Anda di halaman 1dari 76

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Kata Pengantar
Kepala Pusat Pendidikan Dan Latihan Pajak

Dunia tidak atau belum mempunyai UU Pajak Internasional yang berlaku sebagai
Hukum Positif dan hal itu sulit untuk diwujudkan karena tiap Negara mempunyai
system dan cara yang berbeda untuk mensejahterakan rakyat.
Dibidang Perpajakan tiap Negara mempunyai hak menentukan sendiri UU Pajaknya
sesuai dengan kondisi masing-masing Negara. Memang telah ada Perjanjian
Perpajakan antara Indonesia dengan berbagai Negara yang mengatur pada
umumnya mengenai Pajak Penghasilan, tetapi masih banyak yang tidak diatur
disana. Disamping itu Perjanjian Perpajakan belum meliputi semua Negara.
Kebutuhan Pajak Internasional untuk keperluan peserta Diklat Teknis Substantif
Spesialisasi (DTSS) PPh Tingkat Menengah dan Tingkat Tinggi adalah aplikasi UU
Pajak Indonesia terhadap Penghasilan Wajib Pajak Dalam Negeri yang berasal dari
Luar Negeri dan Penghasilan Wajib Pajak Luar Negeri yang diterima dari Indonesia.
Modul ini sudah mencakup hal tsb diatas, disamping itu juga Modul ini berisi
pengetahuan yang berkaitan dengan Transfer Pricing, Kurs Valuta Asing, Standar
Pengajian Karya asing, Loan dan Grant serta Bentuk Usaha Join Operation. Oleh
karena itu tentu saja bukan Pajak Internasional Teori yang diajarkan di Perguruan
Tinggi.
Mudah-mudahan Modul ini dapat bermanfaat bagi peserta Diklat yang dilapangan
apabila menemui hal-hal yang berkaitan dengan isi modul ini, untuk dapat
menerapkan sesuai dengan UU Pajak Indonesia dengan tepat.
Jakarta, Mei 2010
Kepala Pusdiklat Pajak,

Dr Chaizi Nasucha
NIP 195201091981031002

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

KATA PENGANTAR DARI PENULIS


Modul ini disusun berdasarkan Surat Penugasan dari Kepala Pusdiklat Pajak untuk
dipakai pada Diklat Teknis Substantif Spesialisasi (DTSS) PPh Tingkat Menengah
dan Tingkat Tinngi di Pusdiklat Perpajakan.
Modul ini berjudul Pajak Internasional, tidak bersifat teoritis karena itu isinya
disesuaikan dengan kebutuhan praktek pegawai Dit.Jen Pajak. Tidak dapat
disangkal transaksi Internasional sudah merupakan hal yang umum ditemukan pada
Wajib Pajak Indonesia.
Sehingga masalah-masalah yang dibahas dalam modul ini menyangkut Subjek
Pajak dalam Negeri dimana didalamnya ada unsur asingnya, maupun Subjek Pajak
Luar negeri yang menerima Penghasilan dari Indonesia dan masalah-masalah lain
yang berhubungan dengan Valuta Asing, Transfer Princing, Loan dan Grant dsbnya.
Oleh karena itu isi modul ini sudah disesuaikan dan sudah mencakup kebutuhan
seorang pegawai pajak dalam melaksanakan tugasnya kalau menemukan hal-hal
yang berhubungan dengan masalah tsb diatas.
Diharapkan penerapan materi dalam modul ini disesuaikan dengan kebutuhan
peserta Diklat.
Modul ini tentu saja tidak sempurna, diharapkan masukan dari pembaca sehingga
pada saatnya nanti akan diadakan perbaikan berikutnya agar lebih up to date lagi.
Terimakasih pada rekan-rekan yang memberi masukan sehingga modul dapat
diterbitkan pada waktunya.
Jakarta,
Penulis,
Richard Eddy
NIP 060027660

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

ii

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

DAFTAR ISI
Kata Pengantar dari Kepala Pusdiklat Perpajakan
i
Kata Pengantar dari Penulis ..
ii
Daftar isi
iii
Pendahuluan ..
1
Kegiatan Belajar 1 Pajak Internasional .
4
Kegiatan Belajar 2 Perjanjian Perpajakan .
8
Kegiatan Belajar 3 Transfer Princing
12
Kegiatan Belajar 4 Kurs Valuta Asing ..
20
Kegiatan Belajar 5 Standar Gaji Karyawan Asing
25
Kegiatan Belajar 6 Pemajakan Wajib Pajak Dalam Negeri yang mendapatkan
Penghasilan dari Luar Negeri .
27
Kegiatan Belajar 7 Pemajakan Wajib Pajak Luar Negeri atas penghasilan dari
Indonesia .
38
Kegiatan Belajar 8 Pemajakan WP Bentuk Usaha Tetap (BUT) ...
41
Kegiatan Belajar 9 Pemajakan atas WP Penanaman Modal Asing (PT PMA)...
53
Kegiatan Belajar 10 Pemajakan atas Bentuk Usaha Kerjasama (Joint Operation)
59
Kegiatan Belajar 11Pemajakan Perusahaan Proyek Pemerintah dengan Dana
Bantuan Luar Negeri ..
62

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

iii

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Test Formatif ..
65
Umpan Balik Tindak Lanjut .......................................................................................
69
Daftar Pustaka
70
Lampiran 1 Pedoman Standar gaji Karyawan Asing .
71
Lampiran 2 Tarif PPH Pasal 26 atas Bunga, Royati, Dividend dan Pajak Atas
Laba setelah Pajak dari BUT dalam P3B Indonesia ..
72
Lampiran 3 Pengoperasian Kapal Laut dan Pesawat Udara dalam Jalur
Internasional dalam P3B Indonesia
74

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

iv

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

PENDAHULUAN
1. Deskripsi Singkat.
Judul modul ini adalah Pajak Internasional. Oleh karena itu, kita akan berpikir
bahwa modul ini akan membahas aturan-aturan pajak yang berlaku secara
internasional, atau bagaimana cara pemungutan pajak oleh suatu negara yang
ada kaitannya dengan transaksi internasional atau wajib pajak suatu negara
melakukan suatu kegiatan usaha di negara lain.
Kita mengetahui bahwa tidak ada atau belum ada hukum positif di bidang
perpajakan yang berlaku umum di semua negara. Kalau demikian, bagaimana
cara pemungutan pajak oleh suatu negara apabila menyangkut transaksi
internasional yang tentu saja sangat tergantung pada Undang-Undang Pajak
suatu negara dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan internasional yang
telah ada dan memperhatikan perjanjian perpajakan antar negara.
2. Relevansi Diklat
Modul ini dipakai pada diklat yang pesertanya berasal dari Direktur Jenderal
Pajak dan kegunaannya supaya peserta diklat menguasai mata pelajaran ini
dan bagaimana cara pemungutan pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak
Indonesia termasuk wajib pajak yang memiliki transaksi internasional.
Seperti kita ketahui dalam rangka menetapkan pajak terhutang diwilayah
Republik Indonesia, Undang-Undang Pajak Indonesia berlaku sepenuhnya.
Khusus bagi negara-negara yang telah mengadakan perjanjian perpajakan
dengan Indonesia, maka kedudukan perjanjian perpajakan lebih tinggi dari
Undang-Undang Pajak Indonesia.
Undang-Undang Pajak Indonesia yang dimulai dari reformasi perpajakan (1984)
dan secara terus menerus diadakan perubahan sesuai dengan perkembangan
jaman. Sampai dengan saat ini UU Pajak terdiri dari:
1. Ketentuan Undang-Undang Pajak Formal,
a. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan
Tatacara Perpajakan, yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9
Tahun 1994 dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000, terakhir dengan
UU No. 28 Tahun 2007.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

b. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Panagihan Pajak dengan


Surat Paksa yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun
2000.
c. Undang-Undang nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian
Sengketa Pajak yang telah dicabut diganti dengan, Undang-Undang Nomor
14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak.
2. Ketentuan Undang-Undang Pajak Materiel,
a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, yang
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991, UndangUndang Nomor 7 Tahun 1991, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994 dan
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000. Terakhir dgn UU Nomor 36 Tahun
2008
b. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang pajak Pertambahan Nilai
yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 tahun 1994 dan
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000, UU No. 28 tahun 2007 dan terakhir
dengan UU No. 42 Tahun 2009.
c. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan,
yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994.
d. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai.
e. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan, yang telah diubah dengan undang-Undang Nomor 20
Tahun 2000.
f.

Undang-Undang Nomor 18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi


Daerah, yang telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28

Tahun 2009.
3. Tujuan Instruksional Umum
Setelah peserta Diklat mengikuti mata pelajaran ini, diharapkan dapat
mengetahui

dan

menjelaskan

bagaimana

pemungutan

pajak

apabila

menyangkut transaksi internasional menurut UU Pajak Indonesia.


4. Tujuan Instruksional Khusus.
Setelah peserta Diklat mengikuti mata pelajaran ini. Diharapkan dapat
menghitung

pajak

yang

terutang

dengan

benar

apabila

Wajib

Pajak

mendapatkan penghasilan lintas negara dengan memperhatikan Perjanjian


Perpajakan.
MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

KEGIATAN BELAJAR 1
PAJAK INTERNASIONAL
1. UMUM
Pajak Internasional adalah suatu pengetahuan yang mempelajari penerapan
peraturan perpajakan secara internasional pada orang pribadi atau badan usaha
yang terutang pajak dalam lalu lintas internasional (lintas negara).
Dalam era globalisasi, perdagangan internasional atau perdagangan lintas
negara sudah menjadi hal yang umum, dimana penduduk suatu negara
melakukan kegiatan usaha di negara lain atau sebaliknya menerima
penghasilan dari Negara lain sudah merupakan hal yang umum.
Apabila dua otoritas negara saling berhadapan dimana masing-masing negara
berdaulat (souvereign country) dan sama-sama menjalankan Undang-Undang
Pajak masing-masing (jurisdiction to tax), maka tidak dapat disangkal akibatnya
terjadi pergesekan (konflik) yang pada umumnya berdampak menjadi pajak
berganda (double taxation).
Gambar 1
INDONESIA

AMERIKA
SERIKAT

Konflik (pajak berganda)


Tiap negara akan mempertahankan prinsip atas azas pengenaan pajak masingmasing, tetapi juga tidak dapat dilupakan bahwa setiap negara ingin berbuat
baik kepada negara lain (bermasyarakat).
Sampai dengan saat ini dunia belum mempunyai Hukum Pajak Internasional
(hukum yang berlaku secara internasional) yang mengatur pengenaan pajak
apabila terjadi transaksi antar negara (Internasional).
2. Bagaimana Negara Mengurangi Dampak Pajak Berganda.
Ada tiga cara yang dipakai oleh negara-negara untuk menghindari atau
mengurangi dampak pajak berganda untuk melindungi penduduk suatu negara :

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Pertama, ikut serta dalam pertemuan internasional (konvensi / traktaat) untuk


mencapai kesepakatan menghindari / mengurangi terjadinya pajak berganda.
Adapun hasil-hasil konvensi yang telah pernah ada dan dilaksanakan oleh
Indonesia antara lain:
1. Bidang Pajak Penghasilan
a. Azas Reprositas (tet) atau azas timbal balik, apabila negara lain tidak
mengenakan pajak penghasilan untuk pejabat perwakilan negara kita
(Duta Besar atau Konsulat), maka pejabat perwakilan negara tersebut
yang berada di Indonesia pun tidak dikenakan pajak penghasilan.
b. Kegiatan usaha suatu Bentuk Usaha Tetap (BUT) apabila melakukan
pembelian barang atau barang dagangan yang dikirimkan ke induk
perusahaannya diluar negeri di kecualikan sebagai objek Pajak.
c. Penghasilan perusahaan pelayaran dan penerbangan jalur Internasional
yang berasal dari luar negeri kedalam negeri dikecualikan sebagai objek
pajak.
2. Bidang Pajak Pertambahan Nilai
a. Penyerahan Barang kena Pajak tidak berwujut yang berasal dari luar
daerah pabean dikenakan Pajak Pertambahan Nilai apabila dipakai di
dalam daerah pabean.
b. Penyerahan jasa Kena Pajak yang berasal dari luar daerah pabean
dikenakan Pajak Pertambahan Nilai apabila dimanfaatkan didalam
daerah pabean
Kedua, mengadopsi kesepakatan-kesepakatan Internasional tersebut dalam
Undang Undang Pajak masing-masing negara.
Indonesia sebagai suatu negara yang berdaulat ikut serta menghindarkan/
mengurangi terjadinya pajak berganda dengan mengadopsi kesepakatankesepakatan Internasional tersebut dalam Undang-Undang Pajak Nasional.
Pasal pasal yang diadopsi disamping untuk menghindari/ mengurangi pajak
berganda juga untuk adanya suatu kepastian hukum sebagai berikut :
1. Bidang Pajak Penghasilan (Undang-Undang Pajak Penghasilan)
a. Pasal 2 ayat 4

: Subjek Pajak Luar Negeri

b. Pasal 2 ayat 5

: Bentuk Usaha Tetap (BUT)

c. Pasal 3

: Pengecualian Subjek

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

d. Pasal 5

: Objek Pajak Bemtuk Usaha Tetap

e. Pasal 21 ayat 2

: Pengecualian Sebagai Pemotong Pajak.

f.

: Pengkreditan Terbatas (ordinary tax credit)

Pasal 24

g. Pasal 26 ayat 1,2

: Pemotong Pajak atas Penghasilan yang diterima


oleh Subjek Pajak Luar Negeri

h. Pasal 26 ayat 4

: Laba setelah pajak dari Bentuk Usaha Tetap

i.

: Pemerintah berwenang melakukan perjanjian

Pasal 32 A

perpajakan dengan negara lain


2. Bidang Pajak Pertambahan Nilai (Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai)
a. Pasal 4 ayat 1 huruf d :

Pemanfaatan

Barang

Kena

Pajak

tidak

berwujud dari luar pabean di dalam daerah


pabean
b. Pasal 4 ayat 1 huruf e :

Pemanfaatan Jasa Kena pajak dari luar


daerah pabean di dalam daerah pabean

c. Pasal 4 ayat 1 huruf f

Ekspor barang kena pajak berwujud oleh


Pengusaha Kena Pajak

d. Pasal 4 huruf 1 huruf g :

Ekspor barang kena pajak tidak berwujud oleh


Pengusaha Kena Pajak

e. Pasal 4 ayat 1 huruf h

Ekspor jasa kena pajak oleh Pengusaha Kena


Pajak

Ketiga, antar negara mengadakan perjanjian perpajakan (tax treaty) yang kita
sebut dengan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda dan Pencegahan
Pengelakan Pajak (P3B). dengan maksud untuk melindungi penduduk suatu
negara supaya jangan menanggung pajak dari dua atau lebih otoritas pajak
(dalam negeri dan luar negeri) yang disebut pajak berganda. Dalam hal telah
ada perjanjian perpajakan maka pemungutan pajak berdasarkan perjanjian
perpajakan (kedudukan perjanjian perpajakan lebih tinggi) dari Undang-Undang
Pajak Nasional suatu Negara, Indonesia sampai saat ini telah mengadakan
persetujuan penghindaran Pajak Berganda (P3B) dengan 58 Negara.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

3. Latihan
1. Apa sebabnya diperlukan Hukum Pajak Internasional padahal kita
mengetahui tiap Negara mempunyai kedaulatan sendiri-sendiri dalam
menjalankan pemerintahannya.
2. Bagaimana cara negara melindungi penduduknya apabila mengalami
pengenaan pajak berganda atas transaksi internasional.
3. Apakah konvensi atau traktat yang telah disepakati tidak cukup untuk
mengatasi terjadinya pengenaan pajak berganda.
4. Rangkuman
Adalah suatu hal yang tidak mungkin membatasi keberadaan penduduk
Indonesia untuk tidak melakukan kegiatan diluar wilayah Indonesia. Kalau ini
yang terjadi maka pergesekan antar otoritas pajak tidak dapat dihindari. Belum
ada hukum positif yang mengatur hal tsb diatas Tiap Negara berusaha
melindungi penduduknya, oleh karena itu diperlukan usaha-usaha untuk
mengurangi dampak pajak berganda tsb. Negara kita mencoba mengurangi
dampak pajak berganda tsb dengan cara mengadopsi masalah tsb dalam UU
Pajak kita. Ikut serta dalam pertemuan-pertemuan internasional yang ada
kaitannya dengan perpajakan (convensi/traktaat). Secara terbatas antar negara
diadakan perjanjian perpajakan untuk mengurangi atau menghapuskan
terjadinya pajak berganda tsb.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

