Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN AKHIR HASIL PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

PERCOBAAN X
FUNGI PENGHASIL ANTIBIOTIK

Disusun oleh:
1. Anfina Ilma Yunita
2. Ririn Anjar Pradita
3. Cici Fatmala

(4311414004)
(4311414012)
(4311414026)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI


FUNGI PENGHASIL ANTIBIOTIK

I.

LATAR BELAKANG
Mikroba seperti makhluk hidup lainnya memerlukan nutrisi pertumbuhan.

Pengetahuan akan nutrisi pertumbuhan ini akan membantu di dalam


mengkultivasi, mengisolasi dan mengidentifikasi mikroba. Mikroba memiliki
karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan pertumbuhannya.
Ada mikroba yang bisa hidup hanya pada media yang mengandung sulfur dan ada
pula yang tidak mampu hidup dan seterusnya. Karakteristik persyaratan
pertumbuhan mikroba inilah yang menyebabkan bermacam-macamnya media
penunjang pertumbuhan mikroba. Media adalah substansi yang memenuhi
kebutuhan nutrisi mikroorganisme.
Populasi mikroorganisme dialam tidak terpisah menjadi spesies-spesies
tersendiri,

melainkan

merupakan

populasi

campuran

dari

berbagai

mikroorganisme atau disebut juga biakan campuran. Populasi campuran tersebut


dapat dipisahkan menjadi kultur murni yang mengandung hanya satu
mikroorganisme saja dilaboratorium. Teknik pemisahan tersebut dikenal sebagai
teknik isolasi, gunanya untuk mempermudah pengamatan terhadap sifat-sifat
setiap jenis mikroorganisme yang diinginkan.
Penelaah bakteri khususnya dalam skala laboratorium, maka terlebih
dahulu kita harus dapat menumbuhkan mereka dalam suatu biakan yang mana di
dalamnya hanya terdapat bakteri yang kita butuhkan tersebut tanpa adanya
kontaminasi dari mikroba lain. Biakan yang semacam ini biasanya dikenal dengan
istilah biakan murni. Untuk melakukan hal ini, haruslah di mengerti jenis- jenis
nutrien yang disyaratkan bakteri dan juga macam ligkungan fisik yang
menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhan bakteri tersebut.
Penemuan Alexander Fleming berupa antibiotik penisilin merupakan
tonggak awal perlawanan terhadap bakteri. Penggunaan antibiotik sampai
sekarang merupakan cara yang paling efektif untuk mengobati penyakit-penyakit

yang disebabkan bakteri. Apabila diberikan sesuai dosis yang diperlukan, daya
kerjanya tidak hanya dapat menghentikan daya tumbuh bakteri, melainkan juga
membasminya hingga tuntas.
Antibiotik adalah segala macam bahan yang dihasilkan dan dikeluarkan
suatu mikroorganisme yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme
lain. Bahannya merupakan racun spesifik yang dapat membunuh organisme
saingan tanpa merusak sel-sel hidup di sekitarnya. Masing-masing tipe antibiotik
memberikan efek yang berbeda terhadap bermacam jenis bakteri. Beberapa
antibiotik membunuh bakteri dengan menghambat kemampuannya dalam
mengubah glukosa menjadi energi, atau menghilangkan kemampuan bakteri untuk
membentuk dinding sel. Apabila hal ini terjadi, maka bakteri tersebut tidak akan
dapat berkembang biak dan kemudian mati.
Bahan baku antibiotik adalah mikroba penghasil antibiotik alami, misal
mikroba penghasil antibiotik yang potensial dari tanah dan tanaman yang tumbuh
sangat beragam di Indonesia dan diperkirakan banyak yang dijadikan sebagai
sumber penghasil antibiotik, mengingat tanah merupakan tempat yang subur
untuk pertumbuhan berbagai mikroba. Karena jumlah terbesar antibiotik (85
persen) berasal dari kelas Actinomycetes, khususnya Streptomyces, sehingga
isolasi dikhususkan untuk kelas Actinomycetes. Antibiotik dibuat dari bakteri bakteri yang dapat membunuh bakteri patogen tanpa efek samping terhadap tubuh
manusia, biasanya menggunakan biomaterial, di antaranya, tetracyclin yang
digunakan untuk infeksi, sakit gigi, dan luka. Jenis chloramphenicol digunakan
untuk penyakit tifus. Jenis griseofulfin digunakan untuk membunuh jamur serta
combantrin untuk membunuh cacing. Berdasarkan latar belakang tersebut maka
dilakukan praktikum Isolasi Fungi Penghasil Antibiotik dilakukan.
II.

TUJUAN
Tujuan praktikum isolasi fungi penghasil antibiotik yang akan dicapai
setelah mahasiswa melakukan percobaan yaitu :
1. Mampu melakukan berbagai teknik mikrobiologi dalam
skrining (menanam, mengisolasi, memurnikan biakan, dan

melakukan

tes

terhadap

kemampuan

biakan

yang

menghasilkan antibiotik)
2. Mendapatkan mikroorganisme yang menghasilkan antibiotik
dari jaringan tanaman
3. Mendapatkan mikroorganisme yang menghasilkan antibiotik
dari tanah.
III.

LANDASAN TEORI
Mikroorganisme adalah sumber enzim yang paling banyak digunakan
dibandingkan

dengan

tanaman

dan

hewan.

Sebagai

sumber

enzim,

mikroorganisme lebih menguntungkan karena pertumbuhannya cepat, dapat


tumbuh pada substrat yang murah, lebih mudah ditingkatkan hasilnya melalui
pengaturan

kondisi

pertumbuhan

dan

rekayasa

genetik,

serta

mampu

menghasilkan enzim yang ekstrim (Buckle, 2003).


Mikroorganisme dapat diperoleh dari lingkungan air, tanah, udara,
suubstrat

yang

berupa

bahan

pangan,

tanaman

dan

hewan.

