Anda di halaman 1dari 10

11 Maret 2010

“Cinta tak pernah menyapa pada si pemalas. Kadang-kadang


cinta butuh tindakan yang tepat dan berani"

Kalimat di atas aku temukan dalam baris-baris cerita Susanna


Tamaro, novelis terkemuka itali, yang baru saja selesai aku
baca, setelah Bu Marhaeni Eva kemarin hari agak ngotot
meminjamkannya padaku. "Ini beda dari novel-novelnya yang
lain," katanya. "Va Dove Ti Porta Il Cuore" judul novel itu.
Terjemahan Indonesianya: pergilah kemana hati membawamu.

Malam ini, kata-kata itu cukup menggangguku. Setelah


beberapa waktu yang lalu, hatiku kalah oleh pesona
perempuan yang tak sepenuhnya kukenal itu. Yuntri
Kumalawati, mahasiswi semester akhir pada Konsentrasi
Manajemen Media di Komunikasi. Hanya itu yang kutahu. Tak
lebih. Tapi sungguh, pesonanya mengendurkan obesitas
prinsipku untuk tak pacaran lagi. Ia seakan-akan menjadi
wujud konkret wanita imajiner yang sering aku panggil dalam
setiap sujudku, dalam setiap doa-doaku. Ya tuhan, singkapkan
tabirmu padaku. Jika ia memang kau gariskan untukku,
berikanlah aku keberanian, ketetapan dan keteguhan hati
untuk mengambil dan memenangkan hatinya. Kumohon.

Aku tak ingin kembali salah langkah seperti yang sudah-sudah.


Aku ingin mempersembahkan keseluruhan cintaku pada
perempuan yang kau gariskan untukku itu. Meski aku tahu,
Sefty tak sepenuhnya bersih dari ingatanku. Tapi bukannya
sudah aku tegaskan di halaman sebelumnya, bahwa kenangan
tidak untuk dikalahkan, tapi untuk dipeluk seerat-eratnya,
seteguh-teguhnya. Biarkan Sefty menjadi kenangan yang akan
kupeluk seerat-eratnya. Dan perempuan yang kau gariskan
untukku itu, ia akan menjadi kenangan baru yang akan
menyempurnakan fragmen kehidupan cintaku.

Sefty hanya milikku diwaktu lalu, diwaktu yang jauh. Sedang


perempuan yang menggantikannya, akan menjadi milikku di
masa kiniku dan masa depanku.

Yuntri, Sefty sebuah nama yang hampir mirip. Garis wajah dan
gesture tubuhnya juga hampir serupa. Dua gadis yang manis,
agak pendiam dan dari sorot matanya sedikit memberikan
kesan kesuraman dan kegelisahan dalam hidupnya. Seperti
bulan sabit. Dan aku suka itu.Tapi aku bisa memastikan, jika
aku benar-benar mencintainya, bukan karena lantaran ia
memiliki kesamaan dengan Sefty. Melainkan karena hatiku
tiba-tiba basah disaat pertama kali melihatnya, bertemu
dengannya. Hingga aku tak bisa berbuat dan berkata apa-apa.

Bukan cinta seperti kebenaran, yang tak perlu melulu


dipikirkan melainkan dirasakan? Bahwa disana ada sebuah
kehangatan, kesejukan, atau mungkin juga semacam katarsis
yang menari-nari lembut, seperti tarian Darwis.

Ah, cinta...kedatanganmu begitu tiba-tiba, bahkan mungkin


sangat dini dan prematur. Bagaimana mungkin perempuan
akan lantas percaya?

Tapi akan kubuktikan. Bahwa setelah istikharahku, aku akan


menjadi martir bagi kemenangan cintanya, cintaku, cinta kita.
Ini sumpahku.
12 Maret 2010

Aku tahu, bahwa dalam diriku tersimpan sebuah keangkuhan,


ambisi besar, dorongan yang tak sederhana untuk menjadi diri
sendiri, seutuhnya. Aku kira, ciri yang khas dari sejarah
kehidupan orang-orang besar di dunia adalah menjadi diri
sendiri. Hanya orang-orang yang bermartabat rendah yang
mau mewakafkan pikiran dan dirinya untuk (dimiliki) orang
lain. Termasuk para epigon-epigon intelektual yang
menyandarkan dirinya pada kekuasaan dan teori-teori besar.

Berdirilah di atas pikiranmu sendiri. Sebab dalam diri setiap


manusia mengandung kebenaran dalam dirinya. Inilah Sola
Fidea , kata seorang protestanian.