KEGIATAN BELAJAR 2
PERJANJIAN PERPAJAKAN
1. UMUM
Pada umumnya diadakan perjanjian perpajakan antar negara (bilateral atau
multilateral) untuk menghindari / mengurangi dampak pajak berganda yang
dialami oleh penduduk suatu negara yang melakukan transaksi internasional
(antar negara).
Pajak berganda yuridis (yuridical double taxation) adalah pengenaan pajak oleh
dua atau lebih administrasi pajak terhadap subjek pajak yang sama, atas objek
pajak yang sama mengenai jenis pajak yang sama dan dalam priode yang
identik.
Pajak berganda ekonomis (economic double taxation) adalah pengenaan pajak
oleh dua atau lebih administrasi pajak terhadap subjek pajak yang berlainan,
atas objek pajak yang sama mengenai jenis pajak yang sama dalam periode
yang identik.
Timbulnya pajak berganda disebabkan perbedaan/ persamaan penerapan azas
pengenaan pajak yang dilakukan oleh tiap negara berdaulat (souvereign
country). Azas-azas pengenaan pajak terdiri dari azas domisili/ kependudukan
(domicilie / recidence principles), azas nasionalitas/

kewarganegaraan

(nationality/ citizenship principles) dan azas sumber (source principles) dan azas
territorial (territorial principles).
2. Model Perjanjian Perpajakan.
1. OECD model/ draf of double taxation on income and capital dari
Organization For Economic Cooperation and Development. Oleh karena
yang merancang model ini adalah negara maju (develop countries) maka
penekanannya

merupakan kekuatan bagi negara maju dengan hak

pemajakan ada pada

negara domisili (shall be taxable only in resident

country)
2. UN model (United Nation Model) yaitu model double taxation convention
between develop and developing countries. Model ini dirancang oleh Ad hoc
group develop

and

developing

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

countriers United

Nation,

sehingga

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

diharapkan dapat menguntungkan baik pihak develop countries maupun


developing countries (sesuai pernyataan maybe taxed in source country)
3. Model Lain seperti Andean pact ( untuk Andean countries), Nordic
Convention (untuk European Nordic State).
Inisiatif untuk melakukan perjanjian perpajakan biasanya dimulai oleh negara
maju, berbeda pada negara-negara Africa walapun sebenarnya belum/ kurang
bermanfaat mereka menginginkan juga dilakukan perjanjian perpajakan.
Disamping menghindarkan pajak berganda (avoidance of double taxation)
tujuan lain dari perjanjian perpajakan juga untuk pencegahan penyelundupan
pajak ( prevention of fiscal evasion) melalui exchange of information dan tujuan
lain yang tidak kalah penting adalah
a. mendorong investasi asing
b. memajukan hubungan ekonomi dan perdagangan internasional
c. mendorong mengalirnya keahlian, teknologi dan know how.
d. membagi hak pemajakan (sharing of taxation)
3. Model Konvensi OECD
Untuk mendapat gambaran tentang struktur Perjanjian Perpajakan, Model
OECD sbb:
JUDUL DAN PREAMBUL,
Bab I RUANG LINGKUP PERJANJIAN.
Pasal 1 Orang atau badan yang tercakup perjanjian.
Pasal 2 Pajak-Pajak yang tercakup perjanjian.
Bab II PENGERTIAN-PENGERTIAN.
Pasal 3 Pengertian Umum.
Pasal 4 Penduduk.
Pasal 5 Bantuk Usaha Tetap.
Bab III PAJAK ATAS PENGHASILAN.
Pasal 6 Penghasilan Dari Barang Tak Gerak.
Pasal 7 Laba Usaha.
Pasal 8 Pelayaran, pengangkutan danau dan sungai, dan penerbangan jalur
Internasional.
Pasal 9 Perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa.
Pasal 10 Dividen.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Pasal 11 Bunga.
Pasal 12 Royalty.
Pasal 13 Keuntungan karena pemindahan tanganan harta.
Pasal 14 Pekerjaan bebas.
Pasal 15 Hubungan pekerjaan.
Pasal 16 Pembayaran penghasilan direktur.
Pasal 17 Para artis dan olahragawan.
Pasal 18 Pensiun.
Pasal 19 Jabatan Pemerintah.
Pasal 20 Mahasiswa dan pelajar.
Pasal 21 Penghasilan lain-lain.
Bab IV PAJAK ATAS KEKAYAAN.
Pasal 22 Kekayaan.
Bab V METODE PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA.
Pasal 23A Metode pembebasan (exemption method)
Pasal 23B Metode pengkreditan pajak (credit method).
Bab VI KETENTUAN KHUSUS.
Pasal 24 Non diskriminasi.
Pasal 25 Prosedur kesepakatan bersama.
Pasal 26 Pertukaran informasi.
Pasal 27 Para Diplomat dan Pejabat Konsular.
Pasal 28 Perluasan wilayah berlaku perjanjian.
Bab VII KETENTUAN PENUTUP.
Pasal 29 Berlakunya perjanjian.
Pasal 30 Penghentian perjanjian.
Hampir semua perjanjian perpajakan Indonesia dengan Negara partner
memakai model ini.
4. UN Model
JUDUL DAN PREAMBULE
Pasal 1 Orang dan badan yang tercakup dalam perjanjian.
Pasal 2 Pajak-Pajak yang tercakup dalam persetujuian
Pasal 3 Definisi- definisi umum
Pasal 4 Penduduk

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Pasal 5 Bentuk Usaha Tetap


Pasal 6 Penghasilan deari harta tak gerak
Pasal 7 Laba Usaha
Pasal 8 Perkapalan dan pengangkutan udara
Pasal 9 Perusahaan- perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa
Pasal 10 Dividen
Pasal 11 Bunga
Pasal 12 Royalti
Pasal 13 Keuntungan dari pemindahtanganan harta
Pasal 14 Pekerjaan bebas
Pasal 15 Pekerjaan dalam hubungan kerja
Pasal 16 Imbalan Direktur
Pasal 17 Para artis dan atlet
Pasal 18 Pension
Pasal 19 Pejabat Pemerintah
Pasal 20 Guru dan Peneliti
Pasal 21 Siswa dan Pemagang
Pasal 22 Penghasilan lainnya
Pasal 23 Methode Penghindaran Pajak Berganda
Pasal 24 Non diskriminasi
Pasal 25 Tata cara persetujuan bersama
Pasal 26 Pertukaran informasi
Pasal 27 Pejabat diplomatic dan konsuler
Pasal 28 Berlakunya persetujuan
Pasal 29 berakhirnya persetujuan.
5. Latihan
1. Apakah tujuan utama sebuah Negara mengadakan perjanjian perpajakan
dengan negara lainnya.
2. Dalam melakukan perjanjian perpajakan pada umumnya selalu berhadapan
Negara maju dengan Negara berkembang, apa motivasi Negara maju dan
Negara berkembang mengadakan perjanjian perpajakan.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

10

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

3. Perjanjian perpajakan tidak mencantumkan saksi pada pasal-pasalnya


kecuali batasan berlakunya perjanjian perpajakan ini. Apakah berarti boleh
saja sebuah Negara partner tidak mematuhi perjanjian perpajakan ini.
5. Rangkuman
Ada 2 (dua) bentuk perjanjian perpajakan yaitu Model OECD dan Model United
Nation, yang dapat dipakai sebagai acuan apabila suatu negara akan
melakukan perjanjian perpajakan.
OECD Model / draf of double taxation on income and capital dari Organization
for Economic Cooperation and Develompment. Oleh karena yang merancang
model ini adalah negara maju ( develop countries) maka penekanannya
merupakan keuntungan bagi negara maju dengan hak pemajakan ada pada
negara domisili (shall be taxable only in resident country)
UN Model (United Nation Model) yaitu model double taxation convention
between develop and developing countries. Model ini dirancang oleh Ad hoc
group develop and developing countries United Nation, sehingga diharapkan
dapat menguntungkan baik pihak develop countries maupun developing
countries (sesuai pernyataan maybe taxed in source country)

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

11

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

KEGIATAN BELAJAR 3
TRANSFER PRINCING
1. UMUM
Secara umum transfer princing merupakan jumlah harga atas penyerahan
(transfer) barang atau imbalan atas penyerahan jasa yang telah disepakati oleh
kedua belah pihak dalam transaksi bisnis maupun finasial Gunadi : 1997
Menurut Tsurumi; 1984, transfer princing adalah harga yang diperhitungkan
untuk pengendalian manajemen (management control) atas transfer barang dan
jasa dalam satu grup perusahaan. Transfer princing tersebut bermula dari usaha
pengendalian yang dilakukan oleh satu pihak pada pihak lainnya melalui
pemilikan saham, misalnya antara induk dengan anak perusahaan atau antar
perusahaan affiliasinya.
Dalam arti yang lebih luas, transfer princing termasuk penentuan harga antara
beberapa entitas, yang secara hukum pemiliknya bisa sama ataupun berbeda
(Wisselink, 1979)
Di lain pihak istilah transfer princing dikaitkan dengan sesuatu rekayasa
manipulasi harga secara sistematis dengan maksud mengurangi laba artificial,
mengupayakan agar perusahaan rugi serta menghindari pajak atau bea masuk
di satu negara.
Istilah

lain

dari

transfer

princing

juga

disebut

intercompany

princing,

intercorporate princing, interdivisional princing atau internal princing.


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tahun 1985 oleh Tim UNTC salah
satu Badan PBB yang diketuai oleh Dr.Silvani Plasschaert (Belgia), Motivasi
Transfer Princing di Indonesia adalah sebagai berikut;
1. Pengurangan objek pajak (terutama pajak penghasilan);
2. Pelonggaran pengaruh pembatasan kepemilikan luar negeri;
3. Penurunan pengaruh depresiasi rupiah;
4. Menguatkan tuntutan kenaikan harga atau proteksi terhadap saingan impor;
5. Mempertahankan sikap low profile tanpa memperdulikan tingkat keuntungan
usaha:
6. Mengamankan perusahaan dari tuntutan atas imbalan atau kesejahteraan
karyawan dan kepedulian lingkungan (ekologi dan masyarakat); dan

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

12

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

7. Memperkecil akibat pembatasan, ketidakpastian atas risiko kegiatan usaha


perusahaan luar negeri.
Dari uraian diatas terlihat bahwa praktek transfer princing yaitu perbedaan harga
pasar dengan harga yang disepakati, didorong oleh alasan pajak (tax motive)
maupun alasan lain (non tax motive).
Berbagai studi di luar Indonesia menunjukan hal tersebut Vaitson: 1964, Caves;
1966 dan Carson; 1979, bahwa motivasi pajak adalah hal yang utama yaitu
memindahkan penghasilan ke negara lain yang tarif pajaknya lebih rendah.
Salah satu bentuk pengalihan penghasilan, misalnya pembayaran royalty,
karena sulit untuk mendapatkan data berapa harga pasar yang wajar.
Sebenarnya secara komersial harga ditentukan oleh;
a. Biaya (cost basis);
b. Harga Pasar (market prices);
c. Negoisasi (negotiation); dan
d. Gabungan Matz dan Usry; 1984 dan Horngren dan Foster; 1987.
Penentuan harga berdasarkan biaya masih dapat dibedakan sebagai berikut;
1. Biaya variable sebenarnya (actual variable cost);
2. Biaya tetap sebenarnya (actual fixed cost);
3. Biaya variable standar (standar variable cost);
4. Biaya total standar (standard full cost);
5. Biaya rata-rata (average cost); dan
6. Biaya total ditambah kenaikan (full cost plus mark up).
Untuk tujuan pengendalian harga manajemen dapat menentukan harga transfer
tanpa memperhatikan hal-hal tersebut diatas maupun harga pasar dan kadangkadang sampai menimbulkan kerugian bagi salah satu unit usaha. Namun
secara keseluruhan usaha tetap mendapatkan ke untungan karena kerugian
pada salah satu unit usaha di tutupi oleh unit usaha yang lain.
Globalisasi ekonomi dan perdagangan mendorong terbentuknya perusahaan
multinasional/internasional yang disebut Multi National Enterprises (MNEs) atau
Corporational MNCs. Adapun bentuk yang umum membentuk Cabang atau
anak perusahaan di luar negara tempat kedudukannya. Selanjutnya perusahaan
tersebut

dapat

mengkoordinasikan

kegiatan

ragionalnya,

perusahaan

membentuk holding company dan atau kantor perwakilan (representative office)


yang ke semuanya itu memperkuat aliansi strategis untuk mempertahankan dan

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

13

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

menumbuhkembangkan pangsa pasar impor dan ekspor untuk memaksimalisasi


keuntungan.
Suatu studi yang dilakukan di Amerika, Canada, Inggris, Jerman dan beberapa
negara Eropa serta Jepang menunjukkan bahwa pada tahun 1970-an sekitar
75% dari perdagangan internasional (ekspor/impor) negara-negara tersebut
dilakukan

antar

perusahaan

yang

tergabung

dalam

Perusahaan

Multi

Internasional. Transfer princing sebagai piranti pengukur hak dan kewajiban


antar mereka merupakan hal yang penting dan pada hakekatnya perusahaanperusahaan di berbagai negara tersebut berada di bawah kepemilikan atau
penguasaan yang sama yang kurang lebih di kendalikan oleh perusahaan induk.
Motivasi fiscal dari transfer princing umumnya adalah untuk meningkatkan laba
setelah pajak global.
Adapun bentuk dan cara transfer princing dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Invoicing;
Aktivitas invoicing center berupa pengambilalihan fungsi invoicing semua
barang yang dijual dari satu perusahaan asosiasi atau pihak ketiga. Dalam
mekanisme perdagangan barang, langsung dikirim dari pabrik penjualan ke
tempat pembelian tanpa melalui center. Penjualan dilakukan oleh center
dengan menerima pembayaran (karena center mengeluarkan invoice) dari
pembeli (seakan-akan center yang menjual) dan kemudian membayar harga
kepada perusahaan (seakan-akan center yang membeli).
2. Imbalan dan Royalty
Transfer princing atas jasa mempunyai konsekwensi financial dan pajak
yang sama dengan kasus transfer princing pada barang. Transfer Pricing
terjadi dalam jasa imbalan seperti technical Assistant fee ataupun royalty ke
perusahaan induk, tidak tergantung pada kemampuan anak perusahaan
memperoleh laba atau tidak. Akibatnya, beban anak perusahaan (karena
harus membayar beban yang besar karena telah ditetapkan oleh induk
perusahaannya) menjadi besar dan mengalami kerugian sehingga terhindar
dari pengenaan pajak.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

14

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

3. Pinjaman antar perusahaan;


Pinjaman langsung merupakan pinjaman yang diberikan langsung oleh induk
perusahaan kepada anak perusahaan, antar anak perusahaan atau antar
anak perusahaan dengan induk perusahaan. Dengan penyertaan modal
pada anak perusahaan, induk perusahaan akan menerima dividen. Dividen
merupakan pembagian laba setelah pajak. Kalau dividen dikenakan pajak di
negara induk perusahaan, di anak perusahaan bunga tersebut dapat di
biayakan sebagai pengurang penghasilan kena pajak.
4. Alokasi biaya;
Induk perusahaan memberikan jasa kepada setiap anak perusahaan, jasa
tersebut biasanya meliputi jasa administrasi, bantuan di bidang produkasi,
pelayanan dibidang personalia maupun penelitian dan pengembangan. Atas
biaya yang ditimbulkan, induk perusahaan mengalokasikannya ke anak
perusahaan.

Pembebanan

biaya

tersebut

dapat

merugikan

anak

perusahaan, karena ketidak jelasan dalam pengalokasiannya atau apakah


sebenarnya alokasi tersebut merupakan beban anak perusahaan. Apabila
biaya tersebut besar, ada kemungkinan anak perusahaan mengalami
kerugian sehingga terhindar dari pengenaan pajak.
5. Kerugian stuktural;
Setiap perusahaan dapat mengalami kerugian sebagai akibat berbagi
kondisi, misalnya kondisi politik, ekonomi dan sebagainya. Apabila terjadi
hal yang demikian, maka dapat dikatakan kerugian tersebut terjadi bukan
karena praktek Transfer Priring tetapi kerugian tersebut terjadi setiap tahun
dalam jangka waktu yang lama, maka dapat dikatakan bahwa kerugian
tersebut disengaja atau ada kesengajaan mengalirkan laba itu ketempat lain
(mungkin ke negara yang tarif pajaknya lebih rendah) karena bagaimana
perusahaan yang mengalami kerugian terus menerus adalah tidak wajar.
Sebagaimana telah dibahas diatas, harga transfer atau imbalan jasa yang tidak
memperhatikan harga pasar wajar (arms length price), akan mempengaruhi
penghasilan kena pajak, Namun dalam praktek bisnis is bisnis kebijakan.
Manajemen perusahaan memegang peranan yang penting untuk menghasilkan
laba setelah pajak yang sebesar-besarnya.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

15

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Transfer princing yang dapat merugikan pemungutan pajak oleh suatu negara
dapat terjadi karena disparitas tarif Pajak Penghasilan (Indonesia 28%
Singapura 27%, Hongkong 18% dan Taiwan 25%)
Beberapa petunjuk telah terjadi rekayasa harga transaksi (transfer princimg)
yang merugikan.
Pengalaman perlakuan perusahaan di Indonesia sebagai berikut;
a. Walapun perusahaan dalam keadaan merugi terus menerus dari tahun ke
tahun, namun tetap terjadi pembayaran royalty atau imbalan tekhnis dan
jasa lainnya dari perusahaan di Indonesia ke induk atau ke perusahaan
lainnya dalam satu group;
b. Struktur modal perusahaan lebih

condong kepada pembiayaan dengan

pinjaman di banding dengan modal sendiri;


c. Pembayaran dividen dalam jumlah besar apabila perusahaan melaporkan
memperoleh laba;
d. Memanfaatkan celah perjanjian perpajakan (treaty shoping) dengan
merekayasa arus dana melalui negara mitra perjanjian dengn maksud
mendapatkan keringanan pajak; dan
e. Pemanfaatan sorga pajak (tax haven countries) yaitu negara bebas pajak
atau tarif pajak yang jauh lebih rendah dari Indonesia.
2. Bagaimana UU Pajak Indonesia mengantisipasi hal itu.
1. Pasal 10 ayat 1 UU PPh menjelaskan sebagai berikut;
Harga perolehan harta bagi pihak pembeli adalah harga yang sesungguhnya
dibayar (yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa), termasuk harga
beli dan yang dikeluarkan untuk memperoleh harta tersebut, seperti bea
masuk, biaya pengangkutan dan biaya pemasangan. Harga penjualan bagi
pihak penjual adalah harga yang sesungguhnya diterima (yang tidak
dipengaruhi oleh hubungan istimewa). Dalam hal harga terjadi dipengaruhi
oleh hubungan istimewa maka harga yang diterima adalah. harga yang
seharusnya dibayar oleh pembeli atau diterima oleh penjual seandainya
tidak ada hubungan istimewa (harga pasar wajar).
2. Penjelasan Pasal 18 ayat 1 UU PPh menjelaskan sebagai berikut;
Perbandingan antara utang dan modal perusahaan yang dapat dibenarkan
untuk keperluan penghitungan pajak, adalah tingkat perbandingan yang
MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

16

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

wajar (debt to equity ratio). Apabila perbandingan tersebut sangat besar,


melebihi batas-batas kewajaran, maka penghitungan penghasilan kena
pajak dilakukan menurut standar akutansi yaitu meliputi kewajaran atau
kelaziman usaha menurut adat kebiasaan atau praktik menjalankan usaha
atau melakukan kegiatan yang sehat dalam dunia usaha.
3. Penjelasan Pasal 18 ayat 2 UU PPh menjelaskan sebagai berikut;
Untuk mengurangi kemungkinan penghindaran pajak, maka terhadap
penanaman modal di luar negeri yang dilakukan oleh Wajib Pajak dalam
negeri, selain badan usaha yang menjual sahamnya di bursa efek, Menteri
Keuangan berwenang untuk menentukan saat diperolehnya dividen.
4. Penjelasan Pasal 18 ayat 3 UU PPh menjelaskan sebagai berikut;
Apabila

terdapat

hubungan

istimewa,

kemungkinan

dapat

terjadi

penghasilan yang dilaporkan kurang dari semestinya ataupun pembebanan


biaya melebihi dari yang seharusnya. Untuk itu Direktur Jenderal Pajak
berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan atau biaya
sesuai dengan keadaan seandainya diantara para Wajib Pajak tersebut tidak
terdapat hubungan istimewa. Adapun dasar/pendekatan yang dapat dipakai,
misalnya data pembandingan alokasi laba berdasar fungsi atau peran serta
dari Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dan indikasi serta
data lainnya.
Apabila terdapat penyertaan modal terselubung (perbandingan antara utang
dan modal tidak wajar), maka Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk
menentukan utang tersebut sebagai modal perusahaan (dasarnya misalnya
melalui indikasi perbandingan antara modal dengan utang yang lazim terjadi
antara para pihak yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa atau
berdasarkan data atau indikasi lainnya).
Bunga yang dibayarkan sehubungan dengan utang yang dianggap sebagai
pernyataan modal itu tidak diperbolehkan untuk dikurangkan, sedangkan
bagi pemegang saham yang menerima atau memperolehnya dianggap
sebagai dividen yang dikenal pajak.
5. Penjelasan Pasal 18 ayat 3a UU PPh menjelaskan sebagai berikut;
Dalam hal terjadi transaksi antara perusahaan yang mempunyai hubungan
istimewa dapat diadakan kesepakatan harga transfer (Advance Princing

