Anda di halaman 1dari 31

ASUHAN KEPERAWATAN BAYI DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA

PENGERTIAN
Hiperbilirubinemia merupakan keadaan peninggian kadar bilirubin darah pada bayi yang
mencapai suatu nilai yang merupakan potensi menimbulkan kernikterus bila tidak
ditanggulangi dengan baik.
Kernikterus adalah suatu keadaan kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada
sel otak.
Diagnosa Keperawatan :
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko injuri b.d kadar bilirubin
serum tinggi yang dapat memasuki
sawar
darah
otak
danresiko
komplikasi
akibat
pemasangan
phototherapy.

INTERVENSI
1. Observasi adanya perubahan warna kulit ke arah
jaundice (kuning) mulai dari kepala, skrela dan
badan serta kaki tiap shift.
2. Berikan suhu lingkungan (inkubator) yang
netral/sesuai selama phototherapy dikerjakan.
3. Pertahankan suhu axilla pada suhu K 36, 5-37 C,
hindari kemungkinan kedinginan.
4. Monitor tanda-tanda vital berkala dan terutama
pengukuran suhu tubuh.
5. Lakukan/rubah posisi tiap 2 jam sekali.
6. Pertahankan pemberian intake/nutrisi agar
adekuat selama phototherapy.
7. Pertahankan terapi cairan, lakukan koreksi selama
pemberian phototherapy.
8. Observasi kemungkinan adanya perubahan status
neurologis (kaji tingkat kesadaran dan reflekreflek fisiologis, patologis) dan laporkan kepada
dokter.
9. Observasi perbedaan warna kulit sebelum
phototherapy, saat menggunakan, sesudah
phototherapy serta reaksi kulit yang timbul.
10. Lakukan pemeriksaan kadar bilirubin total (direk
dan indirek) dalam serum lakukan dan evaluasi
secara berkala.
11. Lakukan (kolaborasi) pengambilan sampel darah
untuk pemeriksaan kadar bilirubin serum dalam
keadaan
phototherapy
dimatikan
untuk
mendapatkan hasil yang akurat.
12. Untuk bayi yang sedang mendapatkan
phototherapy, perhatikanlah hal-hal sebagai
berikut :
a. Bayi ditidurkan tanpa baju.
b. Tutuplah mata bayi dengan bahan yang tidak
tembus cahaya sebelumnya dan pertahankan
selama phototherapy dikerjakan.

2.

Resiko defisit volume cairan tubuh


b.d kehilangan cairan tak nyata
(IWL)
dan
dehidrasi
akibat
phototherapy.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

3.

Resiko gangguan proses keluarga


(gangguan peran orang tua) b.d
keterbatasan interaksi orang tua bayi
karena phototherapy.

1.
2.

3.

4.

c. Inspeksi keadaan mata bayi setiap 8 jam


sekali dan istirahatkan dari phototherapy.
Untuk beberapa saat mata bayi dibuka.
d. Evaluasi secara berkala jarak antara
phototherapy dengan bayi (K45 cm).
e. Evaluasi berkala kadar bilirubin serum (lihat
keadaan klinis pasien).
Pertahankan suhu lingkungan (inkubator) dan
suhu axilla dalam batas suhu 36,5-37C.
Ukur suhu tubuh melalui axilla setiap 2 jam
sekali.
Timbang berat badan bayi tanpa pakaian pada
waktu yang sama sebelum minum.
Ukur intake dan output cairan tiap shift.
Bila perlu, periksa berat jenis urine.
Berikan intake cairan terutama ASI sesuai
kebutuhan.
Monitor tetesan infus jika masih indikasi terapi
cairan (IVFD).
Kaji status hidrasi seperti turgor kulit, keadaan
fontanel anterior, mukosa bibir.
Jelaskan tentang kebutuhan cairan yang harus
terpenuhi untuk keadaan bayinya sehingga
dibutuhkan ASI yang cukup.
Diskusikan tentang keadaan bayinya setelah
dijelaskan oleh dokter mengenai kulit yang
tampak kuning, kemungkinan adanya diare, hasil
test laboratorium, terapi sinar, dll.
Anjurkan orang tua untuk berpartisipasi dalam
perawatan bayinya yang memungkinkan seperti
memberi minum, mengganti popok, memandikan,
dll.
Matikan lampu dan buka penutup mata bayi jika
orang tua sedang mengunjungi.

ASUHAN KEPERAWATAN BAYI DENGAN OMPHALOCELE


2

PENGERTIAN
Omphalocele adalah penonjolan usus diluar abdomen yang dilapisi oleh lapisan peritoneum
dan lapisan amnion yang keduanya tampak bening dan tampak dari luar (Whaley and Wong
1991).
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
INTERVENSI
1. Pola nafas tidak efektif B/D Kaji adanya tanda-tanda distress pernafasan.
kerusakan otot-otot pernafasan.
Observasi tanda-tanda vital terutama sistem
pernafasan.
Observasi pemberian O2 (oksigen).
Kolaborasi untuk pemeriksaan laboratorium (AFD).
2. Resiko
tinggi
infeksi
B/D Kaji keadaan umum pasien, adanya kelainan pada
mekanisme pertahanan primer yang
abdomen dan adanya tanda-tanda infeksi.
tidak adekuat.
Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
tindakan.
Yakinkan bahwa alat-alat yang digunakan dalam
keadaan bersih dan steril.
Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh.
Observasi tanda-tanda adanya infeksi.
Lakukan perawatan luka dengan teknik septik dan
anti septik.
Berikan intake cairan dan nutrisi yang adekuat.
Kolaborasi pemberian antibiotik dan laboratorium.
Libatkan dan jelaskan pada orang tua dalam
membantu kontrol infeksi pada bayi/anak.
3. Kerusakan integritas kulit B/D Kaji adanya kerusakan integritas jaringan kulit.
perubahan status nutrisi.
Cegah bayi dari terjadinya bahaya ruptur kantong
peritoneum.
Gunakan cairan normal saline untuk mencegah
kekeringan pada luka.
Tutup daerah omphalocele dengan kassa steril
basah.
Berikan salep pada dinding abdomen yang
teriritasi.
Observasi dan catat adanya tanda-tanda kerusakan
jaringan kulit.
4. Gangguan nutrisi : kurang dari Kaji warna turgor dan mukosa mulut.
kebutuhan tubuh B/D absorbsi yang Berikan cairan TPN.
kurang.
Catat intake dan output.
Observasi tanda-tanda vital.
Kolaborasi untuk pemeriksaan laboratorium (DPL).
Catat adanya bising usus.
Berikan cairan parenteral sampai makanan oral
adekuat.
Pelihara kebersihan mulut.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN HIALIN MEMBRAN DISEASE


3

I.

DEFINISI
Hialin membran disease adalah suatu penyakit kegagalan nafas yang disebabkan oleh
defisiensi surfaktan yang mengakibatkan meningkatnya tegangan permukaan alveoli.

