Anda di halaman 1dari 16

PECAHAN DAN OPERASINYA

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah:
KAPITA SELEKTA MATEMATIKA SEKOLAH

Dosen Pengampu:
Toto Bara

Oleh :
Kelompok 3 (Kelas A)
Uun Fadlilah

(130210101053)

Hendrik

(130210101058)

PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

BAB I
PENDAHULUAN

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bilangan Pecahan
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat benda-benda yang
dibagi dengan ukuran yang sama, misalnya sebuah apel yang dibagi menjadi dua
bagian yang sama dan sebuah kuetar (kue ulang tahun) yang dipotong menjadi
beberapa bagian. Sekarang perhatikan gambar di bawah ini. Sebuah apel Malang
mula-mula dibelah atau dibagi menjadi dua bagian yang sama.

Sekarang perhatikan dua bagian buah apel Malang yang sudah dibelah
tersebut, satu bagian dari buah apel Malang yang dibelah tersebut disebut satu
per dua atau seperdua atau setengah dan ditulis . Sedangkan jika kedua
bagian belahan dari buah apel malang tersebut kita belah menjadi dua lagi, maka
dari sebuah apel malang tersebut akan diperoleh empat bagian buah apel malang
yang sama. Satu bagian buah apel malang dari empat bagian yang sama itu
disebut satu per empat atau seperempat dan ditulis .
Dari penjelasan di atas kita akan menemukan bilangan dan dan
kedua bilangan tersebut disebut dengan bilangan pecahan atau lebih singkatnya
disebut dengan pecahan. Pada pecahan , angka 1 disebut pembilang dan angka
2 disebut penyebut. Sedangkan pada pecahan , angka 1 disebut pembilang dan
angka 4 disebut penyebut. Jadi pecahan dapat diartikan sebagi perbandingan
bagian dari keseluruhan.
Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat dikatakan bahwa pengertian
dari bilangan pecahan adalah bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk a/b,
dengan a dan b adalah bilangan bulat, b 0, dan b bukan faktor dari a. Bilangan
a disebut pembilang dan bilangan b disebut penyebut. Mengapa bilangan b

disyaratkan tidak nol? Karena pembagian suatu bilangan dengan nol (dimana
pembilang tidak sama dengan nol) dalam matematika hasilnya tidak terdefinisi.

2.2 Pecahan Senilai


Untuk lebih mudah memahami pengertian pecahan senilai, silahkan
perhatikan gambar di bawah ini.

Pada gambar di atas, luas daerah yang diarsir pada Gambar A


menunjukkan dari luas lingkaran, luas daerah yang diarsir pada Gambar B
menunjukkan 2/8 dari luas lingkaran, luas daerah yang diarsir dari Gambar C
menunjukkan 3/12 dari luas lingkaran dan luas daerah yang diarsir dari Gambar C
menunjukkan 4/16 dari luas lingkaran.
Dari keempat gambar di atas, terlihat bahwa daerah yang diarsir memiliki
luas yang sama. Oleh karena itu, pecahan = 2/4 = 3/13 = 4/16. Selanjutnya,
pecahan-pecahan , 2/8, 3/12, dan 4/16 dikatakan sebagai pecahan-pecahan
senilai. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pecahan senilai adalah pecahan-pecahan
yang bernilai sama. Bagaimana menentukan pecahan senilai?
Sekarang perhatikan pecahan-pecahan , 2/8, 3/12, dan 4/16. Pecahanpecahan tersebut dapat dicari dengan cara lain, sekarang pelajari uraian berikut.

Dari uraian di atas, tampak bahwa cara menentukan pecahan senilai dapat
dilakukan dengan mengalikan atau membagi pembilang dan penyebutnya dengan
bilangan yang sama. Misalnya, jika diketahui pecahan m/n dengan m, n 0 maka
berlaku (m a)/(n a) atau (m : b)/(n : b), di mana a, b konstanta positif bukan
nol.
Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang pecahan senilai, silahkan
simak contoh soal di bawah ini.

