Anda di halaman 1dari 14

Ekonomi Kesejahteraan

EKONOMI PUBLIK
TEORI BARANG SWASTA

KELOMPOK 1 :

Bangun Putra Agung

(1206105019)

Geo Harioseno

(1206105107)

I Putu Arnadi Putra

(1306105001)

I Gusti Ngurah Agung Anom Arimbawa


I Made Sedane Putra

(1306105002)
(1306105003)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN 2015/2016

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmatNya lah, paper ini dapat terselesaikan dengan baik, tepat pada waktunya. Adapun tujuan
penulisan paper pembahasan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Publik
dengan Judul Teori Barang Swasta.
Dalam penyelesaian paper ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan
oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari
berbagai pihak, akhirnya paper ini dapat terselesaikan dengan cukup baik. Karena itu, sudah
sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih.
Kami sadar, sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan
paper ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya
kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan paper yang lebih baik lagi di masa yang
akan datang.
Harapan kami, semoga paper pembahasan yang kami buat dapat berguna dan bermanfaat
bagi

setiap

orang.

Denpasar, 23 Februari 2015

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan....................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ekonomi Kesejahteraan......................................................................... 2
2.2 Ukuran Kesejahteraan............................................................................................... 4
2.3 Kriteria Pareto........................................................................................................... 5
2.3.1 Tingkatan Kesejahteraan Menurut Teori Pareto............................................. 6
2.4 Kesejahteraan dan Permasalahannya........................................................................ 6
BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN........................................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 9

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kegiatan ekonomi yang tidak terlepas dari pasar, keadaan pasar yang begitu
kompetitif untuk mencari keuntungan, merupakan salah satu hal yang menjadi penghambat
untuk menuju kesejahteraan. Kompetitif dalam pasar merupakan hal yang sangat wajar,
karena persaingan menjadi sesuatu yang wajib dalam mekanisme pasar. Sehingga sangat sulit
menemukan ekonomi yang menyejahterakan jika dilihat dari mekanisme pasar yang ada.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, kegiatan pasar akan banyak mempengaruhi optimal
atau tidaknya kegiatan ekonomi tersebut. Kompetisi dalam pasar juga bisa menimbulkan
dampak negatif untuk terwujudnya ekonomi kesejahteraan. Dimana kompetisi pasar membuat
konteks sosial yang harus diperhatikan dalam pencapaian ekonomi kesejahteraan menjadi
lebih sulit tercapai. Kesejahteraan adalah salah satu aspek yang cukup penting untuk menjaga
dan membina terjadinya stabilitas sosial dan ekonomi, kondisi tersebut juga diperlukan untuk
meminimalkan terjadinya kecemburuan sosial dalam masyarakat. Ekonomi memiliki tugas
untuk memberi prinsip yang rasional bagi bisnis sebagai kegiatan ekonomi, sehingga kegiatan
ekonomi tersebut tidak hanya mengarah diri pada kebutuhan hidup manusia perorang dan
jangka pendek saja, tetapi juga memberi surplus bagi kesejahteraan banyak orang dalam
negara (Mikhael Huda:2000).
1.2

Rumusan Masalah

1. Apa yang efisiensi konsumen ?


2. Apa yang dimaksud efisiensi produsen?
3. Apa saja Kriteria konpensasi ?
1.3 Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui apa yang dimaksud efisiensi konsumen, efisiensi produsen, dan
Kriteria konpensasi.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Ekonomi Kesejahteraan


Ekonomi Kesejahteraan merupakan cabang ilmu ekonomi yang menggunakan teknik

ekonomi mikro untuk menentukan secara serempak efisiensi alokasi dari ekonomi makro dan
akibat distribusi pendapatan yang berhubungan dengan itu (OConnel, 1982). Ekonomi
kesejahteraan adalah kerangka kerja yang digunakan oleh sebagian besar ekonom publik
untuk mengevaluasi penghasilan yang diinginkan masyarakat (Rosen, 2005:99). Ekonomi
kesejahteraan menyediakan dasar untuk menilai prestasi pasar dan pembuat kebijakan dalam
alokasi sumberdaya (Besley, 2002).
Ilmu ekonomi kesejahteraan adalah salah satu cabang ekonomi yang normatif. Bidang
bahasan dari dari ekonomi kesejahteraan berkaitan dengan pertanyaan apa yang buruk dan
apa yang baik. Bidang kajian tersebut sangat berbeda dengan bidang kajian cabang ilmu
ekonomi pasitif. (Allan M. Feldman: 2000). Ekonomi kesejahteraan membahas tentang
bagaimana akhirnya kegiatan ekonomi bisa berjalan secara optimal. Ekonomi kesejahteraan
dalam bahasanya juga akan memikirkan prinsip keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kajian ini mengarahkan kegiatan ekonomi akan memberikan dampak positif terhadap pelaku
ekonomi. Yang mana dalam pengertian yang lebih luas pembahasan dalam ekonomi
kesejahteraan adalah pembahasan yang tidak terlepas dari konteks ilmu sosial.

