Anda di halaman 1dari 11

TUGAS EPIDEMIOLOGI

INDEKS PERADANGAN GINGIVA

KELOMPOK 4
1. NURUL AFIYAH J11113010
2. AINUN NUR ARIFAH J11113011
3. MUH AKIRA TAKASHI
J11113012
4. NISA MUSFIRAH J11113028
5. IZABELLA LUBIS J11113029
6. JENNIFER T J11113030
7. CITRA PRATIWI J11113046
8. BELLANDARA SUKMA P
J11113301

9. GRACE APRILIA C J11113302


10. AZNIRA NURUL H J11113320
11. AMELIA SEBON J11113321
12. NENGSI YUSUF J11113322
13. YUSMI AYUNSRI J11113504
14. ZUHRA AN NISA J11113505
15. ANDI YUSTINA J11113506
16. WENNI PUSPA J11113523
17. NIA TARAKANITA J11113524
18. OCTHAVYA DEVIN P
J11113525

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

Indeks yang Berkaitan dengan Peradangan Gingiva

1. Indeks Gingival
Pertama kali diusulkan pada tahun 1963 untuk menilai tingkat keparahan dan
banyaknya peradangan gusi pada seseorang atau pada subjek di kelompok populasi
besar. GI hanya menilai peradangan gusi. Keempat area gusi (fasial, mesial, distal,
lingual/palatal) dinilai tingkat keradangannya dan diberi nilai 0-3.
Nilai atau skor indeks gingiva
Skor
0

Keadaan Gingiva
Gingiva normal:

tidak ada keradangan, tidak ada perubahan warna, dan tidak ada perdarahan
Peradangan Ringan:
terlihat ada sedikit perubahan warna dan sedikit edema, tetapi tidak ada perdarahan saat

probing
Peradangan Sedang:

warna kemerahan, adanya edema, dan terjadi perdarahan pada saat probing
Peradangan Berat:
warna merah terang atau merah menyala, adanya edema, ulserasi, kecenderungan adanya
pendarahan spontan

Kriteria penilaian indeks gingiva


Kriteria
Sehat
Peradangan Ringan
Peradangan Sedang
Peradangan Parah

Skor
0
0,1-1,0
1,1-2,0
2,1-3,0

Untuk memudahkan pengukuran, dapat dipakai enam gigi terpilih yang digunakan
sebagai gigi indeks, yaitu 16, 21, 24, 36, 41, 44, dengan permukaan yang diperiksa dari
setiap gigi anatara lain permukaan bukal, lingual mesial dan distal atau papilla distal
fasial, margin fasial, papilla mesial fasial, dan seluruh margin gingival lingual. Gigi

indeks tersebut dikenal dengan nama Ramford Teeth.


Contoh tabel
Area Gingival Yang Diukur
Gigi Indeks

Mesial

Fasial

Distal

Lingual/Palatal

16

21

24

36

41

44

Total

12

12

GI =

Total skor gingiva


J. Indeks Gigi x J. Permukaan yang diperiksa

35
24

= 1,45 (sedang)1,2,3

2. Modified gingival index (MGI)


MGI dikembangkan oleh RR Lobene, J Weatherford, NM Ross, RA Lamm, dan
C Menaker pada tahun 1986. Index ini merupakan modifikasi dari gingival index
dimana pada index ini gingival probing tidak dilakukan. Hal ini dilakukan untuk
mengurangi kemungkinan distribusi plak saat melakukan probing, menurunkan
kemungkinan terjadinya trauma pada gingiva akibat probing dan meminimalisir dan
meminimalkan kalibrasi yang diperlukan untuk meminimalkan kesalahan pemeriksa.
Gigi yang diperiksa:
Pada MGI, gigi yang diperiksa sama dengan Gingival index (GI) yaitu enam gigi
pilihan antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Molar pertama rahang atas kanan


Insisivus lateral rahang atas kanan
Premolar satu rahang atas kiri
Molar pertama rahang bawah kiri
Insisivus lateralis rahang bawah kiri
Premolar pertama rahang bawah kanan