Jenis

mikroorganismenya dapat berupa bakteri, khamir, kapng dan sebagainya. Populasi


dari mikroba yang ada di linkungan ini sangatlah beraneka ragam sehinga dalam
mengisolasi diperlukan beberapa tahap penanaman sehingga berhasil diperoleh
koloni yang tunggal. Koloni yang tunggal ini kemudian yang akan diperbanyak
untuk suatu tujuan penelitian misalnya untuk menngisolasi DNA mikroba yang
dapat mendeteksi mikroba yang telah resisten terhadap suatu antibiotik. Atau
untuk mengetahui mikroba yang dipakai untuk bioremediasi holokarbon (Ferdiaz,
1992).
Mengisolasi suatu mikroba adalah memisahkan mikroba tersebut dari
lingkungannya di alam dan menumbuhkannya sebagai biakan murni (populasi
sel yang semuanya berasal dari satu sel individu) dalam medium
buatan. Untuk mengisolasi harus diketahui cara-cara menanam dan menumbuhkan
mikroba pada medium biakan serta syarat-syarat lain untuk pertumbuhannya
(Jutono, 1980).
Cara isolasi dan identifikasi bakteri adalah merupakan
suatu topik yang sangat luas dan hanya dapat dilakukan oleh

orang-orang yang telah berpengalaman. Cara-cara ini adalah


suatu tantangan yang menarik bagi para mikrobiologiawan,
karena mikroorganisme atau bakteri tersebut terdapat dalam
berbagai sumber yang terdiri dari ribuan spesies, dan terdapat
dalam

berbagai

habitat.

(Mutschler,

1991).

Mikroorganisme

dibiakkan di laboratorium pada bahan nutrien yang disebut


medium. Banyak sekali medium yang tersedia, macamnya yang
dipakai bergantung pada beberapa faktor salah satu diantaranya
ialah macam organisme yang akan ditumbuhkan (Dwidjoseputro,
1989).
Begitu

pentingnya

mikroorganisme

kultur

(bakteri),

murni
maka

dalam

identifikasi

cara-cara

untuk

memperolehkultur murni menjadi sangat fundamental bagi


bidang mikrobiologi. Ada beberapa metode dalam mengisolasi bakteri, fungi
dan khamir (miroorganisme) yaitu dengan menggunakan metode gores, metode
tuang, metode sebara, metode pengenceran serta micromanipulator. Dua
diantaranya yang paling sering digunakan adalah teknik cawan dan cawan gores.
Kedua metode ini berdasarkan pada prinsip yang sama yaitu mengencerkan
mikroorganisme sedemikian rupa sehingga tiap individu spesies dapat dipisahkan
dengan lainnya (Hadioetomo, 1993).
Metode piringan tuangan (pour-plate metod) pertama kali mengadakan
piaraan biasanya diperoleh dari piaraan campuran, piaraan pertama disebut
primary culture dan sifatnya murni. Piaraan semacam ini dapat disimpan tetapi
harus diadakan peremajaan dengan memindahkannya ke medium baru yang
disebut piaraan turunan (Sub-culture) yaitu piaraan yang diperoleh dari piaraan
pertama. Persyaratan utama bagi isolasi dan kultivasi fage ialah harus adanya
kondisi optimum untuk pertumbuhan organisme inangnya. Sebelum diinokulasi
tangan dan tempat kerja disemprot dengan alkohol dengan menggunakan metode
aseptik, jarum inokulasi disterilkan dengan membakarnya, dengan api sampai
jarum tersebut pijar (Irianto, 2006).

Kulturisasi bakteri untuk keperluan yang bermanfaat, pada umumnya


dilakukan dengan biakan murni. Biakan murni hanya mengandung satu jenis.
Untuk mengisolasi bakteri dalam biakan murni, umumnya digunakan dua
prosedur yaitu: metode agar cawan dengan goresan dan metode agar tuang.
Sebelum bakteri diinokulasi, tangan dan tempat kerja disemprot dengan alkohol
dengan menggunakan metode aseptik, jarum inokulasi disterilkan dengan
membakarnya, dengan api sampai jarum tersebut pijar (Volk & Wheeler, 1998).
Medium pertumbuhan mikroba adalah suatu bahan yang terdiri dari
campuran nutrient yang diperlukan mikroba untuk pertumbuhannya. Dengan
menggunakan medium pertumbuhan,

aktivitas

mikroba dapat dipelajari

dandengan medium tumbuh dapat dilakukan isolasi mikroba menjadi kultur


murni, perbanyakan, pengujian sifat fisiologis, dan perhitungan jumlah mikroba
(Pelczar, 1986).
Kebanyakan spesies fungi dapat tumbuh dalam rentang pH
yang lebih lebar, dari sangat asam sampai sangat alkali. Populasi
fungi biasanya mendominasi daerah asam, karena mikroba lain
seperti bakteri dan aktinomisetes tidak lazim dalam habitat
asam. Dalam biakan, bahkan fungi dapat tumbuh pada pH 2 -- 3
dan beberapa strain masih aktif pada pH 9 atau lebih. Sebagai
salah satu organisme penghasil anti-biotik yang terkenaf yaitu :
Penicilium

(penisilin,

griseoful-

vin),

Cephalosporium

(sefalosporin) serta beberapa fungi lain seperti Aspergillus


(fumigasin);

Chaetomium

Trichoderma

(gliotoxin)

(chetomin);

dan

lain-lain.

Fusarium
Isolasi

(javanisin),

fungi

sering

menggunakan plate count. Pada prinsip-nya, suspensi contoh


tanah dalam air steril, diinokulasikan pada medium agar spesifik.
Untuk menekan pertumbuhan bakteri dan aktinomisetes yaitu
dapat dengan mengasamkan media sampai pH 4,0. Ini bukan
berarti fungi mempunyai pertumbuhan optimum pada kondisi
asam, tetapi untuk mengurangi kompetitor. Selain itu juga dapat
menggunakanbakteriostatik seperti penisilin, novobiosin dan