Bagi semua orang yang berkeinginan menjadi besar. Maka


jadilah diri sendiri. Teriakkan sekeras-kerasnya pada diri anda
sendiri dan semua orang, bahwa "aku akan selesaikan sendiri,
apa yang tak seorang pun pernah mulai" seperti larik puisi
Pizarnick yang mungil tapi seperti senapan yang membidik
tepat sasaran.

***
Malam ini, serasa aku sudah sampai, pada waktu, pada suatu
keadaan yang pernah ditempuh dan dilalui oleh para pemikir
besar: skeptisisme yang akut dan keabsurdan yang absolut.

Semua seakan-akan menjadi murahan, dan aku kehilangan


kepercayaan pada semuanya: pada pemikiran agama-agama,
teori-teori besar, akal-pikiran, semua bentuk yang dipuja,
semua yang diikuti, pada sejarah -- Imanku sudah mati.

Kini kepercayaanku adalah ketidakpercayaan. Apakah dengan


hidup, kita harus memiliki kepercayaan pada apapun, pada
siapapun?

Kadang aku membayangkan, apa yang terendap dalam kepala


kuda liar yang melintasi pagar-pagar dengan kakinya yang
menderap kencang dan cekikikannya yang sinis?
Tapi sepertinya aku tak seperti kuda luar itu, keliaranku pecah
didalam. Dari luar, tampak tenang tanpa kegaduhan apapun,
meski mungkin memang kerap terlihat murung. Tapi ketika
melihat didalam, diriku seperti lautan Magma yang meluap-
luap.

***
Dan aku hanya ingin membunuh selain diriku...

13 Maret 2010

Kepada Ibu Marhaeni Eva


di Padepokannya yang teduh

Selamat pagi ibu. Selamat pagi kuucapkan, sebab ketika surat


ini sedang kutulis, matahari diluar jendelaku mulai menari-nari
bersama cahayanya. Bersama sinar rontgennya yang
sempurna. Begitu hangat. Begitu mempesona. Seperti ibu.
Seperti ibu yang kerap menyambutku dengan antusias, saat
aku mengunjungimu disela-sela waktu kuliahku yang padat.

Hah, kadang pendidikan formal memang menjadi sebentuk


jaring laba-laba, sementara kita adalah hewan-hewan kecil
sejenis renik yang terperangkap didalamnya. Dan lebih
lucunya, ia tak suka jika melihat kita meronta-ronta,
menghentak-hentak, berontak. Tapi sudahlah, kedatangan
suratku ini tak akan membahas masalah itu secara jauh,
karena aku tahu, ibu mungkin akan menertawakannya.

Oh iya, karena ini surat pertamaku, biarkan aku terlebih dahulu


mengenang sebuah takdir baik: bertemu denganmu, berteman
denganmu, hingga sampai pada suatu waktu kau mulai
memanggilku dengan sebutan "Nak".

Ibu tahu, bahwa dalam kawasan hatiku yang terjauh, dengan


malu-malu dan diam-diam aku begitu bahagia, bahkan sangat
bahagia mendengar panggilan itu. Sebuah pengakuan yang
begitu sederhana, tapi tak terbayar dengan bilangan materi
sebesar apapun, sebanyak apapun.

Setidaknya, kini ada orang baru yang bisa kupercaya, yang


bisa mengerti tentang sejumlah masalah-masalah hidupku
yang pelik. Karena aku juga menyadari, kau tengah
menghadapi masalah hidup yang serupa. Kukira, itulah yang
menjadi tali-pengikat "hubungan intelektual" kita.

Tapi mungkin hal itu bisa salah. Bisa jadi kau punya pandangan
lain. Bukan kita memang kerap bertolak dalam diskusi-diskusi
kita? Tapi yang jelas, setelah pertemuan-pertemuan kita itu,
barangkali kata-kata yang tepat untuk melukiskan kesanku
adalah kata-kata Betrand Russell, yang ia ucapkan untuk
mengenang Wittgenstein, salah seorang filsuf bahasa yang
pernah melepas kemahasiswaannya hanya untuk belajar
kepadanya.

"Berkenalan dengan Wittgenstein merupakan salah satu


petualangan intelektual yang paling mengasyikkan dalam
hidupku," ujar Russell.

Akupun juga begitu. Berkenalan denganmu, merupakan salah


satu ekspedisi intelektual yang mengesankan dalam hidupku.
Kau membawaku masuk dan menyelam pada dunia yang
sebelumnya sama sekali tak menarik bagiku. Karena ketika di
pesantren dulu, aku sudah pernah mencicipi khazanah timur,
suatu kekayaan filosofis yang sebenarnya tak kalah hebat
dengan segala potensi filosofis yang ada di Barat. Tapi tak
lama kutinggalkan, karena alasan-alasan tertentu.

Kini kau menyalakan lampion cuorisity itu lagi dalam diriku.


