Anda di halaman 1dari 6

LP ISPA

BAB I KONSEP MEDIS


A. Definisi
ISPA adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran
nafas mulai dari hidung (saluran nafas) hingga alveoli (Depkes RI, 2002).

B. Etiologi
a. Virus :
ISPA atas : Rino virus ,Corona Virus,Adeno virus,Entero Virus
ISPA bawah : RSV,Parainfluensa,1,2,3 corona virus,adeno virus
b. Bakteri Utama : Streptococus,pneumonia,haemophilus influenza,Staphylococcus aureus
c. Pada neonatus dan bayi muda : Chlamidia trachomati
d. Pada Anak Sekolah : Mycoplasma pneumonia
C. Patofisiologi
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu :
1. Tahap prepatogenesis : penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa
2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah
apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan
batuk. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,
sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia.
Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar sehingga untuk
mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien. Ketahanan
saluran pernafasan tehadap infeksi maupun partikel dan gas yang ada di udara amat
tergantung pada tiga unsur alami yang selalu terdapat pada orang sehat yaitu keutuhan
epitel mukosa dan gerak mukosilia, makrofag alveoli, dan antibodi.
Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel mukosanya
telah rusak akibat infeksi yang terdahulu. Selain hal itu, hal-hal yang dapat mengganggu
keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok dan gas SO2 (polutan utama
dalam pencemaran udara), sindroma imotil, pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi
(25 % atau lebih).
Makrofag banyak terdapat di alveoli dan akan dimobilisasi ke tempat lain bila
terjadi infeksi. Asap rokok dapat menurunkan kemampuan makrofag membunuh bakteri,
sedangkan alkohol akan menurunkan mobilitas sel-sel ini.
Antibodi setempat yang ada di saluran nafas ialah Ig A. Antibodi ini banyak
ditemukan di mukosa. Kekurangan antibodi ini akan memudahkan terjadinya infeksi
saluran nafas, seperti yang terjadi pada anak. Penderita yang rentan (imunokompkromis)
mudah terkena infeksi ini seperti pada pasien keganasan yang mendapat terapi sitostatika
atau radiasi.Penyebaran infeksi pada ISPA dapat melalui jalan hematogen, limfogen,
perkontinuitatum dan udara nafas.
D. Manifestasi Klinis
a. Tanda dan gejala dari penyakit ISPA adalah sebagai berikut:
1. Batuk
2. Nafas cepat
3. Bersin
4. Pengeluaran sekret atau lendir dari hidung
5. Nyeri kepala
6. Demam ringan
7. Tidak enak badan
8. Hidung tersumbat
9. Kadang-kadang sakit saat menelan
b. Tanda-tanda bahaya klinis ISPA
1. Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi
dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang,
grunting expiratoir dan wheezing.
2. Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan
1

cardiac arrest.
3. Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil
bendung, kejang dan coma.
4. Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak(Naning R,2002)
E. Komplikasi
1.
Penemonia
2.
Bronchitis
3.
Sinusitis
4.
Laryngitis
5.
Kejang deman (Soegijanto, S, 2009)
F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah pemeriksaan kultur/ biakan
kuman (swab); hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman,
pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah meningkat disertai dengan
adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia dan pemeriksaan
foto thoraks jika diperlukan (Victor dan Hans; 1997; 224).
G. Penatalaksanaan
1. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan:
a. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
b. Immunisasi.
c. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
d. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
2. Pengobatan dan perawatan
Prinsip perawatan ISPA antara lain:
a. Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
b. Meningkatkan makanan bergizi
c. Bila demam beri kompres dan banyak minum
d. Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu
tangan yang bersih
e. Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu
ketat.
f. Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut
masih menetek
Pengobatan antara lain:
Mengatasi panas (demam) dengan memberikan parasetamol atau dengan
kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol
diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi
sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres,
dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es). Mengatasi
batuk dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk
nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga
kali sehari.
BAB II ASKEP (NCP dari NANDA NIC dan NOC)
A.
Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Kliaen
Meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku,pekerjaan, status perkawinan
tanggal mrs, pengkajian, penanggung jawab, No. regester, diagnosa masuk, alamat
b. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Klien mengeluh demam, batuk , pilek, sakit tenggorokan
b. Riwayat penyakit sekarang
Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan
lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit
tenggorokan.
c. Riwayat penyakit dahulu
Kilen sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang
2

d. Riwayat penyakit keluarga


Menurut pengakuan klien,anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami
sakit seperti penyakit klien tersebut
c. Tanda tanda fisik
Demam,dyspneu,tachipneu,menggunakan otot pernafasan tambahan,faring
hiperemis,pembesaran tonsil,sakit menelan
Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi
2. Bersihan jalan napas tidak efektif
3. Defisit perawatan diri
4. Intoleransi aktifitas
Tujuan dan Rencana/ Intervensi Keperawatan

B.

C.