Permukaan gigi yang diperiksa yaitu permukaan bukal, lingual, mesial, dan distal
masing-masing gigi.
Cara mengukur dan memberikan skor:
MGI menggunakan skala visual untuk menilai kesehatan gingiva. MGI
tergantung pada penilaian visual perubahan gingiva untuk mengukur keparahan
inflamasi. Penilaian menggunakan lima kategori, dengan skala 0-4, skor diberikan
berdasarkan warna, tekstur, edema dan perdarahan spontan dari gingiva. Setiap
permukaan yang diperiksa diberikan skor masing-masing.
Tabel kriteria skor MGI
Skor
0
1

Interpretasi
Tidak ada inflamasi
Inflamasi ringan : terjadi perubahan warna gingiva yang ringan, sedikit
perubahan tekstur pada setiap bagian namun tidak melibatkan daerah

marginal atau papilla gingival


Inflamasi ringan : kriterianya sama namun melibatkan daerah marginal

atau papilla gingival


Inflamasi sedang : glazing, kemerahan, edema, dan/atau hypertrophy

marginal atau papilla gingiva


Inflamasi parah : ditandai dengan kemerahan, edema, dan/atau hipertropi
marginal atau papilla gingiva. Terjadi perdarahan spontan, kongesti dan
ulserasi.

Setelah didapatkan skor masing-masing permukaan, skor kemudian jumlahkan


kemudian dibagi empat untuk mendapatkan nilai rata-rata skor index masing-masing
gigi. Setelah itu, seluruh skor ditambah kemudian dibagi dengan jumlah gigi yang
diperiksa untuk menilai keparahan inflamasi gingiva seseorang.
Interpretasi MGI1,2,4
Kriteria
Sehat
Peradangan ringan
Peradangan sedang
Peradangan berat

Skor
0
0,1-1,0
1,1-2,0
2,1-3,0

3. Indeks Papillary Marginal Attached Gingival (PMA)


Indeks ini

digunakan untuk menilai perubahan pelebaran gingiva pada

penelitian epidemiologi yang luas. Hal ini berdasarkan konsep perluasan inflamasi
yang terjadi sebagai indikator kondisi keparahan. Ada atau tidaknya inflamasi yang
terjadi dapat dilihat dari tiga daerah gingival yang mengelilingi gigi. 3 bagian gingival
tersebut antara lain:

a. Bagian papilla diantara gingiva


1)

Papila yang dilihat yaitu hanya papilla pada bagian distal gigi. Tidak ada
papilla saat gigi dipisahkan oleh diastema atau adanya daerah edentulous.

2) Inflamasi biasanya dimulai dibawah papilla pada area col.


b. Bagian marginal yang mengelilingi gigi
1) Lokasinya diantara papilla, dilekatkan oleh junctional epithelium, dan
dibatasi dari attached gingival oleh groove free gingival.
2) Inflamasi pada papilla dan marginal gingival gingivitis sedang.
c. Attached gingival yang berada diatas tulang alveolar
1) Stippled gingival antara groove free gingiva dan mucogingival junction .
2) Penyebaran inflamasi dari papilla dan marginal gingival ke attached gingiva
gingivitis berat.
Gigi yang diperiksa:

Semua gigi dapat diperiksa, dimulai dari gigi molar kedua rahang atas pada sisi satu ke
sisi yang lainnya, kemudian gigi molar kedua rahang bawah pada sisi yang sama ke
gigi molar kedua pada sisi lainnya. Gigi molar ketiga tidak termasuk dalam
pemeriksaan. Alat yang digunakan dapat berupa pencahayaan yang baik, kaca mulut
dan biasanya digunakan probe untuk menekan gingival.
Kriteria skor
a. Papilla = P
0 = Normal, tidak ada inflamasi.
1+ = Inflamasi ringan pada papilla, ada sedikit peningkatan ukuran papilla.
2+ = Peningkatan ukuran papilla gingival yang nyata, pendarahaan saat ditekan.
3+ = Peningkatan ukuran papilla dengan pendarahan spontan
4+ = Nekrosis papilla
5+ = Atrofi dan hilangnya papilla
b. Marginal = M
0 = Normal, tidak terlihat adanya inflamasi
1+ = Inflamasi, sedikit peningkatan ukuran, tidak ada pendarahan
2+ = Inflamasi, pendarahan saat ditekan
3+ = pembengkakan, pendarahan spontan, infiltrasi sampai ke attached gingival
4+ = Nekrosis gingivitis
5+ = Resesi marginal gingival dibawah sementoenamel junction sebagai hasil
perubahan inflamasi
c.