Diasumsikan bahwa utilitas dapat diukur, maka kurva kemungknan utilitas dapat
digambarka pada gambar 6.6. misalnya, Os dan Oj menunjukkan kombinasi utilitas yang
dapat dicapai oleh masyarakat. Dua krieria pemilihan antara titik-titik Os, Oj yang mungkin
adalah :

Pilih utilitas yang sama antara Satrio dan Joko (titik A)


Pilih utilitas sehingga utilitas total adalah maksimum
Kesejahteraan sosial mengacu pada keseluruhan status nilai guna bagi masyarakat.
Kesejahteraan sosial adalah sering didefinisikan sebagai penjumlahan dari kesejahteraan
semua individu di masyarakat. Kesejahteraan dapat diukur baik secara kardinal yang dalam
dollar (rupiah), atau diukur secara ordinal dalam terminologi nilai guna yang relatif.
Pedekatan lebih umum terhadap kesejahteraan sosial dapat diperoleh dengan meneliti
konsep fungsi kesejahteraan sosial. Fungsi kesejahteraan sosial adalah kura indiferen sosial
yang memberikan kombinasi utilitas bagi individu-individu yang berbeda yang memberikan
tingkat kesejahteraan sosial yang sama. Untuk memudahkan analisis diasumsikan di dalam
masyarakat hanya ada dua individu (satrio dan joko) dimana utilitas masing-masing individu
dilambangkan dengan Us dan Uj, maka fungsi kesejahteraan sosial :
W= f ( Us,Uj )

Persoalan masyarakat adalah mengalokasikan X dan Y antara Satrio dan Joko untuk
memaksimalkan W. Prosedur ini dilukiskan dalam gambar 6.7. Kurva W1,W2, dan W3
mewakili kurva indiferen sosial. Kurva indiferen sosial ini digambarkan cembung terhadap
titik origin karena asumsi masyarakat menunjukkan tingkat substitusi utilitas Satrio dan Joko

yang menurun. Selain itu kurva indiferen sosial berslope negatif karena, apabila Satrio dibuat
better-off, maka Joko harus menjadi wors off, vice-ersa. Untuk membuat Satrio dan Joko
keduanya better-off atau paling tidak salah satu better-off, sementara lainnya tetap well-off
maka, harus bergeser ke kurva indiferen sosial yang lebih tinggi.
Titik E merupakan titik kesejahteraan sosial optimun, karena pada titik ini tingka W
tertinggi dapat dicapai dengan kurva kemungkinan utilitas yang tetap. Ada 2 kriteria
kesejahteraan sosial :
-

Utilitas yang diterima masing-masing individu sama


Jumlah kurva kemungkinan utilitas masyarakat yang terbesar
2.2

Ukuran Kesejahteraan
Terdapat berbagai perkembangan pengukuran tingkat kesejahteraan dari sisi fisik,

seperti Human Development Index (Indeks Pembangunan Manusia), Physical Quality Life
Index (Indeks Mutu Hidup), Basic Needs (Kebutuhan Dasar), dan GNP/Kapita (Pendapatan
Perkapita). Ukuran kesejahteraan ekonomi inipun bisa dilihat dari dua sisi, yaitu konsumsi
dan produksi (skala usaha). Dari sisi konsumsi maka kesejahteraan bisa diukur dengan cara
menghitung seberapa besar pengeluaran yang dilakukan seseorang atau sebuah keluarga
untuk kebutuhan sandang, pangan, papan, serta kebutuhan lainnya dalam waktu atau periode
tertentu.
Kesejahteraan hidup seseorang dalam realitanya, memiliki banyak indikator
keberhasilan yang dapat diukur. Dalam hal ini Thomas dkk, (2005:15) menyampaikan bahwa
kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah dapat di representasikan dari tingkat hidup
masyarakat ditandai oleh terentaskannya kemiskinan, tingkat kesehatan yang lebih baik,
perolehan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan peningkatan produktivitas masyarakat.
Kesemuanya itu merupakan cerminan dari peningkatan tingkat pendapatan masyarakat
golongan menengah kebawah. Todaro secara lebih spesifik mengemukakan bahwa fungsi
kesejahteraan W (walfare) dengan persamaan sebagai berikut:
W = W (Y, I, P)

Dimana Y adalah pendapatan perkapital, I adalah ketimpangan dan P adalah

kemiskinan absolut. Ketiga variabel ini mempunyai signifikan yang berbeda, dan harus
dipertimbangkan secara menyeluruh untuk menilai kesejahteraan negara berkembang.
Berkaitan dengan fungsi persamaan kesejahteraan diatas, diasumsikan bahwa
kesejahteraan

sosial

berhubungan

positif

dengan

pendapatan

perkapita,

namun

berhubungan negatif dengan kemiskinan.

