Anda di halaman 1dari 25

A.

Latar Belakang
Pajak merupakan sumber pendapatan Negara yang sangat penting bagi pelaksanaan dan
peningkatan pembangunan nasional untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
Penerimaan pajak berasal dari Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak
Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), penerimaan cukai, pencairan tunggakan pajak, maupun
pajak-pajak lainnya.
Direktorat Jenderal Pajak (fiskus) melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi penerimaan
pajak untuk meningkatkan penerimaan pajak.Ekstensifikasi ditempuh dengan mencari wajib
pajak yang baru.Potensi pajak sebenarnya masih sangat besar.Upaya intensifikasi dapat ditempuh
melalui peningkatan kualitas aparatur perpajakan, pelayanan prima terhadap wajib pajak dan
pembinaan kepada para wajib pajak, pengawasan administratif, pemeriksaan, penyidikan, dan
penagihan aktif serta penegakan hukum atau law enforcement.
Pajak dipungut dari warga Negara Indonesia dan menjadi salah satu kewajiban yang
dapat dipaksakan penagihannya.Sistem perpajakan Indonesia mengalami perubahan pada tahun
1983 dari Official Assessment System menjadi Self Assessment. System.Self Assessment System
adalah suatu sistem dimana pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada wajib pajak
untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri kewajiban perpajakannya.
Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak (fiskus), sesuai dengan fungsinya
berkewajiban melaksanakan pembinaan, pelayanan, pengawasan, dan penerapan sanksi
perpajakan terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan wajib pajak berdasarkan ketentuan yang
digariskan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Self Assessment System
memungkinkan potensi adanya wajib pajak tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya
dengan baik akibat dari kelalaian, kesengajaan atau mungkin ketidaktahuan para wajib pajak atas
kewajiban perpajakannya.Oleh karena itu, diperlukan adanya peran yang aktif dari fiskus untuk
menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasannya

Penerimaan perpajakan merupakan sumber penerimaan negara terbesar, mencapai 75%


dari total penerimaan negara dalam APBN. Seiring meningkatnya belanja pemerintah dan
menurunnya harga minyak, pajak menjadi andalan penerimaan negara dalam APBNP 2015.
Kenaikan target penerimaan pajak mencapai 30% dari realisasi tahun 2014. Ditengah lesunya
perekonomian nasional yang salah satunya ditunjukkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi
kuartal pertama 2015 sebesar 4,7 persen Direktorat Jenderal Pajak dituntut untuk lebih kreatif
dalam merancang strategi pencapaian target penerimaan.
Untuk mencapai target penerimaan pajak yang tinggi tersebut pemerintah mencanangkan
program Tahun Pembinaan Wajib Pajak 2015 atau reinventing policy, yaitu program
peningkatan kepatuhan pajak terhadap kelompok Wajib Pajak terdaftar yang telah
menyampaikan SPT maupun yang belum menyampaikan SPT, serta kelompok orang pribadi atau
badan yang belum terdaftar sebagai Wajib Pajak. Mengambil motto Reach the Unreachable,
Touch the Untouchable.
Pemerintah menindaklanjuti program ini dengan mengeluarkan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 91/PMK.03/2015 tentang Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi
atas Keterlambatan Penyampaian SPT, Pembetulan SPT, dan Keterlambatan Pembayaran atau
Penyetoran Pajak.
Alih-alih berfokus pada optimalisasi penerimaan pajak melalui reinventing policy yang
baru saja diluncurkan, Dirjen Pajak justru melontarkan gagasan kontroversial yaitu akan
menjalankan tax amnesty (pengampunan pajak) pada September 2015 untuk menambal
kekurangan penerimaan pajak. Sekarang ini pajak merupakan sumber penerimaan yang dominan
dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hampir 70 persen
penerimaan berasal dari sektor pajak.
Pemerintah menargetkan penerimaan pajak 2011 sebesar 708,9 triliun rupiah atau 64,15
persen dari seluruh penerimaan negara dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (ABPN)
2011. Sedangkan untuk tahun 2012 penerimaan pajak ditargetkan sebesar Rp Rp1.032,6 triliun.
Pendapatan negara dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, namun demikian peluang
untuk terus ditingkatkan di masa yang akan datang terbuka lebar karena potensinya belum digali

secara optimal. Untuk menggali penerimaan negara dari sektor perpajakan dibutuhkan upaya
upaya nyata, serta diimplementasikan dalam bentuk kebijakan pemerintah.
Upaya-upaya tersebut dapat berupa intensifikasi maupun ekstensifikasi perpajakan.
Intensifikasi pajak dapat berupa peningkatan jumlah Wajib Pajak (WP) maupun peningkatan
penerimaan pajak itu sendiri. Upaya ekstensifikasi dapat berupa perluasan objek pajak yang
selama in belum tergarap. Untuk mengejar penerimaan pajak, perlu didukung situasi sosial
ekonomi politik yang stabil, sehingga masyarakat juga bisa dengan sukarela membayar pajaknya.
Pemerintah tentu diharapkan dapat mempertimbangkan kembali kebijakan perpajakan yang bisa
menarik minat masyarakat menjadi wajib pajak seperti sunset policy.
Demikian juga, salah satu kebijakan yang perlu dipertimbangkan adalah diberikannya tax
amnesty atau pengampunan pajak. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan subyek pajak
maupun obyek pajak. Subyek pajak dapat berupa kembalinya dana-dana yang berada di luar
negeri, sedangkan dari sisi obyek pajak berupa penambahan jumlah wajib pajak.
Kebijakan Tax Amnesty sebenarnya pernah dilakukan Indonesia pada tahun 1984.
Demikian juga kebijakan lain yang serupa berupa Sunset Policy telah dilakukan pada tahun 2008.
Sejak Program Sunset Policy diimplementasikan sepanjang tahun 2008 telah berhasil menambah
jumlah NPWP baru sebanyak 5.653.128 NPWP, bertambahnya SPT tahunan sebanyak 804.814
SPT dan bertambahnya penerimaan PPh sebesar Rp7,46 triliun. Jumlah NPWP orang pribadi
15,07 juta, NPWP bendaharawan 447.000, dan NPWP badan hukum 1,63 juta. Jadi totalnya
17,16 juta (data DJP, 2010 kuartal Pada hakekatnya implementasi tax amnesty maupun sunset
policy sekalipun secara psikologis sangat tidak memihak pada wajib pajak yang selama ini taat
membayar pajak. Kalaupun kebijakan itu diterapkan di suatu negara, harus ada kajian mendalam
mengenai karakteristik wajib pajak yang ada di suatu negara tersebut karena karakteristik wajib
pajak tentu saja berbeda-beda.

