Anda di halaman 1dari 28

PENYELESAIAN AUDIT

Dalam menyelesaikan audit, auditor seringkali menghadapi kendala


waktu, terutama ketika klien berusaha mendapatkan tanggal yang paling
cepat untuk penerbitan laporan audit. Auditor harus menggunakan waktu
tersebut untuk membuat pertimbangan professional yang baik dan
menyatakan pendapat yang tepat dalam situasi bersangkutan. Tanggung
jawab auditor dalam menyelesaikan audit dibagi menjadi tiga kategori
berikut ini :
1. Menyelesaikan penilaian dan respon resiko salah saji material.
2. Mengevaluasi temuan.
3. Berkomunikasi dengan klien.

Menyelesaikan Penilaian dan Respon Resiko salah saji material

Dalam menyelesaikan penilaian dan respon resiko salah saji material, auditor
melaksanakan prosedur audit spesifik untuk mendapatkan bukti audit
tambahan. Prosedurnya adalah :
A. Melaksanakan Review Atas Peristiwa Kemudian
ISA 560, Peristiwa Kemudian, menyatakan bahwa laporan keuangan mungkin
dipengaruhi oleh peristiwa tertentu yang terjadi setelah tanggal laporan
keuangan. Banyak kerangka pelaporan keuangan secara khusus merujuk pada
peristiwa tersebut. Kerangka pelaporan keuangan tersebut biasanya
mengidentifikasi dua jenis peristiwa :
a) Peristiwa yang menyediakan bukti tentang kondisi yang ada pada tanggal
laporan keuangan.
b) Peristiwa yang menyediakan bukti tentang kondisi yang terjadi setelah
tanggal laporan keuangan.

Namun, auditor tidak diharapkan untuk melakukan prosedur audit tambahan atas hal-hal yang mana
prosedur audit yang sebelumnya diterapkan telah menyediakan kesimpulan yang memadai (ISA 560:Para
6). Dalam penyelesaian prosedur audit, auditor harus mempertimbangkan penilaian resiko auditor dalam
menetapkan sifat dan luas prosedur audit yang harus mencakup hal-hal sebgai berikut : (ISA 560 :Para 7)
a) Memperoleh pemahaman tentang prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen untuk memastikan
bahwa peristiwa kemudian teridentifikasi.
b) Meminta keterangan dari manajemen dan jika relevan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola
tentang peristiwa kemudian yang telah terjadi yang mungkin mempengaruhi laporan keuangan.
c) Membaca risalah rapat, ketika ada, tentang pemilik, manajemen, dan pihak yang bertanggung jawab
atas tata kelola entitas yang rapat tersebut diadakan setelah tanggal laporan keuangan dan meminta
keterangan tentang hal-hal yang dibahas dalam rapat tersebut yang risalah hasil rapatnya belum tersedia.
d)

Membaca laporan keuangan interim terakhir entitas jika ada.

B. Membaca Notulen Rapat


Notulen rapat pemegang saham, dewan komisaris, dan subkomitenya,
seperti komite keuangan dan komite audit, dapat memuat hal-hal yang
mempunyai signifikansi audit. Contohnya : dewan komisaris dapat
mengotorisasi penerbitan obligasi baru, pembelian sahm treasuri,dll.

Pembacaan notulen rapat biasanya dilakukan segera setelah hal itu


tersedia, guna memberikan auditor kesempatan maksimum untuk menilai
signifikansi auditnya. Misal: informasi yang dipelajari dari catatan
tersebut menyebabkan auditor untuk mengubah pengujian substantif. Dan
pembacaan notulen rapat oleh auditor harus didokumentasikan dalam
kertas kerja.

