Anda di halaman 1dari 5

LASER

Laser adalah sumber cahaya yang memiliki karakteristik yang cukup istimewa
dibandingkan dengan sumber cahaya lain. Nama laser sendiri merupakan suatu akronim dari
Light Amplification by Stimulated Emittion of Radiation. Sebelum laser ditemukan terdapat
sumber cahaya bernama maser (Microwave Amplification by Stimulated Emission of
Radiation) yang ditemukan oleh Charles H. Townes. Kemudian maser dikembangkan oleh
Theodore Maiman dengan menggunakan kristal rubi untuk menghasilkan sumber cahaya.
Secara umum laser adalah seperangkat alat yang menghasilkan atau memperkuat cahaya dan
seperangkat tabung vakum dan penguat sinyal pada frekuensi radio atau microwave.Laser akan
meningkatkan intensitas cahaya untuk menghasilkan cahaya yang terarah, memiliki intensitas
yang tinggi dengan panjang gelombang atau frekuensi yang sangat murni berukuran mulai dari
sekitar sepersepuluh diameter manusia sampai dengan yang sebesar bangunan. Laser
menghasilkan kekuatan mulai dari beberapa nanowatt hingga satu miliar triliun watts. Laser
menghasilkan panjang gelombang atau frekuensi mulai dari microwave, inframerah, cahaya
tampak, UV, X-Ray. Prinsip kerja laser secara garis besar adalah cahaya yang di kuatkan
(amplifikasi) dengan emisi terstimulasi dan emisi spontan.
Prinsip kerja laser ini sebelumnya pernah diramalkan sebelum adanya mekanika
kuantum, yaitu pada tahun 1917 Albert Einstein membuat postulat pancaran imbas pada
peristiwa radiasi agar dapat menjelaskan kesetimbangan termal suatu gas yang sedang
menyerap dan memancarkan radiasi. Menurut Einstein terdapat tiga proses yang terlibat dalam
kesetimbangan tersebut. Pertama serapan, yang kedua pancaran spontan (fluorensi), dan yang
ketiga pancaran terangsang atau terstimulasi. Proses yang terakhir biasanya diabaikan pada
pembangkitan cahaya dengan sumber selain laser, karena pada keadaan normal serapan dan
pancaran spontan sangat dominan.

Setiap pancaran akan menghasilkan cahaya dan dapat digambarkan sebagai fluks
sebuah foton. Setiap foton diuraikan dengan kecepatan cahaya dan mengandung energi sebesar
= .
Dimana adalah frekuensi dan adalah konstanta Planck ( = 6.675 1034 ).
Pada laser proses yang terpenting adalah proses penguatan (amplification) pada
frekuensi optik sampai pada frekuensi yang diperoleh. Proses ini yang menggunakan energi
yang terlibat ketika partikel yang berlainan membentuk materi, khususnya atom-atom, ion-ion
dan molekul-molekul yang berpindah dari tingkat energi yang satu ke tingkat energi yang
lainnya (Colin E. Webb,2004).

Saat sebuah partikel secara spontan berpindah ke tingkat energi yang lebih rendah,
maka foton yang dipancarkan memiliki frekuensi:
12 =

1 2

Foton ini dipancarkan pada sebuah arah yang acak dengan polarisasi yang berubahubah (kecuali pada medan magnet).
Ketika elektron berada di tingkat energi eksitasi, elektron akan kekurangan energi
karena melepaskan sebuah foton radiasi mengalami transisi menuju keadaan dasarnya dan
memancarkan foton. Peristiwa ini disebut emisi spontan dan foton yang dipancarkan dalam
arah dan fase yang acak.
Jika sebuah elektron berada pada tingkat energi lebih tinggi (E2) dan mengalami
peluruhan energi sampai pada tingkat energi di bawahnya (E1), tetapi sebelumnya elektron
tersebut mempunyai kesempatan untuk meluruh secara spontan dengan energi sebesar E2-E1,
dan akan memiliki panjang, arah, dan fase gelombang yang persis sama dengan gelombang
elektron tadi sehingga memperkuat energi cahaya yang datang. Proses ini disebut emisi
terstimulasi. Sementara absorpsi adalah proses tereksitasinya elektron dari E1 ke E2 akibat
penyerapan foton dengan energi, dimana > (E2-E1).
Pada laser terdapat laser cavity atau laser resonator yang terdiri dari tiga komponen
yaitu:
-

Medium laser
Ada empat macam medium laser yaitu padatan (kristal, gelas), cairan (pelarut organik),
gas (helium, CO2), dan semikonduktor (dioda). Medium ini mengandung atom-atom
yang memiliki tingkat energi metastabil yang dapat dieksitasi dengan menyerap energi
dari luar.
Sumber atau pemompa energi
Tempat terjadinya proses pelepasan energi tinggi
Resonator optik
Terdiri dari rongga yang berisi media penguat dengan dua buah cermin paralel di kedua
sisinya. Cermin pertama memiliki reflektansi 100% (memantulkan sempurna) dan
cermin kedua memiliki reflektansi sekitar 98% (memantulkan sebagian) sehingga
memungkinkan ada cahaya yang berhasil lolos meninggalkan rongga untuk
menghasilkan keluaran sinar laser. Cermin kedua disebut sebagai the output coupler
(Dr. Emily S, 2012). Berkas cahaya yang melalui ini akan mengalami penguatan daya,
karena sekeliling medium aktif adalah cermin maka berkas cahaya akan dipantulkan
bolak-balik melewati medium aktif berkali-kali, sehingga berkas cahaya mengalami
penguatan berkali lipat, kemudian keluar melalui cermin yang reflektansinya kurang
dari 100%. Berkas cahaya yang keluar dari laser hanya 2% dari energi totalnya.