No

Diagnosa

Tujuan & Kriteria Hasil

Intervensi

Hipertermi

NOC:
Thermoregulasi
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama..pasien
menunjukkan :
Suhu tubuh dalam batas
normal dengan kreiteria
hasil:
v Suhu 36 37C
v Nadi dan RR dalam
rentang normal
v Tidak ada perubahan
warna kulit dan tidak
ada pusing, merasa
nyaman

NIC :
Monitor suhu sesering
mungkin
Monitor warna dan
suhu kulit
Monitor tekanan
darah, nadi dan RR
Monitor penurunan
tingkat kesadaran
Monitor WBC, Hb,
dan Hct
Monitor intake dan
output
Berikan anti piretik:
Kelola Antibiotik:
..
Selimuti pasien
Berikan cairan
intravena
Kompres pasien
pada lipat paha dan
aksila
Tingkatkan sirkulasi
udara
Tingkatkan intake
cairan dan nutrisi
Monitor TD, nadi,
suhu, dan RR
Catat adanya
fluktuasi tekanan
darah
Monitor hidrasi
seperti turgor kulit,
kelembaban
membran mukosa)

Bersihan jalan napas


tidak efektif

NOC:
Respiratory status :
Ventilation
Respiratory status :
Airway patency
Aspiration Control

Pastikan kebutuhan
oral / tracheal
suctioning.
Berikan O2 l/mnt,
metode
Anjurkan pasien untuk
3

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama ..pasien
menunjukkan
keefektifan jalan nafas
dibuktikan dengan
kriteria hasil :
Mendemonstrasikan
batuk efektif dan
suara nafas yang
bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu
(mampu
mengeluarkan
sputum, bernafas
dengan mudah, tidak
ada pursed lips)
Menunjukkan jalan
nafas yang
paten (klien tidak
merasa tercekik,
irama nafas,
frekuensi pernafasan
dalam rentang
normal, tidak ada
suara nafas
abnormal)
Mampu
mengidentifikasikan
dan mencegah faktor
yang penyebab.
Saturasi O2 dalam
batas normal
Foto thorak dalam
batas normal

Defisit perawatan
diri

istirahat dan napas


dalam
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan
ventilasi
Lakukan fisioterapi
dada jika perlu
Keluarkan sekret
dengan batuk atau
suction
Auskultasi suara nafas,
catat adanya suara
tambahan
Berikan bronkodilator :
-
- .
-
Monitor status
hemodinamik
Berikan pelembab
udara Kassa basah
NaCl Lembab
Berikan antibiotik :
.
.
Atur intake untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
Monitor respirasi dan
status O2
Pertahankan hidrasi
yang adekuat untuk
mengencerkan sekret
Jelaskan pada pasien
dan keluarga tentang
penggunaan
peralatan : O2,
Suction, Inhalasi.

NOC :
NIC :
Self care : Activity of
Self Care assistane :
ADLs
Daily Living (ADLs)
Monitor kemempuan
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
klien untuk
selama . Defisit
perawatan diri yang
perawatan diri teratas
mandiri.
dengan kriteria hasil:
Monitor kebutuhan
Klien terbebas dari bau
klien untuk alat-alat
badan
bantu untuk
Menyatakan
kebersihan diri,
berpakaian, berhias,
kenyamanan terhadap
toileting dan makan.
kemampuan untuk
Sediakan bantuan
melakukan ADLs
Dapat melakukan ADLS
sampai klien mampu
secara utuh untuk
dengan bantuan
melakukan self-care.
Dorong klien untuk
melakukan aktivitas
sehari-hari yang
4

Intoleransi aktifitas

NOC :
Self Care : ADLs
Toleransi aktivitas
Konservasi eneergi
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama . Pasien
bertoleransi terhadap
aktivitas dengan Kriteria
Hasil :
Berpartisipasi dalam
aktivitas fisik tanpa
disertai peningkatan
tekanan darah, nadi
dan RR
Mampu melakukan
aktivitas sehari hari
(ADLs) secara
mandiri
Keseimbangan
aktivitas dan istirahat

normal sesuai
kemampuan yang
dimiliki.
Dorong untuk
melakukan secara
mandiri, tapi beri
bantuan ketika klien
tidak mampu
melakukannya.
Ajarkan klien/ keluarga
untuk mendorong
kemandirian, untuk
memberikan bantuan
hanya jika pasien
tidak mampu untuk
melakukannya.
Berikan aktivitas rutin
sehari- hari sesuai
kemampuan.
Pertimbangkan usia
klien jika mendorong
pelaksanaan aktivitas
sehari-hari.
NIC :
Observasi adanya
pembatasan klien
dalam melakukan
aktivitas
Kaji adanya faktor
yang menyebabkan
kelelahan
Monitor nutrisi dan
sumber energi yang
adekuat
Monitor pasien akan
adanya kelelahan
fisik dan emosi
secara berlebihan
Monitor respon
kardivaskuler
terhadap aktivitas
(takikardi, disritmia,
sesak nafas,
diaporesis, pucat,
perubahan
hemodinamik)
Monitor pola tidur
dan lamanya
tidur/istirahat pasien
Kolaborasikan
dengan Tenaga
Rehabilitasi Medik
dalam
merencanakan
progran terapi yang
tepat.
Bantu klien untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang
5

mampu dilakukan
Bantu untuk
memilih aktivitas
konsisten yang
sesuai dengan
kemampuan fisik,
psikologi dan sosial
Bantu untuk
mengidentifikasi
dan mendapatkan
sumber yang
diperlukan untuk
aktivitas yang
diinginkan
Bantu untuk
mendpatkan alat
bantuan aktivitas
seperti kursi roda,
krek
Bantu untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang
disukai
Bantu klien untuk
membuat jadwal
latihan diwaktu
luang
Bantu
pasien/keluarga
untuk
mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
Sediakan penguatan
positif bagi yang
aktif beraktivitas
Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
Monitor respon fisik,
emosi, sosial dan
spiritual

DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan Suddarth, 2001. Buku Ajar Keperawatan-Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 3,
EGC : Jakarta.
Mansjoer, Arif, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculaapius FKUI : Jakarta.
NANDA, 2005. Diagnosa Keperawatan: Defini & Klasifikasi 2005-2006. NANDA
International : Philadelphia.
http://www.scribd.com/ispa