Gambar 2.4
Kurva Indeferen Sosial (Fungsi Kesejahteraan Sosial)
Gambar 2.4 menjelaskan bahwa W1, W2 dan W3 adalah fungsi kesejahteraan sosial atau
kurva indeferen sosial dari peta kesejahteraan petani pekebun yang bersifat padat. Seluruh
titik pada kurva tertentu memberikan tingkat kepuasan atau kesejahteraan yang sama. Petani
pekebun lebih menyukai titik pada fungsi kesejahteraan sosial yang lebih tinggi dan bukan
pada fungsi kesejahteraan yang lebih rendah
2.3

Kriteria Pareto
Kriteria yang paling banyak digunakan dalam menilai ekonomi kesejahteraan adalah

pareto criteria yang dikemukakan oleh ekonom berkebangsaan Italia bernama Vilfredo
Pareto. Kriteria ini menyatakan bahwa suatu perubahan keadaan (eg. Intervention) dikatakan
baik atau layak jika dengan perubahan tersebut ada (minimal satu) pihak yang diuntungkan
dan tidak ada satu pihakpun yang dirugikan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pareto criteria adalah pareto improvement dan
pareto efficient. Kedua hal ini akan mempengaruhi pengambilan keputusan suatu kebijakan

ekonomi. Adapun yang dimaksud dengan pareto improvement adalah jika keputusan
perubahan masih dimungkinkan menghasilkan minimal satu pihak yang better off tanpa
membuat pihak lain worse off.

2.3.1 Tingkatan Kesejahteraan Menurut Teori Pareto


Dalam teori ekonomi mikro ada yang dikenal dengan teori Pareto yang menjelaskan
tentang tiga jenis tingkatan kesejahteraan, yaitu
1.

pareto optimal. Dalam tingkatan pareto optimal terjadinya peningkatan kesejahteraan

seseorang atau kelompok pasti akan mengurangi kesejahteraan orang atau kelompok lain.
2. pareto non optimal. Dalam kondisi pareto non-optimal terjadinya kesejahteraan seseorang
3.

tidak akan mengurangi kesejahteraan orang lain.


pareto superior. Dalam kondisi pareto superior terjadinya peningkatan kesejahteraan
seseorang tidak akan mengurangi kesejahteraan tertinggi dari orang lain. Menurut teori pareto
tersebut, ketika kondisi kesejahteraan masyarakat sudah mencapai pada kondisi pareto
optimal maka tidak ada lagi kebijakan pemerintah yang dapat dilakukan.
2.4

Kesejahteraan dan Permasalahannya


Ilmu ekonomi adalah Ilmu yang dipelajari dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk

mencapai kesejahteraan dan kemakmuran. Indikator dari kesejahteraan terpenuhinya semua


kebutuhan secara layak. Namun untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bukan suatu
hal yang mudah, karena penuh dengan permasalahan-permasalahan yang harus ditanggulangi.
1. Problema kependudukan
Sebagian besar negara di dunia menghadapi problema kependudukan atau demografi
yakni problema tentang cepatnya pertumbuhan penduduk, bahkan terjadi ledakan penduduk
yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan produksi dan lapangan kerja sehingga berdampak
makro di bidang sosial dan ekonomi. Indonesia dalam bidang kependudukan juga
menghadapi problema pokok yakni : pertumbuhan penduduk yang termasuk tinggi, dan
kepadatan penduduk yang tidak merata. Problema ini tentu saja sangat berdampak pada
banyak bidang, khususnya bidang sosial dan ekonomi.
2. Pengangguran dan Inflasi