Program tax amnesty telah dilakukan di banyak negara di dunia ini, baik oleh negara
maju maupun negara berkembang dengan berbagai cerita sukses maupun kegagalan. India
(1997), Irlandia (1988), dan Italia (1982, 1984, dan 2001/2002) adalah contoh negara yang
sukses menyelenggarakan program pengampunan pajak. Sedangkan Argentina (1987) dan
Prancis (1982 dan 1986) adalah contoh negara yang gagal dalam program pengampunan pajak.
Tax amnesty adalah suatu kesempatan waktu yang terbatas pada kelompok pembayar
pajak tertentu untuk membayar sejumlah tertentu dan dalam waktu tertentu berupa pengampunan
kewajiban pajak (termasuk bunga dan denda) yang berkaitan dengan masa pajak sebelumnya
atau periode tertentu tanpa takut hukuman pidana. Ini biasanya berakhir ketika otoritas yang
dimulai penyelidikan pajak pajak masa lalu. Dalam beberapa kasus, undang-undang amnesti
yang memperpanjang juga membebankan hukuman yang lebih berat pada mereka yang
memenuhi syarat untuk amnesti tetapi tidak mengambilnya.
Pelaksanaan Tax Amnesty pada tahun 1984 di Indonesia ternyata tidak efektif karena
wajib pajak kurang merespons dan tidak diikuti dengan reformasi sistem administrasi perpajakan
secara menyeluruh. Disamping itu peranan sektor pajak dalam sistem APBN masih berfungsi
sebagai pelengkap saja sehingga pemerintah tidak mengupayakan lebih serius. Pada saat itu
penerimaan negara banyak didominasi dari sektor ekspor minyak dan gas bumi.
Berbeda dengan sekarang, penerimaan pajak merupakan sumber penerimaan dominan
dalam struktur APBN Pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, pelaksanaan tax amnesty kali ini
harus dilaksanakan secara hati-hati dan dipersiapkan secara matang. Perlunya dukungan dan
persetujuan masyarakat secara penuh dan adanya landasan hukum yang memadai juga menjadi
faktor penting keberhasilan pelaksanaan tax amnesty ini.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai
permasalahan tersebut melalui penelitian dan tinjauan terhadap Tax Amensty (Pengampunan
Pajak) di Indonesia sehingga dapat mengerti atas permasalahan tersebut melalui Penelitian yang
berjudul Analisis Penerapan Pengampunan Pajak ( Tax Amnesty ) di Indonesia ditinjau
dari Konsep, Karakteristik, Efektivitas, dan Kebutuhannya

B. POKOK PERMASALAHAN
Berdasarkan latar belakang tersebut, dirumuskan beberapa hal yang menjadi pokok
permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana Konsep, Karakteristik, Efektivitas, dan Kebutuhan Tax Amnesty bila
diterapkan di Indonesia?
2. Mengapa Tax Amnesty (Pengampunan Pajak) Perlu diterapkan di Indonesia?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui Bagaimana Konsep, Karakteristik, Efektivitas, dan Kebutuhan Tax
Amnesty di Indonesia.
2. Untuk mengetahui Mengapa Tax Amnesty (Pengampunan Pajak) Perlu diterapkan di
Indonesia

D. Metode Penelitian
Untuk menganalisis implementasi tax amnesty di Indonesia digunakan metode kualitatif
dengan pendekatan eksploratif deskriptif. Pendekatan eksploratif (Philip, Kotler & Kevin L.
Keller, 2006) adalah metode penelitian yang bertujuan menghimpun informasi awal yang akan
membantu upaya menetapkan masalah dan merumuskan hipotesis. Sedangkan pendekatan
deskriptif adalah metode penelitian yang bertujuan memaparkan (mendeskripsikan) sesuatu hal.
Jadi pendekatan ini bertujuan untuk mendalami mengenai wacana implementasi tax amnesty di
Indonesia. Bahan-bahan dan informasi berasal dari data sekunder yang didapat dari penggalian
informasi dari berbagai sumber, bahan seminar, media masa, media elektronik, dan lain-lain serta
didukung pula dengan kajian pustaka.

E. PEMBAHASAN
5

1. Konsep, Karakteristik, Efektivitas, dan Kebutuhan Tax Amnesty di Indonesia


A. Konsep Tax Amnesty di Indonesia
Baer dan LeBorgne, sebagaimana dikutip oleh Mikesell dan Ross,
mendefinisikan tax amnesty sebagai:
a limited-time offer by the government to a specified group of taxpayers to pay a
defined amount, in exchange for forgiveness of a tax liability (including interest
and penalties), relating to a previous tax period(s), as well as freedom of legal
prosecution
Sementara, Jacques Malherbe mengartikan tax amnesty seperti berikut ini:
the possibility of paying taxes in exchange for the forgiveness of the amount of
the tax liability (including interest and penalties), the waiver of criminal tax
prosecution, and limitations to audit tax determinations for a period of time[6]
Dari definisi diatas, selain memberikan pengampunan untuk sanksi
administrasi, tax amnesty juga dimaksudkan untuk menghapuskan sanksi pidana.
Tax amnesty juga dapat diberikan kepada pelaporan sukarela data kekayaan wajib
pajak yang tidak dilaporkan di masa sebelumnya tanpa harus membayar pajak
yang mungkin belum dibayar sebelumnya. Dalam menetapkan perlu tidaknya tax
amnesty, perlu dipertimbangkan apa yang menjadi justifikasi dari tax amnesty dan
hingga batas mana tax amnesty dapat dijustifikasi.
Pada umumnya, pemberian tax amnesty bertujuan untuk:

Meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka pendek


Permasalahan penerimaan pajak yang stagnan atau cenderung menurun
seringkali menjadi alasan pembenar diberikannya tax amnesty. Hal ini
berdampak

pada

keinginan

pemerintah

yang

berkuasa

untuk

memberikantax amnesty dengan harapan pajak yang dibayar oleh wajib


6

pajak selama program tax amnesty akan meningkatkan penerimaan pajak.