Kau membawaku pelan-pelan untuk mengerti Budhisme,
spiritualisme, sekte-sekte minor, meditasi, kesalehan sosial
tanpa agama, sejarah seksualitas dalam kacamata Timur,
kemanusiaan dan semua hal yang memiliki rasa ke- "Timur"-
an. Dan aku membuka diriku selebar-lebarnya seperti pinggan
besar atas semua itu, tapi bukan berarti tanpa mengkritisinya.
Karena aku yakin, mengikuti pikiran Ahmad Wahib, bahwa
signifikansi keuniversalan dalam Islam itu adalah kita
membuka lebar-lebar diri kita terhadap semua paham.

Apalagi belakangan ini aku sadar, bahwa dunia kita kini terdiri
dari beragam realitas yang kompleks. Setiap realitas-realitas
itu butuh cara dan metode yang cocok untuk memahaminya.
Aku kira, tak cukup bahkan tak fair jika hanya menetapkan
rasionalitas sebagai satu-satunya perangkat universal untuk
memahami realitas-realitas itu, seperti dogma modernisme.
Kini telah sampai pada masa dimana modernisme yang berdiri
angkuh selama berabad-abad dengan perangkat
rasionalismenya, diadili, dihakimi, dihujat karena telah menjadi
semacam mitos baru yang menggantikan mitos lama yang
pernah dijarahnya. Penerus-penerus Nietzschenian dan
pewaris-pewaris kritis Mazhab Frankfurt yang menjadi
lokomotif "gerakan keraguan" atas modernisme itu -- meski toh
keduanya memiliki cara penyembuhan yang tak sama. Tapi
keduanya telah menggarisbawahi secara tegas, bahwa
modernisme tengah pesakitan!

Dalam keadaan seperti itu, melirik kembali segala potensi


filosofis yang ada di Timur, aku kira bukan sesuatu yang lucu
lagi, melainkan sangat dibutuhkan sebagai alternatif. Bukan di
Timur memberikan penghargaan yang sama tingginya
terhadap intuisi dan hati? Dan hanya dari keduanyalah, aku
kira, banyak perasaan kemanusiaan kita dilahirkan.
Modernisme kering akan perasaan kemanusiaan itu.

Aku tiba-tiba menjadi ingat buku Santos yang belakangan


menghentak perhatian publik. Peneliti asal Brasil itu
memprediksikan bahwa dikisaran tahun 2012 dan 2014 negara
yang berada dikawasan Atlantis akan menemukan kembali
kejayaannya. Negara itu tak lain menurut Santos adalah
Indonesia. Aku tak tahu, dari mana ia meramu tesisnya itu. Aku
memang belum baca buku itu. Aku hanya menyarikan dari
tulisan Sujiwo Tejo yang dikirim temanku beberapa bulan yang
lalu. "Atlantis The Lost Continent Finally Found" judul buku itu.
Mudah-mudahan aku tak salah.

Mungkin aku terlalu berani mengkait-kaitkan isi buku itu


terhadap persoalan telak modernisme, sementara aku belum
sama sekali membacanya. Memang agak ganjil dan lucu. Tapi
biarlah, bukan dalam kaidah usul-fikih disebutkan bahwa
berpikir meski salah, itu lebih baik dari pada sama sekali tak
berpikir. Apalagi jika alasan aku tak membaca buku itu bukan
karena suatu kemalasan. Aku sudah mencari-cari buku itu di
banyak toko buku, tapi tak ketemu.

***

Ibu Heni yang baik,


Sungguh aku tak tahu, harus pada siapa lagi berbicara, kecuali
pada ibu. Aku merasa, belakangan ini aku benar-benar sendiri.
Sangat sendiri. Tapi bukan karena aku ditinggalkan teman-
teman. Aku yang memilihnya. Entah karena alasan apa.
Seolah-olah kesendirian selalu menarikku pada altarnya.
Sebuah kesendirian yang diam, kadang meledak-ledak.

Mamaku juga bukan tempat yang tepat untuk membicarakan


semua ini. Aku tak mau membebaninya. Aku tak mau terjadi
keributan-keributan lagi diantara kita. Karena Mama kerapkali
menangis saat diam-diam membaca buku harianku dan
melihat tingkah-tingkahku yang mungkin dianggapnya aneh,
lalu bilang: "beginilah, kalau kamu banyak baca buku". Aku tak
pernah benar-benar mengerti maksud kalimat itu.

Mamaku memang bukan pecinta buku. Ia orang yang praktis.


Terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan keorganisasian di
desa. Tak seperti ibu. Tapi bagaimanapun aku masih
mencintainya, seperti aku juga menghormati ibu.

