Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN KASUS

ANESTESI UMUM PADA PERITONITIS e.c


Perforasi Appendisitis

Pembimbing : dr.Fauzi Sp.An


Oleh : Novita Nurahmi (2011730076)

KEPANITERAAN KLINIK STASE ANESTESI


RSUD SEKARWANGI
2015

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn.A
Umur : 45 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Alamat : Kp.Sindang Sari RT

01 RW 06, JampangTengah.

No RM : 487xxx
Diagnosa Pre-Op : Peritonitis e.c

Perforasi Appendisitis
Jenis Pembedahan : Laparatomi
eksplorasi
Operator : dr.Lukman Sp.B
Ahli Anestesi : dr.Edwin Sp.An

Tanggal Masuk
Masuk UGD : Jumat, 23 Oktober 2015

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Nyeri perut kanan bawah sejak 6 hari SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang
Os datang ke UGD RSUD Sekarwangi dengan keluhan
nyeri perut kanan bawah sejak 6 hari SMRS, nyeri perut
dirasakan seperti ditusuk-tusuk. Os juga merasakan lemas
dan nafsu makan berkurang. Demam, mual, muntah dan
sesak disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Os belum pernah mengalami keluhan seperti ini.
Riwayat hipertensi (-), Diabetes (-), Sesak nafas (-).
Riwayat Operasi
Os sebelumnya tidak pernah di operasi.
Riwayat Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan seperti
ini. Riwayat hipertensi pada keluarga (-), Diabetes (-), sesak
nafas (-).
Riwayat Pengobatan
Os belum pernah minum obat untuk mengobati keluhan ini.

Riwayat Alergi
Alergi obat, makanan dan cuaca disangkal.
Riwayat Psikososial
Os merokok sejak usia 20 tahun, dalam sehari os merokok
+/- 16 batang.
Os mempunyai kebiasaan minum kopi setiap hari, dalam
sehari os minum kopi sebanyak 3x.
Pemeriksaan HIV
Tidak pernah.
Makan Terakhir
Makan berat

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran

: Composmentis

Tanda Vital

Suhu : 37,4 C
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 81 x/menit, reguler.
Respirasi : 22 x/menit.
Antropometri
BB
: 60 kg
TB : 170 cm
Status Gizi : Normoweight

Status Generalis
Kepala

: Normocephal, rambut lurus, tidak mudah dicabut


dan tidak rontok, laserasi (-).
Mata : Refleks cahaya (+/+), pupil isokor, sklera ikterik
(-/-), konjungtiva anemis (-/-), edema palpebra -/Hidung : Normonasi, deviasi septum (-), sekret (-/-), darah
(-/-), massa (-/-)
Telinga : Normotia, serumen (+/+), darah (-/-), Pembesaran
KGB retro/post auricular (-/-)
Mulut : Bibir kering (+), lidah kotor (-), stomatitis (-),
faring hiperemis (-), tonsil membesar (-), gigi
goyang (-), terdapat gigi ompong satu dibagian depan, Mouth
opening 3 jari, Mallampati 2.
Leher
: Pembesaran KGB (-), Kaku kuduk (-), TMD 10cm

Jantung : I :Iktus kordis tidak terlihat

P: Iktus cordis teraba pada ICS 4 linea


midclavikularis
sinistra
P: Batas jantung kanan setiinggi ics 4
linea parasternal
dekstra, Batas jantung kiri
setinggi ics 4 linea
midclavikularis sinistra
A: BJ I dan II normal, murmur (-), Gallop (-).
Pulmo : I: Bentuk dan gerak simetris, tidak
terdapat retraksi
dinding dada.
P: Vocal Fremitus kanan dan kiri sama.
P: Sonor diseluruh lapang paru.
A: Vesikuler diseluruh lapang paru, tidak

Abdomen : I: Cembung, masa (-), laserasi (-), spidernevi (A: Bising usus (+)
P: Nyeri tekan abdomen kanan bawah (+),
Hepar dan lien tidak teraba
P : Timpani pada 4 kuadran abdomen
Punggung
: Tidak terdapat kelainan tulang belakang.
Ektremitas sup : Akral: hangat,Sianosis (-/-), CRT < 2 (-/-)
edema (-/-)
Ektremitas inf : Akral: hangat,Sianosis (-/-) , CRT < 2 (-/-),
edema (-/-)