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

17

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Agreement) yaitu kesepakatan antara Wajib Pajak dengan Direktur Jenderal


Pajak mengenai harga jual wajar produk yang dihasilkannya, jumlah royalty
dan lain-lain kepada pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa
(related parties) bersifat Unilateral atau Bilateral apabila kesepakatan itu
antara Direktur Jenderal Pajak dengan otoritas perpajakan negara lain yang
menyangkut Wajib Pajak yang berada di wilayah yurisdiksinya.
3. Latihan
a. Apa yang dimaksud dengan transfer princing ?
b. Apakah selamanya transfer princing itu dilakukan untuk menghindar atau
mentgurangi pajak terutang.
c. Bagaimana UU Pajak Indonesia mengantisipasi apabila ditemukan praktek
transfer princing yang mengakibatkan pengurangan pajak secara tidak
sepatutnya.
4. Rangkuman
Transfer princing yang istilah lain disebut intercompany princing, intercorporate
princing, interdivisional princing atau internal princing adalah kebijakan
manajemen perusahaan konglomerasi dalam penjualan/pembelian atau harga
jual barang serta nilai pengganti jasa pada suatu perusahaan lain yang berafliasi
dengan maksud untuk menekan laba perusahaan. Untuk mengurangi dampak
kerugian perpajakan disebabkan praktek transfer princing ini, UU Pajak
Penghasilan menetapkan dalam Ps. 10 dan Ps. 18 sebagai ketentuan-ketentuan
yang menghambat praktek transfer princing ini.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

18

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

KEGIATAN BELAJAR 4
KURS VALUTA ASING
1. UMUM
Tidak dapat dihindari bahwa transaksi yang terjadi di Indonesia tidak hanya
dilakukan dengan mata uang Rupiah tetapi dapat juga di lakukan dalam mata
uang asing, walaupun sebenarnya hanya mata uang Rupiah yang dianggap
sebagai alat pembayaran yang syah.
Undang-Undang Pajak Indonesia dalam Pasal 28 ayat 3 Undang-Undang
Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan menyebutkan bahwa; pembukuan
atau pencatatan harus diselenggarakan di Indonesia, dengan menggunakan
huruf latin, angka arab, satuan mata uang rupiah, dan di susun dalam bahasa
Indonesia atau bahasa asing yang di izinkan oleh Menteri Keuangan.
Dalam perkembangannya mata uang asing pun dapat dipakai dalam
pembukuan yaitu US Dollar dan bahasa asing yaitu Bahasa Inggris dengan
terlebih dahulu memohon ijin pada awal tahun buku/ awal pendirian perusahaan,
dan apabila Wajib Pajak telah mendapat izin dari Menteri Keuangan maka
pembukuan dapat dibuat dalam Bahasa Inggris dan mata uang US Dollar.
Dalam hal terjadi transaksi yang menggunakan mata uang asing maka untuk
dapat membukukan transaksi tersebut diperlukan sarana (konversi) yang
disebut nilai tukar (kurs) mata uang asing terhadap rupiah dan sebaliknya.
2. Jenis Kurs Mata Uang Asing.
Sehubungan dengan pemungutan pajak, kita mengenal ada 3 (tiga) nilai tukar
(kurs) mata uang asing dengan rupiah yang dapat dipakai sesuai dengan
kebutuhannya yaitu;
a. Kurs Pembukuan,
adalah kurs yang dipakai untuk membukukan transaksi yang memakai mata
uang asing, karena Ps. 28 ayat 4 Undang-Undang Ketentuan Umum dan
Tatacara Perpajakan menyatakan pembukuan harus dilakukan dalam mata
uang rupiah.
Ada (dua) macam kurs yang dapat dipilih oleh perusahaan yaitu kurs tengah
Bank Indonesia (kurs beli + kurs jual : 2) dan kurs tetap. Kurs tengah Bank
Indonesia dapat dilihat setiap hari dari pengumuman Bank Indonesia.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

19

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Sedang Kurs tetap ditetapkan setiap tahun pada saat pembuatan Laporan
Keuangan (akhir tahun buku) Sekali perusahaan sudah menetapkan kurs
yang akan dipakai dalam pembukuan harus tetap konsisten dalam
pemakaian kurs tersebut.
Dalam hal perusahaan diizinkan memakai mata uang asing dalam
pembukuannya, maka untuk menyusun laporan keuangan dalam bahasa
Imdonesia dan mata uang rupiah maka terlebih dahulu dikonversi melalui
kurs pembukuan pada akhir tahun buku.
b. Kurs realisasi,
adalah kurs tang dipakai dalam hal terjadi pengalihan mata uang asing
kedalam mata uang rupiah atau sebaliknya. Adapun tempat-tempat yang
dapat menyediakan tukar-menukar mata uang tersebut adalah;
1. Perusahaan money changer
2. Bank umum yang juga bertindak sebagai money changer, dan
3. Pasar (diluar money changer dan bank).
Tiap-tiap tempat penukaran mata uang tersebut menganggap mata uang
sebagai komoditas barang dagangan sehingga mereka menentukan sendiri
kurs beli dan kurs jual sesuai dengan perkembangan nilai mata uang yang
ada dipasar dunia.
Contoh Nilai Tukat (kurs);
Kurs yang ditetapkan oleh PT AYUMAS pada tanggal 20 April 2010 sebagai
berikut:
Kurs Beli

Kurs Jual

US Dollar

Rp.

Rp.

GB Pounds

Rp. 13.700,00

Rp. 13.800,00

SGD Dollar

Rp.

6.535,00

Rp.

6.565,00

HK Dollar

Rp.

1.160,00

Rp.

1.175,00

Japan Yen

Rp.

97,50

Rp.

98,75

AUS Dollar

Rp.

8.250,00

Rp.

8.325,00

EURO

Rp. 12.115,00

9.020,00

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

9.050,00

Rp. 12.190,00

20

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

4. Kurs Menteri Keuangan.


Ditetapkan setiap akhir minggu yang berlaku 1 (satu) minggu (senin s/d
minggu) berikutnya, dipakai sebagai dasar untuk menghitung atau
pelunasan pajak terutang, seperti transaksi impor (Bea Masuk, Bea Masuk
Tambahan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan Barang Mewah, Pajak
Penghasilan Ps. 22) yang tertera dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB).
Disamping itu dipakai juga sebagai dasar untuk menghitung pajak terutang
apabila transaksi menggunakan mata uang asing seperti;
a. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah atas
penyerahan Barang kena Pajak / Jasa Kena Pajak didalam negeri yang
memakai Valuta asing
b. Pajak penghasilan Ps. 21/26, dan Ps. 23/26 atas transaksi yang
memakai Valuta asing.
Contoh Nilai Tukar (Kurs) Menteri keuangan;
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 10/KM.11/2010 tanggal 19 April 2010
tentang nilai kurs sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan
Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Barang Mewah, Pajak akspor
dan Pajak penghasilan yang berlaku untuk tanggal 19 sampai dengan 25
April 2010.
1. Rp

9.018,00

untuk dollar Amerika Serikat (USD)

1,-

2. Rp

8.400,27

untuk dollar Australia (AUD)

1,-

3. Rp

7.766,33

untuk dollar Canada (CAD)

1,-

4. Rp

1.162,07

untuk dollar Hongkong (HKD)

1,-

5. Rp

2.496,58

untuk ringgit Malaysia (MYR)

1,-

6. Rp

6.743,74

untuk dollar selandia Baru (NZD)

1,-

7. Rp 13.913,33

untuk poundsterling Inggris (GBP)

1,-

8. RP

5.712,38

untuk dolar Singapura (SGD)

1,-

9. Rp

9.687,82

untuk Yen Jepang (JPY)

10. Rp 12.261,41

untuk EURO (EUR)

100,1.-

Perlu diketahui bahwa pembukuan dalam buku penjualan tetap memakai


kurs pembukuan sedang sebagai dasar untuk menghitung pajak tetap
memakai kurs Menteri Keuangan.
Contoh Penghitungan :

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

21

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Dibayar sewa kantor untuk 2 (dua) tahun sebesar US $ 20.000,- pada hari
ini, dibukukan sebagai biaya sewa sesuai dengan kurs pembukuan sebesar.
20.000 x Rp. 9.035,- = Rp. 180.700.000,- (Rp. 9.035,- adalah kurs tengah
Bank Indonesia), sedang PPh Pasal 23 (sewa) yang terutang dan harus
dipotong adalah sebesar 10% x 20.000,- x Rp. 9.018,- = Rp. 18.036.000,(Rp.9.018,- adalak Kurs Menteri Keuangan).
3. Latihan
1. Contoh Penghitungan Laba Karena Selisih Kurs.
Uang hasil penjualan barang beberapa waktu yang lalu sebesar USD
100. telah dibukukan berdasarkan kurs pembukuan (kurs tengah Bank
Indonesia) pada waktu itu sebesar Rp. 950.000,- dan pada hari ini di
tukarkan ke PT Ayu Mas menjadi sebesar Rp. 9.020.000,- maka terdapat
rugi karena selisi kurs sebesar Rp. 48.000,2. Contoh Penghitungan Biaya Sewa Yang Dibayar Valas.
Dibayar sewa kantor untuk 2 (dua) tahun sebesar US $ 20.000,- pada
hari ini, dibukukan sebagai biaya sewa sesuai dengan kurs pembukuan
sebesar.
20.000 x Rp. 9.035,- = Rp. 180.700.000,- (Rp. 9.035,-adalah kurs tengah
Bank Indonesia), sedang PPh Pasal 23 (sewa) yang terutang dan harus
dipotong adalah sebesar 10% x 20.000,- x Rp. 9.018,- = Rp.
18.036.000,- (Rp.9.870,- adalak Kurs Menteri Keuangan).
3. Contoh Penghitungan Pajak-Pajak atas Impor.
Cost Insurance Freight atas Impor barang dari Amerika Serikat sebesar
US $ 15.000,- Diketahui BM 100%, BMT 50%, PPN Impor 10%, PPh. Ps.
22 Impor sebesar 2,5% pada saat itu Kurs Menteri Keuangan sebesar
Rp. 9.018,- sedang kurs jual Bank Devisa sebesar Rp. 9.110,perhitungan pajak-pajak terhutang menjadi sebagai berikut;
Harga barang (CIF) 15.000 x Rp. 9.018,-

= Rp. 135.270.000,-

Bea Masuk

= Rp. 135.270.000,-

100 % x Rp. 135.270.000,-

Bea Masuk Tambahan 50 % x Rp. 135.270.000,- = Rp. 67.635.000,Nilai Impor

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

= Rp. 338.175.000,-

22

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

PPN Impor

10 %

x Rp. 338.175.000,- = Rp. 33.817.500,-

PPh Pasal 22 Impor

2,5 % x Rp. 338.175.000,- = Rp.

8.454.375,-

Sedangkan untuk membukukan harga pokok barang impor tersebut


adalah sebagai berikut;
Harga pokok barang (Cost Insurance and Freight) sebesar 15.000 x Rp.
9.110,- = Rp. 136.650.000,- ditambah dengan Bea Masuk dan Bea
Masuk Tambahan sehingga menjadi Rp. 202.905.000,- (Rp. 9.110,adalah kurs jual; Bank Devisa pada saat itu)
4. Rangkuman
Kurs pembukuan adalah ketentuan dalam pencatatan dalam hal ada
transaksi dalam mata uang asing. Kurs pembukuan yang dianut oleh UU
Perpajakan adalah kurs tetap dan kurs tengan Bank Indonesia. Disamping
itu ada kurs realisasi yaitu kurs money changer, bank umum dan pasar.
Khusus untuk impor dan ekspor diperlakukan kurs Bank Devisa. Kurs yang
dipakai untuk menghitu harga pokok impor, sedang kurs yang dipakai untuk
dasar menghitung pajak adalah Kurs Menteri Keuangan.

KEGIATAN BELAJAR 5

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

23

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

STANDAR GAJI KARYAWAN ASING


1. UMUM
Yang dimaksud dengan standar gaji karyawan asing adalah besaran
penghasilan bruto 1 (satu) bulan sehubungan dengan pekerjaan berupa gaji dan
imbalan lain yang diterima atau diperoleh karyawan asing yang bekerja dalam
bidang-bidang di luar bidang pengeboran minyak dan gas bumi. Pedoman
standar gaji karyawan asing ini digunakan dalam hal;
a. Terdapat pentunjuk bahwa pembukuan Wajib Pajak tidak benar sehingga
tidak dapat dihitung besarnya pajak yang seharusnya terhutang.
b. Diperoleh bukti yang menunjukan bahwa terdapat pembayaran gaji
karyawan asing yang tidak seluruhnya dibukukan untuk pelunasan Pajak
Penghasilan Ps. 21 atau Ps. 26 yang terhutang.
c. Pemeriksaan tidak mendapatkan data yang digunakan untuk menentukan
jumlah gaji karyawan asing dalam rangka penetapan jumlah Pajak
Penghasilan Ps. 21 atau Ps. 26 yang terhutang.
Penggunaan pedoman standar gaji karyawan asing sebagaimana dimaksud
diatas harus memperhatikan;
a. Kebangsaan dari karyawan asing yang bersangkutan,
b. Jenis usaha dari perusahaan tempat karyawan asing memperoleh
penghasilan (pemberi kerja).
c. Kedudukan atau jabatan karyawan asing dalam perusahaan tempat yang
bersangkutan bekerja.
Adapun besaran standar gaji karyawan asing yang mulai berlaku sejak tahun
pajak 2002 perbulannya sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.
Kep 173/PJ/2002 tanggal 3 April 2002.
2. Khusus Pertambangan Minyak dan Gas Bumi.
Ketentuan khusus standar gaji karyawan asing (expatriate) yang dipakai sebagai
dasar untuk melunasi Pajak Penghasilan masa bulanan bagi mereka yang
bekerja pada Perusahaan Pengebaran Minyak dan Gas Bumi adalah berikut,
a. General Manager sebesar US $ 11.275. per bulan.
b. Manager sebesar US $ 9.350. per bulan.
c. Supervisor / Toll Pusher US $ 5.830. per bulan.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

24

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

d. Assistence Supervisor / Ass. Toll Pusher US $ 4.510. per bulan.


e. Crew lainnya US $ 3.245 per bulan.
Jumlah ini tidak final, karena setiap akhir tahun dalam Surat Pemberitahuan
harus di hitung kembali sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
3. Latihan
1. Dari data-data perusahaan tidak diketahui dengan jelas gaji dan unsur-unsur
gaji Mr. John Glend WN Inggris) yang bekerja di Indonesia. Jabatannya pada
BUT Mantgomery Corp. adalah manager. Hitung PPh Ps. 21 yang terutang
untuk bulan April 2010.
2. Sebuah PT PAN di Indonesia hanya membayar allowance untuk seorang
karyawan asing yang berasal dari USA dengan kedudukan sebagai Tekhnisi
yang bekerja pada perusahaan tsb sebesar USD 1.000 sedang selebihnya
dibayar di luar negeri. Padahal ybs sudah memenuhi syarat sebagai Wajib
Pajak Dalam Negeri. Bagaimana cara pemajakannya di Indonesia.
4. Rangkuman
Penerapan standar Gaji Pegawai asing ini hanya diterapkan, dalam hal tidak
didapatkan data-data yang valid tentang berapa sebenarnya gaji yang diterima
oleh karyawan asing tsb. Pengenaannya di sesuaikan dengan kedudukan dan
negara asal pegawai ybs, oleh karena standar ini dengan valuta asing maka
terlebih dahulu dikalikan dengan Kurs Menteri keuangan yang berlaku saat itu.

KEGIATAN BELAJAR 6

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

25

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

PEMAJAKAN WP DALAM NEGERI


ATAS PENGHASILAN LUAR NEGERI.
1. UMUM
Globalisasi dalam bidang perdagangan disebutkan tanpa batas negara, seiring
dengan perkembangan teknologi, dimana kebutuhan akan produk dan jasa tidak
selamanya dapat dipenuhi dalam satu negara.
Disamping itu negara yang mempunyai produk dan jasa tersebut belum tentu
dapat mencukupi kebutuhannya sendiri. Hal itu menjadi peluang pada negara
yang berbeda sehingga perdagangan internasional atau lintas negara tidak
dapat dihindarkan. Kegiatan ini dapat berupa mengimpor atau mengekspor
produk dan jasa, tetapi juga berupa penanaman modal di negara lain dengan
tujuan untuk memaksimalkan laba usaha.
Gambar 2
Terjadi transaksi impor dan ekspor antar negara.
Negara A
produk
dan
jasa

Negara B
Ekspor

Produk
dan
jasa

Impor
Gambar 3
Terjadinya penanaman modal antara negara.
Neghara C

Negara D
Ekspor

Produk
Dan
Jasa

Impor

Produk
dan
jasa

Gambar 4
Penerimaan penghasilan dari negara lain
Negara E
Orang
Pribadi
dan
Badan

Negara F
Ekspor
Penghasilan
Impor
Penghasilan

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

Orang
Pribadi
dan
Badan

26

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Indonesia mempunyai bahan/barang ekspor, baik itu bahan mentah (hasil


pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kehutanan dan pertambangan)
maupun produk (hasil kerajinan dan produk lain) serta jasa tenaga kerja
(TKI/TKW).
Ada kalanya selain ekspor minyak mentah tetapi juga mengimpor minyak
(bahan bakar minyak), hal ini sebagai akibat kemampuan untuk mengolah masih
kurang dan minyak mentah Indonesia lebih sesuai dipakai di negara-negara
dingin.
Badan usaha Indonesia yang menangkap peluang tersebut tentu saja akan
mencoba dengan cara;
1. Membuka cabang atau perwakilan di luar negeri dengan harapan
mendapatkan laba yang lebih besar;
2. Menanamkan modal berupa saham diluar negeri dengan harapan mendapat
nilai lebih atau dividen atau dividen yang lebih tinggi;
3. Menanamkan modal berupa obligasi, deposito dan lain-lain dengan harapan
mendapatkan bunga yang lebih besar;
4. Membeli dan menyewakan property di luar negeri dengan harapan
mendapatkan keuntungan atau sewa yang lebih besar;
5. Mengirimkan tenaga kerja keluar negeri atau melakukan usaha jasa di luar
negeri.
6. dan bentuk-bentuk lainnya.
Seperti kita ketahui tiap negara mempunyai kedaulatan sendiri (Souvereign
Country),

dimana

tiap

negara

mempunyai

Undang-Undang

dan

menjalankannya.
Dibidang perpajakan tiap negara menjalankan Undang-Undang Pajaknya
(jurisdiction to tax) atau taxing right / right to tax.
Indonesia sebagai suatu negara yang berdaulat mempunyai Undang-Undang
Pajak Nasional yang merupakan hukum positif yang berlaku diwilayah Republik
Indonesia terdiri dari;
c. Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP)
d. Undang-Undang Pajak Penghasilan (PPh)

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

27

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

e. Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang


mewah (PPN/PPnBM)
f.