2.3 Pecahan Biasa Dan Pecahan Campuran


Pecahan

1
4

dan

3
4

memiliki pembilang yang nilainya lebih kecil

dari nilai penyebutnya. Pecahan seperti ini disebut pecahan murni (pecahan
sejati). Contoh pecahan biasa lainnya adalah

1
2

1
, 3 ,

2 5 6
, ,
3 4 5

dan

sebagainya.
Dari uraian di atas, apabila nilai pembilang lebih kecil dari nilai penyebut
suatu pecahan, maka pecahan itu disebut pecahan biasa yang murni.
Perhatikanlah pecahan-pecahan berikut:
4 5 9
, ,
3 2 4
Pecahan di samping memiliki pembilang yang nilainya lebih besar dari nilai
penyebutnya. Pecahan seperti ini disebut pecahan biasa yang tidak murni.
Apabila suatu pecahan dituliskan

3
4

, bila kamu perhatikan terdapat sebuah

bilangan cacah, yaitu 1 dan sebuah pecahan murni, yaitu

3
4

. Pecahan seperti

ini disebut pecahan campuran.

Untuk suatu bilangan pecahan


0.
1. Jika a < b, maka

a
b

2. Jika a > b, maka


murni.

a
b dengan b

disebut pecahan murni.


a
b disebut pecahan tidak

2.4 Mengubah Bilangan Pecahan Campuran ke Pecahan Biasa


Kamu tentunya sudah mengenal bilangan pecahan murni, yaitu bilangan
pecahan yang pembilangnya kurang dari penyebutnya. Sebaliknya, pecahan yang
pembilangnya lebih dari penyebutnya disebut bilangan pecahan tidak murni atau
bisa juga disebut bilangan pecahan campuran, yaitu pecahan yang terdiri dari
bilangan bulat dan bilangan pecahan biasa (murni atau pun tidak murni). Pecahan
campuran dapat diubah menjadi bentuk pecahan biasa dan juga sebaliknya.
Catatan: Mengubah bentuk pecahan tidak akan mengubah penyebutnya.
Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh berikut ini:
2
Tulislah bilangan pecahan campuran 3 5

menjadi bilangan pecahan biasa.

Jawab :
Cara II
2 5 3+2
3 =
5
5

15 2
+
5 5

17
5
Berdasarkan contoh di atas dapat dirumuskan:

Pecahan campuran a

b
c

dengan c

diubah menjadi pecahan biasa

0 dapat

c a+b
c

2.5 Mengubah Bilangan Pecahan Biasa ke Pecahan Campuran


Pak Marwan memiliki 5 buah naga yang akan dibagikan kepada 2 orang
anaknya dengan sama besar. Buah naga yang akan diperoleh tiap anak adalah dua
buah naga dan setengah buah naga. Hal ini dapat dinyatakan sebagai 5 : 2 atau
2. Bentuk pecahan 2 merupakan bentuk pecahan campuran karena terdiri dari
bilangan bulat 2 dan bilangan pecahan . Bagaimana mengubah pecahan biasa
menjadi pecahan campuran? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk
mengubah pecahan biasa menjadi pecahan campuran yakni:
Cara pertama, dengan mencari kelipatan dari penyebut yang terdekat
dengan pembilang. Misalnya kita akan menentukan pecahan campuran dari 53/5.
Kelipatan 5 yang terdekat dengan bilangan 53 adalah 50 dengan sisa 3, maka:

Cara kedua, dengan mencari sisa dari hasil pembagian antara pembilang
dengan penyebut. Di mana sisa pembagian tersebut dijadikan pecahan dengan sisa
hasil pembagian sebagai pembilang dan penyebutnya tetap seperti pecahan
campuran sebelumnya. Maka bilangan pecahan campurannya adalah hasil
pembagian ditambah dengan pecahan sisa pembagian. Misalnya kita akan
menentukan pecahan campuran dari 53/5, maka hasil dari 53 : 5 = 10 sisa 3
sehingga:

2.6 Mengubah Bilangan Pecahan ke Bentuk Desimal Dan Sebaliknya


Sebelum mengubah bilangan pecahan ke bentuk bilangan desimal anda
harus paham mengenai mengenai nilai tempat pada bilangan pecahan desimal.
Pecahan desimal adalah pecahan yang mempunyai penyebut khusus yaitu sepuluh,
seratus, seribu dan seterusnya. Sekarang perhatikan nilai tempat pada bilangan
456,789 berikut ini.