Meski demikian, peningkatan penerimaan pajak dari program tax
amnesty ini

mungkin

saja

hanya

terjadi

selama

program tax

amnesty dilaksanakan mengingat wajib pajak bisa saja kembali kepada


perilaku ketidapatuhannya setelah program tax amnesty berakhir. Dalam
jangka panjang, pemberian tax amnesty tidak memberikan banyak
pengaruh yang permanen terhadap penerimaan pajak jika tidak dilengkapi
dengan program peningkatan kepatuhan dan pengawasan kewajiban
perpajakan.

Meningkatkan kepatuhan pajak di masa yang akan datang


Permasalahan kepatuhan pajak merupakan salah satu
pemberian tax
berpendapat

amnesty.
bahwa

Para

kepatuhan

pendukung tax
sukarela

akan

penyebab

amnesty umumnya
meningkat

setelah

program tax amnestydilakukan. Hal ini didasari pada harapan bahwa


setelah program tax amnesty dilakukan wajib pajak yang sebelumnya
belum menjadi bagian dari sistem administrasi perpajakan akan masuk
menjadi bagian dari sistem administrasi perpajakan. Dengan menjadi
bagian dari sistem administrasi perpajakan, maka wajib pajak tersebut

tidak akan bisa mengelak dan menghindar dari kewajiban perpajakannya.


Mendorong repatriasi modal atau aset
Kejujuran dalam pelaporan sukarela atas data harta kekayaansetelah
program tax amnestymerupakan salah satu tujuan pemberian tax amnesty.
Dalam konteks pelaporan data harta kekayaan tersebut, pemberian tax
amnestyjuga bertujuan untuk mengembalikan modal yang parkir di luar
negeri tanpa perlu membayar pajak atas modal yang di parkir di luar
negeri tersebut. Pemberian tax amnesty atas pengembalian modal yang di
parkir di luar negeri ke bank di dalam negeri dipandang perlu karenaakan
memudahkan otoritas pajak dalam meminta informasi tentang data

kekayaan wajib pajak kepada bank di dalam negeri.


Transisi ke sistem perpajakan yang baru
Tax amnesty dapat dijustifikasi ketika tax amnesty digunakan sebagai alat
transisi menuju sistem perpajakan yang baru.]Dalam konteks ini, tax
7

amnesty menjadi instrumen dalam rangka memfasilitasi reformasi


perpajakan dan sebagai kompensasi atas penerimaan pajak yang
berpotensi hilang dari transisi ke sistem perpajakan yang baru tersebut.
Walau demikian, keempat tujuan pemberian tax amnesty di atas tidak
memperhatikan isu non-diskriminasi antara tax evaders dan honest
taxpayers dalam menentukan perlu tidaknya pemberian tax amnesty.
Secara

khusus,

permasalahan

ini

dapat

dijabarkan

menjadi

apakah dishonest taxpayers atau tax evaders memperoleh perlakuan yang


lebih baik daripada honest taxpayers, atau apakah dishonest taxpayers
mendapatkan keuntungan dari perilakunya menggelapkan pajak.
Untuk menentukan apakah terdapat perlakuan yang berbeda (diskriminasi)
antara tax evaders dan honest taxpayers, perlu diperhatikan seberapa
besar insentif yang diberikan kepada tax evaders atas tindakan mereka
melakukan

pengungkapansecarasukarela

(voluntary

disclosure).

Sepanjang tax amnesty hanya menghapus seluruh atau sebagian sanksi


administrasi,dan tax evaders masih harus membayar kewajiban pajak dan
bunga atas keterlambatan pembayaran, maka tax evaders mendapat
perlakuan yang sama jika dibandingkan denganhonest taxpayers karena
keduanya menanggung beban pajak yang sama atas kewajiban perpajakan
mereka masing-masing.
Pengurangan sanksi merupakan bentuk pemberian tax amnesty atas
pengungkapan yang dilakukan oleh tax evaders terkait penghasilan yang
tidak dilaporkannya. Akan tetapi, jika tax amnesty juga menghapus bunga
atas keterlambatan pembayaran dan bahkan juga kewajiban pajak,
maka tax evaders telah mendapat perlakuan yang lebih menguntungkan
dibandingkan dengan honest taxpayers.
Walau tax amnesty memberikan pembebasan atas bunga keterlambatan
pembayaran dan kewajiban pajak daritax evaders, perlakuan yang berbeda
dan lebih menguntungkan ini juga perlu untuk dijustifikasi. Justifikasi atas
8

perlakuan tersebut dapat dibingkai dalam konteks perubahan sistem pajak


dengan

meningkatkan

kemungkinan

terdeteksinya

perilaku tax

evaders dalam menyembunyikan penghasilan atau asetnya di masa yang


akan datang. Di samping itu, hal ini dapat dilihat sebagai bantuan
kepada tax

evaders untuk

kembali

ke

dalam

sistem

administrasi

dijustifikasi

berdasarkan

perpajakan.
Lebih

lanjut,

diskriminasi

juga

dapat

pertimbangan fiskal dan ekonomi. Dalam hal ini,taxamnesty terjustifikasi


karena terlepas dari seberapa banyak tax evaders berpartisipasi dalam tax
amnesty, tax

amnesty memberikan

perlakuan

yang

adil

kepadasemuawajibpajakdi masa yang akan datang karena seluruh beban


pajak akan dialokasikan sesuai dengan kemampuan ekonomis dari setiap
wajib pajak
B. Karakteristik Tax Amnesty
Definisi tax amnesty sebagaimana telah disebutkan di atas memberikan gambaran
tentang karakteristik dari suatu program tax amnesty, yaitu:
a. Durasi
Secara umum, program tax amnesty berlangsung dalam suatu kurun waktu
tertentu, dan umumnya berjalan selama 2 bulan hingga 1 tahun.[14] Untuk
mendukung berhasilnya program tax amnesty, hal yang perlu ditekankan
adalah

luasnya

publisitas

dan

promosi

program tax

amnesty serta

tersampaikannya pesan bahwa wajib pajak hanya memiliki kesempatan


sekali ini saja untuk memperoleh pengampunan atas pajak yang terutang,
bunga, dan/atau sanksi administrasi.
Menurut Benno Torgler dan Christoph A. Schaltegger,[15] pengampunan
pajak sebaiknya diberikan hanya sekali saja dalam suatu generasi (once per
generation). Pengampunan pajak yang diberikan berkali-kali menyebabkan
wajib pajak akan selalu menunggu program pengampunan pajak berikutnya
dan ini akan mendorong wajib pajak untuk tidak menjalankan kewajiban
pajaknya dengan benar. Oleh karena itu, apabila pemerintah akan

memberikan tax amnestymaka tidak boleh ada isu tentang program


pengampunan pajak jilid berikutnya.