Undang-Undang Bea Material (BM)

g. Undang-Undang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)


h. Undang-Undang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
i.

Undang-Undang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (PPSP)

j.

Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD)

k. Undang-Undang Pengadilan Pajak (PP)


tidak dapat disangkal bahwa Indonesia juga harus melindungi penduduk dan
badan usaha yang dimiliki oleh penduduknya yang melakukan kegiatan usaha
langsung atau tidak langsung di luar negeri.
Penghasilan penduduk atau badan usaha yang dimiliki oleh penduduk Indonesia
tersebut di luar negeri akan dikenakan pajak di negara tersebut.
Penghasilan yang akan dikenakan pajak di Indonesia adalah world wide income
(Ps 4 ayat 1 Undang-Undang Pajak Penghasilan) menyebut sebagai berikut;
Yang menjadi ojek pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemapuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan dengan nama dan
dalam bentuk apapun, dstnya
Jadi dari manapun penghasilan itu didapat tanpa memperdulikan apakah
berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri bahkan tidak perlu
mempersoalkan apakah penghasilan itu didapat dari hasil dengan melanggar
undang-undang atau tidak akan di gunggung menjadi penghasilan yang akan
dikenakan Pajak di Indonesia (world wide income).
Khusus untuk penghasilan luar negeri akan dikenakan pajak oleh negara
dimana penghasilan itu diperoleh kemudian penghasilan luar negeri tersebut
akan dikenakan pajak lagi di Indonesia, maka terjadilah pengenaan pajak diluar
negeri dan di dalam negeri (pajak berganda).
Bagaimana hal tersebut diantisipasi ?
Walaupun tiap negara berhak memajaki sesuai dengan Undang-Undang
Perpajakan yang berlaku di negara tersebut, tetapi tiap negara juga tidak

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

28

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

menginginkan pajak itu menjadi tinggi (besar) karena akan mematikan naluri
bisnis para pengusaha.
Untuk mengurangi pajak berganda tersebut Undang-Undang Pajak Indonesia
mengatur dalam Ps 32 A Undang-Undang Pajak Penghasilan, wewenang
pemerintah untuk mengadakan perjanjian perpajakan dengan negara lain dalam
rangka penghindaran pajak berganda dan pencegahan penyelundupan pajak.
Bagaimana pemajakan terhadap Wajib Pajak yang melakukan kegiatan usaha di
negara yang tidak/ belum mengadakan perjanjian perpajakan dengan Indonesia.
Ps 24 UU PPh kita mencoba menampung hal tersebut untuk menghindari/
mengurangi dampak pajak berganda dengan cara mengurangkan (boleh
menjadi kredit pajak) atas pajak yang terutang atau dibayar diluar negeri dari
penghasilan luar negeri karena penghasilan tersebut akan digunakan dan
dikenakan pajak di Indonesia.
Selengkapnya bunyi Ps 24 UU PPH tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pajak yang dibayar atau terutang diluar negeri atas penghasilan dari luar
negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri boleh
dikreditkan terhadap pajak yang terutang berdasarkan undang-undang ini
dalam tahun pajak yang sama.
2. Besarnya kredit pajak sebagaimana dimaksud pada ayat 1 adalah sebesar
pajak penghasilan yang dibayar atau terutang diluar negeri, tetapi tidak
boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang berdasarkan UndangUndang ini.
3. dan seterusnya.
Untuk lebih memudahkan cara menghitung Kredit Pajak Luar Negeri ini, dikutip
Keputusan Menteri Keuangan. Nomor; 164/ KMK.03 / 2002 tanggal 19 April
2002 tentang Tatacara Pengkreditan Pajak Luar Negeri sebagai berikut;
2. Penghitungan Kredit Pajak Luar Negeri
1. Pajak penghasilan dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak yang dihitung
berdasarkan seluruh penghasilan yang diterima dan diperoleh oleh Wajib
Pajak, baik penghasilan tersebut berasal dari dalam negeri maupun dari luar
negeri.
2. Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dilakukan sebagai
berikut;

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

29

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

a. Untuk penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya


penghasilan tersebut.
b. Untuk penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya
penghasilan tersebut.
c. Utuk penghsilan berupa dividen di gabungkan dalam tahun pajak di
peroleh atau diterimanya penghasilan tersebut, atau dalam tahun pajak
sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud
dalam Ps 18 ayat 2 UU PPh.
d. Kerugian yang di derita di luar negeri tidak boleh digabungkan dalam
menghitung penghasilan kena pajak.
e. Pajak yang terhutang atau dibayar diluar negeri yang dapat dikreditkan
paling tinggi sama dengan jumlah Pajak yang dibayar atau terhutang di
luar negeri tetapi tidak boleh melebihi pajak yang dihitung menurut
perbandingan antara penghasilan luar negeri terhadap penghasilan kena
pajak dikalikan dengan pajak yang terhutang atas penghasilan kena
pajak di Indonesia.
f.

Apabila penghasilan luar negeri berasal dari beberapa negara, maka


penghitungan kredit pajak dilakukan untuk masing-masing negara.

g. Penghasilan kena pajak tersebut tidak termasuk penghasilan yang


dikenakan secara final (Ps 4 ayat 2 UU PPh) dan atau pajak yang
dikenakan pajak tersendiri (Ps. 8 ayat 1 dan ayat 4 UU PPh).
h. Dalam hal jumlah pajak luar negeri tersebut melebihi jumlah kredit pajak
yang diperkenankan maka kelebihan pajak tersebut tidak dapat
diperhitungkan

dengan

pajak

penghasilan

yang

terutang

tahun

berikutnya, tidak boleh dibebankan sebagai biaya dan tidak boleh


direstitusikan.
i.

Untuk pelaksanaan pengkreditan pajak luar negeri tersebut dilakukan


dengan menyampaikan surat pemberitahuan Pajak Penghasilan yang
dilampiri;
1.

Laporan keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri.

2.

Photo copy surat pemberitahuan pajak yang sisampaikan di luar


negeri.

3.

Dokumen pembayaran pajak di luar negeri.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

30

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

3. Latihan :
Kasus 1;
Cara menghitung penghasilan kena pajak untuk PT A.
PT A di Jakarta dalam tahun pajak 2008 menerima dan memperoleh
penghasilan netto dari sumber luar negeri sebagai berikut;
a. Hasil usaha di Singapura dalam tahun pajak 2008 sebesar Rp.
800.000.000,b. Dividen atas pemilikan saham pada X Ltd di Australia sebesar
Rp.200.000.000,- yaitu berasal dari keuntungan tahun 2006 yang ditetapkan
dalam rapat pemegang saham tahun 2007 dan baru dibayar dalam tahun
2008.
c. Dividen atas penyertaan saham sebanyak 70% pada Y Corporation di
Hongkong yang sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek sebesar
Rp.75.000,000

yaitu

berasal

dari

keuntungan

saham

2006

yang

berdasarkam Keputusan Menteri Keuangan ditetapkan diperoleh tahun


2008.
d. Bunga kwartal IV tahun 2007 sebesar Rp. 100.000.000,- dari Z Sdn Bhd di
Kuala Lumpur yang baru diterima bulan Juli 2008.
Penghitungan penghasilan kena pajak menjadi sebagai berikut;
Penghasilan dari sumber luar negeri yang digabungkan dengan penghasilan
dalam negeri tahun 2008 adalah penghasilan pada huruf a,b,dan c sedangkan
penghasilan pada huruf d digabungkan dengan penghasilan dalam negeri tahun
pajak 2007.
Dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak , kerugian yang diderita oleh Wajib
Pajak di luar negeri tidak dapat dikompensasikan dengan penghasilan yang
diterima atau diperoleh dari Indonesia.
Kasus 2;
Cara menghitung Pajak Penghasilan dimana terdapat rugi yang diterima
dari luar negeri.
PT B di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2008 sebagai
berikut;
a. di negara X, memperoleh penghasilan (laba)
dengan tarif pajak sebesar 40%

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

Rp. 1.000.000,000,(Rp. 400.000.000,-);

31

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK


b. di negara Y, memperoleh penghasilan (laba)
pajak 25%

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Rp. 3.000.000.000,(Rp. 750.000.000),-

c. di negara Z, menderita kerugian

Rp. 2.500.000.000,-

d. Penghasilan usaha di dalam negeri

Rp. 4.000.000.000,-

Penghitungan kredit pajak luar negeri adalah sebagai berikut:


1. Penghasilan luar negeri;
Laba di Negara X

Rp. 1.000.000.000,-

Laba di Negara Y

Rp. 3.000.000.000,-

Laba di Negara Z

Rp. .0,-

Jumlah penghasilan luar negeri

Rp. 4.000.000.000,-

2. Penghasilan dalam negeri

Rp. 4.000.000.000,-

3. Jumlah Penghasilan netto

Rp. 8.000.000.000,-

4. PPh terhutang (men. Tarif Ps 17)

Rp. 2.382.500.000,-

Dari contoh diatas jelas bahwa dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak,
kerugian yang diderita di luar negeri (di negara Z sebesar Rp. 2.500.000,-) tidak
dapat di kompensasikan.
Kasus 3;
cara menghitung batas kredit pajak luar negeri.
PT C Jakarta memperoleh penghasilan netto dalam tahun 2008 sebagai
berikut :
Penghasilan dalam negeri

Rp. 1.000.000.000,-

Penghasilan luar negeri

Rp. 1.000.000.000,-

(dengan tarif pajak 20%)


Penghitungan jumlah maksimum kredit pajak keluar negeri adalah sebagai
berikut:
1. Penghasilan luar negeri

Rp. 1.000.000.000,-

Penghasilan dalam negeri

Rp. 1.000.000.000,- (+)

Jumlah penhasilan neto

Rp. 2.000.000.000,-

2. Apabila jumlah penghasilan netto sama dengan Penghasilan Kena Pajak,


maka sesuai tarif Pasal 17.
Pajak Penghasilan terhutang sebesar.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

Rp. 582.500.000,-

32

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

3. Batas maksimum kredit pajak luar negeri :


Rp. 1.000.000.000,X Rp. 582.500.000 = Rp. 291.250.000,Rp. 2.000.000.000,Oleh karena itu batas maksimum kredit pajak luar negeri sebesar Rp.
291.250.000,- lebih besar dari pajak luar negeri yang terhutang atau di bayar di
luar negeri yaitu sebesar Rp. 200.000.000,- maka kredit jumlah pajak luar negeri
adalah yang dipersamakan adalah sebesar Rp. 200.000.000,Kasus 4;
PT D di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2008 sebagai
berikut :
Penghasilan dari usaha luar negeri
(Pajak Penghasilan Luar Negeri misalnya 40%
Rugi Usaha didalam negeri

Rp. 1.000.000.000,= Rp.

400.000.000,-)

(Rp. 200.000.000,-)

penghitungan maksimum kredit pajak luar negeri serta pajak terhutang


adalah sebagai berikut :
1. Penghasilan Usaha Luar Negeri

Rp. 1.000.000.000,-

Penghasilan Usaha Dalam Negeri

(Rp. 200.000.000,-) (+)

Jumlah Penghasilan Netto

Rp. 800.000.000,-

2. Apabila jumlah penghasilan netto sama dengan Penghasilan Kena Pajak,


maka sesuai dengan Pasal 17, Pajak Penghasilan yang terutang sebesar
Rp.222.500.000,3. Batas maksimum pajak luar negeri :
Rp. 1.000.000.000,X Rp. 222.5000.000 =Rp. 278.125.000,Rp.

800.000.000,-

Oleh karena itu pajak yang dibayar diluar negeri dan batas maksimum kredit
pajak yang dapat dikreditkan masih lebih besar dari jumlah pajak yang terutang,
maka kredit pajak luar negeri yang diperkenankan untuk dikreditkan dalam
penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang yaitu Rp. 222.500.000,Dalam hal penghasilan luar negeri bersumber dari beberapa negara, maka
jumlah maksimum kredit pajak luar negeri dihitung masing-masing negara
menerapkan cara penghitungan sebagai berikut :

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

33

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Kasus 5:
PT E Jakarta Tahun 2008 memperoleh penghasilan netto sebagai berikut :
Penghasilan dari dalam negeri

Rp. 2.000.000.000,-

Penghasilan dari negara X


(dengan tarif pajak 40%)

Rp. 1.000.000.000,-

Penghasilan dari negara Y


(dengan tarif pajak 30%)

Rp. 2.000.000.000,- (+)

Jumlah penghasilan netto

Rp. 5.000.000.000,-

Apabila penghasilan netto sama dengan penghasilan kena pajak, maka Pajak
Penghasilan terutang menurut tarif Pasal 17 sebesar Rp. 1.482.500.000,Batas maksimum kredit pajak luar negeri setiap negara adalah :
a. Untuk Negara X =
Rp. 1.000.000.000,X Rp. 1.482.500.000,- =Rp. 296.500.000,Rp. 5.000.000.000,Pajak terhutang diluar negeri sebesar Rp. 400.000.000,- lebih besar dari batas
maksimal kredit pajak yang dikreditkan, maka jumlah kredit yang diperkenankan
hanya sebesar Rp. 296.500.000,b. Untuk negara Y =
Rp. 2.000.000.000,X Rp. 1.482.500.000,- =Rp. 593.000.000,Rp. 5.000.000.000,Pajak terhutang diluar negeri sebesar Rp. 600.000.000,- lebih besar dari
batas maksimum kredit pajak yang dikreditkan, maka jumlah kredit yang
diperkenankan hanya sebesar Rp. 593.000.000,Kasus 6
Dalam hal Wajib Pajak memperoleh penghasilan yang dikenakan pajak yang
bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat 2 Undang-Undang
Pajak Penghasilan dan atau penghasilan yang dikenakan pajak terdiri
sebagaimana dimaksud Pasal 8 ayat 1 dan ayat 4 Undang-Undang Pajak
Penghasilan, maka atas penghasilan tersebut bukan merupakan factor
penambahan penghasilan pada saat menghitung Penghasilan Kena Pajak.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

34

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

PT F di Jakarta dalam tahun 2008 memperoleh penghasilan sebagai berikut :


1. Penghasilan dari negara Z

Rp. 2.000.000.000,-

(dengan tariff pajak 30%)


2. Penghasilan dalam negeri

Rp. 3.500.000.000,-

(penghasilan dalam negeri ini termasuk penghasilan sebagaimana dimaksud


dalam pasal 4 ayat 2 Undang-Undang Oajak Penghasilan sebesar
Rp.500.000.000,-)
3. Penghasilan kena Pajak PTD sebesar :
Rp. 2.000.000.000,- + (Rp. 3.500.000.000,- - Rp. 500.000.000,-) =
Rp.5.000.000.000,4. sesuai dengan tarif Pasal 17, pajak penghasilan yang terutang sebesar :
Rp. 1.482.500.000.,5. Batas maksimum kredit pajak luar negeri adalah :
Rp. 2.000.000.000,X Rp. 1.482.500.000 =

Rp. 593.000.000,-

Rp. 5.000.000.000,Pajak terhutang di negara Z sebesar Rp. 600.000.000,-, namun maksimum


kredit pajak yang dapat dikreditkan sebesar Rp. 595.000.000,4. Rangkuman
Tidak dapat dihindari perusahaan Indonesia juga akan mengglobal artinya akan
mengadakan transaksi dengan luar negeri dengan cara mendirikan perusahaan,
membuka cabang usaha, atau menanamkan modalnya diluar negeri dalam
bentuk saham atau sekutitas lainnya. Kalau Negara tsb mengenakan pajak
sesuai dengan ketentuan yang berlaku disana, maka hal itu adalah sesuatu
sesuatu hal yang normal. Dibidang Pajak Penghasilan Indonesia menganut
world wide income artinya penghasilan yang akan dikenakan pajak adalah
penghasilan yang didapat didalam negeri maupun dari luar negeri. Untuk
mengantisipasikan hal tersebut diatas maka kalau penghasilan luar negeri
digabungkan dengan penghasilan dalam negeri maka pajak yang dibayar diluar
negeri dijadikan kredit pajak di Indonesia. Tidak demikian halnya kalau di luar
negeri perusahaan mengalami kerugian maka kerugian tersebut tidak
diperhatikan. Hal itu diatur dalam Pasal 24 UU PPh kita, hanya kredit pajak
tersebut dibatasi maksimal sebesar tarif pajak yang terhutang menurut UU PPh.
MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

35

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

KEGIATAN BELAJAR 7
PEMAJAKAN WP LUAR NEGERI ATAS
PENGHASILAN DARI INDONESIA
1. UMUM
Penduduk luar negeri didalam globalisasi,dimana seolah-olah tidak ada lagi
batasan antara negara, seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan
terjadi tranasaksi internasional, dapat menerima penghasilan dari Indonesia,
misalnya dengan investasi langsung (mendirikan perusahaan di negara lain),
investasi portfolio, mendirikan cabang perusahaan dalam bentuk usaha tetap
dan sebagainya.
Secara garis besar, pemajakan untuk penduduk luar negeri yang menerima
penghasilan dari Indonesia yang kita sebut subjek pajak luar negeri terbagi atas
a. Subjek pajak luar negeri yang menerima penghasilan dari Indonesia tetapi
tidak mendirikan bentuk usaha tetap.
b. Penduduk luar negeri menerima penghasilan di Indonesia sebagai badan
perwakilan negara asing dan organisasi internasional serta pejabatpejabatnya.
c. Subjek pajak luar negeri menerima penghasilan di Indonesia dengan
mendirikan bentuk usaha tetap.
d. Subjek Pajak luar negeri menerima penghasilan di Indonesia dengan
mendirikan badan usaha berbentuk badan hukum Indonesia (Perseroan
Terbatas).
Selanjutnya akan dijelaskan satu persatu dan yang akan dibahas dalam bagian
ini adalah subjek pajak luar negeri yang menerima penghasilan dari Indonesia
dari usaha atau kegiatan tidak melalui pendirian bentuk usaha tetap di Indonesia
(yang dikenal dengan Pajak Penghasilan Ps 26 UU PPh).
2. Penerimaan Penghasilan Orang Pribadi/Badan
Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan dan badan tidak
didirikan atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima
atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha
atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap. Sebagai dasar hukum

