaitu awalan
"neuro-"yang berarti terkait dengan saraf, dan akhiran "-algia" yang berarti nyeri. Yang mana
definisi nyeri menurut Association for the Study of Pain (IASP) has gained widespread
acceptance (Merskey et al., 1979) adalah "Suatu pengalaman emosional atau sensorik yang
dihubungkan dengan jejas jaringan yang benar-benar atau kemungkinan terjadi.(9)
Umumnya nyeri terbahagi kepada dua tipe, yaitu nyeri nociceptive dan nyeri non-nociceptive.
Nyeri nociceptive adalah nyeri yang berhubungan dengan jaringan yang rusak, akibat daripada
aktivasi atau sensitasi pada receptor nociceptor di perifer. Nyeri nociceptive terbahagi lagi
kepada nyeri somatic dan nyeri viscera, yang mana mampu dibedakan melalui kualiti suatu nyeri
dan manifestasinya.
Nyeri non-nociceptive pula dibahagikan juga kepada nyeri neuropatic dan nyeri idiopathic.
Nyeri neuropathic adalah primer akibat rusaknya struktur pada neural samada pada system saraf
perifer atau sistem saraf pusat. Nyeri idiopathic atau nyeri psychogenic adalah lebih luas
penggunaannya dalam mendiagnoasa suatu nyeri.
Neuralgia trigeminal adalah kelainan yang ditandai oleh serangan nyeri berat paroksismal dan
singkat dalam cakupan persarafan satu atau lebih cabang nervus trigeminus, biasanya tanpa bukti
penyakit saraf organik. Penyakit ini menyebabkan nyeri wajah yang berat. Penyakit ini juga
dikenal sebagai tic doulourex atau sindrom.
Neuralgia pada penyakit ini disertai dengan nyeri yang berat dan menusuk pada rahang dan
wajah, biasanya pada satu sisi dari rahang atau pipi, yang biasanya terjadi dalam beberapa detik.
Dan nyerinya selalunya unilateral dan mengikuti distribusi sensoris dari nervus kranial V, khas
mengenai daerah maksila (V.2) atau mandibula (V.3). Pemeriksaan fisis biasanya dapat
mengeliminasi diagnosa alternatif. Tanda dari disfungsi nervus kranialis atau abnormalitas
neurologis yang lain menyingkirkan diagnosis dari neuralgia trigeminal idiopatik. dan mungkin
menandakan nyeri sekunder yang dirasakan akibat lesi struktural.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1. Anatomi dan Fisiologi Nervus Trigeminus
Saraf trigeminal atau saraf kranial ke 5 terutama memberi persarafan pada kulit muka,
konjungtiva dan kornea, mukosa dari hidung , sinus-sinus dan bagian frontal dari rongga mulut,
juga sebagian besar dari duramater. Saraf ini keluar dari bagian lateral pons berupa akar saraf
motoris dan saraf sensoris. Akar saraf yang lebih kecil, yang disebut juga portio minor nervi
trigemini, merupakan akar saraf motoris. Berasal dari nukleus motoris dari saraf trigeminal
dibatang otak terdiri dari serabut-serabut motoris, terutama mensarafi otot-otot pengunyah.
Secara fisiologis perjalanannya akar saraf ini melalui ganglion disebelah medial dari akar
sensoris yang jauh lebih besar, sebelum bergabung dengan saraf mandibularis pada saat melalui
foramen ovale dari os. Sphenoid. Akar sensoris saraf trigeminal yang lebih besar disebut dengan
portio major nervi trigemini yang memberi penyebaran serupa dengan akar-akar saraf dorsalis
dari saraf spinal.

Akar-akar saraf sensoris ini akan melalui ganglion trigeminal (ganglion gasseri) dan dari sini
keluar tiga cabang saraf tepi yaitu cabang optalmikus, cabang maksilaris dan cabang
mandibularis. Cabang pertama yaitu saraf optalmikus berjalan melewati fissura orbitalis superior
dan memberi persarafan sensorik pada kulit kepala mulai dari fissura palpebralis sampai bregma
(terutama dari saraf frontalis) dan suatu cabang yang lebih kecil ke bagian atas dan medial dari
dorsumnasi. Konjungtiva, kornea dan iris, mukosa dari sinus frontalis dan sebagian dari hidung,
juga sebagian dari duramater dan pia-arakhnoid juga disarafi oleh serabut, saraf sensoris dari
saraf ophtalmikus.
Cabang kedua, yaitu saraf maksilaris memasuki fossa pterygopalatina melalui foramen
maksilaris superior memberikan cabang saraf zygomatikus yang menuju ke orbita melewati

fissura orbitalis inferior. Batang utamanya yaitu saraf infra orbitalis menuju ke dasar orbita
melewati fissura yang sama. Sewaktu keluar dari foramen infra orbitalis, saraf ini terbagi
menjadi beberapa cabang yang menyebar di permukaan maksila bagian atas dari wajah bagian
lateral dari hidung dan bibir sebelah atas. Sebelum keluar dari foramen infra orbitalis, didapat
beberapa cabang yang mensarafi sinus maksilaris dan gigi-gigi molar dari rahang atas, ginggiva
dan mukosa mulut yang bersebelahan. Cabang yang ketiga, merupakan cabang yang terbesar
yaitu saraf mandibularis.
Saraf ini keluar dari rongga kepala melalui foramen ovale dari os sphenoid, selain terdiri dari
akar-akar saraf motoris dari saraf trigeminal, juga membawa serabut-serabut sensoris untuk
daerah buccal, ke rahang bawah dan bagian depan dari lidah, gigi mandibularis, ginggiva.
Cabang aurikulo temporalis yang memisahkan diri sejak awal, mensarafi daearah didepan dan
diatas daun telinga maupun meatus akustikus eksternus dan membrana tympani. Serabut-erabut
sensoris untuk duramater yang merupakan cabang-cabang dari ketiga bagian saraf trigeminal
berperan dalam proyeksi rasa nyeri yang berasal dari intrakranial. Terdapat hubungan yang erat
dari saraf trigeminal dengan saraf otonomik/simpatis, dimana ganglia siliaris berhubungan
dengan saraf ophtalmikus , ganglion pterygopalatina dengan saraf maksilaris sedangkan ganglion
otikus dan submaksilaris berhubungan dengan cabang mandibularis (Leksmono, 1997).
Nervus trigeminus merupakan saraf otak terbesar. Nervus trigeminus adalah urat saraf sensorik
yang bekerja pada sebagian besar kulit kepala dan wajah; selaput lendir mulut, hidung, sinus
paranasalis serta gigi. Nervus trigeminus mempersarafi otot-otot pengunyah melalui sebuah
cabang motorik kecil (Pearce.2009).
Nervus trigeminus adalah saraf otak motorik dan sensorik. Serabut motoriknya mempersarafi
muskulus maseter, temporalis, pterigoideus internus et eksternus, tensor timpani, omohioideus
dan bagian anterior muskulus digastrikus.
Inti motoriknya terletak di pons. Serabut-serabut motoriknya bergabung dengan serabut-serabut
sensorik nervus trigeminus yang berasal dari ganglion Gasseri. Serabut-serabut sensoriknya
menghantarkan impuls nyeri, suhu, raba dan perasaan proprioseptif. Kawasannya ialah wajah
dan mukosa lidah dan rongga mulut serta lidah, dan rongga hidung. Impuls proprioseptif,
terutama berasal dari otot-otot yang dipersarafi oleh cabang mandibular sampai ke ganglion
Gasseri.
Nervus trigeminus terbagi menjadi tiga cabang utama yaitu (Pearce.2009) :
1. Nervus Optalmikus
Sifatnya sensorik dan fungsinya mensarafi kulit kepala bagian depan kelopak mata atas, selaput
lendir kelopak mata dan bola mata.
1

Nervus Maksilaris

Sifatnya sensoris dan fungsinya mensarafi gigi-gigi atas, bibir atas, palatum, batang hidung,
rongga hidung, dan sinus maksilaris.