b. Kelompok wajib pajak


Secara umum, setiap wajib pajak yang belum menunaikan kewajiban
perpajakannya diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam program tax
amnesty. Artinya, program tax amnesty ini ditujukan kepada wajib pajak
yang telah berada dalam sistem administrasi perpajakan dan wajib pajak
yang belum masuk dalam sistem administrasi perpajakan.
Perlakuan yang berbeda dimungkinkan ketika wajib pajak yang hendak
berpartisipasi dalam program tax amnesty telah diperiksa atau sedang dalam
proses pemeriksaan. Dalam hal ini, wajib pajak yang telah diperiksa atau sedang
dalam proses pemeriksaan tersebut tidak diperbolehkan berpartisipasi dalam
program tax amnestykarena jumlah tunggakan pajaknya telah diketahui oleh
otoritas pajak.
Wajib pajak juga dapat diberikan pengampunan jika ketentuan peraturan
perundang-undangan menyatakan wajib pajak yang mengungkapkan kewajiban
perpajakan atau harta kekayaannya secara sukarela berhak mendapatkan
penurunan atau penghapusan sanksi administrasi.
Jenis pajak dan jumlah pajak atau sanksi administrasi yang diberikan ampuna
Ketentuan tentang tax amnesty harus menspesifikasi pajak apa saja yang
diberikan ampunan. Pada umumnya, pajak yang diberikan ampunan hanya
bersumber dari satu jenis pajak atau satu kategori subjek pajak saja misalnya tax
amnesty hanya diberikan pada pajak penghasilan orang pribadi saja tidak
termasuk pajak penghasilan badan, atau program tax amnesty hanya dikhususkan
kepada pajak bumi dan bangunan saja.

10

Perkembangan terkini di beberapa negara menunjukkan program tax


amnesty juga diberikan secara spesifik kepada harta kekayaan yang ditempatkan
di luar negeri yang belum dilaporkan oleh wajib pajak. termasuk harta kekayaan
yang direpatriasi ke dalam negeri. Program tax amnesty yang diberikan secara
khusus ini umumnya disertai dengan pembebasan atau pengurangan pajak atas
penghasilan yang belum dilaporkan yang bersumber dari harta kekayaan di luar
negeri tersebut.
Selain itu, jumlah pajak yang belum dibayar dan sanksi administrasi yang
diberikan ampunan harus ditentukan dalam ketentuan tax amnesty. Pada
umumnya, jumlah yang diberikan ampunan dapat berupa:

Seluruh atau sebagian dari jumlah pajak yang terutang;

Seluruh atau sebagian dari jumlah sanksi administrasi;

Pembebasan dari sanksi pidana;

Pemberian fasilitas angsuran.

Secara umum, tax amnesty mensyaratkan wajib pajak untuk tetap


membayar seluruh pajak yang terutang. Walau demikian, perhitungan pajak yang
terutang tersebut dapat saja didasarkan pada ketentuan peraturan perundangundangan

perpajakan

yang

berlaku

pada

saat

program taxamnesty dilaksanakan. Sementara pemberian ampunan atas sanksi


administrasi dan pembebasan dari sanksi pidana merupakan hal yang umum
diberikan di banyak program tax amnesty.
C. Efektivitas Tax Amnesty
Keberhasilan program tax amnesty bergantung kepadadua hal. Pertama, seberapa
cepat dan menyakinkannya otoritas pajak dalam menjalankan progam tersebut. Dengan
11

kata lain, program tax amnesty akan efektif apabila dilakukan secara mendadak dan tidak
dapat diantisipasi oleh wajib pajak.
Sebagai ilustrasi, jika program ini sudah diketahui misal 1 tahun sebelum
diluncurkan, maka terdapat kecenderungan dari wajib pajak untuk tidak patuh karena
menunggu

akan

pengampunan.

Kedua,

kredibilitas

dan

reputasi

administrasi

perpajakanatas aspek penegakan hukum pajak.


Untuk mencapai tujuan jangka panjang, ada beberapa kondisi yang perlu
dipenuhi seperti teknologi yang lebih modern (termasuk peningkatan penggunaan
teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kemampuan petugas pajak
untuk melakukan pemeriksaan pajak), kepemimpinan politik, serta kebijakan dan
peraturan pemerintah.
Pada umumnya, sebagian besar ahli perpajakan berpendapat bahwa tax
amnesty merupakan cara yang mujarab untuk meningkatkan kepatuhan pajak. Walau
demikian, ada juga kekhawatiran bahwa tax amnesty dapat melemahkan kepatuhan pajak,
terutama jika orang berharap bahwa tax amnesty mungkin akan datang lagi di masa
depan.
Untuk alasan ini, banyak ahli tidak menyarankan pelaksanaan tax amnesty secara
berulang dalam waktu yang sangat berdekatan. Selain itu, kepatuhan pajak juga dapat
meningkat selama beberapa prasyarat terpenuhi, seperti: adanya sanksi yang tegas dan
sistem untuk mendeteksi penggelapan pajak. Prasyarat tersebut berangkat dari model
penggelapan pajak yang dibangun oleh Michael G. Allingham dan Agnar Sandmo
(dikenal dengan namaA-S Model).
Pendekatan ekonomi tradisional tersebut dalam konteks kepatuhan pajak
mengasumsikan bahwa wajib pajak membayar pajak berdasarkan karenaadanyasanksi
dan kemungkinan akan terdeteksi apabila mencoba melakukan penyelundupan pajak.
Dalam ilmu behavioral economics, faktor-faktor seperti keadilan, rasa memiliki
(keterikatan), dan keyakinan bahwa pajak yang diterima oleh pemerintah akan digunakan
12

dengan benar juga berkontribusi dalam meningkatkan kepatuhan pajak. Jika pemerintah
membuat sistem pajak lebih adil, meningkatkan rasa memiliki pembayar pajak
(membangun identitas dengan komunitas yang lebih besar), dan menunjukkan bahwa
uang pajak akan digunakan untuk hal-hal produktif; kepatuhan pajak akan meningkat
tanpa melakukan insentif ekonomi.
Dengan

demikian,

upaya

meningkatkan

insentif

non-ekonomi

-bahkan

mengurangi ukuran hukuman- dapat meningkatkan kadar kepatuhan pajak.