Syarat-syarat terjadinya lasing adalah:


-

Adanya medium aktif : medium ini mengandung atom-atom yang memiliki tingkat
energi metastabil yang dapat dieksitasi dengan menyerap energi dari luar.
Adanya mekanisme pembalikan populasi atau population inversion : Setelah atomatom pada keadaan dasar memiliki cukup energi untuk berpindah ke tingkat energi yang
lebih tinggi, maka atom-atom secara bersama-sama akan berpindah ke tingkat energi
yang lebih tinggi sehingga populasi atom di keadaan dasar lebih sedikit jika
dibandingkan dengan atom pada tingkat energi yang lebih tinggi.
Adanya mekanisme umpan balik : berkas cahaya yang melalui medium aktif ini akan
mengalami penguatan daya, karena sekeliling medium aktif adalah cermin maka berkas
cahaya akan dipantulkan bolak-balik melewati medium aktif berkali-kali, sehingga
berkas cahaya mengalami penguatan berkali lipat, kemudian keluar melalui cermin
yang reflektansinya kurang dari 100%. Berkas cahaya yang keluar dari laser hanya 2%
dari energi totalnya.

Laser secara umum memiliki karakteristik yang khusus yaitu monokromatis, koherensi,
kecerahan dan keterarahan.
-

Monokromatis
Monokromatis adalah kemampuan laser untuk menghasilkan sinar yang memiliki
panjang gelombang yang sama. Rentang panjang gelombang ini tergantung pada
banyak faktor seperti tekanan gas, dengan range perubahan menjadi 0,1 nm dari lebar
panjang gelombang sebelumnya.
Koherensi
Koheren berarti semua foton yang teremisi memiliki fase yang sama, sebagai
gelombang dimana memiliki puncak dan lembah di waktu yang sama. Sifat ini cukup
penting dalam laser kaitannya laser yang diaplikasikan dalam komunikasi. Koherensi
bergantung pada celah sudut divergensi sinar. Sebuah sinar yang tidak koheren hanya
dapat difokuskan pada daerah yang sempit. Sinar laser berbeda dengan cahaya putih
dalam koherensinya, karena panjang gelombang laser yang sama dan sefase sehingga

gelombang tidak saling bertubrukan dan divergen, intensitas cahaya yang tinggi dapat
dihasilkan dengan memfokuskannya dengan bantuan lensa.

Kecerahan
Kecerahan suatu sumber cahaya didefinisikan sebagai daya ang dipancarkan persatuan
luas permukaan sudut ruang. Kecerahan yang dihasilkan sinar laser jauh lebih cerah
dibandingkan dengan cahaya biasa, karena diameter berkas sinar laser sangat kecil
karena sudut penyebarannya kecil dan sinar laser memiliki koherensi yang tinggi.
Keterarahan
Divergensi laser diukur dalam satuan miliradian, ukuran ini sangat kecil dan merupakan
hasil dari persyaratan bahwa cahaya harus membuat banyak pantulan pada laser
resonator sebelum cahaya tersebut melalui cermin yang sebagian ditransmisikan.
Hanya sinar yang berada pada garis tengah resonator yang dapat membuat sejulah
putaran yang diperlukan untuk menghasilkan sinar yang searah dengan sudut
peyimpangan yang kecil. Keterarahan disebabkan oleh adanya medium aktif pada
rongga resonator. Hanya gelombang yang merambat dalam arah yang tegak lurus
terhadap cermin-cermin yang dapat dipertahankan dalam rongga (Breck Hitz, 2001)

Saat ini perkembangan laser semakin pesat, berdasarkan sifat keluarannya laser dibagi
menjadi dua yaitu laser kontinyu dan laser pulsa. Laser kontinyu memancarkan cahaya yang
tetap selama medium lasernya tereksitasi, sementara laser pulsa memancarkan cahaya dalam
bentuk pulsa pada interval waktu tertentu (William T, Silfvast, 2004). Jenis-jenis laser juga
dapat didasarkan atas perbedaan bahan medium aktif yang digunakan diantaranya yaitu laser
CO2, laser DPSS (Diode-Pumped Solid State), dan laser He-Ne.
-

Laser CO2
Laser CO2 adalah salah satu laser yang menghasilkan energi tinggi yaitu lebih dari
100kW dan merupakan laser yang efisien dengan efisiensinya sekitar 15-20%. Pada
laser ini molekul CO2 berosilasi pada panjang gelombang 10,6 m di daerah
inframerah. Laser ini banyak dimanfaatkan dalam proses pemotongan logam, bahan
tenunan dan pengelasan logam.
Laser DPSS (Diode-Pumped Solid State)
Laser ini merupakan jenis laser yang menggunakan medium aktif padatan yang terbuat
dari bahan semikonduktor. Sambungan p-n mirip dengan LED (Light Emitting Diode).

Proses pembangkitan laser ini pada dasarnya adalah transisi elektron dari pita konduksi
ke pita valensi dan disertai dengan radiasi gelombang elektromagnetik (laser).
Laser He-Ne
Laser ini merupakan salah satu laser gas yang paling ekonomis dan umum digunakan.
Laser ini biasanya dirancang untuk beroperasi pada panjang gelombang 632.8 nm
dengan warna merah, selain itu juga terdapat laser He-Ne yang beroperasi pada panjang
gelombang 543.5 nm dengan warna hijau, 594.1 nm dengan warna kuning dan lain
sebagainya. Laser ini biasa dimanfaatkan untuk holografi, spektroskopi, metrologi,
perawatan medis, bar-code scanning.