Anda di halaman 1dari 13

PEMERIKSAAN FAKTOR RESIKO KARIES

TrafficLight-Matrix (TL-M) merupakan salah satu tabel model pemeriksaan faktor resiko
karies. Fungsi utamanya adalah sebagai peringatan kepada klinisi tentang adanya lingkungan
yang kondusif bagi karies, sehingga adanya satu atau lebih faktor resiko ini dapat
dipertimbangkan dalam menentukan diagnosis dan rencana perawatan. Salah satu faktor dari
lingkungan oral yang harus diperiksa dan dinilai dalam menentukan faktor resiko karies adalah
saliva. Lima faktor yang dinilai dalam tes saliva adalah hidrasi, viskositas, pH, kuantitas, dan
kapasitas buffer.

Pemeriksaan Hidrasi Saliva


Unstimulated saliva memiliki peran penting untuk hidrasi dan kenyamanan
rongga mulut, karena stimulated saliva hanya diproduksi selama mastikasi. Kelenjar
saliva minor menghasilkan 15% dari seluruh produksi saliva harian, dan kelenjar
submandibular merupakan kelenjar yang memberi kontribusi utama. Terdapat banyak
variasi flow rate pada kelenjar saliva minor yang terdapat pada berbagai macam area
dalam mulut. Penurunan flow rate unstimulated saliva pada kelejar saliva minor di daerah
palatum dapat terjadi seiring pertambahan usia individu, namun tidak terdapat perubahan
yang berhubungan dengan usia dari kelenjar-kelenjar minor yang terdapat pada daerah
bukal dan labial, sehingga pemeriksaan dilakukan pada kelenjar saliva minor yang
terdapat pada bagian dalam bibir bawah.
Langkah:
a. Retraksi bibir bawah pasien dan keringkan
b. Dengan bantuan selembar tisu, perhatikan berapa detik bibir pasien kembali basah
oleh droplet saliva

Merah menunjukkan tidak adanya fungsi kelenjar saliva minor yang dapat
disebabkan oleh dehidrasi parah, kerusakan kelenjar saliva karena radioterapi atau karena
proses patologis, ketidakseimbangan hormonal, dan efek samping obat. Kuning
menunjukkan lambatnya produksi saliva (level ringan) yang dapat disebabkan oleh
dehidrasi dan efek samping obat. Hijau menunjukkan fungsi normal kelenjar saliva
minor.
Pada kasus, hasil pemeriksaan hidrasi saliva 30-60 detik yang menunjukkan
warna kuning yang berarti produksi saliva oleh kelenjar saliva minor lambat.

Konsistensi/viskositas unstimulated saliva


Saliva terdiri dari 99% air dan 1% protein dan elektrolit, sehingga saliva
seharusnya tampak jernih, encer, dan mengandung sedikit buih serta memiliki
kemampuan untuk membentuk lapisan yang sangat tipis pada seluruh jaringan keras dan
lunak. Viskositas dinilai menggunakan web test. Tongue blade atau kaca mulut digunakan
untuk mengangkat saliva yang terkumpul pada dasar mulut. Ketika instrument diangkat,
web atau jaring dari saliva akan terbentuk, terenggang, dan akhirnya putus. Saliva normal
dapat membentuk web saliva yang dapat terenggang hingga 2-5 cm, sedangkan pada
saliva kental web saliva dapat terenggang hingga 15 cm.
Langkah:
a. Minta pasien untuk tidak menelan ludah selama 30 detik
b. Miringkan kepala pasien sedikit ke depan
c. Buka mulut, minta pasien untuk menyentuh palatum dengan ujung lidah
d. Lihat keadaan mukosa pada lantai mulut
e. Web test dilakukan dan hasil dicatat

Salah satu fungsi penting saliva adalah untuk membersihkan debris dari rongga
mulut. Saliva yang berbuih memiliki kandungan air yang lebih sedikit dan memiliki
kemampuan protektif yang lebih rendah terhadap jaringan lunak dan keras yaitu
berkurangnya kemampuan clearance dan ketidakmampuan saliva dalam membentuk
lapisan yang dapat melindungi permukaan gigi.