C. Mendapatkan bukti mengenai litigasi, klaim, dan penilaian


. Dalam PSAK no.57, mendefinisikan Liabilitas kontijensi adalah
kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan
keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya
satu atau lebih peristiwa di masa depan yang tidak sepenuhnya
berada dalam kendali entitas. Liabilitas kontijensi seringkali
merupakan masalah yang signifikan bagi auditor. Kewajiban
kontijensi meliputi kewajiban yang potensial dari perselisihan
pajak penghasilan,klaim,dll. PSAK mempersyaratkan bahwa
kewajiban kontijensi harus :
a) Dicatat sebagi kewajiban
b) Diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan
c) Diabaikan

Pertimbangan audit

ISA 501 menyatakan bahwa auditor harus mendapatkan bukti-bukti tentang :


a) Eksistensi kondisi, situasi, atau serangkaian situasi yang menunjukkan
ketidakpastian mengenai kemungkinan terjadinya kerugian pada suatu entitas dari
letigasi, klaim, dan penilaian.
b) Periode di mana penyebab yang mendasari tindakan hukum terjadi.
c) Tingkat probabilitas hasil yang tidak menguntungkan
d) Jumlah atau rentang kerugian yang potensial
Surat Permintaan keterangan audit
Auditor dapat melakukan komunikasi langsung dengan penasihat hukum eksternal
entitas melalui surat permintaan keterangan yang umum. Untuk tujuan ini, sebuah
surat permintaan keterangan yang umum meminta penasihat hukum eksternalentitas
untuk menginformasikan kepada auditor tentang adanya litigasi dan klaim yang
diketahui oleh penasihat hukum tersebut, dengan penilaian atas hasil litigasi dan
klaim, serta estimasi implikasi keuangan, termasuk biaya yang berkaitan (ISA 501
para: 10-11)

Pengaruh surat keterangan terhadap laporan auditor

Keterangan ahli hukum mungkin tidak mempunyai pengaruh terhadap laporan


auditor. Yaitu, auditor dapat mengeluarkan suatu laporan standar dengan pendapat
wajar tanpa pengecualian. Hal ini dapat terjadi apabila jawabannya menunjukkan
bahwa berdasarkan penyelidikan yang layak atas masalah yang dihadapi, terdapat :
a) Probabilitas yang tinggi atas hasil yang menguntungkan
b) Masalah yang dihadapi adalah tidak material

D.

Mendapatkan Surat Representasi Klien

Auditor harus meminta representasi tertulis dari manajemen yang memiliki


tanggung jawab yang semestinya atas laporan keuangan dan pengetahuan atas hal-hal
yang dipandang penting (ISA 580 para:9). Auditor harus meminta manajemen untuk
menyediakan representasi tertulis bahwa :
a) Mereka telah menyediakan bagi auditor semua informasi relevan dan akses sesuai
dengan yang disetujui dalam ketentuan perikatan audit.
b) Semua transaksi telah dicatat dan dicerminkan dalam laporan keuangan. (ISA 580
para:11).

Representasi manajemen mungkin dapat :

a) Mengkonfirmasikan representasi lisan yang diberikan kepada auditor


b) Mendokumentasikan kelayakan yang berkelanjutan dari representasi
tersebut
c) Mengurangi kemungkinan kesalah pahaman mengenai representasi
manajemen.
Isi surat representasi
Isi surat representasi mencakup :
a) Laporan keuangan
b) Kelengkapan informasi
c) Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan
d) Peristiwa kemudian

Pengaruh terhadap laporan auditor

Apabila auditor menerima surat representasi dan mampu mendukung representasi


manajemen, maka suatu laporan audit standar dapat dikeluarkan. Tetapi jika ada
keterbatasan pada lingkup audit jika auditor tidak dapat:
a) Memperoleh surat representasi
b) Mendukung representasi manajemen yang bersifat material bagi laporan
keuangan dengan prosedur audit lainnya.

E. Melaksanakan Prosedur Analitis


Auditor harus merancang dan melaksanakan prosedur analitis mendekati
akhir audit yang membantu auditor ketika membentuk kesimpulan keseluruhan
tentang apakah laporan keuangan telah disajikan konsisten dengan pemahaman
auditor terhadap entitas (ISA 520 para:6). Jia prosedur analitis yang dilakukan
mengidentifikasi adanya fluktuasi atau hubungan yang tidak konsisten dengan
informasi relevan lainnya atau yang berbeda secara signifikan dengan nilai yang
diharapkan, maka auditor harus menginvestigasi perbedaan tersebut dengan cara
sebagi berikut :
a) Meminta keterangan kepada manajemen dan memperoleh bukti audit yang
tepat dan relevan dengan respons manajemen.
b) Melaksanakan prosedur audit lainnya yang diperlukan sesuai dengan
kondisinya. (ISA 520 para:7).