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

36

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

adalah Ps. 2 ayat 4 dan Ps. 26 UU PPh. Tatacaranya pemajakan penghasilan


yang mengalir tsb dipotong/ dipungut oleh badan yang membayarkannya. Yang
menjadi pertanyaan adalah bagaimana seandainya penghasilan tsb tidak
dipotong/ dipungut oleh yang membayarnya.
Adapun Objek Pajak Penghasilannya adalah sbb:
a. Dividen
b. bunga, termasuk premium, diskonto, premi dan imbalan sehubungan
pengembalian utang.
c. royalty, sewa an penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan.
e. hadiah dan penghargaan.
f.

pension dan pembayaran berkala lainnya (Ps. 26 ayat 1 UU PPh) dan.

g. penghasilan dari penjualan harta di Indonesia.


h. premi yang dibayar kepada asuransi luar negeri (Ps 26 ayat 2 UU PPh).
Pemotong/Pemungut Pajak atas Penghasilan ini ialah:
a. badan pemerintah
b. subjek pajak dalam negeri
c. penyelenggara kegiatan
d. bentuk usaha tetap
e. perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.
Tarif Pajak yang Berlaku adalah sbb:
Tarif pajak adalah 20% dari penerimaan bruto kecuali penerima bertempatr
tinggal atau berkedudukan di negara yang mengadakan perjanjian perpajakan
dengan Indonesia, tarif berlaku atas objek yang diatur perjanjian perpajakan
adalah tarif yang tertera dalam perjanjian perpajakan.
3. Latihan
1. Tuan Mentgomery penduduk Inggris bekerja di PT XYZ di Indonesia untuk 4
bulan dengan penghasilan sebesar Rp. 50 juta per bulan.
Penghitungan pajaknya sbb :

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

37

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Penghasilan terutang setiap bulan adalah 20 % X Rp.50 Juta = Rp.10 Juta


(sesuai dengan aturan perpajakan pajak penghasilan ditanggung oleh Tuan
Montgomery)
2. Dalam penerimaan penghasilan sebagai subjek pajak luar negeri menerima
jumlah netto (pembayaran menanggung pajak yang terutang), maka
penghitungan PPh tersebut di gross up dan seluruh biaya termasuk pajak
yang ditanggung tersebut dapat di bebankan sebagai biaya perusahaan
kecuali dividen (Ps 4 huruf d Perusahaan Pemerintah No.138 tahun 2000.
Penghitungan pajak sbb :
PT ABC membayar bunga pinjaman kepada Bank di luar negeri sebesar
Rp.100 Juta, pajak di tanggung oleh pembayar bunga. Tarif pajak adalah
sebesar 20% (antara kedua negara tidak ada perjanjian perpajakan) PPh
atas transaksi tersebut terutang pajak sebesar; 20% X 100/80 X Rp.100 Juta
= Rp.25 Juta. Jumlah biaya bunga yang dapat dibebankan oleh PT ABC
sebesar Rp.25 Juta.
4. Rangkuman.
Kalau

perusahaan

Indonesia

melakukan

kegiatan

atau

mendapatkan

penghasilan dari luar negeri dikenakan pajak luar negeri, demikian juga kalau
perusahaan asing melakukan kegiatan atau mendapatkan penghasilan dari
Indonesia, sesuai dengan UU Pajak Indonesia dikenakan juga pajak di
Indonesia. Badan usaha tsb berada diluar negeri mendapatkan penghasilan dari
Indonesia atau di Indonesia tidak menjalankan usaha sebagai Bentuk Usaha
Tetap (BUT). Sedang untuk orang pribadi subjek pajak luar negeri, berada atau
berkedudukan di luar negeri mendapatkan hasil dari Indonesia tetapi dapat juga
berada di Indonesia kurang dari 183 hari dalam 12 bulan.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

38

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

KEGIATAN BELAJAR 8
PEMAJAKAN WP BENTUK USAHA TETAP (BUT)
1. UMUM
Bentuk Usaha Tetap (BUT) atau Permanent Establishment (PE) adalah suatu
bentuk usaha yang dilakukan oleh penduduk suatu negara di negara lain.
2. Bentuk Usaha Tetap menurut OECD Model.
Menurut Organization for Economic and Cooperation (OECD) Modal, sebuah
model/draf perjanjian perpajakan antara dua atau lebih negara umum dipakai.
dikatakan ada sebuah Bentuk Usaha tetap di satu negara apabila.
a. Keberadaan Aktiva.
Apabila subjek luar negeri mempunyai aktiva tertentu di suatu negara,
keberadaan tersebut dapat berupa;
1. Tempat kedudukan manajemen.
2. Cabang perusahaan.
3. Gedung kantor.
4. Pabrik.
5. Bengkel
6. Pertambangan dan pengalian sumber alam, wilayah kerja pengeboran yang
digunakan untuk eksplorasi pertambangan.
7. Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan atau kehutanan.
b. Keberadaan kegiatan.
Apabila subjek pajak luar negeri melakukan kegiatan dalam jangka waktu
tertentu, sebagai berikut.
a. projek konstruksi, instalasi, atau rojek perakitan.
b. pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain,
sepanjang dilakukan lebih dari batasan yang telah ditentukan.
c. Perdagangan Berbentuk Agen (Keagenan).
Apabila subjek pajak luar negeri bertindak sebagai agen yang tidak bebas
(dependend agent) baik sendiri maupun diwakili oleh perusahaan lain, dapat
berupa;
a. menandatangani kontrak atas nama perusahaan di luar negeri.
b. mengurus saham yang penyerahannya dibuat secara regular atau atas
nama perusahaan subjek pajak luar negeri.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

39

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

3. Bentuk Usaha tetap menurut perjanjian perpajakan Indonesia-Prancis


(contoh).
Untuk perbandingan bersama ini di kutip salah satu bentuk usaha tetap yang
tertulis dalam perjanjian perpajakan Indonesia-Perancis.
Menurut Pasal 6 perjanjian tersebut, dikatakan ada Bentuk Usaha tetap apabila
ada suatu tempat usaha tertentu di mana seluruh atau sebagian usaha di
jalankan, seperti;
a. suatu tempat dimana pimpinan dilakukan.
b. suatu cabang.
c. suatu kantor.
d. suatu pabrik.
e. suatu tempat kerja.
f.

suatu pertanian atau perkebunan

g. suatu pertambangan, suatu sumber minyak, tempat penggalian, atau tempat


lainnya untuk pengambilan sumber kekayaan alam.
h. suatu tempat pembuatan bangunan lebih dari enam bulan.
4. Bentuk Usaha Tetap menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan.
Ps.2 ayat 5 Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU No. 36 Tahun 2008)
menyebut Bentuk Usaha tetap sebagai subjek pajak luar negeri adalah bentuk
usaha tetap yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal
di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka
waktu dari 12 bulan atau badan yang tidak didrikan dan tidak bertempat
berkedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
di Indonesia, yang dapat berupa;
a. tempat kedudukan manajemen.
b. cabang perusahaan.
c. kantor perwakilan.
d. gedung kantor.
e. pabrik.
f.

bengkel.

g. gudang
h. ruang untuk promosi dan penjualan
i.

pertambangan dan penggalian sumber alam,

j.

wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

40

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

k. perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan atau kehutanan.


l.

proyek konstruksi, intalasi, atau proyek perakitan.

m. pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain,
sepanjang dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu 12 bulan.
n. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak
bebas.
o. agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau
menanggung resiko di Indonesia dan
p. komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa,
atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan
kegiatan usaha melalui internet
.
5. Tidak dianggap sebagai kegiatan usaha Bentuk Usaha Tetap;
a. penggunaan

fasilitas-

fasilitas

semata-mata

dengan

maksud

untuk

menyimpan atau memamerkan barang-barang atau barang dagangan milik


perusahaan.
b. pengurusan suatu persediaan barang- barang atau barang dagangan milik
perusahaan semata-mata dengan maksud untuk disimpan atau dipamerkan.
c. pengurusan suatu persediaan barang- barang atau barang dagangan milikm
perusahaan semata-mata dengan maksud untuk diolah oleh perusahaan
lain.
d. pengurusan suatu tempat tertentyu semata-mata dengan maksud untuk
pembelian

barang-

barang

atau

barang

dagangan

atau

untuk

mengumpulkan keterangan bagi keperluan perusahaan.


e. pengurusan suatu tempat tertentu semata-mata dengan maksud untuk
kegiatan-kegiatan yang bersifat persiapan atau penunjang bagi perusahaan.
f. pengurusan suatu tempat usaha tertentu semata-mata dengan maksud untuk
setiap kegiatan-kegiatan gabungan dari yang disebut dalam sub ayat (a)
sampai (e) asal saja keseluruhan kegiatan di tyempat usaha tertentu itu
bersifat persiapan atau penunjang.
g. sebuah perusahaan dari suatu Negara pihak pada persetujuan tidak akan
dianggap mempunyai suatu BUT di Negara Pihak pada persetujuan lainnya
semata-mata karena perusahaan itu menjalankan usaha di Negara lain

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

41

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

tersebut melalui makelar, komisioner umum atau agen lainnya yang berdiri
sendiri, sepanjang mereka bertindak dalam rtangka usahanya yang lazim.
Walaupun demikian, bilamana kegiatan agen seluruhnya atau hampir
seluruhnya dilakukan atas nama perusahaan itu, ia tidak akan dianggap
sebagai agen yang berdiri sendiri dalam pemgertian ayat ini.
6. Orang Pribadi sebagai Bentuk Usaha tetap.
Untuk usaha jasa profesi akuntan, pengacara, notaries, penilai dan sebagainya
yang biasanya mendapat izin usaha (licence) secara pribadi apabila melakukan
usaha atau kegiatan di Indonesia lebih dari 60 (enam puluh) hari tetapi tidak
lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua
belas) bulan sudah memenuhi syarat sebagai bentuk Usaha Tetap. Catatan,
kalau lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan maka orang pribadi
tersebut berubah dari subjek pajak luar negeri menjadi subjek dalam negeri.
7. Badan sebagai Bentuk Usaha Tetap.
Dalam hal bentuk Usaha Tetap tersebut berasal dari negara yang mengadakan
perjanjian perpajakan dengan Indonesia, maka sepenuhnya berlaku ketentuan
perjanjian perpajakan dengan menunjukan surat keterangan domisili sedang
bagi Bentuk Usaha Tetap lainnya berlaku sepenuhnya Undang-Undang Pajak
Indonesia.
a. Dasar Hukumnya
Semua ketentuan perpajakan yang berlaku untuk perusahaan atau subjek
pajak dalam negeri berlaku sepenuhnya untuk Bentuk Usaha Tetap,
disamping itu berlaku juga ketentuan khusus sebagai berikut.
1. Ps.2 ayat 4 Undang-Undang Pajak Penghasilan (ketentuan mengenai
subjek pajak luar negeri).
2. Ps.2 ayat 5 Undang-Undang Pajak Penghasilan (ketentuan mengenai
Bentuk Usaha tetap).
3. Ps.5 Undang-Undang Pajak Penghasilan (penghasilan dan biaya-biaya
yang diperkenankan).
4. Ps.15

Undang-Undang

Pajak

Penghasilan

(norma

penghitungan

khusus).

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

42

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

5. Ps.26 ayat 4 Undang-Undang Pajak Penghasilan (penghasilan kena


pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu Bentuk Usaha tetap di
Indonesia).
b. Pembukuan;
Sepenuhya tunduk pada Ps.28 Undang-Undang ketentuan Umum dan
Tatacara Perpajakan, Apabila Wajib Pajak menginginkan pembukuan dibuat
dalam bahasa asing (Inggris) dan dalam mata uang asing (US Dollar) sesuai
dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep.533/KMK.04/2000, harus
terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan paling
lambat 3 (tiga) bulan dari awal tahun buku/ awal pendirian perusahaan.
Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan akan memberi
keputusan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya permohonan
Wajib Pajak.
8. Latihan.
Penghitungan Pajak Penghasilan:
1. Penghasilan yang dikenakan pajak yang diatur dalam Ps.5 ayat 1 UndangUndang Pajak Penghasilan sebagai berikut;
a. Penghasilan dari usaha atau kegiatan dan dari harta yang dimiliki atau
dikuasai.
b. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan penjualan barang
kena pajak pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang
dijalankan atau yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia.
c. Penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 yang diterima atau
diperoleh kantor pusat sepanjang terhadap hubungan efektif antara
bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan
penghasilan tersebut dan.
d. Penghasilan yang diatur dalam Ps.4 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Pajak
Penghasilan.
2. Tidak dianggap sebagai penghasilan yang akan dikenakan pajak seperti apa
yang diatur dalam Ps.5 ayat 3 huruf c Undang-Undang pajak Penghasilan
yaitu pembayaran yang diterima atau diperoleh dari kantor pusat berupa

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

43

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

bunga dan imbalan lain kecuali bunga yang berkenan dengan usaha
perbankan.
3. Biaya-biaya yang diatur dalam Ps.5 ayat 2, ayat 3 huruf a Undang-Undang
Pajak Penghasilan sebagai berikut.
a. Biaya-biaya yang berkenan dengan penghasilan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b dan huruf c boleh dikurangkan dari penghasilan
bentuk usaha tetap..
b. Biaya administrasi kantor pusat yang berkaitan dengan usaha atau
kegiatan bentuk usaha tetap, yang bersarnya ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Pajak
c. Pengurangan penghasilan bruto seperti yang diatur dalam Ps.6 ayat 1, 2
dan Ps;11,11a Undang-Undang Pajak Penghasilan.
4. Tidak diperbolehkan dibebankan sebagai biaya seperti yang diatur dalam
Ps.5 ayat 3 huruf b Undang-Undang Pajak Penghasilan sebagai berikut.
a. royalty atau imbalan lainnya sehubungan dengan penggunaan harta,
paten atau hak-hak lainnya.
b. imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya,
c. bunga yang dibayar ke kantor pusat, dan
d. pengurangan

yang

tidak

dapat

dikurangkan

sebagai

pengurang

penghasilan bruto seperti yang diatur dalam Ps.9 Undang-Undang Pajak


Penghasilan.
5. Setelah didapatkan penghasilan netto (penghasilan kena pajak) maka
diterapkan tarif Ps.17 undang-Undang Pajak Pengahsilan (berlaku juga bagi
orang pribadi sebagai bentuk usaha tetap) untuk mendapatkan pajak
penghasilan yang terutang.
Contoh perhitungan :
a. Peredaran bruto Bentuk Usaha Tetap Tahun 2008

Rp. 400.000.000,-

b. Biaya untuk mendapatkan menagih dan


memelihara penghasilan

Rp. 275.000.000,Rp. 125.000.000,-

c. Penghasilan bunga

Rp.

5.000.000,-

d. Penjualan langsung barang oleh


kantor pusat yang sejenis dengan
barang yang dijual bentuk usaha tetap

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

Rp. 200.000.000,-

44

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

e. biaya untuk mendapatkan, menagih


dan memelihara penghasilan

Rp. 150.000.000,Rp. 50.000.000,-

f.

Dividen yang diterima atau diperoleh


kantor pusat yang mempunyai hubungan
efektif dengan Bentuk UsahaTtetap.

Rp.

2.000.000,-

Rp. 182.000.000,g. Biaya-biaya menurut Pasal 5 ayat (3)


Undang-Undang Pajak Penghasilan

Rp.

h. Pengahsilan Kena Pajak


i.

7.000.000,-

Rp. 175.000.000,-

Pajak Penghasilan terutang


10% x Rp. 25.000.000,-

= Rp

2.500.000,-

15% x Rp. 25.000.000,-

= Rp.

3.750.000,-

30% x Rp. 125.000.000,-

= Rp. 37.500.000,-

Jumlah Pajak Penghasilan Terutang

Rp. 43.750.000,-

6. Pajak Pengasilan yang terutang dikurangi dengan kredit pajak (Pajak


Penghasilan Ps.22, Ps.23 dan Ps.25 Undang-Undang Pajak Penghasilan)
Yang hasil akhir adalah pajak kurang bayar atau pajak lebih bayar.
contoh penghitungan pajak lanjutan diatas;
Pajak Penghasilan terutang

Rp. 43.750.000,-

Kredit Pajak;
PPh Ps.23 atas bunga

Rp. 750.000,-

PPh Ps.23 atas dividen

Rp. 400.000,-

Jumlah

Rp.

1.150.000,-

Pajak Penghasilan yang masih kurang bayar

Rp. 45.600.000,-

7. Pajak Penghasilan Ps.26 ayat 4 Undang-Undang Pajak


Penghasilan (branch profit tax).
Yaitu pajak yang dikenakan sebesar 20% atas penghasilan kena pajak dikurangi
dengan pajak penghasilan, kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di
Indonesia. Dalam hal adalah perjanjian perpajakan, maka tarif pajak ini
disesuaikan dengan yang tertera dalam perjanjian perpajakan,

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

45

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Contoh penghitungan pajak penghasilan Ps.26 ayat 4 lanjut diatas;


Penghasilan Kena Pajak

Rp. 175.000.000,-

Pajak penghasilan terutang

Rp. 43.750.000,-

Dasar Pengenaan Pajak

Rp. 131.250.000,-

Pajak Penghasilan Ps.26 ayat 4 terutang.