Nervus Mandibularis

Sifatnya majemuk (sensori dan motoris), serabut-serabut motorisnya mensarafi otot-otot


pengunyah, serabut-serabut sensorisnya mensarafi gigi bawah, kulit daerah temporal dan dagu.
Serabut rongga mulut dan lidah dapat membawa rangsangan cita rasa ke otak.
Fungsinya sebagai saraf kembar 3 dimana saraf ini merupakan saraf otak terbesar yang
mempunyai 2 buah akar saraf besar yang mengandung serabut saraf penggerak. Dan diujung
tulang belakang yang terkecil mengandung serabut saraf penggerak. Di ujung tulang karang
bagian perasa membentuk sebuah ganglion yang dinamakan simpul saraf serta meninggalkan
rongga tengkorak.
Fungsi nervus Trigeminus dapat dinilai melalui berbagai pemeriksaan sebagai berikut
(Pearce.2009)
1. Pemeriksaan rasa suhu, nyeri dan raba pada daerah inervasi N. V (daerah muka
dan bagian ventral calvaria).
2. Pemeriksaan refleks kornea
3. Pemeriksaan fungsi otot-otot pengunyah. Misalnya dengan menyuruh penderita
menutup kedua rahangnya dengan rapat, sehingga gigi-gigi pada rahang bawah
menekan pada gigi-gigi rahang atas, sementara m. Masseter dan m. Temporalis
dapat dipalpasi dengan mudah.
4. Fungsi cutaneus, cabang maxillaris dan mandibularis penting pada kedokteran
gigi. Nervus maxillaris memberikan inervasi sensorik ke gigi maxillaris, palatum,
dan gingiva. Cabang mandibularis memberikan persarafan sensorik ke gigi
mandibularis, lidah, dan gingiva. Variasi nervus yang memberikan persarafan ke
gigi diteruskan ke alveolaris, ke soket di mana gigi tersebut berasal nervus
alveolaris superior ke gigi maxillaris berasal dari cabang maxillaris nervus
trigeminus. Nervus alveolaris inferior ke gigi mandibularis berasal dari cabang
mandibularis nervus trigeminus.

Definisi Neuralgia trigeminal

Neuralgia adalah nyeri seperti ditusuk yang timbul sesekali, namun singkat dan berat yang terjadi
di sepanjang distribusi suatu saraf. Neuralgia trigeminal (NT) adalah neuralgia pada saraf
trigeminal (saraf kranial kelima) yang bertanggung jawab untuk sensasi di wajah. Trigeminal
neuralgia (Nyeri Wajah) ditandai oleh episode singkat nyeri wajah yang kuat, menusuk, dan
seperti aliran listrik.

Dalam Konsensus Nasional II kelompok studi nyeri


kepala Perdossi, neuralgia trigeminal dideskripsikan sebagai suatu serangan nyeri wajah dengan
gejala khas berupa nyeri unilateral, tiba tiba, seperti tersengat aliran listrik berlangsung singkat,
jelas terbatas pada satu atau lebih distribusi cabang nervus trigeminus. Nyeri umumnya
dicetuskan oleh stimulus ringan dan timbul spontan. Terdapat trigger area diplika nasolabialis
dan atau dagu. Pada umumnya terjadi remisi dalam jangka waktu yang bervariasi.
Menurut Dr. Dito Anurogo, Neuralgia Trigeminal merupakan suatu keluhan serangan nyeri
wajah satu sisi yang berulang. Disebut Trigeminal neuralgia, karena nyeri di wajah ini terjadi
pada satu atau lebih saraf dari tiga cabang saraf Trigeminal. Saraf yang cukup besar ini terletak
di otak dan membawa sensasi dari wajah ke otak. Rasa nyeri disebabkan oleh terganggunya
fungsi saraf Trigeminal sesuai dengan daerah distribusi persarafan salah satu cabang saraf
Trigeminal yang diakibatkan oleh berbagai penyebab.
1

Klasifikasi Neuralgia trigeminal

Menurut klasifikasi IHS (International Headache Society) membedakan NT klasik dan NT


simptomatik. Termasuk NT klasik adalah semua kasus yang etiologinya belum diketahui
( idiopatik ) Sedangkan NT simptomatik dapat akibat tumor, multipel sklerosis atau kelainan di
basis kranii. Sebagai indikator NT simptomatik adalah defisit sensorik n. Trigeminus, terlibatnya
nervus trigeminus bilateral atau kelainan refleks trigeminus. Tidak dijumpai hubungan antara NT
simptomatik dengan terlibatnya nervus trigeminus cabang pertama, usia muda atau kegagaralan
terapi farmakologik.
Perbedaan neuralgia trigeminus idiopatik dan simptomatik.
1. Neuralgia Trigeminus Idiopatik.

Nyeri bersifat paroxysmal dan terasa diwilayah sensorik cabang


maksilaris, sensorik cabang maksilaris dan atau mandibularis.

Timbulnya serangan bisa berlangsung 30 menit yang berikutnya menyusul


antara beberapa detik sampai menit.

Nyeri merupakan gejala tunggal dan utama.

Penderita berusia lebih dari 45 tahun , wanita lebih sering mengidap


dibanding laki-laki.

Neuralgia Trigeminus simptomatik.

Nyeri berlangsung terus menerus dan terasa dikawasan cabang optalmikus


atau nervus infra orbitalis.

Nyeri timbul terus menerus dengan puncak nyeri lalu hilang timbul
kembali.

Disamping nyeri terdapat juga anethesia/hipestesia atau kelumpuhan saraf


kranial, berupa gangguan autonom (Horner syndrom).

Tidak memperlihatkan kecendrungan pada wanita atau pria dan tidak


terbatas pada golongan usi

3.Etiologi

Trigeminal

Neuralgia

Mekanisme patofisiologis yang mendasari NT belum begitu pasti, walau sudah sangat
banyak penelitian dilakukan. Kesimpulan Wilkins, semua teori tentang mekanisme
harus
konsisten
dengan:
1.
2.

3.

4.