MENGEVALUASI TEMUAN

Terdapat dua tujuan auditor dalam mengevaluasi temuan-temuan, yaitu :


a)

Menentukan jenis pendapat yang harus dinyatakan.

b) Menentukan apakah ISA telah dipenuhi dalam audit.


Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor menyelesaikan langkah-langkah
berikut:

I.

Membuat penilaian akhir atas materialitas dan resiko audit (dasar: ISA
315 dan ISA 320)

Prasayarat yang esensial dalam memutuskan suatu pendapat yang akan


dikeluarkan adalah penilaian akhir atas materialitas dan resiko audit. Titik
tolak untuk melakukan proses ini adalah menjumlahkan salah saji-salah saji
yang ditemukan ketika memeriksa semua akun yang belum dikoreksi oleh
klien. Penentuan auditor atas salah saji dalam suatu akun dapat mencakup
komponen berikut :
a) Salah saji yang belum dikoreksi yang secara spesifik diidentifikasi
melalui pengujian substantive atas rincian transaksi dan saldo.
b) Proyeksi salah saji yang belum dikoreksi yang diestimasi melalui teknik
sampling audit.
c) Estimasi salah saji yang dideteksi melalui prosedur analitis dan
dikuantifikasi oleh prosedur audit lainnya.

Semua komponen yang terdapat dalam suatu akun dikenal sebagai salah saji
yang mungkin, sementara jumlah salah saji yang mungkin dalam semua akun
disebut sebagai salah saji agregat yang mungkin. Penilaian auditor atas salah saji
agregat yang mungkin dapat mencakup pengaruh dari semua salah saji yang
mungkin belum dikoreksi selama periode sebelumnya terhadap laporan keuangan
periode berjalan.

Data yang telah diakumulasi kemudian dibandingkan dengan


pertimbangan pendahuluan auditor mengenai materialitas yang dibuat ketika
merencanakan audit. Dalam merencanakan audit, auditor menetapkan tingkat
resiko audit yang dapat diterima. Jika salah saji agregat meningkat, maka
resiko bahwa laporan keuanagn mengandung salah saji yang material juga
meningkat.
Jika auditor merasa bahwa resiko audit tidak dapat diterima, maka auditor
harus :
a) Melaksanakan pengujian substantif tambahan
b) Menyakinkan klien untuk melakukan koreksi yang diperlukan untuk
mengurangi resiko salah saji yang material.

II. Mengevaluasi kelanjutan Usaha


Ketika melakukan prosedur penilaian resiko seperti yang diharuskan oleh
ISA 315, auditor harus mempertimbangkan apakah terdapat peristiwa atau
kondisi yang dapat menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan entitas
untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.Dalam melakukan hal tersebut,
auditor harus menentukan apakah manajemen telah melakukan suatu penilaian
awal atas kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usahanya
(ISA 570 para:10).

Ketika peristiwa atau kondisi telah diidentifikasi yang dapat


menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan entitas untuk
mempertahankan kelangsungan usahanya, auditor harus memperoleh
bukti audit yang cukup dan tepat untuk menentukan apakah terdapat
suatu ketidakpastian material melalui pelaksanaan prosedur audit
tambahan. Prosedur tersebut harus mencakup :
a) Jika manjemen belum melakukan suatu penilaian atas
kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usahanya,
maka auditor meminta manajemen untuk melakukan penilaian
tersebut.
b) Mengevaluasi rencana manajemen atas tindakan di masa depan
yang berkaitan dengan penilaian kelangsungan usaha entitas.
c) Meminta representasi tertulis dari manajemen dan pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, tentang rencana mereka untuk
tindakan di masa depan dan kelayakan rencana tersebut.

III. Melakukan review teknis atas laporan keuangan


Sebelum mengeluarkan laporan audit atas klien yang merupakan
perusahaan terbuka, review teknis jugaperlu dilakukan atas laporan itu oleh
partner yang bukan anggota tim audit. Daftar periksa tersebut mencakup halhal yang berkenaan dengan bentuk da nisi dari masing-masing laporan
keuangan dasar termasuk pengungkapan yang disyaratkan.