20% X Rp. 131.250.000,-

= Rp. 26.250.000,-

8. Pajak Penghasilan dengan tarif khusus


Ada 3 jenis usaha yang dikenakan pajak dengan tariff khusus yang disebut
Norma Penghitungan Khusus yang diatur dalam Ps.15 Undang-Undang Pajak
Penghasilan.
a. Perusahaan pelayanan dan Penerbangan Jalur Internasional.
Pengenaan pajak penghasilannya dengan deem tax sebesar 2,64 % x total
freight (penerimaan dari angkutan orang, barang dan paket) atau sama
dengan pajak penghasilan final dan dalam pajak tersebut sudah termasuk
pajak penghhasilan Ps.26 ayat 4 Undang-Undang Pajak Penghasilan,
Keputusan Menteri Keuangan Nomor; Kep.417/KMK.04/1996;
Contoh penghitungan;
Total Freight tahun 2008 sebesar Rp. 500.000.000,Pajak Penghasilan terutang; 2,64 % X Rp. 500.000.000,- Rp. 13.200.000,Dalam penghitungan ini sudah termasuk Pajak Penghasilan Ps. 26 ayat 4
Undang-Undang Pajak Penghasilan.
b. Perwakilan Dagang Asing.
Pengenaan Pajak Penghasilan dengan deem tax yaitu Pajak Penghasilan
terhutang adalah sebesar 0,44 % X total ekspor ke Indonesia (melalui
Bentuk Usaha Tetap dan transaksi langsung dari induk perusahaan) sama
seperti pajak penghasilan final Dalam pajak ini sudah termasuk Pajak
Penghasilan Ps.26 ayat 4 Undang-Undang Pajak Penghasilan Keputusan
Menteri keuangan Nomor;
Kep.634/KMK.04/1994
Contoh penghitungan:
Total ekspor ke Indonesia tahun 2008 sebesar Rp. 750.000.000,-

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

46

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Pajak Penghasilan terutang 0,44 % X Rp. 750.000.000,- = Rp. 3.300.000,(sesudah termasuk Pajak Penghasilan Ps.26 ayat 4 Undang-Undang Pajak
Penghasilan).
C. Perusahaan Pengeboran (drilling) minyak dan gas bumi
Penghasilan neto bentuk usaha tetap dari kegiatan usaha pengeboran
minyak dan gas bumi ditetapkan sebesar 15% dari penghasilan bruto
(semua penghasilan yang tercantum dalam kontrak kerja). Sedang besarnya
Pajak Penghasilan yang harus dilunasi dalam tahun berjalan sebesar
penerapan tarif Ps.17 Undang-Undang Pajak Penghasilan terhadap
penghasilan neto : 12 (dua belas). Dalam praktek, besarnya angsuran
bulanan yang harus dibayar adalah sebesar 4,5% dari peredaran bruto (yaitu
sebagai hasil penerapan tarif tertinggi (30%) terhadap penghasilan neto (15
%).
9. Pajak

Penghasilan

Ps.21/26

dan

Ps.23/26

Undang-Undang

Pajak

Penghasilan.
Kewajiban pajak sebagai pemotong pajak yang diatur sebagai Pajak
Penghasilan Ps.21/26 dan Ps.23/26 undang-Undang Pajak Penghasilan sama
dengan kewajiban Pajak Perusahaan subjek pajak dalam negeri. Perhitungan
Pajak Penghasilan karyawan asing (expatriate) yang bekerja penuh dalam satu
tahun pajak sehubungan dengan hubungan kerja sama dengan wajib pajak
dalam negeri.
Khusus untuk penghitungan Pajak Penghasilan Ps.21 Undang-Undang Pajak
Penghasilan karyawan asing (expatriate) yang bekerja kurantg dari 12 bulan
dalam tahun pajak berbeda dengan wajib pajak dalam negeri. Untuk jelasnya
diberikan contoh penghitungan sebagai berikut;
Contoh perhitungan PPh Pasal 21 tahun 2009 atas penghasilan karyawan
asing (expatriate) sebagai Wajib Pajak dalam negeri yang kewajiban
perpajakannya dimulai setelah permulaan tahun pajak (tahun takwim).
George S Jr Warga Negara Amerika Serikat (USA), mulai bekerja di Indonesia 1
September 2009 dan kontraknya berakhir Agustus 2010. Gaji perbulannya
adalah sebesar US $ 10.000. Kurs Menteri Keuangan
Penghitungan PPh Ps.21 tahun 2004 adalah sebagai berikut;

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

47

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Masa kerja adalah 1 September 31 Desember 2009 atau selama 4 (empat)


bulan. Gaji selama 4 bulan setelah di kurs kan dengan Kurs Menteri Keuangan =
Rp.

380.000.000,-

Rp.

2.000..000,-

Rp.

378.000.000,-

Pengurangan biaya jabatan = 4 X 5% X Rp. 90.000.000,- =


Rp. 18.000.000,- maksimal = 4 X Rp. 500.000,- =
Penghasilan disetahunkan = 12/4 X Rp. 378.000.000,-

Rp. 1.134.000.000,-

Penghasilan Tidak Kena Pajak (K/3)

Rp.

Penghasilan Kena Pajak

Rp.1.112.880..000,-

21.120.000,-

Pajak Penghasilan Terhutang setahun:


5 % X Rp. 50.000.000,-

= Rp.

2.500.000,-

15 % X Rp. 200.000.000,-

= Rp.

30.000.000,-

25 % X Rp. 250.000.000,-

= Rp.

62.500.000,-

30 % X Rp. 612.880.000,-

= Rp. 183.864.000,-

Rp. 278.864.400,Pajak Penghasilan Tahun 2009 (4 bulan) atau


4/12 X Rp.278,864.000,Rp.92.954.666.-,Dalam hal semula Wajib Pajak ini dianggap sebagai Wajib Pajak luar negeri
karena kurang dari 183 hari dalam 12 bulan pajaknya telah dipotong sesuai
sebesar 20% x penerimaan bruto, maka pajak yang telah dipotong tersebut
menjadi kredit pajak, apabila wajib pajak ini berubah status menjadi wajib pajak
dalam negeri.
Contoh,
Kontrak kerja dengan George S tersebut diatas semula 1 September s/d 30
Oktober (2 bulan).
Dalam kontrak diperpanjang menjadi satu tahun (berakhir Agustus 2010). Maka
untuk tahun 2009 sebagai Wajib Pajak dalam negeri, penghitungan pajaknya
lihat penghitungan diatas dan pajak penghasilan semula yang dipotong untuk
bulan September dan Oktober 2004 sebesar 2 x 20% x Rp. 190.000.000,- = Rp.
76.000.000,-. Sehingga pajak yang masih kurang dibayar dalam tahun 2009
adalah Rp. 92.954.666,- Rp. 76.000.000,- = Rp. 16.954.666,-

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

48

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Contoh perhitungan Pajak Penghasilan Ps.21 atas karyawan asing


(expatriate) sebagai Wajib Pajak dalam negeri yang kewajiban pajaknya
berakhir dalam tahun berjalan.
Lanjutan dari contoh diatas;
Perhitungan Pajak Penghasilan Ps.21 tahun pajak 2010 sebagai berikut;
Masa kerja adalah 1 Januari 31 Agustus 2010 atau selama 8 (delapan) bulan.
Gaji selama 8 bulan setelah di kurs dengan Kurs Menteri Keuangan =
Rp. 800.000.000,Pengurangan biaya jabatan = 8 x 5 % x Rp. 80.000.0000,- =
Rp. 32.000.000,- maksimal 8 x Rp. 500.000,- =

Rp.

4.000.000,-

Rp.

796.000.000,-

Penghasilan disetahunkan 12/8 x Rp. 796.000.000,- =

Rp. 1.194.000.000,-

Penghasilan Tidak Kena Pajak (K/3)

Rp.

Penghasilan Kena Pajak

Rp. 1.172.880.000,-

21.120.000,-

Pajak Penghasilan terutang setahun;


5% x Rp. 50.000.000,-

Rp.

.2.500.000,-

15% x Rp. 200.000.000,-

Rp.

30.000.000,-

25% x Rp. 250.000.000,-

Rp.

62.500.000,-

30% x Rp. 672.880.000,-

Rp. 201.864..000,Rp. 296.864.000,-

Pajak Penghasilan Tahun 2010 selama 8 (delapan) bulan atau


8/12 x Rp. 296.864.000,-

Rp. 197.909.333,-

Apabila pembayaran penghasilan tersebut memakai mata uang asing maka


dasar perhitungan pajaknya memakai Kurs Menteri Keuangan yang berlaku
pada saat itu setiap pembayaran penghasilan (gaji) tersebut dilakukan).
Khusus untuk karyawan

asing yang tidak dapat diketahui/yang tidak

diketemukan data-data yang sebenarnya mengenai penghasilannya (gaji) maka


perhitungan pemotongan pajak penghasilannya dilakukan berdasarkan standar
gaji karyawan asing (lihat penjelsan standar gaji karyawan asing).
10.Kewajiban Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang
Mewah (PPnBM).
Kewajiban Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah
(PPNBM) seperti diatur dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

49

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

untuk bentuk usaha tetap, apabila memenuhi syarat sebagai perusahaan Kena
Pajak adalah sama dengan perusahaan subjek pajak dalam negeri lainnya.
Dalam hal transaksi dalam mata uang asing dasar perhitungan pajaknya
memakai Kurs Menteri Keuangan yang berlaku pada saat itu.
11. Rangkuman.
Pada UU PPH Tahun 1983 Bentuk Usaha Tetap (Permanent Establishment) ini
digolongkan sebagai Subjek Pajak dalam negeri, karena pemajakannya sama
dengan Wajib Pajak Dalam Negeri. Tetapi dalam UU Pajak 1994 dan 2000
bentuk usaha tetap ini digolongkan sebagai subjek pajak luar negeri, padahal
kewajiban pajaknya sama dengan Wajib Pajakm dalam negeri kecuali PPH Ps.
26 ayat 4 UU PPH. Hanya tidak dapat disangkal hal-hal yang berhubungan
denfgan induk peerusahaannya berupa penghasilan dan biaya perlu pengaturan
khusus yaitu yang diatur dalam Ps.15 UU PPH dan pemajakan disektor migas
karena adad kaitannya dengan UU Migasl. Sedangkan penghasilan lainnya
sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

50

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

KEGIATAN BELAJAR 9
PEMAJAKAN ATAS WP PENANAMAN
MODAL ASING (PT PMA)
1. UMUM
PT. Penanamana Modal Asing didirikan menacupada UU No. 1 Tahun 1967 dan
UU No. 11 Tahun 1970.
Pengertian penanaman modal asing:
a. Penanaman Modal Asing bersifatr langsung (direct investment) transfer
valuta asing dari luar negeri (bukan kekayaan devisa Indonesia).
b. Sebagian atau seluruhnya sahamnya dimiliki oleh orang/perusahaan asing.
c. Berbentuk

Badan

Hukum

Indonesia

(perseroaan

Terbatas)

dan

berkedudukan di Indonesia.
Sebagai Wajib Pajak dalam Negeri, penghitungan pajak yang terhutang adalah
sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya.
Semula berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 1970 diberi berbagai kemudahan dibidang perpajakan (tax
holiday) tetapi dengan berlakunya Undang-Undang Pajak Reformasi (Nasional)
yaitu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan yang diperbaharui terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2007 dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai diperbaharui terakhir dengan Udang-Undang No. 42 Tahun
2009, fasilitas tax holiday telah dicabut oleh Pasal 33 ayat 2 Undang-Undang
Pajak Penghasilan.
2. Hal-hal yang perlu diketahui :
a. Pembukuan,
Sepenuhnya tunduk pada Ps.28 UU KUP. Apabila diinginkan akan membuat
pembukuan dalam bahasa asing (Inggris) dan mata uang asing (US Dollar)
dapat mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan dalam waktu 3
(tiga) bulan awal tahun buku/awal pendirian perusahaan. Direktur Jenderal
Pajak atas nama Menteri Keuangan memberi keputusan dalam waktu paling
lambat 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya permohonan Wajib Pajak.
b. Fasilitas Perpajakan yang ada untuk PMA/PMDN.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

51

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Diatur dalam Pasal 31 a UU PPH berarti berlaku tidak saja untuk


PMA/PMDN.
Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal dibidang-bidang
usaha tertentu atau didaerah-daerah tertentu dapat diberikan fasilitas
perpajakan dalam bentuk :
1. Pengurangan penghasilan netto paling tinggi 30% (tiga puluh persen)
dari jumlah penanaman yang dilakukan.
2. Penyusutan dan mortisasi yang di percepat.
3. Kompensasi kerugian yang lebih lama tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh)
tahun dan.
4. Pengenaan pajak penghasilan atas dividen sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 26 sebesar 20% (duapuluh persen) kecuali apabila tarif
menurut perjanjian perpajakan yang berlaku menetapkan lebih rendah.
3. Kewajiban Pajak Penghasilan Badan WP Penanaman Modal Asing.
Pemajakan Pajak Penghasilan Badan adalah sama dengan Wajib Pajak dalam
negeri lainnya, walaupun demikian Wajib Pajak Penanaman Modal Asing tetap
diberitahukan khusus yaitu terdaftar di Kantor Pelayanan pajak Khusus (Kantor
Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing) di Jakarta.
Dalam hal Wajib Pajak telah diijinkan membuat pembukuan dalam bahasa asing
(Inggris) dan mata uang asing (US Dollar), laporan keuangan tahunan/Surat
Pemberitahuan Pajak tetap dibuat dalam Bahasa Indonesia dan dalam mata
uang rupiah dengan konversi mata uang memakai kurs pembukuan yang dianut
perusahaan.
4. Kewajiban sebagai pemotong Pajak Penghasilan Ps. 21/26, Ps 23/26 dan
Ps.4 ayat 2 UU PPh.
Kacuali PPh Badan, WP PMA yang berlokasi atau mempunyai cabang
perusahaan di daerah harus juga terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak lokasi
untuk memenuhi kewajiban Pajak Penghasilan Ps 21 /26, Ps 23/26, dan Ps 4, 2
UU PPh.
Sedang pemenuhan kewajiban PPh. Ps. 21/26, Ps 23/26, dan Ps 4,2 tersebut
sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

52

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Apabila karyawan asing (expatriate) bekerja kurang dari 12 (dua belas) bulan
dalam 1 (satu) tahun, maka penghitungan pajaknya harus di setahunkan terlebih
dahulu (lihat contoh penghitungan

atas Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap.

Dalam hal tidak dapat diketahui berapa gaji (penghasilan) sebenarnya dari
karyawan asing yang bekerja pada perusahaan tersebut, maka untuk
penghitungan pajak penghasilannya dapat dipakai standar gaji karyawan asing
(lihat penjelasan standar gaji karyawan asing).
Apabila pembayaran penghasilan tersebut memakai mata uang asing maka
dasar perhitungan pajaknya memakai Kurs Menteri Keuangan yang berlaku saat
pajak terhutang setap bulannya.
5. Aturan Khusus yang berlaku untuk Wajib Pajak Penanaman Modal Asing.
a. Deem Tax Royalty;
Dalam Surat edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor; SE-18/PJ/222/1983 tanggal
14 September 1983 tentang penentuan deem tax royalty penggunaan hak merk
dagangan dan paten perusahaan farmasi, disebut bahwa khusus untuk royalty
atas penggunaan hak merk dagang dan paten yang tidak dinyatakan dalam
perjanjian tertulis yang dibayar oleh perusahaan industri farmasi di Indonesia,
kepada pemilik merk dan paten (principal) di luar negeri, besarnya adalah 3%
dari harga penjualan obat-obatan.
Harga penjualan yang dimaksud disini adalah harga penjualan atau nilai
penjualan yang menggunakan merk dagang dan paten tersebut. Dengan tarif
Pajak Penghasilan Ps. 26 atas deem tax royalty terasebut adalah (20% atau tarif
sesuai dengan tax treaty) x 3% x harga penjualan obat.
Deem tax royalty tersebut bukan merupakan biaya yang dapat mengurangi laba
kena pajak perusahaan industri farmasi yang bersangkutan, karena telah
dianggap termasuk kedalam harga pembelian bahan baku obat-obatan yang
dibayar kepada principal luar negeri.
Dalam pengasaannya, Direktur Jenderal Pajak melalui suratnya Nomor : S
74/PJ.31/2004 tanggal 4 Februari 2004 tentang penentuan deem tax royalty
penggunaan hak merk dan paten perusahaan industri dan farmasi, melengkapi
Surat Edarannya Nomor; SE-18/PJ.222?1983 tanggal 4 September 1983 hanya
berlaku dalam kondisi tertentu, yaitu apabila :

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

53

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Dalam perjanjian tertulis pembelian bahan baku pihak principal di luar negeri,
tidak

terdapat

klausul

mengenai

kewajiban

pembayaran

royalty

atas

penggunaan merk dagang dan paten dan.bahan baku tersebut, nyata-nyata


menggunakan merk dagang dan paten yang dimiliki oleh pihak principal.
b. Norma Penghitungan Khusus jasa Maklon (Contract Manufacturing):
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 543/KMK/.03/2002 mengenai
norma penghitungan khusus penghasilan netto dan cara pembayaran pajak
penghasilan bagi Wajib Pajak yang melakukan kegiatan usaha jasa maklon
(Contract Manufacturing) Internasional dibidang usaha mainan anak-anak.
Hal itu dijelaskan oleh Direktur Jenderal Pajak dalam Surat Edaran Nomor; SE
02/PJ.31/2003, menyebut bahwa penghasilan netto berupa imbalan jasa maklon
internasional di tetapkan berdasarkan norma penghitungan khusus sebesar 7%
dari jumlah seluruh pembuatan atau perakitan bahan yang tidak termasuk biaya
pemakaian bahan baku.
Atas penghasilan tersebut dikenakan Pajak Penghasilan dengan tarif pajak
tertinggi pasal 17 ayat (1) huruf b Undang-Undang Pajak Penghasilan sebesar
30% yang bersifat final.
Jadi Pajak Penghasilan Final yang terhutang atas jasa maklon adalah 30% x 7%
x biaya pembuatan barang. Perhitungan ini berlaku sepanjang Wajib Pajak tidak
mengadakan perjanjian penentuan harga transfer dengan Direktorat jenderal
Pajak.
Untuk penghasilan lain selain imbalan jasa maklon yang diterima Wajib Pajak
tetap dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan Undang-Undang Pajak
Penghasilan.
Pembayaran Pajak Penghasilan Final terhutang menggunaikan Surat Setoran
Pajak-Pajak Penghasilan final paling lambat 15 bulan berikut dan pelaporannya
paling lambat 20 bulan berikutnya.
6. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah
(PPnBM).
Kewajiban kedua jenis Pajak ini oleh wajib Pajak Penanaman Modal Asing
adalah sama dengan perusahaan Wajib Pajak dalam negeri lainnya apabila
memenuhi syarat sebagai Pengusaha Kena Pajak.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

54

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Apabila kegiatan usaha berada diluar tempat kedudukan perusahaan, maka


kewajiban Pajak Pertambahan Nilai/ Pajak Penjualan Barang Mewah juga harus
dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak Lokasi/ kantor cabang berada.
Untuk transaksi yang teerhutang Pajak Pertambahan Nilai dan Penjualan
Barang Mewah yang memakai mata uang asing, Maka dasar perhitungan
pajaknya memakai Kurs Menteri keuangan yang berlaku pada saat pajak
terhutang.
7. Latihan
a. Apakah ada perbedaan pemajakan untuk Wajib Pajak PT PMA dengan Wajib
Pajak Badan dalam Negeri lainnya.
b. Jelaskan aturan-aturan khusus pemajakan yang ada pada PT PMA.
c. Dalam hal ada transaksi dalam Valuta Asing, kurs pembukuan mana yang
akan diterapkan dan kurs mana yang dipakai dalam menghitung pajak
terutang.
d. Dalam hal ada karyawan asing yang bekerja pada PT PMA standar apa
yang akan dipakai untuk menghitung PPh Ps. 21 dalam hal tidak jelas
jumlah gaji yang diterima.
8. Rangkuman
Perusahaan PT PMA didirikan untuk bidang-usaha tertentu atau di daerah
tertentu dengan mendapat fasilitas tertentu. Dengan hadirnya UU Perpajakan
baru

(reformasi)

fasilitas

perpajakan

itu

dihapuskan.