Sifat

nyeri

yang

paroksismal,

dengan

interval

bebas

nyeri

yang
lama.
Umumnya
ada
stimulus
'trigger'
yang
dibawa
melalui
aferen
berdiameter
besar
(bukan
serabut
nyeri)
dan
sering
melalui
divisi
saraf
kelima
diluar
divisi
untuk
nyeri.
Kenyataan
bahwa
suatu
lesi kecil
atau
parsial pada
ganglion
gasserian
dan/
atau
akar-akar
saraf
sering
menghilangkan
nyeri.
Terjadinya
NT
pada
pasien
yang
mempunyai
kelainan
demielinasi
sentral
(terjadi
pada
1%
pasien
dengan
sklerosis
multipel)

Kenyataan ini tampaknya memastikan bahwa etiologinya adalah sentral dibanding


saraf tepi. Paroksisme nyeri analog dengan bangkitan dan yang menarik adalah sering
dapat dikontrol dengan obat-obatan anti kejang (karbamazepin dan fenitoin).
Tampaknya sangat mungkin bahwa serangan nyeri mungkin menunjukkan suatu
cetusan 'aberrant' dari aktivitas neuronal yang mungkin dimulai dengan memasukkan

input melalui saraf kelima, berasal dari sepanjang traktus sentral saraf kelima, atau
pada
tingkat
sinaps
sentralnya.
Berbagai keadaan patologis menunjukkan penyebab yang mungkin pada kelainan ini.
Pada kebanyakan pasien yang dioperasi untuk NT ditemukan adanya kompresi atas
nerve root entry zone' saraf kelima pada batang otak oleh pembuluh darah (45-95%
pasien). Hal ini meningkat sesuai usia karena sekunder terhadap elongasi arteria
karena penuaan dan arteriosklerosis dan mungkin sebagai penyebab pada kebanyakan
pasien.
Otopsi menunjukkan banyak kasus dengan keadaan penekanan vaskuler serupa tidak
menunjukkan gejala saat hidupnya. Kompresi nonvaskuler saraf kelima terjadi pada
beberapa pasien. 1-8% pasien menunjukkan adanya tumor jinak sudut serebelopontin
(meningioma, sista epidermoid, neuroma akustik, AVM) dan kompresi oleh tulang
(misal sekunder terhadap penyakit Paget). Tidak seperti kebanyakan pasien dengan NT,
pasien ini sering mempunyai gejala dan/atau tanda defisit saraf kranial.
Penyebab lain yang mungkin, termasuk cedera perifer saraf kelima (misal karena
tindakan dental) atau sklerosis multipel, dan beberapa tanpa patologi yang jelas

Patofisiologi Neuralgia Trigeminal

Patofisiologis terjadinya suatu neuralgia trigeminal adalah sesuai dengan etiologi penyakit
tersebut. Penyebab terjadinya neuralgia trigeminal adalah penekanan mekanik oleh pembuluh
darah, malformasi arteri vena disekitarnya, penekanan oleh lesi atau tumor, sklerosis multipel,
kerusakan secara fisik dari nervus trigeminus yang disebabkan karena pembedahan atau infeksi,
dan yang paling sering yaitu secara idiopatik.
Penekanan mekanik pembuluh darah pada akar nervus ketika masuk ke brainstem yang paling
sering terjadi, sedangkan di atas bagian nervus trigeminus atau portio minor jarang terjadi.
Secara normal, pembuluh darah tidak bersinggungan dengan nervus trigeminus. Penekanan ini
dapat disebabkan oleh arteri atau vena baik besar maupun kecil yang mungkin hanya menyentuh
atau tertekuk pada nervus trigeminus. Arteri yang sering menekan akar nervus ini adalah arteri
serebelar superior. Penekanan yang berulang menyebabkan iritasi dan akan mengakibatkan
hilangnya lapisan mielin (demielinisasi) pada serabut saraf. Akibatnya terjadi peningkatan
aktifitas aferen serabut saraf dan penghantaran sinyal abnormal ke nukleus nervus trigeminus dan
menimbulkan gejala neuralgia trigeminal. Teori ini sama dengan patofisiologi terjadinya
neuralgia trigeminal akibat suatu lesi atau tumor yang menekan atau menyimpang ke nervus
trigeminus (Kaufmann, 2001 ; Bryce, 2004).
Pada kasus sklerosis multipel yaitu penyakit otak dan korda spinalis yang ditandai dengan
hilangnya lapisan mielin yang membungkus saraf, jika sudah melibatkan sistem nervus
trigeminus maka akan menimbulkan gejala neuralgia trigeminal. Pada tipe ini sering terjadi
secara bilateral dan cenderung terjadi pada usia muda sesuai dengan kecenderungan terjadinya
sklerosis multipel. Adanya perubahan pada mielin dan akson diperkirakan akan menimbulkan
potensial aksi ektopik berupa letupan spontan pada saraf. Aktivitas ektopik ini terutama
disebabkan karena terjadinya perubahan ekspresi dan distribusi saluran ion natrium sehingga

menurunnya nilai ambang membran. Kemungkinan lain adalah adanya hubungan ephaptic antar
neuron, sehingga serabut saraf dengan nilai ambang rendah dapat mengaktivasi serabut saraf
yang lainnya dan timbul pula cross after discharge. Selain itu, aktivitas aferen menyebabkan
dikeluarkannya asam amino eksitatori glutamat. Glutamat akan bertemu dengan reseptor
glutamat alfa-amino-3-hidroxy-5- methyl-4-isaxole propionic acid (AMPA) di post-sinap
sehingga timbul depolarisasi dan potensial aksi. Aktivitas yang meningkat akan disusul dengan
aktifnya reseptor glutamat lain N-Methyl-D-Aspartate (NMDA) setelah ion magnesium yang
menyumbat saluran di reseptor tersebut tidak ada. Keadaan ini akan menyebabkan saluran ion
kalsium teraktivasi dan terjadi peningkatan kalsium intra seluler. Mekanisme inilah yang
menerangkan terjadinya sensitisasi sentral sehingga timbul nyeri.
5

Manifestasi Klinis Neuralgia Trigeminal

Menurut Baughman (2000) Manifestasi klinis yang muncul pada kasus neuralgia trigeminal
adalah sebagai berikut:
1. Nyeri dirasakan pada kulit, bukan pada struktur yg lebih dalam, lebih gawat pada
area perifer dari distribusi dari syaraf yang terkena, yaitu pada bibir, dagu, lobang
hidung, dan pada gigi.
2. Paroksisme dirangsang oleh stimulasi dari terminal dari cabang-cabang saraf yang
terkena, yaitu mencuci muka, mencukur, menyikat gigi, makan dan minum.
3. Aliran udara dingin dan tekanan langsung pada saraf trunkus dapat juga
menyebabkan nyeri. Hal tersebut terjadi karena aliran udara dingin mengenai
trigger area atau area nyeri pada bagian percabangan dari saraf trigeminus (saraf
kranial kelima). Aliran udara dingin termasuk stimulus non-noksius (stimulus
yang berupa perabaan ringan, getaran atau stimulus mengunyah).
4. Titik pencetus adalah area pasti dimana sentuhan yang paling ringan dengan
segera mencetuskan paroksisme.
Trigeminal neuralgia memberikan gejala dan tanda sebagai berikut : (olesen, 1988; Passon, 2001;
Sharav, 2002; Brice, 2004)
1. Rasa nyeri berupa nyeri neuropatik, yaitu nyeri berat paroksimal, tajam, seperti
menikam, tertembak, tersengat listrik, terkena petir, atau terbakar yang
berlangsung singkat beberapa detik sampai beberapa menit tetapi kurang dari dua
menit, tiba-tiba dan berulang. Diantara serangan biasanya ada interval bebas
nyeri, atau hanya ada rasa tumpul ringan.
2. Lokasi nyeri umumnya terbatas di daerah dermatom nervus trigeminus dan yang
karakteristik nyeri unilateral.Tersering nyeri didaerah distribusi nervus
mandibularis (V2) 19,1% dan nervus maksilaris (V3) 14,1% atau kombinasi
keduanya 35,9% sehingga paling sering rasa nyeri pada setengah wajah bawah.