sebagainya. Sedangkan pada isolasi yeast, untuk menekan


pertumbuhan

bakteri

dan

jamur

dapat

digunakan

sodium

propionat. Populasi fungi dipengaruhi banyak faktor antara lain


oleh zat organik, anorganik, pH, kelembaban, aerasi, temperatur,
musim dan komposisi vegetasi.
Antibiotik adalah zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri.
Antibiotika memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman,
sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Sumber mikroba penghasil
antibiotika anatara lain berasal dari tanah, air laut, lumpur, kompos, isi rumen,
limbah domestik, bahan makanan busuk, dan lainnya. Kebanyakan mikroba
penghasil antibiotik diperoleh dari tanah, terutama genus Streptomyces (90-95%
dari Actinomyces) dan fungi. Tanah merupakan tempat interaks biologis yang
paling dinamis dan memiliki 5 kategori utama, yaitu partikel mineral, bahan
organik, air, gas, dan jasad hidup. Bila suatu contoh tanah diinokulasikan pada
agar nutrient dan diinkubasikan pada suhu 35, maka beberapa bakteri yang tidak
akan tumbuh ialah termofil obligat, disamping psikofil, anaerob, dan autotrof.
Protozoa tidak akan tumbuh dan hanya beberapa algae dan cendawan akan
tumbuh (Pelczar, 1986).
Antibiotik dapat dibedakan menjadi antibiotik terhadap sel prokariotik dan
sel eukariotik. Penemuan sumber-sumber antibiotik dialam dilakukan dengan cara
penapisan/ screening. Ada dua tahan skrining:
1. Tahap skrining primer
a. Mencari sumber penghasilan.
b. Menumbuhkan mikroba yang didapatkan.
c. Mengisolasi dan mengkoleksi mikroba.
2. Tahap skrining sekunder
a. Mendapatkan koloni mikroba yang terpilih.
b. Mencari kondisi optimum pertumbuhan.
c. Mengidentifikasi mikroba.
d. Mengidentifikasi substansi (Pratiwi, 2004).
Berdasarkan cara kerjanya, antibiotik dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu
antibiotika bakteriostatik (menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri)
dan antibiotika bakterisidik (mematikan bakteri). Mekanisme kerja antibiotika
umumnya sebagai berikut:

1. Menghambat

biosintesis

dinding

sel

(penisilin,

sefalosporin,

sikloserin, basitrasin)
2. Meninggikan permeabilitas membran (sitoplasma, sefalosporin,
sikloserin, basitrasin)
3. Mengganggu sintesis

protein

normal

bakteri

(tetrasiklin,

kloramfenikol, citromisin, novobiosin, antibiotika aminoglikosida).


Antibiotik dibagi berdasarkan:
1. Pendekatn kimia, yang terdiri dari daro golongan beta laktam, amino
2.
a.
b.
c.
d.
3.
4.
IV.

glikolisin, tetrasiklin, klorampenikol, polipeptida, dan maktohida.


Mekanisme kerja terdiri dari:
Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel
Antibiotik yang menghambat sintesis protein
Antibiotik yang mempengaruhi membran sel
Antibiotik yang mempengaruhi biosintesis asam nukleat
Sasaran kerja.
Daya kerja (Volk & Wheeler, 1998).

ALAT DAN BAHAN


Tahap I
1. Cawan petri (2)
2. Scalpel dan pinset
3. Erlenmeyer
4. Media PDA dan kloramfenikol
5. Aquadest
6. Natrium Hipoklorid 5%
7. Etanol
8. Bunsen
9. Tabung reaksi
10. Mikro pipet dan yellow tip
11. Larutan saline
12. Spreader glass
13. Sampel tanah dan tanaman

Tahap II
1. Cawan petri (2)
2. Jarum ose
3. Bunsen
4. Alkohol
5. Media PDA
Tahap III
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Cawan petri (2)


Alat untuk plug
Bunsen
Alkohol
Media NA dan NB
Kultur Staphylococcus aureus
dan Escherichia coli

V.

CARA KERJA
Tahap I
A. Menggunakan jaringan tanaman (daun)

Membersihkan
bagian tanaman
yang akan
digunakan
dengan air

Sterilisasi
dengan
etanol 70%
selama 2

Potong kecilkecil menjadi


3 cm

Dibilas
1x
dengan
aquadest

Menanam
bagian tanaman
tersebut ke
dalam cawan
petri yang telah
berisi media

Mensterilka
n daun tadi
dengan

natrium
hipoklorid

Memasukkan
potongan daun
tadi ke
erlenmeyer

Dibilas
3kali
dengan

Menginkubasi pada
suhu 37oC selama
semalam dan
mengamati daya
hambat sampai 3 hari

Daun tadi
ditiriskan dalam
petri dish yang
berisi kertas
saring

B. Menggunakan Tanah

Menimbang
1 gram
tanah

1 gram Sampel
tanah
disuspensikan
dengan larutan
saline 10 mL

Mengencerkan
hingga
konsentrasi 10-2

Membungkus
cawan petri
tadi dengan
koran
Menginkubasi pada
suhu kamar
sampai praktikum
selanjutnya

Menuangkan 0.5 mL
suspense ke cawan
petri yang telah
berisi media PDA

Tahap II

Membungkus
cawan petri
tadi dengan
koran
Mengambil kolni dengan
jarum ose dan
memindahkannya ke media
PDA yang baru

Tahap III

Menginkubasi pada
suhu kamar
sampai praktikum
selanjutnya

Kultur bakteri
uji dengan
standar
McFarland 0.5

Inokulum bakteri
dipindahkan ke 1 mL media
NB ditabung reaksi

Menginkubasi pada
suhu 37oC selama
18-24 jam

Menuangka
n 0.1 mL
kultur
bakteri

Mencampurkannya dengan 10
mL NA ke dalam cawan petri

Membuat plug pada


media NA

Menempatkan plug
pada media PDA ke
media NA

VI.

Ditunggu
sampai
memadat

Membuat plug pada media


PDA fungi

Menginkubasi pada
suhu 37oC selama
semalam dan
mengamati daya
hambat sampai 3 hari

DATA PENGAMATAN
Data pengamatan berdasarkan hasil percobaan yang
telah dilakukan oleh kelompok 8 dengan sampel
tanah yang diambil di dekat makam.
a. Hasil dari tahap I
No.

Pengence
ran

Gambar

Keterangan

1.

2.

10-1

Setelah diinkubasi tidak


didapatkan adanya fungi
yang tumbuh pada
media PDA

10-2

Setelah diinkubasi
didapatkan adanya fungi
yang tumbuh pada
media PDA dengan
warna hitam, merah, dan
hijau

b. Hasil dari tahap II


No.