II.

ETIOLOGI
Ibu dengan penggunaan zat adiktif.
Bayi dengan stress intra uterin.
Obstruksi saluran nafas.
Hipoglikemi, asidosis metabolic.
Intraventrikular hemoragi.
Sepsis, hipotermi.

III.

MANIFESTASI KLINIK
Dengkingan pada saat ekspirasi dimana bayi tidak menangis.
Retraksi sternum dan interkosta.
Nafas cuping hidung.
Respirasi cepat.
Auskultasi : udara yang masuk berkurang.
Edema ekstremitas setelah beberapa jam (permeabilitas vascular berubah).
Foto rontgen menunjukkan retikulogranular (gambaran bulat-bulat kecil dengan
corakan bronkogram udara).

NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
INTERVENSI
1. Gangguan pertukaran gas b.d 1. kaji status respirasi enak (bunyi nafas).
penurunan jumlah oksigen yang 2. Kaji tanda-tanda distress pernafasan : peningkatan
berdifusi akibat kolaps alveoli.
nadi, berkeringat sianosis.
3. Kaji adanya retraksi dada.
4. Kaji irama jantung dengan monitor penggunaan
ventilasi mekanik.
5. Kolaborasi :
Pemberian terapi oksigen.
Foto rontgen torax.
Pemberian terapi surfaktan.

2.

3.

Pola nafas tidak efektif b.d 1. Monitor adanya distress pernafasan.


pertukaran gas tidak adekuat, 2. Beri posisi semi flower.
peningkatan
sekesi,
penurunan 3. Gunakan alat oksimetri untuk mengevaluasi
kemampuan oksigenasi adekuat.
saturasi O2.
4. Ganti posisi tipa 2 jam atau sesuai indikasi.
5. Kolaborasi :
Pemeriksaan AGD.
Terapi inhalasi.
Terapi oksigen.
Pemberian analgesik.
Gangguan perfusi jaringan b.d 1. Kaji status kesadaran.
penurunan aliran balik vena, 2. Kaji kapilari refill.
hipotensi, hipoksemia.
3. Monitor tanda-tanda vital.
4. Berikan nutrisi sesuai indikasi.
5. Kaji bising usus, adanya mual, muntah, nyeri
tekan.
6. Kolaborasi :
Pemberian oksigen.
Pemeriksaan AGD.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN ENSEFALITIS


5

PENGERTIAN
Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme.
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif sehubungan
dengan peningkatan tekanan intra
kranial. Data yang mendukung :
DS : DO :
Dyspnea.
Peningkatan FP.
AGD
menunjukkan
adanya
hipoxia.
Sputum banyak.
2.

3.

Gangguan
perubahan
perfusi
jaringan serebral sehubungan dengan
peningkatan tekanan intra kranial
akibat adanya odema otak.
Data yang menunjang :
DS : DO :
Terjadi kelemahan/kelumpuhan.
Daerah perifer dingin.
Capilary refill lebih dari 5 detik.
GCS.
AGD.
Reflek-Reflek.
Pemenuhan neurologis.
Gangguan
proses
berpikir
sehubungan dengan peningkatan
tekanan intra kranial akibat proses
peradangan. Data yang menunjang :
DS : DO :
Pembicaraan
pasien
sulit
dimengerti.
Pasien mengalami disiorientasi
tempat, waktu dan lingkungan.

INTERVENSI
Observasi TV terutama pernafasan.
Observasi tanda-tanda peningkatan tekanan intra
kranial : TD meningkat, nadi cepat, gelisah,
muntah.
Rubah posisi secara teratur (postural drainage).
Lakukan mobilisasi pasif.
Lakukan penghisapan lendir secara berkala dan
sesuai indikasi.
Observasi warna kulit, membran mukosa.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian O 2
tambahan sesuai hasil AGD.
Monitor TV setiap jam.
Kaji derajat kesadaran.
Kaji status neurologi, respon terhadap rangsangan,
pergerakan dan pembicaraan .
(GCS) setiap 2-4 jam.
Observasi ukuran pupil, bentuk dan reaksi terhadap
cahaya.
Monitor intake-output.
Monitor AGD.
Kolaborasi dengan dokter untuk :
Pemberian cairan parenteral.
Pemberian O2 tambahan.
Pemberian medikasi : steroid.
Observasi GCS tiap shift.
Monitor derajat kesadaran setiap 2 jam.
Tes kemampuan pasien untuk menerima dan
melakukan komunikasi.
Orientasikan tempat, waktu dan orang-orang
sekitar.
Berbicara dengan pasien secara pelan, jelas dan
tidak menggunakan bahasa yang sulit dimengerti.

4.

5.

6.

Kurangnya pengetahuan tentang


proses penyakit dan pengobatan
sehubungan dengan kurangnya
informasi. Data yang menunjang :
DS :
Pasien
mengatakan
belum
memahami
tentang
proses
penyakit dan pengobatannya.
DO :
Pasien/keluarga
kurang
kooperatif dalam pengobatan.
Cemas orang tua b.d dampak
hospitalisasi.

Gangguan pemenuhan kebutuhan


sehari-hari b.d istirahat total.

Kaji tingkat pengetahuan keluarga/pasien tentang


proses penyakit dan pengobatannya.
Berikan penjelasan tentang penyebab peningkatan
TIK, gejala dan terjadinya penurunan tingkat
kesadaran.
Berikan kesempatan bagi pasien/keluarga untuk
bertanya.
Diskusikan dosis, waktu, rasional dan efek
samping setiap obat.

Kaji tingkat kecemasan pasien.


Lakukan hubungan terapeutik.
Ajak pasien berkomunikasi.
Beri pasien pengertian tentang situasi perawatan.
Ciptakan suasana nyaman dan aman.
Bantu kebutuhan sehari-hari pasien dalam hal
makan, minum dan kebutuhan eliminasi
BAB/BAK.
Periksa tanda-tanda vital sebelum dan sesudah
pasien melakukan aktivitas.
Kaji faktor-faktor yang menyebabkan gangguan
pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

EVALUASI
Setelah dilakukan implementasi keperawatan dievaluasi sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan dengan menggunakan SOAPIER.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN MENINGITIS


7

PENGERTIAN
Meningitis adalah peradangan pada selaput otak Etiologinya adalah bakteri (pneumococcus,
stapilo coccus, streptococcus, salmonella) dan bisa juga virus (hemophilus influenza).
GAMBARAN KLINIK
1.

Demam mencuat tinggi.

2.

Konvulsi.

3.

Penurunan kesadaran sampai koma.

4.

Anak tampak toksik (pucat).

5.

Iritabilitas tinggi.

6.

Tangisan melengking (nada tinggi).

7.

Makan kurang, nausea, muntah.

8.

Sakit kepala.

9.