Dari perspektif tradisional dan behavioral economics tersebut, tax amnesty memiliki
argumentasi pendukungnya. Di satu sisi, dengan adanya tax amnesty pemerintah dapat
memberikan sinyalemen kepada wajib pajak bahwa ada suatu kepercayaan dan kemauan
untuk mengesampingkan dosa masa lalu dari wajib pajak (sekaligus juga menyiratkan
pengakuan atas kesalahan otoritas pajak di masa lalu).
Hal ini dapat mendorong adanya partisipasi maupun rasa memiliki. Apalagi jika
disertai dengan sosialisasi atas pemahaman penggunaan uang pajak. Berikutnya, adanya
penguatan kapasitas administrasi perpajakan yang bersumber dari kerangka model
ekonomi tradisional (A-S Model). Tanpa adanya reformasi di tubuh otoritas pajak,
pemerintah akan membuang kesempatan untuk mempertahankan tingkat kepatuhan
pasca-tax amnesty.
Seringkali, tax amnestymemberikan lonjakan partisipasi wajib pajak, namun tidak
mampu dikelola secara berkelanjutan. Dengan adanya perbaikan kapasitas kelembagaan
otoritas pajak, secara tidak langsung, pemerintah mengirimkan pesan bahwa: setelah tax
amnesty, hukum perpajakan akan ditegakkan secara ketat.
Lebih lanjut lagi, manusia sebagai makhluk rasional akan selalu menimbang
aspek biaya dan manfaat dari keputusan untuk patuh terhadap hukum pajak. Setiap
manusia akan memaksimisasi kepuasannya disesuaikan dengan kewajiban membayar
pajak dan biaya yang dikeluarkan untuk patuh. Dengan adanya upaya reformasi dan
peningkatan kapasitas kelembagaan otoritas pajak, tax amnesty akan memberikan
(dis)insentif untuk (tidak) patuh.
13

E. Kebutuhan Tax Amnesty di Indonesia


Sejak orde baru digantikan dengan orde reformasi, reformasi perpajakan di
Indonesia masih berfokus pada reformasi administrasi perpajakan. Adapun tujuan dari
reformasi administrasi perpajakan tersebut adalah untuk menciptakan trust kepada
lembaga Direktorat Jenderal Pajak (DJP), meningkatkan produktivitas dan akuntabilitas
pegawai, serta memperbaiki upaya kepatuhan perpajakan.
Hasil dari reformasi administrasi perpajakan adalah peningkatan jumlah wajib
pajak secara signifikan. Sunset Policy, program tax Amnesty atas penghapusan sanksi
administrasi, yang diberlakukan pada tahun 2008 turut berkontribusi dalam peningkatan
jumlah wajib pajak.
Pada saat program Sunset Policy diberlakukan di tahun 2008, terdapat
peningkatan jumlah wajib pajak sebanyak 5.365.128. Sementara tambahan penerimaan
pajak dari program tersebut sebanyak Rp 7,46 triliun. Namun demikian, pada tahun 2009,
jumlah wajib pajak yang tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan mencapai
47,39% dari total wajib pajak sebanyak 15.469.590. Hal ini menunjukkan rendahnya
tingkat kepatuhan dan kemungkinan wajib pajak kembali ke perilaku ketidakpatuhan.
Pengungkapan ketidakbenaran melalui pembetulan Surat Pemberitahuan dapat
dipersamakan dengan pengungkapan secara sukarela (voluntary disclosure) yang saat ini
berdampak pada sanksi administrasi atas jumlah pajak yang kurang dibayar.
Ketentuan tentang besarnya sanksi administrasi atas jumlah pajak yang kurang
dibayar dalam pengungkapan ketidakbenaran melalui pembetulan Surat Pemberitahuan
dapat dipertimbangkan untuk diubah agar dapat mendorong perilaku wajib pajak menuju
kepatuhan melalui pengungkapan secara sukarela.
Otoritas pajak perlu membangun database bagi wajib pajak yang berpartisipasi
dalam program tax amnesty. Informasi wajib pajak yang tersimpan dalam database ini
akan berpengaruh pada aktivitas pengawasan di masa yang akan datang.

14

Selain

itu,

faktor

lain

yang

perlu

dipertimbangkan

antara

lain, tax

amnesty memerlukan publikasi yang luas di media. Sebagai contoh, India ketika
mengkampanyekan program tax amnesty nya di tahun 1997 Slogan yang dipakai adalah
30 percent taxes, 100 percentpeace of mind yang membawa lebih dari 350.000 wajib
pajak turut serta dalam program pengampunan pajak dengan jumlah pemasukan pajak
sebesar US $ 2,5 milyar atau saat ini setara dengan Rp 22,5 triliun.[7]
Pada saat negara kita mengadakan program pengampunan sanksi pajak (sunset
policy), juga menerapkan slogan Anda ingin tidur nyenyak? Manfaatkan fasilitas sunset
policy sekarang juga, demikian slogan yang disebarluaskan oleh pemerintah dalam
menjaring wajib pajak yang belum mematuhi kewajiban perpajakannya untuk ikut serta
dalam program sunset policy.
Selain itu, Publikasi di media ini harus menekankan rencana-rencana otoritas
pajak setelah program tax amnesty, misalnya peningkatan pemeriksaan pajak setelah
program tax amnesty berakhir. Meskipun peningkatan pemeriksaan akan berdampak pada
peningkatan biaya administrasi, namun hal ini merupakan cara termurah untuk membuat
jera tax evaders.
Hal ini juga dapat disebabkan setelah program tax amnesty berakhir,tax
evaders mungkin saja kembali ke tindakan mereka menggelapkan pajak. Untuk
melengkapi deteksi kewajiban pajak setelah program tax amnesty berakhir, periode
pemeriksaan atas kewajiban perpajakan dapat saja diperluas, misalnya dengan
memperpanjang kadaluwarsa pidana pajak dan penagihan pajak.
Peningkatan

pengawasan

kewajiban

perpajakan

setelah

program tax amnesty merupakan kunci dari suksesnya program tax amnesty. Pengawasan
kewajiban perpajakan setelah program tax amnesty dapat meningkatkan penerimaan
negara melalui pemeriksaan atas wajib pajak yang masih menggelapkan pajak setelah
program taxamnesty berakhir.