Warna
jamur

1.

Hijau

2.

Hitam

Gambar

Keterangan
Setelah diinkubasi
didapatkan adanya fungi
yang tumbuh pada
media PDA dengan
warna fungi hijau, tetapi
terdapat juga bakteri
yang tumbuh disamping
fungi, dan terlihat
adanya zona bening di
sekeliling bakteri yang
tumbuh.
Setelah diinkubasi
didapatkan adanya fungi
yang tumbuh pada
media PDA dengan
warna fungi hitam, tetapi
terdapat juga bakteri
yang tumbuh disamping
fungi.

c. Hasil dari Tahap III (Pengukuran Zona Hambat)

Bakteri

S. aureus

Medi
a

Warn
a
Jamu
r

NA
Hijau

E. coli

Hari Perhitungan
Peng
ukur
an
ke-1

Pen
guk
uran
ke-2

Peng
ukur
an
ke-3

Tida
k
ada

Tida
k
ada

Tida
k
ada

PDA

Peng
ukur
an

ke-4
Tida
k
ada

Rata-Rata

Gam

Tidak terdapat
zona bening

Tak teridentifikasi

Perbandingan dengan kelompok lain

Kelomp
ok

Medi
a

Pen
guku
rank
e-1

Peng
ukur
an
ke-2

Peng
ukur
an
ke-3

Peng
ukur
an

RataRata
(cm)

ke-4

Tidak terdapat zona


bening

Tidak
ada

NA

E. coli

2
Tanah
Lab.
Kimia
belakang
gedung
D8

Bakteri

S.
aureus

1
Sampel
Daun
Sirih

Perhitungan Zona
Hambat

S.
aureus

1.4

1.2

1.9

1.3

Tidak terdapat zona


bening

1.45

Tidak
ada

NA
E. coli

0.4

0.2

0.1

0.2

0.225

Gamb

S.
aureus

3
Tanah di
samping
Lab.
Kimia

E. coli

0.1

0.3

0.2

0.1

0.175

S.
aureus

0.8

0.7

0.9

0.8

0.8

E. coli

2.4

1.9

2.2

2.0

2.125

S.
aureus

0.6

0.3

0.2

0.2

0.325

E. coli

0.9

1.1

0.6

0.9

0.875

NA

S.
aureus

1.1

1.4

0.9

1.3

1.175

PDA

E. coli

NA

5
Tanah di
sebelah
Lab.
Kimia

6
Tanah
Dekat
Makam

Tidak
ada

NA

4
Tanah
Lab.
Kimia

Tidak terdapat zona


bening

NA

Tak teridentifikasi

Tidak
ada

7
Tanah
Dekat
Makam

9
Tanah
Dekat
Makam

10
Tanah
Lab.
Kimia

VII.

NA

S.
aureus

PDA

E. coli

Tak teridentifikasi

Tidak
ada

NA

S.
aureus

Tidak terdapat zona


bening

Tidak
ada

PDA

E. coli

Tak teridentifikasi

Tidak
ada

NA

S.
aureus

PDA

E. coli

0.4

0.5

0.6

0.4

0.9

0.2

1.3

0.3

Tak teridentifikasi

ANALISIS DATA
Diketahui:
Diameter lingkar jamur yang dipakai : 1.1 cm
Besar zona hambat = diameter zona bening diameter
lingkar jamur
1. Kelompok 1
Sampel jaringan tanaman yang berupa daun sirih.
S. aureus : Tidak ada zona bening yang terbentuk

0.5

0.35

Tidak
ada

E. coli :

( 2.51.1 ) + ( 2.31.1 ) + ( 3.01.1 ) +(2.41.1)


4
1.4+1.2+1.9+1.3+ =1.45 cm
4

2. Kelompok 2
Sampel berupa tanah yang diambil dari belakang
Laboratorium kimia atau dibelakang D8
S. aureus : Tidak ada zona bening yang terbentuk
E. coli :
( 1.51.1 ) + ( 1.31.1 ) + ( 1.21.1 ) +(1.31.1)
4

0.4 +0.2+0.1+0.2
=0.225 cm
4

3. Kelompok 3
Sampel berupa

tanah

yang diambil

dari

samping

laboratorium kimia.
S. aureus : Tidak ada zona bening yang terbentuk
E. coli :
( 1.21.1 )+ ( 1.41.1 ) + ( 1.31.1 ) +(1.21.1)
4

0.1+ 0.3+0.2+0.1
=0.175 cm
4

4. Kelompok 4
Sampel berupa

tanah

yang diambil

laboratorium kimia
S. aureus :
( 1.91.1 ) + ( 1.81.1 ) + ( 2.01.1 )+(1.91.1)
4

dari

samping

0.8+ 0.7+0.9+ 0.8


=0.8 cm
4
E. coli :
( 3.51.1 ) + ( 3.01.1 ) + ( 3.31.1 )+(3.11.1)
4

2.4 +1.9+2.2+2.0
=2.125 cm
4
5. Kelompok 5
Sampel berupa tanah yang diambil dari tanah yang
berada di sebelah laboratorium kimia.
S. aureus :
( 1.71.1 ) + ( 1.41.1 ) + ( 1.31.1 ) +(1.31.1)
4

0.6 +0.3+0.2+0.2
=0.325 cm
4
E. coli :
( 2.01.1 ) + ( 2.21.1 ) + ( 1.71.1 ) +(2.01.1)
4

0.9+ 1.1+ 0.6+0.9


=0.875 cm
4

6. Kelompok 6
Sampel berupa tanah yang diambil dari dekat makam
S. aureus :
( 2.21.1 )+ ( 2.51.1 ) + ( 2.01.1 )+(2.41.1)
4

1.1+1.4 +0.9+1.3
=1.175 cm
4

E. coli :

Tidak teridentifikasi

7. Kelompok 7
Sampel berupa tanah yang diambil dari dekat makam
S. aureus :
( 1.51.1 ) + ( 1.71.1 ) + ( 2.01.1 ) +(2.41.1)
4

0.4 +0.6+ 0.9+ 1.3


=0.5 cm
4
E. coli :

Tidak teridentifikasi

8. Kelompok 8
Sampel berupa tanah yang diambil dari dekat makam
S. aureus : Tidak terdapat zona bening
E. coli :

Tidak teridentifikasi

9. Kelompok 9
Sampel berupa tanah yang diambil dari dekat makam
S. aureus : Tidak terdapat zona bening
E. coli : Tidak teridentifikasi
10. Kelompok 10
Sampel berupa tanah yang diambil dari tanah yang
berada di sebelah laboratorium kimia.
S. aureus :
( 1.61.1 ) + ( 1.51.1 ) + ( 1.31.1 )+(1.41.1)
4

0.5+0.4+0.3+ 0.3
=0.35 cm
4
E. coli :
VIII.