Fotophobia (takut cahaya).

10. Letargis, mengantuk.


11. Fontanel membonjol (pada anak < 18 bulan).
12. Kaku kuduk.
13. Kerning sign dan Brudzinski sign positif.
14. Naiknya reflek dan tonus.
15. Palsi pada saraf II, VI, VII.
16. Petichiae dan Purpura.
Rencana Keperawatan :
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan
perfungsi
cerebal
berhubungan
dengan
proses
peradangan, peningkatan TIK.
DS :
Ibu mengatakan anaknya muntah,
ada demam, rewel.
DO :
Anak demam, kesadaran menurun,
pucat, iritabel, menangis terus, kaku
kuduk, kejang, kering sign (+), tanda
brudzinsky (+), onorexia, muntah
proyektil, hasil LP obnormal.
2.

INTERVENSI
Monitor status neurologis klien.
Istirahatkan klien dalam posisi telentang elevasi
kepala 15 - 45.
Monitor tanda-tanda vital tiap jam.
Kaji adanya kaku kuduk, iritabel dan kejang.
Cegah kemungkinan terjadinya hipertermia.
Lakukan kompres bila suhu tubuh meningkat.
Kolaborasi dalam pemberian terapi (manitol,
antipiretik, autikonvulsan).
Cek laboratorium.

Tidak efektivitasnya pola nafas Kaji fungsi pernafasan (bunyi, irama, kecepatan
berhubungan dengan penurunan
dan kedalaman).
8

3.

kesadaran dan kejang.


DS :
Ibu mengatakan anaknya sesak
nafas, tidak sadar/tidur terus.
DO :
Kesadaran menurun, nampak sesak,
cianosis, pucat, ada bunyi nafas
tambahan (ronchi, stridor), kejang.
Gangguan keseimbangan cairan
yaitu kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan gangguan
perfusi cerebral.
DS :
Ibu mengatakan anaknya tak sadar,
lemah dan tidak mau minum.
DO :
Anak tidak sadar, ada tanda
dehidrasi, mukosa kering, turgor
jelek, intake dan output tidak
seimbang. Capillary refill > 2 detik,
BJ urine abnormal.

Pertahankan kepatenan jalan nafas.


Lakukan suction bila banyak lendir.
Rubah posisi setiap 2-4 jam.
Berikan oksigen sesuai indikasi.
Cek AGD.
Kolaborasi pemberian terapi yang sesuai.

Observasi tanda-tanda dehidrasi.


Monitor intake-output cairan.
Berikan cairan sesuai indikasi lewat NGT bila
perlu dan secara parenteral.
Monitor tanda vital.
Observasi kesadaran.
Pemeriksaaan laboratorium elektrolit, BJ urine.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN


BRONCHIOLITIS
9

I.

DEFINISI
Bronchiolitis adalah infeksi saluran pernafasan bagian atas yang menyebabkan
perubahan mekanik seperti inflamasi, obstruksi dan hiperpireksi yang biasa terjadi
pada anak usia < 2 tahun dan pucaknya pada anak usia 6 bulan.

II.

ETIOLOGI
Adenovirus, Mikoplasma pneumonia, Para influenza virus yang terhirup melalui
udara atau tertular oleh penderita bronchiolitis.

III.

MANIFESTASI KLINIK
Demam
Peningkatan sekresi
Kesulitan bernafas (sesak)
Penurunan berat badan
Peradangan

IV.

TES DIAGNOSTIK
Foto rontgen, terdapat infiltrasi sel bronchiolus.
Kultur sputum, hasil bakteri positif.
AGD hasil peningkatan CO2, penurunan O2.
Pemeriksaan darah lengkap, hasil leukosit meningkat.

NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
INTERVENSI
1.
Bersihan jalan nafas tidak efektif Monitor tanda-tanda vital.
b.d. akumulasi sputum, edema Auskultasi bunyi nafas, identifikasi adanya
mukosa.
wheezing, ronchi, crackes.
Berikan posisi yang nyaman (semi fowler).
Lakukan fibrasi, perkusi dan postural
drainase.
Pertahankan lingkungan yang tenang.
Pertahankan pemberian cairan IV untuk
pemberian obat dan bronkodilator.
Kolaborasi :
Pemberian terapi oksigen.
Pemberian inhalasi dan suction.
Pemeriksaan AGD.
10

2.

Resiko defisit volume cairan b.d. Kaji kebutuhan cairan sesuai berat badan.
dispnea, takipnea, penurunan intake Monitor intake dan output, membran
oral.
mukosa dan turgor kulit.
Ukur tanda-tanda vital.
Timbang berat badan secara rutin.
Berikan intake cairan sesuai kebutuhan.
Kolaborasi pemberian cairan melalui IV.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN BRONCHO PNEMONIA


PENGERTIAN

11

Broncho pneumonia adalah suatu peradangan pada paru-paru yang dapat disebabkan oleh
bermacam-macam penyebab. Misalnya : bakteri, virus, jamur dan benda asing (Pneumonia
Lobaris = Broncho Pneumania).
ETIOLOGI
Broncho pneumonia disebabkan oleh :
1. Bakteri : stapilococcus, streptococcus, pneunococcus.
2. Virus : virus influenza.
3. Jamur : pseudomonas, candida albican.
4. Aspirasi : makanan atau benda asing.
Rencana Keperawatan
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Bersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan peningkatan
produksi sputum.
Data penunjang :
Banyak sputum kental dan sukar
dikeluarkan, dispneu, nafas cepat,
batuk, pernafasan > 50 x/menit,
menggunakan alat bantu pernafasan,
nafas cuping, hidung, pucat, gelisah,
terdapat ronchi pada pemeriksaan
auskultasi.

12

INTERVENSI
Auskultasi suara nafas, catat adanya
ronchi dan wheezing.
Kaji dan observasi tanda-tanda vital,
terutama bunyi nafas, irama kecepatan,
kedalaman dan penggunaan otot-otot
tambahan dalam bernafas.
Observasi adanya dispneu, kelelahan dan
kesulitan bernafas.
Observasi karakteristik batuk, kering/ada
sputum.
Kurangi polusi lingkungan seperti debu,
asap rokok, debu bantal dan kapuk.
Atur posisi anak agar lebih mudah
bernafas dengan posisi fowler/semi
fowler.
Ajarkan anak cara batuk yang efektif
yaitu
dengan
menarik
nafas
dalam/panjang
kemudian
batukkan
sambil mengeluarkan sputum/dahak.
Bersihkan mulut dari lendir, bila perlu
lakukan penghisapan lendir atau suction.
Berikan intake cairan/minum hangat
2000 cc per hari selama tidak ada
kontraindikasi.
Lakukan cheast fisiotherapi.
Kerjasama dengan tim kesehatan :
Pemberian bronchodilator dan terapi
inhalasi untuk mengurangi edema,
spasme otot pernafasan, untuk
relaksasi otot pernafasan dan untuk

2.