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium Tanggal 24 Oktober 2015
Pemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

Hemoglobin

12,4 Gr%

13-16 Gr%

Lekosit

2000

4000-11.000

Trombosit

279.000

150.000-400.000

Hematokrit

39%

40-45%

Ureum

42

10-50 mg/dL

Creatinin

0,9

0,6-1,1 mg/dL

SGOT

16

<25 U/L

SGPT

11

<29 U/L

Waktu Perdarahan

1-3 menit

Waktu Pembekuan

3-7 menit

GDS

89

<180 mg/Dl

Natrium

136

135-155 mmol/L

Kalium

3,8

3,6-5,5 mmol/L

EKG

Sinus rhytm, tidak ditemukan kelainan.


Ro Thoraks
Tidak ditemukan kelainan.

Diagnosis Pra Bedah : Peritonitis e.c


perforasi Appendisitis
Rencana Tindakan Operasi : Laparatomi
eksplorasi
Diagnosis Anastesi : ASA 2
Rencana Tindakan Anestesi : Anestesi
Umum

Keadaan Pra- operasi


Laki-Laki usia 45 tahun dengan diagnosis Peritonitis e.c Perforasi
Appendisitis.
Pasien dijadwalkan untuk melakukan tindakan operasi laparatomi
eksplorasi pada hari Senin, 26 Oktober 2015.
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang


Kesadaran : Composmentis
Tanda vital pra-operasi
TD : 105/60 mmHg
N : 92x/menit
R : 18 x/menit
S : 36,9 C
Saturasi 02 : 92%

Operasi dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2015 pukul 09.30 s/d 10.35
WIB.
Penatalaksanaan anestesi pukul 09.30 WIB
Premedikasi
Ondancentron 4mg/2 ml
Metilprednisolon 125mg
Intraoperatif
Dilakukan Anestesi umum
Posisi : Terlentang
Menggunakan LMA no.3
Anestesi dengan :
induksi: i.v
Maintenance : O2 3L, N2O 4L dan Sevofluran 2,5 %
Cairan yang diberikan : RL

Penghitungan Cairan
Cairan masuk : RL 1300cc.
Cairan keluar : darah +/- 500cc
Kebutuhan cairan :2cc/kgBB/jam

= 120cc/jam
Cairan pengganti puasa
= lama puasa x maintenance
= 6 x 120 cc/jam
= 720 cc/jam
Cairan stress operasi
=6cc/kgbb/jam
=360cc/jam

(60kg)

Total : 1200cc

Tanda-Tanda Vital Intraoperatif


Jam

Tekanan Darah

Nadi

Saturasi

09.30

94/58 mmHg

70

98%

09.45

100/60 mmHg

70

98%

10.00

115/65 mmHg

85

99%

10.15

105/65 mmHg

87

97%

10.35

108/60 mmHg

87

99%

Keadaan Pasien Pasca Operatif


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran

: Delirium
Tekanan Darah : 110/65 mmHg
Nadi
: 85 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
JAM
10.40

ALDRETTE SCORE

SCORE

WK

RR

KS

Merah
muda
(2)

Nafas
baik,
adekuat
dan
tangis
kuat.

110/70
mmHg
(2)

Sadar
penuh
(2)

Gerak
anggota
tubuh
(1)

TINJAUAN PUSTAKA

PERITONITIS
Merupakan suatu proses inflamasi

membran serosa yang membatasi


rongga abdomen dan organ-organ yang
terdapat di dalamnya.
Peritoneum merupakan selaput tipis dan
jernih yang membungkus organ perut
dan dinding perut sebelah dalam.