Jika ditulis dalam bentuk panjang, akan diperoleh seperti berikut.

Apabila suatu pecahan biasa atau campuran akan diubah atau dinyatakan
ke dalam bentuk pecahan desimal, maka dapat dilakukan dengan cara mengubah
penyebutnya menjadi 10, 100, 1.000, 10.000, dan seterusnya. Dapat pula dengan
cara membagi pembilang dengan penyebutnya. Silahkan simak contoh soal
berikut ini.
Contoh Soal 1
Nyatakan bilangan-bilangan berikut dalam bentuk pecahan desimal dengan
pendekatan sampai satu tempat desimal.
a. 4/5
b. 9/20
Penyelesaian:
a. Untuk menyelesiakan soal seperti ini ubahlah bilangan pecahan biasa tersebut
menjadi bilangan pecahan desimal, dengan mengubah penyebutnya menjadi
10. Maka:
=> 4/5 = (4 2)/(5 2)
=> 4/5 = 8/10
=> 4/5 = 0,8

b. Ubahlah bilangan pecahan biasa tersebut menjadi bilangan pecahan desimal,


dengan mengubah penyebutnya menjadi 100. Maka:
=> 9/20 = (9 5)/(20 5)
=> 9/20 = 45/100
=> 9/20 = 0,45
Karena yang diminta hanya sampai satu tempat desimal maka:
=> 9/20 = 0,45 0,5
Cara Mengubah Bentuk Desimal ke Bentuk Pecahan
Mengubah pecahan bentuk desimal ke bentuk pecahan biasa atau
pecahan campuran merupakan kebalikan dari mengubah pecahan biasa menjadi
bentuk desimal. Untuk mengubah pecahan desimal menjadi pecahan biasa atau
pecahan campuran dapat dilakukan dengan menguraikan bentuk panjangnya
terlebih dahulu. Agar Anda lebih paham silahkan simak contoh soal di bawah ini.
Contoh Soal 2
Nyatakan pecahan-pecahan desimal berikut ke bentuk pecahan biasa.
a. 0,35
b. 4,2
Penyelesaian:
a. Untuk mengerjakan soal seperti ini seperti cara menentukan nilai tempat pada
bilangan desimal, maka:
=> 0,35 = 0 + 3/10 + 5/100
=> 0,35 = 0 + 30/100 + 5/100
=> 0,35 = 35/100
=> 0,35 = 7/20
b. Dengan cara yang sama seperti contoh soal 2b maka:
=> 4,5 = 4 + 5/10
=> 4,5 = 4 +
=> 4,5 = 4
2.7 Mengubah Bilangan Pecahan ke Bentuk Persen Dan Sebaliknya
Kita ketahui bahwa pecahan merupakan bilangan yang dinyatakan
dengan a/b, di mana a merupakan pembilang dan b merupakan penyebut,
sedangkan persen dapat diartikan sebagai perseratus yang ditulis dengan notasi %.
Bagaimana cara mengubah bentuk pecahan ke bentuk persen atau sebaliknya?

Untuk mengubah dari bentuk pecahan ke bentuk persen terlebih dahulu


harus mengubah pecahan tersebut menjadi pecahan senilai dengan penyebut 100.
Untuk menatapkan pemahaman Anda tentang cara mengubah bentuk pecahan ke
bentuk persen, silahkan simak contoh soal di bawah ini.
Contoh Soal 1
Nyatakan bilangan-bilangan pecahan berikut dalam bentuk persen.
a. 8/25
b. 1
Penyelesaian:
a. ubah terlebih dahulu pecahan 8/25 menjadi pecahan senilai dengan penyebut
100, maka:
=> 8/25 = (8 4)/(25 4)
=> 8/25 = 32/100
=> 8/25 = 32%
b. Ubah terlebih dahulu pecahan campuran menjadi pecahan maka:
=> 1 = (4 1 + 1)/4
=> 1 = 5/4
Sekarang ubah pecahan biasa tersebut menjadi pecahan senilai dengan
penyebut 100, maka:
=> 5/4 = (5 25)/(4 25)
=> 5/4 = 125/100
=> 5/4 = 125%
Cara Mengubah Bentuk Persen ke Bentuk Pecahan
Untuk mengubah bentuk persen ke bentuk pecahan dapat dilakukan
dengan cara mengubah persen (%) tersebut menjadi bentuk pecahan dengan
penyebut 100 kemudian disederhanakan dengan konsep pecahan senilai sehingga
menjadi bentuk paling sederhana baik itu menjadi pecahan biasa maupun pecahan
campuran. Untuk lebih memahami konsep tersebut silahkan simak contoh soal di
bawah ini.
Contoh Soal 2