Tidak teridentifikasi

PEMBAHASAN
Isolasi merupakan proses memindahkan mikroba uji dari lingkungannya
untuk memperoleh biakan murni. Hal ini dilakukan untuk memperoleh biakan

murni yang hanya mengandung satu mikroorganisme untuk diidentifikasi


sebagai mikroba penghasil antibiotik. Antibiotik sendiri merupakan bahan atau
senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat membunuh atau
menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain.
Jadi isolasi antibiotik merupakan suatu cara untuk memisahkan suatu
mikroorganisme dari lingkungannya. Dimana di sini mikroorganisme tersebut
memiliki suatu senyawa yang dapat menghambat atau membunuh
mikroorganisme lain (utamanya yang bersifat pathogen pada manusia) yang
disebut

sebagai

antibiotik,

sehingga

diperoleh

biakan

murni

dari

mikroorganisme tersebut.
Percobaan ini bertujuan untuk melakukan
mikrobiologi

dalam

skrining

berbagai

(menanam,

teknik

mengisolasi,

memurnikan biakan, dan melakukan tes terhadap kemampuan


biakan

yang

menghasilkan

antibiotik),

mendapatkan

mikroorganisme yang menghasilkan antibiotik dari jaringan


tanaman

dan

mendapatkan

mikroorganisme

yang

menghasilkan antibiotik dari tanah dengan cara mengisolasinya dari


sampel sampel yang terdapat di lingkungan sekitar kita, sampel yang
digunakan antara lain tanah dekat makam, tanah samping Laboratorium kimia
belakang gedung D8, dan tanaman yang dapat digunakan untuk mengobati
suatu penyakit seperti daun sirih.
Dalam percobaan ini digunakan medium NA dan PDA. Digunakan dua
medium ini karena telah diketahui bahwa media untuk pertumbuhan jamur dan
bakteri itu berbeda dimana medium NA sebagai medium pertumbuhan bakteri
sedangkan medium PDA sebagai medium pertumbuhan jamur. Pada
praktikum isolasi jamur ini, setiap kelompok melakukan percobaan dengan
sampel yang berbeda. kelompok 1 menggunakan sampel jaringan tanaman
berupa daun sirih, kelompok 2 menggunakan sampael tanah yang diambil dari
belakang gedung D8 (laboratorium kimia), kelompok 3 menggunakan sampel
tanah laboratorium kimia yang terletak di samping laboratorium kimia,
kelompok 4 dan 5 sama menggunakan sampel tanah yang diambil dari sebelah

Lab. Kimia, kelompok 6,7,8, dan 9 sama sama menggunakan sampel tanah
yang diambil dari tanah yang berada didekat makam, sedangkan kelompok 10
menggunakan sampel berupa tanah yang diambl dari tanha disebelah
laboratorium kimia.
Pada tahap pertama yaitu mengisolasi jamur untuk menghasilkan antibiotik
sampel tanah ditimbang sebanyak 1 gram, kemudian dilakukan pengenceran
dengan menggunakan larutan saline, yaitu pengenceran 10-1, dan 10-2. Setelah
itu larutan suspensi tersebut diambil 0,5 ml lalu dituangkan ke dalam petri
dish yang sudah disterilisasi dan sudah diberi media PDA yang telah di
campur dengan larutan kloramfenikol. Tujuan di berikannya larutan
kloramfenikol yaitu untuk mencegah/menghambat pertumbuhan bakteri
sehingga yang tumbuh pada media PDA hanya jamurnya saja tanpa ada
kontaminasi dari bakteri. Kemudian petri dish yang sudah diberi suspensi
tersebut diinkubasi pada suhu kamar dan diberi label pada masing-masing
petri dish (pengenceran 10-1 dan 10-2) agar memudakan pengamatan.
Sedangkan pada isolasi fungi dengan sampel yang menggunakan jaringan
tumbuhan berupa daun sirih tahap pertamanya yaitu membersihkan daun sirih
yang akan digunakan dengan menggunakan air mengalir, setelah bersih
kemudian potong daun dengan diameter 3 cm lalu dimasukkan kedalam
erlenmeyer yang telah disterilisasi terlebih dahulu. Daun kemudian
disterilisasi menggunakan etanol 70% selama 2 menit lalu dibilas dengan
menggunakan air aquades. Setelah itu daun disterilisasi lagi dengan larutan
natrium hipoklorid selama 2 menit, kemudian dibilas sebanyak tiga kali
dengan air aquades. Selanjutnya daun sirih ditiriskan pada petri dish yang
telah ditaruh kertas saring. Setelah kering daun sirih kemudian dipotong
dengan ukuran 1x1cm lalu di tanam dalam petri dish yang sudah dituang
media PDA padat. Kemudian petri dish diinkubasi sampai praktikum
selanjutnya.
Pada tahap pertama, dihasilkan koloni jamur yang cukup banyak pada
masing-masing petri dish setiap kelompok. Jumlah jamur yang paling banyak
yaitu pada petri dish pengenceran 10-1, sedangkan pada pengenceran 10-2