Epidemiologi
Peritonitis berasal dari usus besar (32%), Appendix (31%),

Lambung/duodenum (18%), usus kecil (13%), atau saluran empedu


(6%).
Klasifikasi Peritonitis
Primary
Berkembang secara spontan dan umumnya terdapat pada pasien sirosis
hepatis.
Secondary

Sebagai akibat jika ada kerusakan pada saluran gastrointestinal atau


terkait masalah medis lainnya yang menyebabkan bakteri masuk
dan berkembang.
Tertiary
Peritonitis kambuhan setelah terapi peritonitis primer atau sekunder.

Etiologi
Dapat dibedakan berdasarkan klasifikasi :
a. Peritonitis Primer : biasanya disebabkan oleh

penyakit hati. Cairan menumpuk diperut


(asites), menciptakan lingkungan yang utama
bagi pertumbuhan bakteri.
b. Peritonitis sekunder : disebabkan oleh kondisi
lain yang memungkinkan bakteri, enzim, atau
empedu, usus buntu yang pecah, tukak
lambung, penyakit crohn

Anestesia : Suatu tindakan menghilangkan


rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan
berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan
rasa sakit pada tubuh.
Anestesia Umum adalah Tindakan
menghilangkan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan bersifat reversible.
Trias Anestesi
1. Hipnotik (ketidaksadaran)
2. Analgesia.
3. Relaksasi otot

Indikasi General Anestesi


1. Bayi dan Anak-anak
2. Dewasa yang memilih general anestesi
3. Pembedahan yang luas
4. Pasien dengan kelainan mental
5. Pembedahan yang lama
6. Pasien dengan riwayat keracunan atau alergi

terhadap obat anestesi lokal.


7. Pasien dengan terapi antikoagulans

Kontraindikasi General Anestesi


1. Mutlak :dekomp.kordis derajat IIIIV ; AV blok
derajat IItotal (tidak ada gelombang P)
2. Relatif ; hipertensi berat/tak terkontrol
(diastolic >110),DM tak terkontrol, infeksi
akut, sepsis,GNA

Anestesi
Inhalasi

Induksi Anestesi
N2O
Induksi
Per
Rektal
- Pemberian
anestesia
dengan
N2O dari
harussadar
disertai
Tindakan
untuk
membuat
pasien
O2
minimaltidak
25%.sadar, sehingga memungkinkan
menjadi
- Gas
bersifat
anestetik
lemah,
tetapi
analgesinya
Cara
inianestesia
hanya
untuk
anak
atau bayi
dimulainya
dan
pembedahan.
Intravena
kuat. menggunakan
Tiopental
atau
induksi
anestesi
:
Cara
Halotan
midazolam.
Tiopental
( Tiopenton, pentotal)
Induksi
ini memerlukan
gas pendorong
O2 atau
Dosis intravena
3-7 mg/kg ( disuntik
secara perlahanlahan
campuran
N2O
dan O2. 30-60
dihabiskan
dalam
Intramuskular
dtk)-Induksi dimulai dengan aliran O2 > 4 liter/menit
Propofol
atau Ketamin ( Ketalar
campuran
)
Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg/kgBB
N2O:O2=3:1,
dengan halotan 0,5 vol%.
Dosis rumatan
untuk
anestesi
intravena total 4-12 mg/kg/jam
Dosis
5-7dimulai
mg/kgBB
Isofluran
Ketamin
Kurang
digemari untuk induksi anestesi, karena sering menimbulkan
Sevofluran
takikardi,
- induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat
hipertensi, hipersalivasi, nyeri kepala.
dibandingkan
isofluran.
Dosis bolus induksi iv 1-2 mg/kg

Teknik Anestesi Umum


1. Sungkup Muka (Face Mask)

Untuk mengantar udara/gas anestesi dari alat


resusitasi atau sistem anestesi ke jalan napas
pasien.
Indikasi : - Tindakan singkat (1/2 1 jam)
- Keadaan umum baik (ASA I II)
Ukuran : 03 (Bayi Baru Lahir); 02,01,1 (Anak
kecil); 2,3 (Anak besar); 4,5 (Dewasa)

2. Intubasi Trakea
Indikasi
Menjaga patensi jalan napas oleh sebab apapun.
Kelainan anatomi, bedah khusus, bedah posisi khusus,
pembersihan sekret jalan napas.
Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
misalnya, saat resusitasi, ventilasi jangka panjang.
Pencegahan aspirasi dan regugirtasi
Kesulitan Intubasi
Leher pendek berotot
Mandibula menonjol
Maksila/gigi depan menonjol
Uvula tak terlihat (Mallampati 3 atau 4)
Gerak sendi temporo mandibular terbatas
Gerak vetebra servikal terbatas.

