Anda di halaman 1dari 4

Kulit merupakan organ tubuh paling luar yang melindungi tubuh manusia dari

lingkungan hidup sekitar. Fungsi utama kulit adalah melingdungi, absorpsi, ekskresi,
persepsi, regulasi suhu tubuh, pembentukan vitamin D dan keratinisasi. Kulit manusia rentan
terhadap infeksi.1
Penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur atau dermatomikosis merupakan
penyakit yang sering dijumpai di Negara tropis yang disebabkan udara yang lembab yang
mendukung berkembangnya penyakit jamur. Penyakit jamur kulit atau dermatomikosis
adalah penyakit pada kulit kuku, rambut, dan mukosa yang disebabkan infeksi jamur.2
Mikosis superfisialis adalah infeksi jamur superfisial yang disebabkan oleh kolonisasi
jamur atau ragi.1 Penyakit yang termasuk mikosis superfisialis adalah dermatofitosis,
pitiriasis versikolor, dan kandidiasis superfisialis.14 Dermatofitosis adalah penyakit yang
disebabkan oleh kolonisasi jamur dermatofit yang menyerang jaringan yang mengandung
keratin seperti stratum korneum epidermis, rambut, dan kuku. Penyebab dermatofitosis
adalah spesies dari Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. 14 Pitiriasis
versikolor merupakan penyakit infeksi jamur superfisial kronis pada kulit yang disebabkan
oleh Malassezia furfur atau Pityrosporum orbiculare. 3,4 Kandidiasis superfisialis merupakan
infeksi primer dan sekunder pada kulit dan mukosa dari genus Candida, terutama karena
spesies Candida albicans. Kandidiasis superfisialis yang sering dijumpai yaitu mengenai
lipatan-lipatan kulit seperti inguinal, aksila, lipatan di bawah dada (kandidiasis
intertriginosa), daerah popok/diaper, paronikia, onikomikosis, dan mengenai mukosa
(kandidiasis oral, vaginitis, balanitis).35
Di Amerika, endemik dermatomikosis terjadi di daerah Utara dan Barat Venezuela,
Brazil, dan beberapa kasus di laporkan di Columbia dan Argentina. Di Eropa,
dermatomikosis ini menempati urutan kedua. Insidensinya diperkirakan 10%-20%. Di India,
dermatofitosis menempati urutan pertama untuk kasus penyakit kulit, kemudia diikuti oleh
kandidiasis dan pitriasis versikolor.1,2
Indonesia termasuk wilayah yang baik untuk pertumbuhan jamur, sehingga dapat
ditemukan hampir di semua tempat. Menurut Adiguna MS, insidensi penyakit jamur yang
terjadi di berbagai rumah sakit pendidikan di Indonesia bervariasi antara 2,93%-27,6%.
Meskipun angka ini tidak menggambarkan populasi umum.2
Dari data Profil Kesehatan Indonesia 2008 menunjukkan distribusi pasien rawat jalan
menurut International Classification of Disease-10 (ICD-10) di rumah sakit di Indonesia
tahun 2008 dengan golongan sebab sakit Penyakit Kulit dan Jaringan Subkutan terdapat
sebanyak 64.557 pasien baru. Penyakit ini semakin berkembang, hal ini dibuktikan dari data

Profil Kesehatan Indonesia 2010 yang menunjukkan bahwa penyakit kulit dan jaringan
subkutan menjadi peringkat ketiga dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di
rumah sakit se-Indonesia berdasarkan jumlah kunjungan yaitu sebanyak 192.414 kunjungan
dan 122.076 kunjungan diantaranya merupakan kasus baru. Hal ini menunjukkan bahwa
penyakit kulit masih sangat dominan terjadi di Indonesia.