Pada kasus, viskositas saliva kental menunjukkan warna merah atau berarti dalam
kondisi yang buruk.

pH unstimulated saliva
Permukaan gigi dilapisi oleh lapisan tipis unstimulated saliva, sehingga keadaan
pH saliva dapat mempengaruhi keadaan biofilm pada permukaan gigi.
Langkah:
a. Kumpulkan sampel unstimulated saliva
b. Celupkan kertas pH
c. Tunggu hingga 10 detik, lalu cek level pH

pH unstimulated saliva merupakan indicator umum keadaan asam rongga mulut.


Umumnya, pH kritis hidroksi apatit adalah 5.5, sehingga semakin dekat pH saliva dengan
pH kritis, maka semakin besar resiko demineralisasi. Warna merah menunjukkan bahwa
lingkungan mulut sangat asam.

Laju aliran saliva


Komposisi stimulated saliva tergantung pada laju aliran yang merupakan
representasi produksi kelenjar saliva mayor dan minor. Rata-rata laju aliran saliva adalah
1,6 ml/menit. Laju aliran saliva sebesar 0,7 ml/menit dianggap sebagai ambang, di bawah
batas tersebut menunjukkan peningkatan resiko terjadinya karies.
Langkah:
a. Pasien duduk tegak lurus
b. Minta pasien untuk mengunyah non flavoured wax
c. Keluaran saliva pertama setelah 30 detik
d. Atur waktu untuk 5 menit kemudian biarkan pasien terus mengunyah
e. Pasien harus tetap mengunyah Selama 5 menit dan mengeluarkan salivanya dalam
gelas ukur
f. Setelah 5 menit, ukur volume saliva yang telah dikumpulkan

Laju aliran saliva akan meningkat karena adanya rangsangan seperti rangsangan
pengecapan, rangsangan psikologi, ataupun rangsangan akibat perawatan gigi. Aliran
salva akan berkurang pada saat tidur dan pada keadaan takut. Bila aliran saliva menurun,
maka akan terjadi peningkatan frekuensi karies gigi. Jika aliran saliva meningkat, akan
menyebabkan konsentrasi sodium, kalsium, klorida, bikarbonat dan protein meningkat,
tetapi konsentrasi fosfat, magnesium dan urea akan menurun. Dengan meningkatnya
komponen bikarbonat saliva, maka hasil metabolic bakteri dan zat-zat toksik bakteri akan
larut dan tertelan sehingga keseimbangan lingkungan rongga mulut tetap terjaga dan
frekuensi karies gigi akan menurun.

Tes kapasitas buffer


Kapasitas buffer menunjukkan kemampuan saliva dalam menetralisir asam dan
hal ini tergantung pada konsentrasi bikarbonat dalam saliva.
Langkah:
a. Sampel yang digunakan adalah saliva yang dikumpulkan pada tes kuantitas saliva
b. Masing-masing strip test ditetesi oleh saliva
c. Kelebihan saliva dibuang dengan memiringkan strip sebesar 90 untuk
memastikan volume konstan
d. Setelah 5 menit, warna pada strip test dibandingkan dengan panduan dari pabrik

Pada kasus, kapasitas buffernya adalah 5, yang menunjukkan warna merah atau
kondisi buruk.
Oral Biofilm

pH plak : diperiksa menggunakan GC indicator


a. Kurang dari 5,5 (warna pink-merah)
Red
b. 6,0-6,5
(warna kuning-orange)
Yellow
c. Lebih dari 7,0 (warna hijau)
Green
Pada kasus, pH plak kurang dari 5,5 menunjukkan warna merah yaitu dalam kondisi
yang buruk.

Aktivitas plak (menggunakan disclosing solution)

Pada kasus, aktivitas plak kebiruan atau plak tebal ditandai dengan warna merah
pada traffic light menunjukkan kondisi yang buruk.