15

Untuk itu, otoritas pajak sebaiknya menyampaikan pesan kepada para tax
evaders bahwa mereka tidak akan menerima ketidakpatuhan tax evaders tersebut di masa
yang akan datang. Selain itu, hal ini juga dapat mengubah pendapat wajib pajak bahwa
otoritas

pajak

tidak

sepenuhnya

melakukan

penegakan

hukum

pajak. Tax

evaders mungkin juga akan mengubah perilakunya di masa yang akan datang karena
besar kemungkinan perilaku mereka akan terdeteksi di kemudian hari.
Selain Sunset Policy, Indonesia juga pernah mengeluarkan program pengampunan
pajak yaitu melalui Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 1984 tanggal 18 April 1984.
Pengampunan pajak ini diberikan kepada Wajib Pajak orang pribadi atau badan dengan
nama dan dalam bentuk apapun baik yang telah maupun yang belum terdaftar sebagai
Wajib Pajak diberi kesempatan untuk mendapatkan pengampunan pajak.
Pengampunan pajak tersebut diberikan atas pajak-pajak yang belum pernah atau
belum sepenuhnya dikenakan atau dipungut sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Adapun bentuk pengampunannya dikenakan tebusan dengan
tarif:
1. 1% (satupersen) dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah
pajak yang dimintakan pengampunan, bagi Wajib Pajak yang pada tanggal ditetapkannya
Keputusan Presiden ini telah memasukkan Surat Pemberitahuan Pajak Pendapatan/Pajak
Perseroan tahun 1983 dan Pajak Kekayaan tahun 1984;
2. 10% (sepuluhpersen) dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung
jumlah pajak yang dimintakan pengampunan, bagi Wajib Pajak yang pada tanggal
ditetapkannya Keputusan Presiden ini belum memasukkan Surat Pemberitahuan Pajak
Pendapatan/Pajak Perseroan tahun 1983 dan Pajak Kekayaan tahun 1984.

2. Tax Amnesty (Pengampunan Pajak) Perlu diterapkan di Indonesia


Kondisi perpajakan Indonesia masih jauh dari memuaskan. Meski kontribusi penerimaan
pajak terhadap pendapatan negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
16

mencapai 70 persen, belum tampak perhatian yang memadai terhadap pentingnya reformasi
perpajakan yang komprehensif dan substansial. Bahkan, reformasi perpajakan terkesan mandek
tanpa kemajuan berarti.
Belum optimalnya penerimaan pajak, yang salah satunya tecermin dari stagnasi rasio
penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (tax ratio) di kisaran 10-11 persen, semakin
ironis jika dihadapkan pada hamparan data yang mencengangkan. McKinsey & Company pernah
melansir data, setidaknya terdapat 300 miliar dollar AS aset warga negara Indonesia yang
disimpan di luar negeri. Temuan hampir sama diperoleh Tax Justice Network (2010) yang
mencatat sekitar 330 miliar dollar AS aset milik warga negara Indonesia ditempatkan di negaranegara suaka pajak (tax haven).
Dan belum lama, Perkumpulan Prakarsa merilis hasil riset yang menunjukkan aliran dana
haram ke luar negeri pada kurun waktu 2010-2014 mencapai Rp 914 triliun. Tak sekadar
menggurita, kekayaan itu juga terakumulasi pada segelintir orang. Bank Dunia dalam laporan
terbarunya menyatakan, 1 persen orang terkaya menguasai 50,3 persen kekayaan nasional. Pada
akhir 2015, simpanan di atas Rp 2 miliar mencapai Rp 2.428 triliun atau 54,28 persen dari total
simpanan dan hanya dimiliki 0,13 persen atau 231.572 rekening, demikian laporan Lembaga
Penjamin Simpanan. Timbunan data yang menakjubkan ini sekaligus menyingkap tabir potensi
pajak yang sangat luar biasa.
Data penerimaan pajak 2015 menunjukkan bahwa setoran wajib pajak orang pribadi
nonkaryawan hanya Rp 9 triliun, jauh di bawah setoran pajak penghasilan (PPh) karyawan yang
mencapai Rp 105 triliun. Hal ini jelas menyimpang dari prinsip kemampuan dalam membayar
pajak (ability to pay)yang menjadi roh Undang-Undang Perpajakan bahwa yang memiliki
kemampuan lebih tinggi wajib membayar pajak lebih besar. Di hadapan fakta dan konteks seperti
itulah, gagasan pengampunan pajak lahir.
Selama ini, Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) mengalami kesulitan untuk
memungut pajak karena berbagai kendala, mulai dari keterbatasan kapasitas; praktik korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN); regulasi yang tertinggal; koordinasi dan dukungan kelembagaan
yang buruk; kecanggihan praktik penghindaran pajak; dan praktik beking yang melanggengkan
para wajib pajak yang tak pernah tersentuh. Kecurigaan bahwa pengampunan ini hanya akan
17

menguntungkan kelompok kaya memang beralasan meski tak sepenuhnya tepat. Secara umum,
tingkat kepatuhan pajak kita masih sangat rendah. Jumlah wajib pajak terdaftar sangat sedikit,
baru sekitar 28 juta atau 11 persen dari jumlah penduduk, dari potensi wajib pajak orang pribadi
sekitar 60 juta. Dari jumlah itu, 8,9 juta yang menyampaikan surat pemberitahuan (SPT) pajak
dan hanya 900.000 wajib pajak yang status SPT-nya kurang bayar.
Di sisi lain, porsi sektor informal juga masih cukup tinggi, mencapai 18 persen dari
Produk Domestik Bruto dan memiliki potensi pajak tidak kurang 1 persen dari PDB atau sekitar
Rp 100 triliun. Taksiran potensi ini jauh di atas setoran riil pajak usaha kecil dan menengah
sebesar Rp 2 triliun setahun.