Hanya

dengan

pertambangan yang sangat khusus diberikan dengan Keputusan Presiden.


Pengenaan Pajak untuk seluruh pajak PT PMA sama dengan perusahaan badan
usaha dalam negeri lainnya. Untuk pengenaan pajak atas royalty dan jasa
maklon yang tidak dapat secara nyata diketahui dari pembukuan perusahaan
ditentukan Norma Penghitungan nya oleh Dirjen Pajak. Demikian juga apabila
karyawan asing expatriate yang tidak ditemukan data besaran gaji dan
tunjangan yang diterima dari pembukuan perusahaan karena terkait dengan
induk perusahaannya di luar negeri ditetapkan dengan memakai standar gaji
Karyawan asing yang ditetapkan Dirjen Pajak.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

55

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

KEGIATAN BELAJAR 10
PEMAJAKAN ATAS BENTUK USAHA
KERJASAMA (JOINT OPERATION)
1. UMUM
Bentuk usaha ini adalah kerjasama antara badan-badan (baik lokal dengan lokal
maupun lokal dengan perusahaan asing) untuk mengerjakan suatu proyek
tertentu atau untuk suatu usaha jangka waktu tertentu. Pembentukan badan ini
tertuang dalam suatu Join Agreement antara pihak-pihak yang mengadakan
kerjasama dengan menyebutkan % penyertaan anggota-anggotanya serta dapat
dibentuk dengan akta dibawah tangan atau akta notaris.
Ada beberapa nama yang dipakai antara lain:
Kerjasama Operasi, Operasi bersama, usaha bersama, Join Operation, Join
Venture, Associated With, Conto Amenta dsbnya.
Kalau diteliti secara formal bentuk kerjasama ini adalah badan biasa seperti
peerkongsian dan bukan bentuk badan hukum karena tidak memenuhi syarat Ps
2 Undang-Undang Pajak Penghasilan yang mengatur subjek pajak juga tidak
ditentukan dengan tegas apakah bentuk kerja sama ini merupakan subjek pajak
seperti yang tertulis dalam Ps 2
Direktur

Jenderal

Pajak

bentuk badan usaha lainnya. Penegasan

dapat

kita

lihat

dalam

Surat

Edaran

No.S.638/PJ.22/1986 tanggal 13 Mei 1986 sebagai berikut;


Kiranya tidak berlebihan ditegaskan di sini, bahwa baik berdasarkan Ordonansi
Pajak Perseroan maupun menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984
Joint Operation atau Operasi bersama itu tidak dikenal sebagai Subjek Pajak,
oleh karena itu Operasi bersama itu tidak dapat menjadi Wajib Pajak PPS
maupun Wajib Pajak PPh. Namun demikian, Operasi bersama itu dapat
menjadi majikan atau pemberi kerja, sehingga kepada Operasi bersama itu
dapat diberikan NPWP untuk memotong dan menyetorkan kalau dahulu PPd
Pasal 17a sekarang PPh Pasal 21.
2. Kewajiban Pajak Penghasilan Badan:
Oleh karena perlakuan perpajakan sampai dengan saat ini untuk kerjasama
usaha (Joint Operation) tidak dianggap sebagai Subjek Pajak, Pajak
Penghasilan Badan, maka laba yang didapat badan ini akan dikenakan pajak di

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

56

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

masing-masing perusahaan anggota usaha bersama tersebut. Pembagian laba


biasanya secara proporsional sesuai dengan % pernyataan yang terutang dalam
Joint Agreement Demikian juga pembagian laba kerjasama operasi ini tidak
dikenakan Pajak Penghasilan Dividen (Pajak Penghasilan Ps.23 dividen).
Penghasilan berupa pembagian laba ini menjadi penghasilan lain (other income)
bagi perusahaan penerima (anggota kerjasama operasi) yang selanjutnya akan
dikenakan Pajak Penghasilan Badan.
Khusus untuk Pajak Penghasilan Ps. 22 atau Ps. 23 yang dipotong sehubungan
penghasilan yang mengalir dari pemungut/pemotong yang akan menjadi kredit
pajak bagi penerima, dilakukan dengan membagi sesuai dengan % penyertaan
yang tercantum dalam join agrrement oleh Kantor Pelayanan Pajak dimana bukti
potong tersebut di administrasikan.
3. Kewajiban Sebagai Pemotong PPH Ps. 21 / 26, Ps. 23 / 26 Ps. 4,2 UU PPh.
Berlaku sepenuhnya ketentuan sebagai pemotong pajak penghasilan untuk
transaksi yang diatur dalam pajak penghasilan Ps. 32/26, Ps. 23/26 dan Ps.4
ayat 2.
Dalam hal pembayaran dalam mata uang asing maka dasar perhitungan pajak
berdasarkan Kurs Menteri Keuangan yang berlaku pada saat itu.
Demikian juga dalam hal ada karyawan asing yang tidak jelas berapa gaji
sebenarnya yang dibayarkan oleh pemberi kerja maka perhitungan pajaknya
dapat dilakukan dengan memakai Pedoman Standar Gaji Karyawan Asing.
4. Kewajiban Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah.
Kalau badan usaha tersebut memenuhi syarat sebagai Pengusaha Kena Pajak
maka ketentuan Undang-Undang pajak Pertambahan Nilai berlaku sepenuhnya
untuk semua transaksi atas nama badan ini dengan syarat semua administrasi
pembukuan / keuangan harus memakai nama joint operation (tidak boleh
memakai nama anggota joint operation).
Dalam hal transaksi yang terutang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan Barang Mewah memakai mata uang asing maka dasar perhitungan
pajaknya adalah Kurs Menteri Keuangan yang berlaku pada saat itu.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

57

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

5. Latihan
1. Joint operation adalah kegiatan usaha berbentuk badan tetapi sampai
dengan saat ini tidak dianggap sebagai subjek PPh badan, apa sebabnya
dan bagaimana memajaki penghasilan yang didapat dari kegiatan usahanya.
2. Apabila atas transaksinya dipotong PPh Ps 23 atau dipungut PPh Ps 22
bagaimana cara mengkreditkan PPh tsb.
3. Apabila Joint Operation ini mendapatkan laba dan dibagai kepada anggota
nya, bagaimana pengenaan pajak nya.
4. Bagaimana perlakuan perpajakan sebagai pemotong PPh Ps.21/26, PPh Ps.
23/26 dan PPh Ps. 4,2 UU PPh.
5. Apakah joint operation ini memenuhi syarat sebagai pengusaha Kena Pajak
dan bagaimana pelaksanaan perpajakannya.
6. Rangkuman.
Sampai dengan saat ini kerjasama usaha (joint operation) belum dianggap
sebagai subjek pajak, sehingga pemajakan Pajak Penghasilan Badan dikenakan
di masing-masing anggota, caranya laba yang didapat berdasarkan laporan
keuangan oleh joint operation dibagi sesuai dengan penyertaan masing-masing
anggota. Pembagian laba ini tidak termasuk objek PPh Ps. 23/26 sehingga tidak
dipotong PPh nya. Pemberian pemberian NPWP hanya ditujukan untuk
keperluan PPh Ps 21/26, PPh Ps, 23/26, PPh Ps.42 dan PPh Ps 15 UU PPh
dan keperluan PPN menurut UU PPN, untuk jenis pajak diluar PPh badan
kewajiban pajaknya sama dengan Wajib Pajak lainnya

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

58

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

KEGIATAN BELAJAR 11
PEMAJAKAN PERUSAHAAN YANG MENGERJAKAN PROYEK PEMERINTAH
DANA BANTUAN LUAR NEGERI
1. Dasar Hukum :
1. Kep. Pres No.29 Tahun 1986 Tanggal 12 Juli 1986 jo Kep.Men.Keu No.620 /
KMK.04 / 1986 Tanggal 18 Juli 1986.
2. Kep. Pres No. 13 Tahun 1995 Tanggal 27 Februari 1995.
3. PP No. 42 Tahun 1995 Tanggal 20 Nopember 1995 jo Kep.Keu No.239 /
KMK o1 / 1996 tanggal 4 Januari 1996.
4. PP No. 63 Tahun 1998 Tanggal 23 Juni 1998 jo Kep.Men.Keu No. 463 / KMK
.01 1998 Tanggal 21 Oktober 1998.
5. PP No. 43 Tahun 2000 Tanggal 20 Juni 2000 jo Kep.Men.Keu No.
486/KMK.04 / 2000 Tanggal 20 Nopember 2000 jo SE Dit.Jeb.Pajak No.SE
05 / PJ.42 / 2001 Tanggal 8 Februari 2001.
6. PP No.25 Tahun 2001 Tanggal 18 Mei 2001.
2. Uraian:
Proyek pemerintah yang dibiayai dengan dana bantuan yang berasal dari Luar
Negeri Proyek pemerintah adalah proyek milik pemerinyah pusat maupun
pemerintah daerah secara langsung atau yang diteruskan ke perusahaan milik
nagara. Proyek ini bisa disebut dengan Proyek Kep.Pres 29 Tahun 1996. proyek
ini dapat berupa proyek physik (konstruksi), pengadaan barang maupun jasa.
Dana bantuan Luar Negeri (DBLN) adalah dana yang berasal dari luar negeri
yang dapat berupa Pinjaman Luar negeri (Loan) dan Hibah Luar Negeri (Grant).
Perusahaan yang mengerjakan proyek ini dapat berbentuk badan hukum
Indonesia seperti Perseroan Terbatas maupun Kerjasama Operasi (Joint
Operation). Bentuk/ jenis usaha dapat berupa Perusahaan Jasa Konstruksi,
Jasa Pengadaan Barang (supplier) dan Jasa Konsultan.
Biasanya dalam pelaksanaan proyek Kep.Pres 29 tahun 1996 ini tidak
seluruhnya dananya berasal dari luar negeri tetapi ada juga yang berasal dari
APBN yang disebut dana Government of Indonesia (GOI). Pemajakan untuk
proyek pemerintah dengan dana bantuan luar negeri (Proyek Kep.Pres 29)

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

59

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

terakhir diatur dengan PP. No.25 tahun 2001 tanggal 18 Mei 2001 sebagai
berikut :
3. PPh Badan
Pengaturan pemajakan PPh Badan untuk perusahaan yang mengerjakan
proyek pemerintah dengan dana luar negeri sbb:
a. Pajak Penghasilan yang terutang atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh kontraktor, konsultan dan pemasok (supplier) utama dari pekerjaan
yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan proyek-proyek milik pemerintah
yang dibiayai dengan dana hibah dan atau dana pinjaman luar negeri
ditanggung oleh pemerintah.
b. Pajak Penghasilan yang terutang oleh kontraktor, konsultan dan pemasok
lapisan kedua atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari pekerjaan
yang dilakukan dalam rangka proyek pemerintah yang dibiayai dengan
Hibah dan Dana Pinjaman Luar Negeri, tetap terutang pajak (dipotong atau
dibayar) sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.
c. Pajak Penghasilan yang terutang oleh kontraktor, konsultan dan pemasok
utama yang ditanggung oleh pemerintah dapat dikreditkan dengan Pajak
Penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan yang diterima atau
diperoleh dalam tahun yang sama.
d. Apabila Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan menyatakan kelebihan
pembayaran, maka kelebihan pembayaran yang berasal dari Pajak
Penghasilan yang ditanggung oleh pemerintah tidak dikembalikan
4. Pajak Penghasilan Pasal 21/26
PPh Ps 21/26 yang terutang oleh karyawan asing yang bekerja kepada
kontraktor, konsultan dan pemasok utama maupun kontraktor, konsultan dan
pemasok lapisan kedua atas penghasilan yang diterima atau di peroleh dari
pekerjaan yang dilakukan dalam rangka proyek pemerintah yang dibiayai
dengan Hibah dan Dana Pinjaman Luar Negeri, dipotong atau dibayar sesuai
dengan Ketentuan Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun
2008 Dalam praktek masih banyak terdapat MOU dan kontrak kerja yang

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

60

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

menyebut all taxes levies (dibebaskan) atau born by government (ditanggung


pemerintah). Hal ini tentu tugas pemeriksa untuk menjelaskan bahwa ketentuan
yang bertentangan dengan UU Pajak tidak berlaku dan seharusnya ketentuan
yang mengatur perpajakan tetap tunduk kepada UU Pajak.
5. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah.
Pengenaan PPN adalah sama dengan PKP lainnya. Dalam hal Proyek tsb
dimiliki oleh Pemerintah dan Dana yang dipakai untuk proyek tsb berasal dari
Dana Bantuan Luar negeri (Loan dan atau Grant) maka Faktur Pajak masukan
dapat dikreditkan, Sedangkan atas Dana yang berasal dari APBN dipungut PPN
oleh Bendaharawan Pemerintah.
Pajak Pertambahan Nilai sehubungan dengan impor, pengadaan barang dan
jasa kontraktor / konsultan dalam rangka pelaksanaan proyek pemerintah yang
dananya berasal dari luar negeri (pinjaman dan hibah) Ditanggung Pemerintah,
dan tidak dipungut sehingga pajak masukan yang dibayar untuk keperluan
proyek tersebut dapat direstitusikan karena merupakan Pajak Pertambahan Nilai
lebih bayar. Kewajiban Pajaknya sama dengan kewajiaban Pengusaha Pajak
lainnya (membuat Faktur Pajak, mengisi dan melaporkan SPT masa bulanan.
6. Latihan
Untuk jelasnya perhitungan pajak Penghasilan Badan diberi contoh sebagai
berikut:
1. Jumlah Penghasilan Bruto Tahun 2004
dari Proyek Kep. Pres 29 =

Rp. 500 juta

2. Jumlah Penghasilan Bruto Tahun 2004


Dari Proyek non Kep.Pres 29 =

Rp. 400 juta

3. Jumlah seluruh penghasilan proyek =

Rp. 900 juta

4. Jumlah seluruh biaya perusahaan =

Rp. 800 juta

5. Penghasilan Netto =

Rp. 100 juta

6. Kompensasi kerugian tahun sebelumnya =

Rp.

7. Penghasilan kena Pajak =

Rp. 100 juta

8. Pajak Penghasilan terutang =

Rp. 12,5 juta

9. Pajak Penghasilan atas penghasilan dari proyek Kep.Pres 29 adalah


sebagai berikut : 5/6 x Rp.12,5 juta = Rp. 6,944 juta.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

61

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

10. Pajak Penghasilan atas penghasilan dari proyek non Kep.Pres. 29 adalah
sebagai berikut : 4/9 x Rp.12,5 juta = Rp. 5,556 juta (dikurangi dengan kredit
pajak yang ada)
Dalam hal pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan maupun surat ketetapan
pajak (SKPKB) diisi sebagai berikut :
Jumlah serluruh penerimaan

Rp. 900 juta

Jumlah seluruh biaya perusahaan

Rp. 800 juta

Penghasilan netto

Rp. 100 juta

Kompensasi kerugian

Rp.

Penghasilan Kena Pajak

Rp. 100 juta

Pajak Penghasilan Terutang

Rp. 12,5 juta

Kredit Pajak (Proyek Kep.Pres.29)

Rp. 6,944juta

Pajak Penghasilan Kurang Bayar

Rp. 5,556juta

7. Rangkuman
Pajak Penghasilan yang terutang untuk Pajak Penghasilan Badan dan PPN
untuk proyek pemerintah yang dananya berasal dari Dana Bantuan Luar Negeri
ditanggung pemerintah. Sedang pengenaan Pajak-Pajak lainnya berlaku
sebagaimana aturan perpajakan yang berlaku.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

62

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

TEST FORMATIF
A. Soal-Soal Latihan.
1. Kasus pemajakan dalam rangka hubungan kerja (dependent personal services).
Kasus I.
Tuan ABC adalah penduduk Malaysia yang bekerja di Indonesia untuk PT Jaya
Raya Mandiri, selama 5 (lima) bulan dengan gaji US.$.7.500. time test perjanjian
Perpajakan Indonesia-Malaysia adalah 183 hari dalam satu tahun takwim.
Apabila gaji yang diterima oleh Tuan ABC tersebut terutang pajak penghasilan di
Indonesia kalau terutang berapa besarnya dan sebut dasar hukumnya.
Kasus II.
Tuan XYZ adalah penduduk Italia, di Italia dia bekerja sebagai Representatif
Office PT Suasana Internasional selama 6 (enam) bulan dengan gaji US $ 9.000
/ Bulan. Time test Perjanjian Perpajakan Indonesia-Italia adalah 183 (seratus
delapan puluh tiga) hari dalam 1 (satu) tahun pajak.
Apakan gaji yang diterima oleh Tuan XYZ terhutang pajak di Indonesia dan kalu
terhutang bagaimana pemajakannya serta sebut dasar hukumnya.
Kasus III.
Tuan DEF penduduk Belanda, yang bekerja sebagai Representatif Office di
Indonesia untuk Konig Corp. sebuah perusahaan yang didirikan dan
berkedudukan di Belanda. Tuan DEF bekerja selama 12 (dua belas) bulan
dengan gaji US $ 10.000/ bulan. Time test Perjanjian Perpajakan IndonesiaBelanda adalah 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12
bulan.
Apakah gaji yang diterima oleh tuan DEF terhutang pajak penghasilan di
Indonesia kalau terhutang berapa serta sebut dasar hukumnya.
Kasus IV
Tuan MacDonald penduduk Amerika (USA) ditugaskan oleh Houston Corp.
perusahaahn yang didirikan dan berkedudukan di Amerika, untuk bekerja di

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

63

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Indonesia pada PT Baya Bayu selama 3 (tiga) bulan. Tuan MacDonald


menerima gaji dari Houston Crop. Sebesar US $ 8.000 / bulan, dan PT Baya
Bayu membayar jasa manajemen (Fee) kepada Houston Crop. Sebesar US $
9.000 / bulan. Time test perjanjian perpajakan Indonesia-USA adalah 120
(seratus dua puluh) hari dalam jangka waktu 12 bulan.
Apakah gaji yag diterima Tuan MacDonald terhutang pajak di Indonesia dan
kalau terhutang berapa serta sebut dasar hukumnya.
II. Kasus Pemajakan Bentuk Usaha Tetap (BUT)
Kasus I.
XYZ Corporation adalah perusahaan yang didirikan dan bertempat kedudukan di
Belgia, menjual seperangkat mesin seharga US $ 400.000 (CIF) kepada PT
Sentosa Jakarta. PT Bengkel Jaya diberi tugas oleh XYZ Corp. untuk
memasang dan melatih operator mesin tersebut. Pekerjaan tersebut dilakukan
selama 90 (sembilan puluh) hari dan untuk itu PT Bengkel Jaya diberi imbalan
jasa oleh XYZ Corp. sebesar Rp. 50.000.000,- Time test pemberian jasa
tersebut dalam perjanjian perpajakan Indonesia-Belgia adalah lebih dari 3 (tiga)
bulan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan.
Bagaimana pemajakan atas penerimaan penghasilan XYZ Corp. tersebut, kalau
terhutang PPH di Indonesia, hitung berapa besarnya dan sebut dasar
hukumnya.
Kasus II.
Dalam kasus I diatas kalau pemasang dan pelatihan operator mesin tersebut
dilakukan oleh teknisi dari XYZ Corp.
Bagaimana pemajakan atas penghasilan XYZ Corp. tersebut, kalau terhutang
pajak hitung pajak terhutang serta sebut dasar hukumnya.
Kasus III.
Seandainya kasus I/II diatas, antara Indonesia dan Belgia belum ada perjanjian
perpajakan.
Bagaimana pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh XYZ Corp. tersebut
kalau terutang pajak penghasilan hitung pajak terhutang serta sebutkan dasar
hukumnya.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

64

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

Kasus IV.
PT Sejahtera ditunjuk sebagai agen tunggal pemasaran mesin Kubota di
Indonesia oleh Kubota Corp, sebuah perusahaan yang didirikan dan
berkedudukan di Korea Selatan. Setiap penjualan mesin Kubota PT Sejatera
menerima komisi Fee sebesar 5% dari harga jual yaitu sebesar US $ 200.000
(CIF).
Kasus V.
Bagaimana kalau kasus IV tersebut, PT Sejatera

diberi keleluasaan untuk

menentukan harga jual, sehingga PT Sejatera mendapatkan laba / rugi sebagai


selisih harga jual dengan harga beli dari Kubota Corp.
Bagaimana pemajakan atas penerimaan penghasilan yang diterima oleh Kubota
Corp. kalau terhutang pajak hitung pajaknya dan sebut dasar hukumnya.
B. Kunci Jawaban Test Formatif
I.