jamur tidak terlalu banyak. Jamur yang tumbuh pada petri dish mempunyai
warna yang berbeda-beda ada yang berwarna hitam, merah, hijau, dan putih.
Jamur ini digunakan untuk tahap selanjutnya. Setelah tahap pertama selesai
selanjutnya yaitu melakukan tahap kedua percobaan. Pada tahap kedua dan
ketiga ini antara percobaan yang menggunakan sampel tanah dan daun
tanaman itu perlakuannya sama yang membedakan hanya pada tahap pertama
saja. Tahap kedua dilakukan dengan mengambil koloni jamur yang telah
tumbuh pada tahap pertama tersebut dengan menggunakan jarum ose yang
telah disterilisasi dengan cara dipanaskan pada bunsen sampai warnanya
merah menyala. Kemudian koloni jamur yang telah diambil menggunakan
jarum ose tersebut dipindahkan ke dalam petri dish baru yang telah berisi
medium PDA. Selanjutnya petri dish tersebut diinkubasi pada suhu ruang
sampai praktikum selanjutnya.
Pada tahap kedua, dihasilkan koloni jamur yang lumayan banyak tetapi
sebagaian besar petri dish terkontaminasi oleh bakteri. Ada beberapa
kelompok yang mengulang percobaan tahap kedua ini tetapi hasilnya sama
saja masih banyak jamur yang terkontaminasi bakteri. Hal ini terjadi
kemungkinan karena pada saat melakukan percobaan kurang dilakukan secara
aseptis, seperti tangan praktikan belum dalam keadaan benar-benar steril atau
bisa jadi jamur terkontaminasi bakteri yang masuk lewat udara. Setelah tahap
kedua dilakukan selanjutnya melakukan tahap yang terakhir yaitu tahap yang
ketiga.
Tahap

ketiga,

dilakukan

dengan

mengambil

inokolum

bakteri

menggunakan jarum ose steril kemudian dimasukkan pada tabung reaksi steril
yang telah berisi 1 ml media NB. Pemindahan inokulum bakteri kedalam
media NB ini dilakukan secara aseptis agar tidak terjadi kontaminasi yang
mengakibatkan kurang akuratnya data yang akan diperoleh. Setelah bakteri
dipindahkan pada media, selanjutnya diinkubasi pada suhu 37 oC selama 30
menit, seharusnya inkubasi ini dilakukan semalaman, karena terbatasnya
waktu inkubasi hanya dilakukan selama 30 menit, hal ini mungkin
mengakibatkan hasil yang didapatkan kurang maksimal. Setelah diinkubasi

kemudian kultur bakteri uji disesuaikan dengan standar McFarland 0,5.


Sebanyak 0,1 ml kultur bakteri dituang terlebih dahulu kemudian dituang pula
10 ml NA steril ke dalam petri dish. Setelah media NA memadat, kemudian
media tersebut di plug dan media PDA jamur juga di plug. Setelah media PDA
jamur di plug kemudian plug media jamur tersebut lalu ditaruh pada plug
media NA. Pada pembuatan plug ini dilakukan dengan steril. Tahap
selanjutnya yaitu menginkubasi petri dish yang telah berisi plug jamur dari
masing-masing kelompok dengan suhu 37oC selama 1 hari.
Pada tahap ketiga yaitu pengamatan dan pengukuran zona bening pada
petri dish dilakukan selama empat hari berturut-turut dan diukur oleh empat
orang dari masing-masing kelompok. Hasil pengamatan pada hari 1,2,3, dan 4
sama yaitu pada kelompok 1 dengan sampel daun sirih terdapat zona hambat
pada bakteri Escherichia coli sebesar 1,4 cm yang diukur oleh orang pertama,
zona bening 1,2 cm diukur oleh orang kedua, 1,9 cm diukur oleh orang ketiga,
dan 1,3 cm diukur oleh orang keempat. Perhitungan zona hambat ini sudah
dikurangi dengan diameter dari jamur yang digunakan. Jadi rata-rata diameter
zona hambat yang dihasilkan oleh jamur dari sampel daun sirih terhadap
bakteri Escherichia coli yaitu sebesar 1,45 cm. Sedangkan jamur dari sampel
daun sirih tidak mempunyai daya hambat terhadap bakteri straphylococcus
Aurens. Kemungkinan hal ini bisa terjadi karena zat antibiotik yang dihasilkan
dari fungi sampel daun sirih hanya efektif menghambat/mematikan
pertumbuhan bakteri gram negative, sedangkan untuk bakteri gram positif
tidak.
Pada kelompok 2 dengan sampel tanah dari samping lab.kimia belakang
gedung D8 diperoleh diameter zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli
yaitu sebesar 0,4 cm yang diukur oleh orang pertama, 0,2 cm yang diukur oleh
orang kedua, 0,1 cm yang diukur oleh orang ketiga dan 0,2 cm yang diukur
oleh orang keempat. Jadi Jadi rata-rata diameter zona hambat yang dihasilkan
oleh jamur dari sampel tanah dari samping lab. Kimia belakang gedung D8
terhadap bakteri Escherichia coli yaitu sebesar 0,225 cm. Sedangkan jamur
dari sampel tanah dari samping lab. Kimia belakang gedung D8 tidak

mempunyai daya hambat terhadap bakteri straphylococcus Aurens. Sama


seperti kelompok satu, kemungkinan hal ini bisa terjadi karena zat antibiotik
yang dihasilkan dari fungi dengan sampel tanah dari samping lab.kimia
belakang gedung D8 hanya efektif menghambat/mematikan pertumbuhan
bakteri gram negatif, sedangkan untuk bakteri gram positif tidak.
Pada kelompok 3 dengan sampel tanah samping laboratorium kimia
diperoleh diameter zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli yaitu
sebesar 0,1 cm yang diukur oleh orang pertama, 0,3 cm yang diukur oleh
orang kedua, 0,2 cm yang diukur oleh orang ketiga dan 0,1 cm yang diukur
oleh orang keempat. Jadi Jadi rata-rata diameter zona hambat yang dihasilkan
oleh jamur dari sampel tanah dari samping lab. Kimia terhadap bakteri
Escherichia coli yaitu sebesar 0,175 cm. Sedangkan jamur dari sampel tanah
samping lab. Kimia tidak mempunyai daya hambat terhadap bakteri
Straphylococcus aureus. Sama seperti halnya hasil percobaan dari kelompok 1
dan 2, tidak adanya daya hambat atau zona bening yang dihasilkan pada
bakteri Straphylococcus aureus kemungkinan disebabkan karena zat antibiotik
yang dihasilkan dari fungi dengan sampel tanah dari samping laboratorium
kimia hanya efektif menghambat/mematikan pertumbuhan bakteri gram
negatif, sedangkan untuk bakteri gram positif tidak karena tidak dihasilkannya
zona hambat.
Pada kelompok 4 dengan sampel tanah laboratorium kimia diperoleh
diameter zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli yaitu sebesar 2,4 cm
yang diukur oleh orang pertama, 1,9 cm yang diukur oleh orang kedua, 2,2 cm
yang diukur oleh orang ketiga dan 2 cm yang diukur oleh orang keempat. Jadi
rata-rata diameter zona hambat yang dihasilkan oleh jamur dari sampel tanah
dari lab. Kimia terhadap bakteri Escherichia coli yaitu sebesar 2,125 cm.
Sedangkan jamur dari sampel tanah laboratorium kimia mempunyai diameter
zona hambat pada bakteri Straphylococcus aureus sebesar 0,8 cm yang diukur
oleh orang pertama, 0,7 cm yang diukur oleh orang kedua, 0,9 cm yang diukur
oleh orang ketiga, dan 0,9 cm yang diukur oleh orang keempat. Jadi Jadi ratarata diameter zona hambat yang dihasilkan oleh jamur dari sampel tanah lab.