Pengampunan pajak dirancang untuk merengkuh beberapa tujuan sekaligus, sebagai


berikut:
Pertama, meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka pendek,
khususnya untuk mengamankan APBN 2016. Tanpa tambahan
penerimaan pajak, pemerintah terpaksa harus berutang lagi atau
memangkas belanja-dua pil pahit yang sebaiknya tidak ditelan.
Dengan tarif tebusan 2 persen, diperkirakan akan ada tambahan
penerimaan pajak Rp 60 triliun, belum ditambah potensi dari
restitusi dan sengketa pajak yang dicabut karena pengampunan.
Kedua, repatriasi sekitar Rp 500 triliun dana yang diparkir di luar
negeri akan mengurangi dahaga likuiditas yang amat dibutuhkan
untuk mengungkit perekonomian nasional melalui penurunan suku
bunga, meningkatnya investasi, dan terbukanya lapangan kerja
baru.
Ketiga, deklarasi aset dan integrasi sektor informal ke dalam
sistem perekonomian nasional akan memperluas basis pajak secara
signifikan. Pada gilirannya, ini akan menjadi tambahan penerimaan
pajak pada masa mendatang.
18

keempat, kepatuhan pajak diharapkan meningkat secara alamiah


karena partisipasi yang semakin luas. Optimisme yang membuncah
tersebut bukannya tanpa catatan. Pemerintah dan DPR harus awas
pada peringatan Dana Moneter Internasional (2008) bahwa
keberhasilan pengampunan pajak lebih sebagai anomali ketimbang
norma.

Bahkan,

catatan

sejarah

menunjukkan,

di

negara

berkembang kepatuhan pajak pasca pengampunan justru menurun


karena tidak disertai pengembangan sistem perpajakan yang lebih
baik (Luitel & Sobel:2005).
Keberhasilan Italia dan Afrika Selatan dalam menerapkan pengampunan pajak
layak

dicermati

dengan

saksama.

Italia

berhasil

melakukan

repatriasi

dan

mengintegrasikan sektor informal ke dalam sistem perpajakan karena didahului dengan


pembentukan basis data yang kuat. Afrika Selatan menjadi contoh terbaik keberhasilan
pemberian pengampunan di antara negara berkembang karena dapat menjamin
kesinambungan reformasi pajak dan stabilitas politik berkat jaminan kepemimpinan
Nelson Mandela. Kita tentu saja memiliki peluang yang cukup besar agar pengampunan
pajak ini berhasil. Angin sejarah agaknya berpihak karena pada 2018 kita akan
memasuki era baru keterbukaan pajak yang ditopang Automatic Exchange of
Information (AEoI).
Inisiatif global ini dapat menjadi insentif bagi para wajib pajak agar berpartisipasi
dalam pengampunan pajak sebelum harta yang disembunyikan diburu dan ditelanjangi.
Di lain pihak, para pelaku usaha sektor informal juga wajib ikut serta agar terhindar dari
pengenaan sanksi perpajakan yang memberatkan pada masa mendatang. Karena
pengampunan pajak hanya diberikan satu kali dalam satu generasi, celah harapan bahwa
pengampunan akan diberikan lagi harus ditutup.
Kita diimpit pisau dilema: peluang menarik dana yang selama ini justru dinikmati
negara lain dengan risiko mendistorsi rasa keadilan atau konsisten memeluk prinsip
keadilan dengan konsekuensi sistem perpajakan akan jalan di tempat. Saat ini kita berada
pada titik yang memaksa kita harus melangkah ke depan.

19

Terlalu mahal ongkos yang harus dikeluarkan apabila program ini tertunda atau
dibatalkan. Ekspektasi publik sudah telanjur besar seiring keyakinan pemerintah
menerapkan program ini dalam waktu dekat. Jika program ini batal dilaksanakan, kita
akan berada pada titik nadir kepercayaan terhadap sistem perpajakan. Bahkan, tak
terhindarkan pemungutan pajak yang semakin agresif dengan penegakan hukum yang
keras akan ditempuh, termasuk pembiaran terhadap mereka yang selama ini tak tersentuh
hukum.
Meski demikian, langkah maju ini tak boleh mencuri kewaspadaan kita. Tanpa
upaya sungguh-sungguh mereformasi sistem perpajakan dalam satu tarikan napasperubahan UU Perpajakan yang meneguhkan prinsip keadilan dan kepastian hukum,
formula redistribusi uang pajak yang adil, pengembangan sistem administrasi yang
terintegrasi, akses yang lebih luas ke data perbankan, integrasi nomor induk
kependudukan (NIK) dan nomor pokok wajib pajak (NPWP), dukungan kelembagaan
yang kuat, dan pembentukan Badan Penerimaan Perpajakan yang kuat, kredibel, dan
profesional-dapat dipastikan program pengampunan pajak memang hanya merupakan
pengampuan.

Adapun Kekuatan dan Kelemahan nya bilamana Tax Amnesty diterapkan di


Indonesia, sebagai berikut:
Kelebihan Tax Amnesty jika diterapkan di Indonesia
Sumber daya yang dimiliki pada instansi aparatur pajak saat ini
sudah

memadai

yang

dapat

mendukung

diberlakukannya

penerapan tax amnesty. Demikian juga infrastruktur pendukung


lainnya. Tercatat pegawai Ditjen Pajak saat ini adalah sebesar
32.000 orang, sehingga bila wajib pajak saat ini berjumlah 20 juta
orang berarti rationya adalah 1 : 625. Walaupun ke depan sangat
perlu untuk ditambah lagi mengingat wajib pajak setiap tahunnya
mempunyai tren meningkat..
Bila kebijakan perpajakan seperti tax amnesty diterapkan maka
akan menciptakan kerelaan masyarakat untuk mendaftarkan diri
menjadi Wajib Pajak dan menunaikan kewajiban perpajakannya
20

seperti yang dilakukan pemerintah sebelumnya dengan sunset


policy maupun pemebebasan pajak fiskal bagi warga negara
Indonesia yang hendak bepergian ke luar negeri dengan syarat
memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.
Kondisi ekonomi nasional saat ini relatif stabil dengan rata-rata
pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Hal ini dapat menjamin
pemberlakuan tax amnesty. Beberapa negara lain seperti Afrika
Selatan, Korea Selatan dan lain-lain, memberlakukan tax amnesty
pada saat ekonomi negara tersebut dalam kondisi stabil.
Dengan diadakannya sensus pajak tahun 2011 maka dapat
diketahui gambaran mengenai kondisi wajib pajak, potensi maupun
karakteristik wajib pajak yang dapat meberikan masukan bagi
pengambil keputusan guna menentukan ya atau tidak implementasi
tax amnesty dilakukan.

Kekurangan Tax Amnesty jika diterapkan di Indonesia


Tidak mempunyai payung hukum yang dapat menjadi landasan
hukum implementasi tax amnesty yang dapat memberikan aturan
jelas. Hal ini akan menambah keraguan bagi wajib pajak dan calon
wajib pajak. Namun apabila implementasi tax amnesty akan
diterapkan maka berarti harus di buat terlebih dahulu peraturan
perpajakan (undang-undang) yang mengatur tentang hal itu. Hal in
tentu saja akan memakan waktu yang lebih lama karena tentu saja
harus mendapat persetujuan dari DPR (Dewan Pertimbangan
Rakyat).
Pernah

dilaksanakan

implementasinya.