Kasus pemajakan dalam rabgka hubungan kerja (dependent personal

services).
Kasus 1 Terutang PPh yang dipotong oleh PT Jaya Raya Mandiri sebagai
Wajib Pajak Luar Negeri sebesar 20% x USD.7.500 x Kurs KMK.
Dasar Hukumnya PPh Ps. 26 UU PPh.
Kasus 2 Terutang PPh yang dipotong oleh PT Suasana Internasional
sebagai Wajib Pajak Luar Negeri sebesar 20% x USD.9.000 x Kurs
KMK. Dasar Hukumnya PPh Ps. 26 UU PPh.
Kasus 3 Terutang PPh Ps. 21 yang dipotong oleh BUT Konig Corp sebagai
Wajib Pajak Dalam Negeri (karena Koning Corp. sudah memenuhi
syarat sebagai BUT diwakili oleh DEF) Terutang dengan tariff
umum. Dasar Hukum PPh. Ps. 21 UU PPh.
Kasus 4 Gaji yang diterima oleh MacDonald tidak terutang pajak di
Indonesia, karena berasal dari Houston Corp. USA. Yang terutang
pajak adalah pajak pembayaran dari PT Baya Bayu sebesar 20% x
USD 9.000 x Kurs KMK, PT Baya Bayu sebagai pemotong. Dasar
Hukumnya adalah PPh Ps 26 UU PPh.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

65

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

II. Kasus Pemajakan Bentuk Usaha Tetap (BUT)


Kasus 1 Transaksi tsb tidak terutang PPh di Indonesia karena belum
memenuhi time test lebih dari tiga bulan. Dasar Hukum perjanjian
Perpajakan Indonesia-Belgia.
Kasus 2 Sama, transaksi tsb tidak terutang PPh di Indonesia karena belum
memenuhi syarat time test lebih dari tiga bulan, Dasar Hukum
Perjanjian Perpajakan Indonesia-Belgia.
Kasus 3 Untuk penentuan BUT menurut Ps 2 ayat 5 UU Pajak Penghasilan,
time test untuk jasa adalah 60 hari dalam jangka waktu 12 bulan.
Maka transaksi tsb menjadi terutang PPh. XYZ tsb menjadi XYZ
BUT.
Kasus 4 Karena PT Sejahtera sebagai Agent yang dependent dari Kubota
Corp, maka PT Sejahtera menjadi BUT mewakili Kubota Corp.
Transaksi yang terjadi tsb menjadi terutang PPh. Dasar Hukum Ps.
2 ayat 5 UU PPh.
Kasus 5 Atas transaksi tsb tidak terutang PPh, karena PT Sejahtera tidak
memenuhi syarat dependent. Dasar Hukum Ps 2 ayat 5 UU PPh.

UMPANAN BALIK TINDAK LANJUT


Setelah mempelajari Modul ini peserta harus mencoba mengerjakan Latihan dan
Test Formatif yang ada pada Modul. Apabila sudah dapat mengerjakan dengan baik
dan benar, maka dikatakan diklat ini sudah mencapai sasarannya.
Tetapi apabila kurang maka peserta diklat diharuskan untuk mengulangi
mempelajari Modul ini sehingga dapat dimengerti dan dipahami.
Karena tujuan Modul ini adalah agar setiap peserta diklat mengerti dan memahami
serta dapat menerapkan dengan baik dan melakukan pengenaan pajak dengan
benar atas transaksi yang bersifat Internasional.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

66

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

DAFATAR PUSTAKA
UU

Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan,


yang telah beberpa kali diubah terakhir dengan UU Nomor 28 Tahun 2007.

UU

Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan yang telah beberapa di ubah
terakhir dengan UU Nomor 36 Tahun 2008..

UU

Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai yang telah beberapa
kali diubah terakhir dengan UU Nomor 42 tahun 2009

UU

Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, yang telah diubah
dengan UU Nomor 11 Tahun 2000.

UU

Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri, yang telah di
ubah dengan UU Nomor 12 Tahun 1970.

Jaja Zakaria,SH,MSc, Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda Ujang, Zakaria,


Yusuf dan Rekan dengan Tax Consultant and Litigation Office dan PT Fica
Sarana, Jakarta, 2001.
Jaja Zakaria,SH,MSc, Perlakuan Pajak Terhadap Bentuk Usaha Tetap (BUT), Divisi
Perguruan Tinggi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005.
Model Double Taxation Convention on Income and on Capital, Organization for
Economic Cooperation and Developmrnt, Paris, 1997.
Muhammad Rusjdi, Pajak Penghasilan, Think Tax Information, PT Indeks Kelompok
Gramedia, Jakarta, 2004
Dr.Gunadi,MSc,AK, Pajak Internasional, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Jakarta, 1997.
Untung Sukardji, Pokok-Pokok Pajak Pertambahan Nilai Indonesia, Edisi Revisi
2007, Divisi Buku Perguruan Tinggi PT Raja Grafinda Perdasa, Jakarta, 2007.

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

67

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

LAMPIRAN 1
PEDOMAN STANDAR GAJI KARYAWAN ASING MULAI TAHUN PAJAK 2002
(PER BULAN)
No
1

Jenis
Usaha
Dagang

Industri
Tekstil

Industri
Lainnya

Pertamban
gan
Umum /
Non Oil
Driling
Company
Pertanian

Perikanan

Kehutanan

Jasa
Bangunan /
Kontraktor /
Kantor
Jasa Agung
Real Estate
/ Lasing

10
11
12

Bank /
Asuransi
Jasa Lain
Konsultan
Asing Yang
Mengerjaka
n Proyek
Pemerintah
Dengan
Dana Luar
Negeri

Jaba
tan
Manager
Lainnya
GM
Manager
Teknisi
GM
Manager
Teknisi
GM
Superten
Dent
Tool
Pusher
Crew
GM
Manager
Teknis
GM
Manager
Teknis
GM
Manager
Teknis
GM
Manager
Teknis
Straff
GM
Manager
Teknis
Staff
Manager
Staff
Manager
Staff
Manager
Staff

Ame
Rica
13,958
11,012
10,372
8,003
7,107
12,165
9,284
7,363
22,153

Ing
gris
10,884
6,018
8,900
6,403
5,314
10,692
8,900
5,726
17,095

Jer
man
10,180
6,018
10,372
8,003
7,107
12,165
9,284
7,619
16,771

15,494

13,894

12,165
9,988
10,372
8,067
7,107
11,589
8,964
7,619
12,357
9,284
7,363
18,375
11,461
9,988
6,595
13,765
11,268
8,387
2,689
16,006
12,165
12,165
9,988
24,010
13,958

11,076
6,403
8,900
7,811
5,314
9,988
8,579
5,762
10,564
8,900
5,762
12,869
11,973
9,824
4,994
13,253
11,268
8,387
6,595
17,991
6,082
8,900
4,802
19,976
17,911

16,583

Aust
ralia
10,756
5,506
8,900
7,811
5,314
10,564
8,900
5,762
16,583

Ero
pa
9,988
5,506
7,811
5,506
3,970
10,692
8,900
5,762
16,583

Ja
Pang
12,869
6,210
6,403
5,122
3,970
9,668
9,092
6,403
26,378

Ko
rea
6,979
4,418
6,403
5,122
3,970
7,919
5,762
4,226
12,357

Hong
kong
6,403
3,585
6,403
5,122
3,970
7,683
5,762
4,226
12,357

Phili
pina
6,403
3,585
6,403
3,970
3,777
7,619
4,226
3,970
12,357

6
3
64
3
3
6
3
3
12

12,997

13,894

13,894

13,894

20,552

10,372

10,372

10,372

10

11,076
8,964
8,900
8,067
7,299
11,641
8,964
7,619
12,293
9,284
7,364
13,253
12,165
9,284
3,906
13,253
11,268
8,387
7,299
18,247
14,662
8,900
6,018
19,976
17,991

11,076
6,467
10,372
7,811
6,403

11,076
6,647
8,900
7,811
5,314
9,988
8,579
5,890
10,564
8,900
5,762
11,973
8,900
8,067
3,970
13,253
11,268
8,259
6,595
6,082
5,314
8,900
4,809
37,967
27,979

11,076
6,467
8,900
7,811
4,994
9,988
8,515
5,890
10,692
6,403
5,762
11,973
8,900
8,067
3,970
13,253
11,268
8,387
5,314
16,006
7,299
8,900
4,866
33,933
27,979

18,247
9,988
7,811
5,378
3,970
8,579
6,210
4,994
9,092
6,403
5,314
9,988
8,387
8,067
7,171
13,253
11,268
8,259
3,265
14,854
8,259
13,958
4,994
-

7,875
4,610
6,403
5,122
3,970
7,171
5,570
4,290
7,811
5,122
4,226
8,259
5,762
4,226
3,009
8,900
7,811
6,210
3,265
4,994
3,970
2,497
1,279
-

7,875
4,610
6,403
5,122
3,970
7,811
5,570
4,290
7,811
5,122
4,226
8,387
6,787
4,610
3,009
4,994
3,265
-

7,875
4,610
6,403
5,122
3,970
7,171
4,610
4,418
7,811
5,122
4,226
8,259
5,762
4,226
3,009
2,625
-

7
4
6
5
3
6
3
3
6
3
3
7
5
4

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

Belan
Da
9,988
5,506
8,900
7,811
5,314
18,375
16,390
5,762

9,988
8,579
5,762
10,692
8,900
5,762
11,973
8,900
8,067
4,994
13,253
12,165
8,387
6,595
18,427
11,012

8,900
4,802
-

68

2
3

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

LAMPIRAN 2
TARIF PPH PASAL 26 ATAS BUNGA,ROYALTY, DIVIDEN DAN PAJAK ATAS
LABA SETELAH PAJAK DARI BUT DALAM P3B INDONESIA

01.
02.

Afrika Selatan
Amerika Selatan

10 %
15 %

10 %
15 %

15 %
15 %

10 %
15 %

PAJAK
ATAS LABA
SETELAH
PAJAK
DARI BUT
10 %
15 %

03.
04.
05.

- Negoisasi Ulang
Australia
Austria
Belanda

10 %
10 %
10 %
10 %

10 %
15 %
10 %
20 %

15 %
15 %
15 %
15 %

10 %
10 %
15 %
10 %

10 %
15 %
12 %
9%

06.
07.
08.
09.
10.
11.
12.
13.

- Negoisasi Ulang
Belgia
Bulgaria
Ceko
Denmark
Finaldia
Hungaria
India
Inggris

10 %
15 %
10 %
12,5 %
10 %
10 %
15 %
10 %
10 %

10 %
10 %
10 %
12,5 %
15 %
15 %
15 %
15 %
15 %

15 %
15 %
15 %
15 %
20 %
15 %
15 %
15 %
15 %

10 %
15 %
15 %
10 %
10 %
10 %
15 %
10 %
10 %

9%
15 %
15 %
12,5 %
15 %
15 %
20 % +
10 %
10 %

14.
15.
16.
17.

Negoisasi Ulang
Italia
Jepang
Jerman
Kanada

10 %
10 %
10 %
10 %
15 %

15 %
15 %
10 %
15 %-10 %
15 %

15 %
15 %
15 %
15 %
15 %

10 %
10 %
10%
10 %
15 %

10 %
12 %
10 %
10 %
15 %

18.
19.
20.
21.

- Negoisasi Ulang
Kuait
Luxembrug
Malaysia
Maritius

10 %
5 %
10 %
15 %
10 %

10 %
20 %
12,5 %
15 %
10 %

15 %
15 %
15 %
10 %
15 %

10 %
10 %
10 %
15 %
5%

15 %
10 %
10 %
12,5 %
10 %

NO

NEGARA

BUNGA

ROYALTI

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

DIVIDEN
PORTO
FOLIO

DIVIDEN
PENYERTAAN
LANGSUNG

69

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.

Mongolia
Norwegia
Pakistan
Perancis
Philipina
Polandia
Republic Kore
Romania
Selandia Baru
Singapura
Srilangka
Suriah
Swedai
Swiss
Taiwan
Thailand
Thunisia
Ukraina
Uzbekistan
Yordania
Turki
Seychelles
Spanyol
Sudan
U.A.E
Vietnam
Brunei

10 %
10 %
15 %
15 %
15 %
10 %
10 %
12,5 %
10 %
10 %
15 %
10 %
10 %
10 %
10 %
15 %
12 %
10 %
10 %
10 %
10 %
10 %
10 %
15 %
5%
15 %
15 %

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

10 %
15 %
15 %
10 %
15 %
15 %
15 %
12,5 %
15 %
15%
15 %
20 %
15 %
12,5 %
10 %
15 %
15 %
10 %
10 %
10 %
10 %
10 %
10 %
10 %
5%
15 %
15 %

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

15 %
15 %
15 %
15 %
20 %
15 %
15 %
15 %
15 %
15 %
15 %
10 %
15 %
15 %
15 %
15 %
12 %
15 %
10 %
10 %
15 %
10 %
15 %
10 %
10 %
15 %
15 %

10 %
15 %
10 %
10 %
15 %
10 %
10 %
12,5 %
15 %
10 %
15 %
10 %
10 %
10 %
10 %
15 %
12 %
10 %
10 %
10 %
10 %
10 %
10 %
10 %
10 %
15 %
15 %

70

10 %
15 %
10 %
10 %
20 %
10 %
10 %
12,5 %
20 %
15 %
20 %
10 %
15 %
10 %
5%
20 %
12 %
10 %
10 %
N/A
15 %
20 %
10 %
10 %
5%
10 %
10 %

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK

49.
50.
51.
52.

Darussalam
Mesir
Rusia
Venezuela
Aljazair

15 %
15 %
10 %
15 %

15 %
15 %
20 %
15 %

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

15 %
15 %
15 %
15 %

15 %
15 %
10 %
15 %

LAMPIRAN 3
PENGOPERASIAN KAPAL LAUT DAN PESAWAT UDARA DALAM JALUR
INTERNASIONAL DALAM P3B INDONESIA
NO
01.
02.
03.
04.

NEGARA
Afrika Selatan
Amerika Selatan
Australia
Austria

HAK PEMAJAKAN
Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili untuk

KETERANGAN

50% dari pajak yang

angkutan Udara

Terutang berdasar UU

Negara Sumber untuk

domestik negara sumber

05.

Belanda

Angkutan laut
Tempat Pipinan

(angkutan laut)
Atau home harbor atau

Belgia
Bulgaria
Ceko
Denmark
Finlandia
Hungaria

perusahaan
Effektive Management
Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili untuk

Negara domisili

06.
07.
08.
09.
10.
11.

Angkutan udara

Terutang berdasar UU

Negara sumber untuk

Domestik negara sumber

angkutan laut
Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili

(angkutan laut)

12.
13.
14.

India
Inggris
Italia

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

50 % dari Pajak yang

71

15 %
12,5 %
10 %
10 %

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK


15.
16.
17.
18.
19.

Jepang
Jerman
Kanada
Korea Selatan
Kuwait

Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili

20. Luxemburg
21. Malaysia

Negara Domisili
Efektif Management

22. Mauritus
23. Norwegia
24. Pakistan

Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili untuk
Angkutan udara
Negara sumber untuk
Angkutan laut

25.
26.
27.
28.
29.

Negara Domisili
Negara sumber
Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili untuk
angkutan Udara
Negara sumber untuk
Angkutan laut
Negara Domisili untuk
Angkutan udara
Negara sumber untuk
angkutan laut
Negara Domisili
Negara Domisili
Negara Domisili untuk
Angkutan udara
Negara sumber untuk
Angkutan lau
Negara Domisili
Negara Domisili untuk
Angkutan udara
Negara sumber untuk
angkutan laut

Perancis
Philipina
Polandia
Selandia Baru
Singapura

30. Srilangka

31. Suriah
32. Swedia
33. Swiss

34. Taiwan
35. Thailand

RICHARD EDDY TAMPUBOLON

MODUL PAJAK INTERNASIONAL @ DTSS PPh TINGKAT MENENGAH

50% dari pajak yang terutang


Berdasarkan UU domestik
negara sumber (angkutan laut)
Tarif 1,5% dari penghasilan
Bruto atau tarif pajak yang
Paling rendah di Philipina
Yang dikenai pada penduduk
Negara ke tiga

50% dari pajak yang terutang


berdasarkan
UU
domestik
Negara sumber (angkutan laut)
50% dari pajak yang terutang
berdasarkan
UU
domestik
negara sumber (angkutan laut)

50% dari pajak yang terutang


berdasarkan UU
domestik negara sumber
(angkutan laut)
50% dari pajak yang
Terutang berdasarkan UU
Domestik negara sumber
(angkutan laut)

72