Jarang sekali hanya terbatas pada nervus optalmikus (V3) 3,3%. Sebagian pasien
nyeri terasa diseluruh cabang nervus trigeminus (15,5%) atau kombinasi nervus
maksilaris dan optalmikus (11,5%). Jarang ditemukan kombinasi nyeri pada
daerah distribusi nervus optal mikus dan mandibularis (0,6%). Nyeri bilateral
3,4%, nyeri jarang terasa pada kedua sisi bersamaan, umumnya diantara kedua
sisi tersebut dipisahkan beberapa tahun. Kasus bilateral biasanya berhubungan
dengan sklerosis multipleatau familial.
3. Trigeminal neuralgia dapat dicetuskan oleh stimulus non-noksius seperti perabaan
ringan, getaran, atau stimulus mengunyah. Akibatnya pasien akan mengalami
kesulitan atau timbul saat gosok gigi, makan, menelan, berbicara, bercukur wajah,
tersentuh wajah, membasuh muka bahkan terhembus angin dingin. Biasanya
daerah yang dapat mencetuskan nyeri (triger area) diwajah bagian depan, sesisi
dengan nyeri pada daerah percabangan nervus trigeminus yang sama. Bila triger
area didaerah kulit kepala, pasien takut untuk berkeramas atau bersisir.
4. Nyeri pada trigeminal neuralgia dapat mengalami remisi dalam satu tahun atau
lebih. Pada periode aktif neuralgia, karakteristik terjadi peningkatan frekuensi dan
beratnya serangan nyeri secara progresif sesuai dengan berjalannya waktu.
5. Sekitar 18% penderita dengan trigeminal neuralgia, pada awalnya nyeri atipikal
yang makin lama menjadi tipikal, disebut preneuralgia trigeminal. Nyeri terasa
tumpul, terus-menerus pada salah satu rahang yang berlangsung beberapa hari
sampai beberapa tahun. Stimulus termal dapat menimbulkan nyeri berdenyut
sehingga sering dianggap sebagai nyeri dental. Pemberian terapi anti konvulsan
dapat meredakan nyeri preneuralgia trigeminal sehingga cara ini dapat dipakai
untuk membedakan kedua nyeri tersebut.
6. Pada pemeriksaan fisik dan neurologik biasanya normal atau tidak ditemukan
defisit neurologik yang berarti. Hilangnya sensibilitas yangbermakna pada nervus
trigeminal mengarah pada pencarian proses patologik yang mendasarinya, seperti
tumor atau infeksi yang dapat merusak syaraf. Pada tumor selain nyerinya atipikal
dan hilangnya sensibilitas, disertai pula gangguan pada syaraf kranial lainnya.
Tabel 2: Perbedaan gejala klinis neuralgia trigeminal idiopatik dengan simptomatik
adalah sebagai berikut (4)
Idiopatik
Simptomatik
Neyri bersifat paroksimal di daerah Nyeri terasa terus menerus di kawasan
sensorik cabang oftalmikus atau cabang cabang oftalmikus, atau nervus inframaksillaris

dan/atau

cabang orbitalis

mandibularis
Timbulnya nyeri secara hilang timbul, Nyerinya terus-menerus tidak hilang
serangan pertama bisa berlangsung 30 timbul, dengan puncak nyeri hilang

menit dan serangan berikutanya antara timbul


beberapa detik sampai 1 menit
Nyeri merupakan gejala tunggal dan Disamping
utama

nyeri

terdapat

juga

anestesia/hipestesia atau kelumpuhan

saraf otak, ganguan autonom


Penderitra berusia 45 tahun. lebih Tidak memperlihatkan kecenderungan
sering wanita dari pada laki-laki

pada wanita atau pria dan tidak terbatas


pada golongan umur tertentu

6 Pemeriksaan penunjang
Tidak ada uji spesifik dan definitif untuk neuralgia trigeminal. Pemeriksaan
radiologis seperti CT scan dan MRI atau pengukuran elektrofisiologis periode laten
kedipan dan refleks rahang dikombinasikan dengan elketromiografi masseter dapat
digunakan untuk membedakan kasus-kasus simtomatik akibat gangguan struktural dari
kasus idiopatik.
7. Pemeriksaan tambahan baru diperlukan kalau ada keluhan neuralgia trigeminal pada
orang-orang muda; karena biasanya ada penyebab lain yang tersembunyi. Itu pun
perannya terbatas untuk eliminasi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan: Rontgen TMJ
(temporomandibular joint) dan MRI otak (untuk menyingkirkan tumor otak dan multiple
sclerosis).
8. Pengukuran potensial somatosensorik yang timbul setelah perangsangan

nervus

trigeminus dapat juga digunakan untuk menentukan kasus yang disebabkan oleh ektasis
arteri sehingga dapat ditangani dengan dekompresi operatif badan saraf pada fossa
posterior.
7 DIAGNOSA BANDING
Neuralgia trigeminal harus dibedakan dari tipe nyeri lainnya yang muncul pada wajah dan
kepala.
Nyeri neuralgia postherpetikum dapat menyerupai neuralgia trigeminal, tetapi adanya eskar
bekas erupsi vesikel dapat mengarahkan kepada neuralgia postherpetikum. Neuralgia
postherpetikum pada wajah biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi oleh nervus
trigeminus cabang pertama.

Sindrom Costen yang bermanifestasi sebagai nyeri menjalar ke rahang bawah dan pelipis saat
mengunya) dapat menyerupai neuralgia trigeminal tetapi hanya dipicu oleh proses mengunyah;
biasanya disebabkan oleh artrosis temporomandibular dan maloklusi gigi.
Nyeri psikogenik daerah wajah sering menyebabkan kesulitan diagnosis. Sindrom yang disebut
neuralgia fasial atipik ini (nyeri wajah atipikal) sering ditemukan pada wanita muda atau
setengah baya. Nyeri bersifat tumpul dan menetap, sering kali unilateral pada rahang atas
(walaupun dapat menyebar ke bagian lain kepala dan leher) dan biasanya dihubungkan dengan
manifestasi ansietas kronik dan depresi. Tanda-tanda fisis tidak ditemukan dan pemberian
analgetika tidak mempan. Perbaikan biasanya diperoleh dengan penggunaan antidepresan dan
obat penenang oleh karena itu, penentuan diagnosis harus sebaik mungkin
Neuralgia migrainosa (nyeri kepala sebelah) dapat menyebabkan nyeri paroksismal berat pada
daerah persarafan trigeminal tetapi dapat dibedakan berdasarkan periode, ketiadaan faktor
pencetus dan durasi tiap nyeri paroksismal yang lebih lama.