Pertama,

pengampunan pajak sudah dilaksanakan pada tahun 1964


melalui Penetapan Presiden RI
Peraturan

Pengampunan

Pajak

No. 5 tahun 1964 tentang


yang

kemudian

secara

berturut-turut diikuti Keppres No. 26 tahun 1984 tentang


21

Pengampunan Pajak jo. Keputusan Menteri Keuangan No.


345/KMK.04/1984 tentang Pelaksanaan Pengampunan Pajak
jo. Keputusan Menteri Keuangan No. 966/KMK.04/1983
tentang Faktor Penyessuaian Untuk Penghitungan Pajak
Penghasilan.12 Namun efektifitas pelaksanaan tax amnesty
tersebut masih rendah, efektifitas ini terukur dari rendahnya
partisipasi peserta tax amnesty tersebut.

D. KESIMPULAN
1. Indonesia dapat mempertimbangkan untuk melakukan tax amnesty dalam berbagai
bentuknya untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Tax amnesty ini juga dapat
dipandang sebagai rekonsilisasi nasional untuk menghapus masa lalu wajib pajak yang
tidakpatuh dan perilaku otoritas pajak yang melanggar aturan. Tax amnesty akan
berhasil jika terdapat justifikasi yang kuat kenapa perlu adanya tax amnesty. Tax
amnesty harus dipublikasikan secara masif dengan pesan agar para penggelap pajak
untuk ikut karena setelah tax amnesty akan diberlakukan sanksi yang tegas bagi mereka
yang tidak patuh. Untuk itu, diperlukan juga reformasi kelembagaan secara bersamaan
untuk dapat mendeteksi kecuarangan wajib pajak pasca pemberlakuan tax amnesty.
Disamping itu, untuk membangun kepatuhan sukarela untuk membayar pajak pasca tax
amnesty diharuskan adanya transparansi penggunaan uang pajak (anggaran) serta
alokasinya yang tepat sasaran dan berkeadilan.

22

2. Tax amnesty dapat diimplementasikan di Indonesia, namun harus mempunyai payung


hukum sebagai dasar serta tujuan yang jelas dalam pelaksanaan tax amnesty Salah satu
kelemahan Tax amnesty bila diterapkan di Indonesia adalah dapat mengakibatkan
berbagai penyelewengan dan moral hazard karena sarana dan prasarana, keterbukaan
akses informasi serta pendukung lainnya belum memadai sebagai prasyarat
pemberlakuan tax amnesty tersebut. Implementasi Tax amnesty dalam jangka pendek
sebaiknya ditunda terlebih dahulu menunggu kesiapan berbagai perangkat dan piranti
hukum yang melandasi pelaksanaan kebijakan ini. Namun dalam rangka meningkatkan
penerimaan negara pemerintah (Dirjen Pajak) dapat menerapkan kebijakan-kebijakan
inovatif lainnya seperti Sunset Policy, Tax holiday dan lain-lain yang dapat
menggantikan kebijakan tax amnesty yang masih mendapat pertentangan dari berbagai
lapisan masyarakat.

E. SARAN
1. pemerintah perlu melakukan mapping dana yang tersimpan di luar negeri, berikut profil
pajaknya, sebelum menerapkan tax amnesty. tanpa kalkulasi yang akurat, maka tax
amnesty yang diharapkan bisa mempertebal pendapatan sektor pajak, bakal menjadi cek
kosong saja. Pemerintah harus membuat urun rembuk nasional khusus tax amnesty ini.
Yang melibatkan seluruh stakeholder di sektor perpajakan
2. kekhawatiran masyarakat atas menguatnya ketidakpercayaan alias distrust dari wajib
pajak atas kebijakan tax amnesty. Lantaran, besaran tarif pajak yang diterapkan dalam
tax amnesty, sangatlah rendah yakni 2%, 4% dan 6%. Sangat jauh di bandingkan tarif
PPh badan yang besarnya 25% atau tarif OP 30%.

23

3. Penerapan Tax Amnesty harus dilandasi payung hukum berupa Undang-undang dan
kejelasan syarat dan tujuannya. Pemberian kebijakan pengampunan pajak semestinya
tidak hanya menghapus hak tagih atas wajib pajak (WP) tetapi yang lebih penting lagi
adalah memperbaiki kepatuhan WP, sehingga pada jangka panjang dapat meningkatkan
penerimaan pajak. Implementasi Tax Amnesty dapat diterapkan bila syarat-syarat
keterbukaan dan akses informasi terhadap masyarakat terpenuhi oleh karena itu apabila
tax amnesty akan diterapkan harus menggunakan tax amnesty bersyarat. Tax amnesty
dapat diterapkan terutama pada bidang-bidang atau sektorsektor industri tertentu saja
yang dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan tax ratio dengan syarat
terpenuhinya kesiapan sarana dan prasarana pendukung lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
www..kemenkeu.go.id%2520Implementasi%2520Tax%2520Amnesty%2520di
%2520Indonesia.pdf.
https://www.selasar.com/ekonomi/tax-amnesty-untuk-rekonsiliasi-nasional-bagian-1
https://www.selasar.com/ekonomi/tax-amnesty-untuk-rekonsiliasi-nasional-bagian-2
http://doa-bagirajatega.blogspot.co.id/2016/02/arah-pengampunan-pajak-yustinusprastowo.html

24

http://www.tribunnews.com/bisnis/2016/02/22/pengamat-pengampunan-pajak-bantukesejahteraan-masyarakat-kecil
http://redaksiindonesia.com/read/tax-amnesty-pengampunan-pajak.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Tax_amnesty
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26740/4/Chapter%20I.pdf
http://journal.bakrie.ac.id/index.php/jurnal_ilmiah_ub/article/view/1292/981
http://cafebelajar.com/sejarah-perkembangan-pemungutan-pajak.html
http://www.pajak.go.id

http://www.pajak2000.com/news_print.php?id=307
http://nindityo.com/2008/03/23/sunset-policy-pengampunan-pajak-di-uukup2008/
http://vibizmanagement.com/journal.php?id=425&sub=journal&awal=10&p
age=

25