Dalam kesendirian itu. Kutemukan diriku pecah. Retak. Meski


mungkin hanya di dalam. Dari luar, aku tampak tak kenapa-
kenapa. Tapi sebenarnya, di dalam ada magma yang meluap-
luap.

Kini aku sudah sampai pada suatu tempat, dimana semuanya


terlihat murahan dan aku kehilangan kepercayaan pada
semuanya: pada teori-teori besar, pada sejarah, pada segala
bentuk yang dipuja.

Tempat itu barangkali bernama: skeptisisme yang akut, dan


absurditas absolut.

Kepercayaanku kini adalah ketidakpercayaan. Apakah dengan


hidup, kita harus memiliki kepercayaan pada apapun?

Aku seolah-olah menjelma Diogenes, orang tua yang sinis


terhadap segala konvensi masyarakat, yang dikemudian hari
para generasi selanjutnya menganggapnya sebagai peletak
dasar filsafat sinisme.

Ah, barangkali benar kata Betrand Russell, untuk hidup


bahagia, kuncinya adalah menerima kenyataan bahwa dunia
ini mengerikan, mengerikan, mengerikan.
Entahlah. Otakku benar-benar penuh. Sesak. Aku ingin lepas.
Mungkinkah kematian bagian dari wujud pelepasan itu?

Apa yang kita tunggu, jika toh pencarian jati diri selalu memiliki
batas dan hanya akan selalu berakhir pada ketidakpuasan
paradoksal, seperti tuah Millan Kundera.
Sementara menghentikan sama sekali pencarian jati diri itu
juga salah.

"Takdir terbaik tidak pernah dilahirkan. Dilahirkan tapi mati


muda. Sementara yang tersial, adalah mereka yang berumur
tua", kata Soe Hok Gie dalam catatan hariannya yang post-
mortem .

Oh, benar kata ibu. Aku memang aneh. Kata-kataku sendiri aku
ingkari. Bagaimana mungkin aku mengatakan aku kehilangan
kepercayaan pada semuanya, sementara aku masih mengirim
surat pada ibu, dan menyitir kata-kata orang diluar diriku
dengan nikmatnya?

Tapi mungkin inilah aku. Sebuah arus gelombang yang tak


pernah puas dengan titik getarnya sendiri. Seperti laut.

***

Ibuku, Marhaeni Eva...


Maafkan jika dalam suratku ini agak tak teratur dan melompat-
lompat logika susunan "ide pokok" nya, tak seperti layaknya
kita membuat artikel ilmiah dan makalah-makalah berat yang
dituntun oleh struktur-struktur kaidah yang ketat.

Biarkan suratku yang pertama ini mengalir dan berbicara apa


saja. Biarkan semua menjadi lepas. Sebab tak ada yang tak
penting jika menyangut sebuah kejujuran. Dan ini adalah
kejujuranku.

Ibu,
Kadang aku juga khawatir, jika aku masih saja terperangkap
pada masalah ketegangan eksistensialku, kapan aku bisa
berpikir ke luar, berpikir secara serius tentang kemaslahatan
dan kemajuan manusia?

Ayahku dulu pernah bilang, dengan nada agak tinggi: "tak ada
gunanya kamu menekuni itu" katanya padaku ketika aku masih
gila-gilanya membaca filsafat, terlebih ketika aku masih
bertanya-tanya tentang tuhan dan konsep diri. Aku tahu,
perkataan ayah di atas hanya kalimat emotif, yang penuh
kekhawatiran pada anaknya.

Tapi kini, pernyataan ayah itu muncul dan mewujud dalam


kekhawatiran yang lahir dari kesadaranku sendiri.

Heni, ibuku...
Mungkin sampai disini dulu suratku yang pertama. Aku
berharap surat ini akan berlanjut. Tentu setelah ada surat
balasan dari ibu. Dan mungkin, dalam surat-surat selanjutnya,
bahasan-bahasan di dalamnya akan lebih terfokus, terarah
atau kita akan membiarkannya sama sekali lepas seperti
halnya isi surat pertama ini. Karena hanya dengan aktifitas
korespondensi ini, gagasan ibu tentang "diskusi-diskusi kita
yang tertulis" akan menjadi nyata. Bukan untuk apa-apa.
Melainkan hanya untuk sekedar bukti -- jika suatu saat kita
pergi -- kita pernah berpikir dan saling bicara.

Setidaknya dengan begitu, dengan berpikir, kita


menyelesaikan tugas-tugas kita sebagai manusia.
Selebihnya, aku hanya ingin tersenyum setelah berpikirku.

Sudahlah bu, badanku sudah cukup lelah, duduk hampir


seharian di depan komputer. Aku rasa, lebih baik aku istirahat
sekarang. Salam.

Kaliurang -
Yogyakarta

Kamil Alfi
Arifin