Diagnosis
Banding

Persebaran

Karakteristik
Klinis

Faktor yang
Meringankan/
Memperburuk

Penyakit yang
Dihubungkan

Tata Laksana

Neuralgia

Daerah

Laki- laki/

Titik-titik rangsang

Idiopatik

Carbamazepine

Trigeminal

persarafan

perempuan = 1:3,

sentuh,

Skeloris

Phenytoin

cabang II dan

Lebih dari 50

mengunyah,

multipel pada

Gabapentin

III nervus

tahun,

senyum, bicara,

dewasa muda

Injeksi alkohol

trigeminus,

Paroksismal (10-30

dan menguap

Kelainan

Koagulasi atau

unilateral

detik), nyeri

pembuluh darah

dekompresi

bersifat menusuk-

Tumor nervus V

bedah

nusuk atau sensasi


terbakar, persisten
selama bermingguminggu atau lebih,
Ada titik-titik
pemicu,

Tidak ada paralisis


motorik maupun
Neuragia

Unilateral

sensorik.
Lebih banyak

Fasial Atipik

atau bilateral,

Tidak ada

Status ansietas

Anti ansietas dan

ditemukan pada

atau depresi

anti depresan

pipi atau

wanita usia 30-50

Histeria

angulus

tahun

Idiopatil

nasolabialis,

Nyeri hebat

hidung

berkelanjutan

bagian dalam

umumnya pada

Neuralgia

Unilateral

daerah maksila
Riwayat herpes

Sentuhan,

Post

Biasanya

Nyeri seperti

pergerakan

herpetikum

pada daerah

sensasi terbakar,

persebaran

berdenyut-denyut

cabang

Parastesia,

oftalmikus

kehilangan sensasi

nervus V

sensorik keringat

Sindrom

Unilateral,

Sikatriks pada kulit


Nyeri berat

Mengunyah,

Ompong,

Perbaikan geligi,

Costen

dibelakang

berdenyut-denyut

tekanan sendi

arthritis

operasi pada

atau di depan

diperberat oleh

temporomandibular rematoid

beberapa kasus

telinga,

proses mengunyah,

Alkohol pada

Ergotamin

beberapa kasus

Herpes Zoster

Carbamazepin,
anti depresan dan
sedatif

pelipis, wajah Nyeri tekan sendi


temporomandibula,
Maloklusi atau
Neuralgia

Orbito-

ketiadaan molar
Nyeri kepala

Migreno-

frontal,

sebelah

sum

rahang atas,
angulus

Tidak ada

sebagai
profilaksis

nasolabial
Tabel Diagnosis Banding
8

Pemeriksaan Diagnostik Neuralgia Trigeminal

Tidak ada uji spesifik dan definitif untuk neuralgia trigeminal. Diagnosa neuralgia trigeminal
dibuat berdasarkan anamnesa pasien secara teliti dan pemeriksaan fisik yang cermat. Pada
pemeriksaan fisik neurologi dapat ditemukan sewaktu terjadi serangan, penderita tampak
menderita sedangkan diluar serangan tampak normal. Reflek kornea dan test sensibilitas untuk
menilai sensasi pada ketiga cabang nervus trigeminus bilateral.Membuka mulut dan deviasi dagu
untuk menilai fungsi otot masseter (otot pengunyah) dan fungsi otot pterygoideus (Rabinovich,et
al,2000).
Adapun pemeriksaan diagnostic yang bisa dilakukan pada kasus neuralgia trigeminal antara lain
adalah:
1. Pemeriksaan radiologis
CT scan dan MRI atau pengukuran elektrofisiologis periode laten kedipan dan refleks rahang
dikombinasikan dengan elektromiografi masseter dapat digunakan untuk membedakan kasuskasus simtomatik akibat gangguan struktural dari kasus idiopatik.
1

Pemeriksaan tambahan baru diperlukan kalau ada keluhan neuralgia trigeminal


pada orang-orang muda; karena biasanya ada penyebab lain yang tersembunyi. Itu
pun perannya terbatas untuk eliminasi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan:
Rontgen TMJ (temporomandibular joint) dan MRI otak (untuk menyingkirkan
tumor otak dan multiple sclerosis).

Pengukuran potensial somatosensorik yang timbul setelah perangsangan nervus


trigeminus dapat juga digunakan untuk menentukan kasus yang disebabkan oleh
ektasis arteri sehingga dapat ditangani dengan dekompresi operatif badan saraf
pada fossa posterior.
9

Penatalaksanaan

A. Medikamentosa
Table

Drugs

eficiency

Side
effect

Dose
Initial dose

increment
s

Target daily
dose

carbamazepin

+++

+++

First line

100 mg 2x1 50-100 mg 400-1000


perhari

oxcarbazepin

+++*

++

hari
300mg 2x1 600
perhari

Second line

Gabapentin

++*

++

++*

+++

setiap

mg 600-2400
1 mg

minggu
300 mg 1x1 300
mg 900-2400
perhari

baclofen

setiap 2-4 mg

setiap

hari
10 mg 3x1 10

3 mg
mg 50-60 mg

perhari
setiap hari

Obat yang paling efektif adalah karbamazepin (tegretol ) 100-200 mg 3-4X sehari
tergantung toleransi. Dan jika nyeri masih ada maka diberika penambahan dosis 50-100 mg
setiap hari ke 2-4, dan dosis maksimal 1 gr perhari, suatu antikonvulsan, efektif pada kebanyakan
kasus tetapi menyebabkan rasa pusing dan mual pada beberapa pasien sedangkan pada pasien
lain timbul ruam pada kulit dan leucopenia sehingga terpaksa dihentikan. Setelah beberapa
minggu atau bulan pemberian, obat dapat dihentikan tetapi harus diberikan lagi jika nyeri
berulang, jika setelah penggunaan jangka panjang (6 bulan) dan keberhasilan obat turun 50 %
maka dosis harus di turunkan secara perlahan jika memungkinkan dapat langsung di hentikan.
(1,13)

Setelah penggunaan carbamazepin tidak efektif lg maka digunakan obat-obatan anti


konvulsan selain karbamazepin dapat memperpendek durasi dan beratnya serangan (second line).
Obat-obat seperti ini contohnya phenitoin (300-400 mg/hari), asam falproat (800-1200 mg/hari),
klonazepam (2-6 mg/hari), dan gabapentin (300-900 mg/hari). Baclofen dapat digunakan pada
pasien yang tidak mentoleransi karbamazepin atau gabapentin, tetapi sebenarnya paling efektif
digunakan sebagai adjuvan terhadap salah satu antikonvulsan. Capsaisin yang diberikan lokal
pada titik pemicu atau diberikan sebagai tetes mata topikal pada mata (proparakain 0,5%) cukup
membantu pada beberapa pasien.(7)
Sekitar 80% pasien berespon pada pengobatan karbamazepin atau gabapentin dengan dosis
yang tepat. Pengobatan harus dilakukan setiap hari dan dosisnya dinaikkan secara bermakna
hingga nyeri yang dirasakan berkurang.(8)

B. Non-medikamentosa
Diberikan jika pasien sudah tidak dapat berespons dengan obat-obatan ataupun pasien yang
perlahan-lahan mulai memperlihatkan gejala resistansi dengan terapi obat.(11)
I.