Masalah pengangguran terjadi di banyak negara, khususnya negara miskin dan


berkembang, tentu saja termasuk Indonesia. Pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi
dengan penyediaan kesempatan kerja merupakan faktor dominan terjadinya pengangguran
disamping karena faktor yang lain diantaranya : rendahnya kualitas sumber daya manusia,
rendahnya investasi, kemalasan manusia, melemahnya kepercayaan pihak luar negeri dll.
Tingginya pengangguran sebagai tolok ukur rendahnya produksi dan berakibat pada
minimnya jumlah barang, bahkan terjadi kelangkaan produk yang dibutuhkan masyarakat,
tentu saja hal ini akan berdampak pada naiknya harga barang pada umumnya yang kita kenal
dengan inflasi. Negara manapun di dunia ini akan berusaha menstabilkan perekonomiannya
dengan upaya utamanya melalui pengendalian laju inflasi.
3. Pertumbuhan dan pencemaran
Pertumbuhan ekonomi suatu negara akan selalu diiringi dan disebabkan oleh
pertumbuhan produksi. Pertumbuhan produksi ditandai dengan pertumbuhan beberapa sektor
produksi : ekstraktip, agraris, industri, perdagangan dan jasa. Pertumbuhan sektor produksi
tersebut khususnya sektor industri, agraris dan ekstraktip sangat mempengaruhi kualitas
lingkungan, sehingga sering kita jumpai dampak negatif dari pertumbuhan sektor ini
menimbulkan pencemaran di darat, laut maupun udara yang sangat mengganggu pada
kualitas pertumbuhan makhluk hidup.
4. Masalah kemiskinan dan kesehatan
Rendahnya produksi, rendahnya kesempatan kerja, tingginya angkatan kerja, tingginya
jumlah pengangguran akan berakibat pada rendahnya pendapatan individu dan masyarakat
yang tentu saja akan berakibat tingginya angka kemiskinan.
Kemiskinan akan sangat berdampak pada rendahnya kemampuan untuk menjaga
kesehatannya. Kondisi ini banyak terjadi di negara-negara berkembang, lebih-lebih pada
negara-negara miskin.
5. Krisis energi
Energi merupakan bagian yang sangat penting bagi perekonomian, khususnya sektor
industri. Keberadaan dan produktifitas industri suatu negara sangat ditentukan oleh
kemampuan untuk menyediakan energi khususnya sebagai sumber tenaga. Kemampuan
menyediakan energi ini sangat ditentukan oleh faktor alam yang dimiliki suatu negara dan

sumber daya alam yang dimiliki khususnya minyak, batu bara dan gas. Banyak negara maju
yang mengalokasikan dananya cukup besar memenuhi kebutuhan energi
BAB III
PENUTUP

3.1
1.

Kesimpulan
Ilmu ekonomi kesejahteraan adalah salah satu cabang ekonomi yang normative dimana
dalam ilmu ini membahas tentang bagaimana kegiatan ekonomi bisa berjalan dengan optimal

disamping juga memikirkan mengenai prinsip keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
2. Ukuran kesejahteraan ekonomi bisa dilihat dari dua sisi, yaitu konsumsi dan produksi (skala
usaha).Kesejahteraan hidup seseorang dalam realitanya, memiliki banyak indikator
keberhasilan yang dapat diukur misalkan kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah
dapat di representasikan dari tingkat hidup masyarakat ditandai oleh terentaskannya
kemiskinan, tingkat kesehatan yang lebih baik, perolehan tingkat pendidikan yang lebih
tinggi, dan peningkatan produktivitas masyarakat.
3. Kriteria yang paling banyak digunakan dalam menilai ekonomi kesejahteraan adalah pareto
criteria. Kriteria ini menyatakan bahwa suatu perubahan keadaan (eg. Intervention) dikatakan
baik atau layak jika dengan perubahan tersebut ada (minimal satu) pihak yang diuntungkan
dan tidak ada satu pihakpun yang dirugikan. Disini Pareto juga membagi tingkat
kesejahteraan menjadi 3 jenis, yaitu pareto optimal, pareto non optimal,dan pareto superior
4. Dalam mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bukan suatu hal yang mudah, karena kita
dihadapkan oleh berbagai permasalahan yang ada, seperti : Problema kependudukan,
Pengangguran dan Inflasi, Pertumbuhan dan pencemaran, Masalah kemiskinan dan
kesehatan, dan Krisis energi.

Daftar Pustaka
http://ereke-agusfekonunhalu.blogspot.com/2009/01/ekonomi-kesejahteraa.html

http://id.termwiki.com/ID/utility_possibilities_curve
Ardiningsih, Sri. Dan Kadarusman, Teori Ekonomi Mikro, Edisi kedua, BPFE
YOGYAKARTA, 2008.
http://www.htmlpublish.com/convert-pdf-to-html/success.aspx?
zip=DocStorage/0551b9b8753948e0ae4517bd39047022/2EP16629.zip&app=pdf2word#
https://firiijb.wordpress.com/2014/03/26/teori-ekonomi-kesejahteraan/
apasihmaumau.blogspot.in/2012/06/ekonom-kesahteraan.html?m=1

Anda mungkin juga menyukai