Gangguan
pertukaran
gas
berhubungan dengan penumpukan
sekret dan peningkatan produksi
sekret.
Data penunjang :
Dispneu, pernafasan > 50x/menit,
gelisah,
pasien
kesulitan
mengeluarkan
sputum, adanya
perubahan
tanda-tanda
vital,
terdengar ronchi, nilai PCO2 rendah
sekali.

3.

Gangguan nutrisi kurang dari


kebutuhan sehubungan intake yang
kurang akibat dari peningkatan
kebutuhan metabolik karena demam
dan proses infeksi.
DS :
Pasien menyatakan tidak nafsu
makan.

mengencerkan lendir/sputum.
Pemberian
antimikroba,
kortikosteroid, analgetik, obat batuk
dan antibiotik.
Observasi pemeriksaan analisa gas
darah.
Rontgen photo thorax.
Observasi tanda-tanda vital.
Kaji kecepatan, irama dan kedalaman
pernafasan dan penggunaan alat bantu
pernafasan.
Tinggikan bagian kepala tempat tidur
untuk meningkatkan ekspensi paru.
Latih dan anjurkan pasien nafas dalam
dan batuk efektif.
Kaji warna kulit dan perubahan membran
mukosa.
Dorong pasien batuk efektif untuk
mengeluarkan sputum dan lakukan
penghisapan lendir/suction bila perlu.
Auskultasi suara nafas, catat adanya
ronchi, wheezing dan suara nafas
abnormal lainnya.
Kaji penurunan tingkat kesadaran.
Berikan lingkungan yang tenang.
Batasi aktivitas.
Kerjasama dengan tim kesehatan :
Monitor pemeriksaan analisa gas
darah.
Pemberian oksigen.
Pemberian obat inhalasi, barotec,
brochodilator.
Rontgen phot thorax.
Kaji kebutuhan kalori pasien.
Kaji pola makan, makanan yang
disukai/tidak disukai.
Sediakan makanan saat hangat dan
menarik.
Kaji turgor kulit, kelembaban membran
mukosa (bibir lidah).
Monitor intake dan output.

DO :
Kolaborasi dengan dokter untuk :
Penurunan BB, makanan yang
Pemberian vitamin.
disediakan tidak habis, turgor jelek.
13

Pemberian makanan per NGT atau


parenteral.
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk :
Penyediaan makanan yang yang
mudah dicerna dan tidak terangsang.
Penyediaan makan cair.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN GED

14

PENGERTIAN
Diare adalah buang air besar yang tidak normal/bentuk tinja yang encer dengan frekuensi 3x
atau lebih dalam 24 jam atau peradangan yang terjadi pada daerah usus yang menyebabkan
bertambahnya keenceran dan frekuensi BAB, lebih dari 3x per hari yang dapat menyebabkan
timbulnya dehidrasi.
Ada 3 jenis diare :
1. Diare akut

: keluarnya tinja yang cair tanpa adanya darah, berakhir < 14 hari dan

biasanya < 7 hari.


2. Disentri

: terlihat darah dalam tinja, tinja keluar sedikit dan sering sakit perut

waktu BAB, anoreksia.


3. Diare Persisten

: diare berakhir 14 hari atau lebih, kehilangan BB, kerusakan usus

(gangguan malabsorpsi).
ETIOLOGI
a. Infeksi internal
Infeksi bakteri : E. Coli, Salmonella, Aeromonas.
Infeksi virus

: Enterovirus, Poliomielitis, ECHO.

Infeksi parasit : cacing.


b. infeksi parenteral (diluar alat pencernaan, misalnya : OMA, tonsilofaringitis, BP,
ensefalitis untuk bayi dibawah 2 tahun).
Faktor malabsorpsi :
a. Malabsorpsi karbohidrat.
b. Malabsorpsi lemak.
c. Malabsorpsi protein.
Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
INTERVENSI
1. Risti
kurang
volume
cairan Observasi mual, muntah dan diare.
sehubungan dengan intake yang Catat frekuensi dan konsistensi diare.
kurang dan pengeluaran yang Observasi intake output secara akurat.
berlebihan.
15

Catat penurunan berat badan dan lingkar perut tiap


hari.
Observasi pemberian cairan untuk mempertahankan
hidrasi.
Monitor elektrolit khususnya kalium dan kemungkinan
gangguan asam basa. Catat kelemahan otot atau
aritania jantung.
Observasi pengeluaran keringat yang berlebihan.
Kerjasama dengan tim kesehatan :
Pemberian kalium.
Pemberian cairan parenteral.
Pemberian obat antibiotik.
Perubahan nutrisi kurang dari Beri makan atau ASI selama diare.
kebutuhan s/d absorpsi nutrisi yang Timbang BB setiap hari.
tidak adekuat.
Observasi makanan yang masuk.
Catat intake dan output.

Resiko gangguan integritas kulit s/d Ganti alat tenun bila basah.
seringnya BAB.
Bersihkan anus/bokong dan daerah genetalia dengan
baik.
Beri lotion/salep untuk pencegahan.
Observasi tanda-tanda kerusakan kulit.
Perubahan rasa nyaman : nyeri s/d Bersihkan mulut pada anak yang diberi cairan per oral.
kejang/distensi abdomen.
Letakkan anak di ruangan yang nyaman.
Beri stimulasi sensori (usap-usap).
Beri sentuhan dan kata-kata pemberi rasa nyaman
anak.
Beri obat-obat sesuai program.
Kecemasan sehubungan dengan Memberi support/dorongan orang tua.
perpisahan dengan orang tua, Dorong pasien untuk mengekspresi perasaan.
lingkungan asing, efek prosedur.
Jelaskan terapi yang diberikan.
Ikut sertakan orang tua dalam merawat anak.
Bantu orang tua memberi rasa nyaman dan dorongan
untuk anak.
Perubahan proses keluarga s/d Ajarkan tentang pentingnya kebersihan dan sanitasi.
situasi krisis, kurang pengetahuan.
Ajarkan cara-cara mempersiapkan makanan dan
penyimpanannya.
Anjurkan pentingnya observasi kesehatan setelah
dirawat.
Rujuk ke Puskesmas untuk perawatan bila timbuk
gejala-gejala.
Anjurkan orang tua untuk memberi minum bila anak
diare.
Resiko tinggi penyebaran infeksi b/d Lakukan guna terhindar cuci tangan yang benar dan
diare yang infeksan
bila
perlu
gunakan
baju
khusus
bagi
pentingnya/keluarga yang berhubungan dengan klien.
DS : DO :
Pasien menunjukkan anoreksia
dan menolak makan karena
mengalami cromp.
Cairan dan elekrolit banyak
hilang melalui diare.
Turgor jelek.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Ikuti aturan tentang tata cara pembuangan faces atau


popok
yang
terkontaminasi
sesuai
dengan
standar/protokol.
16

Gunakan teknik untuk Universal Precautious pada saat


pengumpulan dan pengiriman bahan ke laboratorium.
Ajarkan cara-cara menjaga kebersihan terutama pada
klien anak yang lebih tua.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN ASMA


PENGERTIAN
17

Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran nafas sangat mudah bereaksi
terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma.
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Jalan nafas tidak efektif sehubungan
dengan peningkatan produksi lendir.
DS :
Pasien/keluarga mengatakan sesak dan
sulit bernafas.
DO :
Perubahan
kedalaman/kecepatan
pernafasan dan penggunaan otot
bantu pernafasan.
Suara nafas abnormal seperti :
wheezing, ronchi, crackles.

2.

3.

4.

INTERVENSI
Auskultasi suara nafas.
Catat adanya suara nafas tambahan : wheezing, ronchi,
crackles.
Observasi TTV terutama pernafasan tiap 1 jam.
Atur posisi pasien se-nyaman mungkin.
Lakukan chest fisioterapi tiap 6-8 jam.
Pertahankan lingkungan yang bebas dari polusi : debu,
asap rokok, kapuk/kapas.
Ajarkan pasien batuk efektif.
Tingkatkan pemasukan cairan sesuai toleransi jantung.
Kolaborasi dengan dokter :
Pemberian medikasi (bronchodilator, steroid).
Pemberian pelembab tambahan : inhalasi.
Monitor nilai AGD.
Gangguan pertukaran gas sehubungan Atur posisi yang nyaman dengan kepala sedikit extensi.
dengan penyempitan jalan nafas akibat Lakukan penhisapan lendir secara berkala.
penumpukan lendir.
Kaji warna kulit dan membran mukosa setiap saat.
DS : Dorong pasien melakukan pernafasan dalam atau
DO :
pernafasan mulut sesuai kemampuan pasien.
Dsypnea
Kaji derajat kesadaran pasien.
Bingung dan sangat lelah.
Monitor TTV setiap 1 jam terutama pernafasan.
Nilai-nilai AGD tidak normal (terjadi
Lakukan fisioterapi dada setiap 6-8 jam.
hipoxia dan hiperkapnia).
Kolaborasi dengan dokter untuk :
Ketidakmampuan
mengeluarkan
Monitor AGD.
lendir.
Pemberian O2 tambahan sesuai hasil AGD.
Perubahan TD, nadi, pernafasan dan
Pemberian cairan parenteral.
suhu.
Penurunan aktivitas.
Sianosis.
Gangguan kebutuhan nutrisi :
Kurang dari kebutuhan sehubungan
dengan intake yang kurang akibat dari
dyspnea, produksi sputum yang
berlebihan dan tidak nafsu makan.
DS :
Pasien mengatakan tidak nafsu makan.
DO :
Menurunnya BB, menurunnya massa
otot dan tonus otot, makanan tidak
habis, lemah.

Kaji kebiasaan makan, makanan yang disukai dan yang


tidak.
Catat adanya kesukaran makan.
Timbang BB setiap 2-6 hari.
Lakukan perawatan mulut secara teratur.
Kaji tingkat kebutuhan kalori pasien.
Hindarkan makanan yang mengandung gas.
Sediakan makanan saat hangat.
Kolaborasi dengan dokter untuk :
Pemberian makanan melalui parenteral atau enteral
melalui sonde.
Monitor hasil albumin, glukosa, elektrolit, fungsi
hati.
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyediakan
makanan yang mudah dicerna dan tidak merangsang.
Kurangnya
pengetahuan
tentang Kaji tingkat kemampuan pasien tentang penyakit dan
penyakit dan pengobatan sehubungan
pengobatan.
18

dengan kurangnya informasi dan


kesalahan interprestasi informasi.
DS :
Pasien/keluarga
meminta
keterangan/informasi.
DO :
Adanya
permintaan
pemberian
informasi.
Pernyataan kekhawatiran.
Ketidaktepatan dalam mengikuti
instruksi.
Cemas s/d kegelisahan akibat
kesulitan dalam bernafas.

Jelaskan tentang proses penyakit dan pengobatannya.


Evaluasi kembali tentang informasi yang diberikan
dengan menginstrusikan pasien/keluarga mengulang
tentang informasi tersebut.
Anjurkan klien untuk mengungkapkan kecemasannya.
Motivasi keluarga terutama ibunya untuk selalu
mendampingi klien.
Ajarkan strategi kejang pada klien dengan teknik
kolaborasi nafas dalam.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

19

PENGERTIAN
Kejang demam ialah bangkitkan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal di atas 38C) yang disebabkan oleh proses ekstraknium. Kejang demam merupakan
kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak, terutama golongan umur 6
bulan 4 tahun (Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, EGC, 1997).
Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada peningkatan suhu tubuh yang disebabkan
oleh suatu proses ekstrakranial seperti Otitis Media Acut, Bronchopneumonia,
Tonsilofaringitis Acut, Gastroenteritis dan lain-lain (Agus P & Budi S, Kedaruratan
Medik, Penatalaksanaan Praktis, ed. Revisi, Bina Rupa Aksara, 2000).
GAMBARAN KLINIS
Terjadinya bangkitan kejang bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat,
yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat seperti : Tonsilitas, OMA,
Bronchitis, Furunkilosis dan lain-lain. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam
pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk toniktonik, tonik, klonik, fokal dan akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri, begitu kejang
berhenti anak tidak memberikan reaksi apapun untuk sejenak tetapi setelah beberapa detik
atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf.
Masalah Keperawatan :
1. Gangguan pola nafas tidak efektif.
2. Gangguan mobilisasi.
3. Gangguan rasa nyaman : nyeri.
4. Resiko injury : aspirasi, tersedak, jatuh, laserasi.
5. Gangguan pertukaran gas.
6. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
7. Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh.
8. Gangguan perfusi cerebral.

Rencana Keperawatan
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
INTERVENSI
1. Pola
nafas
tidak
efektif Kaji
kondisi
pernafasan
berhubungan dengan :
kedalaman, kualitas).
20

(irama,

Penumpukan sekret.
Kelemahan saraf dan otot
pernafasan.
Manifestasi data :
DS :
Ibu menyampaikan nafas anaknya
bunyi (spt ngorok) dan anaknya
demam diikuti kejang.
DO :
Anak demam, kejang, suara nafas
tambahan (stridor (+) ; sekret (+),
sesak nafas, nafas cuping hidung,
dyspnea, tachypnea, sinosis.

2.

Gangguan
perfusi
cerebal
berhubungan dengan peningkatan
TIK
(Tekanan
Intrakranial).
Manifestasi data :
DS :
Ibu
menyampaikan
anaknya
muntah, irritable.
DO :
Anak gelisah, muntah proyektil,
kesadaran menurun, letargis, kaku
kuduk, tanda vital tidak stabil.

3.

Resiko injury, aspirasi, tersedak,


laserasi, jatuh berhubungan dengan
kejang demam.
Manifestasi data :
DS :
Ibu mengatakan anaknya demam
kemudian mengalami kejang.
DO :
Anak
demam/hipereksia,
anak
kejang.

Monitor tanda-tanda vital.


Siapkan alat untuk suksion.
Ubah posisi klien agar jalan nafas
terbuka
(ekstensi
leher,
kepala
ditinggikan/miring).
Longgarkan pakaian daerah leher, dada
dan area abdomen.
Lakukan suction sekret dengan hati-hati.
Kolaborasi :
Berikan O2 sesuai dengan kebutuhan.
Bila
perlu
dilakukan
intubasi/tracheostomi.
Pemberian cairan dan elektrolit yang
sesuai.
Pemeriksaan analisa gas darah.
Pemasangan feeding rube jika perlu.
Kaji faktor yang berhubungan dengan
peningkatan TIK.
Monitor status neourologis (reflek
patologis dan fisiologis).
Monitor tanda-tanda vital.
Evaluasi pupil (ukuran, bentuk, reaksi
terhadap cahaya).
Posisikan kepala lebih tinggi.
Pertahankan untuk bed rest.
Kolaborasi :
Berikan O2 yang sesuai.
Pencegahan edema otak dengan
teraphy korticosteroid yang sesuai
(20-30 mg/kgBB) dibagi 3 dosis.
Observasi secara detail saat ada serangan
kejang :
Aktivitas anak sebelum, selama dan
sesudah kejang.
Tipe kejang (tonik klonik, tonik,
klonik).
Inkontinensia.
Tipe kejang.
Frekuensi kejang.
Distress pernafasan.
Lakukan kompres tapid water sponge
bila terjadi hyperpireksia.
Berikan side rail/pengaman terpasang.
Kolaborasi :
Pemberian autikonvulsan.
Pemberian autipiretik.
21

Pemasangan NGT.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN MORBILI

PENGERTIAN
22

Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium yaitu :
1. Stadium kataralis
2. Stadium erupsi
3. Stadium konvalensi
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi terjadinya komplikan b/d
efek
pengaruh
morbili
yang
menyebabkan daya tahan tubuh
berkurang.
Data :
Klien sesak nafas.
Ranchi (+) cuping hidung (+).
Kesadaran berkurang.
Keadaan umum : jelek.
Adanya batuk.
2. Gangguan rasa nyaman b/d adanya
demam (suhu meningkat).
Data :
Suhu 38,5 C.
Mukosa mulut kering.
Mulut terasa pahit dan mual.
3. Gangguan
nutrisi
kurang
dari
kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak
adekuat.
Data penunjang :
Anoreksia.
Makan/minum (-), karena mulutnya
pahit.
Suhu tubuh 38,5 C.
BB berkurang.
4. Kurangnya
pengetahuan
keluarga
tentang perawatan b/d kurangnya
informasi.
Data fokus :
Klien dengan kekurangan gizi.
Klien belum pernah vaksinasi
campak.
Keluarga tidak mengerti tentang
pentingnya gizi dan vaksinasi
campak.

INTERVENSI
Kaji adanya penurunan tingkat kesadaran.
Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam.
Observasi adanya ronchi/cuping hidung.
Rubah posisi tiap 3 jam sekali.
Lakukan fisiotherapi dada.
Sediakan obat-obat sesuai program therapi.
Observasi intake dan output.

Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam.


Berikan minum yang banyak.
Berikan obat-obatan sesuai program terapi.
Berikan posisi tidur Fawler (nyaman).

Berikan minum sedikit-sedikit tapi sering.


Berikan makanan lunak.
Catat intake dan output.
Timbang BB tiap hari catat keseimbangan cairan
periksa turgor kulit.
Monitor tanda-tanda vital tiap 4 jam.
Pertahankan keakuratan tetesan infus sesuai program.
Lakukan oral hygiene.
Berikan penyuluhan/penerangan kepada keluarga
tentang pentingnya gizi untuk balita dan pentingnya
vaksinasi campak.
Ajarkan keluarga cara-cara pemberian makanan yang
sehat untuk balita.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN


DENGEU HEMORAGIC FEVER (DHF)

23

PENGERTIAN
DHF/DBD (demam berdarah) adalah penyakit demam akut pada anak-anak (1-14 tahun) dan
dewasa dengan ciri-ciri demam, manifestasi perdarahan dan cenderung menimbulkan syok
yang dapat menimbulkan kematian.
PENYEBAB
Virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti/Aedes Albopitikus.
GEJALA/TANDA-TANDA
Demam mendadak selama 2-7 hari kemudian menurun.
Manifestasi perdarahan muncul pada hari ke-2 ke-3 dalam bentuk test torniquet (+),
petechie, echymosis sampai pada tingkat lanjut epistaksis, perdarahan gusi.
Pembesaran hepar.
Tanda-tanda syok muncul hari ke-3 sampai ke-7 pada saat demam mulai menurun.
Laboratorik : trombositopeni < 100.00/mm pada hari ke 3-7, peningkatan Ht > 20%
normal pada hari 3-7.
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan keseimbangan cairan tubuh :
Kurang dari kebutuhan sehubungan
dengan peningkatan permeabilitas
dinding
pembuluh
darah
yang
mengakibatkan keluarnya plasma dari
pembuluh darah.
DS :
Pasien mengatakan haus.
DO :
Tekanan darah menurun, nadi
meningkat.
Trombositopenia < 100.00/mm.

Ht meningkat 20%.
Turgor jelek.
Pasien mengeluh haus.
2.

Gangguan nutrisi : kurang dari


kebutuhan
sehubungan
dengan
pemasukan
yang
kurang akibat
anoreksia, mual, muntah.
DS :
24

INTERVENSI
Observasi warna kulit, membran mukosa dan turgor
kulit.
Observasi tanda-tanda vital setiap 1-2 jam.
Observasi tanda-tanda syok lainnya (keringat dingin,
pucat, penurunan kesadaran).
Awasi ketat jumlah cairan yang masuk dan keluar.
Anjurkan pasien untuk minum 2-2,5/hari.
Observasi adanya tanda perdarahan pada gusi,
epistaksis petechie dan echymosis.
Kerjasama dengan tim kesehatan :
Pemberian cairan RL parenteral.
Pemeriksaan Hb, Ht, Trombosit setiap 3-4 jam.
Pemeriksaan hemostase bila terjadi perdarahan.

3.

Pasien mengatakan mual, muntah, nafsu


makan menurun.
DO :
Tampak lemah, konjungtiva pucat,
tonus otot menurun, serum albumin
rendah, BB kurang dari ideal.
Kurang pengetahuan tentang proses
penyakit dan pengobatan sehubungan
dengan kurangnya informasi.
DS :
Pasien mengatakan belum memahami
tentang pengobatannya.
DO :
Pasien selalu menanyakan tentang
tindakan yang dilakukan.
Pasien kurang kooperatif dalam
program pengobatan.

Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang proses


penyakit/pengobatannya.
Diskusikan/jelaskan
penyebab
penyakit,
cara
penularan, kebersihan lingkungan, diet, pemeriksaan
dan pengobatan yang harus dilakukan.
Beri kesempatan pasien untuk menanyakan hal yang
belum dipahaminya.
Berikan penjelasan tentang alasan daripada setiap
tindakan perawatan yang dilakukan.
Berikan penjelasan tentang komplikasi yang dapat
timbul dan hal-hal yang harus segera dilakukan, bila
terjadi perdarahan segera ke rumah sakit/menghubungi
dokter.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN


SINDROM NEFROTIK

25

PENGERTIAN
Sindrom Nefrotik merupakan sekumpulan gejala yang timbul akibat terbuangnya protein
yang disebabkan oleh kerusakan glomerulus secara diffus. Manifestasi kliniknya berupa :
Peningkatan protein di dalam urine.
Penurunan albumin di dalam darah (hypoalbuminemia).
Edema
Peningkatan kolesterol dan LDL serum (hiperlipidemia); yang terjadi sebagai akibat
kerusakan berat dari membran kapiler glomerulus dan merupakan akibat dari peningkatan
permeabilitas glomerulus.
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan volume cairan : kelebihan
volume cairan di ruang interstisial,
perubahan permeabilitas glomerulus
terhadap protein, tertahannya natirum
dan air, resiko kekurangan cairan
(hipovolemia) b.d perpindahan cairan
dari ruang vaskuler ke ruang interstisial.

2.

Gangguan nutrisi : kurang dari


kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anorexia,
kelemahan
dan/atau
pembatasan nutrisi.

26

TINDAKAN KEPERAWATAN
Timbang BB pasien setiap hari.
Ukur intake dan output.
Tentukan berat jenis dan spesimen.
Kaji tingkat edema.
Ukur lingkar perut untuk memonitor tingkat asciter.
Monitor tanda-tanda hipovolemia khususnya jumlah
dan kualitas nadi dan tekanan darah.
Cegah terjadinya dehidrasi karena hipovolemia akibat
retensi cairan.
Antisipasi diurisis dalam 3-4 hari dan kehilangan BB,
meningkatnya output urine dan penurunan berat jenis
urine.
Berikan kortikosteroid atas order dokter.
Berikan diuretic jika dianjurkan.
Berikan diit rendah garam tinggi albumin jika
dianjurkan.
Batasi pemberian cairan selama edema masif.
Rencanakan diet dan makanan dengan pendekatan tim
yang terdiri dari perawat, ahli gizi, orangtua dan anak.
Antisipasi diet tinggi protein yang mungkin tidak
disenangi anak.
Ciptakan makanan yang menarik.
Berikan dalam porsi kecil tapi sering.
Hargai kesukaan dan yang tidak disukai anak.
Gunakan teknik bermain kreatif untuk meningkatkan
nafsu makan (games, penghargaan dan tindakan
khusus).
Ajarkan keluarga memberikan makan.
Ikutkan orang tua atau anak lain untuk makan bersama
anak yang sakit.
Catat intake makanan untuk menghitung jumlah kalori
yang masuk.
Berikan diet sesuai anjuran : rendah garam.

3.

4.

5.

6.

7.

Kaji warna, tekstur kulit dan tingkat edema


(khususnya di sekitar mata dan area yang lainnya).
Tinggikan bagian kepala untuk mengurangi edema
periorbital.
Pertahankan agar kulit tetap hangat dan kering.
Perhatikan di tempat-tempat tertentu seperti daerah
lipatan, jari tangan dan jari kaki : gunakan kasa atau
kapas kering untuk mempertahankan jari tetap terpisah
; hindari penggunaan bedak/powder.
Rubah posisi pasien setiap 2 jam atau bila perlu saat
pasien bed rest.
Berikan perawatan kulit daerah yang tertekan setiap
1-2 jam.
Letakkan bantal di bawah dan diantara kaki untuk
menghindari tekanan.
Berikan penopang/perlindungan pada srotum terutama
pada saat ambulasi.
Lakukan irigasi mata dengan salin hangat setiap 2-4
jam.
Berikan salep mata sesuai permintaan dokter.
Resiko
infeksi
b.d
peningkatan Kaji temperatur, nadi dan respirasi setiap 4 jam atau
kerentanan sekunder terhadap edema
bila perlu.
dan terapi kotikosteroid.
Kaji tanda-tanda infeksi paru dan kulit.
Hindari kontak dengan klien infeksi, khususnya infeksi
saluran nafas yang akut.
Berikan antibiotik propilaksis yang dianjurkan dokter.
Jelaskan pada orang tua bahwa anak tidak dapat
menerima imunisasi sampai anak tidak mendapat
terapi steroid dan bebas dari proteinuria.
Intoleransi aktivitas b.d kelemahan
Pertahankan bed rest sesuai anjuran.
Anjurkan perubahan aktivitas melewati aktivitas
bermain.
Tingkatkan aktivitas sesuai dengan umur.
Anjurkan untuk ambulasi setelah terjadi diuresis dan
tekanan darah serta BB stabil.
Fasilitasi anak untuk beraktivitas yang sesuai dengan
bimbingan (biasanya anak membatasi aktivitas mereka
secara sukarela).
Jadwalkan waktu-waktu istirahat dalam satu hari.
Resiko perubahan citra diri b.d Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaan
perubahan ukuran tubuh yang cepat dan
tentang dirinya.
efek samping terapi steroid.
Anjurkan pasien untuk bertanya tentang diagnosis dan
pengobatannya.
Berikan informasi kepada pasien tentang perubahan
ukuran tubuh yang sementara dan tidak menetap.
Anjurkan anak untuk melihat dirinya di cermin agar
dapat menvisualisasikan dirinya sendiri.
Tunjukkan tingkat edema yang terjadi.
Gangguan integritas kulit b.d edema
seluruh tubuh.

Kurang pengetahuan b.d kurang Jelaskan tentang proses perjalanan penyakit.


informasi tentang perawatan di rumah Jelaskan tentang perlunya kegiatan yang normal
27

dan tindak lanjut yang diperlukan.

dengan rencana waktu istirahat yang dibutuhkan.


Diskusikan tentang diet yang seimbang, asupan protein
yang adekuat, jumlah minuman yang dianjurkan, jika
adanya pembatasan.
Jelaskan tentang perlunya menghindari kontak dengan
seseorang yang terinfeksi saluran nafas akut.
Tekankan tentang pentingnya meningkatkan interaksi
sosial.
Diskusikan gejala dan tanda kambuh yang
memerlukan pemeriksaan kembali ke dokter seperti
bertambahnya
BB,
timbul/bertambah
edema,
berkurang/tidak adanya pengeluaran urine.
Ajarkan tentang nama obat yang digunakan, tujuan,
dosis, waktu pemberian dan efek samping. Misalnya :
efek samping corticosteroid yaitu muka bundar, nafsu
makan meningkat, rambut bertambah, perut tegang,
perasaan melayang.
Ajarkan pasien/orang tua untuk melakukan tes urine
terhadap albumin bila dianjurkan.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN TETANUS


28

PENGERTIAN
Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Clostridium Tetani yang
mengeluarkan eksotoksin. Kuman masuk melalui luka telinga (OMP), tonsil, saluran cerna,
gigi berlubang, umbilikus. Kuman mempunyai masa tunas 5-14 hari. Clostridium Tetani
Anaerob yang berbentuk spora di luar tubuh manusia terbesar luas di tanah, tempat kotor,
besi berkarat, sampai pada tusuk sate bekas.
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Tidak efektifnya kebersihan jalan nafas
berhubungan dengan spasme otot
laring, akumulasi sekret, aspirasi.
DS :
Ibu/anak mengatakan sesak
DO :
Anak nampak sukar bernafas, ada suara
paru tambahan (stridor, wheezing,
ronchi) ada tanda trismus. Episto tonus.
2. Resti gangguan nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kekakuan otot rahang, kesukaran
menelan.
DS :
Ibu mengatakan anaknya sukar bicara,
sukar menelan dan sukar membuka
mulut.
DO :
Anak namapak sukar membuka mulut,
nampak sukar menelan, mukosa kering,
BB menurun, simpanan lemak subkutis
tipis, albumin darah menurun, Hb
menurun
3. Resti terjadi trauma berhubungan
dengan epistotonus, kejang.
DS :
Ibu mengatakan anaknya kejang,
badannya kaku.
DO :
Anaknya nampak kejang, epistotonus,
Rhesus Sardonicus (+) kaku kuduk,
perut kaku seperti papan. Kejang
rangsangan (+).

TINDAKAN KEPERAWATAN
Kaji status pernafasan.
Auskultasi bunyi nafas; ronchi, stridor, wheezing.
Pasang spatel lidah.
Lakukan suction jika perlu dan tidak lebih dari 5-10
detik setiap suction.
Beri oksigen sesuai program.
Kolaborasi
pemberian
teraphi
antikonvulsan,
antibiotik, ats
Kaji status nutrisi.
Observasi dan catat.
Berikan nutrisi melalui NGT jika perlu.
Timbang berat badan setiap hari.
Observasi keadaan mukosa dan turgor.
Berikan nutrisi parenteral sesuai indikasi.
Kolaborasi untuk pengecekan laboratorium (Albumin
darah dan Hb).

Kaji stimulus yang menyebabkan kejang.


Minimalkan/hindarkan hal-hal yang merangsang
timbulnya kejang.
Pasang penghalang/pengaman ditempat tidur.
Pasang spatel lidah bila kejang.
Libatkan orangtua dalam perawatan.
Berikan pengobatan sesuai program pengobatan.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DIABETES MELITUS


29

PENGERTIAN
Adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai
karakteristik hiperglikemi yang disebabkan defisiensi insulin atau akibat kerja insulin yang
adekuat (Brunner dan Sudart).
Manifestasi Klinik :
Glukosa darah > normal
Poliphagia
Polidipsi
Poliuria
Glikosuria
Kelemahan umum
Berat badan menurun
Cepat mengantuk
Gatal pada kulit dan genetalia
KOMPLIKASI
1. Akut : Hipoglikemi dan Ketoasidosis
2. Kronik :
Makrovaskular : jantung, otak, tungkai bawah
Mikrovaskular : ginjal, mata
Neuropati
Mudah infeksi, dll
Diagnosa Keperawatan
NO.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kurangnya pengetahuan s/d kurangnya
informasi o/ tidak adanya keinginan u/
belajar tentang DM dab pengobatannya.

2.

Resiko tinggi terjadinya infeksi s/d


30

TINDAKAN KEPERAWATAN
Kaji tingkat pengetahuan klien dan pola hidup seharihari.
Berikan Pen-Kes secara bertahap tentang :
Pengetahuan dasar DM.
Monitoring GD dan keton darah.
Perencanaan makan.
Program latihan jasmani/OR.
Program pengobatan olto dan insulin.
Gejala komplikasi akut :
Hipoglokemi
ketoasidosis
Jelaskan terjadinya infeksi akibat dari kadar GD yang

peningkatan kadar glukosa darah.

3.

Perubahan persepsi sensorik s/d


kurangnya fungsi fisiologi optimal.

4.

5.

6.

Perubahan
nutrisi
kurang
dari
kebutuhan tubuh s/d defisiensi insulin.

Tidak efektifnya koping individu dan


keluarga s/d marah cemas akibat
prosedur pengobatan dan perawatan.

Resiko perubahan integritas jaringan s/d


kurang optimal sirkulasi respon
sekunder
terhadap
kurangnya
vaskularisasi perifer.

31

tinggi.
Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan a.l :
Mulut dan gigi.
Kulit dan kuku kaki.
Alat genetalia.
Periksa kulit adalah luka atasi segera bila ada luka
kecil.
Anjurkan pasien :
U/ check up tiap 6 bulan.
Kontrol diabetes secara berkala dan teratur.
Kontrol GD secara berkala pertahankan kadar GD
normal.
Kaji adanya perubahan sensasi, nyeri, kesemutan pada
kaki dan tangan.
Ajarkan dan demonstrasikan tentang perawatan kaki :
Personal hygiene kaki dan kuku jaga kaki/selasela jari tetap kering dan bersih.
Pemotongan kuku yang benar.
Pemakaian alas kaki yang baik setiap saat.
Senam kaki.
Pemeriksaan kaki berkala setiap hari.
Gunakan selimut dan kaos kaki u/ menghangatkan
kaki.
Gunakan lotion u/ kulit kaki kering.
Jangan merendam kaki dengan air panas.
Lakukan perawatan luka bila terjadi.
Konsultasi bila ada masalah.
Kaji status nutrisi klien.
Timbang BB tiap hari.
Observasi adanya mual dan muntah.
Tekankan pada klien pentingnya makan sedikit tapi
sering sesuai diet.
Observasi adanya tanda-tanda hipoglikemi.
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang diet pasien.
Kaji tingkat kecemasan pasien.
Lakukan pendekatan dengan pasien.
Anjurkan ibu untuk menemani pasien.
Anjurkan orang tua agar berada saat melakukan
prosedur.
Modifikasi ruangan yang ada.
Berikan rasa nyaman.
Kaji keadaan kulit.
Lakukan personal hygiene.