Injeksi
Jika nyeri terbatas pada daerah persebaran saraf supraorbital dan infraorbital, injeksi alkohol

atau fenol seringkali dapat memberikan kelegaan yang bertahan berbulan-bulan hingga menahun.
Setelah itu, injeksi harus diulang jika nyeri rekuren. Sayangnya, injeksi berikutnya lebih sulit
dilakukan akibat sikatriks yang timbul akibat injeksi sebelumnya. Walaupun begitu, terapi injeksi
cukup berguna untuk menghindari operasi selama beberapa waktu dan pada waktu bersamaan
membiasakan pasien dengan efek samping yang tidak terhindarkan yang dapat ditimbulkan oleh
operasi, utamanya hilang rasa.(1,6)
II.

Operatif
Operasi klasik untuk penyakit ini bertujuan membagi ganglion sensorik nervus trigeminus

yang terletak proksimal dari ganglion Gasseri pada fossa crania medialis. Ganglion motorik tetap
tidak mendapat intervensi dan dengan menyisakan serabut saraf bagian atas, pasien tetap dapat
merasa pada daerah yang dipersarafi cabang I. sehingga serabut saraf sensorik kornea dan reflex
kornea tetap normal. Rasa nyeri dan raba akan hilang selamanya pada daerah yang dipersarafi
serabut saraf yang diinsisi. Jika saraf perifer diinsisi di distal ganglion Gasseri, dapat terjadi
regenerasi sehingga nyeri muncul lagi. Cabang sensorik juga dapat dibagi di dalam fossa kranial
posterior di mana serabut tersebut bergabung dengan pons. Dengan pendekatan yang serupa,
tractus medulla desendens nervus trigeminus dapat dipotong pada medulla. Karena traktus ini
hany mengandung serabut saraf nyeri, sensasi sentuh tetap dipertahankan. Tractotomi jauh lebih
berbahaya dengan hasil tidak pasti disbanding pembelahan cabang sensorik sehingga biasanya
dilakukan hanya pada kondisi-kondisi tertentu seperti jika nyeri terbatas pada nervus
supraorbitalis dan reflex kornea ingin dipertahankan, atau terdapat keterlibatan bilateral dan
cabang motorik ingin dipastikan bertahan.(6)
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN NEURAGIAL TRIGEMINAL
1. Pengkajian Keperawatan

Berikut ini adalah tahap pengkajian keperawatan klien dengan trigeminal neuralgia menurut
Doenges, Marylinn E. (2000).
1. Identitas klien meliputi: nama, umur, jenis kelamin, agama, bahasa pekerjaan,
suku/kebangsaan, alamat, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit.
2. Keluhan utama
Nyeri pada bibir, dagu, lobang hidung, dan pada gigi (daerah perifer, bukan pada struktur yang
lebih dalam). Nyeri bersifat tajam seperti tertusuk atau tersetrum listrik yang terjadi di sepanjang
satu atau lebih cabang inervasi N. V. Nyeri dapat tercetus oleh rangsangan ringan (alodinia)
seperti terpapar angin, berbicara,mengunyah atau cuci muka.
1

Riwayat penyakit sebelumnya

Mengkaji apakah ada penyakit pada bagian sistem saraf pusat yang mengarah pada penyebab
peradangan saraf trigeminal.
1

Anamnesis

Terdapat serangan nyeri paroksismal dengan awitan tiba-tiba yang berlangsung selama beberapa
detik sampai kurang dari 2 menit. Nyeri bersifat tajam seperti tertusuk atau tersetrum listrik yang
terjadi di sepanjang satu atau lebih cabang inervasi N. V. Nyeri dapat tercetus oleh rangsangan
ringan (alodinia) seperti terpapar angin, berbicara,mengunyah atau cuci muka. Pada anamnesa
yang perlu diperhatikan adalah lokalisasi nyeri, kapan dimulainya nyeri, menentukan interval
bebas nyeri, menentukan lamanya, efek samping, dosis dan respons terhadap pengobatan,
menanyakan riwayat penyakit lain seperti ada penyakit herpes atau tidak, dsb.
1

Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik neurologi dapat ditemukan sewaktu terjadi serangan, penderita tampak
menderita sedangkan diluar serangan tampak normal. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
a. Pada B3 ditemukan gangguan sensorik berupa hiperalgesi dan aldonia.
b. Menilai sensasi pada ketiga cabang nervus trigeminus bilateral (termasuk refleks
kornea).
c. Menilai fungsi mengunyah (masseter) dan fungsi pterygoideus (membuka mulut,
deviasi dagu)
2.Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti CTscan kepala atau MRI kepala. MRI dan CTscan hanya dilakukan atas indikasi, misalnya terdapat kecurigaan penekanan radiks N. V oleh
aneurisma. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah Rontgen TMJ (Temporomandibular

Joint). CTscan kepala dari fossa posterior bermanfaat untuk mendeteksi tumor yang tidak terlalu
kecil dan aneurisma. MRI sangat bermanfaat karena dengan alat ini dapat dildihat hubungan
antara saraf dan pembuluh darah juga dapat mendeteksi tumor yang masih kecil.
MRI juga diindikasikan pada penderita dengan nyeri yang tidak khas distribusinya atau
waktunya maupun yang tidak mempan pengobatan. Indikasi lain misalnya pada penderita yang
onsetnya masih muda, terutama bila jarang-jarang ada saat-saat remisi dan terdapat gangguan
sensibilitas yang obyektif. Selain itu harus diingat, bahwa neuralgia trigeminal yang klasik
dengan hanya sedikit atau tanpa tanda-tanda abnormal ternyata bisa merupakan gejala-gejala dari
tumor fossa posterior.
1

Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan trigeminal neuralgia menurut
Muttaqin, Arif (2010) dan Ackley, Betty J., Gail B. Ladwig (2013) adalah sebagai berikut.
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d penekanan saraf trigeminal dan inflamasi arteri
temporalis.
2. Ketidakseimbangan
mengunyah

nutrisi : kurang

dari

kebutuhan

tubuh b/d sakit saat

3. Koping individu tak efektif b/d nyeri berat, ancaman berlebih pada diri sendiri.
4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b/d
keterbatasan kognitif.
5. Ansietas (cemas) b/d prognosis penyakit dan perubahan kesehatan
6. Ketidakefektifan manajemen kesehatan diri b/d kurang pengetahuan tentang
pencegahan rangsangan pemicu rasa nyeri.
7. Risiko cedera pada
sensasi kornea

mata

b/d

faktor

resiko

kemungkinan penurunan

4.Intervensi Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d penekanan saraf trigeminal dan inflamasi arteri
temporalis.
Tujuan
: Dalam waktu 3 x 24 jam, nyeri berkurang atau dapat diadaptasi oleh
klien.
Kriteria hasil :

a. Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri


b. Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi
c. Ekspresi wajah pasien tidak nampak kesakitan
d. Klien tidak gelisah
e. Skala nyeri 0-1 atau teradaptasi
Intervensi
Tindakan Mandiri

Rasional

1. Kaji terhadap nyeri yang dirasakan


oleh pasien meliputi:
P = pencetus nyeri yang dirasakan klien
Q = kualitas nyeri yang dirasakan klien
apakah tertusuk, tertimpa batu
R = daerah yang mengalami nyeri
S = skala nyeri yang dirasakan klien (0-10)
T = Waktu timbulnya nyeri
Pastikan durasi/ episode nyeri

1. Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan


ketidaknyamanan pada pasien.