Nyatakan bilangan-bilangan persen berikut dalam bentuk pecahan biasa atau


campuran.
a. 25%
b. 35%
Penyelesaian:
a. Ubah terlebih dahulu bentuk menjadi pecahan dengan penyebut 100 kemudian
sederhanakan, maka:
=> 25% = 25/100
=> 25% = (25 : 25)/(100 : 25)
=> 25% = 1/4
b. Ubah terlebih dahulu bentuk menjadi pecahan dengan penyebut 100 kemudian
sederhanakan, maka:
=> 35% = 35/100
=> 35% = (35 : 5)/(100 : 5)
=> 35% = 7/20
2.8 Penjumlahan Dan Pengurangan Pecahan
1. Penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan bilangan bulat
Dalam menentukan hasil penjumlahan atau pengurangan pecahan dengan
bilangan bulat, ubahlah bilangan bulat itu ke dalam bentuk pecahan dengan
penyebut sama dengan penyebut pecahan itu. Kemudian, jumlahkan atau
kurangkan pembilangnya sebagaimana pada bilangan bulat. Jika pecahan
tersebut berbentuk pecahan campuran, jumlahkan atau kurangkan bilangan
bulat dengan bagian bilangan bulat pada pecahan campuran.
2. Penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan pecahan
Dalam menentukan hasil penjumlahan atau pengurangan dua
pecahan, samakan penyebut kedua pecahan tersebut, yaitu dengan cara
mencari KPK dari penyebut-penyebutnya. Kemudian, baru dijumlahkan
atau dikurangkan pembilang.
3. Sifat-sifat pada penjumlahan dan pengurangan pecahan

ContohCoba
Soalkalian ingat kembali sifat-sifat yang berlaku pada
penjumlahan
bilangan bulat.
:
Untuk setiap bilangan bulat a, b, dan c maka
berlaku
1 sifat tertutup: a + b = c;
2 sifat komutatif: a + b = b + a;
3 sifat asosiatif: (a + b) + c = a + (b + c);
4) bilangan (0) adalah unsur identitas pada
penjumlahan: a + 0 = 0 + a = a;
5) invers dari a adalah a dan invers dari a adalah a,
sedemikian sehingga

Sifat-sifat tersebut juga berlaku pada penjumlahan bilangan


pecahan, artinya sifat-sifat tersebut berlaku jika a, b, dan c bilangan
pecahan.
2.9 Perkalian Pecahan
Pada operasi perkalian pecahan kita tidak perlu lagi menyamakan
penyebut seperti pada penjumlahan dan pengurangan pada pecahan. Kita hanya
mengalikan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut. Untuk
membuktikan hal tersebut silahkan perhatikan uraian berikut.
Sekarang kita akan mengalikan 3/4 dengan 4/5. Perhatikan gambar di bawah ini.

Pada gambar di atas pada bagian baris (horizontal), daerah yang di arsir
merupakan bentuk pecahan . Sedangkan pada bagian kolom (vertikal), daerah
yang diarsir merupakan bentuk pecahan 4/5. Jika dikalikan maka hasilnya:

Sekarang perhatikan kembali gambar kotak-kotak di atas, terdiri dari 20 kotak dan
kotak yang diarsir ada 12 maka bentuk pecahannya menjadi 12/20 atau jika
dijadika lebih sederhana maka 12/20 = 3/5 atau:

Jika bentuk pecahannya berupa pecahan campuran maka ubahlah pecahan


campuran menjadi pecahan biasa. Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang
operasi perkalian pada pecahan, silahkan simak contoh soal di bawah ini.
Sifat-sifat perkalian pada pecahan
Ingat kembali sifat-sifat yang berlaku pada perkalian bilangan bulat berikut.