Ekstubasi
1. Ekstubasi ditunda sampai pasien benar-benar
sadar, jika :
- Intubasi kembali akan menimbulkan
kesulitan
- pasca ekstubasi ada risiko aspirasi
2. Ektubasi dikerjakan umumnya pada anestesia
sudah ringan dengan catatan tak akan terjadi
spasme laring
3. Sebelum ekstubasi bersihkan rongga mulut
laring faring dari sekret dan cairan lainnya.

Persiapan Induksi Anestesi


STATIC
S

S : Scope
T : Tubes
A : Airway
T : Tape
I :
Introducer
C:
Connector
S : Suction

3. Sungkup Laring
Dikenal dengan LMA ( Laryngeal Mask Airway )
merupakan alat jalan napas berbentuk sendok
terdiri dari pipa besar berlubang dengan ujung
menyerupai sendok yang pinggirannya dapat
dikembang kempiskan seperti balon pada pipa
trakea.
Dikenal 2 macam sungkup laring :
1. Sungkup laring standar dengan satu pipa
napas.
2. Sungkup laring dengan dua pipa yaitu satu
pipa napas standar dan lainnya pipa tambahan
yang ujung distalnya berhubungan dengan
esofagus.

Indikasi LMA
Sebagai alternatif dari ventilasi face mask atau
intubasi ET untuk airway management
Pada penatalaksanaan difficult airway yang
diketahui atau yang tidak diperkirakan
Kontraindikasi
Pasien dengan risiko aspirasi isi lambung
Pasien yang membutuhkan dukungan ventilasi
mekanik jangka waktu lama.

Ukuran LMA
Ukuran

Usia

Berat (Kg)

1.0

Neonatus

<3

1.3

Bayi

3-10

2.0

Anak Kecil

10-20

2.3

Anak

20-30

3.0

Dewasa Kecil

30-40

4.0

Dewasa Normal

40-60

5.0

Dewasa Besar

>60

Teknik Pemasangan LMA


Kaf harus dikempeskan maksimal dan benar sebelum

dipasang. Pengempisan harus bebas dari lipatan dan sisi kaf


sejajar dengan sisi lingkar kaf.
Oleskan jeli pada sisi nelakang LMA sebelum dipasang. Hal
ini untuk menjaga agar ujung kaf tidak menekuk pada saat
kontak dengan palatum. Pemberian jelly pada sisi depan
akan dapat mengakibatkan sumbatan atau aspirasi, karena
itu tidak dianjurkan.
Sebelum pemasangan, posisi pasien dalam keadaan
menekan kepala dari belakang dengan menggunakan
tangan. Buka mulut dengan cara menekan mandibula
kebawah
LMA dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk pada
perbatasan antara pipa dan kaf.
Ujung LMA dimasukkan pada sisi dalam gigi atas, menyusur
palatum dan dengan bantuan jari telunjuk LMA dimasukan
lebih dalam dengan menyusuri palatum.

LMA dimasukan sedalam-dalamnya sampai

rongga hipofaring. Tahanan akan akan terasa


bila sudah sampai hipofaring.
Pipa LMA dipegang dengan tangan yang tidak
dominan untuk mempertahankan posisi, dan
jari telunjuk kita keluarkan dari mulut
penderita. Bila sudah berpengalaman, hanya
dengan jari telunjuk LMA dapat langsung
menempati posisinya.
Kaf dikembangkan sesuai posisinya.
LMA dihubungkan dengan alat pernapasan dan
dilakukan pernapasan bantu. Bila ventilasi
tidak adekuat, LMA dilepas dan dilakukan
pemasangan kembali.
Pasang bite block untuk melindungi pipa LMA

TERIMAKASIH