Attached = A
0

= Normal

1+ = Inflamasi ringan dengan hilangnya stippling, dapat terjadi perubahan


warna
2+ = Inflamasi attached gingiva dengan munculnya peningkatan kemerahan,
dan pembentukan poket
3+ = Periodontitis, poket yang dalam. 1,4,6
4. Papilla Bleeding Indeks (PBI)
Dikembangkan untuk digunakan di klinik pribadi dan tidak untuk penelitian
epidemiologis. Indeks ini merupakan indikator untuk mengetahui keparahan

peradangan gusi pada seseorang dengan hanya mengukur 28 tempat pada gingiva di
daerah papilla pada gigi tetap (M3 tidak dihitung).
Prroing dilakukan pada keempat kuaadran. Pada kuadran pertama yang diperiksa hanya
bagian palatal, kuadran kedua bagian fasial/bukal RA, kuadran ketiga pada bagian
lingual dan kuadran keempat bagian fasial/bukal RB. Dilakukan dengan menelusuri
sulkus dengan probe yang tidak tajam dan dengan tekanan jari mulai dari dasar papilla
hingga puncaknya dari distal ke mesial. Intensitas pendarahan dinilai dalam skor dan
dicatat dlam chart PBI.

Skor

Kriteria

Jika ditemukan perdarahan pada satu titik setelah dilakukan probing 20-30
detik

Jika ditemukan garis perdarahan atau beberapa titik perdarahan di beberapa


tempat

Segitiga papilla menjadi berdarah setelah probing

Terlihat perdarahan yang nyata. Segera setelah probing, darah mengarah ke


interdental dan menutupi bagian gigi atau gingiva.

Jumlah seluruh skor menunjukkan Jumlah perdarahan. PBI dihitung dengan cara
membagi jumlah perdarahan dengan total papilla yang diperiksa1
5. Gingival Bleeding Index (GBI)
Gigi yang diperiksa :
Rongga mulut dibagi menjadi 6 segment, (kanan atas, anterior atas, kiri atas, kiri
bawah, anterior bawah, dan kanan bawah). Daerah yang menyangkut gigi molar tiga
tidak dinilai karena posisi, akses, dan sudut pandang yang bervariasi.
Metode
Dental floss tanpa wax dilewatkan secara interproksimal ke dalam sulkus gingival pada
kedua sisi papilla interdental. Dental floss kemudian ditarik ke arah incisogingival
dengan satu tarikan secara hati-hati agar tidak melukai papilla. Setiap unit
interproksimal baru menggunakan dental floss yang baru.

Pendarahan biasanya terlihat secara langsung pada daerah tersebut atau pada
dental floss, tetapi diperbolehkan 30 detik untuk pemeriksaan ulang tiap segmen. Jika
terjadi pendarahan, pasien diinstruksikan untuk berkumur sebelum segmen selanjutnya
diperiksa.
Daerah papilla interdental tidak dihitung apabila posisi gigi, diastema, atau
faktor lainnya berpengaruh terhadap relasi interproksimal.
Cara menilai
Kode:

Tidak ada pendarahan : - (kosong)


Ada pendarahan
:B
Tidak dinilai
:X

Daerah

interproksimal

gigi Kode

rahang atas
17-16
16-15
15-14
14-13
12-11
11-21
21-22
22-23
23-24
24-25
25-26
26-27
Hal ini juga dilakukan untuk segmen rahang bawah.
Hasil dan interpretasi
Total daera h penilaian=26(daera h yang tidak dinilai)

Gingival Bleeding Score= jumla h daera h yang mengalami pendara h an


Semakin sedikit jumlah perdarahan, semakin kurang gingivitis. Idealnya skor
harus 0. Jika pasien harus diikuti dari waktu ke waktu, daerah yang mengalami
perdarahan sebelumnya dipantau untuk mengamati berkurangnya pendarahan pada
daerah tersebut. Tujuan dari intervensi adalah untuk mengurangi skor sebanyak