Spektrum isolate dermatofita telah dilakukan sejak 70 tahun yang lalu, dimana
Trichophyton rubrum adalah dermatofita yang paling sering ditemukan sejak 50 abad yang
lalu, kemudian diikuti oleh T. mentagrophytes. Terjadi beberapa evolusi dermatofita pada
beberapa negara. Di Eropa, penemuan T. rubrum pada isolat meningkat dari 41,7% pada
tahun 1950, menjadi 82,7% pada tahun 1993 dari semua isolat dermatofita. Hal ini
disebabkan karena tingginya distribusi tinea pedis dan onikomikosis. Di Eropa Tengah,
khususnya di Switzerland, dari isolat yang ada, T. rubrum adalah dermatofita yang paling
sering ditemukan, yaitu 62,5%, kemudian diikuti dengan T. mentagrophytes 24,5% dan M.
canis sekitar 5%. Di India, dermatofitosis menempati urutan pertama untuk kasus penyakit
kulit, kemudia diikuti oleh kandidiasis dan pitriasis versikolor.1,2
Di Indonesia angka yang tepat, berapa sesungguhnya insidens dermatomikosis belum
ada. Di Denpasar, golongan penyakit ini menempati urutan kedua setelah dermatitis. Angka
insidens tersebut diperkirakan kurang lebih sama dengan di kota-kota besar Indonesia
lainnya. Di daerah pedalaman angka ini mungkin akan meningkat dengan variasi penyakit
yang berbeda.2
Di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo/Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
( RSCM/ FKUI ) Bagian Mikologi Bagian Penyakit Kulit dan Kelamin pada tahun 1992
ditemukan 2500 penderita dari 19.000 jumlah pengunjung bagian tersebut seluruhnya. Ini
berarti kurang lebih 13 % penderita penyakit jamur kulit. Keadaan itu hampir sama dengan
daerah-daerah lain di Indonesia. Demikian pula keadaan di rumah sakit Dr. Sutomo,
Surabaya, dermatomikosis superfisialis masih merupakan penyakit kulit yang banyak
ditemui. Keadaan polikilinik rumah sakit di kota-kota lain diperkirakan tidak banyak berbeda.
Data dari RSUD Kabupaten Buleleng didapatkan penderita penyakit jamur yaitu pada tahun

2004 sebanyak 240 kasus, tahun 2005 sebanyak 390 kasus dan semester I tahun 2006
sebanyak 162 kasus.3
9

Dari data Profil Kesehatan Indonesia 2008 menunjukkan distribusi pasien rawat
jalan menurut International Classification of Disease-10 (ICD-10) di rumah sakit di
Indonesia tahun 2008 dengan golongan sebab sakit Penyakit Kulit dan Jaringan
Subkutan terdapat sebanyak 64.557 pasien baru. Penyakit ini semakin berkembang,
hal ini dibuktikan dari data Profil Kesehatan Indonesia 2010 yang menunjukkan
bahwa penyakit kulit dan jaringan subkutan menjadi peringkat ketiga dari 10 penyakit
terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit se-Indonesia berdasarkan jumlah
kunjungan yaitu sebanyak 192.414 kunjungan dan 122.076 kunjungan diantaranya
merupakan kasus baru. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit kulit masih sangat
dominan terjadi di Indonesia. Pada penelitian di DivisiMikologi URJ Penyakit Kulit
dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surbaya selama tahun 2003-2005, kasus mikosis
superfisial masih banyak ditemukan, dengan urutan pitriasis versikolor, disusul tinea
kruris dan tinea korporis. Hasil penelitian Mulyani (2011) menunjukkan bahwa
penyakit dermatomikosis menjadi menempati urutan pertama di poliklinik RSUD
Kajen Kabupaten Pekalongan pada bulan Juli-September 2010 dengan kunjungan
rata-rata pasien perhari 40% dari penyakit lainnya. Menurut Samuel dkk (2013)
penyebab dermatofitosis yang merupakan bagian dari infeksi superfisial,
mendominasi hasil isolasi jamur yang mereka lakukan yaitu sebanyak 188 temuan
sefangkan jamur penyebab infeksi sistemik hanya sebanyak 26 temuan. Penelitian

lain berdasarkan kunjungan rawat jalan Penyakit Kulit dan Kelamin RS Dr. Sardjito
tahun 1999 dan 2003 menunjukkan bahwa tinea kruris merupakan dermatofitosis
terbanyak dijumpai dengan kunjungan penderita baru dan lama berjumlah 641 pada
tahun 1999 dan kunjungan penderita baru dan lama berjumalah 291 orang pada tahun
2003. Gopichand dkk (2013) menyatakan bahwa tinea kapitis dan tinea korporis lebih
cenderung terjadi pada anak-anak sedangkan tinea unguium, tinea pedis dan pitiriasis
versikolor lebih umum terjadi pada orang dewasa.
3