Kimia terhadap bakteri Straphylococcus aureus yaitu sebesar 0,8 cm.


Terdapatnya zona hambat dari kedua uji dngan bakteri yang berbeda ini
membuktikan bahwa antibiotik yang dihasilkan oleh fungi dari sampel tanah
laboratorium kimia ini cukup efektif untuk menghambat/mematikan
pertumbuhan bakteri baik itu bakteri gram positif maupun bakteri gram
negatif.
Hasil dari percobaan kelompok 5 dengan sampel tanah yang berada di
sebelah laboratorium kimia, diperoleh diameter zona hambat terhadap bakteri
Escherichia coli yaitu sebesar 0,9 cm yang diukur oleh orang pertama, 1,1 cm
yang diukur oleh orang kedua, 0,6 cm yang diukur oleh orang ketiga dan 0,9
cm yang diukur oleh orang keempat. Jadi rata-rata diameter zona hambat yang
dihasilkan oleh jamur dari sampel tanah dari lab. Kimia terhadap bakteri
Escherichia coli yaitu sebesar 0,875 cm. Sedangkan jamur dari sampel tanah
lab. Kimia mempunyai diameter zona hambat pada bakteri Straphylococcus
aureussebesar 0,6 cm yang diukur oleh orang pertama, 0,3 cm yang diukur
oleh orang kedua, 0,2 cm yang diukur oleh orang ketiga, dan 0,2 cm yang
diukur oleh orang keempat. Jadi rata-rata diameter zona hambat yang
dihasilkan oleh jamur dari sampel tanah sebelah lab. Kimia terhadap bakteri
Straphylococcus aureus yaitu sebesar 0,325 cm. Terdapatnya zona hambat dari
kedua uji dengan bakteri yang berbeda ini membuktikan bahwa antibiotik
yang dihasilkan oleh fungi dari sampel tanah laboratorium kimia ini cukup
efektif untuk menghambat/mematikan pertumbuhan bakteri baik itu bakteri
gram positif maupun bakteri gram negatif.
Pada kelompok 6 dengan sampel tanah makam, diperoleh diameter zona
hambat terhadap bakteri Straphylococcus aureus yaitu sebesar 1,1 cm yang
diukur oleh orang pertama, 1,4 cm yang diukur oleh orang kedua, 0,9 cm yang
diukur oleh orang ketiga dan 1,3 cm yang diukur oleh orang keempat. Jadi
rata-rata diameter zona hambat yang dihasilkan oleh jamur dari sampel tanah
dari lab. Kimia terhadap bakteri Straphylococcus aureus yaitu sebesar 1,175
cm. Sedangkan untuk uji pada bakteri Escherichia coli, ada atau tidaknya
zona hambat yang terbentuk tidak dapat teridentifikasi, hal ini dikarenakan

media yang digunakan bukanlah media NA melainkan media PDA,


kemungkinan tidak teridentifikasinya zona hambat yang terbentuk yaitu
dikarenakan kurang cocoknya medium yang digunakan, dimana media PDA
ini lebih cocok digunakan untuk menumbuhkan jamur karena nutrisi yang ada
pada media ini merupakan nutrisi yang diperlukan oleh jamur untuk tumbuh
dan berkembang dan kurang cocok untuk menumbuhkan bakteri, sehingga
pada media ini zona bening yang terbentuk sulit untuk bisa diamati karena
merebaknya jamur yang tumbuh pada media ini.
Pada kelompok 7 dengan sampel tanah makam, diperoleh diameter zona
hambat terhadap bakteri Straphylococcus aureus yaitu sebesar 0,4 cm yang
diukur oleh orang pertama, 0,6 cm yang diukur oleh orang kedua, 0,9 cm yang
diukur oleh orang ketiga dan 0,1 cm yang diukur oleh orang keempat. Jadi
rata-rata diameter zona hambat yang dihasilkan oleh jamur dari sampel tanah
dari lab. Kimia terhadap bakteri Straphylococcus aureus yaitu sebesar 0,5 cm.
Terdapatnya zona hambat dari kedua uji dngan bakteri yang berbeda ini
membuktikan bahwa antibiotik yang dihasilkan oleh fungi dari sampel tanah
laboratorium kimia ini cukup efektif untuk menghambat/mematikan
pertumbuhan bakteri baik itu bakteri gram positif maupun bakteri gram
negatif. Dan untuk uji zona hambat pada bakteri Escherichia coli tidak
didapatkan data yang inginkan, karena hasil percobaan tidak dapat
diidentifikasi seperti halnya pada kelompok 6.
Pada kelompok 8 dan kelompok 9 tidak terdapat zona hambat terhadap
bakteri Straphylococcus aureus. Kemungkinan hal ini terjadi karena fungi
yang diperoleh dari isolasi sampel tanah makam tidak mengandung antibiotik
sehingga tidak mempunyai daya hambat pertumbuhan bakteri. Sedangkan
untuk uji zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli tidak didapatkan data
yang diinginkan karena hasil percobaan tidak dapat diidentifikasi seperti
halnya pada kelompok 6 dan 7, namun pada jamur yang digunakan oleh
kelompok 8, kemungkinan mengandung antibiotik, karena pada saat tahap ke
dua dihasilkan jamur yang dimana di pinggir jamur itu terdapat bakteri yang
tumbuh, tidak hanya itu pada sisi-sisi bakteri itu juga terdapat zona bening

yang membatasi jamur dan bakteri itu sendiri, zona bening ini kemungkinan
adalah zat penghambat yang dihasilkan dari aktivitas jamur tersebut. Oleh
karena itu kemungkinan pada jamur itu mengandung antibiotik, meskipun
pada saat diujikan pada bakteri Straphylococcus aureus tidak ada zat
penghambat yang terbentuk, namun bisa jadi untuk diujikan ke bakteri gram
negatif dapat terbentuk zona hambat. Namun hal ini belum bisa dibuktikan
karena pada Escherichia coli tidak dapat diidentifikasi.
Pada kelompok 10 dengan sampel tanah dari samping laboratorium kimia
diperoleh diameter zona hambat terhadap bakteri Straphylococcus aureus
yaitu sebesar 0,5 cm yang diukur oleh orang pertama, 0,4 cm yang diukur oleh
orang kedua, 0,2 cm yang diukur oleh orang ketiga dan 0,3 cm yang diukur
oleh orang keempat. Jadi rata-rata diameter zona hambat yang
dihasilkan oleh jamur dari sampel tanah dari laboratorium
kimia terhadap bakteri Straphylococcus aureus yaitu sebesar
0,35 cm. Seperti halnya pada kelompok 6,7,8, dan 9, jamur
yang didapatkan dari sampel tanah yang diujikan pada bakteri
Escherichia coli tidak mempunyai zona hambat. Hal ini
disebabkan

karena

media

yang

digunakan

untuk

menumbuhkan bakteri Escherichia coli yaitu media PDA.


Media PDA merupakan media yang paling sering digunakan
untuk

menumbuhkan

berkembang

dengan

jamur
pesat

dan

sehingga
bakteri

jamur

dapat

menjadi

sukar

berkembang sehingga tidak terdapat zona hambat, sehingga


zona

hambat

yang

kemungkinan

teerbentuk

sulit

teridentifikasi. Meskipun memakai sampel yang sama untuk


percobaan ini, namun perbedaan hasil yang didapatkan oleh
kelompok 6,7,8, dan 9 disebabkan karena warna jamur hasil
biakan yang digunakan tidaklah sama dimana kelompok 6 dan
kelompok 7 menggunakan jamur yang berwarna hitam,
sedangkan kelompok 8 dan 9 menggunkan jamur yang

berwarna hijau, oleh karena itu meskipun sampel yang


digunakan sama namun didapatkan hasilnya berbeda.
Berdasarkan seluruh perhitungan zona hambat yang dihasilkan oleh fungi
dari berbagai sampel tanah maupun jaringan tumbuhan dapat diketahui bahwa
sampel tanah yang diambil dari tanah terletak di dekat laboratorium kimia oleh
kelompok 4 merupakan fungi penghasil antibiotik yang paling kuat daya
hambatnya dibandingkan sampel yang lainnya, selain dapat menghambat
bakteri Escherichia coli (bakteri gram negatif) juga mampu menghambat
bakteri Straphylococcus aureus (bakteri gram positif) dengan besar zona
hambat rata-rata yaitu sebesar 2.125 cm dan 0.8 cm.

IX.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
1. Isolasi merupakan proses memindahkan mikroba uji dari lingkungannya
untuk memperoleh biakan murni (populasi sel yang semuanya
berasal dari satu sel individu) dalam medium buatan dengan
mengetahui cara cara-cara menanam dan menumbuhkan mikroba pada
medium biakan serta syarat-syarat lain untuk pertumbuhannya
2. Sampel dari jaringan tanaman yaitu sampel daun sirih mempunyai daya
hambat cukup efektif terhadap bakteri Escherichia coli dengan rata rata
zona

bening

sebesar

1,45

cm

dan

sedangkan

untuk

bakteri

Straphylococcus aureus tidak terjadi aktivitas, dengan kata lain antibiotik


yang dihasilkan oleh jamur dari sampel daun sirih hanya aktif pada bakteri
gram negatif.
3. Sampel dari tanah yang mempunyai daya hambat paling efektif terhadap
bakteri Escherichia coli dan Straphylococcus aureus yaitu sampel tanah
dari lab. kimia dengan rata rata zona bening sebesar 2.125 cm dan 0.8
cm, dengan kata lain antibiotik yang dihasilkan oleh jamur dari sampel
tanah ini dapat aktif pada bakteri gram negatif maupun bakteri gram
positif.

Saran
1. Prosedur dan langkah kerja harus benar-benar dipahami dan dilakukan
sesuai ketentuan yang ada agar pengerjaan praktikum bisa berjalan lancar
dan memperoleh hasil yang diinginkan.
2. Dalam melakukan semua percobaan, harus dilakukan dengan cara yang
steril agar tidak terjadi kontaminasi yang bisa mengakibatkan kurang
akuratnya data yang diperoleh.
3. Pada pratikum ini seharusnya menggunakan sampel yang bermacammacam tidak hanya sampel dari tanah dan daun mungkin bisa mengambil
sampel batang agar data yang dibandingkan bisa lebih bervariasi.

X.

DAFTAR PUSTAKA
Buckle. 2003. Antibiotics. Chicago: Rand MS Nally and Company
Dwidjoseputro, D. 1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Malang :
Djambatan.
Ferdiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan . Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Hadioetomo, 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek.
Jakarta : PT Gramedia.
Irianto, 2006 Mikrobiologi Terapan. Malang : UMM Press.
Jutono.

1980.

Mekanisme

Kerja

Antibiotika.

Jakarta:

Erlangga
Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat, Buku Ajar Farmakologi dan
Toksikologi. Bandung.: ITB.
Pelczar, M. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.
Pratiwi, S. 2004. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga

Volk and Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

LAMPIRAN
DOKUMENTASI PERCOBAAN