mungkin.1

Perubahan Plak Menjadi Kalkulus atau Karies Gigi


Plak gigi adalah lapisan biofilm bakteri yang melekat pada permukaan gigi.
Perubahan plak menjadi kalkulus atau karies gigi tergantung oleh beberapa faktor.
Pada perubahan plak menjadi kalkulus, plak tersebut mengalami proses mineralisasi
sehingga menjadi suatu massa padat yang disebut kalkulus. Proses mineralisasi dapat
berlangsung 1-14 hari setelah pembentukan plak. Mineralisasi ini disebabkan oleh
garam mineral yang bersumber dari saliva, terutama oleh gingival crevicular fluid,
sehingga kalkulus seringkali terdapat pada daerah perbatasan gingival. Kandungan
kalsium dalam plak berkisar antara dua hingga dua puluh kali lipat daripada kandungan
kalsium dalam saliva. Plak yang berpotensi menjadi kalkulus memiliki kadar kalsium
yang lebih tinggi, kadar fosfat tiga kali lipat, dan kadar kalium yang relative lebih
rendah dibandingkan plak yang tidak berpotensi menjadi kalkulus.
Terdapat beberapa teori yang menjelaskan proses plak menjadi kalkulus, yaitu:
1. Presipitasi mineral karena meningkatnya ion kalsium dan fosfat. Hal tersebut
disebabkan oleh meningkatnya pH saliva sehingga konstan presipitasi menurun,
protein colloidal saliva mengikat kalsium dan fosfat, atau fosfatase yang
dibebaskan dari plak gigi, sel epitel deskuamasi, atau bakteri mengendapkan
kalsium fosfal dengan menghidrolisis fosfat organic dalam saliva sehingga
konsentrasi ion fosfat bebas meningkat.
2. Ada agen yang memicu terjadinya induksi kalsifikasi kecil yang berkembang
membentuk massa kalsifikasi
Peran bakteri dalam pembentukan kalkulus tidak terlalu penting, namun juga
berpengaruh. Organisme berfilamen, diphtheroid, dan spesies Bacterionema atau
Veillonella memiliki kemampuan untuk membentuk Kristal apatit intraseluler.
Mineralisasi kemudian dapat menyebar hingga matrik dan bakteri terkalsifikasi.6
Lain dengan proses pembentukan kalkulus, terdapat peranan penting bakteri
dalam proses pembentukan karies. Plak yang berpotensi untuk berkembang menjadi
karies memiliki kandungan bakteri Streptococcus mutans dan Lactobacilli. Bakteri

tersebut memetabolisme karbohidrat yang dapat difermentasi sehingga menyebabkan


pH menurun. Akibatnya, proses demineralisasi gigi terjadi. Dalam keadaan pH kurang
dari 5,5, proses demineralisasi gigi dapat terjadi. Biasanya, terdapat sistem buffer saliva
untuk menyeimbangkan pH kembali, dan proses remineralisasi kembali memulihkan
komponen gigi. Proses demineralisasi dan remineralisasi terjadi secara bergantian.
Akan tetapi, jika metabolisme bakteri terjadi terus menerus dalam periode lama dan
keadaan pH melebihi kapasitas buffer saliva, maka demineralisasi gigi akan terus
terjadi. Pada saat demineralisasi gigi menyebabkan struktur gigi hancur, maka
terbentuklah karies.7,8

Daftar Pustaka
1. Marya CM. A textbook of public health dentistry. New Delhi: Jaypee; 2011.p.
193, 196-7.
2. Reddy S. Essentials of Clinical Periodontology. 3rd ed. New Delhi: Jaypee;
2011.p. 45.
3. Sasea A, Lampus BS, Supit A. Gambaran status kebersihan rongga mulut dan
status gingival pada mahasiswa dengan giigi berjejal. Jurnal e-GiGi 2013; 1(1):
52-8
4. Bathla, S. Periodontics Revisite. New delhi ; Jaypee : 2011. pp 47
5. Cappelli, DP. Moble, CC. Prevention in Clinical oral health care. USA ; Elsevier
: 2008. pp 20-1
6. Newman, et al. Caranzas Clinical Periodontology. 11th ed. Missouri: Elsevier
Saunders. 2012. p.217-21
7. Fejerskov O, Edwina K. Dental Caries: The Disease and its Clinical
Management. 2nd ed. Frencken: Blackwell Munksgaard. 2008
8. Roberson TM, Heymann HO, Swift EJ. Sturdevants Art and Science of
Operative Dentistry. Missouri : Mosby Elsevier. 2006