Memudahkan pilihan intervensi yang sesuai

Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus


dijelaskan oleh pasien
Nyeri dipengaruhi oleh kecemasan, ketegangan,
Bantu klien dalam identifikasi faktor pencetus
suhu, distensi kandung kemih, dan berbaring lama
Dapat diperkuat karengan persepsi pasien tentang
Evaluasi perilaku nyeri
nyeri tidak dapat dipercaya
Anjurkan pada klien untuk mengurangi
Menghindari stimulus nyeri dan meningkatkan
aktivitas yang berat dan menambah waktu
rasa nyaman
istirahat
Kompres dingin dapat mengakibatkan
Kompres hangat atau dingin pada daerah
vasodilatasi, sehingga dapat menurunkan nyeri.
yang nyeri
Kompres hangat dapat meningkatkan sirkulasi
darah dan menurunkan tegangan otot
Teliti keluhan nyeri

Ajarkan relaksasi: teknik-teknik untuk


menurunkan ketegangan otot rangka, yang
dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga
tingkatkan relaksasi masase

Relaksasi dapat melancarkan peredaran darah,


sehingga kebutuhan oksigen oleh jaringan akan
terpenuhi sehingga akan mengurangi nyerinya

Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut

Mengalihkan perhatian ke hal-hal yang


menyenangkan

Pengetahuan akan dirasakan membantu


Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab
mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu
nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri
mengembangkan kepatuhan klien terhadap
akan berlangsung
rencana terapeutik
Sampaikan perhatian anda atas respon pasien
terhadap nyeri. Berukan kesempatan kepada
pasien untuk membicarakan ketakutan,
kemarahan, dan rasa frustasinya secara
pribadi, pahami sulitnya situasi yang
dihadapi.
a. Benarkan adanya rasa nyeri.
b. Dengarkan dengan penuh perhatian
mengenai nyeri yang dikeluhkan.

Memberikan rasa nyaman pada pasien untuk


mengekspresikan nyerinya dan mengurangi rasa
nyeri secara psikologis (memberikan dukungan
emosi)

c. Sampaikan bahwa perawat mengkaji


nyeri karena ingin mengerti lebih
tentang nyeri yang dialami (bukan
untuk memulai apakah nyeri tersebut
benar-benar ada).

Observasi tingkat nyeri dan respon motorik


klien 30 menit setelah pemberian obat
analgesik untuk mengkaji efektifitasnya.
Setiap 1-2 jam setelah tindakan perawatan
selama 1-2 hari

Pengkajian yang optimal akan memberikan


perawat data yang objektif untuk mencegah
kemungkinan komplikasi dan melakukan
intervensi yang tepat

Tindakan kolaborasi
1. Obat anti konvulsif karbamazepin
(tregetol) dan fenitoin (dilantin)

1. Mengurangi transmisi impuls pada ujung


saraf tertentu, melegakan nyeri pada
kebanyakan pasien.
2. Cara kerjanya pada membran

Berikan tregetol yang diminum


bersama makan, dengan dosis secara
bertahap ditingkatkan sampai
diperoleh rasa lega.

Injeksi Alkohol :

a). Injeksi alkohol dilakukan pada ganglion


gasserian dan cabang perifer dari saraf
trigeminal yang terganggu
b). Injeksi alkohol perifer memiliki peran
dalam pengelolaan neuralgia trigeminal
1

permeabilitas menunjukkan bahwa


kandungan tegretol dalam carbamazepine
menutup saluran natrium pada konsentrasi
terapi dan dapat menstabilkan membran
neuron yang hiperaktif, menghalangi
kerusakan neuron yang berulang dan
mengurangi perambatan sinaptik impuls.

a). Berfungsi untuk mengurangi nyeri selama


beberapa bulan.
b). Berguna pada mereka yang refrakter terhadap
manajemen medis dan pada mereka yang tidak
mampu atau tidak mau menjalani perawatan bedah
saraf. Alkohol blok ini sifatnya tidak permanen
karena nyeri kembali setelah saraf berregenerasi.

Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d sakit saat mengunyah

Tujuan : Dalam 1 minggu berat badan pasien meningkat


Kriteria Hasil :
1. Meningkatkan BB dalam batas ideal
2. Pasien terlihat tidak lemas
3. Hasil Lab Albumin normal
Intervensi

Rasional
Faktor ini menentukan pemilihan terhadap
Observasi kemampuan pasien untuk mengunyah,
jenis makanan sehingga pasien harus
menelan, batuk, dan mengatasi sekresi
terlindung dari aspirasi
Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan
Timbang berat badan sesuai indikasi
mengubah pemberian nutrisi
Mengetahui perkembangan pemenuhan nutrisi
Mencatat intake dan output makanan pasien
pasien
Edukasikan pada pasien tentang makan makanan Makanan yang lunak dapat meminimalisir
yang lunak
rangsang nyeri
Menganjurkan pada pasien menguyah pada sisi Agar asupan nutrisi tetap terpenuhi
yang tidak sakit

Meningkatkan proses pencernaan dan toleransi


Berikan makanan dalam jumlah kecil dan dalam pasien terhadap nutrisi yang diberikan dan
waktu yang sering dengan teratur.
dapat meningkatkan kerjasama pasien saat
makan.
Lingkungan yang nyaman disekitar pasien
Ciptakan lingkungan yang nyaman unutk pasien
dapat meningkatkan nafsu makan pasien
Merupakan sumber yang efektif untuk
Kolaborasi dengan ahli gizi unutk membantu
mengidentifikasikan kebutuhan kalori/nutrisi
memilih makanan yang dapat memenuhi
tergantung pada usia, berat badan, ukuran
kebutuhan gizi selama sakit
tubuh dan keadaan penyakit.
1

Koping individu tak efektif b/d nyeri berat, ancaman berlebih pada diri sendiri.

Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan 3x24 jam, koping pasien baik
Kriteria hasil :
a. Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya
b. Menyatakan kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi
c. Mengidentifikasi situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari
d. Mendemonstrasikan keterampilan metode koping efektif
Intervensi
Kaji kapasitas fisiologi yang bersifat umum
Dekati pasien dengan ramah dan penuh
perhatian
Bantu pasien dalam memahami perubahan
konsep citra tubuh

Kaji keefektifan strategi koping

Catat laporan gangguan tidur, peningkatan


keletihan, konsentrasi, peka rangsangan,
toleransi sakit kepala
Bantu pasien mengidentifikasi stressor
Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan

Rasional
Nyeri dapat mengurangi kemampuan koping
Menemukan kebutuhan psikologis yang akan
meningkatkan harga diri
Pasien mungkin menganggap dirinya sebagai
seseorang yang mengalami nyeri dan mulai
melihat dirinya sebagai seorang yang tidak
mengalami nyeri
Mekanisme adaftif perlu untuk mengubah pola hidup
seseorang , menghindari hipertensi kronis,
mengintegrasikan terapi yang diharuskan kedalam
kehidupan sehari hari.
Manifestasi mekanisme koping maladaftif mungkin
merupakan indikator, marah yang ditekan dan
diketahui telah menjadi penentu tekanan darah
diastolik
Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama
dalam mengubah respons seseorang terhadap stressor
Keterlibatan memberikan pasien perasaan kontrol

diri yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan


koping, dan dapat meningkatkan kerja sama dalam
regimen terapiutik.
Fokus realitas pasien pada situasi yang ada relatif
Dorong pasien untuk mengevaluasi
terhadap pandangan pasien tentang apa yang
prioritas/tujuan hidup
diinginkan
Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara
Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai
realistik untuk menghindari rasa tidak menentu dan
merencanakan perubahan hidup
tidak berdaya

Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b/d keterbatasan


kognitif.

Tujuan
: Dalam waktu 2 x 24 jam, kecemasan klien hilang atau berkurang
Kriteria Hasil :
a. Klien mampu mengenal perasaannya,
b. Klien dapat mengidentifikasi penyebab atau faktor yang mempengaruhinya
c. Klien menyatakan ansietas berkurang atau hilang
Intervensi
Rasional
Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan,
Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukkan rasa
dampingi klien dan lakukan tindakan bila timbul
agitasi, marah dan gelisah
perilaku merusak
Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi
kecemasan. Beri lingkungan yang tenang dan
Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu
suasana penuh istirahat
Kontrol sensasi klien (dan dalam menurunkan
ketakutan) dengan cara memberikan informasi
tentang keadaan klien, menekankan pada
Tingkatkan kontrol sensasi klien
penghargaan terhadap sumbersumber koping
(pertahanan diri) yang positif, membantu latihan
relaksasi dan teknik pengalihan serta memberikan
respon balik yang positif
Memberi kesempatan pada klien
Dapat menghilangkan ketegangan terhadap
mengungkapkan kecemasannya
kekhawatiran yang tidak diekspresikan
Bantu klien mengekspresikan marah,
Cemas yang berkelanjutan memberikan dampak
kehilangan, dan takut
serangan jantung sselanjutnya.
Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah,
Hindai konfrontasi
menurunkan kerja sama, dan mungkin
memperlambat penyembuhan

Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat

Memberi waktu untuk mengekspresikan perasaan


menghilangkan cemas dan perilaku adaptasi. Adanya
keluarga dan teman yang dipilih klien melayani
aktivitas dan pengalihan (misalnya membaca) akan
menurunkan perasaan terisolasi.

Tujuan
: Dalam jangka waktu 1 x 30 menit klien akan memperlihatkan kemampuan pemahaman
yang adekuat tentang penyakit dan pengobatannya
Krieria Hasil :
a. Klien mengatakan mengetahui tentang penyakit, pengobatan pada gejala-gejala yang timbul
b. Klien dapat mengikuti instrukasi yang diberikan secara akurat
Intervensi
Jelaskan tentang penyakit yang di derita klien.
Berikan pendidikan kesehatan tentang nama
obat, dosis, waktu dan cara pemakian, efek
samping, cara mengukur intake output.
Identifikasi tanda dan gejala yang perlu
dilaporkan
Kaji ulang resiko efek samping pengobatan
Mendorong klien mengekspresikan
ketidaktahuan/kecemasan dan beri informasi
yang dibutuhkan
Jelaskan pentingnya tindak lanjut rawat jalan
yang teratur.

Rasional
Memberi pemahaman pada klien
Memberi pemahaman kepada pasien. Meningkatkan
partisipasi terapeutik dan mencegah putus obat
Meningkatkan kesadaran kebutuhan tentang
perawatan diri untuk meminimalkan kelemahan
Mengurangi rasa kurang nyaman dari pengobatan
untuk perbaikan kondisi klien
Memberikan kesempatan untuk mengoreksi persepsi
yang salah dan mengurangi kecemasan
Agar pasien tahu pentingnyapemantauan penyakit

Ansietas (cemas) b/d prognosis penyakit dan perubahan kesehatan

Tujuan
: Dalam jangka waktu 1 x 30 menit klien akan memperlihatkan kemampuan pemahaman
yang adekuat tentang penyakit dan pengobatannya
Krieria Hasil :
c. Klien mengatakan mengetahui tentang penyakit, pengobatan pada gejala-gejala yang timbul
d. Klien dapat mengikuti instrukasi yang diberikan secara akurat

Intervensi

Rasional

Jelaskan tentang penyakit yang di derita klien.


Berikan pendidikan kesehatan tentang nama
obat, dosis, waktu dan cara pemakian, efek
samping, cara mengukur intake output.
Identifikasi tanda dan gejala yang perlu
dilaporkan
Kaji ulang resiko efek samping pengobatan
Mendorong klien mengekspresikan
ketidaktahuan/kecemasan dan beri informasi
yang dibutuhkan
Jelaskan pentingnya tindak lanjut rawat jalan
yang teratur.

Memberi pemahaman pada klien


Memberi pemahaman kepada pasien. Meningkatkan
partisipasi terapeutik dan mencegah putus obat
Meningkatkan kesadaran kebutuhan tentang
perawatan diri untuk meminimalkan kelemahan
Mengurangi rasa kurang nyaman dari pengobatan
untuk perbaikan kondisi klien
Memberikan kesempatan untuk mengoreksi persepsi
yang salah dan mengurangi kecemasan
Agar pasien tahu pentingnyapemantauan penyakit

Refrensi :
http://www.scribd.com/doc/212663223/Neuralgia-Trigeminal-Naskah diakses pada tanggal 19
maret 2016 pukul 11.08 WIB
http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/07/10/apa-itu-neuralgia-trigeminal-190519.html
diakses pada 19 maret 2016 pukul 20.00 WIB
Rubenstein, David dkk., 2003. Lecture Notes: Kedokteran Klinis Edisi 6. Jakarta: EMS
(Erlangga Medical Series).
Rumah Sakit Mitra Keluarga Group. 2011. Trigeminal Neuralgia and Hemifacial Spasm Care
Center. Diakses pada tanggal 19maret 2016 dari Website : www.mitrakeluarga.com
.
Baughman, Diane C., Hackley, JoAnn C., 2000. Keperawatan Medikal-Bedah Buku Saku dari
Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC.
Carpenito-Moyet. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Ed. 13. Jakarta: EGC
Doenges, Marylinn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC