Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

Dormansi pada Biji Saga (Abrus precatorius)


Fathurrahman (1510100048), Nilna Rizqiyah Mubarokah (1511100034), Risanda Martalina (1511100047), Dian
Fitriani (1511100702)
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia

AbstrakDormansi adalah peristiwa dimana benih atau biji


mengalami masa istirahat (dorman). Praktikum dormansi
bertujuan untuk mematahkan dormansi biji berkulit keras
dengan perlakuan fisik dan kimia. Praktikum ini
menggunakan biji saga (Adenantera pavonina) sebanyak 40 biji
dan dibagi menjadi 10 kelompok, masing-masing 10 biji.
kelompok kelompok 1 biji saga dipotong pada bagian yang
tidak terdapat lembaganya, kelompok kedua direndam di
dalam H2SO4 selama 10 menit, dan kelompok ketiga tidak
diberi perlakuan (kontrol). Biji saga ditanam pada media
tanam berupa tanah dan pasir dengan perbandingan 1:1.
Kemudian pertumbuhan biji diamati dan dihitung banyaknya
biji yang berkecambah pada tiap kelompok selama 14 hari.
Hasil praktikum menunjukan bahwa biji saga yang memiliki
waktu dormansi paling cepat yaitu yang diberi perlakukan
skarifikasi mekanik dengan daya perkecambahannya sebesar
90%, biji saga yang mempunyai waktu dormansi paling cepat
kedua yaitu yang diberi perlakuan skarifikasi kimia dengan
H2SO4 dengan daya perkecambahannya sebesar 80%, dan bii
saga kontrol tidak mengalami perkecambahan sehingga daya
pertumbuhannya 0%.
Kata Kunci Dormansi, biji saga, Adenantera pavonina

merupakan benih non dorman yang dapat mengalami


kondisi yang menyebabkannya menjadi dorman [5].
Sedangkan menurut [5] dormansi dibedakan menjadi
dormansi fisik dan dormansi fisiologis. Dormansi fisik
disebabkan
oleh
pembatasan
struktural
terhadap
perkecambahan biji, sepert kulit biji yang keras dan kedap
sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya
air atau gas-gas ke dalam biji. Sedangkan dormansi
fisiologis dapat disebabkan oleh sejumlah mekanisme, tetapi
pada umumnya disebabkan oleh zat pengatur tumbuh, baik
yang berupa penghambat maupun perangsang tumbuh.
Pada praktikum dormansi digunakan biji tanaman saga
(Abrus precatorius) yang bertujuan untuk mengetahui dan
mematahkan dormansi biji berkulit keras dengan tiga
perlakuan berbeda yaitu kontrol, fisik dengan stratifikasi dan
kimia menggunakan asam sulfat.
METODOLOGI

PENDAHULUAN
Pada perkecambahan tumbuhan tidak memulai kehidupan
akan tetapi meneruskan pertumbuhan dan perkembangan
yang secara temporer dihentikan ketika biji menjadi dewasa
dan embrionya menjadi tidak aktif. Biji yang bersifat
dorman tidak akan berkecambah, meskipun disemaikan
dalam tempat yang menguntungkan sampai petunujuk
lingkungan tertentu menyebabkan bij mengakhiri keadaan
dormansi tersebut [1].
Dormansi yaitu keadaan terbungkusnya lembaga biji oleh
lapisan kulit atau senyawa tertentu. Dormansi merupakan
cara embrio mempertahankan diri dari keadaan lingkungan
yang tidak menguntungkan, tetapi berakibat pada lambatnya
proses perkecambahan [2]. Lama waktu dimana biji dorman
masih hidup dan mampu berkecamabah bervariasi dari
beberapa hari hingga beberapa dekad atau bahkan lebih
lama lagi, bergantung pada spesies dan kondisi lingkungan
[1].
Dormansi dapat dibedakan menjadi beberapa macam.
Menurut [3] dormansi dibedakan menjadi dormansi primer
dan dormansi sekunder. Dormansi primer merupakan
dormansi yang paling umum, yaitu dormansi pada benih
yang terjadi sejak benih masih berada pada tanaman induk,
setelah embrio berkembang penuh [4]. Dormansi sekunder

Waktu dan Lokasi


Praktikum dormansi tanaman ini dilaksanakan pada hari
selasa tanggal 12 Nopember 2013 bertempat di
Laboratorium
Botani
Jurusan Biologi Fakultas
Matermatika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini
adalah sebagai berikut: Biji saga (Abrus precatorius), Asam
sulfat (H2SO4), akuades/air PAM, botol air mineral 1,5 liter,
media tanam tanah:pasir (1:1), cutter, dan amplas.
Cara Kerja
Disiapkan 6 botol air mineral 1,5 liter yang sudah
dilubangi bagian tengahnya dengan menggunakan cutter.
Diambil 30 biji saga dan dibagi dalam 3 perlakuan yaitu
kontrol, fisik (stratifikasi) dan kimia (asam sulfat), masing
masing perlakuan terdiri dari 10 biji.
Perlakuan fisik
Dihilangkan kulit biji saga pada salah satu ujungnya
dengan memotongnya sedikit menggunakan cutter. Dicuci
dengan air dan ditanam pada 2 botol air mineral 1,5 liter
yang sudah berisi media tanam. Masing masing botol
ditanam sebanyak 5 biji saga.
Perlakuan kimia

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN


Direndam biji saga dalam asam sulfat selama 15 menit
dan ditanam pada 2 botol air mineral 1,5 liter yang sudah
berisi media tanam. Masing masing botol ditanam sebanyak
5 biji saga.
Kontrol
Ditanam biji saga didalam 2 botol aqua 1,5 liter yang sudah
berisi media tanam tanah:pasir (1:1). Masing masing botol
ditanam 5 biji saga.
Dilakukan pengamatan setiap harinya selama 2 minggu pada
semua perlakuan. Bila tanahnya kering, disiram dengan air
agar tanah tetap lembap. Diamati waktu perkecambahannya
dan dihitung banyaknya biji yang berkecambah pada tiap
perlakuan selama 14 hari.

HASIL & PEMBAHASAN


Tabel 1. Daya Berkecambah
No.

Perlakuan

1.

Kontrol

2.

Perlakuan Fisik (Stratifikasi)

3.

Perlakuan Kimia (Asam


Sulfat)

Daya Berkecambah

0
100 =0
10
9
100 =90
10
8
100 =80
10

Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa biji


saga (Abrus precatorius) termasuk dalam biji yang
mempunyai kulit keras (ciri-ciri biji tanaman kelompok
leguminosae) sehingga sulit untuk memecah masa
dormansinya karena impermeabel terhadap air. Hal ini
sesuai dengan pernyataan [5] yang menyatakan bahwa benih
yang impermeabel terhadap air dikenal sebagai benih keras
(hard seed). Benih keras (hard seeds) banyak dijumpai pada
benih leguminosae berukuran kecil. Benih keras gagal
mengimbibisi air selama 2 atau 3 minggu, periode yang
cukup untuk uji daya berkecambah. Pada benih keras
tertentu sulit dibedakan apakah penghambatan penyerapan
air ataukah penghambatan mekanis untuk berkembangnya
embrio sebagai penyebab dormansi.
I.

Daya Berkecambah
Hasil tertinggi daya berkecambahan pada tanaman saga
yang diuji adalah biji saga yang diskarifikasi dengan
perlakuan fisik yaitu dengan pemotongan pada salah satu
ujungnya yaitu sebesar 90%. Perlakuan skarifikasi
memungkinkan masuknya air ke dalam benih lebih mudah
sebagai proses awal perkecambahan benih dapat terjadi.
Imbibisi dapat mengaktifkan enzim-enzim perombakan yang
menjadikan karbohidrat, protein dan lemak menjadi
senyawa-senyawa aktif.
Hasil intermediet daya berkecambah pada tanaman saga
yang diuji adalah tanaman saga yang diberi perlakuan kimia
dengan asam sulfat yaitu 80 %. Menurut [5] testa yang
mengandung senyawa tak larut air ke benih, maka pelarut
organik seperti alkohol dan aseton dapat digunakan untuk
melarutkan dan memindahkan 2 senyawa tersebut sehingga
benih dapat berkecambah. Stratifikasi kimia untuk

mendegradsai testa, yaitu asam sulfat. Larutan asam kuat


seperti asam sulfat, asam nitrat dengan konsentrasi pekat
membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat
dilalui oleh air dengan mudah. Menurut [6] asam sulfat
membentuk ion H4 yang banyak sehingga lebih cepat dapat
menghidrolisa kulit biji dan meningkatkan permeabilitas
kulit biji terhapa air dan gas.
Sedangkan daya berkecambah paling rendah terdapat pada
perlakuan kontrol yaitu 0%. Hal ini dikarenakan biji saga
termasuk dalam kelompok leguminosae yang memiliki
benih yang keras dan kecil sehingga impermeabel terhadap
air dan membutuhkan waktu 2 atau 3 minggu untuk
memecah masa dormansinya.
Fungsi perlakuan
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh
pemberian perilaku fisik dan kimia terhadap pematahan
dormansi biji saga (Abrus precatorius). Terdapat 2 macam
perlakuan dan 1 kontrol yang diberikan pada biji yaitu
perlakuan secara fisik dengan pemotongan pada salah satu
ujung biji saga, perlakuan kimia dengan perendaman biji
saga kedalam H2SO4 pekat selama 15 menit serta kontrol
tanpa diberi perlakuan apapun.
Pada percobaan ini digunakan biji saga karena biji ini
merupakan salah satu biji yang mempunyai masa dormansi
yang lama dan susah untuk memecah masa dormansinya.
Tanaman ini termasuk dalam famili Leguminosae atau
Fabaceae. Berikut klasifikasinya:
Regnum : Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Abrus
Species : Abrus precatorius
[7]
Biji saga termasuk dalam hard seed yang berbentuk bulat
lonjong, panjang 5-9 m, warna merah mengilap berbercak
hitam disekitar hilum yang berwarna putih [8].
Perlakuan fisik pada praktikum dormansi ini dilakukan
dengan memotong salah satu ujung biji saga untuk memecah
masa dormansinya agar dapat dilalui air dan udara,
sehingga imbibisi sebagai proses awal perkecambahan benih
dapat terjadi. Menurut [9] imbibisi dapat mengaktifkan
enzim-enzim perombakan yang menjadikan karbohoidrat,
protein dan lemak menjadi senyawa-senyawa aktif. Setelah
pemotongan, biji ditanam pada media tanam tanah:pasir
(1:1). Media tanah dan pasir digunakan sebagai sumber
asupan nutrisi bagi biji saga yang siap dikecambahkan.
Perbandingan pasir dan tanah yang digunakan 1:1 agar
pertumbuhan mkasimal dan terjadi keseimbangan nutrisi
dan komposisi median tanam.
Perlakuan kimia dengan perendaman dalam asam sulfat
pekat dilakukan untuk melunakkan kulit biji yang keras.
Waktu yang digunakan untuk perendaman ini adalah 15
menit, karena rentan waktu tersebut dianggap cukup untuk
meresapnya H2SO4 kedalam biji saga yang akan melunakkan
biji tersebut sehingga terpecah masa dormansinya. H 2SO4
bersifat asam, sangat keras, berbau menyengat, dan dapat
mereduksi lapisan bahan dengan cepat. Menurut [10]
perkecambahan dapat sangat dipacu dengan merendam biji
terlebih dahulu dengan asam sulfat selama beberapa menit.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN


Mekanisme tiap perlakuan pada pematahan dormansi
Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah
membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang
sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai
proses
perkecambahannya.
Pretreatment
skarifikasi
digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji,
sedangkan skarifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi
embrio [11].
Perlakuan mekanis, diantaranya yaitu dengan skarifikasi.
Skarifikasi mencakup cara-cara seperti mengkikir atau
melubangi benih dengan pisau. Tujuan dari perlakuan
mekania ini adalah untuk melemahkan kulit biji yang keras
sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas [11].
Perlakuan skarifikasi memungkinkan masuknya air ke
dalam benih lebih mudah sebagai proses awal
perkecambahan benih dapat terjadi. Imbibisi dapat
mengaktifkan enzim-enzim perombakan yang menjadikan
karbohidrat, protein dan lemak menjadi senyawa-senyawa
aktif.
Mekanisme dari perlakuan kimia adalah menjadikan agar
kulit biji lebih mudah dimasuki air pada waktu proses
imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam sulfat, asam nitrat
dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lebih
lunak sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah.
Menurut [12] Pencelupan benih dalam larutan asam sulfat
akan mengakibatkan rusaknya kulit benih. Kerusakan kulit
benih ini diikuti dengan membukanya lumen sel
macrosclereid yang menyalurkan air ke dalam jaringan
benih yang akan merangsang perkecamabahan benih lebih
cepat.
Perkecambahan biji tergantung pada imbibisi, penyerapan
air akibat potensial air rendah pada biji yang kering. Air
yang berimbibisi menyebabkan biji mengembang dan
memecahkan kulit pembungkusnya dan juga memicu
perubahan metabolik pada embrio yang menyebabkan biji
tersebut melanjutkan pertumbuhan. Enzim-enzim akan
mulai mencerna bahan-bahan yang disimpan pada
endosperma atau kotiledon, dan nutrien-nuriennya
dipindahkan ke bagian embrio yang sedang tumbuh [1].
II. Tahap perkecambahan
1. Imbibisi yaitu proses penyerapan air oleh benih
sehingga kulit benih melunak dan terjadilah hidrasi
dari protoplasma [13].
2. Perombakan cadangan makanan di dalam
endosperm [13].
3. Perombakan bahan-bahan cadangan makanan yang
dilakukan oleh enzim (amilase, protease, lipase)
[13].
4. Translokasi makanan ke titik tumbuh
setelah penguraian bahan-bahan karbohidrat,
protein, lemak, menjadi bentuk-bentuk yang
terlarut kemudian ditranslokasikan ke titik tumbuh
[13].
5. Pembelahan dan pembesaran sel
Assimilasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan
tadi di daerah meristematik menghasilkan energi
bagi kegiatan pembentukan komponen dan
pertumbuhan sel-sel baru [13].
6. Munculnya radike dan plumula
Radikel dan plumula muncul dari kulit biji [13].
Pada praktikum ini dapat diketahui tahap-tahap
perkecambahan setelah masa akhir dormansi, yaitu :

3
1.

2.

Proses awal perkecambahan sebelum gejala


perkecambahan nampak. Pada tahap ini terjadi
mekanisme imbibisi yaitu penyerapan air oleh
benih, reaktivitas enzim, inisiasi pertumbuhan
embrio, dan retanya kulit benih dengan ditandai
oleh munculnya akar yang menembus kulit benih.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pada tahap ini
yaitu permeabelitas kulit benih, suhu, komposisi
kimi benih dan konsentrasi air.
Proses lanjut perkecambahan yaitu sesudah gejala
perkecambahan tampak diawali dengan munculnya
akar menembus kulit benih. Setelah proses radikula
menembus kulit benih, hipokotil menembus kulit
benih, hipokotil memanjang, melengkung, dan
menembus ke atas permukaan tanah. Setelah
hipokotil menembus permukaan tanah kemudian
hipokotil meluruskan diri dengan cara demikian
kotiledon yang masih tertangkup tertarik ke atas
permukaan tanah juga kulit benih tertinggal di
permukaan tanah, dan selanjutnya kotiledon
membuka dan daun pertama (plumula) muncul ke
udara. Beberapa saat kemudian, kotiledon meluruh
dan jatuh ke tanah. Mekanisme yang terjadi pada
tahap ini yaitu perombakan cadangan makanan
(karbohidrat, lemak, protein), respirasi, dan
pertumbuhan kecambah. Faktorfaktro yang
mempengaruhi pada tahap ini yaitu cahaya, suhu,
dan gas.

Perkecambahan dibagi menjadi dua macam berdasarkan


letak kotiledonnya, yaitu :
1. Perkecambahan epigeal
Perkecambahan epigeal adalah tipe perkecambahan
dimana munculnya radikula dengan memanjangnya
hipokotil secara keseluruhan dan membawa serta
kotiledon dan plumula ke atas permukaan tanah.
Tipe ini biasanya terdapat padatanaman dikotil
(kakao, kopi, polong-polongan dan lain-lain) [1].
2. Perkecambahan hipogeal
Tipe hipogeal adalah tipe perkecambahan dimana
munculnya radikula diikuti dengan pemanjangan
plumula, hipokotil tidak memanjang ke atas
permukaan tanah sedangkan kotiledon tetap berada
di dalam kulit biji di bawah permukaan tanah. Tipe
ini biasanya terdapat pada tanaman monokotil
(jagung, padi, dan lain-lain) [13].
Apabila dilihat dari teori [13] biji saga memiliki tipe
perkecambahan epigeal karena dia merupakan tanaman
dikotil dari kelompok polong-polongan (fabaceae).
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum yang telah
dilakukan dilakukan bahwa pematahan dormansi biji
berkulit keras dapat dilakukan dengan beberapa perlakuan
yakni perlakuan skarifikasi mekanik denga cara pemotongan
pada ujung biji, dan perlakuan skarifikasi kimiawi dengan
cara perendaman pada larutan asam sulfat (H 2SO4). Hasil
menunjukan bahwa metode pemotongan pada ujung biji
memberikan efektivitas yang cepat, dengan batasan nilai uji
daya perkecambahan sebesar 90%, sedangkan metode

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN


perendaman dengan di dalam larutan H2SO4 selama 15
menit menunjukan uji daya perkecambahan sebesar 80%,
dan kontrol 0%.

[8]
[9]
[10]

DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]

Campbell, et al. Biolologi jilid 2. Jakarta. Erlangga. 2002.


Agromedia. Kunci sukses memperbanyak tanaman. Jakarta. Redaksi
agromedia pustaka. 2007.
Aldrich, R. J. 1984. Weed Crop Ecology Principles in Weed
Management. Wadsworth, Inc., Belmont, California, USA. p : 92-126;
210-244.
Copeland LO, McDonald MB. 2001. Principles of Seed Science and
Technology, 4th edition. London: Kluwer Academic Publishers.
Soejadidan US Nugraha. Pengaruh perlakuan pematahan dormansi
terhadap daya berkecambah padi. Bogor. IPB. 2002.
Panjaitan, Sudin. Pengaruh Pemberian Asam Sulfat dan Giberelin
terhadap Daya Berkecambah Benih Rotan Manau. Buletin Teknologi
Reboisasi No. 8/2002 hal. 17-30. 2002.
Anonim. Klasifikasi tanaman saga. www.plantamor.com pada tanggal
14 Desember 2013 pukul 20.00.

[11]
[12]
[13]

4
Dalimartha, Setiawan, dr. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 5.
Jakarta. Pustaka Bunda. 2008.
Saleh, M.S. Pematahan dormansi benih aren secara fisik pada
berbagai ekstraksi buah. UNTAD. 2004.
F.B. Salisbury dan C.W. Ross. Fisiologi Tumbuhan. jilid 1.
Terjemahan dari Plant `Physiologi 4 th Edition oleh Dish R. Lukman
dan Sumaryono. Bandung : ITB. 1995.
Abdi. Dormansi pada benih tanaman pangan dan cara praktis
membangkitkannya. Diakses dari www.tanindo.com pada tanggal 15
Desember 2013 pukul 13.00.
Delvin, R. M. Plant Physiology Edition III. New York. D. Van
Nostard Company. 1975.
L. Sutopo. Teknologi Benih. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
2002.