Diet

Pada kasus, pasien minum kopi 5 gelas sehari dan merokok 2 bungkus sehari. Hal ini
menadakan warna merah yang menandakan kontrol dietnya buruk

Fluoride

Pada kasus, pasien hanya menggunakan fluor dari pasta gigi, berarti menurut TLM
warnanya adalah kuning.

Indeks Plak
Cara utuk mengukur besarnya tingkat akumulasi plak gigi
Kriteria pernilaian Silness & Loe:
0 = tidak ada plak

1 = plak berbentuk film tipis pada tepi gingiva dan dapat terlihat dengan menggunakan
probe
2 = ketebalan plak sedang pada tepi gingiva, ruang interdental terbebas dari plak dan plak
terlihat dengan mata
3 = akumulasi plak pada banyak pada tepi gingiva dan pada raung interdental

Tiap 4 permukaan dari gigi (bukal, lingual, mesial dan distal) diberi skor dari 0-3. Skor
dari 4 area gigi ditambahkan dan dibagi 4 untuk memberikan indeks plak pada gigi.
Contoh perhitungan:
Sebuah gigi dinilai dari 4 aspek:
Permukaan
Skor
Bukal

2
Lingual

1
Mesial

1
Distal

2
Indeks plak = (2+1+1+2)/4= 1,5
0
0,1- 0,9
1-1,9
2-3

= baik sekali
= baik
= sedang
= buruk

Contoh menghitung indeks plak untuk sekelompok gigi

Maka indeks plaknya yaitu (1.5 + 1.3 + 1.2 + 1 + 1.6 + 1.3)/6 = 1.4 (sedang)
Pada kasus indeks plak 2.15 (buruk).

Indeks kalkulus (Greene and Vermilion)

Langkah:

a. Masing-masing rahang dihitung jumlah debris dan kalkulus dari


bukal/labial dan lingual
b. Kemudian ditotal lalu dibagi 6 segmen (3 segmen x 2 rahang)

Penilaian:
Baik (good), apabila nilai berada diantara 0-0,6.
Sedang (fair), apabila nilai berada diantara 0,7-1,8.
Buruk (poor), apabila nilai berada diantara 1,9-3,0

permukaan

Pada kasus, indeks kalkulus pasien 2,3 (buruk).

PBI (Papillary Bleeding Index) oleh Saxer dan muhlemann HR


Langkah-Langkah:

a. Probe tumpul dimasukkan secara perlahan kedalam sulkus gingiva dengan tekanan jari
yang ringan dari dasar papilla ke ujung (tip) nya sepanjang aspek distal dan mesial gigi.
Setelah 20-30 detik satu kuadran telah lengkap dilakukan probing, iintensitas perdarahan
dinilai dalam 4 grades dan dicatat dalam chart
b. Pemeriksaan dilakukan pada permukaan bukal dan lingual elemen gigi, dilakukan di 4
kuadran.
Kuadran 1: bagian palatal
Kuadran 2: bagian fasial/bukal
Kuadran 3: Bagian lingual
Kuadran 4: Bagian fasial/bukal
c. Jumlah dari skor yang ditambahkan menghasilkan Bleeding Number. PBI dihitung
dengan membagi bleeding number dengan jumlah papilla yang diperiksa.

Kriteria Penilaian
0 Tidak ada pendarahan
1 Perdarahan berupa titik
2 Perdarahan berupa garis
3 Segitiga interdental berisi darah beberapa saat setelah probing
4 Perdarahan yang berlebih segera setelah probing, darah mengalir ke daerah interdental untuk
menyelubungi bagian dari gigi atau gingival.

Kriteria skor PBI akhir


0 - 1,3

= sangat baik

1,4 - 2,7

= baik

2,8 - 4

= buruk

Pada kasus, skor PBI pasien yaitu 1,43 yang menandakan skor PBInya baik.