Untuk setiap bilangan bulat a,b dan c berlaku.


Sifat tertutup : a x b = c ;
Sifat komutatif : a x b = b x a ;
Sifat asosiatif : (a x b) x c = a x (b x c) ;
Sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan :
a x (b + c) = (a x b) + (a x c) ;
Sifat distributif perkalian terhadap pengurangan :
a x (b c) = (a x b) (a x c) ;
a x 1 = 1 x a = a ; bilangan 1 adalah unsur identitas
pada perkalian.

Invers pada perkalian


Perhatikan perkalian bilangan berikut.
2
5

5
2

=1

3
8
(
)
x
8
3
Pada perkalian-perkalian bilangan di atas,

(kebalikan) dari

5
2 . Sebaliknya,

5
2

2
5

adalah invers perkalian

adalah invers perkalian (kebalikan) dari

2
5 .
Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa hasil kali suatu bilangan dengan
invers (kebalikan) bilangan itu sama dengan 1.
Secara umum dapat dituliskan sebagai berikut :
p
Invers perkalian dari pecahan q adalah
q
p atau invers perkalian dari
2.10 Pembagian Pecahan

q
p adalah

Kalian telah mempelajari bahwa operasi pembagian pada bilangan bulat


merupakan invers (kebalikan) dari perkalian. Hal ini juga berlaku pada pembagian
bilangan pecahan. Secara umum dapat dinyatakan sebagai berikut.

Untuk sebarang pecahan


0, r

0,s

p
q

dan

0 berlaku

r
s

dengan q

p
q

r
: s

2.11 Perpangkatan Pecahan


Bilangan pecahan berpangkat bilangan bulat positif
Pada pembahasan kali ini, kita hanya akan membahas perpangkatan pada
pecahan dengan pangkat bilangan bulat positif. Di kelas IX nanti kalian akan
mempelajari perpangkatan pada pecahan dengan pangkat bilangan bulat negatif
dan nol. Pada bab sebelumnya, kalian telah mempelajari bahwa pada bilangan
bulat berpangkat bilangan bulat positif berlaku faktor :
n

a a a a a a

; sebanyak n factor, untuk setiap bilangan

bulat a.
Dengan kata lain, perpangkatan merupakan perkalian berulang dengan
bilangan yang sama. Definisi tersebut juga berlaku pada bilangan pecahan
berpangkat. Perhatikan uraian berikut.

1
( 21

1
= 2

1
( 22

1
22

1
4

1
2

1
2

Dari uraian diatas , secara umum dapat dituliskan sebagai berikut:

Untuk sebarang bilangan bulat p dan q dengan q


0 dan m bilangan bulat positif berlaku :
p
p
p
p

q
(
=
q
q
q sebanyak m
m

Sifat-sifat bilangan pecahan berpangkat


Sifat-sifat pada bilangan bulat berpangkat bilangan bulat positif juga
berlaku pada bilangan pecahan.
Untuk sebarang bilangan bulat p, q dengan q 0
dan m, n bilangan bulat positif berlaku sifatsifat berikut.
p
p
p
q
q

( qm
=(

mn
:

2.12 Operasi Hitung Campuran pada Bilangan Pecahan


Dalam suatu operasi hitung campuran bilangan bulat tidak terdapat tanda
kurung, pengerjaannya berdasarkan sifat-sifat operasi hitung berikut.
1

Operasi penjumlahan (+) dan pengurangan () sama kuat, artinya operasi

yang terletak di sebelah kiri dikerjakan terlebih dahulu.


Operasi perkalian ( ) dan pembagian (:) sama kuat, artinya operasi

yang terletak di sebelah kiri dikerjakan terlebih dahulu.


Operasi perkalian ( ) dan pembagian (:) lebih kuat daripada operasi
penjumlahan (+) dan pengurangan (), artinya operasi perkalian () dan
pembagian (:) dikerjakan terlebih dahulu daripada operasi penjumlahan (+)
dan pengurangan ().
Aturan tersebut juga berlaku pada operasi hitung campuran pada
bilangan pecahan.

BAB III
PENUTUP
1.1 KESIMPULAN