IV. Merumuskan pendapat dan menulis naskah laporan audit


Dalam penyelesaian audit, auditor perlu memisahkan temuantemuan dengan mengikhtisarkan dan mengevaluasinya untuk tujuan
menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan.
Tanggung jawab akhir atas langkah-langkah ini terletak pada partner
yang melakukan penugasan itu. Sebelum mengambilkeputusan akhir
tentang pendapat, biasanya diadakan suatu konferensi dengan klien.
Pada pertemuan ini, auditor melaporkan semua temuannya secara
lisan dan berusaha memberikan dasar pemikiranuntuk melakukan
penyesuaian yang diusulkan dan pengungkapan tambahan yang pada
akhirnya dapat dicapai beberapa kesepakatan yang dapat dicapai. Jika
kesepakatan tersebut tidak dapat dicapai, auditor akan mengeluarkan
jenis pendapat lainnya. Penyampaian pendapat tersebut dilakukan
melalui suatu laporan audit.

V. Melakukan Review akhir atas kerja

Review ini dilakukan untuk mengevaluasi pekerjaan yang dilakukan,


bukti yang diperoleh, dan kesimpulan yang dibuat oleh penyusun
kertas kerja. Tingkatan review yang dapat dilakukan dalam
penyelesaian audit yaitu :

Manajer Mereview kertas kerja yang disiapkan oleh auditor senior dan
mereview beberapa atau semua kertas kerja yang direview oleh auditor
Partner Mereview kertas kerja yang disiapkan oleh manajer dan
mereview kertas kerja lainnya atas dasar seletif

MENGKOMUNIKASIKAN DENGAN KLIEN

Komunikasi antara auditor dengan klien pada penutupan audit melibatkan


komite audit dan manajemen. Komunikasi komite audit membicarakan halhal berkenaan dengan :
a)

Pengendalian internal klien

b) Pelaksanaan audit

1) Mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian internal


ISA 265 mempersyaratkan auditor untuk menyampaikan secara tertulis tentang
defisiensi signifikan dalam pengendalian internal yang diidentifikasi selama audit
kepada manajemen dan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola secara tepat
waktu.
ISA 265 para:11 menyatakan bahwa setiap laporan yang diterbitkan mengenai
kondisi yang dapat dilaporkan harus :
a) Tujuan audit adalah untuk auditor dapat menyatakan opini atas laporan
keuangan.
b) Audit mencakup pertimbangan atas pengendalian internal yang relevan terhadap
penyusunan laporan keuangan dalam merancang prosedur audit yang tepat sesuai
dengan kondisi, tetapi tidak bertujuan untuk menyatakan opini atas efektifitas
pengendalian internal.
c) Hal-hal yang dilaporkan terbatas pada defisiensi yang diidentifikasi oleh auditor
selama audit.

2) Mengkomunikasikan hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan audit


ISA 260 mempersyaratkan auditor untuk menyampaikan hal-hal tertentu
berkenaan dengan pelaksanaan audit kepada mereka yang bertanggung jawab
mengawasi proses pelaporan keuangan.
ISA 260 menyatakan bahwa komunikasi dengan komite audit dapat mencakup
hal-hal berikut:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Tanggung jawab auditor menurut ISA


Kebijakan akuntansi yang signifikan
Pertimbangan auditor tentang mutu prinsip akuntansi entitas
Pertimbangan manajemen dan estimasi akuntansi
Penyesuaian audit yang signifikan
Ketidak sepakatan dengan manajemen
Konsultasi dengan akuntan lain
Kesulitan yang dihadapi selama pelaksanaan audit

3) Menyiapkan surat manajemen


Ketika menyelesaikan audit, banyak auditor menganggap bermanfaat
untuk menulis surat kepada manajemen, yang dikenal dengan surat
manajemen, yang memuat rekomendasi yang tidak termasuk dalam komunikasi
yang disyaratkan dengan komite audit. Surat manajemen dapat mencakup
komentar tentang :
a) Hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian internal yang tidak
dipertimbangkan sebagai kondisi yang dapat dilaporkan.
b) Rekomendasi mengenai pengelolaan sumber daya dan jasa bernilai tambah
yang tercatat selama audit.
c)

Hal-hal yang bersangkutan dengan pajak.